Jam dua malam Alya dan Dilon mengendap-endap di samping kiri pagar rumah Darlius. Pagar itu terbuat dari tembok dan tinggi. Mustahil rasanya dipanjat kecuali menggunakan tangga. Satu-satunya jalan adalah melewati pintu pagar bagian depan. Tapi di sana ada delapan bodyguard yang berjaga dan satu orang satpam.
Dilon berbisik. "Bagaimana kita akan memasukinya? Mereka banyak sekali."
"Kita bertahan disini dulu. Barangkali ada seseorang yang keluar untuk memeriksa jalan. Setelah itu kamu bius dia."
Alya memasang wig yang menyerupai rambut laki-laki. Benar kata Alya, dua orang bodyguard terdengar melangkahkan kaki kearah mereka. Alya memberi aba-aba pada Dilon untuk bersiap-siap. Ketika dirasa sudah dekat, Alya dan Dilon menyelinap kebelakang mereka dan langsung menutup mulut keduanya dengan sapu tangan yang sudah diberi bius. Lalu menyeret dua orang itu ketempat persembunyian mereka. Melepas pakaiannya, lalu memakainya. Tak lupa memakai masker hitam. Setelah dipastikan aman dia dan Dilon kemudian berjalan beriringan memasuki pagar, satpam pun tak mencurigainya. Mereka berjalan menunduk, hingga Dilon ditegur oleh salah seorang bodyguard.
"Hei kalian mau kemana? Kalian berdua ditugaskan untuk menjaga pagar luar, sudah diperiksa belum, aman tidak?"
"Belum," sahut Dilon.
"Kenapa suaramu beda?" salah satu bodyguard agak curiga.
"Ehm. Tenggorokanku sedang tidak nyaman."
"Dan kenapa kalian berdua pakai masker?"
"Cuaca malam tidak baik untuk saya. Dan saya sarankan kalian juga harus mengunakannya. Kalau tidak, kalian akan mendapatkan pilek besok paginya."
Ketika dipastikan bodyguard itu tak lagi berkomentar ia langsung menyusul Alya yang sudah duluan masuk rumah.
"Hmm, ternyata lampunya sudah dimatikan," bisik Alya. Dilon tak menyahut, sibuk memandangi sekeliling.
Alya memejamkan matanya, bertelepati dengan Marrinette.
"Marrinette, dimana kau?"
"Liat kearah laser."
Ketika Alya membuka matanya, ia melihat sebuah cahaya merah. Menarik tangan Dilon, dan mendatangi cahaya laser hingga bertemu dengan Marrinette dan Fadli. Didalam remang-remang itu, mereka berjalan mengendap-endap. Melihat sekeliling dengan waspada. Setiap langkah diperhitungkan, jangan sampai menimbulkan bunyi. Mereka tak ingin rencana yang sudah disusun dengan matang berakhir gagal. Fadli yang memimpin pasukan bergerak maju paling depan. Akhirnya mereka tiba di depan pintu ruangan tempat Evelyn di sembunyikan. Fadli mengambil kunci dari dalam sakunya yang sempat dia curi diam-diam dari Agnes. Perlahan tapi pasti, ia berhasil membuka pintu tersebut. Mereka langsung masuk dan menutup pintu pelan-pelan, jangan sampai pasukan Darlius mendengar. Ruangan itu remang-remang, ada satu lampu yang hidup menyoroti peti kaca. Terlihat Evelyn dalam keadaan lemah tak berdaya, dengan mata terpejam.
"Evelyn!" pekik Alya tertahan. Bergegas menghampiri peti kaca dan prihatin dengan Evelyn. "Aku tak menyangka nasibmu akan seperti ini." Suaranya terdengar serak menahan tangis.
"Kita tak punya banyak waktu. Ayo bawa dia sekarang. Dilon, angkat," instruksi Marrinette.
"Kita membawanya lewat mana?" tanya Alya.
"Depan," sahut Marrinette.
"Jangan, itu beresiko. Banyak penjaga di sana," kata Alya.
"Kalau begitu kita harus lewat mana? Tidak mungkin melewati pagar belakang, selain sulit tangganya juga tidak ada," sahut Marrinette.
"Kita kecoh saja bodyguardnya," sahut Fadli tiba-tiba.
"Caranya?" tanya Alya tak mengerti.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Setelah itu kalian bisa membawa Evelyn, mereka belum menyadari kalau aku berada dipihak kalian," sahut Fadli.
Usai berucap demikian, mereka dikejutkan dengan suara pintu yang didobrak paksa dan lampu yang dihidupkan. Keempatnya terkejut karena melihat Darlius, Agnes, Pak Adi, serta beberapa bodyguard memasuki ruangan.
Darlius bertepuk tangan dalam tempo lambat sebanyak empat kali. "Hebat, hebat kalian. Aku bahkan juga tidak menyangka jika putraku satu-satunya mengkhianatiku. Apa yang ada dipikiranmu Fadli? Kenapa kamu malah berpihak pada makhluk seperti mereka?"
"Aku tidak punya hati sejahat Papa. Papa mencari kekayaan dengan mengancam kehidupan mereka. Apa Papa tidak kasihan? Mereka berhak hidup bebas, Pa. Sama seperti kita yang tidak ingin kehidupan terusik dan ingin hidup bebas."
Darlius tertawa sinis. "Sejak kapan kamu menjadi orang sok bijak? Sok-sok an menasehati Papa. Untuk apa peduli pada makhluk hina seperti mereka? Mereka hanyalah sebagian manusia dan sebagian binatang. Tak sama seperti kita."
Dilon yang mendengar penuturan Darlius emosi dan tak terima.
"Heh manusia sampah! Kami meskipun sebagian binatang tapi tidak suka merampas hak orang lain. Tak sama seperti kau yang ingin memiliki segalanya bahkan menggunakan cara yang menjijikkan sekalipun!"
"Tutup mulutmu dasar bedebah!" Geram Darlius dengan ucapan pelan namun penuh penekanan.
"Hiih!" sinis Dilon muak.
"Bodyguard, tangkap makhluk-makhluk itu!" perintah Darlius.
Fadli mencoba menghalangi. "Hentikan! Ini tidak manusiawi. Pak Adi, tolong halangi mereka," perintahnya Pak Adi namun Pak Adi tak bergerak sedikitpun.
Tawa Darlius menggelegar diruangan itu.
"Fadli, Fadli. Siapa yang berkuasa dirumah ini selain aku? Kau pikir setelah mengkhianatiku kau bisa bebas memerintah mereka? Adi! Ringkus anak ini dan buat ia berlutut dihadapanku! Akan kuberi pelajaran yang takkan bisa dilupakan seumur hidup untuk anak ini."
Adi mengangguk patuh dan menyerang Fadli. Sedangkan Dilon, Alya, dan Marrinette harus bertarung menghadapi bodyguard-bodyguard yang kuat lagi kekar itu.
Marrinette meringgis. Sebelumnya ia mampu membuat lawannya terlempar setinggi-tingginya hanya dengan sekali tendangan. Namun kini, tiga kali tendangan seakan tak mampu membuat lawannya lumpuh. Marrinette mulai kewalahan.
"Sial! Kenapa aku begitu lemah sekali? Apa karena tenagaku sudah terkuras habis akibat pelarian itu?"
"Marrinette! Dibelakangmu!" teriak Alya memperingati.
Bunyi suara pukulan mendarat di kepala bodyguard. Bukan berasal dari tangan Marrinette, melainkan dari Dilon yang bergerak cepat memukul kepala pria dengan balok kayu untuk melindungi Marrinette. Jika telat sedikit saja, mungkin Marrinette sudah ambruk dengan kepala bercucuran darah karena bodyguard menyelinap dibelakang Marrinette dan hendak memukuli kepalanya dengan dongkrak besi.
"Marrinette, urus Evelyn! Biar kuhadapi tikus-tikus ini." Perintah Dilon.
Marrinette mengangguk, menghampiri Evelyn. Namun lagi-lagi ia harus berhadapan dengan bodyguard yang hendak menghalangi langkahnya. Marrinette sudah kelelahan, namun ia harus melawan dengan tenaga seadanya.
"Akh bedebah!" Tiba-tiba Dilon sudah datang melindunginya, memberikan tendangan ekstra pada alat vital pria itu dan membuatnya meringkuk kesakitan. Lalu memukulinya hingga pingsan. "Makan tuh! Nanti kalau kau sadar kau harus siap hidup dengan kehilangan satu biji perkututmu."
Hanya tinggal sedikit musuh yang tersisa. Namun sayangnya mereka belum bisa bernafas lega. Karena tiba-tiba delapan bodyguard yang tadinya berjaga di depan pagar, sekarang ikut masuk ke dalam ruangan itu untuk menghabisi mereka.
"Alya, kau harus bantu Marrinette untuk membawa Evelyn. Biar aku dan Fadli yang menghadapi mereka." Lalu Dilon membantu Fadli menghadapi lawan yang tak seimbang itu.
Terdengar erangan kesakitan dari kedua belah pihak. Fadli dan Dilon tak menyerah meskipun sekujur tubuhnya sudah sakit. Apalagi musuh mereka kali ini tidak menyerang pakai tangan kosong, melainkan menggunakan benda keras seperti kayu dan juga pisau. Ini tidak mudah, sebab beberapa kali Fadli harus mengalami pukulan dan sabetan.
Darlius dan Agnes yang melihat Alya dan Marrinette hendak membebaskan Evelyn tidak tinggal diam. Mereka pun bergegas menggagalkan rencana dua perempuan itu.
Marrinette benar-benar tak menyadari kedatangan Darlius karena suatu tamparan keras berhasil mendarat dipipinya. Membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Marrinette!" teriak Alya. Ia tak terima melihat Marrinette diperlakukan seperti itu.
Ia hendak memukul Darlius namun rambutnya dijambak oleh Agnes, ditarik hingga menjauhi Darlius dan didorong. Namun Alya berhasil menjaga keseimbangan hingga ia tak jadi jatuh. Berbalik menatap Agnes dengan muka merah padam menahan amarah.
"Kau tak perlu ikut campur dalam masalah ini dasar gundik!" Rahang Alya mengejang.
"Gundik lebih mulia daripada binatang macam kau ini!"
Agnes kembali hendak menjambak rambut Alya, namun Alya berhasil menepisnya dan mencekal tangannya. Tatapan tajamnya menusuk netra Agnes. Namun wanita itu malah menyeringai.
"Mari bertarung denganku kalau kau memang hebat," kata Agnes menantang, meninggikan dagu dengan sombongnya.
"Haik! Hiya!" Alya berkali-kali menepis pukulan dan menghindari serangan Agnes.
Agnes tersenyum sinis. "Kupikir kau hebat. Ternyata tak lebih dari seorang pecundang. Kau memang layak diperjual-belikan seperti temanmu itu."
"Sombong sekali kau. Belum juga seberapa."
Tiba-tiba Alya memberikan tamparan keras yang membuat Agnes terhuyung. Dirabanya pipinya yang terasa panas, menatap Alya dengan penuh emosi.
"Bangsat!" teriaknya dengan mata menyala. "Kau pengen mati rupanya."
Lalu Agnes menyerangnya dengan brutal.
Lain halnya dengan Marrinette, dia harus berhadapan dengan Darlius yang tenaganya jauh lebih kuat daripada bodyguard. Tubuhnya bukan sakit lagi, melainkan sudah mau mati rasa. Serangannya sama sekali tak berefek pada Darlius. Ia tak sanggup berkutik karena tiba-tiba saja Darlius mencekiknya. Alya yang menyaksikan itu sangat terkejut. Namun ia harus berhadapan dengan Agnes setiap kali hendak menolongnya. Karena terdesak, Alya mengeluarkan sulur dari tangannya dan melilit tubuh Agnes lalu menghempaskan wanita itu ke dinding tembok.
Ternganga, Agnes masih sulit mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Apakah barusan itu sihir?