Setelah malam di resort mutiara Popi dan Chen menjadi pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Semua orang di kantor tahu, kalau keduanya selalu datang dan pulang bersama. Kadang naik motor bareng, kadang bergandengan tangan sambil tertawa di parkiran. Tapi hanya mereka berdua yang tahu seberapa liarnya cinta itu ketika tidak ada yang melihat.
“Popiiiii…” Chen sering memanggil namanya dengan suara manja yang terdengar lebih seperti godaan daripada sapaan.
Popi tertawa, “Apa sih, ganggu mulu. Aku lagi kerja.”
“Tapi kamu lucu banget pake kacamata. Seksi.”
“Chen, jangan ganggu…,” bisik Popi, tapi senyum di bibirnya tak bisa disembunyikan.
Setiap waktu istirahat, mereka akan kabur ke mobil Chen yang terparkir agak jauh di basement. Di dalamnya, bukan hanya sekadar ngobrol. Terkadang mereka berciuman panas, bercinta, tertawa, berpelukan seolah dunia cuma milik mereka.
“Aku suka kamu kayak gini… berani,” bisik Chen, jarinya menyapu pipi Popi.
“Kamu juga. Tapi jangan sampai ketahuan ya,” ucap Popi dengan napas berat.
Keduanya sama-sama tahu hubungan itu terlalu cepat, terlalu dalam, dan terlalu... berani.
Setiap akhir pekan, mereka akan “liburan mendadak”. Ke Bandung, Jogja, atau bahkan sekadar staycation di resort murah di kota.
Resort itu sunyi malam-malam begini. Hanya suara laut menghantam batu karang dari kejauhan, diselingi desis angin yang menyelinap lewat jendela kamar suite ber-AC.
Popi terbaring di ranjang, rambutnya menjuntai kusut di bantal putih. Napasnya masih memburu. Seprai tergulung tak rapi di pinggangnya. Ia melirik Chen yang duduk di sisi ranjang, merokok dalam diam, hanya mengenakan celana boxer.
“Jangan ngerokok di kamar,” katanya manja sambil menarik tangan Chen agar kembali berbaring.
Chen mematikan rokoknya di asbak kaca dan memandang Popi, senyum tipis mengambang di wajahnya. Ia lalu menunduk, mencium kening gadis itu pelan.
“Besok kamu libur kerja, kan?” tanya Chen, tangannya kembali membelai pinggang Popi.
Popi mengangguk, tersenyum puas. “Kita ke pantai lagi?”
“Kalau kamu masih bisa jalan.” Ia terkekeh rendah, mencium lehernya.
Popi tertawa geli, menepuk dadanya. “Brengsek.”
Chen memandangnya lekat-lekat. “Tapi kamu suka, kan?”
Popi mengangguk, lalu memejamkan mata. “Suka…”
Tapi saat ia tertidur, Chen tetap terjaga. Ia mengambil ponsel dari saku jaketnya yang tergantung di kursi, membuka aplikasi pesan rahasia, dan mengetik:
> “Mira, aku kangen. Flight kamu balik hari apa?”
Layar menyala menunjukkan notifikasi: Typing…
Chen menoleh pada Popi yang lelap, lalu bangkit dari ranjang, berjalan ke balkon sambil menyalakan rokok yang lain. Hatinya kosong. Tapi tubuhnya masih menyimpan jejak panas malam ini.
—
Beberapa Hari Kemudian
Saat Mira kembali dari perjalanan dinasnya, Chen berubah. Ia mulai sulit dihubungi. Pesan Popi cuma dibaca, tanpa balasan. Dan saat akhirnya bertemu, Chen hanya tersenyum datar, memeluk singkat, tanpa sentuhan lembut seperti biasa.
“Kamu kenapa?” tanya Popi, mencoba menggenggam tangannya di mobil.
Chen menarik tangannya pelan. “Lagi capek aja, banyak kerjaan.”
Popi diam. Ia ingin protes, tapi tak berani. Maka ia hanya tersenyum, pura-pura mengerti.
Padahal malam sebelumnya, mereka masih begitu liar, bernafsu, seolah dunia hanya milik berdua.
Popi tak tahu, bahwa cintanya sedang digunakan. Bahwa tubuhnya mungkin dimiliki, tapi hatinya tidak pernah benar-benar dijemput.
Dan Chen tahu… selama Popi percaya, ia tak perlu repot memberi penjelasan.
---
Beberapa bulan kemudian
Malam itu diwarnai musik dari playlist Popi—lagu-lagu indie yang lirih, anggur merah, dan tubuh-tubuh yang saling mencari kehangatan. Mereka merasa seperti pasangan pemberontak yang tidak peduli aturan. Dunia luar tak penting, selama mereka bisa bersama.
“Kalau aku hamil gimana?” tanya Popi dengan nada serius
Popi yang sedang bersandar di dadanya, menjawab pelan, “jangan sampailah, emang kamu mau?”
“Nggak sih… tapi kita kan nggak pernah pake… apa-apa.”
Chen hanya diam.
Popi juga tahu risiko, tapi saat bersama Chen, logika sering mati. Yang hidup hanya emosi, dan rasa ingin dimiliki seutuhnya.
Beberapa minggu kemudian, Popi merasakan sesuatu yang aneh. Mual di pagi hari, lelah berlebihan, dan telat datang bulan. Awalnya ia mengabaikan. Tapi firasatnya kuat.
Tespack itu—dua garis. Jelas.
Popi berdiri lama di depan kaca kamar mandi hotel tempat mereka menginap minggu lalu. Matanya berkaca-kaca.
Saat ia mengabari Chen, ia berharap ada pelukan hangat, atau bahkan air mata haru.
Popi menatap ponselnya lama, menanti pesan balasan yang tak pernah datang. Semua kenangan mereka: ciuman di parkiran, cekikikan di balik jaket motor, pelukan di balik pintu hotel, mendadak jadi bayangan gelap. Hati Popi hancur berkeping-keping.
Cinta liar yang membara itu berubah jadi abu dalam satu siang.
Sampai satu pesan masuk "Kita ketemu nanti sore di Cafe biasa" Pesan WA dari chen
Di sebuah kafe sederhana, Chen duduk gelisah, menatap Popi yang datang dengan perasaan tak tenang. Wajahnya dingin, penuh ketegangan.
“Popi… kita harus bicara serius,” ucap Chen tanpa menatap matanya.
“Ada apa?” Popi bertanya pelan, merasakan firasat buruk.
“Maaf… kita harus putus.”
Popi terdiam, napasnya tercekat. “Kenapa, Chen?”
“Kakakku melarang hubungan kita. Katanya kamu bukan pasangan yang tepat.”
Popi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya—sebuah tespack dengan dua garis merah yang jelas.
“tapi Aku hamil, Chen,” ucapnya, suaranya bergetar.
Chen menegang. Ia menatap alat itu lalu kembali menatap Popi, ekspresinya tak berubah, malah lebih dingin.
“Gugurkan itu. Aku belum siap punya anak. Aku belum ingin menikah. Dan meskipun aku mau… bukan sama kamu.”
Popi menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Anak ini… darah dagingmu, Chen.”
“Aku gak mau tanggung jawab,” balas Chen tajam. “Mana bisa aku percaya kalau itu anakku?”
Popi gemetar. “Aku cuma pernah tidur dengan kamu… gak ada orang lain.”
“Siapa yang tahu? Kamu bisa aja bohong,” balas Chen dengan kejam.
Plak!
Tamparan Popi mendarat di pipi Chen. Suaranya keras dan jelas.
“Kamu jahat, Chen. Tapi aku gak bakal gugurin anak ini. Aku akan merawatnya… walau dia gak punya ayah.”
Popi berdiri dan pergi, meninggalkan Chen yang hanya diam, menatap kosong ke depan. Mungkin ada sedikit rasa bersalah, tapi egonya terlalu besar untuk mengakuinya.
---
Besok hari Chen resign .. Dan datang kabar mengejutkan beberapa minggu kemudian
“Guys, Chen kirim undangan nikah… tapi bukan sama Popi,” kata Stella sambil menunjukan undangan digital di ponselnya. Di layar, tertulis: Chen & Mira – Los Angeles, California.
Semua terdiam. Bahkan Sitty yang biasanya cerewet tak mengucapkan sepatah kata pun.
Sebelum hari itu Popi menghilang tanpa kabar dan pesan..
Kini ia hanya sendiri.
Dan bayi di rahimnya adalah satu-satunya bukti bahwa cinta itu pernah nyata—meskipun akhirnya dihancurkan oleh ketakutan dan pengecutnya seorang pria.
Popi menghilang dari kehidupan mereka. Tanpa pamit, ia resign dari kantor. Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang hamil, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.
Ia menyewa kontrakan kecil di sebuah desa tenang di Jawa Tengah, jauh dari hingar-bingar kota.
“Bu, suaminya kerja di mana?” tanya ibu kontrakan yang ramah.
Popi tersenyum samar, matanya berkaca-kaca. “Suami saya… meninggal, Bu. Kecelakaan mobil. Kami baru saja pulang dari bulan madu.”
Wanita tua itu mengelus pundaknya, penuh empati. “Sabar ya, Nak. Semoga kamu dapat pengganti yang lebih baik.”
Popi hanya mengangguk, menahan isak tangis. Bohong itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan harga dirinya.
---
Waktu berlalu. Bayi mungil itu lahir dengan sehat. Laki-laki. Popi memberinya nama Rayan—yang artinya ‘pintu surga’.
Di tengah perjuangan sebagai ibu tunggal, hadir seorang pria baik hati: Hengki Suseno, anak ibu pemilik kontrakan. Beda beberapa tahun, tapi sikapnya dewasa dan penuh tanggung jawab.
“Aku tahu kamu punya masa lalu, Popi. Tapi aku ingin jadi masa depanmu,” katanya suatu malam di beranda rumah.
Popi menangis dalam pelukannya.
---
Hari itu, langit sedikit mendung tapi hati Popi justru cerah. Di sebuah musala kecil, akad nikah berlangsung sederhana namun sakral.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Hengki Suseno, dengan Popi Aulia binti Suroso, dengan mas kawin berupa cincin emas seberat 5 gram, dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Popi Aulia binti Suroso dengan mas kawin tersebut.”
Penghulu menatap saksi. “Bagaimana, sah?”
“Sah,” jawab para saksi bersamaan.
Tangis haru mengalir di pipi Popi. Ia bukan lagi wanita yang ditinggalkan dan dipermainkan. Kini ia adalah istri dari lelaki yang mencintainya dan ibu dari seorang anak yang akan ia lindungi dengan segenap hati.
Dan di luar musala, angin berembus pelan, seolah ikut menyampaikan doa:
Semoga luka lama benar-benar telah tertutup.
Dan bahagia, akhirnya menemukan jalannya.
Beberapa Bulan Sebelumnya
Hujan turun perlahan di atas atap seng kontrakan kecil itu. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi teh hangat yang baru saja diseduh Popi. Ia duduk di kursi kayu dengan bantal usang, memandangi perutnya yang mulai membesar.
Hengki duduk di seberangnya. Pria itu bukan tipe yang banyak bicara, tapi selalu hadir tepat di saat Popi membutuhkannya. Malam itu, ia datang membawa semangkuk sup hangat dan sebungkus roti kesukaan Popi dari pasar sore.
Tapi Popi tidak menyentuh makanannya. Wajahnya muram, matanya berkaca-kaca. Ada satu hal yang selama ini ia simpan, dan kini ia merasa waktunya telah tiba untuk mengatakannya.
> “Mas Hengki…” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh rintik hujan.
> “Iya?” jawab Hengki lembut.
> “Apa kamu gak malu… menikahi wanita yang akan punya anak dari laki-laki lain?” katanya lirih, nyaris seperti bisikan.
Hengki tidak langsung menjawab. Ia menatap Popi, lalu menatap perutnya yang sedang ia kandung. Dengan tenang, ia menghela napas, kemudian berkata:
> “Popi… aku gak menikahimu karena kamu sempurna. Aku menikahimu karena kamu kuat. Karena kamu berani menghadapi hidup, walaupun banyak orang kabur. Aku terima kamu apa adanya, bukan karena ada apanya.”
Popi menggigit bibir bawahnya. Air mata mulai tumpah tanpa bisa ditahan.
> “Tapi aku mau jujur, Mas…” katanya sambil mengusap matanya. “Ayah dari anak ini… dia masih hidup. Dia bukan orang yang sudah mati seperti yang aku bilang ke orang-orang.”
Hengki tetap diam, mendengarkan dengan sabar.
> “Dia menghamili aku… lalu menikah dengan wanita lain. Sekarang dia tinggal di Amerika. Dia bahkan menyuruh aku menggugurkan anak ini.” Suaranya gemetar. “Aku gak mau bawa luka ini ke dalam hidup kamu.”
Hengki berdiri, lalu berjalan perlahan ke arah Popi. Ia berlutut di hadapannya. Tangannya terulur, mengusap lembut perut Popi yang membulat.
> “Itu masa lalu kamu, Popi,” katanya lembut. “Aku gak peduli siapa ayah biologisnya. Yang aku tahu, anak ini akan lahir dan jadi bagian dari hidup kita. Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri. Seperti darah dagingku.”
Popi menangis makin keras. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Hengki.
> “Terima kasih, Mas… Aku gak pernah nyangka ada orang seperti kamu di dunia ini…”
> “Dan kamu gak sendiri, Pi. Mulai sekarang, kamu gak akan pernah sendiri lagi.”
---
Malam itu, Popi tidur dengan tenang untuk pertama setelah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah. Di luar, hujan masih turun, seolah ikut membersihkan luka-luka lama yang akhirnya bisa ia lepaskan.
---
choujie







