Loading...
Logo TinLit
Read Story - Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu
MENU
About Us  

Waktu kecil, hidupku sederhana. Cita-citaku cuma satu: jadi polwan.

Kenapa polwan? Karena seragamnya keren. Sepatunya mengilap. Dan mereka bisa tiup peluit tanpa disuruh siapa-siapa. Ada kekuasaan dalam peluit itu—yang bikin orang berhenti, jalan, atau minggir hanya karena suara “tiiit!” dari bibir yang serius. Aku yang waktu itu belum ngerti apa-apa soal pajak dan surat tilang, ngerasa: wah, ini power sejati.

Aku ingat banget, waktu TK, aku diminta maju ke depan dan ditanya:

“Kalau udah besar mau jadi apa?”
Dan aku jawab dengan penuh semangat,
“Mau jadi polwan, Bu! Biar bisa tangkep maling!”

Padahal yang kupikir maling itu kayak di kartun—pakai baju garis-garis, bawa karung, dan gampang ditangkap. Nggak pernah terpikir bahwa di masa depan, bentuk “maling” itu bisa macam-macam. Termasuk yang mencuri waktu, kepercayaan, atau bahkan... harga diri sendiri.

Namun seiring waktu, hidup ternyata bukan cerita detektif di buku anak-anak. Aku tumbuh. Rambutku makin susah diatur. Logikaku mulai melawan. Dan cita-cita itu mulai bergeser.

Bukan karena aku nggak suka polwan. Tapi karena ternyata... aku lemah dalam pelajaran olahraga. Dan menurut guruku, polwan, itu harus kuat, bisa lari 12 putaran tanpa pingsan, serta tahan ditempeleng kenyataan hidup.

Sementara aku? Lari dua putaran udah mual, dan kalo ditanya, “Masa depanmu mau dibawa ke mana?” aku cuma bisa jawab, “Terserah takdir aja deh.”

Akhirnya, cita-cita jadi polwan mundur pelan-pelan. Diganti impian lain yang lebih fleksibel. Pernah pengen jadi penulis. Pernah pengen jadi astronot. Pernah juga mau jadi tukang bakso, gara-gara pas SD liat abang bakso naik motor sambil nyanyi, hidupnya keliatan bebas dan penuh lagu.

Dan sekarang?
Aku nggak jadi polwan. Tapi aku sering… dipertanyakan.

“Kerjamu apa sih sebenernya?”
“Serius kamu betah kerja begitu?”
“Kamu yakin ini jalan hidupmu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu datang dari mana-mana. Dari orang tua. Dari teman lama. Bahkan dari diri sendiri, pas tengah malam saat scroll TikTok tiba-tiba muncul konten motivasi pakai backsound piano sedih.

Awalnya aku tanggapi biasa aja. Tapi lama-lama… capek juga.

Kenapa ya, hidupku selalu harus dijelaskan? Kenapa nggak bisa cukup dengan, “Aku baik-baik aja, kok,” tanpa disambung dengan, “Tapi kenapa kamu belum punya rumah? Belum nikah? Belum jadi kepala divisi?”

Aku kadang ingin tanya balik: kenapa kita harus jadi “apa” terus-terusan? Kenapa nggak cukup jadi “siapa”?

Aku ingat satu momen waktu reuni SMA.

Seorang teman—sekarang kerja di bank dan selalu update soal saham—nanya sambil senyum simpul:

“Lo kerja di mana sekarang?”

Aku jawab, “Masih freelance sih, kadang nulis, kadang ngajar, kadang... rebahan sambil mikir hidup.”

Dia ketawa, tapi agak datar. Terus bilang,

“Wah, lo nyantai banget ya hidupnya.”

Dan aku cuma senyum, padahal dalam hati pengen jawab:

“Nyantai bukan berarti tanpa beban, bro. Kadang aku duduk diem aja, tapi kepala muter kayak kipas angin 4 speed.”

Di mata banyak orang, hidupku terlihat seperti orang yang "nggak pasti". Tapi buatku, justru aku sedang mencari yang pasti dari segala yang semu.

Ada satu titik di mana aku sempat merasa minder. Setiap liat teman-teman posting pencapaian: naik jabatan, punya bisnis sendiri, buka toko roti, bahkan adopsi kucing ras yang lebih glowing dari wajahku... aku mulai ngerasa kecil. Kecil bukan karena mereka salah. Tapi karena aku membandingkan jalurku dengan jalan tol orang lain.

Padahal aku ini lebih kayak jalan tikus. Kadang sempit. Kadang becek. Tapi selalu nemu jalan keluar, walaupun lewat gang belakang.

Hidupku bukan plot film Marvel dengan CGI keren. Tapi lebih ke komedi indie yang kadang absurd, kadang mellow, tapi jujur dan nyata.

Dan di situ aku sadar, mungkin aku nggak jadi polwan, tapi aku lagi belajar menertibkan isi kepala sendiri—yang kadang lebih ramai dari terminal bus.

Yang paling lucu adalah... orang tuaku juga masih suka tanya:

“Kamu yakin nggak mau ikut tes CPNS aja?”
“Kerja yang pasti-pasti dong. Masa kerja nggak ada gaji tetap?”

Aku pengen jawab:

“Bu, hidup aja nggak tetap. Kadang kita senang, kadang nangis karena liat foto lama. Kadang ngopi semangat, kadang ngopi sambil keringetan karena liat saldo rekening.”

Tapi aku tahu, mereka cuma khawatir. Mereka tumbuh di zaman di mana "aman" berarti punya kantor, seragam, dan slip gaji. Sementara aku... tumbuh di zaman di mana “aman” adalah bisa jadi diri sendiri, walaupun dicibir.

Aku mulai belajar menerima bahwa bentuk kesuksesan itu beda-beda. Ada yang bentuknya mobil baru. Ada yang bentuknya bisa tidur nyenyak. Ada juga yang bentuknya: bisa jujur dengan hidup sendiri.

Dan itu... lebih langka dari kelulusan tes CPNS.

Terkadang, jadi diri sendiri itu memang capek. Apalagi kalau ternyata “dirimu” bukan seperti yang dunia harapkan.

Tapi di situlah lucunya.

Aku jadi sering menemukan tawa-tawa aneh dalam hidupku. Ketika ngelamar kerja ditolak 7 kali berturut-turut, aku ketawa sendiri,

“Mungkin semesta lagi main UNO, dan aku belum dapet kartu ‘Skip’.”

Atau ketika orang bilang, “Kamu kok masih gini-gini aja sih?”

Aku jawab, “Karena aku menikmati fase ‘gini-gini aja’ sebelum masuk fase ‘wah banget’.”
Padahal dalam hati aku juga bingung arah hidup. Tapi lebih baik dibawa senyum daripada stres berkepanjangan.

Sekarang, kalau ada yang tanya, “Kamu masih mau jadi polwan?”

Aku jawab, “Aku nggak jadi polwan. Tapi aku tetap jaga keamanan.”

“Keamanan apa?”

“Keamanan mentalku sendiri.”

Karena jadi diri sendiri itu butuh keberanian. Butuh tenaga. Kadang kayak maraton tanpa sepatu, seperti di Prolog. Tapi setelah semua luka lecet dan kaki pegal, kita sadar... ternyata kita tetap bisa sampai juga ke tujuan. Dengan langkah sendiri. Dengan cerita sendiri. Mungkin aku nggak nangkep maling. Tapi aku berhasil nangkep sisi diriku yang dulu sempat hilang karena berusaha jadi orang lain.

Dan rasanya... itu cukup. Malah, bisa jadi—itulah keberhasilan terbesar dalam hidupku

.“Nggak apa-apa nggak jadi polwan. Yang penting jangan jadi penipu, apalagi nipu diri sendiri.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • juliartidewi

    Hobi nenek saya adalah membaca. Nenek saya biasa mendongeng sebelum tidur untuk saya. Ceritanya macam2. Nenek saya kreatif banget

    Comment on chapter Bab 24 : Diri Sendiri Nggak Selalu Estetik, Tapi Tetap Layak Dicintai
  • juliartidewi

    Berdasarkan prediksi saya, di masa depan, para penulis akan dihargai karena buku-buku adalah gizi untuk otak. Bukti: Nenek saya meninggal karena jatuh, bukan karena Dementia atau Alzheimer.

    Comment on chapter Bab 3 : Tiap Hari Pakai Topeng, Tapi Nggak Pernah Menang Oscar
Similar Tags
Di Bawah Langit Bumi
6484      3696     87     
Romance
Awal 2000-an. Era pre-medsos. Nama buruk menyebar bukan lewat unggahan tapi lewat mulut ke mulut, dan Bumi tahu betul rasanya jadi legenda yang tak diinginkan. Saat masuk SMA, ia hanya punya satu misi: jangan bikin masalah. Satu janji pada ibunya dan satu-satunya cara agar ia tak dipindahkan lagi, seperti saat SMP dulu, ketika sebuah insiden membuatnya dicap berbahaya. Tapi sekolah barunya...
Interaksi
1348      1028     1     
Romance
Aku adalah paradoks. Tak kumengerti dengan benar. Tak dapat kujelaskan dengan singkat. Tak dapat kujabarkan perasaan benci dalam diri sendiri. Tak dapat kukatakan bahwa aku sungguh menyukai diri sendiri dengan perasaan jujur didalamnya. Kesepian tak memiliki seorang teman menggerogoti hatiku hingga menciptakan lubang menganga di dada. Sekalipun ada seorang yang bersedia menyebutnya sebagai ...
No Life, No Love
6332      3785     2     
True Story
Erilya memiliki cita-cita sebagai editor buku. Dia ingin membantu mengembangkan karya-karya penulis hebat di masa depan. Alhasil dia mengambil juruan Sastra Indonesia untuk melancarkan mimpinya. Sayangnya, zaman semakin berubah. Overpopulasi membuat Erilya mulai goyah dengan mimpi-mimpi yang pernah dia harapkan. Banyak saingan untuk masuk di dunia tersebut. Gelar sarjana pun menjadi tidak berguna...
Glitch Mind
127      116     0     
Inspirational
Apa reaksi kamu ketika tahu bahwa orang-orang disekitar mu memiliki penyakit mental? Memakinya? Mengatakan bahwa dia gila? Atau berempati kepadanya? Itulah yang dialami oleh Askala Chandhi, seorang chef muda pemilik restoran rumahan Aroma Chandhi yang menderita Anxiety Disorder......
Trying Other People's World
472      372     0     
Romance
Lara punya dendam kesumat sama kakak kelas yang melarangnya gabung OSIS. Ia iri dan ingin merasakan serunya pakai ID card, dapat dispensasi, dan sibuk di luar kelas. Demi membalas semuanya, ia mencoba berbagai hidup milik orang lain—pura-pura ikut ekskul jurnalistik, latihan teater, bahkan sampai gabung jam tambahan olimpiade MIPA. Kebiasan mencoba hidup-hidup orang lain mempertemukannya Ric...
DocDetec
2554      1427     1     
Mystery
Bagi Arin Tarim, hidup hanya memiliki satu tujuan: menjadi seorang dokter. Identitas dirinya sepenuhnya terpaku pada mimpi itu. Namun, sebuah tragedi menghancurkan harapannya, membuatnya harus menerima kenyataan pahit bahwa cita-citanya tak lagi mungkin terwujud. Dunia Arin terasa runtuh, dan sebagai akibatnya, ia mengundurkan diri dari klub biologi dua minggu sebelum pameran penting penelitian y...
Halo Benalu
5166      2073     1     
Romance
Tiba-tiba Rhesya terlibat perjodohan aneh dengan seorang kakak kelas bernama Gentala Mahda. Laki-laki itu semacam parasit yang menempel di antara mereka. Namun, Rhesya telah memiliki pujaan hatinya sebelum mengenal Genta, yaitu Ethan Aditama.
Help Me Help You
6084      3169     56     
Inspirational
Dua rival akademik di sebuah sekolah menengah atas bergengsi, Aditya dan Vania, berebut beasiswa kampus ternama yang sama. Pasalnya, sekolah hanya dapat memberikan surat rekomendasi kepada satu siswa unggul saja. Kepala Sekolah pun memberikan proyek mustahil bagi Aditya dan Vania: barangsiapa dapat memastikan Bari lulus ujian nasional, dialah yang akan direkomendasikan. Siapa sangka proyek mus...
Resonantia
1422      976     1     
Horror
Empat anak yang ‘terbuang’ dalam masyarakat di sekolah ini disatukan dalam satu kamar. Keempatnya memiliki masalah mereka masing-masing yang membuat mereka tersisih dan diabaikan. Di dalam kamar itu, keempatnya saling berbagi pengalaman satu sama lain, mencoba untuk memahami makna hidup, hingga mereka menemukan apa yang mereka cari. Taka, sang anak indigo yang hidupnya hanya dipenuhi dengan ...
My Private Driver Is My Ex
1809      1296     10     
Romance
Neyra Amelia Dirgantara adalah seorang gadis cantik dengan mata Belo dan rambut pendek sebahu, serta paras cantiknya bak boneka jepang. Neyra adalah siswi pintar di kelas 12 IPA 1 dengan julukan si wanita bermulut pedas. Wanita yang seperti singa betina itu dulunya adalah mantan Bagas yaitu ketua geng motor God riders, berandal-berandal yang paling sadis pada geng lawannya. Setelahnya neyra di...