Tidak disangka-sangka ternyata Bu Konde suka dengan konsep cerita yang diajukan Lara. Bu Konde menilai cinta yang dibangun lewat mimpi itu sangat unik, rumit dan tidak biasa. Dia yakin sekali jika Lara bisa mengemasnya dengan baik, maka cerita tersebut akan menjadi masterpiece-nya yang pertama.
Masterpiece?
Lara merasa penilaian Bu Konde terlalu berlebihan. Bagaimana bisa disebut Masterpiece jika penulisan naskahnya saja masih butuh buku panduan. Untuk detail ceritanya juga belum kepikiran olehnya. Bu Konde pasti ngawur, pikirnya sambil mengeluarkan buku panduan menulis naskah teater, membentangkannya di sisi notebook. Dia memejamkan mata, berusaha membayangi adegan pembuka.
Adegan I, ketiknya.
Jemarinya terdiam untuk waktu yang lama di atas keyboard.
Apa selanjutnya?
Mendadak dia mengalami kebuntuan. Bingung kata apa yang harus diketik mengawali rangkaian cerita. Padahal dia begitu lancar memaparkan garis besar cerita tersebut kepada Bu Konde. Kini garis besar dari konsep itu seolah menguap dari ingatannya.
"Ya, Tuhan," desahnya sambil mengingat-ingat kembali. "Deril dan Lori." Bicara sendiri. "Sepasang kekasih yang tak pernah bertemu secara fisik, tapi cinta mereka tertanam kuat di masing-masing hati melalui mimpi yang mereka alami hampir di tiap malam tidur mereka." Mulai mengetik kalimat yang terucap. "Deril seorang pemuda gagah tapi pengangguran dan dia bukan seorang pemalas yang merelakan dirinya ditentukan oleh nasib. Berbagai usaha dicobanya namun selalu mengalami kegagalan. Hingga suatu ketika dia bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Lori yang tanpa sengaja mendengar Deril bernyanyi dengan suara merdu yang sanggup menggetarkan jiwa." Berhenti mengetik. Membaca ulang hasil ketikan. Not bad. Lalu jemarinya bergerak lancar mendiktekan isi pikirannya ke dalam layout halaman.
Sejam kemudian dia sudah menyelesaikan seperempat dari rangkaian cerita. Sebenarnya dia ingin terus melanjutkan, akan tetapi matanya tak kuat menahan kantuk. Ketika merebahkan diri di ranjang, dia teringat sesuatu yang membuatnya bangkit kembali untuk mengambil ponsel. Dibukanya galeri foto yang memuat beberapa foto Sello di berbagai kesempatan. Lalu dia tersenyum.
"Benarkah foto ini dapat menghadirkan mimpi dan bertemu dengan orang yang ada di foto?" Mengekeh. "Dasar Sello!"
***
Sello, Idan dan Jujun keluar dari ruang studio musik. Mereka baru saja selesai latihan. Wajah mereka tampak puas. Latihan malam ini berjalan lancar dan Sello sedikit pun tidak meleset melafalkan syair lagu yang dinyanyikan.
"Sel, lo langsung pulang?" tanya Idan.
"Mm-hm."
"Nongkrong, yuk?" ajak Idan. "Gue yang traktir."
"Habis merampok siapa lo?" Sello bersiap-siap naik ke motornya.
"Setdah! Ini uang halal, bro. Gue abis malakin abang gue yang baru pulang dari Malaysia."
"Gak ah. Gue pulang saja! Ngantuk."
"Ya, sudah. Elo, Jun?"
Jujun tidak langsung menjawab, tapi berpikir keras. "Bolehlah," jawabnya kemudian.
"Tapi gue cuma bayar separuh, ya?"
"Lho, kok gitu?"
"Makan lo banyak sih!"
Sello menyalakan motornya. "Oke, guys. See you tomorrow!" Tancap gas dan berlalu tanpa menghiraukan lagi pada kedua sahabatnya yang masih tawar-menawar traktiran di parkiran.
Selama perjalanan pulang, Sello tidak henti-hentinya melirik jam tangannya. Dia menargetkan harus tiba di rumah sebelum pukul sepuluh, menyamakan jam tidurnya seperti yang disampaikannya pada Lara untuk Vanda. Motornya melesat cepat dan sekitar pukul sepuluh kurang seperempat dia sudah sampai di rumah. Setelah memasukkan motor ke garasi, dia bergegas masuk ke kamar dan menguncinya agar tak seorang pun yang mengganggu ritual tidurnya.
"Finally," desahnya selesai mengganti pakaian dengan singlet dan celana boxer. Lalu dia naik ke ranjang sambil membawa foto Vanda. "See you in my dream, beib." Merebahkan badannya setelah menyurukkan foto ke bawah bantal.
Ada yang mengatakan ketika manusia tertidur, maka rohnya akan melayang memasuki pintu-pintu yang terkoneksi menuju dimensi lain, yang menghadirkan sensasi pengalaman hidup dari masa lalu, masa kini, masa depan, kebahagiaan, penderitaan, keinginan dan bahkan tak jarang roh terlempar di kengerian dimensi. Bagi Sello satu-satunya sensasi yang diharapkannya hadir adalah rohnya dapat menerobos masuk ke pintu dimensi yang dimiliki Vanda.
Ketika matanya terpejam, ketika dirinya masuk ke dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement), Sello menemukan dirinya di suatu tempat yang tidak asing lagi baginya. Monas!
Sello melangkah di bawah kaki menara yang sunyi senyap. Tak ada orang. Tidak ada aktifitas manusia di sana. Bahkan dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di antara desiran darahnya yang mengalir. Dia tidak merasakan hembusan angin. Monas merupakan satu-satunya bangunan yang berdiri kokoh di sana. Situasinya benar-benar aneh. Tapi keanehan itu bukan masalah besar bagi Sello. Dia ingat bahwa tujuannya adalah menemukan Vanda, Vanda, dan Vanda.
"Vanda...!" Suaranya menggema panjang.
"Kenapa kau berteriak sementara aku berada di dekatmu?" Suara perempuan bertanya.
Sello mengenal suara itu. Dia memutar badan dan tersenyum ketika menatap orang yang barusan bicara. "Vanda?" Senyum segera buyar ketika wajah Vanda mendadak blur seperti kena sensor. "Kau datang?"
Vanda mengedikkan bahunya. "As your wish."
Sello mendongakkan kepalanya ke atas, menatap puncak monas. Alih-alih mengajak Vanda untuk menaikinya, mereka malah sudah berada di sana.
"Jakarta indah, ya?" Vanda berkata.
"Indah?" Sello bingung. Indah apanya? Setahunya Jakarta itu semrawut. "Tak seindah dirimu, Van," tanggapnya.
"Jangan gombal."
"Kau tidak suka?"
"Sangat suka, tapi aku lebih suka kau menunjukkannya lewat aksi nyata."
"Apa yang harus kulakukan sementara kau selalu menghindariku?"
"Hei, aku di sini sekarang."
Sello tersenyum simpul. "Tapi kenapa kau selalu menghindariku?"
"Aku hanya ingin kau terus mengejarku."
"Aku akan melakukannya, tapi suatu saat aku pasti lelah dan menyerah."
"Berarti kau tidak bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan cinta yang tidak mengenal kata lelah dan menyerah."
"Kau menantangku?"
"Anggap saja begitu."
"Baiklah jika itu yang kauinginkan. Sampai kapanpun aku akan tetap terus mengejarmu hingga ujung waktu menjemputku."
"Nah, aku suka semangatmu itu."
"Harus."
Hening. Sello tidak menyadari sejak kapan angin mulai berhembus dan sejak kapan pula langit menaburkan warna jingga di kakinya. Lampu-lampu kota mulai menyala.
"So?" Vanda membuka suara, menatap garis langit yang mulai hilang.
"Um, entahlah. Aku bingung harus memulainya dari mana."
"Kupikir kau seorang Casanova."
Sello mengekeh. "Barangkali aku telah terkena sindrom pedekateous para nerdious. Lidahku kelu setiap kali berada di dekatmu. Pikiranku pun mendadak buntu."
"Apa, sih?" Vanda tersenyum geli.
Sello mengekeh. "Aku bersungguh-sungguh."
Vanda melayangkan cubitan kecil di pinggang Sello. "Bukankah kau ingin menanyakan banyak hal padaku?"
Sello mengangguk. "Kau benar. Aku sangat ingin tahu apa yang menjadi kesukaanmu dan ketidaksukaanmu."
"Hanya itu?"
Sello menggerakkan alisnya.
"Baiklah. Bagian mana dulu harus kujelaskan."
"Terserah."
"Tidak. Kau harus memutuskannya. Aku suka kepada lelaki yang tidak ragu dalam membuat keputusan."
"Apakah itu yang pertama?"
"Bisa jadi."
"Oke. Lalu?"
"Kau harus memutuskannya lebih dahulu."
"Baiklah." Sello mengangguk. "Aku ingin kau menjelaskan padaku hal-hal yang menjadi kesukaanmu."
"Tadi sudah kusebutkan."
"Aku sudah mendengarnya. Lalu apalagi?"
"Kenapa tidak kau cari tahu saja sendiri?" Vanda mencibir.
"Curang."
"Kau harus berusaha." Vanda berkata manja.
Sello menghela nafas. "Kau ini benar-benar menyulitkanku."
"Oh, siapa bilang? Seharusnya kau jeli membaca keadaanku."
"Apa ini clue-nya?"
Vanda menjawab dengan senyuman. "Bacalah diriku, maka kau akan tahu segalanya tentangku."
Alarm jam berbunyi tepat pada pukul lima pagi, memaksa Sello kembali ke alam nyata. Dia membuka mata yang masih sepet, mengerjap-ngerjap sejenak, lalu meregangkan badannya sambil menguap lebar. Dia tercenung, mengingat-ingat mimpi yang barusan dialaminya, tapi yang diingat hanya garis besarnya saja. Meskipun begitu, ada satu hal yang membuat senyumnya merekah, yaitu dia berhasil melakukannya. Foto dan sehelai rambut Vanda bekerja dengan baik, menciptakan mimpi yang menghadirkan sosok fisik Vanda. Dia perlu memastikan apakah Vanda mengalami mimpi yang sama atau tidak?
Dengan langkah seperti zombi, dia meraih ponsel di atas meja. Sejenak dia ragu, menimbang perlu tidaknya mengirimkan pesan kepada Vanda, menanyakan mimpi yang dialaminya.
"Mending tanya langsung saja nanti!"
nice story, kusuka bahasa yg dipakai ringan. keep writing...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Comment on chapter Casanova