Loading...
Logo TinLit
Read Story - If this time brings you home
MENU
About Us  

KAMI SEMUA ANGKAT TANGAN. Total, ada lima orang yang mendapat poin di kelas. Maka dari total 13 mata pelajaran yang kuhadapi, diantaranya, tersisa enam mata pelajaran yang belum sama sekali aku dapatkan poinnya. Jadi aku perlu lebih giat lagi. Aku punya goals bisa mendapat poin dari semua mata pelajaran.

Di sekolah, poin juga menentukan reputasi akademik. Poin menjadi cara lain untuk sekolah mengenali muridnya. Mereka yang poinnya mencolok akan mendapat kesempatan istimewa yang terbatas, yang tidak tercantum di papan pengumuman. 

Murid dengan poin tinggi lebih mudah mendapat rekomendasi guru, mengikuti program khusus, dan memperoleh dukungan sekolah atas minat atau proyek yang sedang di tekuni. Semakin tinggi dan konsisten, semakin dikenal nama seorang murid—oleh guru, dan lingkungan. Dari sana datang rekomendasi, undangan program khusus, dan pada titik tertentu, tersedia dukungan sekolah terhadap bakat dan prestasi yang dianggap layak dikembangkan.

Ditengah-tengah pikiranku sibuk terisi tentang poin, secara mengejutkan Pitaloka berbalik ke arahku, lalu tersenyum. 

"Keren!"

Eva pun turut berbalik, tersenyum juga.

Aku membalas tipis senyum mereka dan berpaling melihat catatan bukuku. Aku diam-diam cemas dan curiga. Apa yang mereka rencankana padaku? Namun, aku berusaha tidak terlihat begitu, karena ada Karin disisiku. Dia tidak bicara apa-apa.

***

Bel pulang berbunyi setelah jam pelajaran akhir selesai. Diikuti suara riuh girang anak-anak kelas dan kelas-kelas sebelah. Setelah mengemas barang-barangku ke tas, aku melangkah keluar kelas untuk menemui Cherry. Kami bertemu di parkiran, dan seperti biasa, Cherry menunggu di sebelah mobilnya, bersama supir pribadi di dalamnya. Saat melihatku, tangan kanannya terangkat ceria, menampilkan sejumlah bracelet cantik-cantik ditangannya yang bersinar.

"I told you, we're literally in danger now!" kata Cherry di dalam mobil.

Kini kami sudah ada di dalam mobil, dan tadi adalah komentar Cherry setelah mendengar aku bercerita tentang hari ini. Setelah bercerita kepada Cherry mengenai kedongkolanku terhadap Ren pada perjalanan pulang sekolah, Cherry entah kenapa mendadak antusias dan tersenyum geli.

"Danger.. maksudnya?"

"Apa lagi lo sama Ren," katanya, lalu tertawa. "Ini sih tanda kalau sebentar lagi, kalian bakal jadian,"

Mulutku membuka--aku speechless. "Kok lo jadi kesana sih, aneh!"

Dia tertawa lagi. "Ya lagian, kalian tuh lucu banget, tahuu! Ship kalian di sekolah itu makin terkenal loh, lo nggak mungkin nggak tahu. Selama di sekolah juga, Ren nggak pernah ngeladenin apa kata orang lain. Cuma waktu sama lo aja dia bakal bicara sepanjang itu, definetly hate-love,"

Cherry tidak sepenuhnya tahu, itu karena betapa mengesalkannya tingkah Ren di kelas. Pada hari dimana pertama kali aku mengangkat tangan untuk ikut diskusi bersama Bu Afifa tentang tumbuhan yang memiliki respon terhadap ancaman, aku mencoba menjawab pertanyaannya; bahwa pohon bisa memperingatkan pohon lain tentang serangan hama lewat jaringan jamur di bawah tanah—semacam jaringan komunikasi bawah tanah. Kukatakan para ilmuwan menyebutnya Wood Wide Web.

"Hah, 'World' Wide Web? Mirip internet, ya? Kalau gitu di bawah tanah mereka ada grup chat WA, kah?"

Belum selesai anak-anak berugumam  terhadap penjelasanku, Feri menyeletuk seperti itu. Kelas tertawa pelan. Aku menoleh dan tebakanku benar, Ren yang membisiki Feri. Kata-kata 'wood' sengaja mereka pelesetkan. Ren mengangkat alis dengan pongahnya memamerkan raut licik. 

"Wood, bukan World!" tekanku kepada mereka.

Tapi syukurnya setelah kelas, Bu Afifa mengajak aku mengobrol, sampai akhirnya beliau tahu bahwa Mama adalah dosen Biologi di Universitas Arunika. Ini kemajuan baik, batinku. Sampai aku menangkap tatapan sinis Ren di tengah-tengah dia bersama teman-temannya. Menambah poin artinya meningkatkan perubahan signifikan pada nilai. Dikenal guru artinya mereka akan memberikan reputasi positif kepada murid. Tampaknya, kami berdua sama-sama menaruh perhatian tentang ini.

Aku tidak terkejut oleh kesadaran ini, sekalipun tanda ini semakin jelas saat hari demi hari kami sekelas. Aku pun tahu dia tidak senang akan keberadaanku. Sebenernya sejak pertemuan kami kembali disini, atau bahkan sejak dulu, saat kami pertama kali bertemu di masa kecil. Perasaanku tentang itu selalu ada.

Seperti yang Cherry bilang, di sekolah Ren dikenal cuek dan tidak terlalu peduli pada masalah atau ucapan siapapun , selama itu tidak banyak berkaitan dengan kepentingan dirinya sendiri. Ren juga dikenal diam-diam mendapat nilai bagus, tidak perlu berusaha keras untuk banyak bicara atau merakit sebuah citra (yang mana berbeda denganku). Dan yang sering membuat orang-orang kagum adalah, dia langsung meraih peringkat pertama paralel untuk satu angkatan berturut-turut tahun kemarin, di tahun pertama kami.

Aku tidak bisa menahan rasa dongkolku, maka kadang aku menggambar wajahnya dengan jelek, atau diam-diam kulebarkan bagian kedua bolong hidungnya. Kadang pula, kalau aku melihat gambar dia terpampang di papan pengumuman, sedang dipromosikan sebagai duta sekolah, aku hampir selalu ingin mencoret-coreti wajahnya, terutama bagian dua matanya yang ingin kulubangi. 

Jika itu semua adalah caraku melampiaskan ketidaksukaanku kepadanya, maka cara Ren lebih licik lagi. Di hari MOS dia berhasil membuat gosip seakan-akan dia naksir kepadaku (bukti bahwa muncul ship kami adalah tanda upayanya berhasil). Bagaimana tingkah dia saat cari perhatian, dan sengaja memancing emosiku adalah alternatif lain dari upayanya. 

Dan yang paling mentereng diantara segala bentuk ketidaksukaannya adalah, dia selalu tak banyak bicara jika siapapun yang menjelaskan suatu pelajaran, berpendapat, atau memamerkan pengetahuan, tidak kecuali jika aku yang bicara. Aku jelas tersinggung, kadang bertanya-tanya.

"Cher, dia kayak gitu karena dia nggak suka sama gue," kataku, bukan karena menyangkal apapun. Hampir pasti ship tentang aku dan Ren yang dibilang Cherry barusan, memang karangan sengaja yang dibuat Ren. Entah apa tujuannya, yang jelas, itu bukan tujuan baik. 

"Masa sih, Klaud?"

"Mungkin... dia gitu karena dia suka pengen cari perhatian guru. Kebetulan dia tahu gue sasaran yang gampang buat dia rendahin," kataku, menimbang-nimbang. "Mungkin juga karena gue berhasil jadi juara kemarin. Tapi kalo benar yang itu, gue puas sih. Dia akhirnya ngerasain apa yang gue rasain sepanjang satu tahun kemarin," jelasku.

"Nggak make sense, masa dia lihat lo sebagai sasaran  yang gampang, padahal lo sendiri juara lima besar? Malah lo juara pertama sekarang, Klaud!" sahut Cherry. "Hmm pasti ada sesuatu, deh,"

Aku menghela napas, "Lo lupa soal poin," 

"Ini soal poin?" selanjutnya, Cherry tampak baru mengingatnya, "Aah.. poin yang itu, maksud lo,"

"Lo tahu ngeburu poin di sekolah itu cukup ketat, karena hasilnya pun lumayan,"

"Jadi kejadian yang tadi dikelas lo sama Ren itu, intinya... karena poin?"

Aku berdehem. "Yap, kurang lebih. Apa lagi? Makin benar makin tinggi nilai poinnya,"

"Dan lo nggak suka karena dia seakan-akan lebih benar dari lo?"

"Yang artinya poin dia bakal lebih besar dari gue, dan gue makin kelihatan kecil karena itu,"

"Lo benar-benar nganggep semua hal di sekolah serius... seserius itu.." Mulut Cherry menganga, kedua matanya menyipit.  "Yah meskipun nggak kaget sih, lo sama Ren kan kelas IPA 1,"

"Bukan cuma gue, dia juga kayaknya, makanya dia gitu" aku berpaling melihat pemandangan dari jendela mobil, "Wajar gue bete sekarang,"

"Jujur sampai dititik ini gue nggak ngerti apa yang selalu di pikirin sama anak-anak kayak kalian," sambil berkaca di hand mirror Betty Boop, Cherry menggeleng-geleng. "Terus juga, lo kan udah bisa ngalahin dia di semester kemarin, kenapa lo masi sebete ini sama dia? Apalagi soal hal begini, poin? Itu poin doang, Klaud. Kalian kan dapat poin sama rata,"

Aku malu mengakuinya; tapi aku sudah menganggap poin seperti tabunganku. Investasiku. Yang akan membentuk integritas dan mempertahankan citrakku untuk bisa dikenal guru dan peluang baikku kedepannya. Juara paralel di sekolah kami dihitung dari tiap-tiap angkatan, tidak peduli IPA atau IPS. Tapi, peringkat saja tidak cukup. 

Tidak seperti yang dikatakan Cherry, poin tidak selalu berakhir sama rata. Untuk mereka yang ikut diskusi namun jawaban atau pendapatnya salah, mereka tetap mendapat poin atas keberaniannya. Namun jika keduanya benar, itulah yang bisa menambah nilai poin dari pada biasanya. Poin tetap ikut menentukan siapa yang benar-benar diperhitungkan, bahkan bagi mereka yang bukan juara pertama--seperti Ren. 

Namun mengatakannya kepada Cherry tentang tabungan poinku, mungkin malah menambah bahan ejekan. Terlebih, kenyataan kini aku berada di mobilnya untuk ditumpangi pulang, semakin memperjelas semuanya.

"Yang bikin gue bete, dia ungkit-ungkit apa yang gue omongin ke dia waktu kemarin-kemarin," mengingatnya, kepalaku panas. "Nggak nyambung, sok jagoan," lanjutku spontan.

Mobil Cherry mengerem setelah lampu merah. "Ngomongin apaan soal kemarin?"

Maka, kuceritakan apa yang terjadi antara kami berdua beberapa hari lalu, dan itu soal perdebatan yang terjadi di kelas PPKN. Aku ingat, hari itu hampir semua anak mengantuk di kelas. Setelah Pak Damar menyadarinya, beliau memutuskan membuka sesi diskusi. Pak Damar membuka bahasan tentang sistem pemerintahan. Beliau berdiri di depan, menuliskan "Sistem Presidensial vs Parlementer" di papan tulis.

"Biar nggak ngantuk, Bapak akan buka sesi latihan argumentasi. Bapak ingin dua orang menjelaskan mana yang menurut kalian lebih efektif di negara kita saat ini."

"Argumentasi.. masuknya debat ya?" anak-anak mulai menegakkan kepala dan saling berbisik.

"Kayak debat, kan?"

"Duh lagi malas, deh kalau mapel ini,

"Suruh 'mereka' itu lagi aja, pasti natural debatnya" suara itu disusul sahutan yang lain, "Oh iya!"

Saat itu, aku sudah punya feeling kuat kalau aku akan menjadi salah satu yang disebut yang lain. Aku sendiri memperhatikan, rata-rata anak di kelas jauh lebih ambisius ketika membahas sains dan turunannya. Tidak banyak yang menaruh ambisi pada ilmu sosial seperti mata pelajaran ini. 

Tapi setelah dugaan namaku yang disebut itu benar, aku sempat khawatir karena bagimana kalau ternyata ada anak lain yang lebih ingin ikut diskusi ini? Lagipula aku sudah mendapat poin dari kelas ini. Tapi, sewaktu nama Ren disebut dan cowok itu menyanggupi, aku mendadak tidak perlu menemukan alasan untuk mundur.

"Siapa yang berpihak sama sistem presidensial?"

"Saya," jawabku, karena bagiku benar begitu. "Saya.. pilih sistem itu yang efektif buat sekarang,"

"Kenapa begitu?"

"Menurut saya... sistem presidensial lebih cocok buat negara Indonesia. Karena masa jabatan presiden jelas.. jadi kebijakan jangka panjang bisa lebih.. tegas, dan berjalan tanpa banyak perselisihan nggak perlu," 

Sebalnya, karena hanya kami berdua yang berdiri di tempat, aku bisa merasakan Ren masih bergeming di tempatnya, entah memikirkan apa? Dan kulihat anak-anak mulai ikut menaruh perhatian pada kami.

"Kalau kamu gimana, Ren?"

Ren berdehem sebelum menjawab dengan nada lumayan rendah, "Kalau saya, parlementer itu.. lebih efektif.. juga efisien? Kalau pemerintah yang menjabat nggak jujur, bisa diganti cepat. Jadi sanksi lebih terjamin dan hukumannya tegas,"

Pak Damar menganggukkan kepala, seperti setuju, "Kelihatannya lebih adil ya, buat rakyat.."

Aku memutar otak mencari argumen yang menguatkanku. "Kalau sering ganti pemimpin, kebijakan-kebijakan yang ada buat rakyat jadi nggak stabil. Rakyat bisa sejahtera kalau pakai langkah-langkah konsisten, jadi presidensial bisa lebih menjamin itu,"

"Kalau pemimpin dalam parlementer itu jujur... pasti nggak perlu sering diganti, kan? Itu jauh lebih tegas biar para pemimpin selalu waspada sama tanggung jawabnya," kata Ren, setelah jeda beberapa saat. "Lagian... stabil bisa percuma kalau kebijakannya salah dan nggak bisa diperbaiki."

Aku menyapu rambutku ke belakang telinga--sikap keberuntunganku kalau aku mulai cemas.

"Sistem presidensial itu... pakai pemilu langsung. Langsung rakyat yang memilih, rakyat juga yang menilai. Sudah adil dan transparan.." aku lantas berbalik sekilas untuk tersenyum tipis ke arah Ren, "Kalau parlementer... apa yang bisa menjamin kalau pilihan yang mereka tentukan berpihak sama rakyat?"

"Haa.."

"Debat beneran, kan.."

"Mereka emang beda,"

Setelah diam beberapa saat, Ren menjawab"Di parlementer.. bukannya rakyat yang juga pilih wakilnya? Jadi parlementer juga dipilih rakyat. Bedanya, wakil itu bisa ambil tindakan cepat kalau pemerintahnya bermasalah, nggak perlu nunggu kebijakan yang ada berubah setelah bertahun-tahun,"

"Couple rival yang nggak ada duanya..."

"Harusnya gue rekam dari awal, ya,"

"Ini ..mirip acara debat yang gue tonton di TV,"

"Hari gini lo masih nonton TV??"

Samar-sama aku mendengar apa yang teman kelasku bicarakan. Tapi aku tidak peduli, otakku mulai bekerja keras untuk mencari cara supaya jawabanku lebih benar dari Ren. Aku berusaha santai saat ingin mengatakan argumenku selanjutnya,

"Indonesia itu... rakyat-rakyatnya lahir dari berbagai latar belakang dan budaya. Dan semakin banyak perbedaan, artinya banyak juga perselisihannya," aku melanjutkan, "Tapi Indonesia terlalu besar dan beragam buat mudah ganti arah, jadi sistem presidensial lebih masuk akal karena masa jabatannya jelas.. kebijakannya juga direncanakan dan berjalan secara jangka panjang,"

Aku mulai gugup setelah suaraku terdengar semakin jelas karena anak-anak dikelas tidak ada yang bicara, selain mendengarkanku. Lalu aku melanjutkan,

"Pemerintah... juga punya waktu buat nyusun dan melaksanakan keputusan yang tegas demi mencapai kesejahteraan. Indonesia nggak bisa pakai sistem yang mengutamakan reaksi cepat tiap ada konflik, kalau tujuannya... kesejahteraan seluruh rakyat seperti yang ada di Pancasila,"

Aku tahu aku sudah terdengar sok tahu. Tapi bagiku lebih menyakitkan kalau mendengar Ren yang terakhir bicara daripada aku.

"Hmm.." 

"Boleh juga sih.."

"Kita dengar Ren jawab apa.."

"Saya.. setuju Indonesia butuh stabilitas, tapi stabilitas yang salah arah juga bisa merugikan lebih lama," jelas Ren, "Karena Indonesia besar dan rumit, menurut saya... Indonesia butuh sistem yang bisa selalu belajar dari perbedaan yang ada, misalnya... pengetahuan spesifik untuk setiap perbedaan yang diterima di Indonesia? Bukan cuma jalan lurus satu arah dan tutup mata sama hal lain," 

Dahiku mengernyit mendengarnya,

"Fleksibel di parlementer.. jadi cara buat ngingetin pemerintah kalau arahnya keliru, dan saya rasa.. teman-teman di sini ada yang suka lihat berita di TV atau Internet? Mungkin bisa nilai sendiri, apakah sistem yang sekarang benar-benar sudah bikin kita dekat ke tujuan kesejahteraan itu atau belum??"

"Wah.."

"Nggak berani ngomong apa-apa sih gue,"

"Kok bisa seserius itu mereka padahal bukan lomba juga??"

Saat itu aku mencoba berbalik ke belakang, melihat Ren yang sedang tersenyum (tebar pesona) ke arah kawanannya di sekitar, yang, entah, bergumam kagum untuk cowok itu. Dan Feri, yang duduk di belakang bangku Ren, bangkit untuk memukul pantat Ren sambil cekikikan. Sambil memegang pantatnya sendiri, Ren menahan tawa, lalu menangkap pandanganku dan aku segera melihat ke depan.

Aku menimbang-nimbang, sebisa mungkin melanjutkan argumen pakai strategi lain.

"Bisa jadi karena dalam bahasan dunia politik di negara kita... kebanyakan dari rakyat sendiri..... sering sorot satu tokoh berlebihan? Apalagi kalau soal ujaran kebencian, dan cuma satu tokoh terus yang disorot. Jadi muncul narasi-narasi bias yang tujuannya jelek dan memperkeruh suasana,"

Setelah mengatakannya, aku berhenti dan menghela napas, karena.. entah. Ternyata aku tidak sanggup melanjutkan lagi. Apalagi tadi aku mengaitkan ini ke masalah ujaran kebencian, yang mengingatkanku pada luka Mama dulu. Aku sudah tidak peduli Ren mau membalas bagaimana atau semua orang akan bagaimana. Aku pun mencoba melirik teman-teman kelas disekitar, termasuk geng Pitaloka.

Mengejutkan melihat mereka. Hampir semua yang kulihat sedang memandangku dengan tatapan mirip seperti yang mereka berikan juga kepada Ren. Pipiku bersemu, terlebih saat Pak Damar memutuskan bersuara, mempersilakan kami selesai dan duduk. Pak Damar melanjutkan penjelasannya dan membahas lebih jelas tentang bahasan kami, dan katanya, kami berdua tadi sama-sama bagus dan sama-sama ditulis untuk poin.

"Lo keren dari tadi jawab pakai bahasa kayak gitu," bisik Karin disebelah, "Apalagi bisa jawabin terus argumen Ren,"

Baru saja aku senang karena Karin memujiku, perlahan-lahan senyumku merosot. Karin menganggap aku keren karena bisa menjawab Ren. Jadi aku keren karena aku adalah orang yang bisa menjawab Ren, disaat tidak ada yang bisa menjawab Ren, seakan-akan Ren memang anak yang tidak bisa dihadapi siapapun. Aku pun tersenyum masam, lalu menyadari apresiasi orang-orang terhadap Ren selalu terasa lebih hangat dibanding kepadaku.

"Emang dia anaknya udah terkenal dari dulu, kan? Lo nggak perlu kaget, sih Klaud," sahut Cherry. "Dia juga rese, jadi siapa sih yang nggak pernah lupa sama anak rese?"

"Iya sih," jawabku.

Namun mengingat lagi kejadian ini membuatku tambah kesal. Jadi aku penasaran dan ingin bertanya juga kepada Cherry.

"Gue masih penasaran... jadi, menurut lo sendiri gimana?"

"Apaan?" kata Cherry, dia merogoh sesuatu.

"Pendapat lo tentang presidensial atau parlementer?"

"Hah?" sambil memegang pensil alis, Cherry berhenti, tampak kaku hendak bagaimana. 

"Oh hm..." 

Setelah itu, Cherry tampak berpikir, tapi terlihat kebingungan mengungkapkan apa yang hendak ia katakan. Tiba-tiba suara ponselnya bunyi--tanda telepon masuk. Cherry tersentak setelah tahu peneleponnya adalah Tante Mia, ibunya.

"Eh, Mama gue telepon!"

Cherry segera mengangkat telepon itu. Seperti biasa, raut wajahnya selalu bercahaya, girang, manja, kadang sassy kalau sudah berkomunikasi dengan Tante Mia. Beberapa kali tingkahnya itu membuatku ikut tertawa dan tersenyum. Kini, Cherry sedang sibuk memperdebatkan sesuatu dengan Tante Mia, lalu melirik kepadaku dengan ekspresi malas dan santai disaat yang sama. Jika aku bisa menebak; Tante Mia ingin bertemu dengan Cherry saat ini juga.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
NADA DAN NYAWA
16902      3689     2     
Inspirational
Inspirasi dari 4 pemuda. Mereka berjuang mengejar sebuah impian. Mereka adalah Nathan, Rahman, Vanno dan Rafael. Mereka yang berbeda karakter, umur dan asal. Impian mempertemukan mereka dalam ikatan sebuah persahabatan. Mereka berusaha menundukkan dunia, karena mereka tak ingin tunduk terhadap dunia. Rintangan demi rintangan mereka akan hadapi. Menurut mereka menyerah hanya untuk orang-orang yan...
Refulgence of The White Wings Act I
0      0     0     
Fantasy
Ren, seorang siswa tahun kedua di Akademi Militer Legion, hidup di ibu kota bangsa manusia, Oswald. Lima tahun lalu, insiden pencurian artefak kekaisaran mengguncang dunia yang dikenalnya, mengubah segalanya dan menjadi titik balik yang menentukan dalam hidupnya. Tragedi itu merenggut orang-orang terkasih dari sisinya, menyalakan api kebencian yang membara terhadap kekaisaran yang seharusnya m...
Praha
373      248     1     
Short Story
Praha lahir di antara badai dan di sepertiga malam. Malam itu saat dingin menelusup ke tengkuk orang-orang di jalan-jalan sepi, termasuk bapak dan terutama ibunya yang mengejan, Praha lahir di rumah sakit kecil tengah hutan, supranatural, dan misteri.
Asa
5284      1750     6     
Romance
"Tentang harapan, rasa nyaman, dan perpisahan." Saffa Keenan Aleyski, gadis yang tengah mencari kebahagiaannya sendiri, cinta pertama telah di hancurkan ayahnya sendiri. Di cerita inilah Saffa mencari cinta barunya, bertemu dengan seorang Adrian Yazid Alindra, lelaki paling sempurna dimatanya. Saffa dengan mudahnya menjatuhkan hatinya ke lubang tanpa dasar yang diciptakan oleh Adrian...
AM to FM
2      2     1     
Romance
Seorang penyiar yang ingin meraih mimpi, terjebak masa lalu yang menjeratnya. Pertemuannya dengan seseorang dari masa lalu makin membuatnya bimbang. Mampukah dia menghadapi ketakutannya, atau haruskah dia berhenti bermimpi?
Katamu
3350      1393     40     
Romance
Cerita bermula dari seorang cewek Jakarta bernama Fulangi Janya yang begitu ceroboh sehingga sering kali melukai dirinya sendiri tanpa sengaja, sering menumpahkan minuman, sering terjatuh, sering terluka karena kecerobohannya sendiri. Saat itu, tahun 2016 Fulangi Janya secara tidak sengaja menubruk seorang cowok jangkung ketika berada di sebuah restoran di Jakarta sebelum dirinya mengambil beasis...
Frasa Berasa
73357      10802     91     
Romance
Apakah mencintai harus menjadi pesakit? Apakah mencintai harus menjadi gila? Jika iya, maka akan kulakukan semua demi Hartowardojo. Aku seorang gadis yang lahir dan dibesarkan di Batavia. Kekasih hatiku Hartowardojo pergi ke Borneo tahun 1942 karena idealismenya yang bahkan aku tidak mengerti. Apakah aku harus menyusulnya ke Borneo selepas berbulan-bulan kau di sana? Hartowardojo, kau bah...
Tetesan Air langit di Gunung Palung
577      414     0     
Short Story
Semoga kelak yang tertimpa reruntuhan hujan rindu adalah dia, biarlah segores saja dia rasakan, beginilah aku sejujurnya yang merasakan ketika hujan membasahi
GEANDRA
1286      1000     1     
Romance
Gean, remaja 17 tahun yang tengah memperjuangkan tiga cinta dalam hidupnya. Cinta sang papa yang hilang karena hadirnya wanita ketiga dalam keluarganya. Cinta seorang anak Kiayi tempatnya mencari jati diri. Dan cinta Ilahi yang selama ini dia cari. Dalam masa perjuangan itu, ia harus mendapat beragam tekanan dan gangguan dari orang-orang yang membencinya. Apakah Gean berhasil mencapai tuj...
love is poem
2330      1409     4     
Romance
Di semesta ini yang membuat bahagia itu hanya bunda, dan Artala launa, sama kaki ini bisa memijak di atas gunung. ~ ketika kamu mencintai seseorang dengan perasaan yang sungguh Cintamu akan abadi.