Seorang pelayan menghampirinya. Memberikan buku menu tanpa sepatah kata. Kurang sopan menurutnya. Fadli membaca menu itu sampai bawah.
"Mau pesan apa? Cepat!"
Tiba-tiba saja Fadli kehilangan selera makan.
Tadinya ia ingin memesan hamburger dan spagetty untuk Marrinette.
"Es teh."
Pelayan itu mendengus lalu mengambil buku menu dengan kasar.
Fadli menatap ke arah pintu, Marrinette belum juga datang. Dan ia tak sengaja masih menangkap beberapa pelayan yang masih memperhatikannya. Dia berpikir apakah ada yang salah dengan penampilannya yang membuat perhatian orang-orang tertuju padanya? Setelah memastikan bahwa tidak ada yang aneh dengan dirinya, ia kembali bersikap santai menatap dinding yang ternyata tidak ada jamnya. Tapi ia sadar bahwa setelah sekian menit menunggu, pesanannya belum juga datang. Apakah untuk membuat segelas es teh harus membutuhkan waktu yang lama? Padahal setaunya tidak.
Insting Fadli mengatakan kalau dia dalam bahaya terlebih pengunjung kafe itu hanya dia seorang diri. Fadli memutuskan untuk pergi dari sana. Namun pintu cafe ternyata dikunci.
"Saya mau keluar."
"Anda sudah memesan," sahut salah satu pelayan yang entah kapan sudah menjaga pintu dari dalam. Dua orang.
"Tidak jadi," kata Fadli yang berusaha hendak menarik handel pintu namun tangannya ditepis oleh penjaga pintu yang lain.
"Kembali ke tempat duduk Anda!"
Sementara diluar. Ketika Marrinette hendak masuk ia dihadang oleh dua laki-laki penjaga pintu depan.
"Saya mau masuk."
"Tidak boleh!"
"Kenapa tidak boleh? Pacar saya ada di dalam," protes Marrinette.
"Biarkan pacar Anda menyelesaikan masalahnya secara jantan."
"Secara jantan bagaimana? Pacar saya tidak mencari masalah disini," protes Marrinette namun mereka bersikap tak peduli.
Kesal dengan mereka, Marrinette menorobos masuk namun tangannya dicekal.
"Iih apaan sih? Lepaskan!" seru Marrinette kesal. Namun dua penjaga itu tidak mau melepaskan tangannya.
"Diam! Atau tanganmu saya patahkan!" Ancam salah satu dari mereka.
Sementara pelayan lain sudah meletakkan minuman di bangku tempat duduk Fadli. Dua penjaga itu kemudian menyeretnya, memaksanya duduk di tempat semula.
"Anda tidak boleh pergi sebelum menghabiskan minuman Anda!"
"Kafe macam apa ini main paksa-paksa. Saya berhak untuk menolak dan berhak untuk pergi dari sini!" protes Fadli tak terima.
"Anda ingin tau ini kafe apa?"
Pelayan-pelayan yang tadi sibuk dengan kegiatannya membuang lap ke sembarang arah. Mendekat dan mengepungnya. Membuat Fadli jadi greget sendiri. Ia menatap wajah mereka satu persatu yang sudah berubah jadi garang. Fadli benar-benar tidak mengerti karena tiba-tiba saja salah satu dari mereka berseru:
"Kafe balas dendam!"
Satu pukulan melayang di pipi Fadli yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
"Apa-apaan ini!"
Belum sempat Fadli melanjutkan ucapannya satu pukulan lagi melayang keperutnya. Fadli berusaha melindungi diri dari keroyokan itu.
Diluar, Marrinette yang menyaksikannya berteriak memanggil namanya.
"Fadli! Fadli!"
Ia ingin segera masuk untuk membantu namun cekalan dua penjaga itu terlalu kuat menahannya.
Hingga akhirnya dia mengerang, mengeluarkan tenaga dalamnya.
"Aaakh! Hiyaa!"
Dua penjaga itu terpental dan kepalanya membentur dinding. Marrinette mendorong pintu kafe yang terbuat dari kaca itu. Ternyata terkunci.
Ia mengedarkan pandangannya ke tanah, melihat ada batu sebesar kepala anjing. Mengambilnya dan dilemparkan ke pintu kafe.
Pintu kaca itu pecah, dua orang yang mengeroyok Fadli terluka.
"Fadli ayo!" teriak Marrinette.
Fadli berusaha membebaskan diri dari cengkraman mereka dan keluar dari kafe itu. Menggenggam tangan Marrinette lalu lari.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti
Alex dan Rian menghadang mereka. Menyeringai, dibelakangnya ada banyak pasukan preman.
"Fadli, Fadli. Akhirnya kita ketemu lagi."
"Apa ini semua ulahmu?" Geram Fadli.
"Siapa lagi?" Alex tergelak sinis.
"Aku pikir kamu sudah mati di kafe itu. Tapi ternyata kamu berhasil lolos. Pasti karna perempuan itu." Tudingnya pada Marrinette, sinis.
Marrinette menatapnya tajam.
"Apa maksudmu memberikan jebakan ini? Aku sudah tak ada urusan lagi denganmu!"
"O ya?" kata Alex sinis. "Tapi bagiku kita masih punya urusan dan urusan kita belum selesai!."
"Kalau kamu tidak senang denganku selesaikan secara jantan!" Fadli menggertakkan giginya.
"Tapi sayangnya aku tak mau mengotori tanganku. Biarkan anak buahku yang menyelesaikan semuanya." Alex mengarahkan telunjuknya kearah belakang Fadli.
Fadli menoleh. Dan terkejut melihat pasukan preman yang lumayan banyak.
"Marrinette...." bisiknya.
"Ya."
"Genggam tanganku erat-erat, kita takkan mungkin mampu menghadapi mereka."
Marrinette menuruti perkataan Fadli. Melihat Fadli menarik nafas ia juga ikut menarik nafas. Seakan mengerti bahwa Fadli sedang bersiap-siap.
"Lari Marrinette!" teriak Fadli. Membawa Marrinette kabur.
Alex berteriak. "Kejar mereka!"
***
"Hey siluman lumba-lumba!"
Kedatangan Alya mengejutkan Dilon.
"Hh! Dasar!" geramnya. "Apa tidak ada cara lain selain memanggilku dengan cara seperti itu?"
Alya tidak menjawab pertanyaannya, "apa yang kau lakukan disini? Jongkok sambil melamun. Kau lihat rambutmu yang panjang dan acak-acakan itu? Sudah seperti orang gila tau."
"Hh! Diam kau!" Sungut Dilon.
"Dimana Marrinette?"
"Mana ku tau."
Dahi Alya mengerut. "Kau tidak tau? Hey kau diutus ratu untuk menyelamatkan Evelyn dan menjaga Marrinette."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Dilon balik bertanya.
"Aku meminta izin kepada ratu untuk membantumu. Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk terhadap Marrinette. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya. Lagipula kau benar-benar lamban. Menyelamatkan Evelyn saja tidak berhasil."
Mendengar perkataan Alya Dilon tentu tak terima.
"Hey kau tidak tau rencanaku hampir saja berhasil! Tapi adikmu itu malah tertidur dan membuatku menunggu sampai larut malam!"
"Oh, begitukah? Sorry."
Dilon tersenyum masam.
***
Penjahat itu terus mengejar mereka. Mereka terus lari dan berlari. Hingga berhenti di suatu tempat yang agak sepi. Mereka berhenti dengan terengah-engah.
"Sebenarnya mereka siapa? Kenapa mereka mengejar kita?"
"Aku juga tidak tau Marrinette. Yang jelas tempat ini tak lagi aman buat kita."
Disaat mereka masih berpikir untuk mencari tempat persembunyian, tiba-tiba datang segerombolan penjahat.
"Mau lari kemana kalian?"
Fadli tak punya pilihan lain selain harus menghadapi mereka.
"Menyingkirlah Marrinette. Biar kulawan mereka."
Marrinette mengangguk, menjauh darinya. Memperhatikan Fadli yang menghajar penjahat satu-persatu.
Ia melihat Fadli mulai kewalahan menghadapi mereka. Marrinette menarik baju salah satu penjahat yang hendak memukul Fadli dari belakang, melemparkannya jauh-jauh hingga tersangkut dipagar rumah orang.
Ada lagi yang mendekat. Marrinette menghajarnya. Satu persatu mereka melayang terkena pukulannya. Ada yang terlempar ke tiang listrik, ke atap dan pagar balkon rumah orang
Fadli berhasil melumpuhkan empat orang penjahat. Ia tertawa puas, kemudian berpaling pada Marrinette. Hingga terkejut sendiri karena melihat ada pejahat yang tersangkut di tiang listrik, atap, dan balkon. Diluar nalar. Mungkinkah Marrinette yang menghabisi mereka semua, pikirnya. Sementara Marrinette hanya menatapnya dengan wajah polosnya.
Belum sempat ia mencerna apa yang dilihatnya, rombongan pejahat lain datang lebih banyak, mereka datang dari berbagai penjuru.
Tidak, tidak mungkin dia akan menghadapinya. Dia akan mati konyol.
"Marrinette kabur!" serunya menarik tangan Marrinette.
"Kejar!" teriak Alex.
Fadli dan Marrinette terus berlari. Kemanapun ia melangkah selalu dihadang oleh penjahat. Sepertinya Alex sudah mengumpulkan penjahat seluruh kota untuk mengepung mereka.
Fadli benar-benar kehabisan akal untuk menyelamatkan diri. Tapi dia terus berlari dan takkan menyerah. Berharap ada celah untuk menyelamatkan diri.
Mereka menuruni tebing dan tiba-tiba mereka berhenti. Didepan mereka ada jurang yang sangat dalam
Dari atas Alex berteriak
"Fadli, kamu hanya diberi dua pilihan. Menyerahkan dirimu padaku atau meluncur kedalam jurang dan mati!"
Alex dan pasukannya tertawa.
Fadli semakin geram. Dia takkan menyerah. Tapi juga tak tau harus bagaimana lagi. Ia sudah terdesak. Dalam keadaan frustasi itu dia mengedarkan pandangannya kesekeliling.
Sebentar, bukankah itu dermaga?
Mata Fadli berbinar karena melihat masih ada harapan untuk hidup.
Tapi, bagaimana untuk bisa sampai kesana? Kembali keatas adalah ide buruk. Mereka sudah mengepung disana.
Tiba-tiba ia melihat pagar yang agak tinggi tapi sepertinya masih bisa dia panjat.
"Apa yang masih kau tunggu Fadli? Tinggal menghitung waktu maka kepalamu sudah terpisah dari badanmu. Dan aku akan membawa kepalamu di hadapan Darlius dan membuang badanmu ke jurang."
Fadli membuang nafas kasar. Beberapa penjahat sudah mulai turun, masing-masing membawa parang.
Fadli menggenggam tangan Marrinette erat-erat. Marrinette paham kemana arah tujuan Fadli. Dan mereka berlari ke arah kiri. Fadli membantu Marrinette memanjat pagar beton. Dengan gerakan yang tergesa-gesa ditambah ketakutan yang semakin meraja. Jika salah perhitungan sedikit saja, nyawa mereka berdua taruhannya. Ada beberapa orang penjahat yang nekat mengikuti mereka. Tapi beruntung Marrinette dan Fadli berhasil melompat dari atas pagar beton itu. Tangan Marrinette tak pernah lepas dari genggaman Fadli, berlari dengan terengah-engah.
Alex memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka. Sedangkan Marrinette dan Fadli terus berlari sekuat tenaga. Hingga tiba di dermaga.
"Ayo Marrinette, naik!" serunya seraya membantu Marrinette naik diatas speedboat dan ia sendiri yang mengendarainya. Pergi menjauhi pantai.
Sementara Alex yang baru tiba langsung emosi dan menyumpah.
"Akh! Shiit! Kejar mereka!"
Mereka yang hendak menjalankan perintah langsung berhenti karena mendengar suara Rian.
"Tidak usah," katanya kalem.
"Kenapa! Kita tak bisa membiarkan mereka lolos!"
"Aku sudah merusak speedboat itu dan melubanginya. Aku tau mereka pasti akan kesini untuk menyelamatkan diri kesebuah pulau terpencil. Sekarang, kita hanya perlu mendengar berita kematiannya, tenggelam ditengah lautan."