Malam di Paris, Malam Kita
Tiga bulan lalu, mereka hanya sepasang kekasih yang belum pasti arahnya. Tapi hari ini, di tengah harum mawar dan doa yang terucap khidmat, Steven dan Rolina telah resmi menjadi suami istri.
Setelah resepsi sederhana di taman kecil dekat gereja, mereka berjalan berdua di sepanjang Seine. Gaun putih Rolina menyapu jalan batu yang dihiasi kelopak bunga yang dijatuhkan anak-anak kecil.
Steven menggenggam tangan Rolina dengan erat. “Kamu tahu? Aku nggak pernah bayangin ending hidupku seindah ini.”
Rolina tertawa kecil, “Ini bukan ending, sayang. Ini bab pertama.”
Mereka duduk di bangku taman, memandangi menara Eiffel dari kejauhan yang mulai menyala. Angin musim semi menerbangkan helai rambut Rolina, dan Steven membantu menyelipkannya ke balik telinga.
“Aku sempat takut kamu nggak akan pilih aku,” ucap Rolina, pelan.
Steven menatapnya dalam-dalam. “Dari semua yang pernah datang dan pergi, kamu satu-satunya yang tinggal. Aku nggak perlu pilih. Aku tahu jawabannya dari lama.”
---
Malam pun turun perlahan. Di kamar hotel bergaya klasik dengan balkon menghadap kota Paris, Rolina berdiri di depan cermin, melepas perhiasan satu per satu. Gaunnya sudah digantung rapi. Tubuhnya kini hanya dibalut kimono satin tipis yang disediakan hotel.
Steven masuk dari balkon dengan segelas wine. Ia mematung sejenak, memandang istrinya seolah waktu berhenti.
“Kamu cantik,” bisiknya.
Rolina menoleh, pipinya memerah. “Aku gugup.”
Steven mendekat, memeluknya dari belakang. “Aku juga. Tapi kita sama-sama di sini, kan?”
Dia mencium bahu Rolina perlahan. “Boleh aku peluk kamu malam ini… sebagai suamimu?”
Rolina menoleh, menatap mata Steven. “Peluk aku, cium aku, miliki aku. Aku sudah jadi milikmu sepenuhnya.”
Tanpa kata lagi, Steven membawanya ke ranjang. Sentuhan mereka bukan lagi sekadar gairah—itu adalah penerimaan. Cinta yang tidak terburu-buru, tidak terpaksa, tidak perlu banyak janji, karena semua sudah tertulis di hati.
Malam itu, Paris bersaksi pada dua jiwa yang akhirnya tenang. Mereka tidak sempurna, tapi saling memilih. Dan itu cukup.
Di sisi lain..
Di Bawah Langit yang Baru.
Angin sore menggelayuti pohon kelapa yang condong ke arah laut. Pantai yang sebelumnya penuh tawa mulai sepi, menyisakan suara debur ombak yang datang berulang seperti hati yang tak pernah benar-benar sembuh.
Stella duduk di atas ayunan kayu yang digantung pada batang pohon besar, sandal dilepas, ujung jari kakinya menggambar garis tak beraturan di pasir.
Christian datang membawa dua botol air mineral. Salah satunya ia sodorkan sambil duduk di akar pohon di samping ayunan itu.
“Kayaknya kamu suka banget duduk sendiri.”
“Aku cuma suka tenang,” jawab Stella pelan. “Tapi juga takut sendiri.”
Christian menatapnya, tak berkata apa-apa. Hanya diam. Diam yang tidak menghakimi.
Stella menarik napas panjang. “Kamu pernah... merasa nyesel karena ninggalin seseorang tanpa penjelasan?”
Christian mengangguk perlahan. “kurang lebih sama hanya beda jalan cerita nya. Waktu itu kita lagi dalam fase sayang-sayangnya tapi karena aku lanjut S2 ke Jerman. Aku dan Cindy memutuskan untuk berpisah"
“Kenapa kamu cerita sekarang?” tanya Stella, menoleh.
Christian menggaruk tengkuknya, gugup. “Karena kamu orang pertama yang bikin aku pengin nggak nutup-nutupin masa lalu.”
Stella tersenyum pahit. “Aku pernah pacaran empat tahun. Udahan begitu aja karena dia bilang aku terlalu ‘bermasalah’. Padahal aku cuma sering overthinking dan trauma sama ditinggal.”
Stella menatapnya, mata basah tapi penuh tawa. “Tapi mungkin bisa belajar sembuh bareng?”
Christian mendekat pelan, berdiri di depan ayunan. “Kalau aku bilang aku suka kamu, dan pengin jalanin ini pelan-pelan… kamu takut?”
Stella berdiri. Jarak mereka tinggal sehela napas. “Aku takut,” bisiknya. “Tapi aku juga penasaran.”
Christian menyentuh pipinya lembut. “Penasaran cukup jadi alasan buat mulai, kan?”
Stella mengangguk. “Selama kamu nggak lari pas aku lagi rewel.”
“Selama kamu nggak kabur pas aku lagi diam berhari-hari.”
Mereka tertawa pelan. Dan di tengah canda gugup itu, Christian meraih tangannya, menggenggamnya erat.
Laut menyaksikan. Langit pun mengerti. Di bawah sinar senja terakhir, dua hati yang pernah patah akhirnya memilih bertumbuh—bersama.
Malam Dimana Tak Ada Lagi Pelarian
Resort malam itu lengang. Lampu-lampu taman menyala temaram, membentuk jalur cahaya menuju kamar yang telah dipesan Christian diam-diam—bukan karena niat yang tersembunyi, tapi karena dia ingin malam ini terasa seperti milik mereka berdua.
Stella masuk lebih dulu, mengedarkan pandang ke kamar bernuansa hangat dan bernuansa kayu. Suara ombak masih terdengar dari balkon.
"Aku belum pernah... ngelakuin ini tanpa ragu," katanya pelan.
Christian menutup pintu, berjalan mendekat. “Aku juga belum pernah ngajak orang ke sini karena cinta.”
Mereka berdiri beberapa langkah dari ranjang, tak saling menyentuh. Hanya mata yang bicara.
“Aku nggak sempurna, Chris.”
Christian menyentuh pipinya dengan lembut. “Aku juga penuh retakan. Tapi malam ini, aku nggak pengin jadi orang yang sembunyi lagi.”
Stella mencium tangan Christian yang menyentuh wajahnya. Lalu, perlahan, mereka saling mendekap. Ciuman pertama mereka bukan ledakan, tapi kelegaan. Seolah dua jiwa akhirnya menemukan tempat pulang.
Malam itu, mereka berbagi segalanya. Bukan hanya tubuh, tapi kisah-kisah masa lalu yang dibisikkan di antara hela napas. Ketakutan, keraguan, luka, dan harapan. Semua terbuka, dan jujur.
Di balik tirai kamar yang menari karena angin laut, dua orang yang sebelumnya takut patah memilih saling pecah, lalu menyatu kembali.
Tak ada sumpah. Tak ada janji. Tapi malam itu, keintiman mereka menjadi komitmen diam yang lebih kuat dari sekadar kata.
---
Saat fajar menembus sela jendela, Stella menggulung diri dalam selimut, memandang Christian yang tertidur di sebelahnya.
Ia tersenyum kecil. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendiri.
Dan di samping Christian yang hangat, Stella tahu: luka boleh ada, tapi cinta yang mereka punya malam itu, nyata.
....
Siang itu, kantin kantor terasa lebih lengang dari biasanya. Udara panas membuat sebagian besar pegawai memilih makan di dalam ruang ber-AC. Stella datang menghampiri Cindy yang duduk sendiri, sambil membawa nampan makan siangnya.
Ia duduk dengan senyum lebar, sorot matanya penuh semangat. Di tangannya, tergenggam sebuah benda kecil yang sudah sangat dikenal oleh Cindy.
> “Cindy…” ucap Stella, mengangkat benda itu. “Aku udah jadian sama Christian.”
> Cindy terkejut, lalu tersenyum, “Serius? Wah, selamat ya!”
> Stella mengangguk antusias. “Dan… dia mengembalikan gelang ini.”
Ia meletakkan gelang kulit berornamen unik itu di atas meja. Cindy menatapnya dalam diam. Gelang yang dulu ia pinjamkan ke Christian—benda yang menyimpan banyak harapan dan doa.
> “Katanya, gelang ini sangat membantunya, dan dia ingin mengembalikannya padamu,” lanjut Stella.
> Cindy menatap gelang itu, menyentuhnya perlahan. “Dia baik sekali…”
> “Oh iya,” Stella menambahkan sambil menyeruput es tehnya, “Christian juga bilang: ‘kamu harus tetap semangat. Karena pasangan gelang itu pasti akan kembali.’”
Cindy tersenyum tipis. “Sampaikan salamku pada Christian ya.”
> “Oke,” jawab Stella, lalu kembali ke mejanya sambil membawa nampan makan siangnya.
Cindy masih terpaku. Jemarinya membalik gelang itu. Matanya terbelalak—ada ukiran kecil di baliknya. Namanya.
Ia membuka gelang yang sejak lama ada di pergelangan tangannya. Di bagian dalamnya, terukir nama: Jefta.
> “Aku harap ini kenyataan…” bisiknya. Suaranya nyaris hilang ditelan suara kipas tua di sudut kantin.
Tiba-tiba, gelang itu direbut seseorang dari tangannya.
> “Ini kan milikku,” kata suara yang sangat dikenalnya.
Cindy membeku. Perlahan, ia menoleh. Sosok itu berdiri di hadapannya—dengan senyum khas dan sorot mata hangat.
> “Jefta?” gumamnya nyaris tak terdengar. “Apa aku… berhalusinasi?” Ia mencubit pipinya sendiri pelan.
> “Kamu gak berhalusinasi. Ini nyata,” jawab Jefta sambil ikut mencubit pipi Cindy.
Cindy tercekat, matanya berkaca-kaca. “Ini benar-benar kamu?”
> “Aku cinta kamu,” ucap Jefta tanpa keraguan.
Cindy menatap gelang di tangannya, lalu menatap wajah Jefta.
> “Lihat gelang ini… dia benar-benar bikin aku gila. Bahkan halusinasi terasa nyata,” katanya pelan, senyum getir di bibirnya.
Tapi Jefta menarik tangannya—dan mencium bibirnya cepat, namun penuh keyakinan.
> “Masih merasa ini halusinasi?” tanyanya, kemudian memeluk Cindy erat. “Kamu mau gak jadi pacarku?”
Cindy tak menjawab. Tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
> “Senyum berarti iya,” kata Jefta sambil tersenyum nakal.
> “Bagaimana kamu bisa kembali?” tanya Cindy, masih tak percaya.
> “Aku disuruh oleh seseorang bernama Christian.”
> “Aku gak mau pacaran,” kata Cindy tegas.
> “Oke,” jawab Jefta, mengernyit. “Gimana kalau langsung nikah aja?”
> Cindy terkesiap. Tapi jawabannya hanya satu: “Itu yang aku mau.”
---
Satu Bulan Kemudian
Pernikahan Stella dan Christian berlangsung sederhana namun hangat. Dihiasi bunga-bunga putih dan senyum bahagia. Tak lama berselang, Sitty dan Alfik juga menyusul di altar yang sama.
Suatu malam, mereka semua berkumpul untuk makan malam di rumah makan tepi danau.
> “Stella, Sitty, Steven udah nikah…” kata Jefta sambil menyeruput sup jagung, “Kita kapan?”
Cindy tersenyum menggoda. “Aku tinggal tunggu lamaran kamu…”
Jefta menatap Cindy penuh makna. “Tunggu di halaman rumah, ya. Bawa tisu, karena kamu pasti nangis"
choujie








