Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Hari Penuh Janji, Tamu Tak Terduga

 

Hari itu, matahari bersinar hangat di atas taman yang dipenuhi bunga putih dan tawa bahagia. Di bawah langit cerah, Cindy dan Jefta resmi menjadi suami istri. Prosesi pernikahan berlangsung sederhana namun hangat. Nasi goreng hangat mengepul di sisi buffet, disandingkan dengan sate ayam, puding kelapa, dan es jeruk segar.

 

> “Dengan ini, aku berjanji: rumah kita nggak harus selalu rapi, asal kamu betah di pelukanku,” ucap Jefta disambut tawa para tamu.

 

 

> “Dan aku berjanji: nasi goreng kamu akan tetap enak walau kamu lupa pakai bawang,” jawab Cindy, membuat semua tertawa dan meneteskan air mata sekaligus.

 

 

 

Beberapa saat setelah perayaan makan dimulai, sebuah mobil putih berhenti di depan gerbang taman. Seorang pria tinggi dengan kemeja biru dan celana abu-abu elegan turun dari kursi pengemudi, membuka pintu penumpang untuk seorang perempuan muda bergaun floral selutut—Mira, istrinya yang tengah hamil besar namun tetap anggun. Mereka disambut senyum hangat dari Alfik dan Sitty yang berdiri dekat meja minuman.

 

> “Chen! Mira! Akhirnya dateng juga!” sapa Sitty dengan antusias.

 

 

 

> “Nggak mungkin absen. Kita udah kirim undangan ke kalian juga, jadi sekarang kami harus datang dong,” kata Chen sambil mengelus perut Mira. 

 

 

 

> “Dua minggu lagi due date,” gumam Chen dengan bangga.

 

 

 

> “Cowok?” tanya Alfik, menyusul dari belakang sambil membawa dua gelas es buah.

 

 

 

> “Cewek. Tapi namanya belum fix,” jawab Mira sambil duduk pelan.

 

 

 

Beberapa tamu menoleh dan membisikkan nama Chen—ya, teman lama yang dulu banyak meninggalkan tanya. Tapi kini dia datang sebagai pria berkeluarga.

 

Cindy sempat bertukar pandang dengan Stella. Tak ada komentar, hanya anggukan netral. Bagi mereka, kisah lama Chen bukan lagi hantu.

 

Namun semua berubah ketika suara balon meletus kecil terdengar dari arah meja dekorasi anak-anak.

 

Seorang bocah laki-laki sekitar lima tahun berlari panik mengejar balon lain yang terlepas ke arah taman depan. Balon itu menari di udara—dan tepat saat bocah itu berbelok tajam sambil mengejar, tubuh kecilnya menabrak keras kaki seseorang.

 

> “Aduh!” bocah itu jatuh terduduk.

 

 

 

Chen, yang baru saja selesai menyapa Jefta, menoleh. Ia reflek jongkok dan mengulurkan tangan.

 

> “Hei, kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut.

 

 

 

Anak itu mendongak. Mata bulat, rambut agak ikal, dan dagu yang... familiar.

 

Chen mendadak membeku.

 

> “Ray?” suara perempuan terdengar dari belakang.

 

 

 

Semua orang menoleh.

 

Popi muncul, mengenakan dress warna hijau muda. Wajahnya gugup namun tetap tenang. Di sebelahnya berdiri seorang pria berbadan kecil, mengenakan batik senada — Hengky suaminya.

 

> “Maaf ya, anak saya nabrak,” ucap Popi cepat.

 

 

 

Chen menatap bocah itu. Anak itu menatap balik. Mata mereka bertemu dalam diam yang terlalu lama.

 

Mira yang berdiri beberapa meter di belakang ikut menoleh. Ia tidak mengenal Popi. Tapi ekspresi Chen jelas berubah. Tangannya menegang. Rahangnya terkunci.

 

> “Chen…” suara Popi hampir berbisik. “Udah lama, ya?”

 

 

 

> “Iya…” jawab Chen. “Ini anak kamu?”

 

 

 

Popi hanya tersenyum pelan. “Namanya Rayan.”

 

Tidak ada penjelasan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada penghakiman.

 

Rayan berdiri, menatap Chen sejenak, lalu lari ke arah ibunya sambil tertawa. “Ma! Balonku terbang ke pohon!”

 

Popi mengusap rambut anaknya. Suaminya memanggil tukang balon baru, dan mereka pun kembali bergabung ke kerumunan tamu lain.

 

Chen tidak berkata apa-apa. Tapi langkahnya pelan menjauh, menuju kursi kosong di sisi taman. Mira mengikutinya sambil mengelus perutnya, matanya memandangi Chen dengan bingung tapi belum bertanya apa-apa.

 

Di meja utama, Cindy masih menertawakan gurauan Jefta yang ingin honeymoon di rumah neneknya saja karena hemat biaya.

 

Tapi di sudut pesta yang ramai, sebuah kisah lama kembali membuka luka yang belum sembuh. Dan seorang anak kecil, tanpa tahu apa-apa, sudah mewarisi cerita yang belum pernah diceritakan

---

 

 

Malam mulai turun. Lampu taman berkelip lembut. Setelah acara selesai dan para tamu mulai pulang, Mira dan Chen masuk ke dalam mobil yang diparkir tak jauh dari pintu gerbang taman.

 

Mira duduk diam. Tangan kirinya di atas perut, tangan kanan meremas tali tas dengan gelisah.

 

> “Tadi itu siapa?” tanyanya, menatap Chen lurus.

 

 

 

Chen menyalakan AC mobil, tapi tidak langsung menjawab.

 

> “Mira…” ia mulai pelan, “Aku nggak nyangka dia akan datang.”

 

 

 

> “Aku juga nggak nyangka kamu akan kelihatan kayak liat hantu pas liat anak itu.”

 

 

 

Chen terdiam.

 

> “Anak itu mirip kamu, Chen,” lanjut Mira, suaranya tenang tapi tegas. “Mirip banget.”

 

 

 

> “Itu bukan... bukan hal yang pernah aku siapin untuk kamu tahu,” ucap Chen akhirnya. “Popi mantan. Dulu kami... ya, pernah dekat. Tapi dia nggak pernah bilang soal anak. Aku bahkan baru lihat anak itu hari ini.”

 

 

 

Mira menarik napas panjang.

 

> “Kenapa kamu nggak pernah cerita soal Popi?”

 

 

 

> “Karena aku kira udah selesai. Karena... aku pengecut.”

 

 

 

> “Aku nggak minta kamu jadi sempurna, Chen. Aku cuma minta jujur,” bisik Mira sambil mengusap air matanya yang mulai turun. “Aku hamil anak kamu. Aku istri kamu. Tapi hari ini, kamu keliatan lebih terguncang dari waktu dokter bilang aku sempat risiko keguguran.”

 

 

 

Chen meraih tangannya, tapi Mira menarik diri perlahan.

 

> “Aku cuma butuh waktu. Dan kamu juga... kalau anak itu benar anakmu, kamu harus tanggung jawab.”

 

 

 

Chen menunduk. Malam terasa lebih sunyi daripada biasanya.

 

 

---

 

Popi, Cindy, & Sitty – Sahabat, Sekali Lagi

 

Popi duduk di bangku kayu taman, mengenakan cardigan yang tadi dilepasnya karena panas. Cindy dan Sitty datang membawa tiga gelas teh manis hangat.

 

> “Pop, serius deh… Rayan mukanya mirip Chen.. ” Sitty setengah bercanda tapi serius

 

 

> “Maaf sembunyiin semua dari kalian berdua,” gumam Popi. "Rayan anak Chen"

 

Cindy duduk di sebelahnya. “kenapa kamu gak pernah cerita masalah sebesar ini"

 

Popi menggigit bibirnya. “Karena Aku malu sama kalian, aku pernah marah ke kalian waktu itu. Chen gak mau tanggung jawab pas aku bilang hamil, dia menghilang. Dan ini aku sekarang nikah sama laki-laki baik. Dia tahu semuanya. Dan dia sayang banget sama Rayan.”

 

> “Tapi anak itu mirip Chen,” ucap Cindy pelan.

 

 

 

> “Iya. Dan gue nggak bisa bilang nggak,” jawab Popi lirih.

 

 

 

Sitty menatapnya. “Lo masih sayang?”

 

Popi menggeleng. “Enggak. Gue cuma ngerasa bersalah. Gue selalu bilang ke Rayan ayahnya pergi jauh. Tapi ternyata... dia nabrak sendiri di hari ini.”

 

> “Kamu tahu Mira bentar lagi melahirkan, kan?” tanya Cindy hati-hati.

 

 

 

Popi mengangguk. “Dan aku nggak mau merusak. Aku cuma... pengin Rayan tahu dia juga bagian dari dunia ini. Aku capek bohong terus.”

 

Ketiga sahabat itu terdiam. Angin malam meniup lembut daun pohon di atas mereka. Tidak ada yang berkata lagi. Tapi pelukan kecil Cindy di bahu Popi cukup bicara: "Kami tetap di sini."

 

 

---

Rayan Bertanya

 

Di dalam kamar hotel tempat mereka menginap, Rayan sudah mengenakan piyama bermotif bintang. Ia sedang duduk di kasur sambil memainkan boneka domba favoritnya.

 

Popi masuk setelah selesai mencuci muka. Ia menyisir rambut Rayan pelan.

 

> “Ma?” tanya Rayan tiba-tiba.

 

 

 

> “Iya, sayang?”

 

 

 

> “Tadi Om yang nolong aku... dia siapa?”

 

 

 

Popi menelan ludah. “Itu temen Mama waktu dulu.”

 

> “Om Chen ya namanya?” lanjut Rayan polos.

 

 

 

Popi hanya mengangguk.

 

> “Dia mirip aku ya?” tanya Rayan sambil senyum. “Kayak bayangan di kaca.”

 

 

 

Popi mengelus kepalanya. “Kamu ganteng karena kamu adalah kamu. Bukan karena siapa pun.”

 

> “Tapi Om itu baik. Dia tanya aku sakit atau nggak.”

 

 

 

Popi menarik Rayan ke pelukannya. Matanya berkaca.

 

> “Kamu boleh suka sama siapa pun, Ray. Tapi kamu paling boleh suka sama Mama, ya.”

 

 

 

Rayan mengangguk kecil, lalu tertidur di pelukannya.

 

Popi menatap langit-langit kamar hotel. Hatinya sesak. Tapi malam ini, dia tahu satu hal: kebenaran mungkin menyakitkan, tapi diam lebih berbahaya. Dan waktunya sudah dekat—untuk tidak menyimpan lagi semuanya sendiri.

 

Malam sudah larut. Di kamar hotel Popi duduk di sisi ranjang, punggung menghadap suaminya. Lelaki itu, Hengki, baru saja keluar dari kamar mandi.

 

> “Dia tanya tentang Chen,” ucap Popi pelan.

 

> “Rayan?”

 

 

 

Popi mengangguk. “Dan aku... aku nggak tahu harus jawab apa.”

 

Hengki duduk di sebelahnya. “Kamu tahu aku cinta dia seperti anakku sendiri.”

 

> “Iya. Tapi aku takut. Kalau dia tahu... kalau suatu hari dia tahu dan dia ninggalin kita?”

 

 

 

> “Popi,” Hengki memegang bahunya, lembut. “Rayan anak kita. Bukan karena aku ada di akta lahirnya. Tapi karena aku jagain dia sejak kecil. Karena dia manggil aku ‘Ayah’ waktu dia belum bisa bicara dengan jelas.”

 

 

 

Popi menahan air mata. “Tapi kalau dia punya kesempatan kenal ayah biologisnya, apa aku harus larang?”

 

Hengki menatapnya. “Jangan larang. Tapi jangan tinggalin kami juga. Kalau kamu sayang aku... kalau kamu percaya aku... mari kita hadapi ini bareng.”

 

Popi menangis diam-diam di pelukannya. Malam itu mereka tidak tidur cepat. Mereka berpelukan seperti dua orang yang tahu badai akan datang, tapi memilih tetap di tempat yang sama.

 

 

Mira & Popi – Dua Wanita, Satu Kebenaran

 

Mira berdiri di taman kecil hotel tempat mereka menginap. Tangannya memegang gelas kopi yang mulai dingin. Ia tampak tenang, tetapi dari rahangnya yang mengeras, jelas ada badai yang ditahan.

 

Popi datang perlahan, duduk di bangku taman di dekatnya.

 

> “Mira…” suara Popi pelan, seperti menimbang tiap kata.

 

 

 

> Mira tetap menatap ke depan. “Aku cuma mau satu hal, Popi. Kejujuran.”

 

 

 

Popi mengangguk. “Oke. Aku akan cerita semuanya.”

 

Ia menarik napas dalam.

 

> “Waktu aku tahu aku hamil, aku langsung bilang ke Chen. Awalnya dia panik. Tapi waktu itu, dia minta aku gugurin. Katanya… itu bukan waktu yang tepat. Dia belum siap. Dan dia nggak mau kariernya kacau.”

 

 

 

> “Dan kamu nolak?” suara Mira terdengar serak.

 

 

 

> “Iya. Aku nggak sanggup. Itu anakku juga… darahku. Dan aku pikir dia bakal berubah pikiran. Tapi ternyata dia malah makin dingin. Seminggu kemudian dia resign dari kantor. Tanpa pamit. Tiba-tiba hilang.”

 

 

 

> Mira menoleh, matanya berkaca. “Dan setelah itu, dia nikah sama aku.”

 

 

 

Popi mengangguk pelan. “Iya. Waktu aku tahu dia nikah, aku cuma bisa nangis. Tapi aku pikir… ya sudah. Mungkin itu jalannya. Aku juga nggak mau maksa.”

 

> “Tapi dia tahu kamu tetap hamil?” tanya Mira, perlahan, seperti menguji batas hatinya.

 

 

 

> “Tahu. Aku kirim pesan, kasih tahu. Tapi dia nggak pernah bales. Nggak sekalipun. Sejak itu… aku berhenti berharap.”

 

 

 

Mira menatap Popi dalam-dalam. Matanya tak lagi marah, tapi penuh luka.

 

> “Berarti selama ini aku hidup dengan lelaki yang lari dari tanggung jawabnya sendiri…”

 

 

 

Popi buru-buru menggeleng. “Aku nggak datang buat ngerusak rumah tangga kamu, Mir. Aku cuma mau Rayan tahu siapa ayah kandungnya. Bukan buat ngerebut Chen. Aku… aku bahkan nggak tahu harus berharap apa lagi darinya.”

 

> Mira berdiri, lalu menoleh pelan. “Aku butuh waktu. Tapi terima kasih sudah jujur.”

 

 

 

Popi hanya bisa menunduk. Di antara mereka, angin sore membawa aroma danau yang lembab—dan rahasia yang tak bisa ditarik kembali.

 

 

 

Kamar hotel mereka sunyi. Tirai tertutup, hanya cahaya lampu meja yang membuat ruangan temaram. Chen baru selesai mandi, mengenakan kaos putih dan celana pendek. Ia menggosok rambutnya dengan handuk kecil, lalu berhenti saat melihat Mira berdiri di ambang balkon, diam seperti patung.

 

> “Sayang?” panggil Chen pelan.

 

 

 

Mira berbalik. Wajahnya tenang, tapi matanya merah.

 

> “Kamu tahu Popi hamil waktu itu?”

 

 

 

Chen terdiam sejenak, menurunkan handuk perlahan. “Mira…”

 

> “JAWAB!” suara Mira naik, membuat Chen terperanjat.

 

 

 

> “Iya. Aku tahu.”

 

 

 

> “Dan kamu suruh dia gugurin?”

 

 

 

Chen menatap lantai. “Aku panik, Mir. Waktu itu aku belum siap. Semuanya ribet. Karierku, masa depan kita…”

 

> “Tapi kamu juga tahu dia nggak gugurin. Dan kamu tetap pergi. Tetap nikah sama aku. Kamu pikir aku apa? Pelarian?”

 

 

 

> “Enggak! Mira, kamu cinta pertamaku. Kamu tahu itu. Aku pacaran dengan Popi cuma buat hiburan kalau kamu lagi dinas ke pulau-pulau, maafin aku Mir." 

 

Mendekat dan ingin memeluk Mira... 

Namun Mira menepis tangan Chen

 

> “Tapi kamu juga ayah Rayan! Kamu tahu dia hidup tapi kamu pura-pura nggak pernah ada! Kamu tahu berapa luka yang kamu tinggalin ke anak itu?”

 

 

 

Chen menghela napas, frustrasi. “Aku takut. Kalau aku datang ke Popi, kamu bakal ninggalin aku.”

 

> “Jadi kamu pilih bungkam. Dan bohong. Dan nikahin aku seolah kamu suci-suci aja!”

 

 

 

> “Aku nggak bohong soal cinta kita, Mira.”

 

 

 

Mira mendekat, matanya berkaca-kaca. Ia menampar dada Chen keras.

 

> “Anak ini di dalam perutku butuh figur ayah yang jujur. Dan kamu gagal. Kamu gagal jadi manusia!”

 

 

 

Chen terdiam. Napasnya berat.

 

> “Aku harus bagaimana sekarang?” bisiknya.

 

 

 

Mira mundur. “Mulai dengan jadi ayah yang baik buat Rayan. Dan jangan harap aku bisa percaya lagi sebelum kamu minta maaf ke anak itu dan ibunya.”

 

Ia masuk ke kamar mandi, menutup pintu keras. Chen terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari kekacauan yang ia ciptakan.

 

Pertemuan yang Tak Terhindarkan

 

Di bawah pohon ketapang besar dekat taman resort, Popi duduk di bangku panjang sambil membantu Rayan membuka bungkus es krim. Senyum kecil di wajah anak itu membuat segalanya terasa normal, meski perut Popi terasa penuh sesak.

 

Langkah berat terdengar mendekat. Popi menoleh. Chen berdiri di sana. Matanya sembab. Di belakangnya, Mira menunggu dalam jarak aman.

 

Rayan memandangi pria itu dengan rasa penasaran.

 

> “Halo, Rayan...” ucap Chen pelan, menunduk di depan anak itu.

 

 

 

> “Om yang waktu itu ya?” tanya Rayan polos.

 

 

 

Chen menatap Popi sejenak, lalu kembali menoleh ke Rayan.

 

> “Om... kenal mama kamu. Dulu. Dan Om... sebenarnya Om ayah kamu.”

 

 

 

Rayan hanya berkedip. Belum mengerti sepenuhnya, tapi mulai merasa sesuatu yang besar sedang terjadi.

 

Popi menarik napas dalam. “Rayan, ini papa kandung kamu.”

 

Rayan perlahan menoleh ke ibunya, lalu ke Chen. “Kenapa papa nggak pernah datang?”

 

Pertanyaan itu menghantam Chen lebih keras dari tamparan manapun.

 

> “Papa takut, Nak. Papa pengecut. Tapi sekarang Papa mau berubah. Papa minta maaf. Karena Papa sudah lama salah.”

 

 

 

Popi menggigit bibir bawahnya, menahan air mata.

 

Chen menatap Popi dengan sungguh-sungguh.

 

> “Aku tahu ini terlambat. Tapi kalau kamu izinkan… aku mau jadi bagian dari hidup Rayan. Aku mau dia tahu siapa ayah kandungnya. Aku mau bawa dia beberapa hari, ajak kenalan sama keluargaku. Aku nggak mau dia tumbuh tanpa tahu siapa dirinya.”

 

 

 

Sebelum Popi bisa menjawab, suara berat memotong.

 

> “Kamu baru ingat jadi ayah sekarang?” Hengki datang dari arah parkiran, langsung berdiri di antara Chen dan anaknya.

 

 

 

Popi bangkit reflek. "Mas Hengki—”

 

> “Aku udah sabar cukup lama,” kata Hengki, menahan emosinya. “Aku yang temani Popi hamil, aku yang dampingi lahiran, aku yang bangunin malam-malam kalau Rayan mimpi buruk.”

 

 

 

Chen menunduk. “Aku tahu. Dan aku berterima kasih.”

 

> “Tapi jangan mimpi kamu bisa seenaknya datang, lalu bawa anak ini pergi.”

 

 

 

Chen mendekat, tapi Hengki menahan dadanya dengan satu tangan. “Aku nggak akan larang kamu ketemu. Tapi jangan pernah pikir kamu bisa ambil dia dari kami.”

 

Popi memegang lengan Hengki, pelan. “Mas tenang Mas...”

 

Chen menatap keduanya, lelah dan sadar.

 

> “Aku cuma minta waktu. Biar dia kenal aku. Aku nggak akan paksa. Tapi tolong... izinkan aku jadi ayahnya. Meskipun bukan di Kartu Keluarga.”

 

 

 

Hengki menatap Chen lama, kemudian Rayan.

 

> “Kalau kamu benar-benar mau jadi ayah, jangan mulai dengan rebutan. Mulai dengan hadir. Konsisten. Kalau kamu bisa jaga kata-katamu, kita lihat nanti.”

 

 

 

Chen mengangguk perlahan. Ia jongkok kembali di depan Rayan.

 

> “Papa minta maaf, Nak. Boleh papa main sama kamu besok?”

 

 

 

Rayan mengangguk pelan, lalu mendekat ke ibunya. Popi memeluknya, hangat tapi gamang.

 

Mira yang menyaksikan dari kejauhan, meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya, ia melihat Chen sebagai seseorang yang benar-benar berusaha menjadi dewasa.

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Snow White Reborn
735      466     6     
Short Story
Cover By : Suputri21 *** Konyol tapi nyata. Hanya karena tertimpa sebuah apel, Faylen Fanitama Dirga mengalami amnesia. Anehnya, hanya memori tentang Rafaza Putra Adam—lelaki yang mengaku sebagai tunangannya yang Faylen lupakan. Tak hanya itu, keanehan lainnya juga Faylen alami. Sosok wanita misterius dengan wajah mengerikan selalu menghantuinya terutama ketika dia melihat pantulannya di ce...
Memorabillia: Setsu Naku Naru
7933      2349     5     
Romance
Seorang laki-laki yang kehilangan dirinya sendiri dan seorang perempuan yang tengah berjuang melawan depresi, mereka menapaki kembali kenangan di masa lalu yang penuh penyesalan untuk menyembuhkan diri masing-masing.
Surat Kaleng Thalea
4817      1546     2     
Romance
Manusia tidak dapat menuai Cinta sampai Dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan. -Kahlil Gibran-
In Your Own Sweet Way
546      409     3     
Short Story
Jazz. Love. Passion. Those used to be his main purpose in life, until an event turned his life upside down. Can he find his way back from the grief that haunts him daily?
Semu, Nawasena
13562      4403     4     
Romance
"Kita sama-sama mendambakan nawasena, masa depan yang cerah bagaikan senyuman mentari di hamparan bagasfora. Namun, si semu datang bak gerbang besar berduri, dan menjadi penghalang kebahagiaan di antara kita." Manusia adalah makhluk keji, bahkan lebih mengerikan daripada iblis. Memakan bangkai saudaranya sendiri bukanlah hal asing lagi bagi mereka. Mungkin sudah menjadi makanan favoritnya? ...
Give Up? No!
593      415     0     
Short Story
you were given this life because you were strong enough to live it.
Transformers
328      276     0     
Romance
Berubah untuk menjadi yang terbaik di mata orang tercinta, atau menjadi yang selamat dari berbagai masalah?
Too Sassy For You
1797      903     4     
Fantasy
Sebuah kejadian di pub membuat Nabila ditarik ke masa depan dan terlibat skandal sengan artis yang sedang berada pada puncak kariernya. Sebenarnya apa alasan yang membuat Adilla ditarik ke masa depan? Apakah semua ini berhubungan dengan kematian ayahnya?
Jalan Menuju Braga
1963      1278     4     
Romance
Berly rasa, kehidupannya baik-baik saja saat itu. Tentunya itu sebelum ia harus merasakan pahitnya kehilangan dan membuat hidupnya berubah. Hal-hal yang selalu ia dapatkan, tak bisa lagi ia genggam. Hal-hal yang sejalan dengannya, bahkan menyakitinya tanpa ragu. Segala hal yang terjadi dalam hidupnya, membuat Berly menutup mata akan perasaannya, termasuk pada Jhagad Braga Utama--Kakak kelasnya...
Premium
RARANDREW
20509      4559     50     
Romance
Ayolah Rara ... berjalan kaki tidak akan membunuh dirimu melainkan membunuh kemalasan dan keangkuhanmu di atas mobil. Tapi rupanya suasana berandalan yang membuatku malas seribu alasan dengan canda dan godaannya yang menjengkelkan hati. Satu belokan lagi setelah melewati Stasiun Kereta Api. Diriku memperhatikan orang-orang yang berjalan berdua dengan pasangannya. Sedikit membuatku iri sekali. Me...