Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Beberapa hari Kemudian...

 

Siang itu langit begitu cerah. Matahari bersinar terik, tapi angin sepoi-sepoi membuat suasana jadi nyaman. Jalanan mulai ramai. Akhir pekan tiba, dan para pekerja kantor berhamburan pulang—tak terkecuali Cindy.

 

Di lorong kosan, Popi mendekatinya dengan semangat.

 

“Beb, kemarin aku ke mall dan lihat ini!” Popi membuka tangannya, memperlihatkan sebuah gantungan kunci Winnie the Pooh yang lucu sekali.

 

“Wah manisnya!” Cindy memandang gemas.

 

“Aku beli tiga, buat aku, kamu, dan Sitty. Yang Pooh ini buat kamu ya.”

 

“Makasih beb.” Cindy mencubit pipi Popi. “Kamu sahabat yang paling perhatian.”

 

Tiba-tiba...

 

“Gantungan kuncinya buat aku ya!” Jefta muncul entah dari mana, langsung meraih gantungan kunci dari tangan Cindy dan berlari.

 

“Jefta! Tunggu! Balikin itu!” Cindy spontan mengejarnya. “Hei, berhenti!”

 

“Coba ambil kalau bisa,” sahut Jefta sambil mengangkat tinggi tangannya, melambai-lambaikannya penuh provokasi.

 

Cindy melompat-lompat mencoba meraihnya, tapi tak berhasil. “Ayolah, itu punyaku!”

 

“Kalau kamu gak bisa ambil, ini jadi milikku,” kata Jefta, masih menggoda.

 

Cindy mencoba meraih sekali lagi, tapi kehilangan keseimbangan. Tepat saat ia hampir jatuh, Jefta reflek menangkap tangannya—dan mereka berdua jatuh bersamaan ke atas tanah berumput di halaman kos.

 

Jefta berada di atas tubuh Cindy. Posisi canggung. Dekat sekali.

 

Angin sore bertiup ringan, dan selama beberapa detik, waktu seolah berhenti.

 

Mereka saling menatap. Mata Cindy membesar, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tatapan Jefta... tak seperti biasanya.

 

“Hei... berdiri, Kamu berat tahu!” seru Cindy cepat-cepat mengalihkan pandangan.

 

Jefta tertawa kecil. “Wajahmu merah kayak kepiting.” Ia berdiri lalu menarik tangan Cindy berdiri juga.

 

“Apa wajahku semerah itu?” batin Cindy panik. Ia hanya bisa memandangi Jefta yang sudah memutar-mutar gantungan kunci itu di jarinya.

 

“Karena kamu gagal rebut ini... ya sudah, resmi jadi milikku.” Jefta tersenyum licik lalu pergi perlahan sambil memainkan gantungan kunci itu seolah piala kemenangannya.

 

“Cindy!” teriak Popi dari kejauhan, berlari kecil ke arahnya.

 

“Apa wajahku merah kayak kepiting?” tanya Cindy gugup.

 

Popi tertawa keras. “Aku lihat kejadian tadi. Serius, itu kayak adegan sinetron tadi malam. Romantis tapi malu-maluin. Dan... iya, wajahmu merah banget.”

 

Popi menyodorkan cermin. Cindy melihat bayangannya sendiri.

 

“Ya ampun, aku malu sekali,” gumamnya.

 

“Udahlah, gak usah dipikirin. Gantungan kunci itu bisa kita beli lagi.”

 

“Tapi itu lucu banget... dan cocok sama warna kamarku,” kata Cindy setengah sedih.

 

“Nanti kita cari lagi. Masih banyak. Ayo pulang, bajumu juga kotor banget tuh.” Popi membersihkan punggung Cindy dengan tisu sambil nyengir lebar.

 

 

---

 

Sejak kejadian hari itu, hati Cindy tak lagi tenang. Ada sesuatu yang berbeda. Tiap kali teringat posisi mereka terjatuh bersama, atau suara Jefta yang menggoda, atau sentuhan singkat tangan mereka—senyumnya muncul begitu saja.

 

Dan sejak hari itu, gantungan kunci Winnie the Pooh tak pernah kembali padanya.

 

Tapi... entah kenapa, Cindy tidak terlalu keberatan.

 

Hari Senin datang lagi.

Kesibukan kantor seperti biasa langsung memanas sejak pagi. Suara keyboard bersahut-sahutan, mesin fotokopi tidak berhenti bekerja, dan aroma kopi dari pantry menguar ke segala sudut ruangan.

 

“Cindy, selesaikan berkas-berkas ini secepatnya. Sebelum makan siang, semuanya harus sudah ada di meja saya.”

Suara Steven, terdengar tegas seperti biasa.

 

“Siap, Ketua.” Cindy mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa panik yang tiba-tiba muncul melihat setumpuk berkas.

 

“Bagus.” Steven berlalu dan masuk ke ruangannya.

 

Baru saja Cindy ingin fokus membuka email, terdengar suara dari belakangnya—nada santai tapi menyebalkan.

 

“Hei, Kepiting. Ini gantungan kunci kamu.”

Jefta muncul sambil mengayun-ayunkan gantungan kunci Winnie the Pooh di depan wajah Cindy.

 

“Jefta, jangan ganggu aku. Ambil saja itu buat kamu. Anggap aja hadiah karena kamu nggak mampu beli sendiri.” Cindy menjawab dengan nada setengah kesal.

 

“Wah, jadi kamu marah, ya?” Jefta menatap Cindy dengan senyum licik khasnya.

 

“Please, aku lagi banyak kerjaan. Jangan ganggu.”

 

“Datang bulan, ya?” godanya tanpa dosa.

 

“Ehem!” Suara Steven tiba-tiba terdengar. “Jefta, kamu nggak ada kerjaan? Kembali ke mejamu sekarang. Jangan buat onar pagi-pagi.”

 

“Syukurin.” bisik Cindy pelan.

 

Jefta mengangkat bahu dan meletakkan gantungan kunci itu di meja Cindy, lalu berjalan pergi. Cindy sempat melirik gantungan itu sebentar, lalu tersenyum tanpa sadar.

 

“ehm ehm senyum-senyum sendiri. Ada apa?” Sitty duduk di sebelahnya sambil menyeruput teh kotak.

 

“Gak ada apa-apa kok.” Cindy menunduk cepat-cepat, menyembunyikan rona merah di pipinya.

 

“Pasti dia keinget kejadian Sabtu tuh.” Popi muncul dari belakang, ikut nyengir.

 

“Emang ada kejadian apa?” tanya Sitty, penasaran.

 

Popi dan Sitty langsung saling sikut, berbisik dan cekikikan.

 

“Hei, kalian berdua! Ini kantor, bukan tempat gosip.” suara Steven memotong suasana. “Cindy, pekerjaannya udah selesai?”

 

“Hampir. Tinggal input beberapa data.”

 

“Popi, ambil alih. Cindy, kamu pergi beli beberapa keperluan kantor. Dandy akan temani.”

 

“Maaf, Ketua, kerjaan saya lagi tanggung. Mungkin Jefta bisa?” sahut Dandy dari meja sebelah.

 

Steven mengangguk. “Panggil dia ke sini.”

 

“Aku gak mau jalan sama dia!” seru Cindy spontan.

 

“Apa aku harus temani kamu sendiri?” kata Steven, nada suaranya mulai naik.

 

“Iya Maaf... Maaf...” seperti mengejek.. 

Tak ada pilihan.

 

Tak lama, Jefta muncul dan tanpa banyak bicara, langsung menarik tangan Cindy.

 

“Ayo kita pergi.”

 

“Hei! Apa kalian tahu daftar yang harus dibeli?! Ini kertasnya!” teriak Steven sambil mengangkat secarik kertas.

 

Jefta dengan santai balik badan, mengambil kertas itu. “Kartu ATM-nya juga, Ketua.”

 

Steven menghela napas panjang, lalu melemparkan kartu itu. “Cepat kembali sebelum jam dua.”

 

Cindy melangkah tergesa, masih setengah dipaksa. “Bisa lepasin tanganku?”

 

“Enggak. Kamu jalan kayak siput. Nanti Ketua marah kalau kita telat.”

 

Mereka sampai di parkiran. Cindy mengeluh sambil menarik napas panjang. “Untung aku pakai sepatu kets. Coba kalau heels, pasti sudah patah.”

 

Jefta tertawa. “Seumur aku kerja bareng kamu, gak pernah sekalipun lihat kamu tampil feminim.”

 

Cindy melengos. “Coba aku lihat daftar belanjaan... Ini bukan keperluan kantor. Ada lilin ulang tahun, balon...”

 

Dia langsung menelepon Steven.

 

“Hallo, Ketua. Ini kayaknya daftar belanja yang salah deh. Ini buat pesta ulang tahun?”

 

“Itu untuk surprise party Bu Ati. Hari ini dia ulang tahun. Jangan banyak tanya. Laksanakan saja.”

 

Telepon ditutup. Cindy mengembuskan napas.

 

Dalam hati, dia mulai merasakan sesuatu. Ada rasa aneh tiap kali bersama Jefta.

 

“Hei, kamu ngelamun. Pasti lamunin aku, ya?” Jefta menoleh dan nyengir.

 

“Kenapa dia bisa tahu? Apa dia bisa baca pikiranku?” gumam Cindy dalam hati, panik.

 

“Enak aja!”

 

“Enak? Kamu lagi mikirin makanan ya? Laper?” Jefta malah makin nyambung-nyambungin.

 

Cindy mendengus. “Kamu tuh selalu gangguin aku. Bisa gak sih berhenti?”

 

“Aku cuma pengen kita makin deket...” jawab Jefta, kalem—kali ini tanpa senyum mengejek.

 

Cindy menatap Jefta sebentar, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Dalam hati, ia berdebar.

 

“Kenapa aku gak bisa secerewet biasanya pas sama dia?”

 

“Kamu kok diem? Tumben gak nyolot.” goda Jefta.

 

“Dia beneran bisa baca pikiranku!”

 

“Kapan kamu jalanin mobilnya? Bisa telat nih.” Cindy pura-pura mengalihkan fokus.

 

“Ini kita udah sampai dari tadi. Kamu aja dari tadi melamun. Jadi siapa yang salah?”

 

“Ha? Udah sampai? Ya ampun, mungkin aku tidur sambil buka mata.”

 

Jefta ngakak. “Ayo masuk. Sebelum semuanya terlambat.”

 

 

---

Persiapan Menuju Kejutan

 

Mobil berhenti di depan toko perlengkapan pesta. Langit siang itu agak mendung, tapi suasana hati Cindy justru sebaliknya—entah kenapa, sejak di mobil bersama Jefta, jantungnya seolah main drum.

 

“Bawa keranjang, ya. Biar kamu punya alasan buat dorong aku kalau aku nyebelin,” kata Jefta sambil menyodorkan keranjang belanja.

 

“Kalau aku dorong kamu beneran ke rak, jangan salahin aku,” sahut Cindy, pura-pura galak.

 

Mereka menyusuri lorong-lorong toko. Lilin ulang tahun, balon, pita-pita warna-warni, kertas kado, dan topi kerucut masuk satu per satu ke keranjang.

 

> “Warna lilinnya ungu. Favorit Bu Ati, kan?” tanya Jefta sambil menimbang dua bungkus lilin.

 

 

 

> “Iya. Kamu ingat?”

 

 

 

> “Tentu. Bu Ati itu favorit semua orang. Termasuk aku, waktu aku hampir dipecat gegara ngantuk di meja meeting—beliau yang belain.”

 

Ada jeda. Suasana tiba-tiba melunak.

 

> “Waktu kamu marah-marah terus ke aku” ujar Jefta sambil mengambil pita, “Aku pikir kamu tipe orang yang gak bisa diajak kerjasama.”

 

 

 

> “siapa coba yang bikin aku kesel? Kamu kan?” balas Cindy, menaikkan satu alis.

 

 

 

> “aku suka liat kamu kesal dan marah-marah.” sambil tertawa jahil

 

 

 

Cindy mendelik. Tapi wajahnya memerah.

 

> “Mau aku bantu pilihin kado buat Bu Ati?” tanya Jefta, mengalihkan suasana.

 

 

 

> “Enggak usah. Nanti malah kamu pilih hadiah yang kamu suka, bukan Bu Ati.”

 

 

 

> “Wah, ketahuan. Aku tadi mau beliin voucher pijat juga buat aku... eh, maksudnya buat Bu Ati.”

 

 

 

 

---

 

H-1 Jam: Eksekusi Diam-Diam

 

Setelah belanjaan lengkap, mereka kembali ke kantor dengan langkah cepat. Di ruang belakang, Popi, Sitty, dan Dandy sudah menunggu sambil membuka kardus dan menggunting pita.

 

> “Lama banget kalian. Udah mau jam dua!” bisik Popi panik.

 

 

 

> “Kita gak bisa mulai sebelum Steven keluarin Bu Ati dari ruangan!” tambah Sitty.

 

 

 

> “Aku udah siapkan playlist lagu favorit Bu Ati,” kata Dandy sambil menyambungkan speaker mini ke laptopnya. “Begitu dia masuk—boom, lagu nostalgia!”

 

 

 

Semua bergerak cepat. Cindy memimpin tim dekorasi balon, Jefta bantu tiup (dan gagal karena satu balon meletus di wajahnya), Popi menyiapkan kue, dan Dandy mulai latihan pengalihan perhatian—konon dia akan mengajak Bu Ati pura-pura ikut diskusi soal inventaris lama.

 

> “Ssst! Dia keluar!” bisik Sitty dari balik pintu kaca.

 

 

 

Semua buru-buru sembunyi. Lampu dimatikan.

 

Langkah Bu Ati terdengar makin dekat. Pintu terbuka pelan...

 

> “Kenapa gelap—”

 

 

 

> “SURPRISE!!!”

 

 

 

Balon terbang, pita berjatuhan dari atas rak. Lagu lawas dari tahun 80-an mengalun hangat. Kue dengan lilin ungu menyala di tengah ruangan, dan semua orang berseru-seru sambil bertepuk tangan.

 

> “YA AMPUN! Ini semua... buat saya?”

 

 

 

Bu Ati berdiri terpaku. Matanya berkaca-kaca.

 

> “Selamat ulang tahun, Bu Ati!” sahut semua serempak.

 

 

 

Steven muncul dengan senyum kaku tapi tulus. “Ibu, kantor ini gak akan bisa berdiri tanpa ketelatenan dan kehangatan Ibu. Terima kasih untuk semua pengabdian selama ini.”

 

> “Aduh, saya sampai gemetar. Terima kasih… semuanya. Saya benar-benar gak nyangka,” jawab Bu Ati, terbata.

 

 

 

Cindy maju pelan, membawa hadiah yang sudah dibungkus rapi dengan pita ungu.

 

> “Dari kami semua, Bu. Terima kasih sudah jadi ibu kedua di kantor.”

 

 

 

Bu Ati memeluk Cindy erat. Tangis kecil pecah di ruangan itu—tangis bahagia yang menulari senyum semua orang.

 

 

---

 

Di Ujung Hari

 

Saat pesta mulai mereda, kue sudah setengah habis, dan balon beberapa sudah kempis, Cindy berdiri di pojok ruangan, menatap lilin yang masih menyala di atas kue sisa.

 

Jefta mendekat, membawa dua gelas teh manis dingin.

 

> “Hari ini sukses ya, Ketua Lapangan.”

 

 

 

> “Heh. Aku cuma bantu sedikit.”

 

 

 

> “Sedikit bisa berarti banyak kalau dilakukan sepenuh hati,” kata Jefta sambil menyodorkan satu gelas.

 

 

 

Mereka minum berdua dalam diam.

 

> “Tadi pas Ibu Ati nangis... aku juga pengin nangis,” ujar Cindy pelan.

 

 

 

> “Sama,” jawab Jefta. “Tapi kamu jangan dulu nangis. Nanti maskaramu luntur. Dan itu bisa jadi momen viral.”

 

 

 

Cindy tertawa kecil, menepuk bahunya.

 

> “Aneh ya, hari ini kayaknya biasa aja. Tapi… hatiku hangat.”

 

 

 

> “Mungkin karena kamu gak sendiri. Kita semua di sini.”

 

 

 

Cindy menatap Jefta sebentar. Ada jeda. Hening yang nyaman.

 

> “Iya. Mungkin karena itu.”

 

 

 

Dan entah sejak kapan, pandangan mereka mulai terasa... berbeda.

 

 

Semakin Hari Semakin Dekat

 

Semakin hari, Cindy dan Jefta semakin dekat—lebih dekat dari sekadar sahabat. Hubungan mereka tumbuh begitu saja, tanpa batasan yang jelas, seperti tanaman liar yang subur karena hujan perhatian dan sinar hangat kebersamaan.

 

Suatu siang, Cindy muncul di depan meja kerja Jefta dengan membawa sekotak nasi goreng.

“Aku bawain kamu makan siang,” katanya sambil menyodorkan kotak putih berembun itu.

 

Jefta menatap kotak itu lalu menatap Cindy. Senyum jahilnya muncul.

“Wah, kamu masak khusus buat aku? Hmm… pasti rasanya nggak enak. Kamu kan nggak bisa masak!” ejeknya sambil tertawa.

 

Cindy menjentik kening Jefta pelan. “Ngapain juga aku repot-repot masak buat kamu. Itu dari Popi. Dia bagi ke aku dan Sitty. Jangan GR!”

 

“Ah, aku kira buatan kamu,” gumam Jefta sambil membuka kotak makan. “Lagian kenapa kamu kasih ke aku? Kamu nggak makan?”

 

“Dengan lihat kamu makan aja, aku udah kenyang.” Cindy berusaha terdengar cuek, padahal kenyataannya, ia menyukai cara Jefta tertawa, cara ia mengangkat alis ketika mengejeknya.

 

“Mana bisa kenyang cuma lihat aku makan. Nih, ayo buka mulutmu. Aku suapin,” Jefta menyodorkan satu sendok nasi goreng ke arah Cindy.

 

Cindy tertawa. “Nanti kamu nggak kenyang kalau dibagi dua. Kamu rese kalau lagi lapar.”

 

Namun sebelum ia menolak lebih lanjut, sendok itu sudah menyentuh bibirnya. Jefta menyuapinya tanpa ragu.

“Kamu juga rese kalau lagi lapar,” ucap Jefta.

 

Cindy diam. Degup jantungnya tak karuan.

 Sudah lima bulan mereka dekat. Lima bulan sejak Jefta mengirim SMS dengan kalimat, “Aku suka kamu.” Dan ia membalas, “Aku juga suka kamu.” Tapi sejak saat itu... tidak ada kelanjutan.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Not Alone
702      421     3     
Short Story
Mereka bilang rumah baruku sangat menyeramkan, seperti ada yang memantau setiap pergerakan. Padahal yang ku tahu aku hanya tinggal seorang diri. Semua terlihat biasa di mataku, namun pandanganku berubah setelah melihat dia. "seseorang yang tinggal bersamaku."
Kenangan
755      499     2     
Short Story
Nice dreaming
Until The Last Second Before Your Death
581      434     4     
Short Story
“Nia, meskipun kau tidak mengatakannya, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Karena bagiku, meninggalkanmu hanya akan membuatku menyesal nantinya, dan aku tidak ingin membawa penyesalan itu hingga sepuluh tahun mendatang, bahkan hingga detik terakhir sebelum kematianku tiba.”
Bisakah Kita Bersatu?
720      436     5     
Short Story
Siapa bilang perjodohan selalu menguntungkan pihak orangtua? Kali ini, tidak hanya pihak orangtua tetapi termasuk sang calon pengantin pria juga sangat merasa diuntungkan dengan rencana pernikahan ini. Terlebih, sang calon pengantin wanita juga menyetujui pernikahan ini dan berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalani pernikahannya kelak. Seiring berjalannya waktu, tak terasa hari ...
Praha
368      243     1     
Short Story
Praha lahir di antara badai dan di sepertiga malam. Malam itu saat dingin menelusup ke tengkuk orang-orang di jalan-jalan sepi, termasuk bapak dan terutama ibunya yang mengejan, Praha lahir di rumah sakit kecil tengah hutan, supranatural, dan misteri.
Untuk Navi
1287      735     2     
Romance
Ada sesuatu yang tidak pernah Navi dapatkan selain dari Raga. Dan ada banyak hal yang Raga dapatkan dari Navi. Navi tidak kenal siapa Raga. Tapi, Raga tahu siapa Navi. Raga selalu bilang bahwa, "Navi menyenangkan dan menenangkan." *** Sebuah rasa yang tercipta dari raga. Kisah di mana seorang remaja menempatkan cintanya dengan tepat. Raga tidak pernah menyesal jatuh cinta den...
A promise
639      427     1     
Short Story
Sara dan Lindu bersahabat. Sara sayang Raka. Lindu juga sayang Raka. Lindu pergi selamanya. Hati Sara porak poranda.
L.o.L : Lab of Love
3472      1360     10     
Fan Fiction
Kim Ji Yeon, seorang mahasiswi semester empat jurusan film dan animasi, disibukan dengan tugas perkuliahan yang tak ada habisnya. Terlebih dengan statusnya sebagai penerima beasiswa, Ji Yeon harus berusaha mempertahankan prestasi akademisnya. Hingga suatu hari, sebuah coretan iseng yang dibuatnya saat jenuh ketika mengerjakan tugas di lab film, menjadi awal dari sebuah kisah baru yang tidak pe...
TO DO LIST CALON MANTU
1882      900     2     
Romance
Hubungan Seno dan Diadjeng hampir diujung tanduk. Ketika Seno mengajak Diadjeng memasuki jenjang yang lebih serius, Ibu Diadjeng berusaha meminta Seno menuruti prasyarat sebagai calon mantunya. Dengan segala usaha yang Seno miliki, ia berusaha menenuhi prasyarat dari Ibu Diadjeng. Kecuali satu prasyarat yang tidak ia penuhi, melepaskan Diadjeng bersama pria lain.
Thantophobia
1615      946     2     
Romance
Semua orang tidak suka kata perpisahan. Semua orang tidak suka kata kehilangan. Apalagi kehilangan orang yang disayangi. Begitu banyak orang-orang berharga yang ditakdirkan untuk berperan dalam kehidupan Seraphine. Semakin berpengaruh orang-orang itu, semakin ia merasa takut kehilangan mereka. Keluarga, kerabat, bahkan musuh telah memberi pelajaran hidup yang berarti bagi Seraphine.