Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Manis Saat Sepi

 

“Sayang, kamu suka ayam goreng bumbu madu kan?”

 

Popi menoleh dari layar laptopnya. Suara Chen di ujung telepon terdengar begitu manis.

 

“Lho, kok tahu?”

 

Chen tertawa. “Aku hafal semua yang kamu suka. Bahkan cara kamu melipat sedotan sebelum minum es teh.”

 

Popi tertawa kecil, pipinya memerah.

“Gombal.”

 

“Enggak, serius. Makanya sekarang aku lagi di depan tempat makan favorit kamu. Mau dikirimin, atau aku antar langsung?”

 

Popi tersenyum lebar.

“Aku ambil sendiri aja, sambil ketemu kamu.”

 

Itulah hari-hari saat Chen terasa sempurna.

 

Sejak beberapa hari lalu, Chen selalu punya waktu. Menelpon pagi, mengirim foto siang, bahkan sesekali video call malam.

Bagi Popi, itu kejutan manis yang datang tiba-tiba—dan ia menyambutnya tanpa curiga.

 

Yang tidak Popi tahu, saat itu… Mira sedang bertugas ke luar kota. Tugas panjang dua minggu di sebuah kota kecil yang nyaris tak ada sinyal.

 

Dan ketika sinyal hilang, perhatian Chen tiba-tiba hadir.

 

 

---

 

Malam itu, mereka duduk berdua di bangku taman kota, menikmati martabak dan tawa ringan.

 

“Kamu tuh… kayak tiba-tiba jadi superman,” ucap Popi sambil menyender ke bahu Chen. “Biasanya kamu sibuk banget, sekarang tiba-tiba punya waktu setiap hari.”

 

Chen tertawa pendek.

“Ya mungkin karena kamu superwoman-ku. Aku butuh recharge juga.”

 

Popi memejamkan mata.

Dalam hatinya, ia mengucap: Tuhan, semoga ini cinta yang benar…

 

Chen mencium keningnya. Lembut. Hangat.

 

Malam itu, Popi merasa dicintai.

 

Dan malam itu juga… Cindy sedang memeriksa jadwal keberangkatan Mira lewat unggahan story.

 

> “Flight delay 2 jam. Balik lagi ke kota sepi ๐Ÿ˜ฉ” – @miraputri_official

 

 

 

Cindy menarik napas panjang. Ia tak pernah berharap dugaannya benar. Tapi semuanya mulai terangkai.

 

 

Senyap Setelah Peluk

 

Popi duduk di balkon kosnya malam itu, memeluk bantal sofa dengan rambut dikuncir seadanya. Hujan baru saja reda. Udara dingin, tapi yang lebih dingin adalah... pesan singkat dari Chen sore tadi.

 

> “Lagi banyak urusan, nanti aku kabarin lagi ya.”

 

 

Padahal biasanya, pagi sudah ada stiker lucu, siang ada video makanan, dan malam selalu ada suara lembut:

"Sayang, aku kangen kamu."

 

Hari ini—kosong.

 

Popi mencoba berpikir positif. Mungkin Chen benar-benar sibuk. Mungkin dia sedang stres. Mungkin… mungkin…

 

---

 

Di kantor keesokan harinya, Sitty menyapanya dengan ceria.

 

"Pop! Gimana semalam? Jadi nonton film bareng Chen?"

 

Popi terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum kecil, memasang ekspresi sok manja.

 

"Enggak nonton di bioskop sih... tapi dia nginap di rumah. Kita masak bareng."

 

Sitty dan Cindy saling melirik. Popi terlihat cerah, tapi ekspresi matanya tak bisa bohong. Ada kantung mata, ada senyum yang terlalu dipaksakan.

 

"Cie ngapain tuh, sampe nginap-nginap? Tumben nggak cerita di grup WA," kata Sitty menggoda.

 

Popi mengangguk cepat. "Hehe... lupa. Kebanyakan ketawa sih semalam." Popi menggaruk kepalanya kikuk

 

Cindy menatap Popi lebih lama dari biasanya. Ia tahu ada yang disembunyikan. Ia tahu Chen sedang kembali ke Mira. Tapi ia juga tahu: belum waktunya membongkar semua.

 

 

---

 

Malam Sebelumnya...

 

Popi menghabiskan malam sendirian di kamar. Ia menunggu balasan pesan dari Chen, yang hanya menjawab singkat:

 

> “Iya, maaf ya. Lagi capek.”

 

 

 

Tanpa emoji. Tanpa panggilan sayang. Dingin.

 

Popi mencoba menelepon. Tidak dijawab. Daring di WhatsApp, tapi tak kunjung balas.

 

 

---

 

Sementara itu, di tempat lain...

 

Cindy sedang rebahan sambil mantengin Instagram. Ia melihat story baru dari akun fanbase Mira.

 

> ๐Ÿ“ธ @miraputri_official

“Welcome back, queen! ๐Ÿ’•”

 

(Dalam video singkat itu, Mira terlihat keluar dari pintu kedatangan bandara. Di sampingnya, laki-laki tinggi dengan kemeja biru langit, menjemputnya, dan itu Chen.)

 

 

 

Cindy mengusap wajahnya. “gimana caranya aku kasih tau popi ya"

 

 

---

 

Esok harinya di kantor, Cindy mencoba menggoda Popi pelan-pelan.

 

"Pop, kok nggak update story semalam? Biasanya kamu pamer makanan buatan Chen."

 

Popi terkekeh kecil. "Hehe... kita masaknya buru-buru, terus nonton film India bareng. Nggak sempet story."

 

Sitty tertawa. "Waduh, romantis banget dong!"

 

Popi tersenyum, tapi suaranya bergetar sedikit saat menjawab, "Iya... dia sweet banget."

 

 

---

 

Di kamar mandi, Cindy menatap cermin. Ia berbicara lirih pada bayangannya sendiri:

 

“Popi terlalu sayang sampai rela bohong demi hubungan ini. Tapi aku gak akan diam.”

 

Lalu ia mengirim pesan ke Sitty:

 

> C: “Gue curiga Popi nutupin sesuatu. Gue yakin Chen dingin karena Mira balik"

 

 

 

> S: “Kayaknya Popi belum siap hadapin kenyataan.”

 

 

 

> C: “Gue akan kumpulin bukti yang lebih kuat. Biar dia sendiri yang lihat, tanpa bisa ngeles.”

 

 

 

 

---

 

> Dan di luar sana… Chen sedang menonton konser bareng Mira.

Di tangan kanannya, jam tangan warna hitam yang di beli Popi. 

 

 

 


Liburan yang Mengejutkan

“Bagaimana kalau weekend ini kita liburan?” tanya Steven sambil menepuk meja besar ruang meeting. Senyumnya cerah, seperti cuaca hari itu.

Semua karyawan terdiam sesaat. Hanya sesaat, karena kemudian...

“Wah, aku setuju sekali! Padahal baru kemarin kita ngobrolin soal liburan,” seru Chen sambil tertawa.

“Iya! Sudah lama kita gak refreshing, nih!” sambung beberapa karyawan yang langsung mengangguk semangat.

“Kemana ya enaknya?” tanya Sitty sambil memainkan pulpen di jarinya.

“Gimana kalau ke Resort Mutiara? Kita nginap satu malam di sana,” usul Dandi, matanya berbinar penuh harap.

“Ide bagus!” Steven langsung mengangguk. “Berangkat Sabtu pagi, kembali Minggu sore. Hari Senin kita kembali ke rutinitas kerja seperti biasa.”

“Resort Mutiara itu pantainya indah banget, lho!”kata Cindy  “Pemandangannya keren. Bisa diving, snorkeling… pokoknya lengkap dan seru!”

Steven berdiri dan menatap semua karyawannya. “Akomodasi, penginapan, dan makanan aku yang traktir. Untuk hiburan tambahan, kalian tanggung sendiri, ya. Aku juga sudah siapkan minibus.”

“Horeeeee!!” sorak semua karyawan serempak, atmosfer ruangan berubah jadi pesta kecil.

“Boleh bawa pacar atau saudara gak?” tanya Winna iseng.

“Boleh aja, asal bayar sendiri, ya! Hahaha!” jawab Steven, membuat semua tertawa.

You’re the best brother in the world!” kata Cindy tiba-tiba sambil mengacungkan jempol ke arah Steven.

“Brother?” Semua serempak melirik Cindy dengan kening berkerut.

“Eh... salah. Maksudnya, leader! Hahaha...” Cindy berusaha mengalihkan.

Steven menghela napas dan tersenyum. “Aku rasa sudah saatnya kalian tahu. Aku dan Cindy memang kakak-adik kandung. Bukan pacaran seperti yang digosipkan. "

“Pantesan dia gak pernah serius marahin Cindy,” gumam Stella sambil tertawa. “Kelihatan banget lebih akrab dari yang lain.”

“Oke!” kata Sitty sambil berdiri. “Saatnya kerja, besok kita liburan!”

---

Resort Mutiara
Sabtu Pagi yang cerah, udara pantai menyambut mereka dengan angin laut yang lembut. Debur ombak terdengar seperti musik latar alami. Resort Mutiara ternyata lebih indah dari foto-foto brosurnya.

Semua orang langsung menyebar menikmati liburan sesuai gaya masing-masing.

“Yuk diving!” ajak Cindy ke Popi dan Sitty.

“Boleh juga tuh!” Popi semangat.

“Aku gak mau,” jawab Sitty cepat.

“Guide-nya cakep loh,” bisik Cindy sambil terkikik.

“Masa sih? Tapi... pasti kulitnya gelap,” kata Sitty, merengut kecil.

“Yalah! Namanya juga anak pantai,” kata Popi.

“tapi Aku lupa bawa sunblock! Bisa belang nih kulit,” keluh Popi.

“Tenang, aku bawa lengkap,” jawab Sitty bangga.

“Hahaha, dasar Miss Holiday!” candaan Cindy membuat mereka tertawa.

Namun saat mereka menuju tempat diving...

“Eh, aku gak jadi ikut deh,” kata Popi sambil menatap ponselnya. “Chen SMS aku, dia ngajak main di pantai.”

“Dimana dia?” tanya Cindy.

“Itu dia melambai ke arahku.”

“Ck, dasar kamu ya. Gitu deh,” gumam Cindy. “Kalau gitu gak jadi deh.” keluh Cindy.

“Sori ya Cin, aku juga ada janji bareng Stella dan geng. Kamu nyusul, ya?” kata Sitty.

“Yah... aku sendiri dong,” Cindy menghela napas.

Dia berjalan menyusuri pantai, memotret pemandangan sambil sesekali selfie. Laut biru, pasir putih, dan langit cerah adalah pemandangan sempurna — hanya saja hatinya terasa sedikit sepi.

“Pemandangan seindah ini, sayangnya aku menikmatinya sendiri,” gumamnya lirih.

“Boleh aku temani?” suara laki-laki terdengar dari belakang.

Cindy menoleh. Matanya membelalak. “Christian?” seorang pria berkemeja putih dengan kacamata hitam bertengger di kepala. Tinggi, berbola mata hazel dengan gaya rambut taper fade berwarna kecoklatan

Butuh beberapa detik sebelum keduanya saling tersenyum.

Christian tersenyum. “Ngapain kamu di sini?”

“Rombongan kantor. Kamu?”

“Kangen aja tempat ini, jadi aku kemari.  “Baru dua minggu aku balik dari Berlin. Tiba-tiba kangen tempat ini dan segala kenangan nya,” jawab Christian. “Dan yang paling mengejutkan langsung ketemu mantan. Lucu juga.”

Cindy tersenyum. “Mantan yang gak drama, untungnya.”

"Bener. Kita putus kayak orang dewasa. Waktu itu rasanya memang udah waktunya, ya?”

Cindy mengangguk. “Kita terlalu takut menjaga komitmen. Tapi gak pernah saling benci, kan?”

Christian menatapnya. “Aku kangen kamu Cin. Bahkan aku sering cerita ke temanku, kamu salah satu orang terbaik yang pernah masuk hidupku.”

Cindy menertawakan itu. “Wow, aku bisa masuk list top mantan?”

“Top 1,” jawab Christian sambil tertawa.

Mereka terdiam sejenak. Suasana hangat, angin sore mengelus pelan rambut Cindy.

“Senang lihat kamu kelihatan bahagia,” ucap Cindy jujur.

“Kamu juga. Kelihatan lebih tenang sekarang.”

Mereka saling tersenyum lagi. Tak ada niat untuk kembali. Tak ada luka yang mengganjal. Hanya dua manusia yang pernah saling cinta, kini bertemu kembali dalam versi diri mereka yang lebih dewasa

“Lama gak ketemu. Kamu... tambah cantik,” katanya.

“ah biasa aja... kamu juga, tambah macho deh” jawab Cindy canggung sambil memukul bahu Christian pelan.

“Kamu ingat gak pantai ini?” tanya Christian.

“Tentu saja, ini salah satu tempat yang gak bisa aku lupain...”

Christian menatap Cindy sesaat. “2 tahun singkat banget ya, rasanya baru kemarin kita kolaborasi bareng,” katanya pelan, lalu tersenyum, “Gimana kamu sama Jefta?”

Cindy tergelak kecil. “Hahaha… Rumit juga pertanyaan kamu,” ia menoleh ke arah matahari yang mulai naik perlahan. “Kalau kamu gimana?”
“Setelah putus dari kamu… aku nggak bisa nemuin yang pas di hati. Aku sudah mencoba pacaran dengan berbagai tipe wanita. Tapi tetap nggak ada yang seperti kamu. Jangan alihkan pembicaraan jawab dulu kamu sama jefta gimana?

Cindy terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Setiap orang itu berbeda, Chris. Dan waktu itu kita masih terlalu… kanak-kanak untuk benar-benar ngerti apa itu cinta yang tulus.”

“Benar juga,” Christian mengangguk setuju. “Sekarang kita punya jalan masing-masing yang harus dilalui. Jalur yang jauh, tapi tetap penting untuk kita.”

Cindy menarik napas panjang. “Semoga suatu saat nanti… kita bisa menemukan seseorang yang pas. Seseorang yang benar-benar bisa menemani masa tua kita.”

“Amin,” gumam Christian. Ia menatap langit, lalu menoleh lagi. “Cindy…kalau kamu gak berhasil dengan Jefta.. Bagaimana kalo kita balikan??"

Pertanyaan itu membuat Cindy tersenyum. Tapi bukan senyum rindu, melainkan senyum yang tenang, seolah ia sudah berdamai dengan semuanya.

“Aku yakin kamu bisa menemukan seseorang yang lebih baik. Dan… itu bukan aku,” ujarnya jujur.

Ia lalu mengambil sesuatu dari kantong celananya—sebuah gelang anyaman sederhana, berwarna coklat muda dengan manik-manik kayu kecil di ujungnya.

“Ini gelang keberuntungan. Ini punya Jefta. Aku pinjamin ke kamu, kalo nanti kamu ketemu dia di Berlin…tolong kasih ke dia.. sekarang lebih cocok kamu yang pakai,” ucap Cindy sambil memakaikannya di pergelangan tangan Christian. “I hope you find what you're looking for.”

Christian memandangi gelang itu sejenak, ada nama Cindy di balik gelang itu.. lalu mengangguk dengan senyum yang sedikit getir. “Jefta di Berlin? .”

"Iya kata Steven dia mutasi ke sana, tapi anak-anak kantor tau nya dia resign. Sejujurnya Aku masih berharap dia kembali"

"Aku yakin, saat hatinya tenang.. Saat waktunya tiba, dia pasti balik"

Christian berdiri, menepuk celana pendeknya dari pasir, lalu menatap Cindy satu kali lagi. “Kalau begitu… kita sahabat sekarang.”

“Teman hidup di masa lalu, sahabat di masa depan,” jawab Cindy sambil tertawa pelan.

Christian tertawa juga, lalu mulai berlari kecil ke arah pantai. Angin meniup ujung rambutnya, dan sinar matahari membentuk siluetnya di pasir.

“Oh iya… mereka pasti mencarimu!” teriak Christian dari kejauhan, sambil melambai.

“Sampai jumpa lagi, ya!” balas Cindy, melambaikan tangan.

Ia memandangi punggung Christian menjauh, lalu mengusap pelan lengan yang tadi disentuhnya. Bukan karena rindu, tapi karena kenangan itu akhirnya bisa dikemas dengan damai.

Cindy kembali ke resort dengan langkah ringan. Hari mulai siang, tapi hatinya tenang.

---

Sementara Itu...

Semua karyawan mulai berkumpul di taman resort.

“Kirain cuma kita berdua, ternyata banyak yang ikut,” gumam Popi ke Chen.

“Yah, makin rame makin seru kan?” kata Chen.

“Cindy kemana?” tanya Dandi sambil melirik ke sekitar.

“Nikmatin waktu sendiri kayaknya,” jawab Popi.

“Aku punya ide seru!” seru Steven. “Kita main petak umpet! Siapa yang sembunyi paling lama, bisa dapat hadiah ciuman dari orang yang dia suka. Tapi kalau tertangkap semua sebelum satu jam, penjaga benteng menang dan boleh kasih perintah bebas!”

“Kayak drama Devil Beside You! Aku suka itu!” teriak Stella.

Mereka tertawa dan langsung bersiap main. Dandi jadi penjaga benteng.

Chen dan Popi memilih sembunyi di balik kanopi dekat pohon besar.

“Sayang, kita duduk di sini aja yuk,” kata Popi.

“Kamu cantik banget hari ini,” Chen membelai rambutnya. Ingin mencium

namun HP Chen berdering. Ia menjauh untuk menjawab.

“Hallo, sayang? Gimana di desa?” suara Chen terdengar pelan.

“Seru, aku kangen kamu,” jawab Mira dengan nada manja.

Namun sebelum obrolan selesai, HP-nya mati.

“Siapa tadi? Kok ada sayang-sayangnya aku dengar sedikit” tanya Popi dengan curiga

“Nenek. Semua cucunya panggil dia Sayang, karena memang kesayangan sih.. Eh... HP-nya mati, padahal baru ngobrol sebentar,” bohong Chen.

Sebelum mereka sempat melanjutkan momen itu, Dandi muncul. “Ketemu juga! Balik ke benteng!”

“Lagi-lagi gagal...” gumam Popi dalam hati.

Dandi berdiri di tengah. “Karena semua ketahuan sebelum satu jam, aku menang! Aku mau kita patungan buat karaoke. Setuju?”

“Setujuuuu!!” sorak semua.

“Eh... Cindy mana?” tanya Steven.

“Belum balik,” kata Sitty. “Kayaknya belum makan juga.”

“Aku cari dia deh,” kata Dandi.

“Biar aku saja,” sahut Steven.

“Gak usah ribut. Aku aja,” Popi ikut menawarkan.

Chen memegang tangan Popi. “Kamu di sini aja.”

“Sudah, kita semua cari!” kata Stella.

“Buat apa rame-rame nyari satu orang?” sela Winna dengan nada sinis. “Dia udah besar, tahu jalan balik!”

Steven mendesah. “Telpon aja deh.”

Namun saat dia mencari nomor Cindy, suara notifikasi terdengar dari tas Sitty.

“Astaga! HP Cindy ada di tas aku! Tadi dia titipin!”

Mereka saling pandang. Suasana hening sejenak.

“Kalau gitu... kita makan dulu aja, dia bisa nyusul,” kata Steven akhirnya.

---

Cindy kembali ke resort dengan langkah pelan, pasir masih menempel di kakinya. Sinar matahari mulai condong ke barat, membuat langit terlihat lebih lembut dengan semburat oranye di ujung cakrawala. Angin pantai meniup rambutnya ke belakang saat ia memegang perut yang mulai keroncongan.

“Aku lapar sekali… Mereka pada ke mana sih? Daripada nunggu, mending cari makan dulu aja,” gumamnya sambil mengusap perutnya.

“Hei, itu Cindy!” suara Popi menyapanya dari dekat lobi resort. Ia datang sambil membawa segelas orange jus. “Dari mana aja kamu? Semua orang nyariin kamu lho.”

“Tadi ketemu Christian. Banyak ngobrol, jadi lupa waktu,” jawab Cindy sambil tersenyum, matanya berbinar namun juga menyimpan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.

“seriusan?? Kok gak ajak dia gabung...
Oh iya Ayo kita main di pantai, semua udah nungguin.”

"Aku kelaparan banget. Aku makan dulu deh. Kamu mau temenin?”

Popi menggeleng sambil tertawa. “Kami udah makan bareng tadi. Tapi aku tungguin kamu deh, takut kamu ngilang lagi. Oh iya Nanti malam ada karaoke ajak Christian gih

Cindy tersenyum dan cepat-cepat memesan makanan ringan. Tak sampai lama, dia sudah berdiri sambil menarik tangan Popi. “Ayo, aku udah selesai!”

“Iya, pelan-pelan napa... makanan kamu kayaknya belum sepenuhnya turun tuh,” canda Popi sambil tertawa.

Ketika mereka tiba di pinggir pantai, Steven langsung menyambut, “Ini dia Cindy! Dari mana aja kamu?”

“Aku duduk di sana, tebak aku ketemu siapa??”

"Siapa?? Christian?? "

"Ih kok tau?"

Steven hanya tertawa kecil..

“Nanti malam kita karaokean ya. Kamu harus ikut! Jangan ngilang lagi!” ujar Dandi antusias.

“Aku boleh ajak Christian gak?” tanya Cindy.

“Boleh lah, kita kan patungan. Tambah rame tambah seru,” jawab Sitty sambil menabur pasir ke kakinya sendiri.

“Eh, kak. Kok gak ngajak Rolina?” tanya Cindy.

“Tenang aja, sebentar lagi dia datang,” sahut Steven.

Langit semakin oranye keemasan. Pasir putih menyambut jejak kaki mereka, sementara laut memantulkan cahaya seperti kristal biru muda. Anak-anak muda itu mulai berlarian, bermain bola, dan beberapa duduk di tikar menikmati semilir angin.

Di tengah riuh, Chen mendekat ke Popi yang sedang berjalan ke arah ombak.

“Nanti malam habis karaoke, mau gak ikut aku ke suatu tempat?” bisiknya.

“Ke mana emang?”

“Ke tempat yang tenang. Kita bisa ngobrol serius... pacaran yang sesungguhnya.”

Popi sempat ingin tertawa tapi juga tersentuh. Tapi sebelum bisa menjawab, Steven menyeret Chen, “Eh, Chen, jangan bengong aja. Ayo main volley!”

Popi melihat kejadian itu sambil tersenyum kecil. “Semoga kali ini gak gagal lagi…” bisiknya dalam hati, melihat kekasihnya digoda angin sore dan canda tawa teman-temannya.

Sementara itu, Cindy dan teman-teman perempuannya bermain air di pinggiran pantai. Tawa mereka pecah bersahutan saat ombak kecil menyapu kaki.

Tiba-tiba...

“Christian!” teriak Cindy saat melihat siluet pria familiar berjalan di pasir. Lari kecil menghampiri

Christian melambai. “Eh, Cindy!”

“Nanti malam kita mau karaoke. Mau ikut gak?”

“Kayaknya seru. Kalau sempat, aku usahain dateng, deh.”

“SMS aku ya! Nomorku masih sama kok, masih yang dulu.”

“Oke, noted.”

“Siapa Cin?” tanya Stella yang berdiri di sampingnya.

“Teman lama,” jawab Cindy, berusaha netral.

Stella menyipitkan mata. “Hmmm, boleh juga tuh. Mau dong dikenalin.”

Cindy hanya terkekeh. “Nanti aku kenalin,” ujarnya.

Namun Winna yang sejak tadi diam, tiba-tiba menyelutuk sinis, “Itu mantan kamu kan, Cin?”

Cindy memutar kepala, nadanya berubah tajam. “Emang kenapa? Dulu kamu juga suka sama Christian tapi dia lebih milih aku, ya?”

Winna langsung menunjuk wajah Cindy. “Jaga mulut kamu!”

Ketegangan memuncak. Aura pantai yang damai tiba-tiba terasa panas.

“Sudah-sudah! Kita di sini mau have fun, bukan dengerin drama.” Stella buru-buru melerai dan menarik Winna menjauh.

Saat suasana mulai reda...

“Permisi, maaf ganggu. Steven di mana ya?” terdengar suara lembut dan tenang dari arah belakang.

“Rolina?” tanya Cindy.

“Iya. Aku mau ketemu Steven. Dia di mana ya?”

“Tuh, lagi main bola. Aku panggilin, ya!” Cindy segera berlari ke arah Steven.

“Kak, Rolina datang tuh! Tapi dia pakaiannya... seksi banget!” bisik Cindy

Steven langsung menghentikan permainan, lalu menarik kain bali dari tangan Cindy.

“Hei! Kak, itu kain aku!” teriak Cindy kesal.

Tapi Steven sudah berlari menghampiri Rolina.

“Sayang!” kata Rolina sambil memeluknya erat.

Steven menutup tubuh Rolina dengan kain bali. “Aku gak mau cowok lain ngeliat kamu kayak gini. Ini terlalu terbuka. Ayo kita ke kamar, ganti baju.”

“Sayang, ini kan pantai. Pakaian begini wajar lah.”

“Wajar buat orang lain. Tapi kamu bukan orang lain buat aku. Ganti, ya.” kata Steven tegas sambil membimbingnya ke resort.

“Wow, pacarnya ketua seksi banget,” gumam Chen.

“Dasar mata keranjang!” ujar Stella sambil memukul bahunya.

“Balik sana main bola lagi!” kata Sitty setengah tertawa.

---

Jam menunjukkan pukul 6 sore.

“Capek banget...” kata Cindy sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur, matanya memejam menikmati empuknya bantal.

“Mandi dulu, keringetan gitu.” ujar Sitty sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

“Popi duluan gih. Kamu kan punya pacar, harus selalu wangi, biar gak berpaling,” canda Cindy.

“Gak usah disuruh juga. Kamu kan kalo mandi bisa satu jam,” Popi nyengir sambil membawa handuk ke kamar mandi.

“Hahahaha,” Cindy dan Sitty tertawa bersama.

“Pacarnya ketua seksi juga ya. Malam ini mereka sekamar gak ya?” tanya Sitty dengan nada kepo.

“Gak tau juga, sih. Tapi kayaknya udah biasa, kok. Rolina sering nginap di rumah kalau orang tua gak ada.”

“Kok kamu tau?”

“kitakan dulu 1 rumah beb. Bulan depan mereka prewed di Eropa.”

“Hah? Tajir juga dia?”

“Bukan Rolina-nya, kakakku yang tajir. Hahahah.. Gak lahhh.. Bokap Rolina pejabat, katanya.”

“Eh, mereka kenalan di mana sih?”

“Kayaknya di paris deh. Nanti waktu mereka nikah pasti kita denger ceritanya,” Cindy tertawa.

Popi keluar dari kamar mandi dan melempar handuk ke Cindy.

“Nih, mandi gih. Bau matahari banget kamu.”

“Wangi banget, jangan-jangan kamu pakai sabun satu botol ya?” ejek Cindy sebelum berlari ke kamar mandi.

“Tadi kalian ngomongin apa sih?” tanya Popi sambil duduk di ranjang.

“Pacarnya ketua. Bulan depan mereka mau prewed katanya,” jawab Sitty.

“Oh gitu. Sumpah, aku capek banget,” kata Popi sambil merebahkan diri.

“Tidur aja sana, aku juga capek banget,” sahut Sitty.

Beberapa menit kemudian...

Cindy keluar dari kamar mandi, melihat jam.

“Ya ampun, baru jam tujuh tapi mereka udah pada tidur? Emang gak niat karaoke nih?” gumamnya sambil mengeringkan rambut.

Ia pun ikut berbaring.

Langit sudah gelap. Di luar, ombak pantai masih memecah dengan ritme tenang. Tapi di dalam kamar, semua mulai tertidur... menyimpan energi untuk malam yang masih penuh kejutan.

---

...

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A D I E U
2495      1099     4     
Romance
Kehilangan. Aku selalu saja terjebak masa lalu yang memuakkan. Perpisahan. Aku selalu saja menjadi korban dari permainan cinta. Hingga akhirnya selamat tinggal menjadi kata tersisa. Aku memutuskan untuk mematikan rasa.
Letter From Who?
566      409     1     
Short Story
Semua ini berawal dari gadis bernama Aria yang mendapat surat dari orang yang tidak ia ketahui. Semua ini juga menjawab pertanyaan yang selama ini Aria tanyakan.
Just Another Hunch
514      360     3     
Romance
When a man had a car accident, it\'s not only his life shattered, but also the life of the ones surrounding him.
The Girl In My Dream
534      391     1     
Short Story
Bagaimana bila kau bertemu dengan gadis yang ternyata selalu ada di mimpimu? Kau memperlakukannya sangat buruk hingga suatu hari kau sadar. Dia adalah cinta sejatimu.
Bifurkasi Rasa
184      158     0     
Romance
Bifurkasi Rasa Tentang rasa yang terbagi dua Tentang luka yang pilu Tentang senyum penyembuh Dan Tentang rasa sesal yang tak akan pernah bisa mengembalikan waktu seperti sedia kala Aku tahu, menyesal tak akan pernah mengubah waktu. Namun biarlah rasa sesal ini tetap ada, agar aku bisa merasakan kehadiranmu yang telah pergi. --Nara "Kalau suatu saat ada yang bisa mencintai kamu sedal...
Accidentally in Love!
475      322     1     
Romance
Lelaki itu benar-benar gila! Bagaimana dia bisa mengumumkan pernikahan kami? Berpacaran dengannya pun aku tak pernah. Terkutuklah kau Andreas! - Christina Adriani Gadis bodoh! Berpura-pura tegar menyaksikan pertunangan mantan kekasihmu yang berselingkuh, lalu menangis di belakangnya? Kenapa semua wanita tak pernah mengandalkan akal sehatnya? Akan kutunjukkan pada gadis ini bagaimana cara...
Bait of love
2439      1184     2     
Romance
Lelaki itu berandalan. Perempuan itu umpan. Kata siapa?. \"Jangan ngacoh Kamu, semabuknya saya kemaren, mana mungkin saya perkosa Kamu.\" \"Ya terserah Bapak! Percaya atau nggak. Saya cuma bilang. Toh Saya sudah tahu sifat asli Bapak. Bos kok nggak ada tanggung jawabnya sama sekali.\"
SAMIRA
434      295     3     
Short Story
Pernikahan Samira tidak berjalan harmonis. Dia selalu disiksa dan disakiti oleh suaminya. Namun, dia berusaha sabar menjalaninya. Setiap hari, dia bertemu dengan Fahri. Saat dia sakit dan berada di klinik, Fahri yang selalu menemaninya. Bahkan, Fahri juga yang membawanya pergi dari suaminya. Samira dan Fahri menikah dua bulan kemudian dan tinggal bersama. Namun, kebahagiaan yang mereka rasakan...
Hei, Mr. Cold!
570      443     0     
Romance
"Kau harus menikah denganku karena aku sudah menidurimu!" Dalam semalam dunia Karra berubah! Wanita yang terkenal di dunia bisnis karena kesuksesannya itu tak percaya dengan apa yang dilakukannya dalam semalam. Alexanderrusli Dulton, pimpinan mafia yang terkenal dengan bisnis gelap dan juga beberapa perusahaan ternama itu jelas-jelas menjebaknya! Lelaki yang semalam menerima penolakan ata...
Caraphernelia
1272      710     0     
Romance
Ada banyak hal yang dirasakan ketika menjadi mahasiswa populer di kampus, salah satunya memiliki relasi yang banyak. Namun, dibalik semua benefit tersebut ada juga efek negatif yaitu seluruh pandangan mahasiswa terfokus kepadanya. Barra, mahasiswa sastra Indonesia yang berhasil menyematkan gelar tersebut di kehidupan kampusnya. Sebenarnya, ada rasa menyesal di hidupnya k...