Hei, aku!
Tidak ada satupun kata terlontar. Hanya saling bertukar tatap dan bagaimana bisa kalian berdua...Read More >>"> Chapter Dua – Puluh (Debaran 1: Mata yang Berbicara ) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Chapter Dua – Puluh
MENU
About Us  

Dengan segala permasalahan ketidakaktifan panitia, pada kegiatan gladi bersih kali ini, terus terang tak ada ekspresi apapun lagi. Pesimis memang, akan tetapi ada yang hadir sejumlah lima orang saja, saya sudah sangat bersyukur. Tentu saja, dugaanku tidak meleset saat melihat akulah orang pertama yang datang ke titik kumpul keberangkatan, posko.

Aku tersenyum, sedikit kecewa karena ternyata dugaanku tidak salah. Menghela nafas berat dengan batin terus mengucap  istighfar  agar lebih tenang. Rupanya, lebih baik jika aku pergi ke masjid terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran sekaligus shalat sunah.

Eh?

Ketika aku berbalik, ternyata Narendra tengah berdiri di depan tangga. Mata bertemu, tidak ada pertukaran senyuman, namun saling mengangguk.

"Belum ada orang, Rin?"

Aku menggeleng, "belum, Ren. Eh, aku izin mau ketemu anak sospol bentar ya."

Bohong, sejujurnya aku pergi ke masjid, namun bukan hanya untuk mendirikan shalat, melainkan juga kembali menangis. Di sudut ruangan tempat biasa aku menenangkan diri, air mata tiba – tiba mengalir deras. Kecewa dengan ekspektasiku sendiri, padahal ekspektasi tersebut telah diturunkan serendah mungkin.

Kuakui bahwa semenjak kepanitiaan  MR , aku menjadi lebih perasa dan mudah menangis dari sebelumnya. Hal yang paling sederhana adalah tidak ada jawaban atas pertanyaan di  grup  saja yang bisa membuat getir. Kediktatoran Farzan dan Aisya yang enggan menerima masukan pun semakin menjadi. Apalagi, acara teknis terkesan hanya menuruti Arahan alumni yang jelas – jelas tidak menghadapi lapangan rohis sekarang. Arahan absolut tak mau dibantah dan anti diwawancarai yang membuat Narendra dan Hafizah tentu tidak baik – baik saja.

Lihat sekarang!

Alumni yang memberikan Arahan ini dan itu, benar – benar tak mau mengetahui keadaan dan kemampuan sumber daya panitia. Tak ada kehadiran mereka di sini sekarang. Semua detail harus atas persetujuan mereka, lalu sebenarnya untuk apa ada panitia di sini?

Dering telepon di samping kepala begitu mengusik. Melihat nama dan foto profil Aisya hanya membuatku melirik tanpa niat mengangkat panggilannya. Namun, saat mataku menangkap jam di pojok kiri atas, aku terbelalak. Kaget, ternyata aku tertidur hampir setengah jam.

Akhirnya, panggilan kedua Aisya baru kuangkat. Dia bertanya di mana aku sekarang dan memintaku untuk segera kembali ke posko. Perkataan Aisya memang kuiyakan, namun tidak langsung kulakukan. Keputusan untuk tinggal lima menit lebih lama pada akhirnya harus kuurungkan ketika datang  chat  Arga yang menjanjikan es krim jika aku datang ke posko sekarang juga.

Dih, memangnya aku bocah yang bisa disuap es begini?

"Heh, malah ditelepon!" gerutuku.

"Cepetan sini, es krimnya keburu cair!"

"Halah, bohong banget," balasku.

"Malah nggak percaya. Ren, Rendra, nih, es krimnya Rinka hampir cair, kan?" tanya Arga mencari orang untuk membenarkan kebohongannya.

"Iya, hampir cair, Rin!" terdengar suara Narendra dari seberang.

"Nggak usah berkomplot, ini aku udah otw posko, Mas. Assalamualaikum," pungkasku mengakhiri telepon sepihak.

.

.

.

Mungkin ini salah satu cara Allah mengajariku tentang kesabaran. Setelah rombongan pertama tiba di lokasi pelaksanaan MR, rombongan panitia yang menyusul tiba tak lebih dari lima belas menit setelahnya. Tidak banyak, akan tetapi menurutku kehadiran seluruh penanggung jawab cukup mewakilkan.

Kembali tak ada deretan kalimat yang meluncur dari lisan, namun setiap hendak menyampaikan pendapat, mata kami selalu bertemu. Momen Narendra tampak ragu dengan apa yang akan disampaikannya, dia menatap padaku dan sontak aku mengedipkan mata perlahan seraya tersenyum tipis. Mungkin kebetulan, namun setelah kontak mata itu, Narendra membuka suara. Intonasinya begitu mantap membuat senyumku mengembang.

.

.

.

"Nanti pos dua di sini, ya," ucap Arga, kemudian beralih padaku dan dengan nada menyebalkan melanjutkan, "catet, Rin!"

Aku berdecak, kemudian berkata, "ini, lho, udah aku catet di note," sambil mengetuk – ngetuk layar ponsel.

Mengabaikan tawa menyebalkan Arga, aku mendekat ke pos dua yang berupa parkiran motor di belakang ruang guru. Mengambil beberapa anak tangga untuk turun dan melihat lebih jelas. Memang bukan lahan parkir seluas tempat parkir dekat gerbang utama, namun menurutku cukup untuk satu kelompok beranggotakan maksimal delapan orang dengan dua sampai tiga pendamping dari panitia.

"Nah, buat detail posnya …," suara Aisya membuatku berbalik.

Aku mendongak dari posisi berdiriku tanpa bermaksud untuk naik ke tempat mereka yang hanya berjarak beberapa anak tangga. Ketika aku hendak bersandar pada batang pohon di dekat tangga, mataku justru bertemu pandang dengan Arga. Dahi pemuda itu berkerut dengan alis nyaris bertemu, membuatku refleks melakukan hal serupa. Namun, masih gagal paham. Ketika telunjuk Arga yang terangkat dan menunjuk sedikit padaku bergerak ke kiri beberapa kali, barulah paham bahwa Arga menyuruhku bergeser.

Tentu saja perintah Arga tidak langsung kulakukan. Namun, ketika aku melirik ke kanan, di sisi lain pohon, ternyata Narendra juga berada di sana. Aku tersentak pelan sebelum bergerak menaiki satu anak tangga untuk berdiri lebih dekat dengan Aina. Ketika mataku kembali melirik posisi Narendra, barulah aku sadar. Cara berdiri Narendra kurang lebih sama dengan caraku sebelumnya yang mana berarti tadi kami benar – benar bersebelahan hanya berbatas sebatang pohon. Pantas Arga mengisyaratkan untuk pindah tempat. Jujur cara halus Arga menyuruhku membuatku terhenyak. Ternyata walaupun orang itu masternya julid, namun cara menegurnya sungguh tahu tempat. Mungkin, ini cara Allah mengingatkan dan menegurku melalui perantara manusia. Aku bersyukur dan berterima kasih atas tindakan Arga. Mungkin, ini pula cara Arga menjaga adik – adik kadernya dari virus merah jambu dengan menjaga distansi dengan lawan jenis.

Atau … karena Arga tahu aku merasakan sensasi aneh terhadap Narendra. Eh, memangnya Arga sepeka itu?

.

.

.

"Kamu jadi lanjut, Rin?" tanya Nida kala kami menunggu di pos ronda dekat masjid ketika rombongan gladi bersih sedang melaksanakan shalat.

Memang timeline proker ini berada di triwulan terakhir organisasi yang tentu dekat dengan reorganisasi. Mengingat hal tersebut, sudah beberapa kali angkatanku mendapat pertanyaan serupa dari kating angkatan dua puluh. Namun, sampai saat ini, belum ada angkatan dua puluh satu yang benar – benar bulat untuk lanjut dua periode.

"Belum tahu, Nid. Kenapa?"

Nida membuka ponselnya untuk menggulir histori chating. Menunjukkan salah satu pesan padaku.

"Pinginnya, tapi angkatan kita kayaknya dikit banget, deh. Bahkan, Narendra aja juga nggak lanjut."

Ucapan Nida membuatku menoleh cepat padanya. Begitu terkejut, padahal Narendra salah satu kader yang pasti dipersiapkan untuk menjadi ketua umum selanjutnya. Sebisa mungkin, aku mengontrol suaraku dan bertanya dengan suara tenang pada Nida.

"Eh, Narendra juga nggak pasti, ya? Padahal, dia keliatan di – treat jadi ketum, nggak, sih, menurutmu, Nid?"

Nida mengangguk, "bener. Tapi, nih, dia bilang nggak memungkinkan lagi buat dua periode. Karena sama mbaknya diminta cukup biar lebih fokus kuliah lagi."

Aku terhenyak, namun benakku penuh dengan berbagai kemungkinan buruk. Kebulatan lanjut dua periode yang tengah aku bentuk, rasanya seperti mulai goyah. Kalau Narendra benar tidak lanjut, lantas sosok ketua umum macam apa yang ingin aku bantu?

.

.

.

"Heh, di mana? Udah pada di motor, siap berangkat, nih!"

Suara Radit membuatku mengernyit. Padahal, aku sudah bilang sebelumnya bahwa masih berada di kost Aisya untuk mengambil beberapa barang. Akan tetapi, tampaknya dia sudah tidak mau tahu.

"Mau berangkat sekarang?" tanya Aisya.

Aku menatap Aina sesaat sebelum menjawab pertanyaan Aisya.

Jam yang sudah menunjukkan lebih dari satu jam dari janji, terus terang membuatku tak enak pada teman – teman. Namun, ketika aku dan Aina tiba di posko, ternyata hanya ada anak – anak ADK beserta Narendra, Eden, dan Radit.

"Lho? Yang lain di mana, Ren?"

Narendra menghentikan kegiatan  berkemas  dan melihatnya.

"Cuma ini, Rin."

Jawaban yang seharusnya sudah tidak menimbulkan kekhawatiran lagi. Namun, tidak kali ini karena ada begitu banyak perlengkapan yang harus dibawa, sedangkan hanya ada tiga sumber daya  ikhwan . Sangat tidak mungkin para  akhwat  membawa kontainer berukuran lebih dari satu meter persegi, sebuah tas besar berisi peralatan panah dan proyektor.

"Serius?"

“Iya, yang lain nyusul nanti siang bareng peserta,” jawaban Narendra dengan sorot pasrah di matanya membuatku tersenyum getir.

Perasaan kesal yang bahkan tidak tahu harus dideskripsikan bagaimana lagi. Berulang kali menarik dan menghela napas dengan batin yang terus menyeru hingga ketenangan terasa percuma. Benar-benar menyebalkan dan membuat ingin marah.

Nanti kamu sama temen – temen  akhwat  bawa yang ringan kaya karpet sama galon. Pokoknya yang mudah dibawa soalnya inget, kan, jalurnya kaya gimana kemarin,” tutur Narendra.

Tidak ada respon apapun yang kuberikan dan hanya menatap lurus pemuda itu.

"Nggak papa, Rin. Tenang," ucap Narendra lebih lembut dari sebelumnya.

Aku menghela napas, lalu tersenyum selembut mungkin sebelum mengangguk beberapa kali. Ada perasaan tak rela dan tak tega melihat Narendra dan Eden membawa sebuah kontainer besar dengan tas peralatan panah di atasnya. Namun, sorot tegas Narendra pada akhirnya membuatku mengangguk yakin. Di dalam sudut pedalaman, ada keyakinan yang menangkap bahwa dia sudah lelah. Akan tetapi, sifat bertanggung jawab penuh Narendra jika sudah memulai sesuatu, pasti akan berhenti sebelum selesai. Tidak semua orang memiliki sifat seperti ini dengan kesabaran yang luar biasa.

Bukankah dia mengangumkan, Rin?

Rasanya kekeraskepalaan dan anti diinterupsi lawan jenisku, mulai luruh hingga pada akhirnya aku jatuh hati pada sosok se –  maa syaa allah  dirinya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Adiksi
6133      2078     2     
Inspirational
Tolong ... Siapa pun, tolong aku ... nafsu ini terlalu besar, tangan ini terlalu gatal untuk mencari, dan mata ini tidak bisa menutup karena ingin melihat. Jika saja aku tidak pernah masuk ke dalam perangkap setan ini, mungkin hidupku akan jauh lebih bahagia. Aku menyesal ... Aku menyesal ... Izinkan aku untuk sembuh. Niatku besar, tetapi mengapa ... mengapa nafsu ini juga sama besarnya!...
MALAM TANPA PAGI
447      333     0     
Short Story
Pernahkah kalian membayangkan bertemu malam tanpa pagi yang menyapa? Apakah itu hal yang buruk atau mungkin hal yang baik? Seperti halnya anak kucing dan manusia yang menjalani hidup dengan langkah yang berat. Mereka tak tahu bagaimana kehidupannya esok. Namun, mereka akan menemukan tempat yang pantas bagi mereka. Itu pasti!
Lebih dari Cinta Rahwana kepada Sinta
1532      916     0     
Romance
Pernahkan mendengarkan kisah Ramayana? Jika pernah mendengarnya, cerita ini hampir memiliki kisah yang sama dengan romansa dua sejoli ini. Namun, bukan cerita Rama dan Sinta yang akan diceritakan. Namun keagungan cinta Rahwana kepada Sinta yang akan diulas dalam cerita ini. Betapa agung dan hormatnya Rahwana, raksasa yang merajai Alengka dengan segala kemewahan dan kekuasaannya yang luas. Raksas...
Story Of Chayra
9950      2802     9     
Romance
Tentang Chayra si cewek cuek dan jutek. Sekaligus si wajah datar tanpa ekspresi. Yang hatinya berubah seperti permen nano-nano. Ketika ia bertemu dengan sosok cowok yang tidak pernah diduga. Tentang Tafila, si manusia hamble yang selalu berharap dipertemukan kembali oleh cinta masa kecilnya. Dan tentang Alditya, yang masih mengharapkan cinta Cerelia. Gadis pengidap Anstraphobia atau phobia...
Kesempatan
18252      2922     5     
Romance
Bagi Emilia, Alvaro adalah segalanya. Kekasih yang sangat memahaminya, yang ingin ia buat bahagia. Bagi Alvaro, Emilia adalah pasangan terbaiknya. Cewek itu hangat dan tak pernah menghakiminya. Lantas, bagaimana jika kehadiran orang baru dan berbagai peristiwa merenggangkan hubungan mereka? Masih adakah kesempatan bagi keduanya untuk tetap bersama?
SiadianDela
8031      2198     1     
Romance
Kebahagiaan hanya bisa dicapai ketika kita menikmatinya bersama orang yang kita sayangi. Karena hampir tak ada orang yang bisa bahagia, jika dia tinggal sendiri, tak ada yang membutuhkannya, tak ada orang yang ingin dia tolong, dan mungkin tak ada yang menyadari keberadaanya. Sama halnya dengan Dela, keinginan bunuh diri yang secara tidak sadar menjalar dikepalanya ketika iya merasa sudah tidak d...
Anak Magang
78      74     1     
Fan Fiction
Bercerita sekelompok mahasiswa yang berusaha menyelesaikan tugas akhirnya yaitu magang. Mereka adalah Reski, Iqbal, Rival, Akbar. Sebelum nya, mereka belum mengenal satu sama lain. Dan mereka juga bukan teman dekat atau sahabat pada umumnya. Mereka hanya di tugaskan untuk menyelesaikan tugas nya dari kampus. Sampai suatu ketika. Salah satu di antara mereka berkhianat. Akan kah kebersamaan mereka ...
Lingkaran Ilusi
8684      1946     7     
Romance
Clarissa tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Firza Juniandar akan membawanya pada jalinan kisah yang cukup rumit. Pemuda bermata gelap tersebut berhasil membuatnya tertarik hanya dalam hitungan detik. Tetapi saat ia mulai jatuh cinta, pemuda bernama Brama Juniandar hadir dan menghancurkan semuanya. Brama hadir dengan sikapnya yang kasar dan menyebalkan. Awalnya Clarissa begitu memben...
ALMOND
859      503     1     
Fan Fiction
"Kamu tahu kenapa aku suka almond?" Anara Azalea menikmati potongan kacang almond ditangannya. "Almond itu bagian penting dalam tubuh kita. Bukan kacang almondnya, tapi bagian di otak kita yang berbentuk mirip almond." lanjut Nara. "itu amygdala, Ra." Ucap Cio. "Aku lebih suka panggilnya Almond." Nara tersenyum. "Biar aku bisa inget kalau Almond adalah rasa yang paling aku suka di dunia." Nara ...
Sebelas Desember
3649      1150     3     
Inspirational
Launa, gadis remaja yang selalu berada di bawah bayang-bayang saudari kembarnya, Laura, harus berjuang agar saudari kembarnya itu tidak mengikuti jejak teman-temannya setelah kecelakaan tragis di tanggal sebelas desember; pergi satu persatu.