Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Beberapa Minggu Sebelum Jefta Kembali ke Cindy

Tempat itu sepi. Hanya suara deburan ombak dan angin laut yang menemani senja. Christian duduk di atas batu karang besar, menatap jauh ke horizon. Rambutnya tergerai tertiup angin, wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Dari kejauhan, langkah seseorang mendekat. Christian menoleh. Sosok itu muncul perlahan—dengan langkah berat dan wajah penuh ragu.

> “Kamu datang juga,” ujar Christian tanpa menoleh lagi.
 

> “Kamu yakin masih mau ketemu aku?” suara Jefta serak. Debu dan kelelahan membalut tubuhnya.
 

Christian berdiri, lalu berjalan pelan ke arah Jefta. “Kamu gak berubah banyak.”

> “Tapi banyak hal yang berubah,” balas Jefta. “Termasuk… hati Cindy.”
 

Christian tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah kotak kecil berisi gelang kulit.

> “Ini… dari Cindy. Dia gak pernah benar-benar melepasmu.”
 

Jefta menatap gelang itu. Jemarinya bergetar saat menyentuhnya.

> “Aku gak pantas dapetin ini lagi.”
 

> “Justru karena kamu merasa gak pantas, kamu harus kembali,” tegas Christian. “Cindy bukan milikku. Aku hanya penumpang sementara dalam hidupnya.”
 

Hening sejenak. Hanya suara laut yang bicara.

> “Kamu tahu kenapa aku bantu kamu, Jefta?” tanya Christian.
 

> Jefta menggeleng.
 

> “Karena aku pernah jadi kamu. Lari dari orang yang aku cintai karena takut aku gak cukup baik. Tapi rasa bersalah gak akan pernah bisa menyembuhkan cinta yang ditinggal.”
 

Jefta menunduk. Matanya mulai basah.

> “Dia pantas bahagia, Chris. Dan aku gak yakin aku bisa jadi alasan kebahagiaannya lagi.”
 

> “Cinta gak selalu soal layak atau gak, tapi soal berani atau gak,” kata Christian sambil menepuk bahu Jefta. “Dan sekarang, waktunya kamu pulang.”
 

Jefta menggenggam gelang itu erat. Untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya terasa sedikit lebih ringan.

> “Terima kasih. Aku… gak tahu harus bilang apa.”
 

> “Bilang perasaan kamu ke Cindy. Itu kata yang paling ingin dia dengar.”

Mereka saling menatap—dua pria dengan luka berbeda, tapi cinta yang sama-sama tulus.

> “Aku gak akan lupa kebaikanmu, Chris.”
 

> “Kalau kamu lupa, tenang aja. Aku tetap nikah sama Stella. Jadi pasti bakal nongol di undangan kamu nanti.”
 

Mereka tertawa pelan. Senja semakin jatuh, dan angin membawa pulang harapan yang sempat hilang.
... 

Flashback 1 hari sebelum Jefta bertemu Cindy

 

Jefta duduk di pojok jendela pesawat, menatap gumpalan awan seperti kapas yang perlahan terlewati. Tangannya menggenggam erat gelang kulit yang diberikan Christian. Hatinya bergemuruh, seolah semua kata yang ingin ia ucapkan pada Cindy tak cukup ditampung oleh dada. Ini bukan hanya soal pulang, tapi tentang menebus waktu yang hilang dan luka yang ia sebabkan.

 

Setibanya di kota, Jefta tidak langsung menemui Cindy. Ia tahu, datang begitu saja hanya akan membawa kekacauan. Maka ia menyusun rencana: ia ingin membuat Cindy tersenyum dulu—bahkan sebelum mereka bertemu.

 

Dia menghubungi Stella diam-diam.

 

"Stel, aku butuh bantuanmu. Tapi Cindy jangan sampai tahu dulu, ya."

 

Stella yang sedang menyuapi Christian di kafe hanya melirik sejenak lalu menjawab, "Selama kamu bukan mau ngajak Cindy kabur ke negara lain, aku bantu."

 

Maka, dimulailah operasi kejutan itu.

 

Beberapa hari kemudian, di meja kerja Cindy, muncul satu paket kecil berisi scrapbook berisi foto-foto kenangan bersama Jefta yang tampaknya dicetak dari media sosial lama mereka. Di setiap halaman ada kutipan singkat:

 

> _"Kamu masih jadi alasan aku menatap matahari terbit, meski aku tinggal di sisi gelapnya."

 

 

 

> _"Jika waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke hari saat aku melepasmu, dan memilih memelukmu lebih lama."

 

 

 

> _"Aku tak ingin kamu menangis, tapi kalaupun kamu menangis, biar aku yang menghapusnya kali ini."

 

 

 

Di halaman terakhir, hanya ada satu tulisan tangan:

 

 

 

Cindy membaca sambil gemetar. Napasnya memburu, matanya panas. Apakah ini nyata? Apakah dia kembali?

 

 

Flashback end

---

 

Christian, Stella, dan Janji Cinta yang Diam-Diam Bertumbuh

 

Stella tak pernah menyangka, hidupnya akan setenang ini setelah badai yang pernah ia lewati. Dulu ia hidup seperti pelarian: dari masa lalu, dari dendam, dari luka yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tapi sejak bersama Christian, semua luka seolah menemukan tempatnya—bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diterima.

 

Mereka menikah dalam sebuah pesta kecil di taman belakang rumah nenek Stella, di bawah langit senja yang lembut. Hanya dihadiri teman dekat, rekan kerja, dan beberapa orang yang telah menjadi keluarga pilihan mereka: Sitty, Alfik, Steven, Cindy. 

 

Christian menatap Stella yang tersenyum di pelaminan. Wanita itu memang bukan yang pertama ia cintai dalam hidup—tapi dia adalah yang pertama yang membuat Christian ingin hidup lebih lama hanya untuk menua bersamanya.

 

"Kamu kelihatan beda," bisik Christian malam setelah pesta.

 

"Beda gimana?"

 

"Kamu kayak orang yang udah berdamai dengan masa lalunya."

 

Christian menarik tangan Stella, menggenggam jemari itu, dan berkata, "Kamu bukan sekadar masa depan, Stel. Kamu itu rumah."

 

Stella memeluknya erat. Di luar, bintang-bintang mulai bermunculan. Dan untuk pertama kalinya, Christian merasa malam tak lagi sunyi.

 

Keesokan harinya, mereka pergi ke pantai kecil untuk berbulan madu. Saat melihat Stella tertawa tertiup angin laut, Christian tahu, hidup tak selalu harus sempurna—asal orang yang menemaninya adalah seseorang yang tulus menerima ketidaksempurnaan itu.

 

Sambil berbaring di atas pasir, Stella berkata, "Nanti kalau Cindy nikah, kamu mau jadi saksi?"

 

"Dengan senang hati. Apalagi kalau Jefta berani lamar beneran."

 

"Kita mulai hidup baru ya?" tanya Stella.

 

Christian mengangguk. "Tapi tetap bareng kamu, sampai akhir."

 

Dan angin laut menjadi saksi, bahwa dari luka yang paling dalam pun, cinta bisa tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

 

Tisu di Halaman

 

Tiga hari setelah makan malam di tepi danau, Cindy pulang kerja lebih cepat karena pesan singkat dari ibunya:

 

> "Jangan lupa pulang sore ini. Ada yang mau bicara sama kamu di halaman."

 

 

 

Cindy mendesah, mengira akan dimarahi karena lupa menaruh sepatu di rak. Tapi saat ia melangkah ke halaman rumah, matanya melebar.

 

Halaman itu dipenuhi lampu-lampu gantung kecil yang berkelap-kelip, membentuk lingkaran di sekeliling meja bundar. Di tengah meja ada kotak kecil berwarna merah marun. Di sampingnya, berdiri Jefta, rapi dengan kemeja putih dan senyum gugup.

 

“Ini serius?” Cindy memicingkan mata, menahan tawa gugup.

 

Jefta melangkah mendekat. “Kamu bawa tisu?”

 

Cindy tertawa, air mata sudah mulai menggenang. “Nggak…”

 

Jefta mengeluarkan satu bungkus tisu dari saku celananya. “Makanya, aku siapkan. Karena aku tahu kamu bakal nangis.”

 

Ia kemudian berlutut, membuka kotak cincin kecil itu.

 

“Cindy Brigita, sahabat reseku, tukang protes, dan penyelamat hidupku yang berkali-kali... maukah kamu menikah denganku, dan terus rese seumur hidup kita?”

 

Cindy menutup mulut, menahan haru dan tawa bersamaan. “Gila, kamu... iya. Iya, Jefta!”

 

Sorak sorai terdengar dari semak-semak. Ternyata Stella, Sitty, Steven, Alfik, dan bahkan orang tua mereka ikut menyaksikan diam-diam.

 

Cindy memeluk Jefta, membuatnya nyaris terjungkal dari posisi berlutut. Mereka tertawa, menangis, dan tertawa lagi. Cincin disematkan, tisu digunakan, dan cinta mereka akhirnya dikunci dalam janji.

 

> “Nggak nyangka kamu bisa romantis begini,” bisik Cindy saat mereka duduk berdampingan setelah semua tamu pulang.

 

> “Aku kan selalu bisa,” jawab Jefta, “asal kamu terus jadi alasanku.”

 

Gaun, Undangan, dan Nasi Goreng Tengah Malam

 

Satu minggu setelah lamaran, rumah Cindy berubah jadi semacam markas darurat persiapan perang—perang melawan waktu, mood swing, dan... pilihan menu katering.

 

> “Cindy, ini contoh undangan warna krem soft, biru embun, atau hijau daun pisang?” tanya Sitty, sambil menyodorkan tiga kertas berbeda.

 

 

 

> “Yang gak bikin kelihatan kayak kita mau syukuran khitanan, tolong,” sahut Cindy dengan mata panda karena begadang ngurus vendor.

 

 

 

Di sudut lain ruang tamu, Jefta lagi sibuk sendiri nulis daftar "Menu Wajib Harus Ada" di kertas sobekan kardus pizza.

 

> “Cin, kita masukin nasi goreng, ya. Yang model abang-abang, pedes, ada telur mata sapi. Simbol hubungan kita.”

 

 

 

> Cindy berhenti ngunyah pastel. “Hubungan kita disimbolin nasi goreng?”

 

 

 

> “Iya. Hangat, bisa dimakan tengah malam, dan kadang pedes tapi nagih.”

 

 

 

> “...Astagaaaa, kamu romantis juga ternyata,” ujar Cindy sambil geleng-geleng dan senyum geli.

 

 

 

Akhirnya disepakati: nasi goreng ala abang gerobak masuk ke dalam midnight snack corner—dengan nama keren di menu: Midnight Comfort Fried Rice, by Jefta’s Heart.

 

**

 

Masalah selanjutnya datang dari gaun pengantin.

 

Cindy pengin model elegan yang sederhana dan timeless. Tapi penjahitnya agak terlalu “bersemangat” memasukkan konsep desain Eropa Selatan era Renaissance.

 

> “Ini apa sih, kok ada renda-renda kayak taplak meja oma?” keluh Cindy waktu fitting.

 

 

 

> “Kan kamu minta gaun yang ‘bersejarah’,” bela penjahitnya.

 

 

 

> “Berasa kayak pengantin Dracula, bukan bersejarah...”

 

 

 

Akhirnya, gaun itu dirombak. Disulap jadi simpel dengan sentuhan pita kecil di pinggang dan kerudung tipis panjang. Tapi diam-diam, Jefta minta satu detail kecil ditambahkan: bordir kecil inisial nama mereka berdua di bagian dalam lengan gaun. Supaya Cindy tahu, dia “dipeluk” Jefta sepanjang hari itu, bahkan dari balik kain.

 

**

 

Sementara itu, drama lain muncul dari... undangan.

 

Salah satu draft desain malah bikin nama Jefta jadi "Jeptha" dan Cindy jadi "Cendie".

 

> “Ini undangan nikah atau selebaran seminar kesehatan?” gumam Cindy.

 

 

 

Akhirnya, Steven turun tangan dan bilang, “Gue bantu bikin versi digital aja. Lebih aman, tinggal share link. Tinggal klik RSVP.”

 

> “Tapi keluarga besar aku masih percaya undangan itu yang bisa disimpan buat dijadiin alas mouse,” kata Jefta.

 

 

 

> “Ya udah. Bikin dua versi. Online buat yang muda-muda , cetak buat orang tua,” jawab Stella.

 

 

 

**

 

Malam-malam jelang hari H makin ajaib.

 

Ada momen Cindy nangis gara-gara makeup artist batalin sepihak, lalu ketawa karena dikasih gorengan sama Sitty sambil nonton video TikTok lucu bareng. Ada juga momen Jefta belajar dansa waltz dari YouTube biar bisa kasih first dance kejutan.

 

Dan ada satu malam yang jadi milik mereka berdua.

 

Cindy dan Jefta duduk di teras, berdua, dengan sepiring nasi goreng yang mereka pesan dari abang langganan. Langit gelap, angin sepoi-sepoi, dan lampu gantung yang masih belum dipasang.

 

> “Aku tahu kita bukan pasangan paling rapi,” kata Jefta.

 

 

 

> “Tapi kita pasti pasangan yang paling jujur dan doyan nasi goreng,” jawab Cindy.

 

 

 

Mereka saling pandang, lalu tertawa. Lelah. Bahagia.

 

> “Besok... kita sah?” tanya Cindy pelan.

 

 

 

> “Besok... kamu resmi jadi tempat pulang paling enak buat aku,” jawab Jefta sambil genggam tangannya.

 

 

Di malam itu, di bawah langit tanpa bintang, dua orang dengan segala kekacauannya sedang bersiap menjadi satu—bukan untuk sempurna, tapi untuk jadi rumah.

 

Besok hari

 

Beberapa Menit Sebelum Pernikahan

 

Angin sore berhembus pelan, menyentuh tirai putih yang tergantung di tenda kecil tempat Jefta bersiap. Di depannya, cermin besar memantulkan wajahnya sendiri—tenang di luar, tapi matanya penuh campur aduk.

 

Dari balik pintu, Steven muncul, masih mengenakan jas tapi dasinya belum rapi. Ia membawa dua botol air mineral dan menyodorkannya ke Jefta.

 

> “Haus? Atau lo mau gue cari minuman yang lebih ‘menenangkan’?”

Steven tersenyum setengah mengejek, setengah menghibur.

 

 

 

Jefta tertawa kecil, mengambil botol itu. Tangannya sedikit gemetar.

 

> “Gue udah pernah presentasi ke klien penting, pitching ke direksi, bahkan naik motor ugal-ugalan waktu masih muda…”

“Tapi gak pernah sesenervous ini,” bisiknya.

 

 

 

Steven menatapnya sebentar, lalu duduk di kursi seberang. Wajahnya tidak lagi bercanda.

 

> “Cindy… bukan tipe yang gampang percaya orang,” ucap Steven pelan.

“Tapi entah kenapa, sama kamu—dia bisa percaya. Bahkan setelah semua yang kalian lewatin.”

 

 

 

Jefta menunduk. Ia menelan ludah, lalu bicara dengan suara serak.

 

> “Aku sempat mau nyerah. Aku pikir kamu beneran jadian sama Cindy. Aku juga lari karena rasa bersalah, karena takut gagal...”

“Tapi waktu Aku mutasi ke kantor pusat, pergi ninggalin dia—gue sadar, perasaanku gak bisa pergi sejauh itu.”

 

 

Steven mengangguk pelan.

 

> “Maafin aku ya waktu itu, aku bukan bermaksud buat kalian bubar. kamu sempat mundur. Tapi justru karena kamu berani balik lagi—itu yang bikin gue yakin kamu layak.”

 

 

 

Hening sebentar. Lalu Steven berdiri, menepuk bahu Jefta dengan tangan gemetar.

 

> “Ayah kami udah gak ada. Tapi kalau hari ini dia bisa lihat… gue yakin dia bakal serahin Cindy ke kamu dengan senyum.”

 

 

 

Jefta berdiri, menatap Steven dalam-dalam.

 

> “Makasih udah jagain dia sampai hari ini. Mulai sekarang… giliran gue.”

 

 

 

Mata Steven tampak berkaca, tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.

 

> “Jangan bikin dia nunggu lama di altar, ya.”

“Soalnya kalau lo batalin hari ini, gue yang nikahin dia.” kata Steven mengejek

 

 

 

Mereka berdua tertawa, lalu saling peluk sebentar—pelukan cepat khas laki-laki yang sudah saling percaya.

Pelukan yang diam-diam berisi restu, dan penerimaan.

 

 

Sore hari itu, langit memancarkan warna keemasan yang hangat. Di pelataran rumah tua bergaya kolonial di pinggir kota, sebuah pesta pernikahan sederhana namun anggun digelar.

Taman belakang yang luas dihias dengan kain putih melambai lembut tertiup angin. Meja-meja kayu bundar dihiasi taplak linen krem dan vas bunga kecil berisi kombinasi baby’s breath, mawar peach, dan eucalyptus.

Lampu bohlam gantung bergelantungan di antara pohon-pohon tua, memancarkan cahaya hangat yang menambah suasana intim.

 

Tidak ada panggung besar. Tidak ada MC heboh. Hanya dentingan piano lembut dan senyum-senyum penuh arti.

 

Di antara tamu-tamu yang berdatangan, Steven muncul dengan setelan jas rapi, tetap dengan gaya santainya yang khas. Ia menepuk pundak Jefta yang sedang berdiri di dekat altar mungil berhiaskan dedaunan.

 

> “Cieee… nikah juga akhirnya…” ejek Steven, separuh tertawa. “Gue pikir kalian bakal nunggu reinkarnasi dulu.”

 

 

 

Jefta tertawa kecil, lalu menggeleng pelan.

 

> “Ternyata semesta gak tega nunda-nunda lagi.”

 

 

 

Di belakangnya, Cindy datang menghampiri, mengenakan gaun putih selutut berbahan tulle ringan, rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga segar. Tanpa makeup tebal, tapi wajahnya bersinar.

 

Ia menggandeng lengan suaminya sambil menatap mata Jefta penuh kehangatan.

 

> “Terima kasih karena udah balik… dan menepati janji kamu,” bisiknya pelan.

 

 

 

Jefta memalingkan wajahnya ke Cindy, matanya tak berpaling sedikit pun dari senyum perempuan yang kini resmi menjadi istrinya.

 

> “Aku juga terima kasih karena kamu tetap percaya,” jawabnya, nyaris berbisik. Suaranya bergetar halus.

 

 

 

Di kejauhan, lampu mulai menyala satu per satu. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun. Tawa-tawa kecil dan alunan lagu akustik mengisi sore yang indah itu.

Tak ada kemewahan, tapi ada rasa tenang yang tak bisa dibeli. Pernikahan ini bukan sekadar perayaan cinta, tapi akhir dari penantian yang akhirnya menemukan tujuannya.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Simbiosis Mutualisme
333      226     2     
Romance
Jika boleh diibaratkan, Billie bukanlah kobaran api yang tengah menyala-nyala, melainkan sebuah ruang hampa yang tersembunyi di sekitar perapian. Billie adalah si pemberi racun tanpa penawar, perusak makna dan pembangkang rasa.
Renjana: Part of the Love Series
302      252     0     
Romance
Walau kamu tak seindah senja yang selalu kutunggu, dan tidak juga seindah matahari terbit yang selalu ku damba. Namun hangatnya percakapan singkat yang kamu buat begitu menyenangkan bila kuingat. Kini, tak perlu kamu mengetuk pintu untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Karena menit demi menit yang aku lewati ada kamu dalam kedua retinaku.
27th Woman's Syndrome
11587      2607     18     
Romance
Aku sempat ragu untuk menuliskannya, Aku tidak sadar menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Orang ketiga? Aku bahkan tidak tahu aku orang ke berapa di hidupnya. Aku 27 tahun, tapi aku terjebak dalam jiwaku yang 17 tahun. Aku 27 tahun, dan aku tidak sadar waktuku telah lama berlalu Aku 27 tahun, dan aku single... Single? Aku 27 tahun dan aku baru tahu kalau single itu menakutkan
Bulan
833      521     5     
Short Story
Ketika Bulan mengejar Bintangnya kembali
Kita
826      554     1     
Romance
Tentang aku dan kau yang tak akan pernah menjadi 'kita.' Tentang aku dan kau yang tak ingin aku 'kita-kan.' Dan tentang aku dan kau yang kucoba untuk aku 'kita-kan.'
Nina and The Rivanos
11890      3406     12     
Romance
"Apa yang lebih indah dari cinta? Jawabannya cuma satu: persaudaraan." Di tahun kedua SMA-nya, Nina harus mencari kerja untuk membayar biaya sekolah. Ia sempat kesulitan. Tapi kemudian Raka -cowok yang menyukainya sejak masuk SMA- menyarankannya bekerja di Starlit, start-up yang bergerak di bidang penulisan. Mengikuti saran Raka, Nina pun melamar posisi sebagai penulis part-time. ...
the invisible prince
1728      975     7     
Short Story
menjadi manusia memang hal yang paling didambakan bagi setiap makhluk . Itupun yang aku rasakan, sama seperti manusia serigala yang dapat berevolusi menjadi warewolf, vampir yang tiba-tiba bisa hidup dengan manusia, dan baru-baru ini masih hangat dibicarakan adalah manusia harimau .Lalu apa lagi ? adakah makhluk lain selain mereka ? Lantas aku ini disebut apa ?
pat malone
5262      1682     1     
Romance
there is many people around me but why i feel pat malone ?
Aku Mau
13420      3027     3     
Romance
Aku mau, Aku mau kamu jangan sedih, berhenti menangis, dan coba untuk tersenyum. Aku mau untuk memainkan gitar dan bernyanyi setiap hari untuk menghibur hatimu. Aku mau menemanimu selamanya jika itu dapat membuatmu kembali tersenyum. Aku mau berteriak hingga menggema di seluruh sudut rumah agar kamu tidak takut dengan sunyi lagi. Aku mau melakukannya, baik kamu minta ataupun tidak.
Without Guileless
1379      830     1     
Mystery
Malam itu ada sebuah kasus yang menghebohkan warga setempat, polisi cepat-cepat mengevakuasi namun, pelaku tidak ditemukan. Note : Kita tidak akan tahu, jati diri seseorang hingga kita menjalin hubungan dengan orang itu. Baik sebuah hubungan yang tidak penting hingga hubungan yang serius