Bukan kali pertama Farzan tiba – tiba sulit dihubungi saat kondisi genting. Sesungguhnya, itu bukan lagi hal asing bagi anak – anak Divisi Administrasi dan Keuangan. Pun, biasanya Farzan akan kembali dengan sendirinya dalam kurun waktu tak lebih dari dua hari. Akan tetapi, kali ini berbeda. Lebih parah dari sebelumnya.
Pertama, kala anak – anak panitia Majlis Rohis III sedang memerlukan pendapat dan suara Farzan, orang tersebut sama sekali tidak muncul ke permukaan. Kedua, saat Narendra menghubungi Farzan yang "katanya" akan menandatangani lembar pengesahan proposal kegiatan hari ini, yang bersangkutan justru tidak dapat dihubungi. Chatting maupun pesan singkat hingga telepon reguler, tidak ada yang mendapat balasan. Meminta bantuan Aisya yang notabene wakil ketua pun tidak membuahkan hasil.
"Masih nggak bisa dihubungi, ya, Rin? Jujur aku nggak enak sama Mas Radit, udah repot – repot dari Semarang bawah, tapi Mas Farzan nya nggak bisa dihubungi gini," ucap Narendra melalui telepon.
"Ya Allah, Mas Radit udah nunggu di posko sejak kapan, Ren?"
"Sejak dzuhur, Rin, sampai ini selesai shalat asar juga," jawaban Narendra membuatku kesal.
Pada akhirnya, aku meminta Radit untuk pulang, pasalnya Farzan benar – benar sudah tidak bisa dihubungi dengan cara apapun. Sebenarnya, tak masalah jika hari ini belum mulai running proposal sebab sudah kusiapkan space time untuk berjaga – jaga akan kejadian seperti ini. Akan tetapi, bukan itu intinya dan yang menjadi persoalan justru keberadaan Farzan beserta rasa tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, lucu rasanya saat Narendra memberi kabar bahwa lembar pengesahan ternyata sudah bertanda tangan. Dia pun mengetahui hal tersebut dari Radit yang keesokan paginya kembali datang ke posko. Tentu saja, Radit sekalipun tidak bertemu dengan Farzan. Barulah pada siang hari, Narendra mendapat chatting dari Farzan berisi pernyataan bahwa dirinya sudah membubuhkan tanda tangan semalam dan juga permintaan maaf.
Aku tersenyum masam, tidak habis pikir dengan tindakan Farzan. Bahkan, ketika Farzan tiba – tiba menelepon dan menyuruh banyak hal, refleks aku menghentikannya.
"Maksud Mas Farzan apa?" nada bicaraku pasti saat ini terdengar tidak ramah, namun kuabaikan.
Orang ini begitu gemar menghilang, namun jika dirinya yang perlu, orang lain harus available dan segera melaksanakan apa yang dikatakan. Betapa egoisnya orang ini.
"Gitu, ya, Rin. Buat rincinya, aku serahin ke kamu, tapi ketuplak MR sama CIW nggak perlu tahu, ya," ucap Farzan mengakhiri penjelasan mengenai penggunaan dana sebelumnya.
"Mas Farzan?" terdengar gumaman Farzan dari seberang telepon, "ini dikit lagi selesai, langsung aku kirim grup divisi, ya."
"Ke aku dulu, Rin. Nanti baru kirim ke grup divisi," kata Farzan.
Perkataan Farzan membuatku bersungut – sungut. Enggan mendengar suara Farzan lebih lama, sambungan telepon langsung kuputuskan dengan lebih dulu mengucap salam. Sedikit tak sopan, akan tetapi, aku sangat menyadari bahwa jika lebih lama lagi panggilan berlangsung, pasti akan ada kalimat tak enak keluar dari mulutku.
.
.
.
Sejujurnya, ada perasaan tak nyaman mendapat pertanyaan Narendra mengenai ketersediaan sesungguhnya terkait dana MR III. Apalagi, ketika Narendra justru mengirimkan screenshot dari group chat penanggung jawab MR yang meminta ketuplak dan waketuplak merencanakan donasi dosen untuk tambahan dana. Dahiku mengernyit dalam mengetahui bahwa Farzan maupun Aisya tidak memberikan respon apapun kala Narendra dan Hafizah bertanya lebih dalam mengenai donasi.
"Jujur, Ren, aku nggak setuju kalau sampai minta donasi dari dosen. Baru aja proker kemarin di sebelah, aku dapet info dari katingku kalau dosen nggak mau donasi berulang kali. Mending satu kali di awal, tapi udah mencakup semua proker. Lha, tapi itu baru satu ormawa, padahal ada lebih dari dua puluh di kampus," tuturku.
Narendra bergumam, kemudian berkata, "aku sependapat sama kamu, Rin. Jujur, aku juga ngerasa nggak enak, kaya dosen ngasih kita, tapi nggak jelas apa feedback buat mereka."
Hasrat untuk membuka nominal sebenarnya dari dana MR yang mendapat cukup sokongan dari dana internal rohis, semakin meningkat. Jika tidak ingat janji pada ketua umum mengenai prinsip transparansi keuangan, namun harus ada yang dirahasiakan sebagai dana jaga – jaga, pasti saat ini mulutku sudah menyebutkan jumlah dana sesungguhnya. Akan tetapi, aku tidak bisa. Amanah dan kepercayaan Farzan lebih penting daripada egoku sekarang.
"Tetap, nggak setuju sama Mas Farzan sama Mbak Aisya, Ren. Toh, kalau dari kamu sama Mbak Hafizah udah nggak setuju, bisa apa. Kalau sampai akhir tetap teguh nggak berkenan, aku yakin mereka nggak bakal ada pilihan lain, kecuali berhenti. Udah agak kesal aku," jelasku setelah cukup lama diam – diaman dengan panggilan telepon yang masih tersambung.
Permasalahan donasi ternyata bukan persoalan terakhir sebelum Hari H. Pada hari pemantapan tempat, justru aku mendapatkan kabar sedikit tak sedap di telinga dari Nadila. Tentang bagaimana ekspresi Farzan yang tak enak dipandang kala dirinya bersama Narendra dan beberapa panitia MR mendatangi tempat fix kegiatan. Sesungguhnya, aku cukup terkejut Farzan turut serta mengingat intensitas absennya dia akhir – akhir ini.
Wah, mengagumkan, ya!
"Adek Kecil, hayo, ini siapa?"
Mataku berkedip beberapa kali mendapatkan chat tiba – tiba Nadila. Apalagi, ketika selanjutnya Nadila meminta untuk membuka group chatting panitia, pikiranku sudah buruk karena mengingat kabar ekspresi tak mengenakkan Farzan. Namun, aku salah. Justru ketika membuka group, mataku refleks membelalak.
Bagaimana tidak?
Sekumpulan foto yang dikirimkan Arga untuk menunjukkan detail tempat kegiatan. Salah satunya, foto sebuah lapangan yang telah diputuskan sebagai tempat pelaksanaan sesi panahan. Akan tetapi, yang menarik seluruh atensiku adalah sosok yang berdiri di salah satu sisi lapangan dengan hoodie hitam dan fitur wajah tegas tanpa ekspresi, namun memberikan perasaan hangat.
Narendra.
Tangan kananku menutup bibir yang tak dapat menahan senyum. Perasaan bahagia memenuhi dada sampai membuatku tertawa. Hanya sebuah foto, namun rasanya begitu lega melihat Narendra berdiri di sana. Aku ingin segera bisa kembali ke Semarang dan membantunya secara langsung. Bahkan, aku juga merindukanmu.
.
.
.
Tidak, Nayaka Rinka!
Setelah tidak bertemu dan berkomunikasi langsung dengan Narendra, jantungku justru berdebar begitu hebat. Bahkan, tangan dan kakiku gemetar kala menaiki tangga menuju posko rohis untuk syura'. Seumur hidup, padahal aku tak pernah gemetar ketika akan menghadapi seseorang, oleh karena itu kali ini rasanya begitu mengerikan.
Gawat, aku takut bertemu Narendra!
Betapa Allah sangat menyayangiku karena begitu tiba di posko, ternyata Narendra tidak berada di sana. Aku menghela napas lega mengetahui dari Airra bahwa Narendra sedang menyerahkan proposal peminjaman tempat ke Ungaran bersama Arga. Akan tetapi, sebuah ponsel di meja membuatku mengernyit. Gambar rubik pada casing hitam ponsel sangat familiar bagiku. Benar, ponsel milik Narendra.
"Tadi, buru – buru, Rin. Malah baru sadar kalau hp – nya ketinggalan," ucap Gea yang bersebelahan dengan Airra.
Aku hanya mengangguk atas ucapan Gea, namun setelahnya justru ponsel Narendra membuatku menelan ludah. Posisi dudukku saat ini berada di depan meja tempat ponsel Narendra berada karena kami memutuskan untuk duduk melingkar di lantai. Jika nanti Narendra kembali dan hendak mengambil ponselnya, secara tidak langsung aku harus berbalik untuk mengambilkan ponsel tersebut dan menyerahkannya pada Narendra.
Hah? Gawat, tidak ada lagi tempat luang tersisa yang bisa kududuki!
"Assalamualaikum, maaf baru kembali, tadi agak macet."
Seluruh atensi beralih ke sumber suara dan mendapati sosok Narendra dengan Arga yang datang bersama. Pada momen kepalaku mendongak, mata yang bertemu sesaat membuatku menelan ludah gusar, kemudian melipat bibir ke dalam dari balik masker.
Bahaya, jantungku sangat berisik!
"Di situ ada hp casing rubik, nggak, ya? Kayaknya tadi ketinggalan," tanya Narendra setelah duduk di sisi ikhwan.
Aku dan Devi yang kebetulan duduk bersebelahan berbalik untuk melihat ponsel di atas meja. Ingin rasanya menyerahkan ponsel tersebut pada Narendra, namun tanganku justru kembali bergetar, sehingga Devi meraihnya lebih dahulu. Dia memang tidak menyerahkannya langsung pada Narendra, namun meletakkan ponsel tersebut ke lantai hingga jarak yang bisa diraih oleh tangan Narendra. Saat itulah, aku merasa sedikit menyesal entah mengapa.
Selama berjalannya syura', tidak dua atau tiga kali perasaan tak setuju muncul atas pendapat yang disampaikan dalam forum. Hal tersebut lumrah menurutku, tidak hidup jika di dalam forum semua pendapat langsung satu suara. Hingga pada situasi di mana Nadila turut berpendapat mengenai teknis sesi materi.
Apa yang disampaikan Nadila dapat diterima dengan baik olehku juga sebagian besar panitia yang hadir. Tidak tahu untuk alasan apa, aku justru menatap ke depan yang membuatku bertemu pandang dengan Narendra karena kebetulan tempat duduk kami bisa dikatakan berhadapan tepat di seberang. Kali ini, bukanlah kontak mata sekilas, ada sedikit lebih waktu yang tersita.
Narendra belum memberikan tanggapan atas penyampaian Nadila. Namun, aku berpikir bahwasannya dia pasti setuju. Tepat setelah kontak mata terputus, Narendra benar mengemukakan persetujuan beserta alasannya. Bagus.
"Kalau gitu, nanti akhwat di ruangan pojok sebelah lapangan aja, gimana? Soalnya, ruangannya juga lebih luas, kan?"
Pertanyaan Nida yang meminta pendapat ke forum membuatku mengernyit. Pasalnya, aku belum melihat secara langsung ruangan yang dimaksud oleh Nida. Memang cukup aman dari jalur mobilisasi, akan tetapi, bukankah berisiko apabila perempuan mendapat tempat istirahat bagian pojok?
Dalam keadaan bingung, kali ini aku justru sengaja menatap Narendra. Di luar dugaan, justru dia telah menatapku. Tanpa ekspresi, namun aku menyadari bahwa alis kanannya sedikit lebih naik dari sisi kiri dan refleks aku turut menaikkan sedikit alis kiriku. Entah bagaimana, tapi aku merasa bahwa kali ini pun Narendra satu suara denganku yang tidak setuju dengan ucapan Nida.
"Izin masuk," Narendra membuka suara tepat setelah dia memutuskan kontak mata, "aku kurang setuju karena riskan kalau akhwat dapat ruangan paling belakang. Apalagi, itu pasti lebih gelap pas malam dan belakangnya bambu – bambu. Kalau masalah luas, ruangan deket perpustakaan," Narendra mengerling padaku, "juga menurutku cukup."
Aku mengangkat tangan kanan begitu Narendra selesai berbicara, kemudian berkata, "izin menambahkan. Kalau posisi ruangannya kaya gitu, peserta akhwat di dekat perpus juga nggak papa. Malah kalau di sini, lebih deket kamar mandi, tempat wudhu, sama ruangan panitia akhwat, nggak, sih?"
Setelah menyelesaikan pendapatku, kembali mataku menatap Narendra yang juga tengah menatap padaku. Tidak ada ekspresi yang kubuat di wajahku, pun Narendra juga tidak mengukir ekspresi apapun. Hanya dua pasang mata beradu tanpa sepatah kata, namun aku merasakan kepuasan dan rasa hangat dari sorot itu.