Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

πŸ“‚ Di Ruang Ketua

 

“Cindy, masuk ke ruangan saya sekarang.” kata Steven dengan nada tegas.

 

“Ada apa, Kak?”

 

“Aku mau bilang sesuatu.”

 

“Apa?”

 

“Sejak Jefta gak ada, kamu kelihatan murung. Semangat dong”. Masih pada posisi duduknya

 

"Kita bahas ini di Rumah"

 

“Mulai hari ini aku pindah ke apartemen. Kita jarang ketemu.”

 

Cindy menunduk. “Aku bodoh. Bisa suka sama Jefta. Aku kira kita pacaran. Ternyata hubungan tanpa status. Lagian si kamu kak pade adegan seolah-olah kita pacaran kan jadi tambah rumit

 

Steven menatapnya penuh empati.

"Nanti kamu pasti dapat yang lebih baik dari dia" Sambil mengusap rambut adik-nya itu.. Kemudian menepuk bahunya. 

 

"Yaudah, balik kerja gih.”

 

Saat Cindy melangkah ke pintu, Steven menambahkan, “Oh ya… Jefta gak resign dia mutasi ke Berlin. Kalo memang cinta sama kamu dia pasti balik"

 

“Aku udah terbiasa tanpa dia Begitu aja seterusnya.” katanya pelan, lalu keluar.

 

 

---

 

πŸ”₯ Di Luar Ruangan

 

“Dia pasti dimarahin, liat aja wajahnya kusut,” kata Wina.

 

“Kenapa kamu selalu cari masalah sama Cindy?” tanya Dandi.

 

"Aku cari masalah???? Enggakk yaa itu karena aku cinta Jefta! Dari SMA! Tapi dia lebih milih wanita-wanita lain dan sekarang apa.. Dia pilih Cindy! Rival aku dari dulu. Sakit tauu. Aku yang buat Jefta resign! Aku yang adu domba mereka! Kalau aku gak bisa punya dia, Cindy juga nggak boleh!”

 

Dandi tertegun. “Kamu… kamu yang bikin mereka putus?”

 

“Gak mereka belum jadian... Dan kamu juga… kamu suka Cindy, kan?! Tapi kamu diem-diem aja! Setidaknya aku berani!”

 

“Aku nggak seperti kamu. Karena aku tahu, cinta nggak harus memiliki.”

 

“Omong kosong! Semua yang cinta, pasti ingin memiliki!”

 

Dandi hanya diam, lalu pergi. Stella diam-diam mendengar semuanya, memasang telinga dari balik printer.

 

 

---

 

πŸ“± Sementara Itu...

 

“Cin, pinjem handphone kamu sebentar dong!” kata Sitty.

 

“Buat apa?”

 

“Mau liatin video Jay Chou yang baru tuh, yang Improvisation!”

 

“Nih.” Cindy menyerahkan ponselnya.

 

Sitty dan Popi cekikikan, tapi tiba-tiba...

 

“Cin… kamu beneran jadian sama Ketua?!” Sitty menunjuk wallpaper ponsel Cindy—foto Cindy dan Steven berdua dengan tangan saling merangkul di taman. 

 

Popi menatap layar. Di sana ada foto Cindy dan Steven, tersenyum akrab. 

 

Jadi gosip itu beneran?!” tanya Popi setengah berbisik tapi panik.

 

“Gila! Itu... itu bukan cuma teman kerja, ya?!” Sitty menutup mulutnya.

 

Cindy tersenyum lelah. “Dia kakakku. Tapi kami sengaja menyembunyikan hubungan itu... karena alasan yang hanya kami tahu. nanti deh suatu hari aku pasti cerita"

 

"Plot twistnya dapat banget" Kata Sitty

 

Sementara Popi tak dapat berkata-kata

 

Ruang kantor sore itu terasa lebih lengang dari biasanya. Hanya tersisa beberapa orang yang masih bertahan di meja kerja mereka. Lampu-lampu putih menggantung sepi, membiarkan bayangan-bayangan panjang merayap di lantai. Popi duduk bersandar santai di kursinya, sementara Sitty masih sibuk mengetik laporan terakhir. Cindy tampak termenung sambil memeluk mug kopi yang sudah dingin.

 

Tiba-tiba, Stela masuk dengan langkah tergesa-gesa dan ekspresi seperti baru saja menemukan harta karun gosip.

 

> “Hot news, guys!” serunya sambil melempar tasnya ke kursi. “Ternyata Jefta resign dari sini gara-gara Winna! Dan... gara-gara dia juga, Cindy dan Jefta putus!”

 

 

 

Cindy langsung menegakkan tubuhnya. Napasnya tercekat. Tapi ia berusaha terlihat tenang karena dia sudah tahu yang sebenarnya. 

 

> “Sudah kuduga, ini semua pasti gara-gara Winna,” gerutu Sitty sambil memutar bola matanya.

“Tapi kamu tahu dari mana?” tanya Popi penasaran.

 

 

 

Stela duduk di tepi meja, menikmati peran sebagai pembawa kabar hangat.

 

> “Dan yang lebih menghebohkan lagi, ternyata Winna suka sama Jefta dari SMA!”

 

 

 

> “Hah?!” Cindy akhirnya bersuara. “sudah aku duga, pasti dia punya motif di balik gosip-gosipnya”

 

"Kamu tahu dari mana??? Tanya Sitty

 

> “Langsung dari sumbernya!” kata Stela sambil menepuk pahanya sendiri. “Aku gak sengaja dengar pembicaraan mereka—Winna dan Dandi.”

 

 

 

Popi langsung menoleh. “Dandi juga terlibat? Aku tak menyangka...”

 

> “Tenang, Dandi gak tahu apa-apa,” jelas Stela cepat. “Eh iya, ternyata Dandi malah suka sama kamu, Cin. Oke sekian sekilas info, aku pulang dulu yaaa~”

 

 

 

Dia berdiri dan meraih tasnya sambil bersiul kecil. Sementara itu, Cindy memutar bola matanya dan menghela napas panjang.

 

> “Tuh kan apa aku bilang,” kata Sitty, masih panas. “Pasti semua gara-gara Winna!”

 

 

 

> “Pantas saja, dia selalu cari masalah sama kamu, Cin,” tambah Popi.

 

 

Sitty menepuk meja. “Kita harus kasih dia pelajaran. Udah keterlaluan!”

 

Namun Cindy menggeleng pelan, matanya kosong menatap layar monitor.

 

> “Jangan… Dia gak salah,” ucapnya. “Dia cuma... wanita yang memperjuangkan cintanya. Kalau kita balas dendam, apa bedanya kita sama dia?”

 

 

 

> “Kamu gak bisa gitu dong!” Sitty bersikeras. “Dia yang bikin kamu dan Jefta berantakan!”

 

 

 

Popi mencoba menengahi, berdiri dan merentangkan tangan seperti ingin menutup adegan pertengkaran ini.

 

> “Sudah, sudah... ayo kita bersiap pulang. Udah sore nih.”

 

 

 

Sitty berseru, “Kerjaanku belum selesai! Tunggu dong, beberapa menit aja lagi, ini tinggal dikit kok.”

 

Popi menghela napas. “Tuh kerjaan sendiri aja belum selesai, udah mau sok-sokan balas dendam. Emangnya kamu yang disakitin?!”

 

> “Hahaha…” Cindy tertawa miris lalu menyanyikan dengan nada lagu lirih, “Aku yang terluka, bukan dirimu... Takkan engkau mengerti, tak bisa kau pahami…”

 

 

 

Popi ikut tertawa kecil dan menepuk bahu Cindy.

 

> “Tuh, dia yang terluka, bukan kamu ya Sitty.”

 

 

 

> “Aduh, jangan ngomong terus dong. Nanti kerjaanku gak selesai-selesai,” keluh Sitty, kembali menatap layar dengan wajah keriput penuh lelah.

 

 

 

> “Cepat, Ty. Yang lain udah pada pulang,” desak Popi.

 

 

 

> “Iya, bentar lagi selesai kok, tinggal dikirim aja nih,” jawab Sitty sambil mengetik lebih cepat.

 

 

 

Mereka kembali sibuk masing-masing, namun percakapan tadi masih menggantung di udara seperti kabut tipis—tak terlihat tapi terasa. Di balik tawa dan obrolan ringan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan cerita yang belum sepenuhnya selesai.

 

Beberapa Minggu Sebelumnya

 

Langit sore terlihat mendung dari jendela kamar apartemen Chen. Di dalam, suasana hangat tercipta dari lilin aromaterapi yang menyala di sudut ruangan, dan suara lembut dari playlist lo-fi mengisi keheningan.

 

Chen duduk santai di sofa, sementara Mira—pacarnya yang anggun dan karismatik—duduk di pangkuannya sambil memainkan jemarinya di rambut Chen.

 

“Sayang, gimana kerjaan di kantor?” tanya Mira pelan, menatap wajah Chen yang tampak lelah.

 

Chen menarik napas panjang dan mengusap lehernya.

“Lumayan melelahkan... banyak laporan, banyak deadline. Tapi ya, kerja tetap kerja.”

 

Mira mengangguk pelan.

“Beberapa hari lagi aku harus keluar kota. Ada urusan kantor—penyuluhan ke desa-desa terpencil. Mungkin tiga bulan.”

 

Chen menghentikan gerakannya sejenak.

“Tiga bulan? Wah, lama juga ya, Sayang... Aku bisa kesepian nih, gak lihat wajah kamu yang lucu dan cantik ini.”

Ia mencubit pipi Mira manja.

 

Mira tertawa, mendorong pelan bahunya.

“Kamu jangan genit-genit, ya. Jangan macem-macem di sini selama aku gak ada.”

 

Chen tersenyum menenangkan.

“Gak lah... Aku anak baik.” katanya, walau dalam hati ia sudah menyusun rencana.

 

> “Ini kesempatan emas,” bisik batinnya.

“Tiga bulan tanpa pengawasan Mira... Popi bisa aku pacari penuh waktu. Dia gak bakal curiga.”

 

 

 

“Emangnya penyuluhan apa sih, kok sampai tiga bulan?” tanya Chen, mencoba tetap terdengar peduli.

 

“Program pengembangan kesehatan dan edukasi. Lokasinya cukup terpencil, jadi ada kemungkinan sinyal susah. Kalau aku gak bisa kabarin tiap hari, jangan panik ya.”

 

Chen pura-pura panik.

“Waduh, lebih parah lagi dong... gak bisa dengar suara kamu. Bisa gila aku.”

 

Mira menatapnya dengan mata teduh.

“Aku bakal kangen kamu, Chen. Tapi ini bagian dari profesiku. Aku senang karena kamu gak pernah menahan aku mengejar karier.”

 

Chen tersenyum kecil.

“Ah, gak apa-apa. Aku malah senang kamu menikmati pekerjaan kamu.”

 

Senyum yang sama yang ia tunjukkan pada dua perempuan berbeda. Tapi Mira berbeda dia akan tetap memilih Mira

 

 

---

 

Suara Hati Chen

 

Setelah Mira pulang malam itu, Chen berdiri di balkon, memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala. Angin malam menyentuh wajahnya.

 

> “Popi manis, mudah percaya, polos. Dia suka aku. Dia gak akan banyak nuntut.”

“Mira? Dia punya kelas. Tapi susah diatur.”

“Selama Mira gak bisa dihubungi, Popi bisa jadi pelarian. Dan kalau Mira balik, ya tinggal bilang Popi terlalu posesif atau ngambek... beres. Kalau Mira akan jadi istri Ku kelak. 

 

 

 

Chen menyesap kopinya pelan, lalu tersenyum penuh perhitungan.

 

> “Popi itu pacar cadangan yang sempurna.”

 

 

---

 

Di Tempat Lain – Popi Menulis di Jurnalnya

 

Sementara itu, Popi duduk di atas kasur dengan buku jurnal mungil di pangkuannya. Ia menulis dengan tulisan tangan yang rapi dan penuh hati.

 

> "Hari ini Chen bilang dia senang kalau aku ada di dekatnya. Kadang aku gak yakin dia benar-benar suka sama aku, tapi waktu dia bilang aku cantik, aku percaya sedikit... Ya sedikit saja sudah cukup bikin aku senyum semalaman."

 

 

 

Ia menutup buku itu dengan senyum kecil, memeluknya seperti benda berharga.

 

Ia tidak tahu... bahwa di waktu yang sama, lelaki yang ia puja sedang menyusun kebohongan, dengan senyum licik dan rencana jangka pendek.

 

 

---

> Dan begitulah, Popi mencintai dengan tulus.

Sementara Chen mencintai dengan syarat.

Syarat yang hanya berlaku selama tidak ada pilihan yang lebih nyaman baginya.

 

 

 

 

 

---

 

MALAM HARI – DEPAN KANTOR

 

Popi dan Chen keluar dari pintu utama bersama. Popi tampak ceria, menggandeng tangan Chen.

 

POPI

“Sayang, kita mau ke mana malam ini?”

 

CHEN

(tersenyum penuh misteri)

“Dinner spesial.”

 

POPI

(memonyongkan bibir)

“Dinner? Aku kan lagi diet, gak bisa makan malam…”

 

CHEN

(geleng-geleng santai)

“Hmm... ganti aja acaranya. Gimana kalau nonton?”

 

POPI

(antusias)

“Boleh juga!”

 

CHEN

“Ketemuan di bioskop ya, sayang. Aku duluan, ada sedikit urusan.”

 

POPI

(kepala miring, heran)

“Kamu gak anterin aku pulang?”

 

CHEN

(mengecup dahinya cepat)

“Nggak bisa, sorry... See you ya.”

 

Popi melambaikan tangan pelan. Ada keganjilan di matanya, tapi dia menepisnya.

 

 

---

 

MALAM HARI – DEPAN BIOSKOP

 

Popi berdiri di depan loket, menatap layar ponsel. Telepon tersambung.

 

POPI

“Sayang, kamu di mana? Aku udah di depan bioskop nih.”

 

CHEN (di telpon, suara tergesa)

“Maaf, aku di jalan, macet. Kamu beli tiket duluan aja.”

 

POPI

(agak kecewa, tapi mencoba tersenyum)

“Oke.”

 

Beberapa menit kemudian, handphonenya bergetar. SMS masuk.

 

CHEN (via SMS)

“Maaf tiba-tiba ada pertemuan keluarga mendadak, kita nonton lain kali aja yah.”

 

Popi membaca SMS itu berulang kali. Matanya mulai berkaca. Di tangannya ada dua tiket film yang ia beli dengan penuh harap.

 

POPI (dalam hati)

Dia yang ajak. Dia juga yang batalin. Buat apa tiket ini...

 

Dengan hati berat, ia meletakkan dua tiket itu di bangku ruang tunggu bioskop, lalu berjalan pergi sendirian ke arah lorong pertokoan.

 

 

---

 

DI FOOD COURT MALL – MALAM HARI

 

Cindy sedang mengambil tempat duduk sambil membawa nampan makan malam. Saat matanya menatap ke kiri, ia terhenti. Di kejauhan, tampak Chen duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut panjang dan mengenakan dress merah menyala. Terlihat intim. Tertawa kecil. Pipi si wanita disentuh pelan oleh Chen.

 

Cindy menyipitkan mata.

 

CINDY (gumam pelan)

“Itu... kan Chen? Sama siapa dia?”

 

Ia hendak bangkit memanggil, namun ragu.

 

CINDY (dalam hati)

“Ah, gak usah ikut campur. Mungkin itu Popi... mereka janjian tadi, kan?”

 

Cindy kembali duduk. Tapi rasa penasaran tak juga hilang dari benaknya.

 

 

---

 

BEER & GRILL – TEMPAT LAIN DI MALL

 

Sementara itu, Chen dan Mira tertawa sambil menyentuh gelas bir.

 

MIRA

“Siapa yang nelpon tadi, sayang?”

 

CHEN

“Oh, cuma temen. Tadi ngajakin nonton, tapi aku males. Dia maksa sih, jadi aku PHPin aja.”

 

MIRA

“Cewek apa cowok?”

 

CHEN

“Cewek. Terus ngedeketin terus. Padahal aku udah jelas-jelas jaga jarak.”

 

MIRA

(meremehkan)

“Dasar cewek gatal.”

 

CHEN

(senyum geli)

“Udah, yuk kita makan...”

 

 

---

 

DI TEMPAT LAIN – DEPAN OUTLET BAJU

 

Popi menatap etalase toko sambil memainkan ponsel. Ia ingin melupakan kejadian tadi. Tapi pesan dari Cindy tiba-tiba masuk.

 

CINDY (via telpon)

“Pop, kamu lagi di mana?”

 

POPI

(terkejut, tapi cepat menutupi)

“Lagi di mall... bareng Chen. Kenapa?”

 

CINDY

(tertawa kecil)

“Oh iya, aku lupa kamu kan lagi pacaran. Maaf ganggu ya.”

 

Cindy menutup telepon, tanpa tahu kebenarannya.

 

POPI (dalam hati, menahan air mata)

“Maafin aku, Cin... aku bohong...”

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Second Lady?
563      423     6     
Short Story
Tentang seorang gadis bernama Melani yang sangat bingung memilih mempertahankan persahabatannya dengan Jillian, ataukah mempertahankan hubungan terlarangnya dengan Lucas, tunangan Jillian?
Man in a Green Hoodie
5828      1753     7     
Romance
Kirana, seorang gadis SMA yang supel dan ceria, telah memiliki jalan hidup yang terencana dengan matang, bahkan dari sejak ia baru dilahirkan ke dunia. Siapa yang menyangka, pertemuan singkat dan tak terduga dirinya dengan Dirga di taman sebuah rumah sakit, membuat dirinya berani untuk melangkah dan memilih jalan yang baru. Sanggupkah Kirana bertahan dengan pilihannya? Atau menyerah dan kem...
Langit Biru Istanbul
866      476     2     
Romance
Ameera, seorang mahasiswi asal Indonesia, mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Istanbul selama satu semester. Ia menyewa kamar di sebuah rumah tua milik keluarga Turki yang hidup sederhana. Di rumah itu, Ameera berkenalan dengan Emir, cucu pemilik rumah, seorang fotografer jalanan yang berhenti kuliah karena trauma masa lalu. Emir dikenal dingin, sinis, dan menghindari s...
Love Never Ends
12883      2984     20     
Romance
Lupakan dan lepaskan
Belahan Jiwa
580      408     4     
Short Story
Sebelum kamu bertanya tentang cinta padaku, tanyakan pada hatimu \"Sejauh mana aku memahami cinta?\"
Sanguine
6269      2055     2     
Romance
Karala Wijaya merupakan siswi populer di sekolahnya. Ia memiliki semua hal yang diinginkan oleh setiap gadis di dunia. Terlahir dari keluarga kaya, menjadi vokalis band sekolah, memiliki banyak teman, serta pacar tampan incaran para gadis-gadis di sekolah. Ada satu hal yang sangat disukainya, she love being a popular. Bagi Lala, tidak ada yang lebih penting daripada menjadi pusat perhatian. Namun...
Wake Me Up With Amnesia
913      588     2     
Short Story
who would have thought that forgetting a past is a very difficult thing
Camelia
614      353     6     
Romance
Pertama kali bertemu denganmu, getaran cinta itu sudah ada. Aku ingin selalu bersamamu. Sampai maut memisahkan kita. ~Aulya Pradiga Aku suka dia. Tingkah lakunya, cerewetannya, dan senyumannya. Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku tak ingin menyakitinya. ~Camelia Putri
Gunay and His Broken Life
11192      4035     0     
Romance
Hidup Gunay adalah kakaknya. Kakaknya adalah hidup Gunay. Pemuda malang ini telah ditinggal ibunya sejak kecil yang membuatnya secara naluri menganggap kakaknya adalah pengganti sosok ibu baginya. Hidupnya begitu bergantung pada gadis itu. Mulai dari ia bangun tidur, hingga kembali lagi ke tempat tidur yang keluar dari mulutnya hanyalah "kakak, kakak, dan kakak" Sampai memberi makan ikan...
The Difference
10466      2592     2     
Romance
Diana, seseorang yang mempunyai nazar untuk berhijab setelah ada seseorang yang mengimami. Lantas siapakah yang akan mengimami Diana? Dion, pacar Diana yang sedang tinggal di Amerika. Davin, sahabat Diana yang selalu berasama Diana, namun berbeda agama.