Akhirnya Vanta memutuskan untuk mandi karena badannya terasa lengket. Alvin benar, sepertinya tadi dia banyak berkeringat. Setelah mandi dengan air hangat, Vanta merasa lebih segar. Dilihatnya televisi besar yang tergantung di kamar Alvin menyala, menampilkan berita siaran langsung yang menyampaikan cuaca malam itu sedang tidak baik untuk berada di luar rumah. Hujan lebat mengguyur kota sejak sore disertai angin kencang. Bahkan di sejumlah tempat dikabarkan ada pohon tumbang.
“Hah? Separah itu? Terus gue pulang gimana, dong?!” keluh Vanta, lebih pada diri sendiri.
Alvin yang sedang memegang remot menoleh padanya, berkata santai. “Ya nggak bisa pulang.”
“Nggak, nggak! Pokoknya gue harus pulang!”
“Lo mau pulang naik apa? Berani taruhan, nggak bakal ada taksi di cuaca begini. Gue juga ogah nganter lo.”
Vanta menggigit bibir bawahnya, frustasi memikirkan cara untuk pulang. Masa dia harus bermalam di rumah Alvin, yang notabene-nya adalah musuh besarnya? Vanta teringat sesuatu dan langsung mencari ponselnya di tas, tapi tidak berhasil menemukannya. Saat bertanya pada Alvin, rupanya cowok itu yang menyimpan ponselnya untuk mencari kontak Jessi.
Ada tiga panggilan tak terjawab dan pesan masuk di ponselnya. Salah satunya dari Jessi, gadis itu meminta Vanta menghubunginya setelah bangun. Vanta segera membuka ruang obrolan dengan Jessi dan mengetik pesan.
Vanta: Thank you Jess bajunya
Jessi: Iya. Lo masih di rumah Alvin?
Pesan dari Vanta langsung dibalas oleh Jessi. Cewek itu pasti sedang berselancar di media sosial ketika Vanta mengirim pesan. Nama Alvin membuat Vanta kontan melirik cowok yang sedang duduk di sofa, sementara Vanta berdiri di tengah kamar. Vanta beralih ke tempat kosong di sebelah Alvin, lalu ke ranjang. Dia bingung harus menempatkan diri di mana. Belum sempat membalas, pesan lain dari Jessi masuk lagi bertubi-tubi.
Jessi: Gila, gw kaget banget pas nomor lo nelepon gw tapi suara cowok!
Jessi: Nathan emang cerita kalo lo pingsan di depan dia.
Jessi: Tapi gw gak nyangka!
Dari pesannya yang tersusun seperti rentetan kereta api, Vanta sudah bisa membayangkan raut heboh Jessi saat mengetik pesan itu. Dia jadi mendengkus geli membacanya.
Vanta: Masih.
Vanta: Lo beneran udah nelepon nyokab gw?
Jessi: Iya, Alvin yg nyuruh gw.
Jessi: Dia juga yg minta gw kirimin baju ganti.
Jessi: Tapi pas gw minta alamatnya, dia bilang dia aja yg pesenin kurir.
Jessi: Btw pierre cardinnya masih baru kok, blm gue pake. Buat lo ajalah
Muka Vanta mendadak panas teringat kejadian tadi. Gara-gara Pierre Cardin-nya Jessi, Vanta harus menahan malu setengah mati. Namun, Vanta membaca ulang pesan dari Jessi, memastikan sesuatu.
Alvin yang berinisiatif minta tolong pada Jessi melakukan semuanya. Semuanya. Termasuk mengabari mamanya. Apa betul ini masih Alvin yang sama? Alvin yang kemarin-kemarin mengerjainya, bisa peduli seteliti itu? Dia nggak lagi kerasukan atau jelmaan alien yang menyamar jadi Alvin kan? Atau ... cowok ini punya semacam kepribadian ganda yang bakal berubah jadi baik kalau malam?
Vanta: Thank you Jes
Vanta: Ujan badai, anjir. Gimana ini gue pulangnyaa
Jessi: Kayaknya terpaksa lo di sana dulu deh. Cuaca gak friendly banget ini
Jessi: Lo aman kan? Sehat?
Jessi: Tangan kaki utuh?
Jessi: Coba liat badan lo, ada bekas jaitan nggak?
Jessi: Cek organ lo masih lengkap nggak?
Vanta menyemprotkan tawa tertahan, nyaris terbahak melihat pesan dari Jessi. Tapi dengkusan itu langsung ditelannya bulat-bulat saat melihat bayangan seseorang berdiri menghalanginya.
“Ngapain sih lo kayak setrikaan?” rutuk Alvin risi. Ternyata, tanpa sadar Vanta mondar-mandir sambil bertukar pesan dengan Jessi.
Sepasang matanya bersibobrok dengan mata cowok itu ketika Vanta mendongakkan kepala. Entah kenapa dia menahan napas. Vanta mengeratkan genggaman pada ponselnya di depan dada, mundur selangkah. Saat mengalihkan pandangan, tanpa sengaja ia melihat sebuah bingkai foto kecil pada ambalan yang tergantung di bawah televisi. Foto seorang wanita merangkul anak laki-laki berseragam putih merah yang memegang piala. Otaknya langsung bekerja membuat pengalihan.
“Itu foto lo?”
“Ceritanya lo jadi penasaran nih, sama gue?” tanya Alvin menjengkelkan.
Vanta langsung berdecih. “Kepedean banget sih! Kalo nggak mau jawab ya udah, nggak usah dijawab.”
“Daripada mondar-mandir, istirahat aja sana. Udah lo minum obatnya?” Alvin menunjuk kantong putih di atas nakas dengan dagunya.
“Itu obat apa?”
“Obat demam sama vitamin, kenapa? Masih mikir kalo gue mau racunin lo?”
Bibir Vanta mencebik mendengarnya. Dia betul-betul tidak bisa menyembunyikan isi hatinya dari cowok itu.
“Who knows?” Vanta mengendikkan bahu. “Baru berapa hari lalu lo gunting paksa rambut gue.”
“Yaelah, masih dendam lo? Rambut doang, entar juga bisa panjang.”
Lihat, siapa yang ngomong, pasti nggak pernah ngaca, batin Vanta gondok. Coba kalau rambut Alvin yang dibotakin, Vanta jamin lelaki itu bakal lebih ngamuk darinya. Baru disiram lemonade aja cowok itu menindasnya berkali-kali. Jadi, siapa yang dendam pada siapa di sini?
Vanta berdecak terang-terangan dan meraih kantong putih yang dimaksud Alvin untuk meminum obatnya. Sedangkan Alvin, menaikkan sebelah alisnya ketika melihat sikap Vanta barusan.
“Barusan lo kesel?” tegur Alvin seakan dia adalah panitia ospek.
“Enggak!”
“Tuh, lihat aja.” Telunjuk Alvin terarah pada Vanta. “Nadanya sewot.”
Vanta menepis kasar tangan yang terangkat itu. “Dibilang nggak. Udahlah, sana! Gue mau tidur!” Kemudian menaiki ranjang, mengambil tempat di tengah-tengah, dan menarik selimut. Tanpa ia sadari, cowok itu tersenyum miring.
***
Vanta tidak habis pikir. Baru juga memejamkan mata, dengan santainya cowok itu duduk menggeser Vanta yang sedang berbaring. Padahal dia yang menyuruh Vanta beristirahat.
Dasar kamvret! keluh Vanta, hanya bisa dalam hati.
“Geser.” Tanpa menoleh sedikit pun pada Vanta, Alvin memerintah.
“Ish, ngapain sih?!” gerutu Vanta menendang selimut.
“Gue juga mau tidur. Emang lo doang yang boleh tidur?”
“Tidur di tempat lain dong, jangan di sini. Kamar lain kalo perlu.”
“Kenapa lo ngusir? Ini kan kamar gue.” Jawaban Alvin bikin Vanta mendelik sebal ke cowok yang masih seru memainkan iPad-nya itu. Kelakuan cowok ini tak seperti manusia normal. Jika dipikir lagi, memang sih, mana ada cowok normal yang tega membabat rambut cewek?
Mungkin tidak ada kata tentram untuk keduanya. Baru sebentar tenang, mereka sudah terlibat cekcok. Vanta bergeser mengambil guling dan memukuli sosok menyebalkan itu dengan guling. Tiba-tiba saja tersulut jengkel mengingat tingkah makhluk peradaban satu ini.
“Adaw! Cewek gila!” protes Alvin saat Vanta menyerangnya.
“Iya, gue emang gila, kenapa?! Lo tuh dari ujung kaki sampe kepala ngeselin. Lo diem aja ngeselin, lo napas juga ngeselin. Gue sebel lihat lo!” Jujur saja Vanta memikirkan banyak opsi tadi. Mencakar wajah cowok itu atau membekapnya dengan bantal sampai pingsan. Tapi, dia memilih balas dendam paling ringan.
Keadaan berbalik. Alvin yang dipukuli olehnya mulai berontak. Cowok itu berhasil menangkap guling yang diayunkan Vanta. Tubuh Vanta kontan terhuyung ke depan saat Alvin menarik guling darinya. Dia jatuh menimpa Alvin.
Jarak mereka benar-benar dekat, hampir menempel kalau saja tidak ada guling yang menjadi pembatas di antara mereka. Keduanya sejenak terpaku memandang satu sama lain. Mata lelaki itu sama sekali tak berkedip menatapnya, sementara jantung Vanta tengah atraksi di dalam sana.
Mereka ini sebetulnya ngapain, sih?!
Vanta lebih dulu berhasil mengumpulkan kesadaran setelah mengerjap-ngerjap kaget sebentar, segera menjauh. Bangun dari posisi berbaringnya dengan cepat. Kakinya baru akan menyentuh lantai ketika Alvin menahannya. “Mau ke mana?”
“Yang pasti jauh-jauh dari lo!” Sambil memeluk guling, Vanta menyeret kakinya menuju beanbag sewarna charcoal yang menghadap ke jendela. Alvin memang paling jago memperburuk suasana hatinya.
“Yaelah, lo tidur di sini juga nggak gue apa-apain dari tadi,” sahut Alvin cuek, masih berkutat dengan iPad.
”Gue mana tau lo ngapa-ngapain atau nggak?”
Lelaki itu berhenti menekan layar sentuh iPad, menoleh padanya. “Kenapa? Lo ngarep gue apa-apain?”
Entah kenapa wajah Vanta memanas. Dia tidak ingin membahas lebih lanjut. Oleh karena itu, Vanta segera memalingkan wajah, bersembunyi di balik guling. “Udahlah, gue tidur di sini aja!”
“Terserah.”
Bukannya tidur, Vanta masih bersuara. “Eh, Samy mana?”
“Ngapain lo nyariin Samy?”
“Mau kenalan.”
“Dasar nggak jelas.” Meski menggerutu, cowok itu memanggil hewan berbulunya masuk ke kamar. Menghadiahi Samy sebatang snek setelah si anabul datang.
“Samy ...,” panggil Vanta yang langsung disambut oleh goyangan ekor makhluk menggemaskan itu. Samy menghampirinya dengan riang, berlenggak-lenggok layaknya model catwalk. Anjing itu sangat ramah dan ceria pada Vanta yang baru ditemuinya. Setelah berputar dua kali, Golden Retriever itu duduk dengan sikap baik menunggu Vanta mengulurkan tangan mengelus puncak kepalanya.
“Astagaa ... lucu banget sih, nggak kayak yang punya. Hai Samy, gue Vanta.”
Merasa tersindir, Alvin berdecih. Tapi Vanta tidak mempedulikannya. Asyik mengelus-elus Samy di sebelahnya. Mengajak Samy naik ke sebelahnya dan tidur bersama.
“Heh, dia belom mandi,” Alvin memberitahu.
“Biarin, iri bilang.”
“Ngapain, kalo gue mau bisa aja kok gue bikin lo tidur di sebelah gue.”
Lagi-lagi wajah Vanta memerah. Ia mengibas-ngibas sebelah tangan di depan wajah setelah Samy berbaring nyaman di sebelahnya. Sejak kapan Alvin jadi sok-sok flirty begitu? Bukannya dia tidak tertarik pada cewek? Akhirnya Vanta tak lagi mau berdebat dengan cowok itu dan memilih benar-benar tidur.
***
Beberapa menit berlalu, tidak ada lagi suara gadis itu. Hanya ada percikan air hujan yang membentur atap dan jendela. Alvin meletakan iPadnya di atas nakas, menoleh ke satu arah. Lebih tepatnya ke beanbag, tempat Vanta dan Samy tertidur. Ia beringsut turun dari ranjang menghampirinya, lalu berdecak pelan sambil memerhatikan dua makhluk di depannya. Yang satu manusia aneh, satunya lagi jenis kaki empat berbulu.
Ya, aneh menurut Alvin. Karena perempuan itu bikin dia terlibat dengannya. Bikin dia selalu ingin mengusilinya. Bikin dia tidak bisa berhenti menatapnya sekarang.
“Sam, turun,” perintah Alvin pelan, dibalas sebelah mata Samy yang terbuka mengintip.
Tidak beranjak juga dari tempatnya, sekali lagi Alvin memanggilnya dengan nada tak terbantahkan. “Sam, turun atau nggak ada snacks lagi?”
Sambil meringkuk akhirnya hewan berbulu keemasan itu loncat dari sana dengan raut sedih. Tapi tatapan itu tidak mempan unuk Alvin, dia sudah terlalu mengenal Samy. Anak itu cuma pura-pura memelas biar dituruti.
Enak saja.
Nggak tau apa, Alvin kesal melihat Samy dari tadi dipeluk Vanta sepanjang tidur?
Setelah Samy turun ke lantai, Alvin mengangkat Vanta, memindahkannya ke ranjang. Tersentak ketika tangan gadis itu tiba-tiba menggeplak kepalanya.
“Anjirr, lagi tidur aja masih bisa ganas!” Tetapi Alvin lalu mendengkus geli. Menarik selimut menyelimuti gadis itu.
Kembali ia memerhatikan wajah tidur gadis berambut pendek yang disebabkan olehnya. Disibakkannya poni Vanta ke samping. Gadis itu bukan gadis yang cantik secara menyolok. Tapi Alvin menyadari kalau dia punya mata yang indah saat mereka bertatapan tempo hari. Bola mata pekat seperti giok hitam, bulu mata yang lentik, serta garis mata yang seperti almond. Cara berpakaiannya juga sangat khas. Meski terkesan cuek, Vanta selalu tampil rapi dengan kaus atau kemejanya yang licin disetrika.
Tangan Alvin terulur hendak mengelus puncak kepala gadis itu. Tetapi gerakannya terhenti, menggenggam udara kosong, dan perlahan turun. Haruskah ia berhenti mengerjai gadis ini? Alvin merasa ada sesuatu pada diri Vanta yang membuatnya penasaran. Namun, entah apa itu.
Alvin beralih menatap bingkai foto yang sempat ditunjuk Vanta. Dibawanya bingkai foto itu sebelum menghempaskan diri ke beanbag. Alvin ingat foto itu diambil saat ia juara lomba melukis dan meraih piala saat kelas lima SD.
Dielusnya lembut sosok yang berdiri di sebelahnya dalam foto. Wajah wanita itu membangkitkan kerinduan. Menimbulkan kembali kepedihan, yang setiap kali muncul akan berusaha dikuburnya dalam-dalam. Ditatapnya foto itu dengan pandangan nanar. Lalu memeluk erat bingkai foto di tangannya. Setitik air mulai merembes dari sudut matanya sebelum ia memejamkan mata.