Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Maze Of Madness
MENU
About Us  

Daphne menolak rencana Nora. Betul-betul menolaknya.

"Aku belum pernah memasuki atau menghadapi hal begituan tapi masuk dalam ilusi seorang Penyihir Gelap adalah salah satu hal yang harus kau hindari. Temanku pernah masuk dalam ilusi mereka selama tiga detik dan dia harus ikut bimbingan psikolog selama tiga bulan. Dan kau? Tiga hari di sana? Kau mau masuk rumah sakit jiwa selamanya?!" Respon Daphne ternyata lebih dramatik dan lebih agresif dari respon Kieran. Nora tidak menduganya.

Gadis itu perlahan menurunkan tangan Daphne yang menekam kedua pipinya dengan brutal, lalu mengulum bibir dan tersenyum kecil. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemas, tapi keputusan ini sudah kupikirkan matang-matang. Aku juga sudah merencanakan beberapa hal dengan Kieran. Aku minta maaf Daphne."

Daphne menggeleng-geleng ribut, lalu menggeram. "Kau tahu, Nora. Aku dan Kieran bisa membantumu mencari solusi yang lebih baik dari ini. Terjun ke neraka Rumberhog lagi tidak akan jadi masalah bagi kami. Bahkan jika resikonya aku akan dipenggal oleh bosku sendiri—patut dicoba, sebenarnya. Jadi—"

"Daphne." Nora berusaha berbicara dengan sehalus mungkin. Tangannya terangkat menghadap Daphne, menghentikan omelannya. "Bukannya aku meragukanmu dan Kieran, tapi waktu yang kita miliki tidak banyak. Ini adalah jalan tercepat—meski bukan teraman—yang bisa kita coba. Aku akan melalui ini sendiri."

Ombak pirang Daphne bergerak-gerak ketika ia seolah membanting tangannya ke udara, pusing tujuh keliling akan kelakuan Nora.

Nora menambahkan, "Sebenarnya, mau bagaimana pun kau mau mencoba mencegahku, aku tetap akan pergi ke dalam sana."

"Kau mengatakan itu karena kau belum pernah masuk ke jebakan ilusi, bukan?" Daphne masih mencoba memberi Nora pengertian.

"Ya, tapi, Daphne apa kau punya solusi lain untuk ini?"

Kieran mengusap mulutnya lelah. Nora akan tetap bersikeras dan Daphne juga sama keras kepalanya. Pertengkaran antara dua wanita akan segera meletus, sebentar lagi tengah malam, dan rubanah mereka bergetar semakin kuat.

Kieran memutuskan maju, hendak melerai. Tapi helaan nafas lelah yang Daphne keluarkan menghentikannya.

"Baiklah," tukasnya, "kau tidak mungkin pergi ke dalam sana tanpa membawa apa-apa. Dan lihatlah tanganmu itu. Kau yakin akan kesana dalam keadaan seperti itu? Kau punya apa saja? Amulet? Senjata? Benda tolak bala? Alat-alat perlengkapan darurat?"

Nora mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya. "Aku punya pistol. Dan Kieran bilang dia punya banyak benda berguna di dalam Tas Tanpa Batas-nya. Lalu aku mungkin harus bertanya padamu tips-tips melawan Penyihir Gelap dengan pistol—hei!"

Daphne menepuk tangannya hingga pistol itu jatuh berkelontangan di lantai.

"Kau mau melawan Makhluk Kegelapan dengan pistol? Jenius sekali. Dan ada berapa peluru tersisa setelah kau membuangnya di halaman belakang? Kutebak pasti kosong." Nora bahkan tak sempat protes saat Daphne menarik lengannya. "Barang-barang Kieran hanya cocok untuk Penyihir Arwah seperti dia, bukan kau. Ikut aku ke salon, Tuan Putri."

Daphne hanya menarik Nora ke kamar yang Patrice gunakan. Semua barang-barang Daphne ada di sana. Kieran hendak ikut masuk tapi Daphne memaksanya keluar.

"Kau siap-siap saja sendiri, tidak usah ikut-ikut urusan cewek," katanya.

Daphne membongkar barang-barangnya yang ada di dalam koper sihir, begitulah setidaknya Nora menamainya dalam hati. Koper itu memiliki laci bertingkat-tingkat seperti tangga yang mencuat keluar ketika Daphne membukanya. Laci-laci itu berwarna pink lembut, senada dengan luaran koper yang dihiasi benda-benda perak gemerlapan.

Ada banyak yang Nora temukan, beberapa adalah benda-benda yang familiar seperti sisir dan pengeriting rambut. Tapi lebih banyak yang tak ia kenali. Pakaian-pakaian tertumpuk rapi di bagian paling bawah. Nora hendak melihat lebih dekat ketika Daphne menarik sebuah syal dari dalam sana.

"Satu. Pegang dulu." Nora menerima syal itu dengan pasrah.

"Apa kau tahu jenis Penyihir apa aku?"

"Kau Penyihir Kosong." Daphne meletakkan botol besar yang ramping berisi cairan bening di atas syal. "Yang nekat melawan Makhluk Kegelapan Tingkat Tinggi. Dua."

Nora manyun. "Aku berbicara dengan tulang manusia sebelumnya."

Daphne hampir merobohkan kopernya saat ia menoleh pada Nora. "Apa?"

"Aku ke rumah Oberon Priam, menemukan tulang belulang manusia yang masih utuh, menyentuhnya dengan jari telunjuk dan pesan yang ingin ia sampaikan bisa kubaca." Dahi Nora mengernyit dalam saat Daphne menatapnya tanpa berkedip. "Apa?"

"Siapa orang tuamu?"

"Timothy Hathaway? Dan Thalia Rhodes."

Daphne terperangah. Ia membuka mulutnya seolah rahangnya tak bisa ia tutup lagi. "Pantas saja."

Nora tambah kebingungan. "Ada apa dengan orang tuaku?"

Mereka menyebut nama Thalia Rhodes dan menunjuk-nunjuk dirimu kelewat sering. Rasanya Nora familiar dengan pendapat orang-orang mengenai orang tuanya, dan urusan misterius yang mereka lakukan. Nora bahkan tak mengerti apapun.

"Maka kau tidak butuh ini semua." Daphne kembali mengambil semua barang yang dibawa Nora. Ia mengembalikan semuanya ke dalam koper, lalu mengambil sebuah buku sebagai gantinya.

Buku yang sebenarnya tipis, serupa buku catatan Kieran. Sampulnya berwarna kemerahan, dengan judul yang sudah samar dicetak di atasnya, bertuliskan 'Arsip-Arsip Rhodes'.

"Kakekmu Penyihir terkenal dan ibumu Penyihir Medis yang hebat, terbaik pada masanya. Dia mempelajari tentang dasar sihir dalam tubuh Penyihir, yang dia sebut dengan Energi, simpel, dengan E besar." Daphne berdiri di belakang bahu Nora ketika gadis itu membuka buku itu dengan penasaran. "Dia percaya ilmu sihir medis yang sering dianggap enteng oleh orang-orang juga punya kekuatan yang luar biasa dalam pertarungan aktif antar Penyihir. Mereka dibekali dengan Energi yang cukup dan pengaturan yang lebih kompleks dari Penyihir-Penyihir umum, karena mereka secara teknis memberikan Energi mereka untuk menyembuhkan pemilik Energi lain. Jadi jika para Medis ini tak pandai mengolah Energi mereka sendiri, mereka lama-lama bisa mati."

Nora masih asik membuka-buka halaman buku secara acak, membaca secara acak. Jadi Daphne dengan kebanggaan menyala di matanya, memilih untuk melanjutkan, "Penyihir Medis direpresentasikan memiliki Energi Terang. Sementara Penyihir Gelap, kau tahu sendiri jenis Energi apa yang mereka punya. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dua Energi yang saling berlawanan menumbuk satu sama lain?"

Nora tahu. Ia belajar ilmu ini di Mt. Newslake. "Mereka akan saling menihilkan. Antara kehancuran besar atau lubang hitam raksasa."

"Benar sekali." Daphne tersenyum bangga. "Rhodes katanya melakukan banyak penelitian dan percobaan pada dirinya sendiri setelah ia lulus sekolah menengah. Tak ada yang mengajarinya di sekolah."

"Darimana kau mendapatkan buku ini?"

"Oh, tentu saja, surga barang langka, esklusif, terlarang, mahal, dan berpotensi menghancurkan seluruh dunia dengan satu item saja: Dunia Bawah Rumberhog." 

Nora bergumam. Ia menutup buku itu dengan keyakinan tambahan di dada. Ia tak berbohong saat ia mengatakan pada pria di ruang bawah tanah itu jika ia adalah pembelajar yang cepat. Hampir semua teknik-teknik pengolahan Energi itu masuk dan terekam jelas dalam kepalanya. Bayangan akan aksi sang Ibu malam itu dan ledakan besar yang tercipta. Oh, Ibu, Nora tahu apa yang akan ia lakukan sekarang.

"Aku harus segera pergi." Nora buru-buru mengambil mantelnya yang sempat dilepas Daphne 

"Oke tapi kau tetap butuh persediaan lain seperti senjata praktikal tambahan, serta makanan dan minuman."

"Akan kusiapkan setelah ini." Ia berucap sembari bergegas keluar dari ruangan dan memungut pistol di lantai ruang tengah. "Kieran!"

Kieran sedikit terkejut. Ia sudah siap sejak tadi. Kerjanya hanya bersandar di meja dapur dan menyesap secangkir teh, sambil menunggu gadis-gadis bersiap. Dan akhirnya keluar-lah Nora dari kamar Daphne, dengan penampilan yang tak jauh beda dari sebelumnya.

"Oh, lihat, supermodel kita mendandani supermodel lain. Aku suka mantelmu, omong-omong."

Nora tak menghiraukan sarkasme Kieran dan mencengkram lengannya dengan kurang santai. "Kita ke rubanah. Sekarang."

 

***

 

Angin berpusing dengan luar biasa kencang di dalam rubanah. Alhok masih berada di dalam tubuh Logan. Laki-laki pirang itu dimasukkan dalam sel penjara raksasa yang terbuat dari pendar cahaya keunguan dan terus bergetar pelan. Kedua tangan dan kakinya dirantai ke ujung-ujung sel. Tentakel-tentakel bayangan itu semakin meliar, hendak mencapai Nora, namun sel yang mengurung Logan menahannya dengan baik.

"Aku paham semangatmu, Nora. Tapi aku mulai merasa ini adalah ide buruk."

Nora memutar bola matanya dengan malas. "Kan sudah kubilang untuk tidak ikut."

"Aku menghabiskan banyak Energi setiap jam untuk membuat sihir proteksi ini, tahu." Daphne menyela, yang membuat Kieran menatapnya galak. Rambut keduanya beterbangan karena angin yang Alhok timbulkan. "Bercanda, aku menyewa orang untuk melakukannya. Kieran yang keluar uang banyak."

"Apa korban-korban Alhok memang selalu seperti ini? Dan mereka akan menjadi seliar ini selama tiga hari lamanya?"

Kieran menggeleng. "Tidak juga. Kebanyakan dari mereka tumbang sebelum tiga hari, yang artinya mereka menyerah lebih dulu pada Alhok dan membiarkan Alhok menguasai mereka. Logan bertahan 24 jam lebih, dia benar-benar kuat."

Nora hanya bisa menghela nafas dengan jeri. "Kita harus menyusulnya. Kita harus membantunya, Kieran."

"Ya, tentu. Tapi bagaimana kita bisa masuk ke dalam ilusi berkelanjutan Alhok?"

Nora masih memandang Logan, sembari membaca situasi. Tentakel-tentakel itu benar-benar berputar seperti hendak membentuk tornado di dalam rubanah. Dinding proteksi yang dipasang Daphne—atau siapaun yang mereka sewa—lama perlahan bergetar, Nora takut dinding itu akan retak dan pecah.

"Dia tak seliar ini setiap hari." Daphne bahkan harus mengeraskan suaranya. "Sejak kalian meninggalkan kabin, dia luar biasa anteng, sampai aku sempat lupa laki-laki itu ada di dalam sini. Lalu kalian kembali, dan kebrutalannya meningkat lagi."

Nora meremat pegangan tangga yang membawanya dari lantai atas ke rubanah. Ia memandang Kieran dan Daphne yang berdiri di belakangnya. "Aku banyak belajar dua puluh empat jam terakhir, bahwa spontanitas kadang lumayan diperlukan."

Maka Nora berlari menuju tubuh Logan, hendak menembus sel proteksi sebelum Kieran menariknya. "Setidaknya kau harus sedikit hati-hati."

Nora menghela nafas, mengangguk pelan. Ia menembus sel proteksi itu bersama Kieran. Kulitnya bergelenyar saat perlahan-lahan ia melangkah maju. Kieran buru-buru mendorongnya masuk ketika satu tentakel nyaris membelah tubuh mereka menjadi dua. Ia menarik Nora untuk menunduk. Tangannya sibuk merogoh sesuatu dari dalam Tas Tanpa Batas-nya dan mengeluarkan sebuah pedang.

"Lihat siapa yang bersemangat di sini."

"Makhluk ini menyebalkan." Kieran mengeratkan pegangannya pada gagang pedangnya, tak peduli pada komentar Nora. "Dinding ini hanya bekerja satu arah. Kau bisa masuk tapi tak bisa keluar. Kita harus cepat."

Nora berpindah bersama dari titik satu ke titik lain, hanya untuk menghindar dan terus menghindar. Sementara Kieran mampu membalas serangan tentakel-tentakel bayangan itu dengan bilah pedangnya, membuat Nora merasa tidak berguna. 

"Sial." Umpatnya ketika ia kembali tersaruk mundur, nyaris terpenggal oleh tentakel yang datang. Kieran ada di depannya, berdiri menghadang dengan pedang teracung.

Namun saat itulah matanya menangkap pendar kemerahan di dada Logan, yang Nora yakini adalah undangan Alhok untuknya—atau semacam itu. Nora bangkit berdiri dan menarik Kieran ikut tiarap ketika satu sabetan hendak datang. Ia menunjuk pada dada Logan yang berpendar, dan untungnya laki-laki itu langsung mengerti. 

Kieran mengangkat kerah mantel Nora setelah melihat celah untuk maju. Nora yang jengkel langsung berlari maju tanpa peduli tentakel bayangan yang hendak mengenainya. Kieran buru-buru menyusul dan menebas pedangnya, memotong tentakel itu, dan mendorong Nora untuk bisa mencapai dada Logan.

"Kau mau mati?!" Kieran seperti berteriak di telinganya.

"Kau akan membuatku mati jika menarik kerahku seperti tadi!"

Daphne di belakang sana sudah menutup mata dan telinga, meringkuk di anak tangga terujung, berharap tak akan menyaksikan kematian paling menjijikkan dan mengenaskan dua temannya sendiri. Tapi di sisi lain Nora menarik tangan Kieran dengan brutal, memaksanya menyentuh dada Logan juga.

"Kau tidak akan kena rabies atau menjadi gay dengan menyentuhnya sedikit, Pak Detektif."

Kieran nyaris kehilangan kata-katanya. "Aku tidak—"

"Ya, aku paham kau takut. Sentuh dan rasakan saja."

Sulur-sulur merah gelap yang seperti akar pepohonan muncul dari dada Logan dan terus merambat ke lengan keduanya, nyaris menelan seluruhnya. Nora merapat pada Kieran—ia juga sedikit ketakutan. Jiwanya seakan kembali tertarik ke tempat lain ketika sulur itu akhirnya berhenti. Rasanya seperti melewati teleportasi Moralki lagi, tapi dengan guncangan dan turbulensi berkali-kali lipat dari sensasi aslinya.

Ketika semua turbulensi itu berakhir, Nora menemukan ia dan Kieran tak lagi berpijak pada lantai kayu yang usang dan nyaris lapuk. Tak ada lagi Logan dan penjara yang berpijar, tak ada Daphne yang meringkuk di tangga rubanah.

Hanya ia, Kieran, tembok kemerahan yang pola dalam kertas dindingnya selalu bergerak-gerak, juga pintu-pintu berkusen hitam yang mengarah pada kegelapan total.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (5)
  • antonvw

    Kalau kata Karos Publisher, kata 'dan' tidak boleh diletakkan di awal kalimat.

    Comment on chapter 6. The Forgotten Ally
  • antonvw

    Masih ada tiponya, Kak! Katanya Penerbit Paramedia, semuanya dipanggil Kak aja kalau nggak tahu berapa umurnya

    Comment on chapter 4. The Phantom Strike
  • antonvw

    Saya Juliarti Dewi K. Om Anton VW memberikan passwordnya kepada saya. Jadi, saya bisa membaca cerita melalui akunnya Om Anton VW.

    Comment on chapter 3. The Workplace Disturbance
  • antonvw

    Kebetulan, novel saya 'Aku Menderita Skizofrenia' sudah diterbitkan oleh PT Kanisius.

    Comment on chapter 3. The Workplace Disturbance
  • antonvw

    Kata Penerbit Andi, 'anda' seharusnya 'Anda.' Btw, buku2 saya ada yg diterbitkan oleh Penerbit Andi.

    Comment on chapter 1. The Newspaper Guy
Similar Tags
Nyanyian Laut Biru
2462      991     9     
Fantasy
Sulit dipercaya, dongeng masa kecil dan mitos dimasyarakat semua menjadi kenyataan dihadapannya. Lonato ingin mengingkarinya tapi ia jelas melihatnya. Ya… mahluk itu, mahluk laut yang terlihat berbeda wujudnya, tidak sama dengan yang ia dengar selama ini. Mahluk yang hampir membunuh harapannya untuk hidup namun hanya ia satu-satunya yang bisa menyelamatkan mahluk penghuni laut. Pertentangan ...
Bee And Friends
4304      2007     2     
Fantasy
Bee, seorang cewek pendiam, cupu, dan kuper. Di kehidupannya, ia kerap diejek oleh saudara-saudaranya. Walau kerap diejek, tetapi ia memiliki dunianya sendiri. Di dunianya, ia suka sekali menulis. Nyatanya, dikala ia sendiri, ia mempunyai seseorang yang dianggap sebagai "Teman Khayalan". Sesosok karakter ciptaannya yang ditulisnya. Teman Khayalannya itulah ia kerap curhat dan mereka kerap meneman...
God's Blessings : Jaws
2063      1003     9     
Fantasy
"Gue mau tinggal di rumah lu!". Ia memang tampan, seumuran juga dengan si gadis kecil di hadapannya, sama-sama 16 tahun. Namun beberapa saat yang lalu ia adalah seekor lembu putih dengan sembilan mata dan enam tanduk!! Gila!!!
Percayalah , rencana Allah itu selalu indah !
218      172     2     
True Story
Hay dear, kali ini aku akan sedikit cerita tentang indahnya proses berhijrah yang aku alami. Awal mula aku memutuskan untuk berhijrah adalah karena orang tua aku yang sangat berambisi memasukkan aku ke sebuah pondok pesantren. Sangat berat hati pasti nya, tapi karena aku adalah anak yang selalu menuruti kemauan orang tua aku selama itu dalam kebaikan yaa, akhirnya dengan sedikit berat hati aku me...
Gue Mau Hidup Lagi
511      352     2     
Short Story
Bukan kisah pilu Diandra yang dua kali gagal bercinta. Bukan kisah manisnya setelah bangkit dari patah hati. Lirik kesamping, ada sosok bernama Rima yang sibuk mencari sesosok lain. Bisakah ia hidup lagi?
FORGIVE
2270      876     2     
Fantasy
Farrel hidup dalam kekecewaan pada dirinya. Ia telah kehilangan satu per satu orang yang berharga dalam hidupnya karena keegoisannya di masa lalu. Melalui sebuah harapan yang Farrel tuliskan, ia kembali menyusuri masa lalunya, lima tahun yang lalu, dan kisah pencarian jati diri seorang Farrel pun di mulai.
Switched A Live
4184      1851     3     
Fantasy
Kehidupanku ini tidak di inginkan oleh dunia. Lalu kenapa aku harus lahir dan hidup di dunia ini? apa alasannya hingga aku yang hidup ini menjalani kehidupan yang tidak ada satu orang pun membenarkan jika aku hidup. Malam itu, dimana aku mendapatkan kekerasan fisik dari ayah kandungku dan juga mendapatkan hinaan yang begitu menyakitkan dari ibu tiriku. Belum lagi seluruh makhluk di dunia ini m...
Lebih Dalam
273      239     3     
Mystery
Di sebuah kota kecil yang terpencil, terdapat sebuah desa yang tersembunyi di balik hutan belantara yang misterius. Desa itu memiliki reputasi buruk karena cerita-cerita tentang hilangnya penduduknya secara misterius. Tidak ada yang berani mendekati desa tersebut karena anggapan bahwa desa itu terkutuk.
Teman Hidup
8659      3259     1     
Romance
Dhisti harus bersaing dengan saudara tirinya, Laras, untuk mendapatkan hati Damian, si pemilik kafe A Latte. Dhisti tahu kesempatannya sangat kecil apalagi Damian sangat mencintai Laras. Dhisti tidak menyerah karena ia selalu bertemu Damian di kafe. Dhisti percaya kalau cinta yang menjadi miliknya tidak akan ke mana. Seiring waktu berjalan, rasa cinta Damian bertambah besar pada Laras walau wan...
DI ANTARA DOEA HATI
1981      1073     1     
Romance
Setelah peristiwa penembakan yang menewaskan Sang mantan kekasih, membuat Kanaya Larasati diliputi kecemasan. Bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya. "Siapapun yang akan menjadi pasanganmu akan berakgir tragis," ucap seorang cenayang. Hal tersebut membuat sahabat kecilnya Reyhan, seorang perwira tinggi Angkatan Darat begitu mengkhawatirkannya. Dia berencana untuk menikahi gadis itu. Disaa...