Loading...
Logo TinLit
Read Story - Annyeong Jimin
MENU
About Us  

Maafkan Typoo guyss

"Nam Ra In"

Ra In menoleh dan mendadak langsung tegang saat tiba-tiba saja Minhyun memeluknya. Ia tidak membalas pelukan itu tapi juga tidak bisa mencegahnya. Semua berjalan sangat mendadak.

Setelah sekian lama dan Ra In berdehem akhirnya Minhyun melepaskan pelukannya dan meneliti Ra In dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aneh, katanya Ra In baru saja kecelakaan saat akan pulang ke rumah. Tapi ketika sekarang melihat Ra In tampaknya gadis itu baik-baik saja.

"Kau...baik-baik saja?" tanya Minhyun.

"Iyaa. Aku tidak apa-apa. Kenapa Sunbae ada disini?"

"Bagaimana bisa kau baik-baik saja?aku dapat kabar dari pihak sekolah kalau kau kecelakaan"

"Bukan aku, Sunbae. Itu Nayeon. Kau salah sangka, saat menuju rumah, Nayeon turun dari bis untuk membeli minum. Karena kurang hati-hati, Dia hampir saja tertabrak. Untung aku buru-buru melihatnya. Jadi aku bawa dia kesini"

"Oh...jadi itu Nayeon. Syukurlah..." terdengar deru nafas lega dari Minhyun.

"Apa?"

Minhyun menggaruk hidungnya yang tiba-tiba gatal. Kenapa dia merasa salah tingkah begini di hadapan Ra In. Ada apa dengan Minhyun?

"Oh..iya, selamat ya Ra In kau hebat bisa juara"

Gadis itu tersenyum lebar dan membalas jabatan Minhyun.

"Ini semua berkat kau, Sunbae. Gomawo..."

"Kau akan pulang?"

Ra In mengangguk. Tadi keluarga Nayeon juga sudah datang. Jadi Ra In sepertinya bisa pulang lebih dulu. Lagipula hari sudah mulai larut. Gadis itu sudah sangat lelah. Seharian menguras otaknya dan sekarang malah harus menunggu Nayeon di rumah sakit.

"Aku antar kau pulang. Ayoo"

"Kau tidak ingin melihat Nayeon dulu, Sunbae?"

Minhyun menggeleng. Apa Ra In tidak tahu? Dia datang terburu-buru kesini karena khawatir padanya. Bukan Nayeon, jadi buat apa ia melihat Nayeon. Pokoknya Minhyun hanya akan mengantar Ra In pulang. Meskipun mengingat bahwa kemarin sudah ada yang melabeli Ra In dengan sebutan 'Calon Pacar' setidaknya Minhyun masih punya kesempatan.

"Aku kan kesini karena khawatir padamu. Ayoo kita pulang"

Ra In bingung dengan maksud Minhyun. Tapi mungkin hanya dia yang merasa sikap seniornya itu aneh. Biar saja deh...

Mereka melewati ruangan-ruangan tempat pasien lain dirawat. Hingga tiba-tiba dari arah berlawanan Ra In melihat dokter dan perawat berhamburan memasuki sebuah ruangan dengan tergesa-gesa.

Mata Ra In melebar saat berdiri didepan ruangan yang dimasuki para dokter dan perawat tersebut. Ia sungguh melihat Jimin. Tapi kenapa jimin ada di rumah sakit? Apa Ra In salah lihat?

"Kau melihat apa Ra In?" tanya Minhyun yang ikut melihat ruang rawat tersebut. Minhyun tidak terlalu jelas melihat siapa disana karena si pasien dikerumuni para dokter dan perawat.

Namun Ra In yakin bahwa itu wajah Jimin. Ia melihat yang ada di bangsal ruang rawat tersebut adalah Jimin. Cowok yang ia taksir.

"Jimin..."

"Jimin kau disana?" Ra In mencoba memasuki ruangan tersebut namun tidak berhasil karena pintunya sengaja ditutup oleh seorang suster.

"Jimin...apa itu kau?"

Sial. Ra In tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas. Apa itu Jimin atau orang lain.

"Tapi, kenapa Jimin ada disini?" ujar Ra In.

Minhyun mendekat dan mengajak Ra In pergi dari sana.
"Sudah malam Ra In. Siapa yang kau lihat?"

"Anni. Aku hanya seperti mengenal orang itu. Sepertinya bukan.."

Minhyun membawa Ra In memasuki lift.

...

Keesokan harinya Ra In baru bangun saat Jungkook sampai di rumahnya. Ra In menggerutui ibunya yang tidak membangunkannya. Ra In terlalu lelah kemarin jadi ia tidak tahu jika bisa bangun kesiangan. Apalagi ditambah ia memikirkan pertemuannya dengan orang yang mirip Jimin.

"Nam Ra In....palliwa"

"Kau ini suka sekali bangun siangg...."

"Aku mendengar mu kookki. Sabar dulu kenapa sih?" teriak Ra In didalam kamar.

Ra In menyampirkan handuknya asal. Menyisir kilat rambutnya kemudian dengan cepat meraih tasnya. Ia keluar kamar dengan kaki sibuk memakai sepatu dan dasi yang masih menggantung dilehernya.

Ra In kembali menepuk jidat nya saat menyadari ia melupakan jas sekolahnya. Alhasil gadis itu kembali memasuki kamar dan keluar sambil berlarian.

"A...aku ...A-apa..a-aku terlambat?" tanyanya dengan suara gagap akibat berlari.

Jungkook menggeleng kemudian menarik lengan Ra In agar mereka secepatnya berangkat sekolah.

"Eomma...Aku berangkat?" teriak Ra In karena Jungkook terus saja menariknya keluar. Hingga mereka langsung memasuki mobil dan Jungkook melajukan mobilnya.

"Yakh! Jeon Jungkook. Kau mau mati?jangan ngebut-ngebut"

"Tidak Ra In. Aku tidak mau mati sebelum kau menerima cintaku. Hehe..." bukannya serius Jungkook malah bercanda. Ra In kesal, tidak tahukah Jungkook bahwa Ra In ketakutan berada didalam mobil yang ngebut seperti itu.

"Hei kenapa kau diam?" tanya Jungkook meskipun fokusnya ada didepan.

"Aku berhati-hati sendok itali. Tenang saja, aku hanya tidak ingin kau terlambat. Kalau aku sih sudah biasa."

"Aku takut Kookki. Sudah kau pelan-pelan saja. Lagipula aku kan kemarin menang. Jadi, mungkin pihak sekolah akan memberikan kelonggaran padaku" jawab Ra In percaya diri. Sontak Jungkook merubah kelajuan mobilnya menjadi sedang. Ia juga sebenarnya takut Ra In meringis seperti sekarang. Percayalah, Jungkook hanya ingin melindungi gadis itu.

"Iyaa..iyaa yang dapat juara satu" Ra In tersenyum.

"Kau pulang jam berapa kemarin?"

Ra In terlihat mengingat-ingat pukul berapa ia kemarin pulang bersama Minhyun.

"Hmm...jam sebelas"

"Apa? memangnya selama itu ya lombanya?"

"Anni. Seharusnya aku pulang jam tujuh. Tapi karena Nayeon kecelakaan aku menunggunya di rumah sakit hingga jam sepuluh. Kemudian aku pulang dengan Minhyun Sunbae dan---"

"Minhyun?" Jungkook menepikan mobilnya mendadak dan kemudian ia menatap Ra In meminta penjelasan ketika mendengar nama Minhyun.

"Wae?"

"Kenapa Minhyun Sunbae bersamamu? bukankah dia tidak ikut ke perlombaan mu?" Ra In mengangguk, itu benar. Minhyun memang tidak ikut, tapi Ra In juga tidak tahu kenapa Minhyun tiba-tiba datang kesana dan mengira dirinya yang mengalami kecelakaan padahal kan Nayeon.

"Hei..ayo jalan lagi. Bukankah kau takut kalau aku terlambat? jujur aku tidak yakin apa aku masih bisa masuk ke sekolah" Ra In mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia khawatir Jungkook marah pada Minhyun.

Jungkook kembali mengendarai mobilnya. Kali ini dengan kecepatan sedang.

"Apa kau menyukainya?"

"Huh?"

...

Ra In menutup pintu mobil lumayan keras. Gadis itu berjalan duluan memasuki gerbang sekolah bukan karena gerbang akan ditutup tapi ia sangat ingin menghindari Jungkook. Kalau Jungkook sudah membahas hal-hal sensitif seperti itu Ra In takut cowok itu meminta jawaban secepatnya.

"Yakh! Nam Ra In. Tunggu aku.." Jungkook berlari dan mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Ra In.

"Hei sendok itali kau marah?"

Ra In bergerak ke kanan, Jungkook ikut ke kanan dan saat Ra In berlari, Jungkook pun ikut berlari.

"Ish..." desah Ra In geram.

"Kau marah karena ketahuan kau menyukai Minhyun itu?"

Ra In diam tidak berniat menjawab.

"Kau menyukainya kan? iya kan?"

Aku menyukai Jimin hanya Jimin---Batin Ra In.

"Ayo mengaku? kau menyukainya?"

"Tidak. Aku tidak menyukainya"

"Oh..apa kau hanya menyukai Rapmon?"

"Rapmon lagi?"

"Iyaa Rapmon. Kau menyukainya kan?"

Ra In menoleh ke Kanan dan ke Kiri kini banyak yang tertawa menyaksikan perdebatan mereka.

"Kau kira aku suka Rapmon? Tidak!"

"Benarkah?"

"Benar. Sangat benar Jeon Jungkook!"

"Jadi kau suka siapa?"

"Aku tidak suka siapa-siapa"

Jungkook merangkul Ra In dan berjalan sambil terus memojoki Ra In dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat gadis itu mendengus.

"Kalau kau sedang tidak suka siapa-siapa. Kenapa kau tidak menolakku?"

Ra In menghentak tangan Jungkook dan menyingkirkannya.

"Kenapa kau malah menggantung ku?"

"Kau tidak menyukaiku kan?"

"Tidak" bentak Ra In cepat.

"Katakan saja Ra In kalau kau menolak ku. Kau bilang kau tidak menyukaiku kan?"

"Tidak"

"Tidak berarti kau tidak menyukaiku?"

"Tidak berarti aku tidak seperti itu, Kookki"

"Kau tidak menyukaiku? begitu?"

"Bukan begitu Kookki. Aku menyukaimu--"

"Wow....kau menyukainya?" Taehyung datang dan langsung menengahi Jungkook dan Ra In.

"Suga...Suga kemari",Taehyung melambaikan tangannya menyuruh Suga yang baru saja sampai mendekati mereka. Ra In ingin menyangkal karena kalimatnya belum selesai tapi Taehyung dan Jungkook sepertinya sudah langsung salah paham saja.

"Ada apa!" Suga menyampirkan jasnya yang tidak dipakai kebahu sebelah kanannya. Dengan tatapan beringas dari cowok itu siapapun yang melihat akan takut.

"Mereka jadian. Mari kita adakan party..." ujar Taehyung seraya menggamit lengan Suga dan mengajaknya menari.

"Ayo kita beritahu yang lain..." biasanya Suga marah diperlakukan seperti tadi. Tapi, karena baru saja mendengar kabar baik dari sahabatnya, Suga bisa juga melunak.

"Bagaimana reaksi Rapmon ya?"

"Dia pasti sangat sangat kecewa. Selama ini kan dia terlihat sangat percaya diri"

"Hmm...ke kelas siapa dulu nih?"

"J-Hope saja...dia kan dekat"

"Okee"

Obrolan Taehyung dan Suga yang berjalan mendahului Jungkook dan Ra In setelah tidak lagi terdengar malah diisi keheningan. Hingga akhirnya Jungkook menyentuh dagu Ra In dan mengangkatnya membuat wajah mereka saling berhadapan. Jungkook merasa gadis itu tidak suka hal barusan.

Ra In sedari kedatangan Taehyung tadi hanya menunduk saja. Jungkook merasa sangat bersalah memojoki gadis itu.

"Apa kalimatmu belum selesai?"

Ra In mengerjapkan matanya mendengar penuturan Jungkook. Kenapa seolah-olah Jungkook tahu. Ra In tadi sedang terpojok dan tidak tahu harus mengatakan apa agar Jungkook mau diam.

"Terima Jungkook jadi pacarmu"

"Jungkook lebih baik. Dia adalah sahabatmu. Tidak mungkin mengecewakanmu"

Seolah sebuah CD, memori Nam Ra In kembali berputar dan menampilkan ingatan saat Jimin meminta Ra In menjadi pacar Jungkook.

Apa aku menjijikkan...
Jimin...aku menyukai Jimin. Bagaimana ini Kookki?

Jungkook tiba-tiba saja tersenyum dan menampilkan wajah ceria seolah tidak terjadi apa-apa. Meskipun dalam benaknya Jungkook sangat berharap Ra In benar-benar mengakui kalimatnya benar.

"Hei, Nam Ra In. Tidak usah seserius itu. Katakan saja. Kau menyukaiku sebagai sahabat, sebagai seorang kakak?"

Apa Jungkook benar-benar seorang pelajar? kenapa ia seolah tahu pemikiran Ra In saat ini. Wajah gadis itu seketika kembali murung. Ia tidak mungkin membuat Jungkook malu, lagipula teman-teman Jungkook...bagaimana dengan mereka yang tahu nya jika Jungkook dan Ra In resmi jadian.

"Hei...hei...Sendok itali kenapa murung begitu. Kau terkejut dengan kalimatku tadi? Aku sering menonton drama dan sebagian besar kalimat tadi merupakan sebuah cara penolakan halus"

"Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya"

Jungkook hampir saja melompat tiga kali kemudian berteriak dari atas menara namsan dan terjun bebas ke sungai Han.

"Kau---"

Wajah Ra In merah Sekali sekarang. Bahkan Jungkook bisa melihatnya sendiri. Walaupun Ra In hanya berpura-pura tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa canggung nya.

Ra In akan mencoba bermain drama.

Demi Jimin?

Tidak. Ra In melakukannya untuk Jungkook. Setidaknya ia tidak akan lagi digosipkan menyukai Minhyun dan Rapmon.

Ra In berlalu sebelum mendengar kalimat Jungkook. Sejurus kemudian Jungkook mengejar dan berjalan Disamping Ra In.

"Ra In-ah.."

"Hmm"

"Kita jadian?"

"Hmm"

"Hmm apa?"

"Hmm itu"

"Itu apa?"

"Ya itu..."

"Jadian? kita?"

"Pikir sendiri" Ra In lari sebelum Jungkook tambah membuatnya salah tingkah. Oh...ayolah Ra In. Dia Jungkook bukan Jimin.

"Yakh! Nam Ra In"

...

Dokter Indri mengecek keadaan Jimin kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Jimin setelah mengatakan bahwa Jimin harus benar-benar istirahat setelah koma dua minggu lamanya. Untungnya Jimin tidak merasakan penyakit setelah koma semisal hilang ingatan atau lumpuh hingga harus melakukan terapi.

Tuan Park tersenyum menyambut Jimin yang sudah bisa membuka mata.

"Kau bosan?"

"Tentu Appa"

"Tidak usah datang ke sekolah sering-sering ya?" Jimin sepertinya hanya akan menerima saja nasihat sekaligus perintah ayahnya. Seingatnya juga di sekolah tidak ada hal menarik lagi. Ia hanya akan menderita membohongi sahabatnya dan juga menghindari Ra In.

"Appa ponselku dimana?"

"Oh...ini"

"Jimin, appa keluar sebentar ya?"

"Ne Appa"

Jimin menyalakan ponselnya, seketika banyak sekali pesan masuk dari sahabat-sahabatnya. Ia membuka satu pesan yang begitu menarik.

From : Jungkook

Dimana kau? Diluar negeri? atau luar alam? cepat bangkit dan datang ke pesta orangtua ku lusa ...

Jimin melihat tanggal pesan tersebut. Jika dihitung berarti pestanya besok malam. Ia pun beralih pada pesan-pesan lain.

From : J-Hope

Jimin...Kapan kau sadar?

Jimin...Ayoo kembali sekolah

Jangan kalah sama penyakitmu ya?

Bagai dijatuhkan tiba-tiba, perasaan Jimin menjadi gelisah. Apa teman-temannya sudah tahu tentang penyakitnya? mata Jimin membulat sempurna. Ia meletakkan ponselnya diatas nakas dan kembali membaringkan tubuhnya, tidur membelakangi Ayahnya.

Jimin sudah tidak punya nyali didepan teman-temannya sendiri. Jimin melihat sebuah kalender dan meraihnya. Ia sudah koma berapa lama hingga kini rambutnya kembali ada.

Jimin tersenyum mengingat mimpinya selama tidur panjang. Ia bertemu wanita cantik yang ia panggil Eomma dan melihat punggung Ra In. Dalam mimpi itu Jimin punya rambut kembali. Ternyata ia benar-benar memilikinya sekarang.

"Jimin..."

Jimin menghela tubuhnya dan mendongak kearah pintu. Ia melihat J-Hope tengah berdiri disana dengan memakai pakaian sekolah.

Sekarang masih waktunya sekolah. Jika tidak salah maka sudah waktunya pelajaran ketiga. Tapi, kenapa J-Hope ada didepannya?

"Kau benar-benar Jimin ku?"

"Yakh! Apa kau jimin ku? kenapa Jimin ku tidur lama sekali? Jimin ku kenapa hanya memendam masalah sendiri? huh?" tanya J-Hope bertubi-tubi.

Jimin terkekeh saat J-Hope memukul lengannya.
"Kau bolos? katanya takut motor kesayangan disita?"

"Aku tidak ke sekolah. Aku terlambat, jadi..lebih baik bolos. Hei...Kau harus sembuh, sobat"

"Aku sembuh kalau bisa mendengar ocehanmu"

"Ayoo bercerita tentang sekolah padaku, aku pasti melewatkan banyak hal. Bagaimana kabar dari Jungkook, Taehyung, Suga,
Rapmon, dan Oh...Bagaimana Jin? Dia dengan siapa sekarang?"

"Banyak sekali yang kau lewatkan, Jimin. Aku akan bercerita panjang...lebar hari ini"

J-Hope mulai bercerita tentang Jungkook yang masih terus menunggu jawaban Ra In. Tentang Taehyung yang sering pergi bersama saudara yang punya wajah mirip dengannya. Suga yang masih setia dengan sikap kasarnya. Bahkan Jimin tertawa ketika J-Hope menceritakan bagaimana Jungkook pingsan saat bola basket Suga mengenai kepalanya. Ketika mengatakan Ra In menyukai Rapmon, Jimin tersenyum dalam hati. Ia sangat merindukan gadis itu. Kemarin mimpinya begitu indah melihat Ra In.

"Sekarang Jin sepertinya sudah berpacaran dengan Nayeon"

"Oh..iya? bukankah Nayeon punya Jackson Sunbae?"

J-Hope menggelengkan kepalanya.
"Tidak"

"Oh..iya Nayeon meskipun pintar, juara pertama OSN matematika kemarin, mau-maunya dia dimodusin Jin. Ckckck"

"OSN?" Jimin mengerutkan dahinya. Ia tersenyum miris. Komanya begitu lama kah? Sepertinya lebih dari dua minggu. Soalnya waktu Jimin masih sekolah ia mengetahui OSN diadakan sebulan lagi.

"Iyaa...OSN. Bahkan, Ra In menjadi juara mewakili Fisika. Kita harus bangga karena sekolah kita begitu banyak membawa pulang piala"

"J-Hope..."

"Iyaa"

"Kenapa kau tidak memberitahu yang lain?"

"Kau tidak suka yang lain tahu kan?aku akan meminta izinmu, Jimin"

"Gomawo..."

J-Hope mengeluarkan sebuah undangan dan memberikannya pada Jimin. Ternyata itu undangan pesta perayaan ulang tahun pernikahan orangtua Jungkook.

"Jimin, kata Ayahmu kau sedang menyukai seorang gadis, siapa?"

"Appa bilang begitu?"

"Iyaa. Katakan siapa dia? Ayoo ajak dia ke party besok"

"Dia akan ada disana tanpa aku ajak pun"

"Wow...siapa dia?"

Jimin tidak menjawab dan hanya mengubah posisinya menjadi tiduran di bangsal rumah sakit.

"Yakh! Anjirr....kau mengabaikan ku?

"Kau malu? siapa dia, Jimin?"

"Ayo beritahu?"

Jimin berpura-pura menguap dan memejamkan matanya. Lebih baik begitu sebelum J-Hope membuatnya membongkar rahasianya sendiri.

Nam Ra In....

In my heart....

 

TBC.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (6)
  • indriyani

    @yurriansan Iyaa ya, haha😁. Soalnya aku mikirnya kata-kata yg itu kayanya sering deh didenger, wkwkw. But, thanks masukannya. 😊

    Comment on chapter Dia-ku
  • yurriansan

    aku ada masukan nih, untuk istilah asing baiknya dikasih footnote. untuk orang yang udah lama gk ke korea (drama, maksudnya) gk tau artinya. so far bagus. kental korea,

    Comment on chapter Dia-ku
  • indriyani

    @aisalsa09 Okee oke.. Makasih ya sarannya 😘

    Comment on chapter Lukisan Dia
  • indriyani

    @ShiYiCha makasih yaw hehe

    Comment on chapter Lukisan Dia
  • aisalsa09

    Aku sukanya Jung Soek dong, wkwk
    Btw untuk bagian deskripsi, yang cerita tentang, C nya kapital aja gimana? Hwaiting eonni :))

    Comment on chapter Dia-ku
  • ShiYiCha

    Korea-nya kental sekaleh. Good FF

    Comment on chapter Lukisan Dia
Similar Tags
Simbiosis Mutualisme seri 1
13063      3315     2     
Humor
Setelah lulus kuliah Deni masih menganggur. Deni lebih sering membantu sang Ibu di rumah, walaupun Deni itu cowok tulen. Sang Ibu sangat sayang sama Deni, bahkan lebih sayang dari Vita, adik perempuan Deni. Karena bagi Bu Sri, Deni memang berbeda, sejak lahir Deni sudah menderita kelainan Jantung. Saat masih bayi, Deni mengalami jantung bocor. Setelah dua wawancara gagal dan mendengar keingin...
Sebuah Musim Panas di Istanbul
456      339     1     
Romance
Meski tak ingin dan tak pernah mau, Rin harus berangkat ke Istanbul. Demi bertemu Reo dan menjemputnya pulang. Tapi, siapa sangka gadis itu harus berakhir dengan tinggal di sana dan diperistri oleh seorang pria pewaris kerajaan bisnis di Turki?
ZAHIRSYAH
7620      2401     5     
Romance
Pesawat yang membawa Zahirsyah dan Sandrina terbang ke Australia jatuh di tengah laut. Walau kemudia mereka berdua selamat dan berhasil naik kedaratan, namun rintangan demi rintangan yang mereka harus hadapi untuk bisa pulang ke Jakarta tidaklah mudah.
My Halloween Girl
1155      665     4     
Short Story
Tubuh Kevan bergetar hebat. Ia frustasi dan menangis sejadi-jadinya. Ia ingat akan semalam. Mimpi gila itu membuatnya menggila. Mimpi itu yang mengantarkan Kevan pada penyesalan. Ia bertemu dengan Keisya dimimpi itu. “Kev, kau tahu? Cintaku sama besarnya denganmu. Dan aku tak akan membencimu,”. Itu adalah kata-kata terakhir Keisya dimimpinya. Keisya tak marah dengannya. Tak membencinya. Da...
I'il Find You, LOVE
6814      2114     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.
Love after die
554      388     2     
Short Story
"Mati" Adalah satu kata yang sangat ditakuti oleh seluruh makhluk yang bernyawa, tak terkecuali manusia. Semua yang bernyawa,pasti akan mati... Hanya waktu saja,yang membawa kita mendekat pada kematian.. Tapi berbeda dengan dua orang ini, mereka masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Dmitri, sang malaikat kematian. Tapi hanya 40 hari... Waktu yang selalu kita anggap ...
Untuk Navi
1309      752     2     
Romance
Ada sesuatu yang tidak pernah Navi dapatkan selain dari Raga. Dan ada banyak hal yang Raga dapatkan dari Navi. Navi tidak kenal siapa Raga. Tapi, Raga tahu siapa Navi. Raga selalu bilang bahwa, "Navi menyenangkan dan menenangkan." *** Sebuah rasa yang tercipta dari raga. Kisah di mana seorang remaja menempatkan cintanya dengan tepat. Raga tidak pernah menyesal jatuh cinta den...
The Past or The Future
508      411     1     
Romance
Semuanya karena takdir. Begitu juga dengan Tia. Takdirnya untuk bertemu seorang laki-laki yang akan merubah semua kehidupannya. Dan siapa tahu kalau ternyata takdir benang merahnya bukan hanya sampai di situ. Ia harus dipertemukan oleh seseorang yang membuatnya bimbang. Yang manakah takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya?
Malu malu cinta diam diam
610      463     0     
Short Story
Melihatmu dari jauhpun sudah membuatku puas. karena aku menyukaimu dalam diam dan mencintaimu dalam doaku
Premium
From Thirty To Seventeen
34993      6651     11     
Romance
Aina Malika bernasib sial ketika mengetahui suaminya Rayyan Thoriq berselingkuh di belakangnya Parahnya lagi Rayyan langsung menceraikan Aina dan menikah dengan selingkuhannya Nasib buruk semakin menimpa Aina saat dia divonis mengidap kanker servik stadium tiga Di hari ulang tahunnya yang ke30 Aina membuat permohonan Dia ingin mengulang kehidupannya dan tidak mau jatuh cinta apalagi mengenal R...