Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kala Saka Menyapa
MENU
About Us  

Setumpuk undangan siap diedarkan. Daftar nama tamu undangan baik dari keluarga, kolega dan teman sudah tercentang.

Aku biasa saja, Sisca yang luar biasa. Entah karena ngebet atau apa malah dia yang terlampau semangat. Mempotret undangan lalu disebarkan di media sosial dan grup-grup.

"Anjir, anjir." komentarnya mendapati salah satu nama di undangan. "Lo ngundang Ronal jelek? Ih ngapain sih?"

"Lo nyebar di grup, otomatis Ronal juga tahu. Dia bakal dateng pasti." ungkapku.

"Ronal jelek enggak masuk grup keles." kesal Sisca. "Udahlah pokoknya gak usah dikirim."

"Dia temen gue. Temen nyontek gue, wajib diundang lah." jelasku tersenyum.

Lucu rasanya, Sisca seketika meninggalkan tumpukan undangan. Rautnya memberenggut kesal, tak berselera lagi membahas.

Dia lebih menekuri ponselnya, sedikit-sedikit jemari lainnya bergerak memainkan sedotan di gelas.

"Lo undang Gibran?" tanyanya kemudian.

Aku mengangguk seraya mengunyah sisa steak di piring. "Kenapa?"

"Dia mau kasih gue kejutan masa? Yang nikah kan lo." heran Sisca. "Lagi di parkiran dia."

Saat itu juga mataku melotot. "Gibran? Di depan?"

Berselang sebentar dari anggukan Sisca, netraku mampu menangkap keberadaan Gibran. Dia berjalan mengarah ke mari.

Dan seketika, aku manggut-manggut tahu maksud kejutan yang disentil Sisca barusan. Sambil menahan senyum ku biarkan Sisca dalam fokusnya. Enggan memberi tahu bahwa Gibran sudah ada di belakang tak jauh dari kursinya.

"Lihat! Mantan gue udah move on, gak kayak mantan lo. Bersyukur banget jadi lo masih dicintai, ayoklah pepet lagi." celoteh Gibran membuat Sisca menoleh.

Tidak sekedar menoleh, ku rasa Sisca syok berat. Matanya membundar sempurna, mulutnya menganga lebar. Ponselnya hampir jatuh, beruntung masih bisa terkontrol.

Gibran datang bersama Ronal bebek mantannya, kontan mengejutkan. Mati-matian Sisca membuang kenangan, menghack, blokir semua akun Ronal semata untuk sukses move-on.

"Nyebelin banget anjir! Gibran sinting!" umpat Sisca pelan.

"Supprise kan?" puas Gibran cengengesan.

"Gue gak lagi ulang tahun Pea!" sebal Sisca.

"Iyalah kan kamu ulang tahunnya bulan kemaren tanggal 15." timpal Ronal ikut duduk bergabung.

"Asik, ciye, ciye." goda Gibran. "Mau dong diinget-inget gitu."

Aku terkekeh geli. Ronal bebek dihadapanku amatlah berbeda. Dia tidak krempeng lagi, sudah berisi baik badan, otot bahkan otaknya.

Terlihat dari fisiknya dan name tag-nya. Embel-embel dr. di depan namanya sudah membuktikan bahwa dia berotak, tak lagi kosong seperti dulu yang bisanya nyontek dan nyontek saja.

"Gue kira lo masih di Amrik Kar."  kata Ronal.

"Gue cuma lima tahun. Sempet gap-year makanya saat lo-lo udah jadi orang, gue masih kuliah." beberku merasa iri pada Gibran yang sudah jadi guru, Ronal sudah berprofesi dokter.

"Lo tahu gak Ron? Masa mantan lo juga ikut-ikutan gap-year?" cerocos Gibran yang digelengi Ronal. "Cuma karena gagal move on dari lo, dia gap year. Busyet kan? Katanya dalam setahun itu buat semedi ngilangin bayangan lo."

Sisca menimpuk kepala Gibran dengan beberapa undangan. "Jangan ngarang lo! Tahu apa lo tentang gue? Ketemu juga baru kemaren-kemaren! Sok tahu banget sumpah!"

"Aih, apa sih Sis?" kilah Gibran menghentikan aksi brutal Sisca. "Gue lagi cerita mantannya Ronal. Emang lo mantannya Ronal?"

Sisca terbata. Dia bergegas meninggalkan area, sudut mataku mengikuti arahnya dan selalu toilet tempat tersering wanita itu kunjungi saat di restoran.

Sedari dulu Gibran memang rajanya jail. Hidupnya penuh tawa, Pembawaannya riang dan ceria. Dia seperti manusia anti galau.

Saat masih bersamaku. Dia hampir tidak pernah galau atau frustasi menghadapi kecemburuan, kemarahan dan segala macam bentuk kekanak-kanakanku.

Putus denganku saja dia masih bisa tersenyum, bercanda bersama kawannya.

Iyalah dia kan selingkuh. Lepas dari gue, ya anugerah buat dia.

"Lo susul Kar. Gue takut dia kenapa-kenapa." khawatir Ronal.

Berbarengan dengan kepergianku ada seseorang bergabung di meja. Wanita cantik berbadan ramping tapi perutnya agak maju sedikit.

Karena penasaran, ku putuskan diam di balik pot besar di salah satu sudut ruang dekat toilet. Masih bisa ku pantau. Bukan kenalan Gibran tapi Ronal.  Mungkin wanita tersebut pacarnya atau bisa jadi istrinya, kedekatan mereka begitu intim.

"Gue yakin Sisca patah hati, dia kan belum bisa move-on sepenuhnya. Laganya emang kayak benci tapi cinta juga tuh anak." komentarku sendiri.

Ku lirik lagi wanita tersebut. Interaksi keduanya jauh dari canggung ataupun sungkan. Ada yang aneh menyegrap indraku, entah benar atau tidak gelagat Ronal seakan ingin cepat berlalu.

Benar saja, Ronal pamit pergi pada Gibran tanpa menunggu kedatanganku dan Sisca.

"Untung langsung pergi. Sisca bisa galau kalau liat." ucapku lagi.

"Sayangnya gue liat Ra." lesu Sisca. Berkeping sudah hatinya.

.

.

.

***

Mobil hitam itu lagi. Aku tahu pemiliknya. Untuk apa dia datang? Ingin memohon maaf lagi seperti kemarin, sungkem-sungkem cari perhatian?

Aku melangkah dengan tergesa. Keadaannya berbeda dari kemarin lampau saat Saka datang, malam ini terdengar lebih ramai.

Bila ku perhatikan mobil hitam yang bertengger tidak hanya satu. Ada dua tambahan mobil menambah padat pekarangan.

"Nah, Bibun mu dateng." suara Saka menyambut.

Same yang biasa menghambur ke pelukanku kini terpaku nyaman di pangkuan Saka. Rindu   menahunnya belum terobati.

Sementara di beberapa sudut terpencar orang asing. Aku bisa menebaknya, anggota keluarga Saka pastinya.

Tapi mau ngapain?

"Karena Kara sudah dateng, kita mulai saja acaranya." pengumuman ayah.

"Ini jam berapa toh nduk? Baru pulang, kasihan sekali." simpati Oma-oma di samping ayah. "Saka nanti kalo udah nikah Karanya tidak usah disuruh lembur!"

"Kara tidak disuruh bersih-bersih dulu yah?" tanya ibu.

"Enggak usahlah! Udah malem juga, kasihan pak penghulunya." ungkap ayah.

Membeliak kaget bola mata ini. Ku palingkan tatap tajam pada Saka yang dibales dengan senyum jail. Terlalu gila! Penghulu itu tugasnya menikahkan, tidak mungkin datang kemari bila tidak diberi tugas.

Dan sepertinya aku lah pemeran utamanya. Sebelum Ibu mengiringku ke salah satu pelataran yang sudah tersedia, beliau memelukku erat.

"Ayok Pak penghulu langsung saja kalau begitu." timbrung bapak-bapak sepantar ayah yang ku yakini ayah Saka.

Seakan terhipnotis aku menurut tanpa bantah. Entah aku terlalu syok. Bingung rasanya, ingin menolak, memberontak tapi sulit.

Terlalu kelu untuk melawan, terlalu beku untuk bergerak menolak. Akhirnya kata sah menepi setelah Saka mengikrarkan ijab dengan satu tarikan nafas.

Saya terima nikah dan kawinnya Caramell Dwita Delaxa binti Saputra Retra Delaxa dengan mas kawinnya yang tersebut. Tunai.

"Sah!!" kompak orang-orang membuatku makin hilang arah.

Saat ibu mencolek bahuku untuk mencium punggung tangan lelaki di sampingku, aku menurut saja.

Ketika Saka mencium keningku pun aku masih bertahan dengan kebingungan. Tadi saat ditanya-tanya penghulu sebelum ijab juga aku menjawabnya terbata.

Flash-flash yang berkeliaran menyilaukan mata seperti tidak bermakna apa-apa. Tetap raga ini linglung.

"Kara kamu kayak kesambet gitu." greget ibu.

Ku tatap ibu, wanita yang sudah melahirkanku ke dunia ini lumayan lebih rapi. Memakai kain songket, rambut digelung modern. Ada riasan make up.

Sementara aku? Jauh dari kesan pengantin.

"Bu, Kara menikah?" tanyaku konyol.

"Iyalah Ra." greget ibu.

"Yakin?" tanyaku.

"Kamu gak denger tadi Saka ngucap ijab? Gak denger semua orang bilang sah?" tanya ibu kesal. "Kamu pikir ini apa?"

"Ini mimpi bu. Mimpi buruk!" kataku. "Masa pengantin alakadarnya begini? Pakai pakaian seadanya. Lusuh, kumel, bau, gak bermake up, gak bersanggul? Apa-apaan coba!"

"Bahkan aku baru datang ngantor, Bu!" lanjutku.

"Tapi ini adanya Ra. Salah sendiri pulang malam." kata ibu. "Saka aja gak ngantor, masa kamu ngantor sampe malem gini di hari pernikahan."

Memang tadi pagi di kantor ada isu bahwa Saka sudah kembali dari Singapura. Tapi sampai jam 3 sore, dia belum menampakkan diri.

"Bu cubit aku coba!" sodor tanganku pada ibu. "Ini mimpi Bu!"

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Cute Monster
807      501     5     
Short Story
Kang In, pria tampan yang terlihat sangat normal ini sebenarnya adalah monster yang selalu memohon makanan dari Park Im zii, pekerja paruh waktu di minimarket yang selalu sepi pengunjung. Zii yang sudah mencoba berbagai cara menyingkirkan Kang In namun selalu gagal. "Apa aku harus terbiasa hidup dengan monster ini ?"
Meteor Lyrid
688      509     1     
Romance
Hujan turun begitu derasnya malam itu. Dengan sisa debu angkasa malam, orang mungkin merasa takjub melihat indahnya meteor yang menari diatas sana. Terang namun samar karna jaraknya. Tapi bagiku, menemukanmu, seperti mencari meteor dalam konstelasi yang tak nyata.
Zona Erotis
786      522     7     
Romance
Z aman dimana O rang-orang merasakan N aik dan turunnya A kal sehat dan nafsu E ntah itu karena merasa muda R asa ingin tahu yang tiada tara O bat pelipur lara T anpa berfikir dua kali I ndra-indra yang lain dikelabui mata S ampai akhirnya menangislah lara Masa-masa putih abu menurut kebanyakan orang adalah masa yang paling indah dan masa dimana nafsu setiap insan memuncak....
Her Glamour Heels
647      475     3     
Short Story
Apa yang akan kalian fikirkan bila mendengar kata heels dan berlian?. Pasti di khayalan kalian akan tergambar sebuah sepatu hak tinggi mewah dengan harga selangit. Itu pasti,tetapi bagiku,yang terfikirkan adalah DIA. READ THIS NOWWW!!!!
Yang Terindah Itu Kamu
15277      5261     44     
Romance
Cinta pertama Aditya Samuel jatuh pada Ranti Adinda. Gadis yang dia kenal saat usia belasan. Semua suka duka dan gundah gulana hati Aditya saat merasakan cinta dikemas dengan manis di sini. Berbagai kesempatan juga menjadi momen yang tak terlupakan bagi Aditya. Aditya pikir cinta monyet itu akan mati seiring berjalannya waktu. Sayangnya Aditya salah, dia malah jatuh semakin dalam dan tak bisa mel...
Surat untuk Tahun 2001
8280      4056     2     
Romance
Seorang anak perempuan pertama bernama Salli, bermaksud ingin mengubah masa depan yang terjadi pada keluarganya. Untuk itu ia berupaya mengirimkan surat-surat menembus waktu menuju masa lalu melalui sebuah kotak pos merah. Sesuai rumor yang ia dengar surat-surat itu akan menuju tahun yang diinginkan pengirim surat. Isi surat berisi tentang perjalanan hidup dan harapannya. Salli tak meng...
Alumni Hati
4355      1979     0     
Romance
SINOPSIS Alumni Hati: Suatu Saat Bisa Reuni Kembali Alumni Hati adalah kisah tentang cinta yang pernah tumbuh, tapi tak sempat mekar. Tentang hubungan yang berani dimulai, namun terlalu takut untuk diberi nama. Waktu berjalan, jarak meluas, dan rahasia-rahasia yang dahulu dikubur kini mulai terangkat satu per satu. Di balik pekerjaan, tanggung jawab, dan dunia profesional yang kaku, ada g...
Rihlah, Para Penakluk Khatulistiwa
18688      3677     8     
Inspirational
Petualangan delapan orang pemuda mengarungi Nusantara dalam 80 hari (sinopsis lengkap bisa dibaca di Prolog).
Kacamata Monita
8331      2875     5     
Romance
Dapat kado dari Dirga bikin Monita besar kepala. Soalnya, Dirga itu cowok paling populer di sekolah, dan rival karibnya terlihat cemburu total! Namun, semua mendadak runyam karena kado itu tiba-tiba menghilang, bahkan Monita belum sempat membukanya. Karena telanjur pamer dan termakan gengsi, Monita berlagak bijaksana di depan teman dan rivalnya. Katanya, pemberian dari Dirga terlalu istimewa u...
Awal Akhir
803      535     0     
Short Story
Tentang pilihan, antara meninggalkan cinta selamanya, atau meninggalkan untuk kembali pada cinta.