Loading...
Logo TinLit
Read Story - If this time brings you home
MENU
About Us  

PADA HARI PERTAMA AKU menginjak kelas 11 dan menjadi teman sebangku Tiara, sebagian besar anak kelas sudah tahu kalau cewek itu berasal dari keluarga menengah bawah. Dan aku juga tidak begitu paham mengapa sikap baik hati kelampau santun-nya cewek itu berakhir sering dibuat bercanda anak-anak lain. Dan beberapa waktu kemudian, aku sadar, seseorang yang kerap mengawali candaan tentang Tiara adalah Pitaloka.

Aku memandangi wajahnya setelah dia bertanya. Jika Rulli adalah cowok paling populer dari kelas, maka Pitaloka adalah versi ceweknya. Dua teman-temannya, Eva dan Karin, selalu setia berada di sisi kanan dan kirinya. Dari yang sudah beredar, Pitaloka dan Karin sudah bersama sejak SMP. Dan, mereka berdua teman satu sekolah Cherry saat SMP.

Meski Cherry mengaku tidak pernah dekat dan tidak ingat apakah pernah berinteraksi dengan mereka, Cherry tahu banyak hal tentang Pitaloka. Mereka tidak satu kelas, tapi sejak awal tahunnya di SMP, ketenaran Pitaloka sudah menyebar luas. Pitaloka adalah anak dari dewan kota yang cantik dan berbakat. Dia pintar melukis, bahkan punya sebutan calon seniman otentik.

Pitaloka beberapa kali menang di berbagai ajang lomba. Dan setahuku, berhubung kepala sekolah sedang berencana mengadakan lomba seni, yang salah satunya ada klub lukis mereka, itu semakin melambungkan nama Pitaloka di sekolah. Dengan sejumlah pengetahuan ini, aku kerap memikirkan kata-kata yang tepat saat berbicara,

"Titipan,"

"Dari siapa?" Pitaloka tersenyum penasaran, "Teman lo tadi?"

Rasanya lega melihat Bu Afifa masuk. Berhubung duduk di barisan depan, kami otomatis menghadap ke papan tulis kelas--menyaksikan kedatangannya. Tak lama, Shania, sang ketua kelas berdiri untuk intruksi, dan kami semua memberi salam. Pelajaran pun di mulai.

Hanya beberapa guru yang sudah jelas-jelas mengenal aku; Bu Afifa salah satunya. Selain karena Bu Afifa tahu identitas Mama dan reputasiku sebagai juara satu paralel se-angkatan, beliau memandang mata pelajaran Biologi adalah materi diskusi yang melekat padaku. Maka, setiap jam Bu Afifa mengajar, kudedikasikan diriku fokus dan antusias memerhatikan penjelasannya.

Saat waktu begini, aku pakai kacamata. Aku lebih suka pakai kacamata saat belajar atau beraktivitas berat. Tetapi beberapa hari lalu, aku tertidur dimeja kamar dan bangun terburu-buru, hingga tanpa sadar aku menginjak kacamataku yang sudah tergelatak di lantai sampai patah. Untungnya, Mama langsung memberikan aku koleksi kacamatanya yang berbingkai oval, dan mengajak aku ke toko kacamata untuk disesuaikan angka minusnya.

Aku hanya nyaman menggunakan softlens ketika sedang diluar sekolah atau hangout. Ini perbedaannya; saat menggunakan softlens, aku secara otomatis bersikap lebih santai dan tenang. Sementara saat belajar, aku tidak pernah tenang, maka kacamata--anehnya--bisa terasa lebih bersahabat untukku.

Siang ini, udara kelas terasa pengap. Penampakan awan jernih dari balik jendela begitu putih dan terang. Beberapa anak mulai mengeluarkan kipas, kertas, gemeresak buku, dan suara menguap pun terdengar. Tak lama, ada yang insiatif menurunkan suhu AC kelas.  Di depan, Bu Afifa menjelaskan materi dan kini papan tulis mulai dipenuhi diagram hormon tumbuhan.

Sebelum Bu Afifa menjelaskan bagian itu secara mendalam, sambil memegang spidol hijau, beliau meminta anak-anak aktif dan bersuara. Seperti biasa, sesi diskusi ini terkadang menyenangkan untuk ditunggu, namun kadang pula bisa menegangkan--seperti yang kualami sekarang. 

Saat guru membuka sesi diskusi, ini juga berarti mereka sedang membuka peluang untuk murid yang ingin menambah poin karena berpartisipasi dalam diskusi. Tapi berhubung aku agak mengantuk sebab kelewat sibuk mengurusi stand Ekskul Fair, aku terpaksa terus melebarkan mata--aku perlu menyimak apa yang dibahas.

Setelah Irfan mengangkat tangan, giliran Shania mengangkat tangan dan menjelaskan pengertian hormon tumbuhan, menggunakan bahasa ringkas dan mudah dipahami; bahwa hormon tumbuhan adalah senyawa kimia alami yang diproduksi oleh tumbuhan, dan mengatur pertumbuhan serta respons terhadap lingkungan. Shania adalah juara lima angkatan paralel di sekolah. 

Good. Tepat Shania," Bu Afifa menyapu pandangan. "Sekarang, siapa yang tahu apa itu tropisme?”

Setelah jeda sebentar, seseorang pun menangkat tangan ragu-ragu, rupanya itu Tiara. “Tropisme itu.. gerak bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, contohnya seperti... cahaya matahari...air,"

“Ya, bagus, Tiara," Bu Afifa mengangguk. "Permukaannya begitu.. Nah... teman-teman.. pernah dengar istilah ‘fototropisme’? Ada yang tahu, apa perbedaan antara tropisme dan fototropisme? 

Kelas hening. Beberapa saling pandang. Bu Afifa menyisir pandangannya lagi ke seluruh ruangan. Aku menahan diri dari perasaan tegang, lalu mencatat, dan berpikir cepat--untungnya aku sempat membaca yang ini. 

"Kalau pada belum, nggak apa-apa." Bu Afifa melanjutkan, "Nah Klaudia, mau bantu jelaskan apakah itu, dan apa perbedaan dari keduanya? Kamu pasti punya pengalaman soal ini, kan,"

Aku mengangkat kepala, menegakkan badan, dan  kujawab dengan percaya diri. 

"Perbedaanya adalah..." aku mengatur suara, "Sementara tropisme itu bagian tumbuhan yang geraknya dipengaruhi oleh beberapa pengaruh luar kayak... cahaya, air, atau gravitasi, " jelasku, "Kalau fototropisme merupakan salah satu bentuk khusus tropisme, yang terjadi karena rangsangan cahaya,"

Bu Afifa tersenyum mendengar jawabaku, "Kalau begitu, bisa kamu kasih contoh, bagaimana aplikasinya dalam konteks kehidupan sehari-hari?”

Aku diam sejenak, dan pandanganku melihat sekitar--berusaha menemukan sesuatu yang bisa membantu jawabanku. Mataku menangkap beberapa pohon kaktus mungil di sudut jendela milik hiasan kelas, yang mengingatkanku pada tanaman dan bunga-bunga hias milik Mama.

"Ada hormon auksin yang mengatur fototropisme," kualihkan perhatianku dari kaktus, "Tumbuhan yang diletakkan di dekat jendela misalnya, akan tumbuh condong ke arah datangnya cahaya matahari. Itu karena ada auksin yang membantu mengarahkan pertumbuhan ke arah cahaya,"

Aku merasakan beberapa anak di kelas mencatat, dan beberapa yang lain juga mulai kehilangan fokus. 

"Jadi menurut kamu, tumbuhan yang mengarah ke matahari, bisa terjadi karena adanya hormon auksin?" Bu Afifa beranjak.

Aku menangguk, mengiyakan. Bu Afifa tampak berpikir, lalu beranjak menuju ke papan tulis saat--

"Bukannya auksin menghindar saat kena cahaya luar?" tanyanya. Tapi, itu bukan Bu Afifa. Seseorang bersuara. Suaranya seperti gumaman, tetapi sangat ganjil sehingga suara itu berhasil membuat semua orang menoleh, termasuk Bu Afifa yang berhenti dan menoleh ke sumber suara. Kecuali aku. Karena itu Ren.

"Tadi saya khawatir, kalau banyak orang percaya tumbuhan yang mengarah ke cahaya matahari, itu karena auksin butuh mengarah ke sana biar bertumbuh," Ren berdehem pelan, "Maaf, sudah menyela,"

Aku refleks meremas lengan seragamku. Ck. Sok naif.

"Ren," sahut Bu Afifa senang, "Tentu, silakan, coba lanjutkan.."

"Ada lumayan banyak artikel populer seolah nyederhanain semua respon tumbuhan itu cuma karena auksin, dan menciptakan kesan bahwa hormon auksin membuat tumbuhan mereka mengarah ke cahaya matahari, karena itu yang dibutuhkan. Padahal.. bukan itu?"

Bu Afifa memiringkan kepala, tertarik. “Ren, kamu menyiratkan kalau peran auksin sering disalahpahami, dan dianggap sebagai satu-satunya?”

"Soalnya auksin bukan bergerak menuju cahaya, malah sebaliknya, apa saya salah?" tanyanya santai.

Bu Afifa tampak semakin tertarik. "Hm oke.. coba lanjutkan semua yang kamu tahu, Ren,"

"Dia menumpuk di sisi batang yang nggak terkena cahaya. Di bagian yang terkena cahaya, aktivitas auksin lebih lambat. Sisi yang nggak terkena cahaya tumbuh lebih panjang, jadi itu yang bikin batang miring ke arah cahaya. Dan masih ada giberelin buat pemanjangan batang, atau sitokinin yang ngatur pembelahan sel,"

Dia menyebut jenis-jenis hormon itu seakan aku benar-benar tidak tahu, seakan-akan aku tidak bisa melihat apa yang sudah ditulis Bu Afifa di papan tulis. Maksudku, memang, ini cara giat Ren membuat posisiku goyah dan salah.

"Rupanya kamu sudah belajar spesifiknya, Ren. Dan kalau dilihat lebih detail, interaksi antar-hormon itu kompleks, kan?"

Ren menjawab. "Mirip.. dunia politik? Kalau satu tokoh yang disorot dominan, bisa bias narasinya,"

Kelas tertawa kecil. Aku langsung ingat, perkatannya berkaitan dengan kejadian kami beberapa hari lalu. Aku tidak menyangka ini akan berlanjut.

"Tapi dalam dunia sains," kataku tenang, karena aku belum selesai, "Peran dominan memang butuh disorot. Dalam tropisme, auksin punya pengaruh paling awal. Tanpa auksin.. respons terhadap cahaya nggak bakal terjadi,"

Ren menjawab dengan suara ambigu, "Ooh gitu ya.. oke-oke,"

Beberapa anak mulai mencatat sambil cekikikan. Aku menoleh sempurna ke arahnya, dan langsung menangkap matanya yang sudah ke arahku. Dia menangkat kedua alisnya samar, dan aku berpaling sebelum melihat dia tersenyum. Aku yakin dia tahu arah pembahasan ini khusus fototropisme, tapi dia akhirnya sukses membuat framing seolah pengetahuanku masih sempit.

“Ren, kamu menyentuh aspek dalam, tapi bukan berarti penjelasan Klaudia keliru. Auksin berperan penting dalam fototropisme," lanjut Bu Afifa sambil menunjukkan tulisannya di papan, "dan ia bekerja bersama hormon lain, dan cara kerjanya bergantung dari lokasi serta jenis jaringan. Baik anak-anak, kita akan mulai bahas lebih rinci supaya kalian nggak cuma menghafal, tapi juga paham lebih tepat."

Bu Afifa berjalan ke depan, mulai menggambar sesuatu di papan tulis. Tampaknya seperti dedaunan. Bersamaan dengan itu, aku berusaha meredam kedongkolanku terhadap Ren. Bangku kami lumayan jauh. Ren berada di daerah belakang, sudut dekat jendela. Lalu pikiranku kembali pada beberapa hari sebelum ini, dan juga beberapa kejadian kami sebelum-sebelumnya. Bu Afifa mulai bersuara lagi, maka aku tersadar dan segera mencatat.

Di tengah-tengah perjuanganku membuang memori tidak penting dan fokus pada pelajaran, Bu Afifa memberi jeda sebelum masuk ke pembahasan berikutnya. Bu Afifa berjalan ke meja dan melihat catatan khusus. Itu catatan poin.

"Oh iya kalian semua yang berpartisipasi saat diskusi," Bu Afifa melanjutkan, "Siapa saja tadi, boleh angkat tangan?"

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
2414      1052     5     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
AVATAR
9063      2809     17     
Romance
�Kau tahu mengapa aku memanggilmu Avatar? Karena kau memang seperti Avatar, yang tak ada saat dibutuhkan dan selalu datang di waktu yang salah. Waktu dimana aku hampir bisa melupakanmu�
Ketika Kita Berdua
42009      7613     38     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
Kalopsia
940      690     2     
Romance
Based of true story Kim Taehyung x Sandra Sandra seharusnya memberikan sayang dan cinta jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri dari pada memberikannya pada orang lain. Karna itu adalah bentuk pertahanan diri Agar tidak takut merasa kehilangan, agar tidak tenggelam dalam harapan,  agar bisa merelakan dia bahagia dengan orang lain yang ternyata bukan kita.  Dan Sandra ternyata lupa karna meng...
HOME
359      272     0     
Romance
Orang bilang Anak Band itu Begajulan Pengangguran? Playboy? Apalagi? Udah khatam gue dengan stereotype "Anak Band" yang timbul di media dan opini orang-orang. Sampai suatu hari.. Gue melamar satu perempuan. Perempuan yang menjadi tempat gue pulang. A story about married couple and homies.
Gue Mau Hidup Lagi
514      354     2     
Short Story
Bukan kisah pilu Diandra yang dua kali gagal bercinta. Bukan kisah manisnya setelah bangkit dari patah hati. Lirik kesamping, ada sosok bernama Rima yang sibuk mencari sesosok lain. Bisakah ia hidup lagi?
Kala Saka Menyapa
14266      3863     4     
Romance
Dan biarlah kenangan terulang memberi ruang untuk dikenang. Sekali pun pahit. Kara memang pemilik masalah yang sungguh terlalu drama. Muda beranak begitulah tetangganya bilang. Belum lagi ayahnya yang selalu menekan, kakaknya yang berwasiat pernikahan, sampai Samella si gadis kecil yang kadang merepotkan. Kara butuh kebebasan, ingin melepas semua dramanya. Tapi semesta mempertemukannya lag...
Letter hopes
1366      789     1     
Romance
Karena satu-satunya hal yang bisa dilaukan Ana untuk tetap bertahan adalah dengan berharap, meskipun ia pun tak pernah tau hingga kapan harapan itu bisa menahannya untuk tetap dapat bertahan.
in Silence
518      370     1     
Romance
Mika memang bukanlah murid SMA biasa pada umumnya. Dulu dia termasuk dalam jajaran murid terpopuler di sekolahnya dan mempunyai geng yang cukup dipandang. Tapi, sekarang keadaan berputar balik, dia menjadi acuh tak acuh. Dirinya pun dijauhi oleh teman seangkatannya karena dia dicap sebagai 'anak aneh'. Satu per satu teman dekatnya menarik diri menjauh. Hingga suatu hari, ada harapan dimana dia bi...
It Takes Two to Tango
504      374     1     
Romance
Bertahun-tahun Dalmar sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Kini, ia hanya punya waktu dua minggu untuk bebas sejenak dari tanggung jawab-khas-lelaki-yang-beranjak-dewasa di Balikpapan, dan kenangan masa kecilnya mengatakan bahwa ia harus mencari anak perempuan penyuka binatang yang dulu menyelamatkan kucing kakeknya dari gilasan roda sepeda. Zura tidak merasa sese...