Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

 

KANTIN KANTOR – SIANG HARI

 

Suasana kantin siang itu lebih riuh dari biasanya. Pegawai datang dan pergi, membawa nampan berisi lauk-lauk yang terlihat menggiurkan. Tapi satu sudut kantin terasa seperti pusaran badai yang sedang menunggu meledak. Di meja paling pojok, Cindy duduk berhadapan dengan Winna.

 

Sitty dan Popi berdiri tak jauh, pura-pura sibuk memilih minuman, padahal kuping mereka terarah sepenuhnya ke meja itu.

 

> “Aku gak mau memperkeruh suasana, Win,” kata Cindy pelan tapi mantap. “Tapi aku cuma ingin tahu satu hal... kenapa kamu harus sejauh itu?”

 

 

 

Winna menatapnya dengan tenang. Tapi di balik ketenangan itu, bahunya sedikit tegang. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menyeka mulutnya dengan tisu.

 

> “Sejauh itu?” Winna tersenyum miring. “Maksud kamu… soal Jefta?”

 

 

 

> “Kamu tahu, kan... kami lagi baik-baik saja waktu itu.”

 

 

 

> “Baik-baik saja menurut kamu,” potong Winna, nada suaranya naik setengah oktaf. “Tapi kamu gak pernah lihat dari sisi dia. Dia capek, Cin. Dia ngerasa terus-terusan berjuang sendirian.”

 

 

 

Cindy menelan ludah. Suasana kantin tetap ramai, tapi untuk mereka berdua, rasanya dunia mendadak jadi senyap.

 

> “Jadi kamu masuk buat ‘menyelamatkan’ dia?” Cindy menatap langsung ke mata Winna. “Apa itu adil?”

 

 

 

Winna menyandarkan punggung ke kursi.

 

Aku udah suka sama dia dari SMA, Cin. Kamu pikir aku gak pernah terluka lihat dia jalan sama kamu?”

 

> “Aku gak mau ngerebut siapa-siapa. Tapi kalau dia datang sendiri ke aku... aku gak bisa tolak perasaanku"

 

> “Dan kamu pikir aku gak terluka setelah kamu ikut masuk dalam list orang yang disukai Jefta”

 

 

 

Popi yang sudah tak tahan, berbisik ke Sitty, “Tuh kan... drama Korea beneran.”

 

Sitty mengangguk, bisik-bisik, “Tapi aku mulai panas nih liat muka si Winna.”

 

Sementara itu, kembali ke meja Cindy dan Winna.

 

> “Kamu tahu, Win,” kata Cindy tenang, “aku gak marah kamu suka sama Jefta. Aku gak bisa larang perasaan orang. Tapi cara kamu, itu yang salah. Diam-diam masuk, bisik-bisik sama orang lain, manas-manasin Jefta di belakang, dan nyebarin gosip tentang aku dan Steven. Kamu tahu itu bukan cara yang baik.”

 

 

 

> “Aku cuma... Mau lindungin Jefta" jawab Winna datar. “Kalau dia gak bahagia sama kamu, itu bukan salahku.”

 

 

 

Cindy menahan napas. Matanya berkaca-kaca. Tapi dia tersenyum kecil.

 

> “Mungkin kamu benar. Tapi suatu hari nanti... kamu akan tahu, merebut bukan berarti menang.”

 

 

 

Winna terdiam. Untuk pertama kalinya, dia tak membalas. Matanya menghindar.

 

> “Aku pamit dulu,” Cindy berdiri, suaranya lembut tapi tegas. “Aku bukan orang yang sempurna, tapi aku tahu caraku mencintai Jefta gak pernah main belakang.”

 

 

 

Sitty dan Popi langsung menghampiri begitu Cindy lewat.

 

> “Gila, Cin... keren banget kamu barusan!” seru Popi.

 

 

 

> “Aku udah siap lempar es batu ke mukanya tadi,” kata Sitty sambil cemberut. “Tapi kamu lebih sadis ternyata.”

 

 

 

Cindy hanya tertawa kecil. “Gak usah balas api pakai api. Aku gak akan mendoakan yang buruk. Aku cuma... selesai.”

 

 

---

Cindy berjalan menjauh dari kantin. Cahaya matahari menembus kaca besar, menyorot wajahnya. 

 

 

--

“Sayang, kamu temani aku shopping ya nanti? Sekalian mau ke salon,” kata Popi manja, sambil memegang lengan Chen yang baru saja selesai merapikan dokumen di meja kerjanya.

 

“Pulang kantor kita langsung ke mall,” jawab Chen dengan senyum datar. Dalam hati, ia menggerutu,

 

> "Wanita ini begitu merepotkan. Dia gak tau, dia cuma aku jadikan boneka pemanis. Dasar cewek naif, gampang banget ditaklukin.”

 

 

 

“Oke sayang!” Popi mengecup pipi Chen ringan sebelum berjalan keluar ruangan dengan wajah berseri-seri. “Kamu gak ikut ke kantin, makan siang?”

 

“Nanti nyusul, kamu duluan aja,” balas Chen sambil kembali menatap layar komputernya.

 

Popi berjalan menuju kantin. Hatinya berbunga-bunga. Hari ini ia akan menghabiskan waktu dengan pacarnya. Ia membayangkan mereka bergandengan tangan, tertawa, berfoto berdua, dan mungkin... makan malam romantis.

 

“Kamu kok senang banget, Pi?” tanya Cindy penasaran.

 

“Nanti sore aku jalan bareng Chen,” jawab Popi malu-malu.

 

“Cieeee, yang lagi berbunga-bunga!” goda Sitty. “Jadi iri deh, tiap hari bisa jalan bareng. Kapan ya aku bisa kayak gitu.”

 

Popi tersenyum, menutupi kegelisahan yang kadang muncul belakangan ini.

 

> "Jalan bareng? Mesra? Bahkan dia gak pernah bersikap romantis seperti waktu dia nembak aku dulu," batinnya. Tapi ia tetap memasang wajah bahagia.

 

 

 

“Hahaha, iya dong. Orang pacaran harus gitu, kan?” katanya, berusaha terdengar meyakinkan.

 

“Kita turut senang kalau kamu bahagia,” kata Sitty.

 

“Eh Pi, kemarin kamu kencan pakai baju apa?” tanya Cindy sambil mengingat sesuatu.

 

“Yang pink itu loh, yang kita beli di mall,” jawab Popi.

 

“Gila! Itu kan sexy banget, kamu nekat juga ya!” tawa Sitty pecah.

 

Cindy diam sejenak. “Pink? Tapi cewek yang aku lihat bareng Chen kemarin di mall pakai dress putih. Jangan-jangan...” pikirnya.

 

“Emang kenapa, Cin?” tanya Popi.

 

“Enggak, cuma nanya aja. Siapa tahu kamu salah kostum. Hahaha.”

 

“Please! Seorang Popi gak pernah salah kostum dalam urusan kencan,” timpal Sitty membela sahabatnya.

 

“Sitty, kok kamu betah ngejomblo sih?” tanya Popi menggoda.

 

“Siapa bilang jomblo? Aku punya pacar kok. Emang LDR, tapi pacar tetap pacar dong.”

 

“Udah pernah ketemu?”

 

“Jelaslah. Masa aku pacaran sama bayangan.”

 

“Kamu gak pernah cerita,” kata Cindy.

 

“Gak mau pamer. Nanti aja kalau udah nikah baru deh.”

 

“Kita kenal orangnya?” tanya Popi lagi..”

 

"Kalian ingat gak, cowok pelaut yang keep unit mewah tahun lalu. Nah itu dia"

 

“yang mana ya?” tanya popi penasaran

 

“Alfik" Sambil membuka galery ponsel. "Ini loh" Menyodorkan ponsel memperlihatkan foto

 

“oh jadi si Alfik itu pelaut? Wah cocok sih. Kalau kamu nikah nanti, aku sama Popi harus jadi pengiring pengantin yah!”

 

“Itu wajib, beb!”

 

Mereka tertawa sampai jam kerja selesai.

 

 

---

Pukul 17.00. Waktu pulang tiba.

 

“Sayang, kamu gak lupa kan janji kamu?” tanya Popi begitu mendekat ke Chen.

 

“Yuk, langsung aja,” jawab Chen datar.

 

“Kalau gitu, kita ke salon dulu, terus shopping, makan malam, dan terakhir nonton yah!”

 

“Kalau ngomong terus, kapan kita jalannya?” potong Chen.

 

“Oke oke, aku naik nih,” Popi duduk di belakang motor Chen dengan gaya menyamping.

 

“Aku kan udah bilang, aku bukan ojek. Duduknya tuh normal.”

 

“Aku pakai rok, sayang. Pendek lagi, masa aku duduk ngangkang.”

 

“Yah udah, pegang yang erat.”

 

 

---

 

Di depan salon, Popi turun.

 

“Sayang, kamu gak ikut masuk?”

 

“Kamu nyalon aja dulu. Aku nunggu di Coffee shop biasa ya, nanti kalau udah selesai kabarin.”

 

“Oke sayang!” Popi masuk dengan senyum lebar.

 

“Say, paket seperti biasa ya,” katanya pada resepsionis salon.

 

Sementara itu, Chen buru-buru keluar mall, membuka pesan WhatsApp, dan mengetik:

 

 

 

> “Lagi free? Ketemu yuk.”

 

 

 

 

 

 

 

Dua jam kemudian.

 

Popi menghubungi Chen.

 

 

 

“Sayang, kamu dimana? Aku udah selesai.”

 

 

 

“Maaf ya, aku pulang duluan. Tadi sakit perut.” jawab Chen dengan nada malas, lalu mematikan handphone.

 

 

 

Di tempat tidur, seorang wanita berambut pirang mencolek pundaknya.

 

 

 

“Siapa itu, Chen? Pacar kamu, si Mira itu?”

 

 

 

“Bukan, itu cuma cadangan. Mira lagi ke luar kota.”

 

 

 

“Kenapa gak tidur sama yang cadangan aja?”

 

 

 

“Nanti lah, ada waktunya.”

 

 

 

“Kamu kok gak pernah tidur sama Mira?”

 

 

 

“Dia wanita baik-baik. Aku cinta dia. Aku mau nikah sama dia. Aku gak mau rusak hidupnya.”

 

 

 

“Kalau kamu udah nikah sama dia, aku gimana?”

 

 

 

“Kamu tetap kerja seperti biasa. Aku gak ganggu kamu lagi.”

 

 

 

“Aku doain yang terbaik buat kamu...”

 

 

 

“Ya udah, makasih ya. Jatah kamu di meja. Aku cabut dulu.”

 

 

 

 

 

---

 

 

 

Popi berdiri di pinggir trotoar mall, sendirian. Rambutnya masih rapi ditata. Wajahnya sudah dibersihkan dan diberi make-up lembut. Tapi tak ada siapa-siapa yang memperhatikannya.

 

 

 

> "Gimana sih, janjinya mau nonton. Gagal lagi. Mendingan pulang aja," gumam Popi pelan.

 

 

 

 

 

 

 

Ia menatap ponselnya. Berkali-kali ingin menelepon, tapi ragu.

 

 

 

> "Semakin hari rasanya aku yang tergila-gila. Aku yang selalu nanya dia udah makan belum. Aku yang ngasih kabar kalau pergi ke mana pun. Dia? Bahkan sakit pun gak pernah cerita. Jalan bareng? Selalu batal. Romantis? Enggak pernah."

 

 

 

 

 

 

 

Ia mengetik pesan:

 

 

 

> “Sayang, kamu lagi apa? Perut kamu udah mendingan? Jangan lupa gosok minyak kayu putih biar hangat ya.”

 

 

 

 

 

 

 

Balasan Chen singkat:

 

 

 

> “Udah agak mendingan. Sekarang aku mau istirahat.”

 

 

 

 

 

 

 

Popi memandang layar ponselnya.

 

 

 

> "Bahkan bilang 'terima kasih' pun tidak. Mungkin memang aku harus terima dia apa adanya. Tapi... kok rasanya capek ya?"

 

 

 

 

 

 

 

Ia meletakkan ponselnya dan memeluk tas belanjanya. Malam itu, ia tidur sambil menahan kecewa yang perlahan berubah menjadi luka.

 

 

 

Sementara itu, di sudut kota lain, Chen tertawa sambil berkata pada dirinya sendiri:

 

 

 

> "Ku buat dia buta dengan pesonaku. Gampang banget luluh. Wanita ini memang mudah dibodohi. Hahahah!"

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Our Different Way
7124      3293     0     
Romance
Novel ini mengisahkan tokoh utama bernama Haira, seorang siswa SMA berusia tujuh belas tahun yang baru saja rujuk kembali dengan pacarnya, Gian. Mereka berdua tentu senang karena bisa kembali merajut kasih setelah tidak pernah bertemu lebih dari setahun akibat putus. Namun, di tengah hubungan yang sedang hangat-hangatnya, mereka diterpa oleh permasalahan pelik yang tidak pernah mereka bayangk...
IF ONLY....
567      414     2     
Romance
Pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta sepihak… Perasaan yang berakhir bahkan sebelum dimulai… Merasa senang dan sedih seorang diri, benar-benar seperti orang bodoh. Ada penyesalan besar dalam diriku, padahal masih banyak hal yang ingin kuketahui tentang dirinya. Jika saja aku lebih berani bicara padanya saat itu, kira-kira apa yang akan terjadi?
Diskusi Rasa
1250      760     3     
Short Story
Setiap orang berhak merindu. Tetapi jangan sampai kau merindu pada orang yang salah.
Batas Sunyi
5300      2873     108     
Romance
"Hargai setiap momen bersama orang yang kita sayangi karena mati itu pasti dan kita gak tahu kapan tepatnya. Soalnya menyesal karena terlambat menyadari sesuatu berharga saat sudah enggak ada itu sangat menyakitkan." - Sabda Raka Handoko. "Tidak apa-apa kalau tidak sehebat orang lain dan menjadi manusia biasa-biasa saja. Masih hidup saja sudah sebuah achievement yang perlu dirayakan setiap har...
Premium
Cinta (Puisi dan Semi Novel
30115      4731     2     
Romance
Sinopsis Naskah ‘CINTA’: Jika Anda akan memetik manfaat yang besar dan lebih mengenal bongkahan mutu manikam cinta, inilah tempatnya untuk memulai dengan penuh gairah. Cinta merupakan kunci kemenangan dari semua peperangan dalam batin terluhur Anda sendiri, hingga menjangkau bait kedamaian dan menerapkan kunci yang vital ini. Buku ‘Cinta’ ini adalah karya besar yang mutlak mewarnai tero...
Bukan Bidadari Impian
196      165     2     
Romance
Mengisahkan tentang wanita bernama Farhana—putri dari seorang penjual nasi rames, yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya, dengan putra Kiai Furqon. Pria itu biasa di panggil dengan sebutan Gus. Farhana, wanita yang berparas biasa saja itu, terlalu baik. Hingga Gus Furqon tidak mempunyai alasan untuk meninggalkannya. Namun, siapa sangka? Perhatian Gus Furqon selama ini ternyata karena a...
Take It Or Leave It
7974      3019     2     
Romance
"Saya sadar...." Reyhan menarik napasnya sejenak, sungguh ia tidak menginginkan ini terjadi. "Untuk saat ini, saya memang belum bisa membuktikan keseriusan saya, Sya. Tapi, apa boleh saya meminta satu hal?" Reyhan diam, sengaja menggantungkan ucapannya, ia ingin mendengar suara gadis yang saat ini akhirnya bersedia bicara dengannya. Namun tak ada jawaban dari seberang sana, Aisyah sepertinya masi...
FAKE NERD AND BLIND ALPHA
3352      1388     4     
Fantasy
Seorang Alpha buta berjuang menjaga matenya dari garis taqdir yang berkali-kali menggores kebahagian mereka. Jika jarum runcing taqdir mengkhianati mereka, antara cinta ataukah kekuatan yang akan menang?
Phi
2372      1045     6     
Science Fiction
Wii kabur dari rumah dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di kota. Padahal dia memutus segala identitas dan kontak yang berhubungan dengan rumah. Wii ingin mencari panggung baru yang bisa menerima dia apa adanya. Tapi di kota, dia bertemu dengan sekumpulan orang aneh. Bergaul dengan masalah orang lain, hingga membuatnya menemukan dirinya sendiri.
Koude
3965      1516     3     
Romance
Menjadi sahabat dekat dari seorang laki-laki dingin nan tampan seperti Dyvan, membuat Karlee dijauhi oleh teman-teman perempuan di sekolahnya. Tak hanya itu, ia bahkan seringkali mendapat hujatan karena sangat dekat dengan Dyvan, dan juga tinggal satu rumah dengan laki-laki itu. Hingga Clyrissa datang kepada mereka, dan menjadi teman perempuan satu-satunya yang Karlee punya. Tetapi kedatanga...