Loading...
Logo TinLit
Read Story - Semesta Berbicara
MENU
About Us  

Bagi Suci, hari libur tak lagi sepi. Sejak pertemuannya di car free day, ia menjadi pendamping setia Nyonya Widuri. Hari ini, mereka kembali menyusuri mal, bersantai di antara butik-butik bermerek. Widuri, dengan blus krem elegan dan rok rempel panjang, melangkah ringan menautkan lengannya ke Suci.

“Suci sayang, perempuan harus tahu cara menghargai dirinya lewat penampilan!” petuah wanita bijak itu, mengedipkan matanya. “Jangan cuma tahu pakai seragam kerja. Mari, Nenek ajarkan.”

Tanpa banyak protes, Suci mengikutinya masuk ke butik. Ia hanya bisa tersenyum malu ketika Widuri memilihkan gaun midi pastel, blazer chic, jeans high-waist, dan blus sifon. Suci menurut, meski matanya membesar melihat harga-harga pakaian.

“Nek, ini mahal,” Suci mengingatkan, pandangannya terpaku pada tag harga.

“Sstt, jangan banyak protes! Anggap ini tabungan saya yang baru bisa dipakai sekarang. Ibu kamu pasti ingin kamu terlihat cantik, kan?”

Hati Suci bergetar. Sudah lama sekali ia tak mendengar ibunya disebut sehangat itu.

“Aku… sebenarnya nggak pernah diajari soal ini, Nek. Waktu Ibu meninggal aku masih kecil. Nggak ngerti harus gimana jadi perempuan. Pakai yang penting rapi aja.”

Widuri menatapnya iba, tapi hangat. “Kalau begitu, sekarang waktunya saya jadi gurumu. Semua perempuan berhak belajar untuk bersinar.”

Suci menurut saat Widuri mengajaknya perawatan kulit. Mereka facial, dilulur, dan sauna bersama, bahkan dipijat bersebelahan. Widuri juga memilihkan rangkaian perawatan kulit lengkap untuk Suci bawa pulang.

“Kulitmu bagus, cuma belum dimanjakan. Nanti juga makin bersinar,” Widuri tersenyum bangga.

Keduanya singgah di restoran bergaya kolonial modern. Mereka duduk di meja dekat jendela. Widuri duduk anggun sambil menyisip teh hangat, sementara Suci di seberangnya duduk sopan dengan tenang.

“Kamu bilang kerja di RumahWaktu ya? Cucu nenek, Anya, juga kerja di sana. Kenal?” Widuri tersenyum ramah.

Suci mengangguk pelan, menyesap es lemon tea-nya. “Iya Nek, kenal. Dia Quantity Surveyor perusahaan.”

Widuri mengangguk bangga, “Pintar dia itu.”

Suci berlagak ragu, “Pintar sih… tapi entahlah, Nek…”

Widuri menatap ingin tahu, “Kenapa dengan Anya?”

“Saya nggak berniat cerita sebenarnya…” Suci menunduk ragu, “Ini tersebar di grup karyawan, sudah jadi buah bibir,” ia mulai menunjukkan video Anya dan Tougo yang sedang berdansa. Musik berdentum keras, pelukan vulgar, dan ciuman mesra.

“Ya Tuhan, siapa pria ini?” wanita tua itu naik pitam.

“Namanya Tougo, Project Manager di perusahaan kami. Mereka memang sering tunjukin kedekatan di kantor. Tapi… dia bukan laki-laki yang setia,” Suci sengaja membongkarnya, dalam hati tersenyum senang.

“Apa? Dia bersama laki-laki seperti itu? Saya nggak akan terima,” Widuri murka, tidak akan ia izinkan Anya berhubungan dengan pria semacam itu.

“Belakangan ini juga Anya dihukum kantor, Nek, akibat perbuatannya sendiri,” Suci menambahkan.

“Nenek belum tahu itu,” Widuri kembali terkesiap. “Kenapa?”

“Dia menjebak karyawan, menuduhnya mau mencuri data perusahaan. Padahal Anya sendiri yang menaruh flashdisk kantor di loker karyawan itu,” Suci menyampaikan garis besarnya.

“Siapa karyawan yang malang itu?” tanya Widuri prihatin.

Suci menarik napas, mengeluarkan ponsel dan membuka folder berita internal kantor. Di sanalah rekaman sidang internal tentang flashdisk kantor yang ditemukan di lokernya.

“Sebenarnya korbannya saya,” ia mengaku, membuat Widuri tersentak. “Waktu itu saya hampir dipecat, Nek. Karena dituduh menyimpan data proyek perusahaan tanpa izin. Flashdisk-nya ditemukan di loker saya.”

Widuri menatap Suci serius, “Itu kejahatan berat!” Widuri lalu tertunduk. “Anya memang dimanjakan sejak kecil. Nenek tahu, dia punya ambisi… tapi kalau sampai menjebak orang lain…”

Suci menunduk, menunjukkan penyesalan. “Maaf, Nek. Saya bukan berniat bicara buruk. Tapi semua staf menjauhi saya, reputasi saya hancur… saya nggak tahu harus cerita ke siapa.”

Widuri kemudian memantapkan niatnya. “Suci, sebelumnya saya janji akan memindahkan posisi pekerjaan kamu kan. Kapan saya boleh ke kantor kamu? Saya mau membicarakan soal ini ke Arya.”

“Tapi Nek, tolong bicarakan itu dengan Pak Arya di luar jam kantor. Saya takut jadi omongan orang sekantor lagi,” Suci berbisik, lalu memberikan kartu nama atasannya, Arya Kesuma, Managing Director RumahWaktu.

Widuri mengangguk paham, menerima dan menyimpannya. “Kamu benar. Besok serahkan ke saya berkas lamaran pekerjaan kamu ya.”

Suci mengangguk.

Setelah puas, Widuri mengantarkan gadis muda itu pulang ke kontrakannya, membawa berbagai tas belanjaan. “Terima kasih, Nek, atas ajarannya.” Suci menyalami wanita tua itu.

“Sama-sama. Kamu sudah kuanggap cucuku.”

 

-oOo-

 

Sebuah rapat internal darurat sedang berlangsung. Suasana begitu tegang. Di ujung meja, Arman, General Manager RumahWaktu, duduk berwibawa dan tenang, meski nadanya tegas. Hadir pula Fabian, Tougo, Rina, Yusuf, Irfan, serta beberapa anggota tim lainnya.

Di tengah meja sebuah flashdisk berwarna hitam tergeletak. Arman memulai rapat.

“Terima kasih sudah hadir dengan cepat. Saya ingin menyampaikan keputusan resmi direksi. Efektif mulai hari ini, seluruh kerjasama dengan PT Sentani Jaya dinyatakan batal.”

Ruangan hening, beberapa staf saling pandang.

Arman menatap datar, “Bukti dugaan mark-up harga, pemalsuan spesifikasi material, dan manipulasi laporan kemajuan proyek ditemukan secara valid. Semua ada dalam flashdisk yang diberikan seseorang yang memihak kita.”

“Apa datanya terjamin valid, Pak?” Rina khawatir.

“Datanya terstruktur, lengkap, dengan dokumen pendukung; sangat sulit dibantah. Kami juga sudah bertemu PT Sentani Jaya dan mengonfrontasi mereka—mereka tak bisa mengelak. Saya sudah meminta pembatalan dan ganti rugi proyek; kita tinggal menunggu itikad baik mereka,” Arman menjelaskan.

Irfan mengangguk, “Saya sudah meninjau kebenarannya di lapangan, dan ternyata memang ada keluhan serupa dari pekerja lapangan. PT Sentani Jaya bukan cuma merugikan kita, tapi juga mencoreng reputasi RumahWaktu sebagai mitra profesional.”

Yusuf bersandar gusar. “Lantas proyek kita bagaimana, Pak? Sentani memegang kontrak struktur utama. Kita bisa mandek tanpa mereka.”

Arman mengangguk, “Karena itu mulai hari ini, saya minta Bu Rina dan tim procurement segera mencari alternatif rekanan. Prioritaskan vendor yang sudah pernah bekerja dengan kita, atau yang pernah kita evaluasi sebelumnya.”

Rina mengangguk, “Siap Pak. Saya akan kerahkan tim verifikasi. Proyek tetap harus lanjut.”

Tougo masih tampak tidak puas. “Tapi Pak, kita butuh waktu untuk proses tender ulang. Apa kita nggak bisa renegosiasi aja dengan pihak Sentani Jaya?”

“Kita bicara soal integritas, Tougo!” Fabian menyahut cepat, “Jika kita pertahankan mereka, kita juga ikut mencoreng nama baik perusahaan.”

Arman dengan nada dingin menambahkan, “Dan kabar buruk menyebar lebih cepat di industri ini. Kita harus mengambil sikap yang benar dan objektif. Atau kita akan kehilangan klien besar dan reputasi jangka panjang.”

Peserta rapat mengangguk perlahan, sementara Tougo terdiam, menahan gusar.

“Saya sarankan juga segera sosialisasikan keputusan ini kepada tim lapangan, supaya tak ada salah paham,” Yusuf mengingatkan.

Arman setuju, “Betul, dan satu lagi…” Sejenak semua hening.

“Kita berutang besar pada pihak yang mengungkap kecurangan ini dalam sebuah flashdisk, meski ia menyembunyikan identitasnya. RumahWaktu berdiri karena kepercayaan. Dan kepercayaan itu… baru saja diselamatkan.”

Rapat berakhir. Fabian menatap flashdisk dengan ekspresi dalam. Di sudut Tougo menggertakkan rahang, tidak senang.

Ruang rapat telah lengang dan redup. Fabian berdiri di depan Arman, yang duduk memegang flashdisk dengan wajah berat. Gelas kopi di mejanya tinggal setengah, dibiarkan dingin.

Fabian mendekat, “Anda masih terlihat lelah, Pak. Mau saya buatkan teh?”

Arman menggeleng pelan, “Terima kasih, Fabian. Saya masih teringat momen malam itu.”

Sejenak Fabian ikut terbayang. Ruang rapat kosong, proyektor menampilkan data. Arman berdiri terpaku, matanya menatap deretan dokumen mencurigakan, lalu terduduk lemas. Fabian muncul di pintu, terkejut, lalu berjalan mendekat, menenangkan Arman.

 

Fabian mengangguk. “Saya tahu malam itu berat, Pak. Tapi beruntung, siapapun orang di balik ini, menyelamatkan kita dari bahaya yang lebih besar.

Guardian Angel…” Arman mengingatnya, “Itu nama yang muncul di email. Aneh… tapi tanpa dia, mungkin justru kita yang sedang diselidiki.”

Fabian terdiam, lalu berkata pelan, “Apa anda sempat bertemu dengan orang itu? Atau orang yang mencurigakan?”

“Nggak, ruangan kosong. Cuma proyektor menyala dan flashdisk di CPU. Seolah dia punya akses masuk ke kantor kita, dan tahu kalau malam CCTV di bagian dalam kantor dimatikan,” pria paruh baya itu membeberkan.

Fabian berpikir dengan sorot mata tajam, 

Tapi aku tahu seseorang juga ada di kantor malam itu. Yang tampak panik dan kabur saat bertemu denganku, Suci. Semua terlalu rapi untuk jadi sekadar kebetulan, pikirnya, tersenyum tipis.

“Kalau dia mendengar ucapan terima kasih Anda, mungkin dia akan tersenyum dari balik layar,” Fabian menanggapi.

“Saya hanya berharap, siapapun dia, tetap di pihak kita.” Arman menghela napas.

 

-oOo-

 

Kantor RumahWaktu sibuk namun tetap tampak santai. Suci mengantarkan dokumen ke ruang kerja arsitek. Ia mensyukuri pekerjaan ini karena jadi leluasa melihat Fabian bekerja.

Benar saja, Fabian duduk di belakang mejanya dengan ketampanan yang menyerupai dewa Yunani. Ia fokus dengan laptopnya, seperti terjerat dalam dunianya sendiri. Suci melirik dari sudut matanya. Tampaknya pemuda itu sedikit kesusahan.

Setelah Suci menaruh dokumen, ia berinisiatif melongok ke laptop Fabian.

“Ada apa?” tanyanya penasaran.

“Aku nggak bisa temukan file yang kubutuhkan, aku yakin taruh di folder ini. Apa kehapus ya?” Fabian menjawab.

“Coba aku cari,” Suci dengan mantap mengambil alih laptop, membuka recycle bin, lalu menunjukkannya ke Fabian. “Coba, ada nggak di sini?”

Fabian mengamati baris demi baris nama file. “Nggak ada.”

Suci lalu terbersit sebuah solusi. Ia membuka File Explorer, klik tab view, lalu centang ‘hidden items’. Tampilan folder pun diperlihatkan ke Fabian.

“Nah itu dia!” Fabian lega menemukan nama file yang dicarinya.

“Berarti nggak sengaja ke-hide,” Suci pun tenang, menegakkan tubuhnya kembali.

“Terima kasih Suci,” Fabian berkata sambil meliriknya.

“Sama-sama,” Suci menarik diri, lalu menjauh.

Fabian terus melirik Suci dengan penasaran. Sejak memergoki Suci di kantor larut malam itu, ia sedikit curiga Suci bukan petugas asisten fasilitas kantor biasa. Apalagi dengan kemampuannya mengatasi masalah komputer tadi. Sebenarnya barusan ia hanya menguji gadis itu, seberapa akrab ia dengan sistem komputer. Ternyata gadis itu tak bisa disepelekan, tak sesederhana penampilannya.

-oOo-

 

Anya baru saja tiba di rumah, melangkah masuk dengan rambut tergerai dan ekspresi letih setelah proyek. Tasnya baru diletakkan, ketika suara tinggi mamanya memecah keheningan.

“Jangan libatkan aku! Aku sudah bilang jangan terlalu percaya pada anak buahmu itu! Lihat sekarang, perusahaan di ambang kebangkrutan.”

“Bukan bangkrut, aku cuma ingin kamu menekan pengeluaran. Pemberhentian kerjasama dengan RumahWaktu berdampak besar bagi perusahaan kita, tapi aku yakin bisa mengatasinya. Kamu juga sabar dong, jadi istri jangan ngomel melulu!” papanya membalas.

“Anya, kamu juga! Nggak usah terlibat terlalu banyak dengan RumahWaktu, mereka bukan lagi rekanan kita. Atau kamu keluar aja dari sana, kan bisa bekerja di perusahaan keluarga kita!” papa melirik Anya yang lewat.

“Jangan libatkan Anya dalam kegagalan kamu! Terserah dia mau bekerja di mana. Kamu juga nggak kompeten, diam aja saat mereka mulai main harga. Semua jadi kena getahnya sekarang!” mamanya tak puas-puasnya menyalahkan kepala keluarga itu.

Rumah itu dulunya punya prestise, kini penuh pekikan. Padahal Anya pulang ke rumah orang tuanya dengan niat menghabiskan waktu bersama mereka, sekaligus mencari kesempatan memperkenalkan Tougo. Ia ingin membahas rencana masa depannya bersama Tougo.

Anya melangkah pelan ke atas, masuk kamarnya, dan mengunci pintu. Ia duduk di ranjang sambil menghela napas berat, lalu meraih ponsel dan membuka chat dengan Tougo. Anya mengirimkan pesan.

 

Anya :

Hun, di rumahku chaos. Aku capek banget.

Papa & mama ribut terus karena kerjasama proyek dengan RumahWaktu gagal.

 

Tak kunjung mendapat jawaban, Anya tidak heran. Tougo memang begitu, menghubunginya saat sedang ingin saja. Selebihnya ia sering tak ingin diganggu dengan alasan sibuk. Seharusnya Anya mengerti, tapi ia tetap sedih. Kemudian Anya memutuskan mengirimkan voice note:

“Kayaknya seminggu ini aku butuh kamu banget, Go. Seminggu lagi ulang tahun Nenek Widuri. Aku mau ajak kamu ke acara keluarga, supaya mereka tahu kamu orang yang bisa diandalkan. Sekalian kamu akrabkan diri ke keluargaku.”

Anya melihat centang dua bertanda biru, tanda pesannya sudah dibaca.

“Bisa kan? Tolong banget ya, jangan lupa. Aku pengin kamu tampil terbaik,” Anya menambahkan di voice note-nya.

Di tempat lain, Tougo membaca dan mendengar pesan Anya. Ekspresinya yang awalnya datar, kemudian matanya membesar.

Widuri Grace Sentani, nenek Anya kan orang terpandang di dunia bisnis! Ia menyeringai mengingat nama itu. Jiwa oportunisnya muncul. “Iya aku bisa kok, tenang ya,” jawabnya dalam voice note.

PT Sentani Jaya yang kini dikenal sebagai salah satu perusahaan konstruksi dan pengadaan terbesar, dulunya hanya usaha keluarga kecil. Segalanya berubah saat perusahaan jatuh ke kepemimpinan Surtoyo Adhi Sentani, sosok visioner yang tak pernah berjalan sendiri. Di sisinya ada Widuri, perempuan cerdas dan bersahaja yang bukan sekadar istri, tapi juga penasihat setia dan mitra strategis.

Meski tak lagi aktif, suara Widuri masih bergema kuat di dunia bisnis. Ia adalah sosok yang dihormati, bukan hanya karena sejarah kejayaannya, tetapi karena nilai yang ia wariskan: kebijaksanaan, integritas, dan rasa keadilan yang tak bisa dibeli. Siapa yang dekat dengannya bisa ikut terpandang, dan Tougo ingin memanfaatkan itu.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • juliartidewi

    Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.

    Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji
  • juliartidewi

    Adik perempuan saya juga lulusan arsitek.

    Comment on chapter 14. Perjalanan
  • juliartidewi

    I just remember when I was in university, I met a Dutch man. I thought he was one of my lecturers in English Language Study Program. I asked him a question. He said, "Aku ki wong Londo."

    Comment on chapter 13. Rumah II
  • papah.al

    Menarik
    Selalu penasaran kedepannya

    Comment on chapter Prolog
  • baba

    Ceritanya mindblowing ya ..

    Comment on chapter 6. Semut pun Bisa Menggigit
  • guardian angel

    Prolognya menarik.

    Comment on chapter Prolog
  • guardian angel

    Mulai seru... hacker perempuan keren bgt!

    Comment on chapter 1. Kekecewaan Menghentak
Similar Tags
Sebuah Jawaban
483      363     2     
Short Story
Aku hanya seorang gadis yang terjebak dalam sebuah luka yang kuciptakan sendiri. Sayangnya perasaan ini terlalu menyenangkan sekaligus menyesakkan. "Jika kau hanya main-main, sebaiknya sudahi saja." Aku perlu jawaban untuk semua perlakuannya padaku.
BALTIC (Lost in Adventure)
5102      1909     9     
Romance
Traveling ke Eropa bagian Barat? Itu bukan lagi keinginan Sava yang belum terwujud. Mendapatkan beasiswa dan berhasil kuliah master di London? Itu keinginan Sava yang sudah menjadi kenyataan. Memiliki keluarga yang sangat menyanyanginya? Jangan ditanya, dia sudah dapatkan itu sejak kecil. Di usianya ke 25 tahun, ada dua keinginannya yang belum terkabul. 1. Menjelajah negara - negara Balti...
LUCID DREAM
683      496     0     
Short Story
aku bertemu dengan orang yang misterius selalu hadir di mimpi walapun aku tidak kenal dengannya. aku berharap aku bisa kenal dia dan dia akan menjadi prioritas utama bagi hidupku.
LELAKI DENGAN SAYAP PATAH
9417      3225     4     
Romance
Kisah tentang Adam, pemuda single yang sulit jatuh cinta, nyatanya mencintai seorang janda beranak 2 bernama Reina. Saat berhasil bersusah payah mengambil hati wanita itu, ternyata kedua orang tua Adam tidak setuju. Kisah cinta mereka terpaksa putus di tengah jalan. Patah hati, Adam kemudian mengasingkan diri dan menemukan seorang Anaya, gadis ceria dengan masa lalu kejam, yang bisa membuatnya...
LUCID DREAM
641      468     2     
Short Story
aku mengalami lucid dream, pada saat aku tidur dengan keadaan tidak sadar tapi aku sadar ketika aku sudah berada di dunia alam sadar atau di dunia mimpi. aku bertemu orang yang tidak dikenal, aku menyebutnya dia itu orang misterius karena dia sering hadir di tempat aku berada (di dalam mimpi bukan di luar nyata nya)
KAMUFLASE KAMERA DAN CINTA
767      559     1     
Short Story
lelaki bertubuh besar berjaket hitam menunjukan senyum simpul yang khas .senyum yang membuat jantungku berdegup tak beraturan, dan senyum yang selalu mengingatkanku pada perpisahan di bulan Januari. Konflik antara Mas Pras dan Om Tegar tak kunjung usai ,Kamera lah yang membawa aku dan dia pada satu titik dan kameralah yang membuat kita....
The Eternal Love
23722      4369     18     
Romance
Hazel Star, perempuan pilihan yang pergi ke masa depan lewat perantara novel fiksi "The Eternal Love". Dia terkejut setelah tiba-tiba bangun disebuat tempat asing dan juga mendapatkan suprise anniversary dari tokoh novel yang dibacanya didunia nyata, Zaidan Abriana. Hazel juga terkejut setelah tahu bahwa saat itu dia tengah berada ditahun 2022. Tak hanya itu, disana juga Hazel memili...
MALAM DALAM PELUKAN
699      518     3     
Humor
Apakah warna cinta, merah seperti kilauannya ataukah gelap seperti kehilangannya ?
Perverter FRIGID [Girls Knight #3]
1893      905     1     
Romance
Perverter FIRGID Seri ke tiga Girls Knight Series #3 Keira Sashenka || Logan Hywell "Everything can changed. Everything can be change. I, you, us, even the impossible destiny." Keira Sashenka; Cantik, pintar dan multitalenta. Besar dengan keluarga yang memegang kontrol akan dirinya, Keira sulit melakukan hal yang dia suka sampai di titik dia mulai jenuh. Hidupnya baik-baik saj...
PESAN CINTA
6916      1724     33     
Romance
Bagaimana jadinya jika kita mendapat amanah dari orang yang tidak kita kenal? Itu pulalah yang terjadi pada Nasya. Dalam pejalanan pulang menuju kampung halamannya, Nasya berkenalan dengan seorang wanita. Mereka menjadi akrab. Dan wanita itu menitipkan sebuah amanah yang kenyataannya menjadi titik awal perubahan hidup serta jalan cinta Nasya.