Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Flashback

SENJA DI DEPAN KANTOR

 

Langit mulai jingga. Jefta berdiri sendiri di lobi kantor, pandangannya kosong menatap trotoar seberang jalan. Di dalam kepalanya, masih terputar dua momen hari itu—video dari Wina tentang Cindy dan Steven, serta pengakuan Cindy sendiri di Kantin.

 

Angin sore menerpa wajahnya. Suara mesin kopi di belakangnya terdengar samar, seperti kenangan yang enggan hilang.

 

"Mungkin aku memang gak pernah cukup berani. Dan kalau keberanian itu terlambat, lebih baik aku mundur... sebelum semuanya makin rusak." Gumam dalam hatinya

 

Ia menatap ponselnya. Pesan dari HRD tentang kesempatan mutasi ke kantor pusat masih terbuka.

 

JEFTA (mengetik pelan)

Saya terima penempatan baru ke Berlin, efektif mulai bulan depan.

 

Jari-jarinya bergetar sedikit saat menekan tombol "Kirim".

Flashback end.. 

... 

Pagi itu, suasana kantor tak seperti biasanya.

Bukan karena tumpukan kerjaan, bukan pula karena listrik mati—melainkan karena bisik-bisik yang mulai menyebar ke segala penjuru ruangan.

 

> “Katanya Jefta resign gara-gara Cindy, loh.”

“Serius? Bukannya mereka pacaran ya?”

“Aku juga kira gitu, soalnya mereka keliatan deket banget kemarin-kemarin.”

“gak nyangka ya, dia lebih memilih Steven…”

"Matre ternyata"

 

 

 

Cindy duduk di meja kerjanya, menatap layar monitor yang tak berubah dari tadi. Tangannya gemetar menggenggam mouse, namun wajahnya tetap mencoba tersenyum.

 

“Dengar... dengar tuh,” gumam Popi sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja Cindy. “Ada gossip baru lagi soal kamu.”

 

“Gossip atau fitnah?” tukas Sitty, duduk di sebelah Cindy. “Orang-orang ini gak tahu apa-apa tapi hobinya menyebar api.”

 

Cindy menarik napas dalam. Matanya menatap ke arah sekelompok orang yang tadi bergosip, lalu kembali ke layar komputer yang kini terasa kosong.

 

 

Cindy tersenyum kecut. “Aku gak menyangka. Aku kira dia cuma teman kerja yang cerewet, ternyata juga ahli menyebar luka.”

 

“Kamu gak bisa diam aja, Cin,” kata Sitty. “Fitnah kayak gini bisa ngaruh ke nama baikmu.”

 

“Dan ke kariermu juga,” tambah Popi.

 

Cindy meneguk sisa air putih di gelasnya. “Bilang apa dia ke Jefta waktu itu ya?”

 

“Entahlah, tapi sejak itu Jefta langsung berubah,” kata Sitty, mengernyit.

 

“Sudah pasti dia ngomong yang tidak-tidak soal kamu dan ketua.” tebak Popi.

 

“Tapi sudahlah. Aku gak akan buang waktuku untuk menyikapi gosip. Toh yang pergi, sudah pergi. Yang menyebar luka, biar hidupnya yang merasakannya kelak.”

 

Sitty menatap Cindy dengan sorot prihatin. “Kamu kuat banget, Cin.”

 

“Enggak, aku cuma belajar. Kadang cinta nggak butuh penjelasan. Tapi kehilangan mengajari kita menerima, meski tanpa pamit.”

 

Popi menggenggam tangan Cindy. “Semoga kamu dapat yang jauh lebih baik, ya. Kamu udah 2x loh kecewa gini. "

 

Sitty mendekat dan memeluk Cindy

 

Cindy mengangguk. “Hari ini aku belajar, bahwa tak semua yang datang untuk membuat bahagia, akan tinggal. Ada yang hanya mampir, memberi warna... lalu pergi, meninggalkan jejak yang tak pernah bisa dihapus.”

 

 

---

 

[Beberapa minggu kemudian]

 

Suatu siang, ia menerima sebuah amplop coklat tanpa nama. Di dalamnya, hanya ada satu lembar kertas bertuliskan tangan:

 

> "Maaf karena aku tak pernah mengutarakan apa-apa.

Saat kau mengira kita sedang menuju sesuatu, aku justru sedang kehilangan segalanya.

Aku hanya berani menunjukkan rasa, tapi tak sanggup menyebutnya cinta."

 

 

 

Cindy menggenggam gelang di tangannya dengan erat, menahan air mata yang menggenang.

 

“Selamat tinggal, Jefta,” bisiknya.

 

Lalu ia tersenyum. Bukan karena sudah melupakan, tapi karena sudah ikhlas.

 

 

---

kantor kembali sibuk seperti biasa.

Tiba-tiba pintu utama terbuka dan seorang cowok berwajah tampan, tinggi dengan kemeja putih bersih masuk ke dalam ruangan sambil membawa map.

 

“Selamat pagi semua, maaf... aku harus duduk di mana, ya?” tanyanya sopan, namun membuat beberapa orang menoleh penasaran.

 

“Oh, kamu Chen ya?” Cindy berdiri dari kursinya, tersenyum ramah.

 

“Iya, saya Chen. Karyawan magang baru. Ehm... saya agak bingung di mana saya bisa duduk?”

 

Cindy menunjuk ke sebuah meja kosong di dekat jendela. “Kamu bisa duduk di sana. Itu tempat yang kosong setelah... seseorang resign.”

 

Chen mengangguk sopan. “Terima kasih, Mbak.”

 

Cindy lalu berdiri dan menepuk tangan. “Oke teman-teman, perkenalkan, ini Chen. Dia akan menggantikan posisi rekan kita yang sudah resign minggu lalu. Mohon kerja samanya, ya.”

 

Chen sedikit membungkuk. “Mohon bimbingannya semua!”

 

Beberapa karyawan menyambutnya hangat, beberapa lainnya hanya melirik sekilas lalu kembali ke pekerjaannya. Tak lama kemudian, suara langkah berat dan aroma parfum kuat khas kantor terdengar mendekat.

 

“Chen sudah datang?” tanya Steven, dengan suara keras dan gaya percaya diri berlebihan.

 

“Sudah, dia duduk di sana,” tunjuk Popi dengan dagunya.

 

Chen segera berdiri dan menjulurkan tangan. “Selamat pagi, Pak. Saya Chen, karyawan magang baru.”

 

Steven tidak menjabat tangannya, hanya tersenyum sinis. “Panggil saya Ketua, bukan Pak. Kalau kamu mau awet di sini.”

 

Chen terkekeh canggung. “Baik, Ketua.”

 

“Popi, kamu yang awasi dia ya. Tunjukkan pekerjaan dan prosedur tim.” ujar Steven sambil menunjuk ke arah Popi.

 

Popi menjawab dengan malas, “Siap, Ketua,” lalu mengangkat jempol setengah hati.

 

Setelah itu, Steven berjalan perlahan menuju meja Cindy. Ia menunduk sedikit dan berbisik sinis, “Tolong jangan bikin dia resign lagi, ya.”

 

Cindy menoleh tajam. “Apa maksud kamu? "

 

Steven terkekeh. “Dia bukan buat kamu, Cin.”

 

“Hei!” Cindy berdiri setengah badan. “Kamu ngatain aku barusan?”

 

Steven hanya melambai tangan dan berlalu sambil berteriak, “Semangat, Cindy! Move on, ya! Bukan dia orangnya!”

 

Cindy mengepalkan kertas catatan dan melemparkannya ke arah Steven, mengenai punggungnya dengan sempurna.

 

 

Chen, yang bingung dengan situasi itu, membisik ke Popi, “Eh, tadi itu lucu ya? Sebelumnya ada drama apa sih?”

 

Popi mendesis tanpa menoleh, “Bukan urusan kamu.”

 

Chen terkejut. “Nanya doang, jutek amat, Tante.”

 

Popi langsung menoleh tajam. “Apa kamu bilang? Tante?! Sejak kapan aku nikah sama Om kamu, hah?”

 

“Tante cerewet,” jawab Chen sambil cengengesan, lalu merapikan rambutnya.

 

Popi menghantamkan map ke kepalanya. “Rasakan itu, bocah nyebelin!”

 

“Hahaha, tante marah,” ejek Chen, tidak kapok.

 

Popi mendengus dan berjalan pergi. “Kenapa sih semua karyawan baru suka banget manggil aku tante?!”

 

Chen mengangkat tangan. “Eh, tante—eh, Mbak, password komputernya belum dikasih tau!”

 

“Cari aja sendiri! Cerdas dikit napa!” Popi menjulurkan lidah lalu kembali ke mejanya.

 

Chen mengeluh. “Serius? Baru hari pertama udah begini…”

 

Ia pun beralih ke Sitty yang duduk tak jauh dari sana. “Mbak, tolong bantu dong. Bisa bukain password-nya?”

 

Sitty mencoba mengetik sesuatu, tapi komputer menolak masuk. “Cin! Tolong dong, ini password-nya apa?”

 

Cindy menghampiri dan mengetik cepat. Komputer langsung menyala.

 

“Password-nya tanggal lahir jay chou. Nanti kamu ganti sendiri ya, Chen.”

 

Chen melongo. “Tanggal lahir jay chou?”

 

Cindy tak menjawab.. 

 

“Ehm...siapa jay chou?”

 

“Ya googling kalo gak tahu,” jawab Sitty sambil mengetik laporan.

 

Chen mengangguk pelan. “Huft… wanita-wanita di kantor ini kenapa ya, semua punya aura misteri.”

 

“Masalahnya kamu kurang sopan,” gumam Sitty.

 

“Gitu ya? Ya udah deh, makasih infonya. Eh… Mbak Cindy, maaf tanya lagi. Aku harus mulai kerja dari mana ya? Temanmu itu kayaknya ogah ngajarin aku…”

 

Cindy mengangguk ke arah Popi. “Popi, tolong dong. Kamu kan ditunjuk langsung sama Ketua.”

 

Popi melipat tangan. “Huh, malas banget. Baru juga datang udah bikin emosi.”

 

Chen menangkup tangan ke depan dada. “Maaf, Pipo…”

 

Popi menatapnya tajam. “Siapa Pipo?!”

 

“Maksudnya Popi…”

 

Cindy menahan tawa. “Popi, ayo dong… kasihan dia. Biar gak resign juga seperti sebelumnya.”

 

Akhirnya, Popi menghela napas panjang. “Yaudah. Sini kamu, bocah tengil. Dengerin baik-baik, ini kerjaan yang harus kamu tangani…”

 

 

---

 

Siang Hari, di Pantry

 

Chen sedang membuat kopi saat Cindy masuk mengambil air mineral. Mereka sama-sama diam sejenak.

 

“Eh, mba Cindy,” Chen membuka pembicaraan. “Komputermu… aku liat ada folder yang namanya ‘J’.”

 

Cindy terdiam, lalu tersenyum samar. “J itu… Jefta. Oh iya panggil Cindy aja ya kita seumuran"

 

“Orang yang hilang tanpa bilang itu ya?” Chen menatap Cindy. “Kayaknya semua orang masih membicarakan dia.”

 

“Biarin aja,” Cindy membalas ringan, tapi ada kesedihan di matanya.

 

“Dia pacarmu?” tanya Chen polos.

 

Cindy tersenyum, tapi matanya tak seceria tadi. “Nggak. Kami cuma… pernah dekat.”

 

Chen mengangguk pelan. “Kalau gitu... kamu belum benar-benar move on, ya?”

 

Cindy menatapnya dalam-dalam. “Kamu suka mengorek masa lalu orang ya?”

 

Chen terkekeh. “Bukan. Aku cuma pengamat yang baik.”

 

Cindy tertawa kecil. “Kalau gitu, jangan lupa kerjanya juga yang baik.”

 

“Siap, Bos!”

 

 

---

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
KILLOVE
4944      1481     0     
Action
Karena hutang yang menumpuk dari mendiang ayahnya dan demi kehidupan ibu dan adik perempuannya, ia rela menjadi mainan dari seorang mafia gila. 2 tahun yang telah ia lewati bagai neraka baginya, satu-satunya harapan ia untuk terus hidup adalah keluarganya. Berpikir bahwa ibu dan adiknya selamat dan menjalani hidup dengan baik dan bahagia, hanya menemukan bahwa selama ini semua penderitaannya l...
Faith Sisters
3343      1566     4     
Inspirational
Kehilangan Tumbuh Percaya Faith Sisters berisi dua belas cerpen yang mengiringi sepasang muslimah kembar Erica dan Elysa menuju kedewasaan Mereka memulai hijrah dari titik yang berbeda tapi sebagaimana setiap orang yang mengaku beriman mereka pasti mendapatkan ujian Kisahkisah yang relatable bagi muslimah muda tentang cinta prinsip hidup dan persahabatan
Sanguine
5833      1756     2     
Romance
Karala Wijaya merupakan siswi populer di sekolahnya. Ia memiliki semua hal yang diinginkan oleh setiap gadis di dunia. Terlahir dari keluarga kaya, menjadi vokalis band sekolah, memiliki banyak teman, serta pacar tampan incaran para gadis-gadis di sekolah. Ada satu hal yang sangat disukainya, she love being a popular. Bagi Lala, tidak ada yang lebih penting daripada menjadi pusat perhatian. Namun...
Edelweiss: The One That Stays
2495      994     1     
Mystery
Seperti mimpi buruk, Aura mendadak dihadapkan dengan kepala sekolah dan seorang detektif bodoh yang menginterogasinya sebagai saksi akan misteri kematian guru baru di sekolah mereka. Apa pasalnya? Gadis itu terekam berada di tempat kejadian perkara persis ketika guru itu tewas. Penyelidikan dimulai. Sesuai pernyataan Aura yang mengatakan adanya saksi baru, Reza Aldebra, mereka mencari keberada...
Kisah Alya
349      244     0     
Romance
Cinta itu ada. Cinta itu rasa. Di antara kita semua, pasti pernah jatuh cinta. Mencintai tak berarti romansa dalam pernikahan semata. Mencintai juga berarti kasih sayang pada orang tua, saudara, guru, bahkan sahabat. Adalah Alya, yang mencintai sahabatnya, Tya, karena Allah. Meski Tya tampak belum menerima akan perasaannya itu, juga konflik yang membuat mereka renggang. Sebab di dunia sekaran...
SOLITUDE
1819      723     2     
Mystery
Lelaki tampan, atau gentleman? Cecilia tidak pernah menyangka keduanya menyimpan rahasia dibalik koma lima tahunnya. Siapa yang harus Cecilia percaya?
"Mereka" adalah Sebelah Sayap
485      342     1     
Short Story
Cinta adalah bahasan yang sangat luas dan kompleks, apakah itu pula yang menyebabkan sangat sulit untuk menemukanmu ? Tidak kah sekali saja kau berpihak kepadaku ?
Kenzo Arashi
1996      747     6     
Inspirational
Sesuai kesepakatannya dengan kedua orang tua, Tania Bowie diizinkan melakukan apa saja untuk menguji keseriusan dan ketulusan lelaki yang hendak dijodohkan dengannya. Mengikuti saran salah satu temannya, Tania memilih bersandiwara dengan berpura-pura lumpuh. Namun alih-alih dapat membatalkan perjodohannya dan menyingkirkan Kenzo Arashi yang dianggapnya sebagai penghalang hubungannya dengan Ma...
Ikhlas Berbuah Cinta
2102      1121     0     
Inspirational
Nadhira As-Syifah, dengan segala kekurangan membuatnya diberlakukan berbeda di keluarganya sendiri, ayah dan ibunya yang tidak pernah ada di pihaknya, sering 'dipaksa' mengalah demi adiknya Mawar Rainy dalam hal apa saja, hal itu membuat Mawar seolah punya jalan pintas untuk merebut semuanya dari Nadhira. Nadhira sudah senantiasa bersabar, positif thinking dan selalu yakin akan ada hikmah dibal...
LINN
13898      2103     2     
Romance
“Mungkin benar adanya kita disatukan oleh emosi, senjata dan darah. Tapi karena itulah aku sadar jika aku benar-benar mencintaimu? Aku tidak menyesakarena kita harus dipertemukan tapi aku menyesal kenapa kita pernah besama. Meski begitu, kenangan itu menjadi senjata ampuh untuk banggkit” Sara menyakinkan hatinya. Sara merasa terpuruk karena Adrin harus memilih Tahtanya. Padahal ia rela unt...