Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Beberapa hari setelah Popi batal jalan lagi karena Chen tiba-tiba menghilang dengan alasan sakit perut.. Chen mulai berubah dia jadi agak dingin bahkan kepada Sitty dan Cindy

 

 "Popi bukan gadis lugu seperti yang Chen pikirkan — ia hanya terlalu sayang, terlalu percaya, dan mungkin itu yang membuatnya diam selama ini" Batin Cindy

 

Namun sore itu, Cindy mulai merajut potongan kecurigaann

Cindy Memulai Rencana Diam-Diam

 

Di kantor, suasana tetap terlihat normal. Tapi di antara laporan dan deadline, sebuah konspirasi kecil sedang dirancang di balik layar.

 

Saat Popi pergi ke pantry, Cindy mendekat ke meja Sitty. Ia menurunkan suara dan bertanya pelan, nyaris berbisik, “Lu gak ngerasa aneh sama Chen?”

 

Sitty mendongak dari layar laptop. “Iya sih, akhir-akhir ini dia dingin... tap jujur entah kenapa semejak dia jadian sama popi gue jadi gak sreg. Emm Kenapa dia?”

 

Cindy melihat sekeliling, lalu duduk lebih dekat. “Gue liat dia malam minggu itu. Di mall. Duduk sama cewek. Pegang tangan. Dan itu bukan Popi.”

 

Sitty langsung menegakkan badan. “Serius, Cin?”

"Kamu ingat gak kapan hari aku tanya popi pake baju apa? Nah hari itu ceweknya pake baju yang lain, dan itu bukan Popi, dari bentuk badan sampe warna kulit, nah Gue kepo, stalking akun medsosnya, terus bikin akun fake. Gue DM dia sebagai cewek lain. Tebak? Dia bales.”

 

Sitty menahan napas. “Lu serius banget mau lanjutin?”

 

“Gue gak cuma mau nunjukkin siapa Chen. Gue mau buktiin Popi pantas dapet lebih dari sekadar cowok licik yang hobi tebar pesona.”

 

Sitty mengangguk pelan. “Kalau gitu… kita lakuin sama-sama.”

 

 

---

 

Chen Makin Berani

 

Chen merasa di atas angin. Mira makin jarang memberi kabar, katanya sinyal di lokasi penyuluhan jelek. Popi masih setia, masih manis. Dan yang terbaru: seorang cewek misterius bernama “Caca” yang ngajak ketemuan. Dunia seperti sedang menyajikan semua rasa pada satu piring.

 

Suatu sore, Popi menelpon.

 

“Sayang, kamu sibuk?”

 

“Iya, ini lagi bantuin tim presentasi,” jawab Chen sambil menyembunyikan senyum nakalnya dari Marni di video call lain.

 

“Cuma pengen denger suara kamu. Kangen.”

 

Chen menjawab lembut, penuh manipulasi, “Aku juga kangen kamu, Popiku. Tapi aku harus balik kerja, ya?”

 

Setelah menutup telepon, Marni di layar tertawa.

 

“Cewek kamu lagi? Si cadangan itu? 

 

“Dia Lucu sih. Tapi gampang banget dibohongin,” ujar Chen dengan senyum menang.

 

 

---

 

Cindy Menyusun Bukti

 

Cindy, sebagai “Caca”, berhasil mengatur pertemuan dengan Chen. Lokasinya di sebuah kafe hipster, strategis dan terbuka. Sitty ikut, duduk jauh di pojok dengan hoodie, diam-diam merekam dari kamera tersembunyi.

 

Chen datang dengan gaya flamboyan: kemeja putih, rambut klimis, parfum mahal.

 

“Caca ya? Akhirnya ketemu juga,” sapanya santai.

 

Cindy, dengan suara yang ia ubah, menjawab kalem. “Kamu gampang banget ya diajak ketemu cewek dari internet?”

 

Chen tertawa. “Kalau cakep kayak kamu sih, kenapa enggak?”

 

Semua terekam. Semua bukti masuk ke folder yang mereka simpan dengan nama: Kebenaran Tentang Chen.

 

 

---

 

Konfrontasi yang Tak Disangka

 

Beberapa hari kemudian, saat jam istirahat, Cindy memanggil Popi. Mereka duduk di ruang istirahat, hanya berdua.

 

“Pop, boleh aku tanya jujur? Kamu yakin Chen itu setia?”

 

Popi menoleh, ekspresinya datar. Bukan cemas. Bukan penasaran. Justru tenang. Terlalu tenang.

 

“Aku harus nanya balik deh, Cin. Yakin mau lanjut akting ini?”

 

Cindy terdiam. “Maksud lo?”

 

Popi menatap tajam. “Gue tahu lo yang pura-pura jadi Caca. Dari awal.”

 

Cindy membeku.

 

“Lo pikir gue gak kenal gaya bahasa lo? Gue tahu gaya lo ngetik. Lo kira gue bego?”

 

Sitty muncul di belakang, kaget mendengar nada suara Popi yang lain dari biasanya.

 

“Popi… ini semua cuma karena kita sayang lo. Kita gak mau lo disakitin terus.”

 

Popi berdiri. Matanya berkaca-kaca. “Lo sayang? Atau lo cuma merasa paling benar? Gue bukan korban, Sit. Gue cuma lagi belajar memaafkan proses yang gak bisa gue kendalikan.”

 

Dia menatap Cindy lebih tajam. “Dan lo… lo ngira lo pahlawan? Dateng-dateng bawa video, pura-pura Caca. Lo pikir itu gak nyakitin gue lebih dari kelakuan Chen?”

 

Cindy nyaris menangis. “Pop…”

 

“Lo tahu gak kenapa sakitnya dobel? Karena gue percaya lo berdua. Tapi lo bahkan gak percaya sama gue cukup buat bilang semuanya dari awal.”

 

Suasana hening. Ruang istirahat terasa sesak.

 

Popi mengambil tasnya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh. Namun sebelum keluar, ia berkata pelan, tapi cukup jelas untuk mengguncang hati dua sahabatnya:

 

“Lo berdua gak jauh beda sama Chen. Sama-sama main belakang.”

 

 

---

 

Chen masih bersantai di apartemen. Satu tangan pegang ponsel, satu tangan lainnya memeluk Marni.

 

Ia mengirim dua voice note:

 

Untuk Popi: “Selamat tidur, cantik. Mimpiin aku ya.”

 

Untuk Mira: “Jangan lupa makan malam. Aku kangen kamu.”

 

 

Dikirim hanya satu menit berselang.

---

 

Permintaan Maaf dan Persahabatan yang Pulih

 

Pantry kantor siang itu sepi. Hanya ada Popi yang sedang membuat kopi sachet sambil memandang kosong ke arah jendela. Matanya sembab, wajahnya letih.

 

Langkah pelan Cindy dan Sitty terdengar dari arah pintu.

 

“Pop…”

Suara Sitty lirih, pelan seperti menyentuh luka.

 

Popi menoleh sekilas. Ekspresinya datar.

 

“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Cindy hati-hati.

 

Popi tidak menjawab, tapi juga tidak pergi. Sebuah isyarat bahwa ia bersedia mendengar.

 

Cindy menarik napas panjang. “Kami ber dua salah, terlalu gegabah, terlalu maksa, dan gak jujur sama kamu. Harusnya ngomong baik-baik, bukan nyusun rencana di belakang kayak gini.”

 

“kami cuma... takut lo disakitin,” sambung Sitty. “Tapi kita sadar, caranya salah. Banget.”

 

Popi menunduk. Tangan di cangkirnya sedikit bergetar.

 

“Aku ngerti niat kalian baik. Tapi aku ngerasa kayak... dipermalukan. Dikhianatin. Sama orang yang aku percaya.”

 

“Kami minta maaf, Pop,” Cindy melangkah maju. “Bener-bener minta maaf. Gak ada niat bikin kamu ngerasa sendirian. Kami cuma panik. Maaf kemarin kami kelewat batas. Tapi semua itu karena kami peduli dan gak mau kamu terluka.”

 

 

Popi diam cukup lama. Lalu pelan-pelan, air matanya mengalir lagi.

 

“Aku juga minta maaf. Aku terlalu keras kepala. Padahal kalian cuma pengen jagain aku.”

 

Tanpa aba-aba, ketiganya berpelukan. Tak lagi ada kata-kata, hanya bahu yang saling menenangkan.

 

 

---

 

Sejak hari itu, suasana di antara mereka kembali hangat. Ketiganya kembali makan siang bareng, saling kirim meme lucu, dan ngobrol soal hal-hal receh.

 

Tapi di balik semua itu, Cindy masih menyimpan satu agenda pribadi. Ia belum bisa benar-benar diam, belum bisa membiarkan Popi terus berjalan dalam kabut harapan palsu.

 

Di rumah, saat malam datang dan semua orang terlelap, Cindy membuka laptopnya. Ia mengakses folder rahasia yang hanya bisa dibuka dengan password: PopiHarusTau.

 

Spreadsheet bukti masih terus diperbarui.

 

Ia membuat catatan kecil:

 

> “Popi sudah maafin aku. Sekarang saatnya aku bener-bener jagain dia. Tapi pelan-pelan. Tanpa kejutan. Tanpa drama. Bukti yang jelas. Biar dia lihat dan sadar sendiri.”

 

 

 

Sitty tahu soal ini. Tapi ia tidak ikut terlalu jauh.

“Aku backup dari jauh, Cin. Tapi janji ya... jangan sampe kita kehilangan Popi lagi.”

 

Cindy mengangguk.

“Aku gak akan ngejebak siapa-siapa lagi. Tapi Aku juga gak akan diem liat dia disakiti.”

 

 

Kebetulan Tak Pernah Benar-Benar Kebetulan

 

Cindy tidak pernah menyangka kalau perjalanannya ke bandara hari itu akan mengubah segalanya.

 

Ia hanya sedang menjemput mama nya yang datang dari Bandung. Sambil menunggu di kursi bandara, ia asyik scroll ponsel dan menyeruput es kopi. Pandangannya kosong ke arah pintu kedatangan internasional. Suara pengumuman terminal menggema samar-samar.

 

Hingga…

Sebuah siluet familiar menarik perhatian Cindy. Postur tegap, langkah santai, dan kemeja putih yang disetrika rapi.

 

Chen.

 

Jantung Cindy langsung melonjak. Ia segera menunduk, memasang masker dan topi yang sebelumnya tersimpan di tas. Sekilas ia curi pandang lagi.

Chen berdiri dengan wajah penuh harap, sesekali melirik jam tangan. Di tangan kanannya—bouquet bunga.

 

“Bunga?” gumam Cindy dalam hati. “Buat siapa?”

 

Beberapa menit kemudian, dari pintu kedatangan muncul seorang perempuan berambut panjang, mengenakan blazer krem dan kacamata hitam.

 

Chen langsung melambaikan tangan.

“Mira!” serunya.

 

Cindy nyaris terlonjak dari tempat duduk.

Mira? Nama itu pernah disebut Chen sebagai “mantan yang gak bisa dihubungi karena dinas di luar kota”.

 

Mira tersenyum lebar dan memeluk Chen erat. Pelukannya bukan pelukan biasa—tubuh mereka terlalu lekat, terlalu nyaman.

 

Chen menyodorkan bunga dengan gaya romantis seperti adegan drama. Mira tertawa, mencubit pelan dagunya, lalu menyambut rangkaian mawar itu.

“kamu beneran jemput,” katanya manja.

Chen tertawa, “Mana mungkin enggak? Aku kangen banget, tau nggak.”

 

Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Tangan mereka saling menggenggam.

 

Dari kejauhan, Cindy masih terpaku.

 

Tangannya mencengkeram cup kopi sampai tutupnya penyok. Napasnya cepat.

 

Jadi benar. Mira bukan masa lalu. Dia masih ada. Dia yang utama. Dan Popi… hanya pelengkap.

 

Cindy buru-buru merogoh ponsel dan membuka aplikasi kamera. Ia tak menyukai cara ini, tapi ia tahu Popi tak akan pernah percaya jika tak melihat dengan mata kepala sendiri.

 

Beberapa foto berhasil ia ambil. Lalu satu video pendek:

Chen membuka pintu mobil untuk Mira, mencium pipinya sekilas sebelum masuk ke kemudi.

 

 

---

 

Perasaan yang Campur Aduk

 

Di dalam taksi menuju rumah, Cindy duduk kaku.

 

Ia memandangi hasil rekamannya dengan rasa tak percaya. Bahkan ia sempat berharap, dirinya salah. Bahwa perempuan itu bukan Mira. Bahwa Chen punya penjelasan lain.

 

Tapi wajah Mira terlalu jelas. Dan pelukan itu… terlalu jujur.

 

“Popi harus tahu ini,” bisik Cindy pelan. Tapi kali ini, ia ingin hati-hati.

 

Ia tak mau lagi kehilangan kepercayaan sahabatnya karena pendekatan yang salah.

 

Ia harus menyusun strategi. Membangun bukti. Dan membawa Popi menemukan kebenaran dengan caranya sendiri.

 

Jejak yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

 

Kecurigaan yang Tumbuh Menjadi Tekad

 

Sejak pertemuannya di bandara, Cindy tak bisa tidur nyenyak.

 

Wajah Popi terbayang—penuh senyum tiap kali menyebut nama Chen, penuh harap ketika bercerita tentang masa depan mereka.

 

Cindy tahu: kalau ia asal menyerang tanpa rencana, Popi akan balik mempertanyakan niatnya lagi.

Ia tidak bisa hanya membawa foto atau video. Ia butuh fakta.

 

Malam itu, Cindy membuka laptopnya. Ia mulai menelusuri jejak digital Mira.

 

Nama lengkap Mira? Ia tak tahu. Tapi ia ingat satu hal—Chen pernah menyebut bahwa mantannya bernama Mira pernah jadi brand ambassador produk kopi lokal.

 

Dari situ, ia mulai menelusuri:

Instagram, LinkedIn, berita-berita lama. Dan akhirnya…

 

Ketemu.

 

> Mira Lestari Putri — pernah menjadi wajah kampanye KopiKita tahun lalu. Pindah tugas ke luar kota sebagai konsultan komunikasi di lembaga lingkungan. Sekarang kembali aktif di Jakarta.

 

 

Dan Fakta Tak Terduga Itu Muncul

 

Semakin dalam ia telusuri, semakin banyak potongan yang saling tersambung.

Cindy membaca komentar-komentar di foto Mira yang lama. Salah satunya, dari akun yang disamarkan namanya: @Chennn_Boss.

 

> “Cantik banget sayang. Kapan pulang?”

(Februari tahun lalu)

 

 

 

Cindy membuka komentar itu, dan menemukan bahwa akun tersebut kini sudah diganti username-nya.

 

Tapi ia tak menyerah.

 

Ia buka tools pencari data lama, dan berhasil mendapatkan tangkapan layar cache:

 

> Chen Widya Saputra – @chennn_boss

 

 

 

Chen.

Dengan akun lama yang sekarang sudah ditutup. Tapi bukti itu cukup kuat:

Chen dan Mira memang pacaran—dan kata “sayang” bukan sekadar selip jari.

 

Cindy menghela napas panjang.

Semua mulai masuk akal. Dan ia tahu, Popi harus tahu ini... tapi dengan cara yang tak merusak semuanya sekaligus.

 

 

---

 

Keesokan harinya, Cindy menceritakan semuanya ke Sitty.

 

Sitty terdiam beberapa saat. Ia tak menyangka semua akan sejauh ini.

 

“Aku pikir dia cuma playboy iseng. Tapi ini... udah skenario jangka panjang,” katanya sambil menatap layar laptop Cindy.

 

“Popi harus tahu. Tapi kita gak bisa langsung nuduh.”

 

“Aku unya ide,” gumam Sitty. “Gimana kalau kita ajak Popi ikut proyek bikin konten di kafe?”

 

“Terus?”

 

“Kita pura-pura lagi syuting buat konten kantor, tapi kita posisikan kafe yang sama kayak waktu lo lihat Chen dan Mira. Kalau mereka ketemu secara alami, dan Popi liat langsung…”

 

“…dia akan percaya dengan matanya sendiri,” lanjut Cindy.

 

Mereka berdua saling berpandangan.

 

Kini bukan soal sakit hati. Tapi soal menyelamatkan seseorang yang mereka sayang.

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Ken'ichirou & Sisca
19108      4558     1     
Mystery
Ken'ichirou Aizawa seorang polisi dengan keahlian dan analisanya bertemu dengan Fransisca Maria Stephanie Helena, yang berasal dari Indonesia ketika pertama kali berada di sebuah kafe. Mereka harus bersatu melawan ancaman dari luar. Bersama dengan pihak yang terkait. Mereka memiliki perbedaan kewarganegaraan yang bertemu satu sama lain. Mampukah mereka bertemu kembali ?
Cinta Pertama Bikin Dilema
6710      2275     3     
Romance
Bagaimana jadinya kalau cinta pertamamu adalah sahabatmu sendiri? Diperjuangkan atau ... diikhlaskan dengan kata "sahabatan" saja? Inilah yang dirasakan oleh Ravi. Ravi menyukai salah satu anggota K'DER yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMP. Sepulangnya Ravi dari Yogyakarta, dia harus dihadapkan dengan situasi yang tidak mendukung sama sekali. Termasuk kenyataan tentang ayahnya. "Jangan ...
Cinderella Celdam
1967      749     4     
Romance
Gimana jadinya kalau celana dalam kamu tercecer di lantai kantor dan ditemukan seorang cowok? - Cinderella Celdam, a romance comedy
Rasa Cinta dan Sakit
588      348     1     
Short Story
Shely Arian Xanzani adalah siswa SMA yang sering menjadi sasaran bully. Meski dia bisa melawan, Shely memilih untuk diam saja karena tak mau menciptakan masalah baru. Suatu hari ketika Shely di bully dan ditinggalkan begitu saja di halaman belakan sekolah, tanpa di duga ada seorang lelaki yang datang tiba-tiba menemani Shely yang sedang berisitirahat. Sang gadis sangat terkejut dan merasa aneh...
Only One
3921      2709     13     
Romance
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu s...
Tower Arcana
909      677     1     
Short Story
Aku melihat arum meninggalkan Rehan. Rupanya pasiennya bertambah satu dari kelas sebelah. Pikiranku tergelitik melihat adegan itu. Entahlah, heran saja pada semua yang percaya pada ramalan-ramalan Rehan. Katanya sih emang terbukti benar, tapi bisa saja itu hanya kebetulan, kan?! Apalagi saat mereka mulai menjulukinya ‘paul’. Rasanya ingin tertawa membayangkan Rehan dengan delapan tentakel yan...
Akhir yang Kau Berikan
628      448     1     
Short Story
\"Membaca Novel membuatku dapat mengekspresikan diriku, namun aku selalu diganggu oleh dia\" begitulah gumam Arum ketika sedang asyik membaca. Arum hanya ingin mendapatkan ketenangan dirinya dari gangguan teman sekelasnya yang selalu mengganggu ia. Seiring berjalan dengan waktu Arum sudah terbiasa dengan kejadian itu, dan Laki Laki yang mengganggu ini mulai tertarik apa yang diminati oleh Arum...
IF ONLY....
560      408     2     
Romance
Pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta sepihak… Perasaan yang berakhir bahkan sebelum dimulai… Merasa senang dan sedih seorang diri, benar-benar seperti orang bodoh. Ada penyesalan besar dalam diriku, padahal masih banyak hal yang ingin kuketahui tentang dirinya. Jika saja aku lebih berani bicara padanya saat itu, kira-kira apa yang akan terjadi?
Kisah Kasih di Sekolah
1001      660     1     
Romance
Rasanya percuma jika masa-masa SMA hanya diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Nggak ada seru-serunya. Apalagi bagi cowok yang hidupnya serba asyik, Pangeran Elang Alfareza. Namun, beda lagi bagi Hanum Putri Arini yang jelas bertolak belakang dengan prinsip cowok bertubuh tinggi itu. Bagi Hanum sekolah bukan tempat untuk seru-seruan, baginya sekolah ya tetap sekolah. Nggak ada istilah mai...
To The Girl I Love Next
447      323     0     
Romance
Cinta pertamamu mungkin luar biasa dan tidak akan terlupakan, tetapi orang selanjutnya yang membuatmu jatuh cinta jauh lebih hebat dan perlu kamu beri tepuk tangan. Karena ia bisa membuatmu percaya lagi pada yang namanya cinta, dan menghapus semua luka yang kamu pikir tidak akan pulih selamanya.