Malam semakin larut dan tirai hitam telah memenuhi langit sepenuhnya dengan dipercantik kerlap-kerlip bintang yang bertaburan. Jungkook, malaikat tampan ini masih memandangi tubuh lemah Sinb dan menjaganya sepanjang waktu.
"Nona...Omo!" Panggil seseorang yang kini sudah berada dihadapan Sinb dan terkejut dengan sosok Jungkook.
"Wae? Apa kau takut?" Jungkook menyeringai memandangi sosok tersebut dengan tajam sementara sosok itu terlihat ketakutan.
"Mi-mi-an-ne." Ucapnya terbata-bata.
"Seulgi-ya, kenapa kau lama sekali!" Teriak seseorang diluar yang membuat Jungkook terkekeh.
"Wah, kombinasi yang cukup menarik. Manusia dan roh hilang?" Ucapnya sembari berjalan mendekati Seulgi dan memutari gadis itu membuatnya semakin tegang.
"A-apa yang akan kau lakukan kepada kami?" Tanyanya masih dengan muka tegang dan ekspresi cemasnya.
Jungkook menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Seulgi membuat gadis itu memejamkan matanya karena ketakutan.
"Lawan mu adalah aku, jangan menyentuhnya!" Jungkook menoleh dan mendapati tubuh Sinb sudah melayang-layang di udara meskipun tak secepat biasanya, tubuhnya menghilang dan kini berada dihadapan Jungkook, menariknya menjauh dari Seulgi.
"Ya, memang harus seperti ini. Prediksi ku selalu benar, kau lumayan kuat." Ucap Jungkook yang membiarkan begitu saja Sinb menahan bahunya dengan kedua tangannya. Kini mereka saling berhadapan dengan diam, sementara Seulgi? Gadis itu ketakutan, ia sudah berulang kali bertemu seorang Malaikat tapi tidak ada yang seperti Jungkook, bahkan hanya dengan pandangannya saja Seulgi merasa lumpuh tak berdaya. Ia tidak yakin bahwa Jungkook merupakan malaikat biasa? Pasti ada sesuatu padanya yang membuat bahkan nonanya yaitu Sinb tak bisa mengalahkannya.
"Kau tidak bisa menopang tubuhmu dengan benar tapi konyolnya kau mengancam ku dengan mulut mungilmu itu." Seru Jungkook yang kini bergerak cepat menggendong tubuh Sinb. Sinb membatu sementara Seulgi menganga melihat pemandangan tak biasa ini?
"Malaikat brengsek! Apa yang coba kau lakukan?" Brontak Sinb.
"Jangan bergerak! Atau aku akan membungkusmu dengan asap hitam ku!" Kali ini Jungkook yang mengancam Sinb membuat Sinb kesal karena sesungguhnya ia tidak bisa melakukan apapun dengan kondisinya yang sekarang.
Jungkook tak membawanya kemana pun hanya membaringkan tubuh Sinb ditempat tidurnya seperti semula dan ia melakukannya pelan, seolah ia sedang menidurkan kekasihnya.
"Diam dan kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku!" Perintahnya membuat Sinb hanya mampu mendengus.
"Dan kau?" Jungkook menoleh pada Seulgi. "Tetap duduk di sana. Pria tua itu sudah ku buat pingsan!" Jungkook melayangkan banyak ancaman membuat keadaan semakin tegang.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sinb. Jungkook menoleh dan mengembangkan senyumannya yang hampir mirip dengan seringaian itu.
"Apa kau dulu seorang Malaikat kematian?" Tanya Jungkook dan Sinb menghela nafas sembari mengangguk membuat Jungkook tersenyum seolah memberikan sanjungan untuk dirinya sendiri yang berhasil menebaknya dengan benar.
"Kenapa kau melarikan diri?" Tanya Jungkook yang terlihat serius.
"Apa itu penting untuk ku jawab?" Sinb memandang aneh sosok Jungkook membuat Jungkook tersenyum.
"Apa kau pikir aku main-main?" Pertanyaan dengan sedikit ancaman dari Jungkook mampu membuat Sinb menghela nafas untuk ke sekian kalinya.
"Aku hanya ingin merasakan kehidupan seperti manusia, awalnya seperti itu dan saat aku merasakannya, aku tidak ingin kembali lagi ke akhirat." Jawab Sinb dengan asal.
"Jadi karna itu? Alasan yang cukup konyol!" Ejek Jungkook membuat Sinb menunjukkan perubahan wajahnya yang kesal.
"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya selama ribuan tahun melihat silih berganti para malaikat rengkarnasi itu menyelesaikan tugasnya, kemudian pergi ke surga atau neraka. Kau sangat tau, bahwa kelahiranmu ini adalah kesempatan kedua bagimu untuk memperbaiki segala bentuk dosa yang kau lakukan di kehidupan mu yang lalu. Kau akan memiliki masa waktu, kau akan di kirim ke surga atau neraka saat evaluasi kinerja yang di lakukan tiap 100 tahun dalam hitungan manusia. Tapi bagi malaikat murni seperti ku, tidak ada hal semacam itu. Kami akan terus melakukan hal yang sama sepanjang waktu dan entah sejak kapan? Aku mulai merasa bosan, ini sangat langka bagi malaikat yang seharusnya tak memiliki emosi yang sama seperti halnya manusia." Sinb diam sesaat, ia terlihat berbeda. Tidak nampak seperti dirinya yang licik atau pun penuh amarah.
"Sampai ketika aku mulai sadar bahwa aku berbeda dari malaikat murni lainnya. Saat semua malaikat memiliki asap hitam yang ku miliki adalah asap merah. Berapa kali pun aku bertanya para tetua tidak ada yang mampu menjelaskannya atau mereka berusaha menutupi sesuatu. Saat aku merasa putus asa, saat itulah aku mendengar bahwa aku bukanlah malaikat murni tapi aku rengkarnasi sepertimu hanya aku memiliki keistimewaan, entah kenapa mereka sampai mau mengakui diriku bagian dari mereka. Aku memutuskan untuk berkelana selama ribuan tahun ini untuk mengetahui apa yang seharusnya ku ketahui." Ucap Sinb.
"Apa kau sudah mengetahuinya?" Tanya Jungkook yang seketika membuat Sinb tersenyum kecut.
"Aku adalah seorang syaman suci yang cukup terkenal di Joseon. Aku bisa memohon apapun kepada langit dan segala keinginan ku akan terkabul tapi aku melakukan sebuah kesalahan dengan mencintai seseorang dan mengabaikan semua tugas ku untuk melindungi Joseon. Aku melanggar semua pantangan untuk hidup bersamanya dan aku meninggal saat aku melahirkan seorang putra. Dari kejadian itu aku mengerti, langit memberikan ku kesempatan lebih baik dari siapapun karena kebaikan yang selama ini telah aku lakukan. Tapi aku tidak bisa kembali begitu saja, aku mulai membulatkan tekat ku untuk mencari setiap keturunan ku yang tersisa. Namun sampai detik ini aku belum menemukannya." Kini wajah Sinb nampak terlihat frustasi.
"Lalu kenapa kau mengacau dengan membaut para roh dan manusia ini menjadi pengikutmu?" Jungkook sama sekali tak mengerti dengan jalan fikiran Sinb. Ia boleh saja melarikan diri tapi dengan terus melakukan kekacauan, ia akan semakin sulit untuk mendapatkan pengampunan dari langit.
"Aku butuh kekuatan besar untuk tetap bertahan di dunia dan juga aku sudah melangkah terlalu jauh, tidak ada waktu untuk berfikir tentang pengampunan. Para manusia bodoh itu yang menginginkannya, aku hanya melakukan sedikit trik dan mereka yang serakah tidak akan bisa berhenti walau pun aku berhenti untuk menjadikan mereka budak ku!" Tutur Sinb membuat Jungkook menghela nafas.
"Wae? Apa kau mengkhawatirkan ku sekarang?" Sinb tersenyum sinis membuat Jungkook mengangkat satu alisnya.
"Kau terlalu percaya diri." Ejek Jungkook membuat Sinb tertawa.
"Katakan apa maumu? Kau tidak akan sebegitu perhatiannya kepada ku kalau kau tak menginginkan sesuatu dari ku." Sinb memandangi Jungkook menunggu malaikat tampan itu mengatakan sesuatu.
"Aku yakin kau tidak akan memberikan bantuan secara cuma-cuma." Jungkook cukup mengerti betapa liciknya wanita dihadapannya ini, ia tidak akan mudah di manipulasi olehnya. Jungkook berusaha untuk menggali maksud tersembunyi dari Sinb.
"Hahaha...Kau malaikat yang menarik. Tentu saja semua tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku membantumu dan kau harus membalasnya." Seru Sinb dengan tawanya yang masih tertahan di sudut bibirnya. Ekspresi Jungkook berubah menjadi serius.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Jungkook membuat kirut tergambar jelas di dahi gadis itu.
"Roh gadis perawan suci. Setiap bulan purnama tiba, aku harus mempunyai setidaknya 10 roh untuk ku serap energinya." Ucap Sinb dengan santai. Sangat susah untuk mencari roh perawan suci dan Sinb membutuhkannya tiap bulan purnama tiba.
"Kau gila! Aku tidak bisa melakukan itu!" Seru Jungkook memandang Sinb tak percaya. Selama menjadi seorang malaikat, tidak banyak ia menemui roh perawan suci. Roh yang dikategorikan sebagai perawan suci adalah ia yang memang mati secara alami dalam keadaan perawan tanpa memiliki masalah dengan kehidupannya, itulah yang dinamakan roh perawan suci dan Jungkook harus menyediakan untuk wanita licik ini selama bulan purnama? Itu sangat mustahil, karena ia harus mengacaukan peraturan akhirat belum lagi jika ia ketahuan? Ia tidak tahu apa yang akan para tetua dan para kapten lakukan untuk menghukumnya. Terakhir kali, ia pernah melanggar peraturan membuatnya harus bertarung dengan ribuan roh hilang yang menjadi sebuah kelompok untuk menentang kehendak langit. Ia hampir lenyap saat itu kalau saja Suga dan Taehyung tak membantunya, meskipun hanya bantuan kecil yaitu melindungi Jungkook yang berkonsentrasi untuk memunculkan badai asap hitam yang mampu melenyapkan seluruh kelompok roh yang membangkang. Untuk kasus Sinb sangat berbeda, wanita itu mampu untuk mengumpulkan ribuan roh jika mau bahkan dalam banyak kesempatan wanita itu mampu terus bersikap licik. Jungkook tak bisa mengabaikan kecerdikan wanita ini. Bisa saja setelah ia mendapatkan keinginannya seperti roh perawan suci, kekuatan Sinb bertambah dan mungkin saja ia sanggup untuk melenyapkannya. Segala sesuatu kemungkinan harus di pikirkan sekarang? Mengingat bahwa dia adalah Hwang Sinb yang memiliki seribu cara dalam otaknya.
"Baiklah, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku." Ucap Sinb santai.
"KAU!" Jungkook mencengkram kedua bahu Sinb dengan cukup tenaga membuat Sinb meringis merasakan sakit sementara Seulgi yang semenjak tadi memperhatikan bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan Sinb.
"Berani sekali kau memerasku! Kau tidak dalam keadaan bisa memilih." Pupil mata Jungkook menghitam, rahangnya mengeras dan cengkraman itu semakin dalam.
"Bunuh saja aku sekang dan kau tidak akan mendapatkan apapun! Tidak akan ada yang bisa membantumu! Bahkan teman-teman malaikatmu yang ceroboh itu? Yang tidak bisa membedakan mana manusia atau roh hilang yang bersarang di tubuh manusia." Sinb tak merasa takut dengan ancaman Jungkook membuat Jungkook bertambah marah. Gumpalan asap hitam muncul diatas kepalanya bersiap untuk melahap tubuh Sinb.
"AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN APAPUN KEPADAMU!" Bentak Jungkook dan asap hitam pekat itu mulai merayap dan bergerak menuruni tubuh Sinb.
"Tolong hentikan!" Teriak Seulgi yang hendak berlari menghampiri Sinb tapi Jungkook menahannya dengan membuat sebuah perisai yang tak mampu ditembus oleh Seulgi.
"Tetap disitu, kau akan mendapatkan giliranmu nanti!" Sinis Jungkook melirik Seulgi sekilas kemudian kembali mengirip gumpalan asap hitam semakin cepat menyelimuti tubuh Sinb.
"Jangan lalukan apapun karena tidak ada yang bisa lepas dari asap hitam ku!" Seru Jungkook yang memandang Sinb dengan amarah yang membara.
"Kau pikir siapa dirimu? Aku tidak akan menyerah meskipun aku harus lenyap!" Kukuh Sinb membuat asap merah juga muncul dari tubuhnya berusaha melawan asap hitam yang hendak menelannya.
"Kau keras kepala sekali." Jungkook mengarahkan tangannya.
BLEDUMMM
Sebuah pukulan tak kasat mata membuat tubuh Sinb terpental menabrak dinding dan darah segar keluar dari mulutnya.
"Sudah lama aku tidak memiliki lawan yang sekuat dirimu, hanya saja energi sudah terkuras habis hanya beberapa hari menuju bulan purnama." Guman Sinb yang kini tergeletak di bawah, mengusap darah segar yang keluar dari mulutnya.
"Jadi kau akan menyerah?" Tanya Jungkook membuat Sinb tertawa.
"Percuma saja, menyerah atau tidak? Aku tetap membutuhakan roh perawan suci." Kukuh Sinb membuat Jungkook geram.
"JANGAN MEMPERMAINKAN KU!"
Tubuh Sinb melayang-layang dan beberapa kali membentur dinding cukup keras.
DUG
DUG
BRUG
"Tuan tolong hentikan!" Teriak Seulgi histeris melihat Sinb bahkan tak menggerakkan tubuhnya lagi.
"Diam!" Seru Jungkook melirik Seulgi sekilas kemudian mengarahkan tangannya membuat tubuh Sinb yang lemas mendekat kepadanya.
"Energi nona habis karena aku. Ia membantuku untuk menyatu dengan tubuh manusia ini." Terang Seulgi membuat Jungkook terdiam.
"Nona memang membutuhkannya, roh itu. Dia tidak berbohong!" Seulgi masih berusaha menjelaskannya.
"Kau boleh pergi. Aku yang akan mengurusnya!" Perintah Jungkook membuat Seulgi bimbang.
"Ka! Sebelum aku berubah fikiran!" Tubuh Seulgi melesat cepat meninggalkan Jungkook dan Sinb yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sampai kapan kau akan bertahan dengan kekeras kepalanmu!" Guman Jungkook sembari menyelipkan rambut Sinb pada telinganya.
---***---
Taehyung dan Suga berjalan ditengah jalanan aspal ketika malam larut. Mereka memakai pakaian serba hitam serta topi yang senada.
"Sudah dua hari ini aku tak melihat Jungkook, dia tidak akan bertindak macam-macam lagi kan?" Suga terlihat cemas.
"Ku rasa ia sedang bersenang-senang dengan gadis manusia itu." Taehyung terkekeh merasa geli dengan asumsinya sendiri.
"Berhenti berhayal. Aku tidak berfikir bahwa hubungan mereka seperti itu." Suga nampak berfikir keras.
"Apa maksudmu hyung? Hubungan yang seperti apa? Selain rasa ketertarikan? Selama ini kau cukup tahu baik Jungkook, aku dan juga dirimu adalah pria yang cukup di incar di akhirat oleh para malaikat wanita bukan?" Taehyung mulai membanggakan dirinya membuat Suga menggeleng.
"Dia tidak tertarik pada seorang gadis. Aku merasa ia menyembunyikan sesuatu. Semoga ini hanya perasaan ku saja." Ungkap Suga.
"Hyung, percayalah padanya. Jika ia merasa bahaya, ia akan segera meminta bantuan kita." Taehyung berusaha meyakinkan Suga agar tak terlalu mencemaskan Jungkook. Bagi Taehyung, Jungkook sudah sangat dewasa untuk bisa mengambil resiko untuk segala tindakannya.
BLUSH
Angin cukup kencang yang menandakan kehadiran seseorang berhembus menerpa kulit Taehyung dan Suga. Seketika mereka nampak waspada dan saling melirik, kemudian mengangguk.
"Keluarlah atau aku akan membakar tempat ini!" Ancam Taehyung dan sosok roh keluar dengan pakaian putih dan rambut panjang terurai menutupi wajahnya.
"Apa maumu?" Suara serak roh tersebut benar-benar mengganggu telinga.
"Membawamu kembali!" Jawab Suga dengan datar yang bahkan kini wujudnya berubah mengerikan.
"Hahaha...Kalian terlalu percaya diri!" Roh itu pun mengangkat kepalanya, menunjukkan wajahnya yang telah rusak dengan hanya memiliki satu mata yang tersisa.
"Kau sangat tidak sopan, menunjukkan wajah jelekmu itu kepada kami!" Keluh Taehyung yang kini mulai menggerak-gerakkan tangannya membuat roh itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertahan dari serangan Taehyung.
"Hyung, buka pintunya sekarang hyung!" Perintah Taehyung.
"Baiklah..." Saat tubuh roh tersebut telah melayang-layang.
"Aku sebenarnya ingin menemanimu meminum teh penghilang ingatan tapi kau malah memilih pergi dengan cara yang tidak elit seperti ini." Keluh Taehyung membuat Suga tertawa geli.
Suga membiarkan Taehyung mengurus roh tersebut dan ia membalikan badannya sampai ketika sebuah mobil melintas dihadapannya membuatnya reflek mendorong mobil tersebut dengan tangannya.
DRAAAKKK
DUUAAAKKK
BRAAAAKKK
Taehyung menoleh sementara Suga mematung memandangi sosok yang ada didalam mobil tersebut.
"Hyung! Apa yang kau lakukan?" Taehyung menghilang dan muncul di depan mobil tersebut.
"Ah, dia teman dari kekasih Jungkook." Mata Taehyung membelalak.
"Yak! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau seceroboh ini? Bagaimana kalau dia mati?" Omel Taehyung.
"Hyung! Kau harus menebus kesalahanmu dengan membawanya ke tempat yang di sebut rumah sakit itu!" Kesal Taehyung yang membuat Suga masih mematung.
"Baiklah..." Ucap Suga yang kali ini menunjukkan nada ke khawatirannya.
Suga segera menggendong tubuh Seulgi yang tak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir di pelipisnya sementara Taehyung membawa sosok pria yang selama ini berperan sebagai Appa Seulgi. Tidak butuh lama sampai mereka di depan rumah sakit dan menampakkan tubuh mereka agar dapat di lihat oleh petugas yang menyiapkan tempat untuk pasien darurat.
"Tolong gadis ini..." Suga terlihat begitu cemas sementara Taehyung sudah meletakkan tubuh pria tersebut. Ia memandangi gerak-gerik Suga yang terlihat begitu cemas.
"Apa kau takut terkena hukuman? Karena mencelakai manusia yang tidak masuk ke dalam daftar kematian?" Selidik Taehyung yang segera di jawab gelengan oleh Suga.
"Ani, aku hanya mencemaskan gadis itu. Bagaimana kalau dia mati." Taehyung diam memandang Suga tak percaya. Temannya ini tidak pernah sedikit pun merasa cemas terhadap apapun kecuali Jungkook dan dirinya. Hari ini, ia melihat Suga cemas pada seorang gadis manusia. Taehyung rasa sepertinya Suga menyukainya.
"Dia akan baik-baik saja kan?" Sudah berapa kali Suga mengajukan pertanyaan ini kepada Taehyung.
"Hm...Kau tenang saja." Mata Taehyung mengikuti tubuh Suga yang terus mondar-mandir di depan ruang rawat Seulgi.
"Ah, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadanya." Bahkan Suga terlihat tak tenang sekarang.
"Hyung, kau menyukainya bukan?" Pertanyaan Taehyung membuat Suga menoleh dengan cepat.
"Bagaimana kau berfikir seperti itu di saat seperti ini?" Suga tak habis pikir dengan apa yang di fikirkan oleh Taehyung.
"Iya kau menyukainya." Taehyung tersenyum geli.
"Kim Taehyung! Berhentilah bercanda, aku sangat serius sekarang!" Bentak Suga membuat Taehyung terdiam.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu hyung, selamat tinggal." Taehyung melambaikan tangannya dan menghilang begitu saja yang segera membuat Suga menghela nafas lega.
Sreekkk
Pintu telah terbuka dan dua sosok manusia dengan seragam yang sama melangkah mendekati Suga.
"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Suga dengan cemas.
"Tenanglah, gadis beserta Appanya baik-baik saja." Segera Suga menghela nafas lega.
"Anda boleh masuk sekarang dan tolong urus adminitrasinya." Suga terdiam tak mengerti.
"Administrasi?" Tanya Suga dan orang itu mengangguk kemudian pergi.
"Administrasi itu sejenis apa?" Suga benar-benar bingung tapi ia memutuskan untuk memasuki ruangan rawat Seulgi terlebih dahulu.
---***---
Pekatnya malam telah beranjak dan hanya menyisahkan terik matahari yang menyilaukan mata membuat Sinb menggeliat merasa terganggu dengan sinar mentari yang masuk ke dalam kamarnya.
"Aish menyebalkan sekali!" Gumannya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Lebih baik?" Sinb membuka matanya dan mendapati Jungkook sudah berada dihadapannya. Sinb diam merasa bingung dengan sikap Jungkook yang selalu berubah-ubah. Kemarin dia terlihat mengerikan dengan segala amarahnya dan sekarang? Ia nampak mencemaskannya? Apa dia sedang beracting? Pikir Sinb.
"Aku sudah menemukan 5 perawan suci yang kau butuhkan." Lanjut Jungkook.
"MWO?" Sinb memandang Jungkook tak percaya.
"Bersabarlah, aku akan menemukan sisanya." Ucapnya yang berusaha mencerna ekspresi Sinb.
"Bagaimana bisa dalam semalam kau menemukan 5 roh tersebut? Dan mereka sudah pasti akan mudah pergi masuk ke pintu akhirat." Sinb masih tak dapat mempercayai ucapan Jungkook.
"Tenang saja, bukan hanya kau saja yang memiliki budak. Aku juga memilikinya dan aku menyuruh mereka melakukannya diam-diam dan cepat." Sinb menganga bertambah tak percaya.
"Cukup, sebenarnya aku sedikit berbohong kepadamu. Aku hanya membutuhkan satu tapi kau tak perlu mencarikannya untukku." Tolak Sinb membuat Jungkook seketika marah.
"Yak! Apa kau mempermainkanku? Apa kau tidak tau bagaimana cara ku untuk mencarinya?" Bentak Jungkook membuat Sinb menghela nafas.
"Mianhae..." Jawab Sinb yang seketika membuat Jungkook terdiam. Ia merasa bingung dan tak percaya, wanita licik seperti Sinb ingin minta maaf? Itu tidak akan terjadi kalau ia tidak merencanakan sesuatu.
"Apa yang kau rencanakan sekarang?" Selidik Jungkook yang segera dijawab dengan gelengan kepala oleh Sinb.
"Aku lelah terus berdebat denganmu. Ada banyak hal yang mesti ku urus dan juga tidak ada ruginya juga membantumu. Kau hanya perlu untuk tetap merahasiakan identitas ku dari siapapun termasuk kedua teman mu itu. Hanya itu dan barulah aku akan membantumu, bagaimana?" Tawar Sinb.
"Baiklah, awas kalau sampai kau berbuat macam-macam. Aku akan melenyapkanmu tanpa pikir panjang!" Ancaman Jungkook membuat Sinb mendesah.
"Tentu, aku akan menepati janjiku!" Seru Sinb
Drettt~drettt
"Nugu?" Tanya Jungkook ketika melihat ekspresi Sinb saat menatap layar handphonenya.
"Seulgi..." Jawab Sinb.
"Angkatlah, mungkin dia masih mencemaskanmu." Tebak Jungkook. Segera Sinb mengangkatnya.
"Yeoboseob..."
"Mwo? Kecelakaan? Dimana?"
"Baiklah aku akan kesana."
Tutt~
"Ada apa?" Jungkook penasaran.
"Seulgi kecelakaan, aku harus segera melihatnya." Mohon Sinb.
"Ani, dia tidak akan mati karena dia bukan manusia. Kau harus mencemaskan dirimu sendiri sekarang!" Jungkook tak mengijinkan Sinb pergi.
"Kau tidak tau siapa yanh menerima telpon ku?" Dahi Jungkook mengkirut seketika kemudian ia menggeleng pelan.
"Suga, teman malaikatmu! Kau tahu apa yang akan terjadi jika ia melihat keanehan pada diri Seulgi? Ia akan menangkapnya dan tidak lama setelah itu, identitasku akan terbongkar!" Kesal Sinb yang seketika membuat Jungkook terdiam nampak berfikir keras.
"Ayo kita pergi kesana dan aku akan tunjukkan bagaimana kau harus bersikap yang terhadap Suga hyung." Sinb mendesah sebelum akhirnya mengangguk.
20 menit kemudian...
Jungkook beserta Sinb masih didalam bus.
"Kita hanya perlu menghilang kenapa harus naik bus?" Keluh Sinb.
"Kau lupa atau memang bodoh!" Olok Jungkook membuat Sinb kesal.
"Apa maksudmu? Berhenti mengatai aku bodoh!" Bentak Sinb yang dapat di dengar oleh seisi bus membuat Jungkook segera membekap mulut gadis ini.
"Dengarkan baik-baik ucapan ku! Rumah sakit adalah salah satu sarang terbesar malaikat kematin, akan ada banyak saksi disana jika aku menyalah gunakan kekuatan ku di luar tugas dan ingat seperti yang ku katakan tadi. Kita adalah sepasang kekasih dan selama dua hari ini kita pergi untuk berlibur. Kau harus melakukannya jika tidak identitasmu akan terbongkar!" Jungkook tak henti-hentinya untuk mengingatkan Sinb.
"Kau cerewet sekali." Protes Sinb.
Akhirnya mereka telah sampai dirumah sakit, benar saja perkataan Jungkook. Banyak roh dan Malaikat kematian yang berlalu lalang dihadapan mereka tapi keduanya lebih memilih untuk pura-pura tak melihat mereka.
"Kau sudah datang." Sapa Suga dan malaikat tampan itu terkejut ketika melihat sosok lain yang mengikuti Sinb.
"Jungkook, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Suga tak mengerti. Jungkook langsung merangkul Sinb sembari saling melempar senyum.
"Selama dua hari ini, aku menemaninya." Terang Jungkook yang membuat Suga menganga.
"Bagaimana keadaan Seulgi?" Sinb berusaha mengalihkan topik.
"Dia sudah sadar tapi saat ini tertidur. Oh ya, orang-orang itu bilang aku harus menyelesaikan administasinya tapi aku tidak tahu bagaimana caranya." Keluh Suga yang seketika membuat Sinb tertawa dan Jungkook menahan tawanya.
"Tunggu, apa kau tidak pernah menangangi hal semacam ini? Kau ini sebenarnya siapa? Aneh sekali ketika kau tidak melakukan hal sesederhana ini." Wajah Suga memerah sementara Sinb merasa menang karena berhasil mengolok-ngolok Suga.
"Sebenarnya Suga hyung tidak pernah melakukan ini, sama halnya seperti diriku. Jadi chagia, tolong jangan menggodanya lagi. Kau harus menghormatinya seperti diriku." Sinb memutar bola matanya merasa jengah dengan acting Jungkook tapi ia tak memiliki pilihan lagi, ia harus tetap berakting agar Jungkook tak membunuhnya saat ini juga.
"Ah, mianhae sunbae. Aku tidak bermaksud apapun sungguh." Kata Sinb dengan sok serius.
"Sudahlah lupakan, lebih baik kau bantu aku menyelesaikan administasinya." Pinta Suga dan sepasang kekasih palsu itu bergegas pergi meninggalkan Suga yang masih memiliki segudang pertanyaan untuk keduanya.
Sementara Sinb segera melepaskan genggaman tangan Jungkook saat sudah jauh dari kamar Seulgi.
"Satu pelanggaran, kau akan mendapatkan pukulan bertubi-tubi dariku!" Ancam Jungkook dengan berjalan santai.
"Yak!" Bentak Sinb yang kesal.
"Dua pelanggaran, aku akan menghempaskan tubuhmu dengan satu kali dentuman." Lanjut Jungkook.
"Sialan!" Umpat Sinb.
"Tiga kali pelanggaran, asap hitam ku akan menelanmu!"
"JEON JUNGKOOK!" Kali ini Sinb tak tahan lagi mendengarkan kata penuh ancaman dari Jungkook.
"Wae? Jika kau merasa risih? Turuti semua perkataan ku."
"KAU!"
"Ulurkan tangan mu!" Perintah Jungkook dengan setengah hati Sinb mengulurkan tangannya kemudian Jungkook memegangnya dengan senyum penuh kemenangan.