Loading...
Logo TinLit
Read Story - A Tale of a Girl and Three Monkeys
MENU
About Us  

Agni sengaja pagi itu bangun sebelum subuh. Dia sudah menyimpan ayam fillet yang akan ia masak menjadi Chicken Katsu dan membawanya untuk bekal sekolah. Dia mau mencoba resep Chicken Katsu dari Chef Meghan. Chef idolanya. Lalu meminta teman-temannya nanti mencicipinya. 

Saat masuk ke dapur, aroma sop ayam hangat tercium dari panci di kompor, sepertinya ibunya baru saja selesai masak. Agni membuka chiller kulkas, lalu ia mengernyit. Mana ayam gue? Pikirnya. Dia ingat semalam sudah menurunkan ayam filletnya dari freezer ke chiller karena ingin memasaknya pagi ini. 

Lalu matanya akhirnya melirik ke panci di kompor. Jantungnya berdegup keras, ia bergerak cepat ke kompor dan membuka tutup panci. Ia menyendoknya dan melihat dari potongannya, itu adalah ayam fillet miliknya. Bungkus ayam fillet organik kosong di tempat sampah semakin menguatkan dugaannya. 

Ayam fillet organik itu ia beli sendiri dengan uang hasil jualannya. Dia selalu berusaha menggunakan bahan baku terbaik ketika mencoba resep-resep Chef Meghan. Jemari Agni tanpa sadar terkepal. Dadanya terasa panas. Lalu suara langkah ringan mendekat ke dapur. 

“Eh, udah bangun Ni?” tanya Mamanya Agni, Indira dengan santai dan mulai mencuci peralatan bekas masak tadi. 

Agni menarik napas keras. “Mama masak ayam fillet Agni yang di chiller?” 

Indira menoleh sekilas. “Oh, iya. Itu punya kamu?” 

“Emang punya siapa lagi?” tukas Agni. 

Indira menghela napas pelan. “Gara kayanya lagi enggak enak badan. Dia baru pulang abis jaga malam di rumah sakit. Makanya, Mama masakin dia buru-buru pakai apa aja yang ada di kulkas.” 

Sagara lagi, pikir Agni dengan penuh kebencian. 

“Kan bisa bilang sama Agni dulu,” kata Agni dengan nada agak tinggi. 

“Iya maaf… nanti Mama ganti ya,” kata Indira berusaha memahami kemarahan anak perempuan satu-satunya itu. 

Dengan amarah yang masih menggelegak di dada, Agni berbalik dan bermaksud kembali ke kamarnya, tapi Indira memanggil lagi. “Agni!” 

Agni menoleh dengan enggan. “Apa?” 

“Itu tolong anterin sekalian sop ayamnya ke kamar Sagara. Dia enggak bakal makan kalau enggak disodorin,” kata Indira sambil menggeleng pelan ke semangkok sop ayam di meja makan, kemudian kembali mencuci panci di wastafel. 

Agni memandangi mangkok yang masih mengeluarkan uap panas itu. Dan dengan napas memburu karena menahan emosi, ia menyambarnya hingga sebagian kuahnya menetes ke meja. Namun ia tidak peduli. 

Agni berjalan cepat ke kamar Sagara dan mengetuk pintunya keras. 

Beberapa detik kemudian Sagara membuka pintu. Wajahnya terlihat pucat, lingkaran hitam terlihat di bawah matanya. 

“Kenapa?” tanyanya. 

Tanpa berkata apa-apa, Agni masuk dan menaruh mangkok itu dengan keras di atas meja belajar kakaknya. 

“Ini apa?” tanya Sagara. 

Agni menoleh dengan wajah kesal. “Punya mata kan? Liat sendiri,” katanya ketus. Lalu ia keluar dari kamar itu dan membanting pintu di belakangnya dengan keras, meninggalkan Sagara dengan kening berkerut karena tidak tahu apa yang membuat adiknya sekesal itu padanya.

 

***

Agni memakai sepatunya dalam diam. Dadanya masih dipenuhi kekesalan akibat kejadian ayam fillet subuh tadi. Masalahnya, ini bukan pertama kalinya ibunya mengorbankan miliknya untuk anak emasnya itu. Dulu bahkan ibunya pernah memasak daging wagyunya untuk memasak bekal Sagara. Bayangkan, daging wagyu. Agni harus menjual puluhan loyang brownies dulu untuk bisa membelinya. Dan Sagara dengan seenaknya memakan hasil kerja kerasnya. 

Nampaknya Indira sadar dengan kemarahan Agni. Ia membungkuskan sop ayam tadi untuk bekal makan siang Agni, tapi Agni sudah tidak berselera untuk menyentuhnya. 

“Ini bawa, buat nanti makan siang di sekolah,” kata Indira menyodorkan termos berisi sop ayam hangat dan kotak makan berisi nasi dan lauk pauk lain. 

“Enggak usah. Agni lagi enggak napsu makan sop,” katanya sambil bangkit berdiri. Namun ketika ia menoleh sekilas, wajah ibunya terlihat kecewa. Dan entah mengapa itu membuat dadanya sedikit sesak. Agni akhirnya menghela napas keras, lalu ia menyambar termos dan kotak makan itu. 

“Agni pergi dulu,” katanya singkat. Lalu akhirnya berjalan keluar rumah. 

Indira tersenyum kecil. “Iya… hati-hati..” 

Di depan pagar rumah, ayah Agni, Arjuna sudah bersiap di atas motornya untuk mengantar Agni. 

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Agni tersenyum. 

“Papaahh….” suara Agni yang tadi terdengar ketus kini menjadi manja. 

Arjuna menoleh. “Udah belum? Ayo Papah anter, nanti telat,” kata Arjuna dengan senyum lebar di wajahnya. 

Agni naik ke jok belakang motor itu. Ia memeluk pinggang ayahnya erat dari belakang. Kebiasaan yang belum hilang sejak kecil setiap kali ayahnya mengajak naik motor bersama. 

Arjuna menjalankan motornya, melewati rumah-rumah yang berdempetan di gang kampung itu. Meskipun jarak rumah ke sekolah dekat, tapi diantar naik motor rasanya tetap menyenangkan. 

Di tengah perjalanan itu tanpa sadar Agni sambil melamun berkata, “Pah, Agni anak pungut ya?” 

Motor sedikit oleng.

“Hah? Apa-apaan sih kamu?” Arjuna melirik sekilas ke spion, tak yakin dengan pertanyaan itu.

“Abis… kayanya Mama enggak sayang sama Agni. Biasanya anak bungsu kan paling disayang. Tapi Mama malah lebih sayang sama Gara,” kata Agni kesal. 

Arjuna tertawa kecil. 

Agni mendelik ke arahnya. “Kok ketawa? Agni serius!” 

“Iya… iya…” kata Arjuna lembut, berusaha meredam api amarah Agni. 

“Jadi bener? Agni anak pungut?” tanya Agni lagi. 

“Ya enggaklah, Agni… Papah liat sendiri waktu kamu lahir.” 

Agni mengerutkan kening. “Terus, kenapa Mama kaya gitu?” 

“Mama bukannya lebih sayang sama Sagara. Dia juga sayang sama kamu. Cuma ya… Sagara kan lebih ringkih—gampang sakit, enggak kayak kamu, tahan banting,” kata Arjuna. 

“Tapi kan itu enggak bisa jadi alasan Agni harus selalu ngalah. Gara kan 12 tahun lebih tua dari Agni, Pah!” protes Agni.

“Iya juga ya… Papah baru sadar…” gumam Arjuna. 

“Papah!” seru Agni kesal melihat ayahnya kehilangan fokus. 

“Iyaa… Nanti Papah ingetin Mamah deh.” 

Mata Agni membulat. “Bener? Janji ya!” 

“Iya..” 

“Beneran kan? Papah kan soalnya suka luluh sama Mama.” 

Arjuna terdiam. Ia jadi berpikir ulang apakah akan jadi masalah kalau nanti dia bicara dengan istrinya tentang ini. Nyonya Indira sangat seram kalau marah. 

Mereka akhirnya sampai di depan sekolah Agni. 

Agni turun dari motor dan menatap Arjuna lurus-lurus. “Janji ya Pah, Papah harus ngomong sama Mama,” kata Agni. 

Arjuna menelan ludah, lalu mengangguk pelan. 

“Iya, udah sana masuk. Nanti terlambat.” 

Agni melihat sekilas ke ayahnya, lalu berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah dia berbalik lagi dan memeluk ayahnya erat. 

Arjuna tersenyum kecil sambil membelai kepala anak perempuan kesayangannya itu. 

Agni melepas pelukannya lalu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. 

“Daahh… Papahh!” 

 Arjuna mengangguk. Senyum itu tidak akan pernah ia lupa seumur hidupnya. 

 

***

Agni melangkah menuju kelas dengan langkah sedikit lebih ringan dari biasanya. Janji Papanya untuk menegur Mama soal ketidakadilan di rumah masih terngiang di telinganya. Setidaknya, masih ada satu orang di rumah itu yang berdiri di pihaknya.
Papah emang the best, pikirnya sambil tersenyum tipis.

Begitu ia membuka pintu kelas, wajah Kinsha, Aliya, dan Remi langsung menyambutnya dengan antusias, seolah-olah mereka sudah menunggunya sejak lama.

“Ada apaan nih? Ada artis ke-spill selingkuh lagi ya?” tanya Agni sambil terkekeh, lalu meletakkan tasnya di atas meja.

“Ada yang lebih seru dari itu. Chef Meghan, Ni…,” sahut Remi cepat-cepat, sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.

Agni langsung menekap mulutnya. “Chef Meghan selingkuh?!”

Kinsha dan Aliya tertawa geli, sementara Remi memutar bola matanya.

“Bukan dong. Nih, Chef Meghan ngadain challenge,” kata Remi, lalu menyodorkan ponselnya ke Agni.

Agni menyipitkan mata, membaca seksama unggahan Instagram Chef Meghan:

 

Hi Mates! πŸ‘©‍πŸ³πŸ’›
Aku punya tantangan kecil yang manis banget nih buat kalian.
Bikin macaron versi kamu sendiri! Bisa yang klasik, bisa yang nyeleneh—yang penting, kamu banget.

Kenapa? Karena aku penasaran sejauh mana kreativitas kalian bisa mewarnai camilan mungil yang punya banyak kenangan indah untukku ini. πŸ₯°

Dan yang paling seru, aku akan pilih satu karya terbaik untuk:
🌟 1-on-1 session bareng aku
🌟 Dinner spesial yang akan aku masak langsung untuk kamu

Yuk, kita main bareng di dapur. Surprise me!
Aku tunggu kreasi macaron kamu ya πŸ’•

#MeghanMacaronChallenge #DariDapurChefMeghan #MacaronKreasiKamu

 

Mata Agni membulat. “Kapan lagi bisa ketemu sama Chef Meghan, Ni!” ujar Kinsha penuh semangat.

“Deadlinenya dua minggu. Kira-kira cukup enggak ya waktunya? Belum riset desainnya, trial error-nya juga…” gumam Aliya, terdengar sedikit panik.

“Bisalah! Jangan parno duluan gitu dong,” sahut Kinsha cepat.

Aliya mendecak kecil. “Bukannya parno, kan ini emang butuh perencanaan…”

“Nii… lo diem aja? Enggak sawan, kan?” tanya Remi, memperhatikan wajah Agni yang masih terpaku.

Tiba-tiba, Agni tersenyum lebar.

“Gue bakal KETEMU CHEF MEGHAN!!” serunya lantang, penuh semangat.

Beberapa teman yang mendengar spontan menoleh ke arah Agni, lalu hanya menggeleng pelan. Sudah biasa—Agni memang selalu heboh kalau antusias.

“Kok dia bisa se-PD itu bakal menang?” bisik Aliya pelan ke Kinsha.

Kinsha hanya mengangkat bahu dan terkikik. “Biarin aja.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Batagor (Menu tawa hari ini)
482      330     6     
Short Story
Dodong mengajarkan pada kita semua untuk berterus terang dengan cara yang lucu.
Dunia Alen
8764      2921     2     
Romance
Alena Marissa baru berusia 17 belas tahun, tapi otaknya mampu memproduksi cerita-cerita menarik yang sering membuatnya tenggelam dan berbicara sendiri. Semua orang yakin Alen gila, tapi gadis itu merasa sangat sehat secara mental. Suatu hari ia bertemu dengan Galen, pemuda misterius yang sedikit demi sedikit mengubah hidupnya. Banyak hal yang menjadi lebih baik bersama Galen, namun perlahan ba...
An Ice Cream Story
699      510     0     
Short Story
Cacak seperti lambang tergadai; Kisah ini merupakan perihal orang-orang yang sedang kasmaran. Ini mengenai kisah cinta yang sompek; perkara yang tidak dapat diharapkan lagi. Saking sompeknya, mari bersama menertawai kisah ini melalui perumpamaan manisnya menikmati sebuah ice cream.
Rain, Coffee, and You
645      476     3     
Short Story
β€œKakak sih enak, sudah dewasa, bebas mau melakukan apa saja.” Benarkah? Alih-alih merasa bebas, Karina Juniar justru merasa dikenalkan pada tanggung jawab atas segala tindakannya. Ia juga mulai memikirkan masalah-masalah yang dulunya hanya diketahui para orangtua. Dan ketika semuanya terasa berat ia pikul sendiri, hal terkecil yang ia inginkan hanyalah seseorang yang hadir dan menanyaka...
Comfort
1462      702     3     
Romance
Pada dasarnya, kenyamananlah yang memulai kisah kita.
Acropolis Athens
6535      2602     5     
Romance
Adelar Devano Harchie Kepribadian berubah setelah Ia mengetahui alasan mendiang Ibunya meninggal. Menjadi Prefeksionis untuk mengendalikan traumanya. Disisi lain, Aram Mahasiswi pindahan dari Melbourne yang lamban laun terkoneksi dengan Adelar. Banyak alasan untuk tidak bersama Aram, namun Adelar terus mencoba hingga keduanya dihadapkan dengan kenyataan yang ada.
Behind Friendship
5201      1616     9     
Romance
Lo harus siap kalau rasa sahabat ini bermetamorfosis jadi cinta. "Kalau gue cinta sama lo? Gue salah? Mencintai seseorang itu kan hak masing masing orang. Termasuk gue yang sekarang cinta sama lo," Tiga cowok most wanted dan dua cewek receh yang tergabung dalam sebuah squad bernama Squad Delight. Sudah menjadi hal biasa jika kakak kelas atau teman seangkatannya meminta nomor pon...
Mutiara -BOOK 1 OF MUTIARA TRILOGY [PUBLISHING]
16100      4072     7     
Science Fiction
Have you ever imagined living in the future where your countries have been sunk under water? In the year 2518, humanity has almost been wiped off the face of the Earth. Indonesia sent 10 ships when the first "apocalypse" hit in the year 2150. As for today, only 3 ships representing the New Kingdom of Indonesia remain sailing the ocean.
Hear Me
590      442     0     
Short Story
Kata orang, menjadi anak tunggal dan hidup berkecukupan itu membahagiakan. Terlebih kedua orangtua sangat perhatian, kebahagiaan itu pasti akan terasa berkali lipat. Dan aku yang hidup dengan latar belakang seperti itu seharusnya merasa bahagia bukan?
Ellipsis
2657      1220     4     
Romance
Katanya masa-masa indah sekolah ada ketika kita SMA. Tidak berlaku bagi Ara, gadis itu hanya ingin menjalani kehidupan SMAnya dengan biasa-biasa saja. Belajar hingga masuk PTN. Tetapi kemudian dia mulai terusik dengan perlakuan ketus yang terkesan jahat dari Daniel teman satu kelasnya. Mereka tidak pernah terlibat dalam satu masalah, namun pria itu seolah-olah ingin melenyapkan Ara dari pandangan...