Malam pun turun perlahan, membawa semilir angin dari pantai dan gemerlap lampu-lampu kecil di area resort. Suasana berubah dari riuhnya pasir dan ombak menjadi hangat dan meriah di ruangan karaoke yang sudah disiapkan.
Musik mulai terdengar dari balik pintu ruangan, dentuman lagu-lagu 2000-an memecah tawa dan sorak mereka yang sudah berkumpul. Steven dan Dandi sibuk memesan minuman dan camilan, sementara Sitty dan Popi sibuk memilih lagu.
Ruangan karaoke itu ramai dan penuh warna. Lampu-lampu disko mini memantul ke wajah-wajah ceria. Dandi sudah bernyanyi dengan semangat bersama Chen, membawakan lagu "Separuh Aku" meski suaranya sumbang. Semua tertawa.
"Next! Cindy, kamu nyanyi ya!" seru Steven dari belakang, mengangkat gelas plastik berisi soda.
"Sebentar! Aku mau jemput Christian dulu," sahut Cindy sambil tersenyum. Ia keluar ruangan dan berdiri di depan pintu resort.
Cindy mengenakan dress santai dan jaket tipis. Ia mengambil ponselnya, menatap layar sebentar, lalu tersenyum. Ia mengetik pesan cepat
"Di room 10" Balasnya singkat
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti perlahan di depan lobi.
Christian turun, mengenakan kemeja dongker dan celana jeans cream. Cahaya lampu membuat wajahnya terlihat lembut, matanya bersinar tenang seperti biasa.
"Kamu beneran datang," kata Cindy dengan nada sedikit terkejut tapi senang.
"Kamu bilang seru, masa aku gak coba?" jawab Christian santai.
"Ayo masuk, tapi jangan kaget yah... mereka sedikit gila kalau sudah pegang mic," canda Cindy.
Christian tertawa pelan. "Aku suka karaoke kok... asal gak disuruh nyanyi dangdut."
---
Begitu mereka masuk, ruangan langsung heboh.
"Christian...!" teriak Dandi.
Cindy mendorong pelan bahu Christian agar lebih masuk ke tengah ruangan.
"Lama gak ketemu, makin tampan aja mas Christian ini" goda Popi.
Cindy hanya tersenyum simpul, pura-pura tak dengar. Stella melirik penuh rasa ingin tahu. Winna terlihat memalingkan muka.
"Lama gak ketemu bro.." Sapa Steven.. Christian, kamu bisa nyanyi kan? " tanya Steven.
"Ya... bisa lah dikit-dikit," jawab Christian sambil duduk di samping Cindy.
Chen langsung menyodorkan mic. "Buktikan. Lagu bebas, asal jangan bikin kita tidur."
Cindy terkekeh. "Nyanyi aja lagu lama yang kamu suka."
Christian membuka daftar lagu, dan tak lama memilih sebuah lagu mellow lawas. Suaranya tenang tapi dalam. Semua mendadak diam, fokus mendengar. Bahkan Winna menoleh sebentar, diam-diam mengakui kalau suara Christian memang enak didengar.
---
Setelah lagu selesai, semua bertepuk tangan.
"Wah, harus sering-sering datang nih," kata Sitty.
"Betul, ganteng dan bisa nyanyi. Bahaya nih buat cowok-cowok di sini," timpal Stella sambil melirik Chen dan Dandi yang pura-pura cemberut.
Christian hanya tertawa kecil.
Saat semua kembali ribut memilih lagu berikutnya, Cindy membisik pelan ke Christian.
"Setelah ini... mau gak aku kenalin sama teman Aku? "
Christian menoleh, matanya lembut. "Boleh.."
Malam mulai larut. Ombak memecah pelan di bibir pantai, menemani gelak tawa mereka yang baru saja menyelesaikan sesi karaoke bareng. Angin malam menyentuh kulit, membawa aroma laut yang menyegarkan.
Christian menoleh ke arah Stella. Tatapannya teduh, senyumnya kecil namun penuh makna.
> “Mau menikmati malam, lihat bintang sama aku nggak?” tanya Christian.
Stella tersenyum. Ada sesuatu dalam tatapan Christian yang membuatnya ingin lebih lama berada di samping pria itu. Mungkin rasa penasaran.
> “Boleh juga. Kalau gitu aku pamit ke mereka dulu, ya.”
Ia berjalan ke arah kelompok, lalu berkata dengan suara ringan, “Teman-teman, aku duluan ya.”
Ia mendekati Cindy dan menepuk pundaknya, “Makasih ya, aku mau jalan sama Christian dulu.”
Cindy mengangguk. “Oke, hati-hati.”
Steven ikut berdiri, menggandeng kekasihnya. “Aku juga duluan ya, ada tujuan lain.” Mereka berdua segera menjauh, tertawa kecil sambil bergandengan tangan.
Chen tak mau ketinggalan. Ia berdiri dan merangkul Popi dengan lembut. “Kita juga duluan, ya.”
Sitty langsung berseru, “Ciee yang punya pasangan. Apa kabar Jomblo menahun?” tawanya menggema, membuat yang lain ikut tertawa.
Cindy mengerucutkan bibir. “Ciee yang LDR-an juga. Yuk balik, aku ngantuk banget.”
“Yuk,” jawab Sitty sambil menggandeng lengan Cindy.
Suara tawa masih terdengar samar dari kejauhan, tapi suasana di pantai terasa tenang. Mereka berjalan berdampingan, kaki menyentuh pasir dingin yang basah oleh sisa ombak.
Stella memeluk tubuhnya sendiri, bukan karena dingin, tapi karena gugup yang tak ia mengerti.
Christian berjalan pelan di sampingnya, tangan dimasukkan ke saku hoodie-nya.
“Aku kira kamu nggak suka pantai,” kata Stella membuka obrolan, suaranya nyaris kalah oleh angin.
Christian tersenyum kecil. “Tempat kayak gini bikin kepala lebih ringan.”
“Capek ya, jadi orang yang selalu terlihat tenang?” tanya Stella, separuh bercanda, separuh serius.
Christian melirik ke arahnya. “Kamu juga kayaknya tipe yang banyak mikir, tapi diem-diem.”
Stella tertawa tipis. “Keliatan banget ya?”
“Dari cara kamu jalan. Kayak lagi menghindar dari sesuatu.”
Stella menoleh, heran. “Wow. Kamu pembaca gerak tubuh?”
“Nggak,” jawab Christian cepat. “Cuma pernah ngalamin.”
Stella menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Aku lagi belajar jalan tanpa merasa dikejar… oleh pikiran sendiri.”
Christian berhenti, menatap langit sebentar, lalu Stella. “Nggak apa-apa. Kadang satu langkah kecil pun udah cukup buat bilang ke diri sendiri, ‘Aku nggak nyerah.’”
Stella membalas tatapan itu, tak sepenuhnya paham mengapa kalimat itu terasa... menyentuh.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Christian, mencoba mencairkan suasana, “kita ini baru kenal, tapi udah ngomongin hidup. Nggak mau perkenalan dulu?”
Stella tertawa. “Stella. Bukan nama asli, tapi nama yang aku pilih sendiri.”
Christian mengangguk. “Christian. Nama asli, tapi sering dipanggil dengan versi yang lebih pendek: mas.”
Stella terkekeh, lalu menyenggol bahunya pelan. “Ih, garing.”
Christian tertawa. “Ya kan lagi usaha biar nggak terlalu serius.”
Mereka berjalan lagi dalam diam, sampai Stella secara tak sengaja menyentuh tangan Christian. Refleks, keduanya menarik tangan mereka dan menoleh bersamaan. Wajah mereka sama-sama merah.
“Eh, maaf... aku nggak sengaja,” ucap Stella cepat.
Christian buru-buru menggeleng. “Enggak, enggak… aku juga tadi... salah jalur.”
Mereka tertawa, kikuk tapi hangat. Udara malam makin sejuk, tapi suasana di antara mereka mulai terasa lebih ringan.
Christian bersandar sebentar di tiang bendera kayu dekat situ, lalu berkata pelan, “Yah, ini mungkin kencan pertama paling canggung yang pernah aku alami.”
Stella tersenyum lebar. “Bagus. Berarti kita bisa mulai dari canggung, biar gak perlu sok sempurna.”
Christian mengangguk. “Setuju. Karena biasanya yang sok sempurna… cepat bubarnya.”
---
Malam di Resort
Pov Popi dan Chen
Beberapa meter dari keramaian, Popi dan Chen menyusuri jalan setapak menuju resort. Cahaya lampu taman menciptakan bayangan panjang mereka di tanah berpasir. Angin laut malam itu hangat dan pelan-pelan membuat Popi menggigil pelan—bukan karena dingin, tapi karena degup jantungnya sendiri.
> “Kita mau ke mana?” tanya Popi sambil menoleh ke arah Chen. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara ombak.
Chen meliriknya sambil tersenyum. “Balik ke resort. Aku udah pesan satu kamar. Malam ini, aku cuma pengen sama kamu. Nggak ada yang ganggu.”
Ia menyodorkan sekaleng soft drink dingin ke tangan Popi. “Nih, minum dulu. Biar rileks.”
Popi tersenyum sambil menerimanya. “Makasih.” Ia meneguk pelan, matanya tak lepas dari Chen.
Langkah mereka melambat. Hanya suara semilir dedaunan dan detak jantung yang terasa di telinga masing-masing. Ketika mereka tiba di depan pintu kamar resort, Chen menggenggam tangan Popi.
“Aku sayang kamu, Pop,” bisiknya.
Popi menatapnya lama. “Aku juga sayang kamu.”
---
Di Dalam Kamar Resort
Tirai jendela dibiarkan terbuka, membiarkan sinar bulan masuk dan menyinari ruangan remang. Di sofa, Chen dan Popi duduk berdekatan. Jarak yang awalnya aman perlahan-lahan menguap, digantikan oleh genggaman tangan, sentuhan lembut di rambut, dan pelukan yang makin erat.
Tanpa kata. Tanpa paksaan.
Popi memejamkan mata saat Chen mencium keningnya. Malam ini, hatinya memilih untuk berhenti berpikir. Ia hanya ingin percaya pada sentuhan ini, pelukan ini, dan kenyataan bahwa—setidaknya malam ini—Chen adalah miliknya.
---
---
Waktu menunjukkan pukul 2.00 dini hari.
Cindy duduk gelisah di ranjang, memandangi ponselnya. “Kok Popi belum balik, ya?” gumamnya khawatir.
Sitty menjawab dari tempat tidurnya, “Biarin aja, dia kan tadi jalan sama Chen.”
“Tapi... biasanya dia ngabarin. Aku khawatir,” kata Cindy.
Sitty menoleh malas. “Popi udah dewasa. Dia tahu mana yang baik dan buruk. Udahlah, tidur. Besok juga ketemu.”
Cindy berusaha mengangguk, tapi pikirannya tak tenang. Ia menarik selimut, tapi matanya tetap terbuka, menatap langit-langit. “Semoga kamu nggak kenapa-kenapa, Pi…”
---
Pagi menjelang. Jam menunjukkan pukul 07.00.
Popi terbangun dalam selimut tebal. Cahaya pagi menyelinap dari balik gorden. Untuk sesaat, Popi tersenyum kecil.
"Selamat Pagi"
Chen duduk di kursi, santai. “Selamat pagi. Kamu tidur nyenyak sekali tadi malam."
"Aku senang kita bisa gini terus"
"Sitty dan Cindy pasti nyariin kamu tuh"
Kemudian seketika dia tersadar "Astaga aku lupa ngasih kabar ke mereka" Popi buru-buru memakai bajunya dan balik ke kamar
Sesampainya di kamar...
> “Popi! Kamu ke mana aja? Cindy panik, dia nggak tidur semalaman!” seru Sitty.
Popi menggaruk kepalanya sambil tertawa kaku. “Semalam... aku tidur di tempatnya Chen"
Cindy menatapnya lama. Tak berkata apapun.
> “Kamu dibohongi lagi Pi…” gumam Cindy dalam hati.
> “Ah sudahlah, yuk turun sarapan,” kata Cindy akhirnya.
---
Sambil sarapan, Dandi mengumumkan, “Hari ini terakhir, jam lima sore kita harus balik. Gunakan waktumu sebaik-baiknya!”
Cindy menyenggol Steven, lalu berbisik, “Kak, kamu sekamar lagi sama Rolina, ya?”
Steven mencubit hidungnya. “Ngapain kamu kepo?”
Winna ikut menimpali, “Semalam ada yang nggak pulang loh... siapa ya?”
Popi tercekat. “Kok dia tahu aku?” gumamnya dalam hati.
Stella langsung menjawab, “Maaf, Win. Aku nginap di tempat Christian semalam.”
Popi menghela napas pelan. “Syukurlah... bukan aku yang disorot.”
Dandi ikut menambahkan, “Kamarku juga ada yang nggak pulang, loh...”
Chen berdiri cepat, menepuk tangan. “Hei, hei! Ayo kita bersenang-senang!” serunya, lalu menggandeng tangan Popi dan menariknya keluar.
---
Di luar...
> “Chen... aku mau bilang sesuatu. Tentang kejadian semalam...”
Chen menoleh sekilas. “Aku tahu, kok. Tenang aja.”
> “Tapi gimana kalau terjadi apa-apa?”
Chen menghentikan langkahnya. Tatapannya berubah datar. “Jangan sok suci. Kamu pernah melakukannya sebelumnya, kan?” gumamnya dalam hati.
> “Semua akan baik-baik aja,” katanya sambil tersenyum tipis.
Popi mencoba berkata lagi, tapi Chen memotong.
> “Nanti kita lakukan lagi.”
Chen mendekat, menatapnya. “kita cuma melakukan hal yang dilakukan pasangan pada umumnya.”
---
choujie








