Malam itu begitu dingin, ketika sepasang suami istri, Atmaja dan Kartika, sedang menapaki jalan menuju Gunung Kawi. Suara dedaunan yang bergesekan dan desir angin malam yang dingin menemani langkah mereka. Hati mereka dipenuhi harapan sekaligus ketakutan—harapan akan kehidupan yang lebih baik dan ketakutan akan harga yang harus dibayar.
Atmaja dan Kartika telah menikah selama lima tahun. Namun, kehidupan mereka diuji dengan perekonomian yang tak kunjung membaik. Usaha kecil yang mereka jalankan selalu merugi, utang menumpuk, dan mereka belum dikaruniai anak. Dalam keputusasaan, mereka mendengar tentang pesugihan getih anak di Gunung Kawi—sebuah cara yang katanya bisa memberikan kekayaan tanpa usaha.
Kini, mereka telah tiba di depan sebuah rumah panggung. Di sana sudah berdiri sepasang suami istri berusia senja, bernama Ki Ageng dan Nyai Sumirah. Setelah mendengar maksud dan tujuan Atmaja dan Kartika, suami istri itu menuntun mereka ke sebuah gua. Di dalamnya, samar-samar terdengar suara bisikan, seakan ada sesuatu yang sudah menunggu.
“Kalian sudah siap?” tanya Ki Ageng dengan suara serak, dari tubuhnya tercium aroma anyir dan menyan yang pekat. Atmaja dan Kartika saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk.
"Pesugihan ini disebut getih anak," lanjut Ki Ageng. "Kalian akan mendapatkan kekayaan, tapi ada syarat yang harus kalian penuhi. Istrimu harus bersetubuh dengan Tuan kita setiap malam Jum'at Kliwon, tepat jam 12 malam di kamar khusus. Tidak boleh terlewatkan apapun alasannya. Lalu, jika istrimu mengandung, maka anak itu adalah hasil persetubuhan dengan Tuan kita. Ketika anak itu mencapai usia tujuh bulan, ia harus dikorbankan. Jika melanggar, nyawa kalianlah yang akan menjadi gantinya."
Kartika menelan ludah. Ia menggenggam tangan suaminya, berharap ada cara lain. Tapi, Atmaja tampak tak ragu sedikit pun.
"Kami setuju," ucap Atmaja mantap.
Ki Ageng tersenyum samar. “Baik, kalau kalian sudah paham dan setuju menjalankan ritual. Istrimu akan dimandikan secara khusus oleh istri saya kemudian didandani agar Tuan kita, sang Iblis tertarik dan mau berhubungan dengan istrimu.” Lalu, Nyai Sumirah mengajak Kartika ke tempat pemandian yang telah disiapkan. Sedangkan, Atmaja membantu Ki Ageng itu menyiapkan sesajen dan perlengkapan ritual lainnya.
Awalnya, Kartika dimandikan dengan air yang telah dicampur dengan berbagai bunga–menyebarkan aroma harum yang alami. Setelah menghabisi setengah air bunga, tiba-tiba Nyai Sumirah mengguyur kepala Kartika dengan darah berbau busuk. Darah itu digosokkan ke tiap sela kulit Kartika, hingga akhirnya ia kembali diguyur dengan air bunga hingga habis.
Kartika sedikit merasa pusing saat mencium wangi bunga yang bercampur dengan aroma darah yang pekat.
“Tahan sampai ritual selesai. Darah yang saya siramkan tadi hanya darah ayam cemani hitam dan kambing berkulit hitam,” ucap Nyai Sumirah. “Kamu beruntung karena tidak perlu bersusah payah menyiapkan umbe rampe dari ritual ini. Pagi tadi, suami saya mendapat petunjuk kalau akan ada tamu yang datang, dan dia menyiapkan ini semua untuk kalian. Jadi, tolong kuatkan tekadmu dan jangan sia-siakan persiapan ini.”
Kartika mengangguk meski hatinya masih meragu. Ia tidak yakin apakah hatinya akan kuat mengorbankan darah dagingnya demi harta kekayaan. Nyai Sumirah mulai membaca mantra. Udara dalam gua mendadak terasa berat, membuat Kartika nyaris terjatuh.
Usai dibacakan mantra, Kartika dipakaikan baju kebaya berwarna merah dan kain jarik cokelat. Lalu, ia dituntun untuk duduk bersimpuh di sebuah lingkaran yang telah dipasangi lilin-lilin kecil. Di dalam lingkaran itu terdapat gambar sebuah bintang terbalik yang dibuat dengan darah hitam.
“Relakan tubuhmu, jangan takut apalagi sampai keluar dari lingkaran ini,” pesan Nyai Sumirah yang kemudian pergi meninggalkan Kartika sendirian.
Di bagian lain, Ki Ageng dan Atmaja duduk bersila sambil membaca mantra. Ki Ageng menyuruh Atmaja mengatakan keinginannya dan tawaran tumbal yang akan diberikan.
“Saya dan istri ingin menjadi kaya tanpa susah, Tuan. Memiliki harta dan uang berlimpah. Sebagai gantinya, saya bersedia istri saya melayani Tuan tiap malam Jum'at Kliwon dan memberikan keturunan saya saat ia sudah menginjak usia 7 bulan,” ujar Atmaja dengan mantap. Setelah menyampaikan keinginannya, Atmaja diminta Ki Ageng mengikuti ucapan mantra yang diucapkannya.
Dalam kesunyian, Kartika melihat kedatangan sesosok bayangan hitam yang muncul dari dalam kegelapan. Wujudnya samar, tetapi kehadirannya terasa begitu nyata—sesosok makhluk tinggi dengan mata merah seperti api membara.
"Kau siap?" suara makhluk itu bergema, dalam dan mengancam.
Kartika mulai menggigil ketakutan namun pasrah dengan tindakan yang akan diterimanya, Malam itu, ia menyerahkan dirinya pada iblis yang terkutuk.
---
Satu bulan setelah malam mengerikan itu, Kartika hamil. Ajaibnya, tidak ada kesulitan sama sekali selama kehamilan. Ia bahkan tidak mengalami mual atau lemas seperti yang dialami ibu hamil lainnya.
Di saat yang sama, kekayaan mulai menghampiri mereka. Usaha yang dulu merugi kini berkembang pesat, uang mengalir tanpa henti, bahkan emas dan perhiasan entah dari mana mulai bermunculan di kamar mereka. Yang paling aneh, setiap kali Kartika melayani sang iblis, lembaran uang akan jatuh dari langit-langit kamar.
Atmaja semakin tenggelam dalam kemewahan. Ia membeli tanah, mobil, dan sebuah rumah mewah. Semua yang dulu mustahil kini menjadi kenyataan.
Hingga akhirnya, anak mereka lahir.
Seorang bayi perempuan yang begitu cantik dengan mata hitam pekat yang menatap lembut ke dalam jiwa siapa pun yang melihatnya. Kartika menamainya Sekar. Sejak pertama kali menggendong putrinya, Kartika tahu ia tidak akan sanggup kehilangan anak itu.
Tetapi perjanjian sudah terlanjur dibuat.
Waktu terus berjalan, dan saat Sekar berusia enam bulan, Kartika mulai berontak. Ia menolak melanjutkan ritual melayani sang iblis. "Aku tak bisa, Mas! Aku tak bisa mengorbankan anakku!" teriaknya suatu malam.
Atmaja menatapnya tajam. "Kau tahu akibatnya jika kita melanggar perjanjian!"
"Aku tidak peduli!" Kartika menangis sambil memeluk Sekar dengan erat.
Sejak itu, Atmaja mulai berubah. Ia menjadi kasar, bahkan beberapa kali mencoba mengambil Sekar dari pelukan Kartika. Namun, Kartika selalu berhasil melindungi putrinya.
Sayangnya, waktu mereka hampir habis.
---
Malam menjelang usia Sekar tujuh bulan, Kartika menggembok pintu kamar dan memeluk putrinya erat. Ia sudah memutuskan tidak akan membiarkan siapa pun mengambil anaknya. Atmaja, suaminya, dengan tega meninggalkan Kartika sendirian di rumah untuk pergi memancing bersama teman-temannya. Ia tidak ingin ikut campur dengan keputusan Kartika yang ingin mempertahankan anaknya dan membiarkan iblis itu mengambil dengan caranya.
"Jangan takut, Nak… Ibu akan melindungimu…" bisiknya sambil menciumi kening bayi mungilnya yang sedang tertidur.
Pukul dua belas malam, suara ketukan pintu menggema.
Tuk… tuk… tuk…
Kartika membekap mulutnya, menahan napas.
Tuk… tuk… tuk…
Ketukan itu semakin keras. Kartika mengintip dari celah pintu, dan melihat sesosok makhluk tinggi dengan mata merah membara. Sosok yang dia layani tiap malam Jumat kliwon.
"Janjimu harus ditepati," ucap makhluk itu dengan suara keras menyeramkan.
Kartika berinisiatif melarikan diri melalui jendela kamar, tetapi tiba-tiba tubuhnya membeku–tak bisa bergerak, tak bisa bersuara. Pintu kamar terbuka, sang Iblis masuk dan mendekati Kartika. Sekar terlepas dari pelukan Kartika. Bayi itu melayang di udara, menuju sang Iblis yang telah mengulurkan tangan.
"TIDAK!!!" Kartika berteriak dalam hatinya, tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Saat itu, Sekar mulai menangis. Tangisan yang nyaring, seakan memahami bahwa ia tidak akan lagi merasakan pelukan ibunya, suara ibunya dan hidupnya akan segera berakhir.
Lalu—suasana berubah hening. Sekar tak lagi menangis. Tubuh mungilnya telah terkulai di lantai, tak bergerak. Matanya terpejam.
Tangis Kartika pecah. Ia merangkak, mengguncang tubuh kecil yang sudah tidak bernyawa.
"Sekar… bangun, Nak!" Sekeras apapun Kartika memohon keajaiban, tak membuat putrinya kembali hidup.
---
Rumah Atmaja kini terasa begitu sepi. Kehilangan Sekar meninggalkan kehampaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kartika, yang dulunya ceria dan penuh harapan, kini terperangkap dalam keputusasaan.
Sejak malam yang menakutkan itu, Kartika mengurung diri di dalam kamar. Ia tak mau keluar, tak mau bertemu siapa pun. Hari-harinya berlalu dengan perasaan kosong, hanya meratapi nasibnya dan kepergian putrinya.
Atmaja, yang tetap tenggelam dalam kemewahan, semakin terasing dari istrinya. Semua yang telah dimiliki, rumah mewah, tanah yang luas, uang yang mengalir begitu saja, terasa sebagai omong kosong bagi Kartika. Kekayaan itu tidak bisa menggantikan apa yang telah hilang. Namun, Atmaja tetap tidak merasa bersalah—baginya, segala yang terjadi adalah bagian dari kesepakatan yang terlanjur dibuat.
Suatu pagi, Kartika tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya setelah berhari-hari berbaring tanpa semangat. Ia tidak tahu alasan yang membuatnya bergerak, ia hanya ingin segera keluar dari rumah yang terasa seperti penjara tanpa harapan. Rasa sakit karena kehilangan telah membebani hatinya begitu dalam.
Kartika memandangi dirinya di cermin. Pakaiannya lusuh, badannya kurus dan wajahnya pucat. Lalu, ia berjalan keluar, menuruni tangga menuju pintu depan. Atmaja yang sedang merokok di ruang tamu, merasa heran dengan kehadiran istrinya namun memilih tidak mengatakan apa-apa dan membiarkannya keluar. Pikirnya, mungkin Kartika butuh menghirup udara segar.
Kartika melangkah keluar, berjalan pelan menuju jalan raya. Hatinya terasa semakin sesak. Dalam pikirannya, hanya ada satu hal yang terus terngiang—kepergian Sekar.
"Kenapa harus seperti ini?" bisiknya pada diri sendiri. “Kenapa aku menyetujui cara terkutuk yang dipilih oleh suamiku? Kalau saja, aku menolak, mungkin Sekar masih bersamaku sekarang. Sekar tidak akan menderita karena iblis itu.” Air matanya berderai, membuat penglihatannya sedikit memburam.
“Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bisa melindungimu.” Kartika terus melangkah, hingga tiba di jalan raya. Saat ia akan menyeberang, suara klakson menggema. Sebuah truk besar sedang melaju cepat menuju arahnya.
Kartika terdiam memandangi truk yang terus melaju dan tak sempat menginjak rem. Dalam sekejap, tubuhnya tertabrak dan terlindas. Orang-orang bermunculan ketika mendengar nyaringnya klakson dan hantaman. Mereka berlarian menuju tempat kejadian, dan terkejut saat mengetahui kalau Kartika telah menjadi korban kecelakaan.
Di sisi lain, Atmaja berdiri dengan wajah datar. Rupanya, diam-diam ia membuntuti istrinya dan menatap kecelakaan itu tanpa ekspresi. Ia menghela napas pelan hingga akhirnya tergesa-gesa menghampiri keramaian. Ia berpura-pura histeris ketika salah satu warga memberitahu kalau istrinya telah tewas tertabrak truk.
---
Kematian Kartika dan Sekar membawa duka bagi sebagian orang, tetapi bagi Atmaja, itu adalah awal dari sebuah rencana baru.
Atmaja memang kehilangan istri dan anak, tetapi ia tidak kehilangan kekayaannya. Ia sadar bahwa perjanjian pesugihan ini tidak bisa dihentikan. Jika tak segera mencari istri baru, maka harta yang ia miliki akan menghilang, bahkan nyawanya akan terancam.
Satu bulan setelah kematian Kartika, Atmaja memutuskan mencari pengganti. Ia harus menemukan seorang perempuan yang bisa ia jebak. Seseorang yang cukup putusa sa untuk melakukan apapun demi uang. Karena baginya, jatuh miskin lebih menakutkan daripada kehilangan nyawa.
hrose92








