Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Selang satu bulan...

 

Popi dan Chen masih seperti air dan minyak. Setiap hari ada saja yang diperdebatkan. Tapi entah mengapa, kantor terasa lebih hidup sejak Chen datang.

 

“Eh, hati-hati loh... kamu bisa jatuh cinta sama aku,” kata Chen dengan senyum jahilnya.

 

Popi mendelik. “Amit-amit jabang bayi.”

 

Chen tertawa. “Jangan gitu dong. Benci bisa jadi cinta loh.”

 

“Kamu pikir ini lagu dangdut?”

 

“Siapa tahu, kan? Hati kamu siapa yang ngerti? Hati aku juga bisa berubah.”

 

Popi menarik napas dalam. “Udah ah, selesaikan kerjaanmu. Jangan cuma bisa ngegombal.”

 

“Tenang, aku gak main-main kok. Apalagi soal... hati.” Chen menyeringai sambil mengedipkan mata.

 

Popi pura-pura ingin muntah. “Ih, geli!”

 

 

---

 

Di tempat parkir kantor, sore hari.

 

“Sip, aku pulang duluan, ya, Beb,” kata Sitty sambil melambai ke Popi.

 

“Hati-hati ya, Beb,” jawab Popi sambil membereskan tasnya.

 

Tak lama, Chen datang sambil menuntun motornya. “Popi, pulang bareng aku yuk. Aku anter sampe depan rumah.”

 

Popi menatap Chen sinis. “Maaf, aku gak biasa naik ojek.”

 

Chen tertawa keras. “Waduh, ganteng-ganteng gini dibilang ojek. Ini motor pribadi, loh. Antarnya juga gratis, free ongkir!”

 

“Gak usah. Sana, pergi!” Popi berpaling, berusaha menyembunyikan senyum kecilnya.

 

Chen mengangkat bahu dan menancap gas motornya. Tapi baru beberapa detik pergi, Popi menggerutu sendiri.

 

“Kenapa tadi aku gak terima aja, sih? Lumayan ngirit ongkos ojol... Duh, pertengahan bulan lagi.... 

Popi sudah kembali tinggal di rumahnya.. 

 

Bunyi motor yang sama kembali terdengar. Popi menoleh cepat.

 

“Loh? Kok dia balik lagi? Jangan-jangan dia denger yang aku omongin barusan? Gawat, aku mulai halu.”

 

“Beneran gak mau dianter?” tanya Chen dari atas motor, helmnya masih terpasang.

 

Popi cemberut, tapi hatinya berdebar.

 

“Baiklah... kalau kamu maksa.” Popi akhirnya naik, duduk menyamping.

 

Chen menatapnya sekilas. “Kamu pikir aku ojek beneran? Duduknya begitu amat.”

 

“Aku pakai rok, tahu!”

 

“Ya udah, tapi pegangan yang erat ya.” Tiba-tiba, ia menarik tangan Popi dan meletakkannya di pinggangnya. “Begini. Jangan dilepas. Aku gak pernah bawa motor pelan.”

 

Popi terkejut, tapi tak menolak.

 

“Kalau seperti ini, bajumu bisa robek nanti,” goda Popi sambil pura-pura menarik tangannya lagi.

 

Chen tertawa. “Cie, mulai nyaman ya?”

 

 

---

 

Di depan rumah Popi.

 

“Terima kasih... atas tumpangannya,” kata Popi dengan suara lebih lembut.

 

Chen mengangguk. “Sama-sama. Besok aku jemput lagi ya.”

 

“Hei! Gak perlu!” teriak Popi, tapi motor Chen sudah melaju cepat.

 

Dari arah pagar, Cindy muncul tiba-tiba. “Ciee, yang dianterin Chen~”

 

“Cindy! Ngagetin aja. Kok gak masuk?”

 

“Aku nungguin kamu, malu ah sama Papi-Mami kamu.”

 

“Mereka lagi ke luar kota.”

 

“Wah, cocok nih. Aku nginap ya? Lagi males pulang. Rumah juga kosong.”

 

“Pas banget. Aku juga butuh teman curhat.”

 

 

---

 

Di ruang tengah rumah Popi.

 

Asisten rumah tangga mereka menyambut. “Sudah pulang, Non. Eh, ada Mbak Cindy juga. Mau minum apa?”

 

“Gak usah repot-repot, Bi,” kata Cindy.

 

Saat mereka sudah duduk santai, Popi menatap Cindy penuh tanda tanya.

 

“Cin, menurut kamu... aku cocok gak sih sama Chen?”

 

Cindy langsung membulatkan mata. “Apa?! Jangan bilang... kalian jadian?! Kapan?! Di mana?!”

 

“Hus, ngomong sembarangan! Enggak! Aku cuma nanya doang. Siapa tau... suatu saat... bisa aja.”

 

“Hei, hei... yang dulu nyebelin, sekarang mulai bersemi?” goda Cindy sambil tertawa puas.

 

“Aku gak tahu juga. Tapi... akhir-akhir ini dia bikin aku senyum terus.”

 

“Cieeee, mulai suka yaaaa~ Mau aku comblangin gak?”

 

“Jangan, ah! Aku maunya yang alami. Gak perlu paksaan.”

 

“Alami? Biasanya itu lama, loh"

 

“base on true story gitu gak sih.” popi terkekeh kecil

 

“Kira-kira begitulah... yuk ke mall malam ini. Aku mau beli baju buat ke kantor besok.”

 

“Pakai bajuku aja.”

 

“Mana cocok?! Kita beda dimensi, sayang!”

 

Popi tertawa keras. “Eh, kenapa sih kamu gak belajar jadi feminim dikit?”

 

“Mungkin aku harus coba. Sekalian ke salon, yuk!”

 

Popi langsung berdiri. “Let’s make over!”

 

Cindy menggenggam tangan Popi. “Kita ubah hidupmu, dan... siapa tau sekalian bikin Chen makin jatuh cinta!”

 

Popi tersenyum, hatinya berdebar pelan. Sore itu, ia merasa... sesuatu yang baru sedang dimulai.

 

 

---

“Apa aku cocok dengan dress ini?” tanya Cindy dengan suara pelan, matanya menatap pantulan dirinya di kaca. Gaun berwarna pastel melekat anggun di tubuhnya, rambut yang biasanya diikat asal kini digerai rapi.

 

Popi mendekat sambil tersenyum bangga. “Kamu terlihat sangat feminin. Kamu cocok banget kayak gini. Pasti mereka semua bakal terkejut dengan perubahanmu… apalagi Sitty. Dia pasti lompat kegirangan.”

 

Cindy menggigit bibir, masih ragu. “Kalau gitu… yuk, ke kantor.”

 

Begitu keduanya melangkah masuk ke kantor, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Cindy.

 

“Hei, apa aku masih mimpi?” kata Dandi sambil melongo.

 

Cindy tersenyum, menahan malu. “Kamu nggak mimpi. Ini penampilan baru aku.”

 

“Cindy… kamu cocok banget kayak gini!” seru Sitty, matanya berbinar. “OMG kamu kayak cewek dari drama Korea.”

 

Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu masuk. “Apa kita kedatangan karyawan baru? Mana Cindy? Dia belum datang?”

 

Cindy membalik badan. “Aku sudah datang, Ketua.”

 

Steven—si ketua yang juga kakaknya—terbelalak. “Apa aku nggak salah lihat? Mana celana jeans robek dan sepatu kets-mu?”

 

Cindy mengangkat dagu. “Saatnya berubah. Katanya aku harus move on, kan?”

 

Saat itu, Chen masuk terburu-buru. “Popi! Aku kan udah bilang mau jemput kamu. Kenapa pergi duluan sih?”

 

“Wait, wait… ada berita yang terlewatkan rupanya.” Dandi mengangkat alis curiga.

 

“Apa-apaan sih…” Popi pura-pura cuek, tapi wajahnya sedikit merah.

 

Suasana makin ramai saat suara cempreng khas terdengar dari pintu masuk. “Selamat pagi semuanya! Wina kembali!” teriak Wina dengan gaya lebay-nya yang khas. Ia langsung memutar-mutar badan Cindy “Wow Cindy… ini beneran kamu? Baru aku tinggal cuti sebentar, udah banyak perubahan. Coba dari awal kamu kayak gini, mungkin Jefta gak bakal pergi”

 

Cindy menegang. “Wina, stop. Jangan sebut nama dia lagi.”

 

Wina cengar-cengir, lalu melihat Chen. “Eh ada karyawan baru? Kenalan dong. Wina.”

 

“Chen.”

 

Steven bertepuk tangan. “Sudah, sudah… semua, mulai kerja.”

 

Tapi drama belum selesai.

 

“Popi, tunggu. Kamu belum jawab pertanyaan aku,” Chen menahan tangan Popi.

 

Popi menarik tangannya. “Aku udah bilang nggak usah.”

 

Semua pasang telinga. Dandi bahkan hampir tersedak kopinya.

 

“Kamu udah punya pacar?” tanya Chen, serius.

 

“Buat apa kamu nanya-nanya? Bukan urusan kamu.”

 

“Kalau aku suka kamu, gimana?”

 

Popi terdiam. Detik demi detik lewat.

 

Kemudian dia tertawa. “Gak lucu tau gak, lelucon kamu.”

 

Chen memandangnya dalam. “Aku serius. Aku gak bercanda.”

 

“Lepasin tangan aku. Aku mau kerja.”

 

πŸ“’ Hot Gossip Mode ON

 

> “Si Popi jual mahal banget ya... padahal udah ditembak Chen!”

 

“Iya, padahal dia gak cantik-cantik banget. Belagu banget yah?”

 

“Kalau aku, pasti langsung aku terima.”

 

 

 

Sitty mendekat dan melotot ke arah mereka. “Seneng ya, kalau ngegosip?”

 

“Jangan sok suci, kamu juga suka ngegosip kan?!” balas salah satu dari mereka.

 

πŸ“… Beberapa Hari Kemudian...

 

Di tengah tumpukan berkas dan deadline, Chen mendekati Popi lagi.

 

“Bagaimana jawaban atas pertanyaan aku kemarin?”

 

Popi pura-pura sibuk. “Pertanyaan apa?”

 

“Kamu mau nggak jadi pacar aku? Jawablah sekarang.”

 

Popi memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk pelan. “Hmm... iya, aku mau.”

 

Chen langsung memeluknya. Ruangan heboh.

 

“Ciee yang jadian!” teriak Sitty.

 

Popi yang malu memerah, berusaha lari tapi Chen menahan tangan dan menariknya lagi ke pelukan.

 

“You fall for me,” bisik Chen lalu mengecup dahinya.

 

“Oh Tuhan… ini sweet banget!” jerit Sitty.

 

Cindy tersenyum, tapi pandangannya kosong. Hatinya tidak ikut bahagia. Ia teringat masa lalu.

 

“Aku turut bahagia…” katanya, namun wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan sedikitpun.

 

“Bahagia? Tapi kenapa cemberut? Apa kamu pikir Chen bakal jadian sama kamu?” sindir Wina.

 

Cindy memicingkan mata. “Jangan menambah bensin dalam api.”

 

“Udah jelas kamu cemburu sama temen sendiri.”

 

“Kalian berdua ini kenapa sih?” tanya Sitty panik.

 

“Tanya aja sama temenmu ini,” sahut Wina tajam.

 

Cindy bangkit dan keluar ruangan sambil membanting pintu.

 

“Dia kenapa?” tanya Steven.

 

“Dia cemburu, Ketua!” teriak Wina bangga.

 

PLAKK!! Tamparan dari Sitty membuat semua diam.

 

“Kamu keterlaluan!”

 

Wina hendak membalas, tapi tangannya ditepis Sitty. Sitty berlari keluar menyusul Cindy.

 

“Ada apa sih sebenarnya?” tanya Popi ke Dandi yang tampak bingung.

 

“Winna, ini semua ulah kamu kan?” desak Popi.

 

“Mereka itu terlalu baper!” elak Wina.

 

Popi ikut keluar.

 

“Popi! Mau ke mana?!” seru Chen.

 

“Biarin mereka. Jangan ikut campur,” Wina menahan Chen.

 

 

---

 

πŸ’” Di Bangku Taman Kantor

 

Cindy duduk memandangi gantungan kunci yang dulu pernah direbut Jefta. Hatinya rapuh.

 

“Gara-gara gantungan kunci bodoh ini… aku bisa jatuh cinta padamu.”

 

Popi dan Sitty mengintip dari kejauhan.

 

“Mungkin dia mengingat Jefta,” bisik Popi.

 

“Tempat itu… itu kan tempat pertama dia cerita jatuh cinta.”

 

“Ayo, kita balik. Dia butuh waktu sendiri.”

 

 

---

 

🎀 Kembali ke Kantor

 

“Sebenarnya kenapa kamu tampar Wina?” tanya Popi.

 

“Wina bilang Cindy cemburu karena kamu jadian sama Chen.”

 

“Dia keterlaluan. Tapi… thank you beb.” Popi memeluk Sitty.

 

“Apa kalian berpelukan tanpa aku?!” seru Cindy dari kejauhan.

 

Tawa pecah. Mereka bertiga berpelukan.

 

“Ayo kerja Ketua bisa ngamuk nih.”

 

 

---

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Bilang Pada Lou, Aku Ingin Dia Mati
1141      657     4     
Horror
Lou harus mati. Pokoknya Lou harus mati. Kalo bisa secepatnya!! Aku benci Lou Gara-gara Lou, aku dikucilkan Gara-gara Lou, aku dianggap sampah Gara-gara Lou, aku gagal Gara-gara Lou, aku depression Gara-gara Lou, aku nyaris bunuh diri Semua gara-gara Lou. Dan... Doaku cuma satu: Aku Ingin Lou mati dengan cara mengenaskan; kelindas truk, dibacok orang, terkena peluru nyasar, ketimp...
Dramatisasi Kata Kembali
857      498     0     
Short Story
Alvin menemukan dirinya masuk dalam sebuah permainan penuh pertanyaan. Seorang wanita yang tak pernah ia kenal menemuinya di sebuah pagi dingin yang menjemukan. \"Ada dalang di balik permainan ini,\" pikirnya.
The Day That Never Comes
617      383     5     
Romance
Kayra Almira gadis yangg hidupnya penuh perjuangan setelah peristiwa kecelakaan yang mengubah segala yang ada dalam hidupnya , termasuk perubahan dari kekasihnya yang meninggalkannya setelah mengetahui iya berbeda, padahal sebelumnya semasa di SMA Kayra dan kekasihnya begitu indah asmaranya layaknya kisah kasih disekola. Selain itu akibat kecelakaan Kayra membuat papi Kayra shock parah tak bisa ...
Aku Biru dan Kamu Abu
1025      652     2     
Romance
Pertemuanku dengan Abu seperti takdir. Kehadiran lelaki bersifat hangat itu benar-benar memberikan pengaruh yang besar dalam hidupku. Dia adalah teman curhat yang baik. Dia juga suka sekali membuat pipiku bersemu merah. Namun, kenapa aku tidak boleh mencintainya? Bukannya Abu juga mencintai Biru?
Married Mr. Stranger
0      0     0     
Romance
Scarlett Hayes punya segalanyaβ€”karier cemerlang, nama besar, dan kebebasan yang tak tergoyahkan. Sampai William Donovan datang dan mengaku sebagai suaminya. Diplomat muda yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden itu menyeret Scarlett ke dalam pernikahan penuh rahasia dan aturan besi. Rahasia tentang ibunya, tentang kecelakaan yang merenggut langkah Scarlett dan tentang ambisi politik ya...
She Is Falling in Love
576      372     1     
Romance
Irene membenci lelaki yang mengelus kepalanya, memanggil nama depannya, ataupun menatapnya tapat di mata. Namun Irene lebih membenci lelaki yang mencium kelopak matanya ketika ia menangis. Namun, ketika Senan yang melakukannya, Irene tak tahu harus melarang Senan atau menyuruhnya melakukan hal itu lagi. Karena sialnya, Irene justru senang Senan melakukan hal itu padanya.
Man in a Green Hoodie
5951      1867     7     
Romance
Kirana, seorang gadis SMA yang supel dan ceria, telah memiliki jalan hidup yang terencana dengan matang, bahkan dari sejak ia baru dilahirkan ke dunia. Siapa yang menyangka, pertemuan singkat dan tak terduga dirinya dengan Dirga di taman sebuah rumah sakit, membuat dirinya berani untuk melangkah dan memilih jalan yang baru. Sanggupkah Kirana bertahan dengan pilihannya? Atau menyerah dan kem...
Di Paksa Nikah
984      557     0     
Romance
Jafis. Sang Putra Mahkota royal family Leonando. Paras tampan nan rupawan. Pebisnis muda terkemuka. Incaran emak-emak sosialita untuk menjadi menantunya. Hingga jutaan kaum hawa mendambakannya untuk menjadi pendamping hidup. Mereka akan menggoda saat ada kesempatan. Sayangnya. Sang putra mahkota berdarah dingin. Mulut bak belati. Setiap ada keinginan harus segera dituruti. Tak bisa tunggu at...
Rain, Coffee, and You
655      485     3     
Short Story
β€œKakak sih enak, sudah dewasa, bebas mau melakukan apa saja.” Benarkah? Alih-alih merasa bebas, Karina Juniar justru merasa dikenalkan pada tanggung jawab atas segala tindakannya. Ia juga mulai memikirkan masalah-masalah yang dulunya hanya diketahui para orangtua. Dan ketika semuanya terasa berat ia pikul sendiri, hal terkecil yang ia inginkan hanyalah seseorang yang hadir dan menanyaka...
Jalan Tuhan
660      491     3     
Short Story
Percayalah kalau Tuhan selalu memberi jalan terbaik untuk kita jejaki. Aku Fiona Darmawan, biasa dipanggil fia, mahasiswi kedokteran di salah satu universitas terkemuka. Dan dia, lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan atletis adalah Ray, pacar yang terkadang menjengkelkan, dia selalu menyuruhku untuk menonton dirinya bermain futsal padahal dia tahu, aku sangat tidak suka menonton sepak bola ata...