Loading...
Logo TinLit
Read Story - My Brother Falling in Love
MENU
About Us  

Happy Reading ❤

Go Han Mel tidak pernah membuka kotak apa yang dikirimkan Chanyeol saat namja itu berulang tahun. Ia hanya tidak ingin saja direpotkan. Ini dunia yang terbalik atau justru otak Chanyeol yang terbalik. Seharusnya ia diberi kado bukannya malah memberi kado.

Kotak itu lumayan besar. Dengan pita berwarna ungu di atas nya yang dibentuk seperti bunga. Han Mel tengah membolak baliknya. Menilik dari segala sisi, untuk menebak apa isinya.

Cukup! Han Mel harus segera membukanya. Sudah lewat beberapa bulan ia tidak membuka kado itu.

Setelah melepas pitanya, Han Mel membuka penutup kotak kadonya. Ia terperangah menemukan sebuah kain disana. Apakah ini gaun?

Terdapat sebuah note disana. Dengan segera Han Mel membacanya.

Datanglah memakai gaun itu, malam ini. Kau pasti sangat cantik.

Park Chanyeol.

Mata Han Mel melebar dengan jantungnya yang seakan memburu. Sebuah kejadian kecil dimalam ulang tahun Chanyeol itu disebabkan olehnya? Itu alasan juga kenapa Chanyeol tidak pernah tersenyum sepanjang malam. Dia mengira kalau Han Mel tidak menghargai pemberiannya.

"Aku memang pantas disalahkan"

"Mianhe Chanyeol Sunbae"

***

Derap langkah kaki berlalu didepan Han Mel. Ia semakin mempercepat gerakan makannya.

"Sis Kae. Aku lupa harus menemui wali kelas kita. Aku duluan ya"

"Bye..."

Gadis itu berlari terburu-buru meninggalkan Sis Kae yang bahkan belum menghabiskan setengah dari makan siangnya.

"Kenapa dia?"

Sis Kae menoleh dan melihat Sehun datang membawa nampan. Sis Kae mengerti kenapa Han Mel begitu. Pasti Sehun alasannya.

"Melihat orang gila"
Dan kau orang gilanya, Oh Sehun.

Kemudian Sehun ikut duduk disana sembari sibuk memainkan ponsel. Bisa ditebak apa yang tengah ia lakukan.

"Sis Kae, Apa Han Mel ikut seleksi beasiswa london?" tanya Sehun tiba-tiba.

"Iya dia bilang begitu"

Ada sedikit perubahan dari raut wajah Sehun. Entah mengapa Sis Kae merasa Sehun masih memikirkan soal Han Mel. Lalu kenapa dia malah meninggalkannya.

Dasar Sehun gila----batin Sis Kae.

Sis Kae ingin makan dengan tenang. Ia baru saja akan kembali memasukkan sesuatu kedalam mulutnya saat tiba-tiba Kai datang dan menarik nampannya. Ia mengisi nampan Sis Kae dengan lauk pauk miliknya. Rupanya ia sengaja mengambil banyak makanan untuk Sis Kae.

"Yakh! Makan saja sendiri. Kenapa kau mengisi nampanku?"

"Aku perhatian padamu. Ini taktik pendekatan baru. Kau akan tersentuh dan berpaling padaku"
Jawab Kai dengan senyum lebarnya. Ia bahkan menggeser Sehun agar dapat duduk tepat didepan Sis Kae.

"Makan saja. Jangan buat dirimu kurus begitu. Kau harus banyak makan supaya semangat menghadapi Ujian---ini Aaa...." Kai mengangkat sumpitnya didepan mulut Sis Kae. Tapi gadis itu mengeraskan rahangnya.

"Aku akan makan sendiri"

Untung saja Sis Kae masih belum kenyang. Dia masih bisa membuat lambungnya menampung makanan lagi.

***

Dikepalkan kuat telapak tangannya sembari menatap pintu kafe di depan ya. Gadis itu sudah menghitung sepuluh kali untuk menetralkan jantungnya dan memantapkan keputusannya menemui Chanyeol.

Kriing...
Han Mel terkesiap melihat seseorang tiba-tiba membuka pintu dihadapannya.

"Hai...Han Mel" sapa namja itu.

Han Mel tersenyum kikuk menjawab sapaannya.

"Mau menemui Chanyeol?"

Untuk sesaat Han Mel bingung harus jawab apa. Tapi, kemudian ia sadar harus mengkonfirmasi permasalahan waktu itu.

"Ne, Chen Sunbae"

"Dia tidak ada disini. Masih dikampus, sedang ada acara. Ikut saja denganku kesana. Chanyeol menampilkan sesuatu"

Ikut? Tidak mungkin. Disana pasti ramai. Untuk sampai disitu saja Han Mel membutuhkan waktu untuk menormalkan jantungnya. Ia pasti sangat jahat menyerah untuk mencari Chanyeol hari ini.

Baiklah, Han Mel akan mencoba lagi lain hari.

"Tidak usah. Aku akan pulang saja dan menemuinya nanti"

"Oke. Aku pergi dulu. Bye..."

Ditatapnya kafe Chanyeol dari luar membuat sekelebat bayangan bermunculan. Bagaimana dulu ia diperintah membersihkan tempat itu oleh Chanyeol. Sekarang semua kenangan itu terlihat lucu.

"Han Mel-ah..."

Gadis itu menoleh kala namanya terpanggil. Ia menatap tidak percaya dengan apa yang ada didepannya. Seseorang yang masih bernaung dihatinya. Bahkan tidak mudah dilupakan.Kini orang itu berdiri disana dengan menatap sendu dirinya.

"Kau...mau pulang kan? Ayo ikut denganku"

"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih tawarannya, Sehun"

Han Mel hendak berlari namun tangannya ditahan. Ia bisa apa? Hanya berdiri menunggu maksud perlakuan Sehun.

"Kita masih teman kan? Ibumu dan ibuku berteman. Mianhe..."

Teman? Apakah Sehun tidak pernah sedikitpun merasa kenangan nya bersama Han Mel itu indah? Dia mudah sekali mengaduk perasaan Han Mel. Seharusnya Han Mel benci tapi....

"Iya sudah" gadis itu melepas tangannya yang dicekal Sehun.
Kemudian melanjutkan aksi kabur nya. Selama menuju halte bis, Han Mel tidak bisa membendung air matanya. Ia berjalan menunduk supaya tidak diperhatikan orang.

Duduk sendirian dihalte bis pada sore hari sangat horor baginya. Han Mel memperhatikan pasangan yang berlalu lalang dengan romantis.

Tiba-tiba dirasa ada yang mengambil tempat disampingnya. Ia menoleh dan terkejut luar biasa melihat Sehun lah yang duduk disampingnya.

"Aku juga menunggu bis datang" kata Sehun seolah tahu arti tatapan tanya Han Mel. Perbuatan itu sedikit membuat perasaan Han Mel membuncah. Ia senang Sehun masih perhatian padanya. Meskipun mereka hanya teman.

"Ne...Nopi-yah..."

"Oh ya? Hmm....baik kalau begitu aku akan membeli pakaian bagus untuk bertemu dengan Ayahmu"

"Aku mencintaimu Nopi ku. Dengar panggilan sayangku. Baguskan?"

"Tentu saja"

Nyatanya meskipun begitu Han Mel sadar, Ia bukan siapa-siapa Sehun. Ia hanya teman. Tolong sadarkan gadis itu untuk segera melupakan Sehun.

Han Mel mengabaikan Sehun yang sibuk menerima telfon. Gadis itu berdiri dan melenggang pergi. Ia menyusuri jalan sendirian. Entahlah kemana saja, yang penting jangan ada Sehun. Hatinya masih sangat rapuh.

Gadis itu berhenti disebuah toko boneka. Ia melihat banyak sekali teddy bear berukuran besar. Melihat semua boneka itu ia teringat Sis Kae yang mana kamarnya penuh dengan beruang buatan itu. Apalagi semua benda kesukaan Sis Kae diberikan oleh orang terkasihnya. Sedangkan Han Mel?

Tidak ada dan jangan pikirkan lagi.

Ia duduk disalah satu sofa hendak memilih salah satu boneka. Ia berniat membelinya karena lucu.


Cekrek!

Han Mel mendongak saat bunyi kamera terdengar. Ia segera berdiri menegakkan tubuhnya. Jangan lupakan bunyi jantungnya tiap menatap wajah itu.

"Chen bilang kau mencari ku. Benar?"

Bagaimana mungkin Chanyeol ada didepannya? Bukankah tadi Chen bilang, namja itu sedang ada acara.

"Jangan menatap aku seperti itu. Kau membuat aku jantungan"
Chanyeol mengikis jarak. Kemudian tangannya tergerak mencapai boneka kecil dan mengulurkannya pada Han Mel.
"Jangan sering menolak pemberianku. Tidak apa-apa kalau itu Sehun. Kau melukaiku"

Han Mel menarik boneka dari tangan Chanyeol. Ia tertegun mendengar penuturan Chanyeol. Sama sekali Han Mel tidak berniat melukai Chanyeol dengan tidak memakai gaun itu.

"Ayo ikut..." Chanyeol meraih tangan Han Mel dan menariknya menuju meja kasir. Setelah membayar boneka tersebut Chanyeol membawa Han Mel menyusuri jalanan Seoul yang ramai di sore hari itu. Apalagi hari ini hari minggu.

"Katanya kau ada acara kampus. Bukannya kau sering ikut tampil"
Han Mel memberanikan diri membuka suara pertama kali. Sebenarnya rasa canggung masih menyelimuti mereka. Terutama Han Mel, setelah membuka kado Chanyeol ia merasa telah menjadi sangat jahat.

"Aku hanya tampil sekali. Kata Chen kau mencari ku. Aku sengaja membatalkan penampilan selanjutnya. Tidak penting juga, sudah aku katakan kau jauh lebih penting"

Mata Han Mel melebar dan tubuhnya kaku seketika. Selama ini Chanyeol sering melempar kode tapi Han Mel masih tidak tahu soal perasaannya.

"Sudah melupakan Sehun? katakan kalau sudah lupa ya, aku akan mencoba nya. Hehee...becanda" Chanyeol langsung membelokkan kalimatnya melihat wajah Han Mel yang hanya menampilkan muka datar.

"Soal ulang tahunmu waktu itu---"

"Iya kenapa?"

Han Mel menarik napas sebelum memulai kalimatnya. Jujur, ia sangat tidak enak terhadap Chanyeol.

"Aku tidak tau kau memberiku gaun. Alasan aku tidak memakainya bukan karena aku menolak pemeberianmu atau tidak suka gaunya. Mianhee..."

Han Mel menunduk namun Chanyeol mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya. Han Mel pikir Chanyeol akan marah, tapi namja itu malah tersenyum.

"Seriously? Aku sakit hati waktu itu, kalau kau mau tau. Tapi aku senang kau ternyata tidak menolaknya. Kau tau tidak?"

Han Mel menggeleng. Gadis itu sungguh lucu sekali dimata Chanyeol.

"Aku sampai kelimpungan waktu itu"

"Mian..." lirih Han Mel seolah tidak ada kata lain yang bisa ia ucapkan.

"Bagaimana kalau kau pakai gaun itu dan temani aku ke pesta keluargaku. Aku ingin kau mengenal keluargaku. Kumohon...jangan menolak. Please...."
Chanyeol membuat wajahnya terlihat lucu. Han Mel hampir tersenyum lebar. Gadis itu mengangguk setuju.

"Sebagai bayaran atas kesalahanku. Aku mau menemanimu"

Hap!
Tanpa sadar Chanyeol membekap tubuh Han Mel. Ia reflek karena rasa senangnya. Anehnya, Han Mel juga tidak menolak walaupun tetap tidak membalas pelukan Chanyeol.

"Yes....Gomawo Han Mel" girang Chanyeol.

***

"Noona pacarnya Hyung?"

"Noona yang cantik mau pacaran dengan Nyeol hyung yang kucel itu?"

"Hahaha.....Noona, biarku beritahu. Nyeol hyung sering bermain gitar sambil bernyanyi dan mengubah lirik lagu dengan nama gadis lain"

Dari semua banyaknya pertanyaan yang dilontarkan adik Chanyeol. Baru yang itu Han Mel merasa tertarik. Ia ingin mendengar aib Chanyeol langsung dari adiknya, Park Chenle.

"Go Han Mel namanya"

Deg!
OMG...Chenle tidak tahu Han Mel itu adalah perempuan didepannya. Han Mel menegang ditempat. Demi EXO, ternyata selama ini Chanyeol sangat tulus kepadanya.

"Noona...jangan sakit hati. Tau kau yang cantik begini, aku jauh akan mendukungmu dari pada gadis itu"

Han Mel menyunggingkan senyumannya. Ia mengerlingkan mata didepan Chenle.

"Kau tau namaku?" tantang Han Mel. Sedangkan Chenle menggeleng.

"Han Mel. Namaku Go Han Mel"

"Itu kau?" Chenle melompat dari duduknya. Ia menutup mulut karena menganga tidak sadar. Jadi, ia sedang membicarakan seseorang didepannya langsung.

"Hehee....Mian. aku tidak tau. Berarti kakakku sangat setia. Aku bangga padanya"

Han Mel tertawa melihat tingkah lucu Chenle. Laki-laki itu dengan senang hati menemani Han Mel duduk diluar menunggu Chanyeol yang tengah sibuk mengobrol dengan keluarganya. Han Mel pusing diajak berkenalan dengan banyak orang.

"Kau mau pulang? Ayo aku antar" Chanyeol datang setelah Chenle pergi. Han Mel mengangguk kemudian mengekor dibelakang Chanyeol.

"Sunbae..."

Chanyeol berhenti saat Han Mel memanggilnya. Mereka sudah sampai didepan mobil Chanyeol. Jauh dari hingar bingar pesta.

Han Mel mendekat seolah mengikis jarak diantara mereka. Setelah berbicara dengan Chenle ia merasa hatinya sudah mantap. Toh, ia tidak mungkin juga terlalu larut memikirkan Sehun.

Sekarang ada Chanyeol yang selalu mengistimewakan nya.

"Mau berkencan denganku?"

Chanyeol melengkungkan bibirnya. Selama hidup hingga di umur nya yang sudah dua puluh tahun itu, kalimat Han Mel adalah yang terindah yang pernah ia dengar.

"Aku saja yang katakan" rutuk Chanyeol. Ia meraih kedua telapak tangan Han Mel dan mengelusnya.

"Ayo berkencan denganku, Han Mel. Aku akan membuatmu melupakan Sehun"

.
.
.
.
.
.
.

Aduh.....baper ini. Tolong....author nggak kuat...tolong...hehehehe....😂

Gimana part ini????
Komen yukss 😁☺

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
From Ace Heart Soul
650      409     4     
Short Story
Ace sudah memperkirakan hal apa yang akan dikatakan oleh Gilang, sahabat masa kecilnya. Bahkan, ia sampai rela memesan ojek online untuk memenuhi panggilan cowok itu. Namun, ketika Ace semakin tinggi di puncak harapan, kalimat akhir dari Gilang sukses membuatnya terkejut bukan main.
unREDAMANCY
9385      2425     6     
Romance
Bagi Ran, Dai adalah semestanya. Ran menyukai Dai. Ran ingin Dai tahu. Simple. Celakanya, waktu tak pernah berpihak pada Ran. Ini membingungkan. Ran tak pernah berpikir akan mengalami cinta sendirian begini. Semacam ingin bersama tapi dianya nggak cinta. Semacam ingin memaksa tapi nggak punya kuasa. Semacam terluka tapi ingin melihatnya bahagia. Ini yang namanya bunuh dir...
Sibling [Not] Goals
1305      746     1     
Romance
'Lo sama Kak Saga itu sibling goals banget, ya.' Itulah yang diutarakan oleh teman sekelas Salsa Melika Zoe---sering dipanggil Caca---tentang hubungannya dengan kakak lelakinya. Tidak tau saja jika hubungan mereka tidak se-goals yang dilihat orang lain. Papa mereka berdua adalah seorang pencinta musik dan telah meninggal dunia karena ingin menghadiri acara musik bersama sahabatnya. Hal itu ...
The Ruling Class 1.0%
1818      843     2     
Fantasy
In the year 2245, the elite and powerful have long been using genetic engineering to design their babies, creating descendants that are smarter, better looking, and stronger. The result is a gap between the rich and the poor that is so wide, it is beyond repair. But when a spy from the poor community infiltrate the 1.0% society, will the rich and powerful watch as their kingdom fall to the people?
Matahari untuk Kita
5852      2069     10     
Inspirational
Sebagai seorang anak pertama di keluarga sederhana, hidup dalam lingkungan masyarakat dengan standar kuno, bagi Hadi Ardian bekerja lebih utama daripada sekolah. Selama 17 tahun dia hidup, mimpinya hanya untuk orangtua dan adik-adiknya. Hadi selalu menjalani hidupnya yang keras itu tanpa keluhan, memendamnya seorang diri. Kisah ini juga menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Jelita. Gadis c...
Crashing Dreams
335      284     1     
Short Story
Terdengar suara ranting patah di dekat mereka. Seseorang muncul dari balik pohon besar di seberang mereka. Sosok itu mengenakan kimono dan menyembunyikan wajahnya dengan topeng kitsune. Tiba-tiba sosok itu mengeluarkan tantou dari balik jubahnya. Tanpa pasangan itu sadari, sosok itu berlari kearah mereka dengan cepat. Dengan berani, laki-laki itu melindungi gadinya dibelakangnya. Namun sosok itu...
KAMU MILIKKU
1101      686     8     
Short Story
Apa yang tidak diucapkan, tidak berarti tidak berada dalam hati.
My Secret Wedding
3358      906     2     
Romance
Pernikahan yang berakhir bahagia adalah impian semua orang. Tetapi kali ini berbeda dengan pernikahan Nanda dan Endi. Nanda, gadis berusia 18 tahun, baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Sedangkan Endi, mahasiswa angkatan terakhir yang tak kunjung lulus karena jurusan yang ia tempuh tidak sesuai dengan nuraninya. Kedua nya sepakat memutuskan menikah sesuai perjodohan orang tua. Masin...
Nobody is perfect
15209      3018     7     
Romance
Pada suatu hari Seekor kelinci berlari pergi ingin mencari Pangerannya. Ia tersesat, sampai akhirnya ditolong Si Rubah. Si Rubah menerima si kelinci tinggal di rumahnya dan penghuni lainnya. Si Monyet yang begitu ramah dan perhatiaan dengan si Kelinci. Lalu Si Singa yang perfeksionis, mengatur semua penghuni rumah termasuk penghuni baru, Si Kelinci. Si Rubah yang tidak bisa di tebak jalan pikira...
365 Hari, Aku Bertanya pada Kalian?
776      535     3     
Short Story
Aku akan menceritakan kisahku pada kalian semua. Tidak, tidak. Aku tidak meminta belas kasihan kalian. Wanita seperti ku tidak perlu dikasihani oleh kalian. Karena setelah mendengar ceritaku ini, mungkin kalian akan memberiku kalimat penyemangat yang terdengar basi dan empat menit kemudian kalian sudah melupakanku. Jadi, aku tidak perlu itu semua. Aku hanya ingin bertanya kepada kalian, Apak...