Loading...
Logo TinLit
Read Story - Si 'Pemain' Basket
MENU
About Us  

Para anggota baru ekskul PMR sudah berbaris di lapangan sekolah. Sebelumnya, mereka sudah berganti pakaian karena tidak boleh menggunakan pakaian sekolah saat kegiatan di luar jam sekolah.

Dira menjadi orang yang berbaris paling depan karena datang terlebih dahulu. Dia harus menunggu anggota lain datang dan memulai acara penyambutan anggota baru untuk ekskul PMR.

Setelah semua sudah berkumpul, mereka diminta untuk saling memperkenalkan diri. Saatnya tiba, Dira memperkenalkan dirinya. "Halo semua, saya Adira Benita sering dipanggil dengan nama Dira. Saya berasal dari kelas 10-3. Salam kenal semuanya," ucap Dira dengan semangat sembari melambaikan tangan di akhir perkenalan.

Ada 12 anggota baru yang masuk ke dalam ekskul PMR, salah satunya adalah Dira. Setelah penjelasan yang cukup panjang, ponsel Dira harus disita untuk sementara waktu dan akan dikembalikan saat selesai acara yaitu besok sore. Dira tidak masalah akan hal itu karena dia sudah meminta izin pada ibunya mengenai acaranya hari ini.

"Sekarang, kalian bisa masuk ke dalam ruang ekskul PMR ya. Simpan barang kalian di sana dan kumpul kembali di sini secepatnya!" jelas Bagas sebagai ketua ekskul PMR.

Sesuai perintah, semuanya berlarian pergi ke ruang ekskul PMR dengan membawa tas mereka masing-masing dan setelahnya kembali ke lapangan.

Kali ini, Dira sedikit telat untuk kembali sehingga mendapat barisan tengah.

"Sebelum melanjutkan acara, saya akan memeriksa atribut yang kalian gunakan," ucap Bagas sebelum pergi ke belakang barisan. Dari belakang, pria itu memeriksa dengan detail dan sampailah pada pemeriksaan atribut Dira. Perempuan itu sedikit gugup saat di sisi Bagas apalagi sekarang dia harus bersikap tegap tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Kamu, setelah ini ikut saya ke ruang ekskul PMR," perintah Bagas yang membuat Dira melolot kaget. Sebelum benar-benar pergi, Bagas mengangkat salah satu alisnya seakan bertanya pada Dira. Sayangnya, saat itu Dira tidak bisa langsung mengeluarkan suaranya sebagai tanda protes karena menurutnya atribut yang dia gunakan sudah benar. Sesuai dengan instruksi sebelumnya.

Sesuai apa yang Bagas katakan, Dira mendatangi pria itu ke ruang ekskul PMR saat yang lain tengah sibuk di lapangan. Mereka hanya berduaan di dalam ruang yang cukup luas tersebut.

"Kak, kenapa saya disuruh ke sini?" tanya Dira dengan dahi mengerut.

Bagas yang baru saja masuk kemudian mengunci pintu ruang ekskul PMR dari dalam agar orang di luar tidak bisa masuk. Perlahan, pria itu melangkah hingga sampai di hadapan Dira. "Nggak pa-pa, saya cuman pengen berduaan sama kamu."

Dira bingung dengan situasi yang terjadi saat ini, apalagi setelah Bagas kembali melangkah hingga membuat Dira terjebak di antara ketua ekskul PMR itu dengan dinding di belakangnya.

Karena tubuh Bagas semakin mendekat, Dira mempertahankan dirinya dengan meletakkan kedua tangannya di depan dada dan mencoba untuk mendorong Bagas. Tenaga Dira tidak begitu banyak sehingga Bagas tak kunjung terdorong ke belakang.

"Jangan deket-deket, Kak! Jangan!" tegas Dira dengan mata yang tertutup sempurna. Dia tidak mau melihat wajah Bagas yang sedekat itu. Dia benar-benar takut sekarang.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari arah pintu yang membuat Bagas menoleh. Saat itu, Dira segera berlari ke arah pintu yang terus bersuara dan membukanya dengan cepat.

Saat terbuka, mata Dira menatap sosok pria yang membuatnya begitu terkejut. "Kak Marvin," ucapnya dengan pelan.

Karena menganggap Marvin sebagai malaikat yang membantunya, Dira langsung memeluk pria itu dengan erat. "Makasih sudah datang, Kak," bisik Dira dengan isak tangis yang tak dapat terbendung lagi.

Mata Marvin kemudian menangkap sosok Bagas yang tengah menyenderkan tubuhnya di dinding, tempat yang sama saat dia memenjarakan tubuh Dira hingga perempuan itu ketakutan.

"Lo apain Dira?" tanya Marvin dengan amarah yang tiba-tiba muncul. Dia yakin, Bagas telah melakukan sesuatu pada Dira hingga membuat perempuan itu menangis tanpa jeda.

Bagas tidak menjawab pertanyaan Marvin dan malah tersenyum sinis ke arah pria itu. Marvin yang tidak terima kemudian mencoba melangkah maju. Sayangnya, Dira menahan langkah pria itu. "Jangan, Kak. Saya nggak pa-pa kok."

"Nggak pa-pa, apanya sih! Lo nangis gini, pasti ada penyebabnya!"

Nada suara Marvin meninggi yang membuat Dira semakin ketakutan. Perempuan itu tidak mau ada pertengkaran antara Marvin dan juga Bagas. Dia sudah bersyukur karena telah lepas dari ketua ekskul PMR itu.

Perlahan, Dira mengangkat wajahnya sehingga dapat menatap wajah Marvin yang ternyata juga tengah menatapnya. Dengan mata yang sembab, Dira berkata, "ayo kita pergi dari sini, Kak."

Sesuai keinginan Dira, Marvin membawa perempuan itu untuk pergi. Tangannya terus merangkul tubuh Dira dengan erat seakan tidak mau perempuan itu pergi menjauh darinya.

Selama perjalanan menuju parkiran, Dira terdiam sembari mengelap sisa air mata di pipinya. Sebelum naik ke atas motor, Marvin mengajak Dira untuk bicara sejenak.

"Gue mau lo jujur, lo diapain sama dia?" tanya Marvin dengan sehalus mungkin, dia tau jika perasaan Dira tengah kurang baik.

Dira yang tidak mau menjawab kemudian mengalihkan tatapannya, dia yakin jika menjelaskan semuanya Marvin akan begitu marah pada Bagas.

"Dir, gue nggak mau berantem lagi sama lo. Gue cuman mau lo jujur sama gue," ucap Marvin lagi yang membuat Dira kembali menatapnya.

"Kakak mau janji sama saya nggak?"

"Janji apa?"

"Janji buat nggak besar-besarin masalah ini."

Ucapan Dira berhasil membuat Marvin kebingungan, dia yakin ada yang Dira sembunyikan dan tentu bukan hal yang sepele.

Melihat sikap Marvin yang berubah, Dira perlahan memegang lengan pria tersebut guna menyita perhatiannya. "Kak, kakak bisa janji kan?"

Sebelum menjawab, Marvin menghembuskan napasnya dengan kasar. "Oke, gue janji."

Beralih pada Dira, perempuan itu mencoba mengambil oksigen yang banyak sehingga memenuhi paru-parunya. "Jadi, tadi Kak Bagas nyuruh saya nemuin dia di ruang ekskul PMR."

"Bisa nggak, nggak usah ngomong pake saya gitu," ucap Marvin tiba-tiba memotong pembicaraan Dira.

"Kenapa, Kak?"

"Gue bukan orang tua yang perlu lo hormati, cukup ngomong gue-elo."

"Saya nggak bisa, Kak."

"Ya udah, aku-kamu deh," ucap Marvin mengalah, memang agak susah menyuruh Dira untuk mengganti panggilannya. Setidaknya, jangan berbicara menggunakan kata 'Saya'. Telinga Marvin terasa begitu geli saat mendengarnya.

"Oke, Kak."

"Ya udah, lanjutin."

Marvin cukup penasaran dengan kelanjutan cerita Dira, apalagi alasan perempuan itu menangis di dalam pelukannya tadi.

"Sesuai perintah Kak Bagas, aku nemuin dia di ruang ekskul PMR. Jujur, aku bingung kenapa harus nemuin dia, padahal atribut yang aku pake udah sesuai kok."

"Jadi, dia nyuruh lo ke ruang ekskul buat nemuin dia dengan alasan atribut lo yang kurang."

"Nggak tau, Kak."

"Terus, apa yang dia lakuin?"

"Pas Kak Bagas datang, dia langsung ngunci pintu dan jalan ke arah aku. Aku nggak mikir yang aneh-aneh, sampe akhirnya dia berdiri tepat di hadapan aku."

"Terus?"

Mata Dira mulai memerah saat mencoba kembali menjelaskan apa yang dia alami sebelumnya. "Dia nggak berenti jalan pas sudah di depan aku, Kak. Dia terus jalan sampe aku harus mundur dan berenti pas badan aku tepat di depan dinding. Aku nggak bisa kemana-mana kak, dia terus deketin aku."

Tangis Dira mulai muncul setelah selesai berbicara, Marvin yang tidak tega kemudian membawa Dira untuk masuk ke dalam pelukannya." Udah, udah. Lo nggak usah sedih. Biar gue yang urus dia. "

Mata Dira melotot kaget saat mendengar ucapan Marvin, perempuan itu segera menjauh dan menatap dalam mata Marvin yang terlihat begitu menakutkan.

"Nggak, Kak. Nggak usah, aku nggak pa-pa kok. Dia nggak ngapa-ngapain aku."

"Dia udah bikin lo trauma Dir, gue nggak bakal lepasin dia."

"Nggak, Kak. Jangan!"

"Kok lo bela dia sih!" bentak Marvin merasa Dira melindungi Bagas padahal sebenarnya tidak, perempuan itu hanya tidak ingin Marvin mendapat masalah.

"Nggak gitu, Kak. Aku cuman nggak mau kakak dapat masalah."

"Oke, gue nggak bakal ganggu dia. Tapi, gue mau lo ikutin apa yang gue perintahin."

Marvin mencoba untuk membuat perjanjian tak tertulis dengan Dira. Mendengar hal itu, Dira menjadi bingung dan terdiam sejenak.

"Gimana? Mau nggak? Kalau enggak, gue langsung datengin Bagas sekarang juga."

Marvin sudah bersiap pergi sebelum akhirnya di tahan oleh Dira, perempuan itu sudah memikirkan apa yang akan dia jawab. "Oke, aku mau, Kak."

Banyak hal yang perempuan itu pikirkan sebelum menjawab, salah satunya adalah kedekatannya dengan Marvin. Bagas tentu tidak akan berani jika Dira dekat dengan Marvin.

***

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • aiana

    seru ni, menatikan playboy kena karma. wkakakka

    ada yang tulisannya Dio dan Deo,
    mau berteman dan saling support denganku?

    Comment on chapter Chapter 1
Similar Tags
Dream
691      519     5     
Short Story
1 mimpi dialami oleh 2 orang yang berbeda? Kalau mereka dipertemukan bagaimana ya?
MERAH MUDA
596      446     0     
Short Story
Aku mengenang setiap momen kita. Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir.
Can You Be My D?
430      392     1     
Fan Fiction
Dania mempunyai misi untuk menemukan pacar sebelum umur 25. Di tengah-tengah kefrustasiannya dengan orang-orang kantor yang toxic, Dania bertemu dengan Darel. Sejak saat itu, kehidupan Dania berubah. Apakah Darel adalah sosok idaman yang Dania cari selama ini? Ataukah Darel hanyalah pelajaran bagi Dania?
Secarik Puisi, Gadis Senja dan Arti Cinta
1326      902     2     
Short Story
Sebuah kisah yang bermula dari suatu senja hingga menumbuhkan sebuah romansa. Seta dan Shabrina
Rencana 35 Hari
45      17     0     
Romance
Rahayu atau biasa dipanggil Ayu terdesak diminta orang tuanya untuk mencari calon suami, karena adiknya Jelita atau Ita tahun depan berencana menikah. Sudah kesekian kali Ayu dijodohkan oleh orang tua, keluarga, bahkan teman-temannya, tetapi tidak juga berhasil. Melihat Ayu yang masih cuek dan santai, orang tuanya memberi waktu 35 hari untuk menemukan jodohnya sendiri. Jika Ayu belum juga bisa...
Katanya Buku Baru, tapi kok???
681      508     0     
Short Story
Seseorang Bernama Bintang Itu
705      517     5     
Short Story
Ketika cinta tak melulu berbicara tentang sepasang manusia, akankah ada rasa yang disesalkan?
Cinta (tak) Harus Memiliki
6300      1894     1     
Romance
Dua kepingan hati yang berbeda dalam satu raga yang sama. Sepi. Sedih. Sendiri. Termenung dalam gelapnya malam. Berpangku tangan menatap bintang, berharap pelangi itu kembali. Kembali menghiasi hari yang kelam. Hari yang telah sirna nan hampa dengan bayangan semu. Hari yang mengingatkannya pada pusaran waktu. Kini perlahan kepingan hati yang telah lama hancur, kembali bersatu. Berubah menja...
Dissolve
467      315     2     
Romance
Could you tell me what am I to you?
When You're Here
2779      1360     3     
Romance
Mose cinta Allona. Allona cinta Gamaliel yang kini menjadi kekasih Vanya. Ini kisah tentang Allona yang hanya bisa mengagumi dan berharap Gamaliel menyadari kehadirannya. Hingga suatu saat, Allona diberi kesempatan untuk kenal Gamaliel lebih lama dan saat itu juga Gamaliel memintanya untuk menjadi kekasihnya, walau statusnya baru saja putus dari Vanya. Apa yang membuat Gamaliel tiba-tiba mengin...