Malam harinya...
Tok-tok.
"Ya, siapa?" tanya Popi dari dalam kamar.
"Ini Jefta," sahut suara dari balik pintu.
Popi membuka pintu dan sedikit terkejut melihat Jefta berdiri di sana dengan ekspresi agak canggung. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans, tampak seperti seseorang yang sedang menyusun keberanian.
"Ada apa?" tanya Popi sambil bersandar di daun pintu.
"Bisa pinjam HP kamu sebentar?" Jefta menunduk sedikit, seperti enggan menatap mata Popi langsung.
"Buat apa?" Popi menaikkan alis, curiga.
"Aku mau SMS teman, minta pulsa. Konter dekat sini tutup semua."
"Oh." Popi mengambil handphonenya dari atas meja dan menyodorkannya tanpa berpikir panjang. "Nih, telepon juga bisa kok. Aku baru isi pulsa sore tadi."
"Gak apa-apa, SMS aja," ujar Jefta sambil mengambil HP itu. Jemarinya cepat menari di atas layar, membuka kontak, mencari nama Cindy, lalu mengirimkan nomor itu ke HP-nya sendiri. Semua dilakukan dengan cepat, tanpa menunjukkan isi pesan. Kemudian langsung menghapus nya biar tidak ketahuan
"Ini, makasih ya. Aku pamit dulu," katanya sambil mengembalikan HP.
"Kamu gak mau duduk dulu?" tawar Popi, separuh basa-basi, separuh penasaran.
"Gak usah, aku buru-buru," jawab Jefta sambil berjalan mundur.
Popi mengerling jam dinding di ruang tengah. "Oh iya, ini kan malam minggu..." gumamnya, menyipitkan mata penuh arti saat melihat Jefta berlalu pergi.
---
Sementara itu, di kamar lain, Cindy duduk termenung di atas tempat tidur. Cahaya temaram dari lampu belajar membuat bayangan lembut di dinding. Tangannya menyentuh pergelangan yang tadi disentuh Jefta saat sore hari.
"Kenapa... saat dia pegang tanganku tadi, jantung ini berdebar kencang banget. Apa aku..." bisiknya, menggantung. Ia sendiri tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimat itu.
Tiba-tiba, HP-nya berbunyi. Sebuah nomor baru.
"Nomor baru?" gumamnya sambil mengerutkan dahi. Ia menekan tombol hijau.
"Halo?" suaranya terdengar ragu.
"Halo, Cindy... Lagi apa?" suara di seberang terdengar familiar, agak dalam, dan hangat.
"Siapa ini?" tanyanya, meski hatinya sudah menebak.
"Kamu gak kenal suara aku?"
Cindy diam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Ini pasti Jefta..." gumamnya pelan.
"Hmm... siapa ya?" tanyanya pura-pura bingung.
"Ini Jefta. Aku mau ngajak kamu malam mingguan. Bisa gak?"
Cindy menoleh ke arah jam. 18.30. Masih ada waktu bersiap.
"Kemana?" tanyanya ragu.
"Ke mall. Kita nonton. Oke, kita ketemuan di sana ya, jam setengah delapan."
"Aku belum menyetujuinya, loh."
"Aku tahu kamu pasti datang." Jefta langsung memutuskan sambungan telepon, membuat Cindy melongo.
---
Sementara itu di kamar Popi...
"Pi... Popi!" terdengar suara dari balik pintu.
Popi membuka pintu. "Ada apa, Ty?"
"Ganti baju yuk. Kita ke mall. Ini malam minggu, kan? Aku pinjam mobil kakakku!" Sitty tampak semangat.
Popi tersenyum. "Oke, tunggu bentar. Eh, coba telepon Cindy. Ajak dia juga, aku siap-siap."
Sitty langsung menelpon.
"Cindy, kamu di mana?"
"Aku di rumah. Kenapa?"
"Ke mall yuk?"
"Kebetulan... aku juga mau ke sana bareng Je—" tut tut tut
Sitty memandang layar HP-nya. "Kok putus sih?" gumamnya. HP-nya lowbat.
"Pi, bawa power bank, ya. HP-ku mati," teriak Sitty sambil mengemasi tas kecilnya.
"Gimana Cindy?" tanya Popi.
"Katanya dia juga mau pergi. Tapi belum sempat ngobrol, HP-ku keburu mati."
"Ya udah, kita jalan duluan aja. Nanti aku telpon pas di jalan," kata Sitty sambil mengambil kunci mobil. "Kamu yang nyetir, Pi."
"SIM-ku mati. Kamu aja, plis."
---
Di parkiran mall...
Cindy turun dari Triumph Bonneville yang dia pinjam dari Steven.. Mesin V-twin masih berdetak pelan, seperti nafas naga yang baru saja tertidur. Kulit jaket kulitnya yang hitam mengkilap memantulkan cahaya, selaras dengan kilauan krom pada tangki motornya. Rambutnya yang terikat rapi sedikit berantakan, tertiup angin perjalanan. Cindy mengangkat dagunya, tatapan matanya tajam dan percaya diri, sebelum melepas helmnya dengan gerakan yang begitu lancar dan penuh gaya. Seutas senyum tipis terukir di bibirnya, mengungkapkan sedikit giginya yang putih. Ia tampak seperti ratu jalanan yang baru saja menyelesaikan perjalanannya, kuat, independen, dan penuh pesona.
“Cindy, kamu di mana?” tanya Jefta lewat telepon.
“Aku baru sampai di parkiran.” jawab Cindy.
“Tuh kan, benar kamu datang" Sambil mencari-cari keberadaan Cindy
"Arah hadapmu lurus aja, aku udah lihat kamu.” Jefta melambaikan tangan sambil mematikan telepon.
Cindy tersenyum gugup. “Kok aku deg-degan sih?” gumamnya. Ia berjalan perlahan mendekati Jefta.
“Disana ada yang jual barang lucu tuh. Ayo, kita lihat sebentar,” kata Jefta sambil menarik tangan Cindy.
“Iya... tapi lepasin dulu tangannya,” kata Cindy, kikuk.
“Kan kita malam mingguan. Anggap aja kita pacaran. Jadi... biar aku pegang tangan kamu,” ucap Jefta sambil tersenyum jenaka.
Jantung Cindy berdegup makin kencang.
---
Dari kejauhan...
“Popi... Sitty...” teriak Cindy, baru sadar ia masih menggandeng Jefta.
Sitty mencolek Popi. “Pura-pura gak lihat, yuk.”
“Ya ampun, mereka gandengan,” kata Popi tertawa pelan. “Udah jadian?”
“Nanti kita kagetin mereka!”
---
Di tengah lorong mall...
“Mas, Mba, mau beli permen kapas?” tanya seorang pedagang.
“Oh, boleh juga, Pak. Berapa?” tanya Jefta sambil memilih warna.
“Lima ribu, Mas.”
Jefta membayar dan memberikan satu permen kapas ke Cindy.
“Nih buat kamu. Ayo buka mulut, aku suapin,” katanya menggoda.
“Terima kasih... tapi aku bisa sendiri,” Cindy tersipu sambil mengambil permen dari tangan Jefta.
Jefta memperhatikannya diam-diam. "Chris, Cindy yang selalu kamu ceritakan ada di hadapan aku sekarang, sepertinya aku jatuh cinta padanya." Gumam Jefta pelan nyaris tak terdengar. Lalu tersenyum melihat ke arah Cindy
"Kamu bilang apa tadi?"
“Ah, gak penting,” kata Jefta cepat, mengalihkan pandangan. “Ayo, kita langsung naik ke lantai 4, nonton.”
---
Tiba-tiba...
“Hah! Ketahuan!!” suara Sitty membuat Cindy hampir menjatuhkan permen kapasnya.
“Sitty! Kamu bikin aku kaget!” Cindy memegangi dadanya.
“Mana Popi?” tanya Cindy.
“Lagi ngobrol sama Dandy.”
“Dandy juga datang? Sama siapa?”
“Kayaknya sendiri.”
Sitty menatap mereka penuh selidik. “Kalian berdua... jadian, ya?”
“Iya, ini kencan pertama kami. Dan kamu datang mengganggunya!” kata Jefta sambil tertawa dan merangkul Cindy.
“Enggak kok!” Cindy berusaha melepaskan pelan-pelan, tapi Jefta tak melepasnya.
“Eh tapi tuh tangannya dari tadi gak lepas,” goda Sitty.
Cindy diam. Ada sesuatu dalam genggaman itu yang membuatnya enggan melepaskannya.
Di Bioskop, Sebelum Film Selesai...
“Dandy, kamu datang dengan siapa?” tanya Popi sambil memegang popcorn.
“Aku datang sendiri,” jawab Dandy santai. “Tadinya mau ngajak kalian bertiga, tapi pas sampai kontrakan, kamu udah pergi bareng Sitty ke mall. Ya udah, karna kebetulan Jefta juga ke mall aku susul aja. Siapa sangka bisa ketemu"
Popi tertawa kecil. “Gak nyangka, di tempat seramai kita bisa ketemu tanpa janjian.”
“Oh iya,” Dandy menengok ke arah kanan, “aku juga lihat Jefta sama Cindy tadi di sebelah sana. Kupikir kalian datang bertiga. Ternyata Cindy udah punya acara sendiri ya?”
Popi mengangkat bahu. “Awalnya sih mau ngajakin jalan bareng. Tapi dia udah pergi duluan sama Jefta. Aku sama Sitty juga udah lihat sih, tapi kita pura-pura gak dengar pas dia manggil.”
“Kenapa pura-pura?”
“Kita gak mau gangguin orang pacaran,” ujar Popi sambil mengunyah popcornnya pelan.
“Pacaran?? Mereka udah jadian?”
“Bisa aja... soalnya mereka gandengan. Hehehe.”
“Oh, gandengan belum tentu pacaran kan?” Dandy menatap ke arah kanan “nah itu mereka”
“Kita samperin yuk?” ajak Dandy
Akhirnya mereka masuk ke studio dan menonton bersama. Malam minggu itu dihabiskan dengan tawa, popcorn, dan secuil rasa penasaran di antara wajah-wajah yang mulai berubah merah muda.
Setelah film selesai...
Lampu bioskop menyala. Penonton mulai keluar satu per satu.
“Filmnya seru ya,” kata Cindy sambil meregangkan tubuh. Ia masih duduk di kursinya, menunggu keramaian di lorong berkurang. Dandy yang kelaparan cepat-cepat keluar mencari makan..
Popi dan Sitty sudah lebih dulu karena kebelet pipis..
“Iya. Tapi aku lebih suka momen pas kamu tiba-tiba nyender ke bahuku pas adegan jumpscare tadi,” jawab Jefta sambil tertawa kecil.
Cindy langsung menutupi wajahnya. “Astaga... aku gak sadar!”
“Gak apa-apa. Aku malah berharap filmnya lebih panjang.”
“Biar aku nyender lebih lama?”
“Biar aku bisa deket kamu lebih lama.”
Cindy diam. "Jantung ku berdetak aneh lagi". Kata dalam hatinya.. Ia berdeham, mencoba mengalihkan topik. “Eh, udah malam ya. Aku harus pulang.”
Mereka berjalan keluar bioskop. Lorong-lorong mall mulai sepi. Toko-toko menutup rolling door, lampu redup dinyalakan.
Saat mereka tiba di parkiran, udara malam sedikit lebih dingin.
Mobil Sitty masih terparkir, tapi Popi dan Sitty belum kelihatan.
“Kayaknya mereka masih di dalam deh. Kita tunggu di sini aja dulu ya,” kata Jefta.
Cindy mengangguk. Ia berdiri di sisi mobil, menyandarkan diri. Jefta ikut bersandar di sampingnya, tapi agak jauh.
Keheningan menggantung beberapa detik. Suara jangkrik dan deru kendaraan di kejauhan jadi latar belakang.
“Aku... mau tanya sesuatu,” ujar Jefta pelan.
“Apa?”
“Kamu gak keberatan tadi aku genggam tanganmu?”
Cindy menatap ke depan, tidak menjawab langsung. Ia menggigit bibir bawahnya sebentar.
“Awalnya iya. Tapi... lama-lama enggak.”
Jefta menoleh. “Kenapa berubah?”
Cindy mendongak, menatap langit malam yang berawan. “Mungkin karena... rasanya gak seburuk yang kubayangkan.”
Mereka kembali diam. Kali ini, senyapnya terasa nyaman.
Jefta mengusap tengkuknya, gugup. “Kalau aku bilang... aku pengen genggam tangan kamu lagi, sekarang... kamu akan nolak?”
Cindy menoleh padanya. Lama. Lalu tanpa bicara, ia mengulurkan tangannya pelan.
Jefta langsung menggenggamnya. Hangat. Pas.
“Aku gak nyangka kamu bakal kasih,”
“Aku juga gak nyangka kamu bakal minta,” balas Cindy.
Mereka tertawa kecil, pelan. Tapi tawa itu membuat malam tak terasa sepi.
Lampu mobil Sitty tiba-tiba menyala dari kejauhan. Suara Popi dan Sitty terdengar riuh menghampiri.
“Kita ketahuan lagi nih,” gumam Jefta.
“Gak apa-apa,” kata Cindy.
“Kenapa?”
“Karena sekarang... aku gak malu lagi.”
Jefta menatapnya, diam-diam tersenyum.
choujie








