Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kala Saka Menyapa
MENU
About Us  

Jika yang ku ingin bukan kematian, harusnya aku tidak ada di sini. Mematung di samping tembok bernada serupa dengan warna kain kafan.

Mengerikan. Semerbak aroma bunga mulai berterbangan hingga menimbun bau keringatku.

Sementara itu raung tangis terdengar semakin jelas dan keras.

"Bee, jangan nangis." pinta seseorang. "Kamu harus dengerin dulu ceritanya kaya apa."

"Gak usah!" tolaknya lantas berlari.

Seiring dia menjauh, semerbak wangi bunga dan raung tangis pun pupus.

Harusnya dia dikejar, mengingat air matanya mengucur deras tanda ia sedang ada apa-apa.

Tapi yang menjadi pasangannya--dia si pria di hadapanku, justru membatalkan aksi mengejarnya setelah menyadari keberadaanku.

Dia menatap intens penuh ketidak sukaan. Perlahan derapnya semakin mengikis jarak.

"Mati aku!" gusarku pelan. "Niatnya cuma lewat aja, enggak lebih, apalagi mau nguping masalah orang. Kaya gak ada kerjaan banget! "

"Jadi sejak kapan kamu di situ?" tanyanya.

"Eu, anu, Pak." lidahku sulit sekali berucap. "Belum lama."

"Mau ada yang dibicarakan?" tanyanya serius.

Mata ini jelas langsung terlonjak. Duh, Tuhan aku bahkan hanya melintas ruangannya, tidak ada kepentingan apapun.

Jangan sampai aku terperangkap di dalamnya. Otakku saja sudah mendengungkan beribu tanda bahaya.

Bukan akan mati dibunuh lalu dimutulasi. Tapi intinya, keperawanan menjadi taruhan.

Siapa yang akan menyangka tidak ada apa-apa jika setiap perempuan cantik yang keluar dari ruangannya selalu berpenampilan acak-acakkan, lipstick memudar, dan dua kancing teratas terbuka.

Jelas gila. Itu pasti ada apa-apanya. Grepe-grepe misalnya.

"Ayok, masuk!" perintahnya lagi.

"Ah, itu,," gugupku seraya mencari alasan untuk pergi. "Aku harus, harus ke kelas. Iya, ke kelas karena sudah ada dosen."

"Dosennya kan saya. Jadi enggak perlu takut terlambat. Ayo, masuk dulu." serunya lagi.

Nah kan, gugup membuat otakku semaput berpikir jernih. Aku lupa bahwa hari ini jadwal dia mengisi kelas.

Jadi bagaimana ini? Aku harus masuk saja? Penasaran juga terhadap apa yang dilakukan Saka dan para perempuannya di sebidang ruang tertutup itu.

"Ayo, masuk dulu!" ajaknya lagi. "Tidak mungkin kamu berdiri di sisi pintu ruang saya jika tidak berniat menemui saya kan?"

Perlahan ku cairkan keterpakuan. Kaki ini melangkah satu hentak diiringi bismilah yang khusyu. Terasa berat rasanya. Deg-degan juga.

Kesannya gue kayak nganterin diri ke jurang kalo gini.

"Kara!!!!!" teriak dari arah luar.

Seketika senyumku mengembang. Untuk pertama kalinya aku akui betapa beruntungnya memiliki teman macam Sisca.

Dia seolah tahu kapan saat sedang dibutuhkan, walau tidak setiap waktu juga.

"Lo lama banget sumpah. Gue sampe jamuran nungguin lo." Dia terengah-engah, lantas menyidik pintu ruang ini.

"Ya Tuhan ngapain lo di sini? Tempat yang katanya haram dikunjungi karena mayoritas kegiatan di sini bisa nganter ke neraka. Grepe-grepe, desah-desahan gitu. Ngapain sih?  Lo mau masuk?" cerocos Sisca.

Kadang aku benci mulut ceplas ceplosnya. Dia tidak sadar apa, si mpu ruangan sedang menerkam lewat tatapan elangnya.

"Apa gunanya juga lo mati-matian belajar principle acounting hanya demi dapat nilai bagus biar gak dipanggil pak Saka ke ruangannya, kalo ujung-ujungnya lo nyerahin diri gini. Iyuh deh." cerocosnya tanpa batas.

"Alah gue tahu sekarang, lo ngomong gak sudi dateng ke ruang Pak Saka karena lo gak mau berbagi sama gue kan?" katanya lagi. "Elah, santai aja kali gue gak tertarik sama dosen yang lo gilain itu."

Tuhan, beri sedikit saja saringan di mulut Sisca. Heran rasanya, kurang sekali insting kepekaannya.

Dia bahkan mengabaikan segala bentuk kode dan isyaratku untuk mengerem rentetan ucapannya.

Memang benar apa yang dikatakannya bukan hoax. Tapi mengertilah mana ada orang berani menyolok mata yang sedang melotot, kecuali Sisca.

"Eh, pak dosen." kikuknya. "Itu loh aku tadi, tadi. Ya udah deh, lo lanjutin aja. Maaf gue udah ganggu."

Biar ku tarik ucapanku. Sial rasanya berteman dengan Sisca. Aku disodorkan terang-terangan,  dia juga menutup pintu setelah berhasil mendorongku ke ruangan.

Dasar, teman durhaka!!! 

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
F I R D A U S
889      610     0     
Fantasy
Orange Haze
773      556     0     
Mystery
Raksa begitu membenci Senja. Namun, sebuah perjanjian tak tertulis menghubungkan keduanya. Semua bermula di hutan pinus saat menjelang petang. Saat itu hujan. Terdengar gelakan tawa saat riak air berhasil membasahi jas hujan keduanya. Raksa menutup mata, berharap bahwa itu hanyalah sebuah mimpi. "Mata itu, bukan milik kamu."
Ignis Fatuus
2361      1020     1     
Fantasy
Keenan and Lucille are different, at least from every other people within a million hectare. The kind of difference that, even though the opposite of each other, makes them inseparable... Or that's what Keenan thought, until middle school is over and all of the sudden, came Greyson--Lucille's umpteenth prince charming (from the same bloodline, to boot!). All of the sudden, Lucille is no longer t...
HIRAETH
633      465     0     
Fantasy
Antares tahu bahwa Nathalie tidak akan bisa menjadi rumahnya. Sebagai seorang nephilim─separuh manusia dan malaikat─kutukan dan ketakutan terus menghantuinya setiap hari. Antares mempertaruhkan seluruh dirinya meskipun musibah akan datang. Ketika saat itu tiba, Antares harap ia telah cukup kuat untuk melindungi Nathalie. Gadis yang Antares cintai secara sepihak, satu-satunya dalam kehidupa...
DEVANO
867      561     1     
Romance
Deva tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Mega bisa begitu berpengaruh untuk hidupnya. Dan untuk pertama kalinya setelah hari itu, Dio-mantan sahabatnya, ikut campur dalam urusannya. Padahal, biasanya cowok itu akan bersikap masa bodo. Tidak peduli pada semua yang Deva lakukan. Ternyata, pertemuan itu bukan hanya milik Deva. Tapi juga Dio di hari yang sama. Bedanya Deva lebih berun...
Late Night Stuffs
2007      1037     2     
Inspirational
Biar aku ceritakan. Tentang tengah malam yang terlalu bengis untuk membuat pudar, namun menghentikan keluhan dunia tentang siang dimana semua masalah seakan menjajah hari. Juga kisah tentang bintang terpecah yang terlalu redup bagi bulan, dan matahari yang membiarkan dirinya mati agar bulan berpendar.
I am Home
676      498     6     
Short Story
Akankah cinta sejati menemukan jalan pulangnya?
Switched A Live
4199      1860     3     
Fantasy
Kehidupanku ini tidak di inginkan oleh dunia. Lalu kenapa aku harus lahir dan hidup di dunia ini? apa alasannya hingga aku yang hidup ini menjalani kehidupan yang tidak ada satu orang pun membenarkan jika aku hidup. Malam itu, dimana aku mendapatkan kekerasan fisik dari ayah kandungku dan juga mendapatkan hinaan yang begitu menyakitkan dari ibu tiriku. Belum lagi seluruh makhluk di dunia ini m...
Deepest
1291      808     0     
Romance
Jika Ririn adalah orang yang santai di kelasnya, maka Ravin adalah sebaliknya. Ririn hanya mengikuti eskul jurnalistik sedangkan Ravin adalah kapten futsal. Ravin dan Ririn bertemu disaat yang tak terduga. Dimana pertemuan pertama itu Ravin mengetahui sesuatu yang membuat hatinya meringis.
My sweetheart senior
18473      3915     3     
Romance
Berawal dari kata Benci. Senior? Kata itu sungguh membuat seorang gadis sangat sebal apalagi posisinya kini berada di antara senior dan junior. Gadis itu bernama Titania dia sangat membenci seniornya di tambah lagi juniornya yang tingkahnya membuat ia gereget bukan main itu selalu mendapat pembelaan dari sang senior hal itu membuat tania benci. Dan pada suatu kejadian rencana untuk me...