Langit Amsterdam kelabu, gerimis menitik di atas tanah merah yang baru menutup peti. Fabian berdiri paling depan. Jas hitamnya basah, kepalanya tertunduk diam. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan emosi. Oma yang menjadi sahabatnya sejak kecil, orang yang mengajarkannya kecintaan terhadap Indonesia dan mengajarkannya bahasa Indonesia, telah pergi.
Suara doa dalam bahasa Belanda mengalun di udara, diiringi denting lembut cello yang membuat udara seolah berhenti bernapas.
Lalu, sebuah payung terbuka di atasnya. Fabian menoleh. Di sana Suci berdiri, mengenakan gaun hitam sederhana dengan mantel wol gelap. Rambutnya digerai rapi, wajahnya tenang, penuh simpati. Tanpa kata, ia hanya tersenyum tipis, cukup untuk menjelaskan segalanya.
Fabian tercekat. “Suci? Kok kamu di sini?”
Suci menunduk sopan, lalu berbisik, “Aku khawatir. Aku nggak mau kamu sendiri di momen ini.”
Fabian menengadah, seakan mencari konfirmasi dari langit bahwa ini bukan mimpi. Pupil matanya bergetar haru, teringat jarak dari Bogor ke Amsterdam serta birokrasi yang rumit. Semuanya mustahil dilakukan tanpa niat besar. “Kamu sendiri ke sini?” Fabian yang baru tersadar, sontak khawatir.
Suci mengangguk, senyumnya merekah seperti menenangkan badai.
-oOo-
Suci Riganna Latief, beberapa hari sebelum keberangkatan.
Suci mengemasi koper dengan tergesa, niatnya satu: menyusul Fabian. Namun teringat urusan paspor dan visa yang memakan waktu, ia terduduk lemas.
Sepertinya nggak akan bisa cepat, pikirnya pasrah.
Ia lalu mengirim pesan ke Surya.
Suci :
Kak, urus visa ke Belanda perlu berapa lama ya? Oma Fabian wafat. Aku mau ke sana. Fabian kelihatan syok, aku khawatir.
Surya :
Paspor lu aktif kan? Visa Schengen itu biasanya 7-15 baru jadi, Ci.
Suci :
Lama banget, pembuatannya bisa diwakili nggak?
Surya :
Nggak bisa, lu kesini aja dulu. Tunggu 7-15 hari lagi. Jangan pesan tiket dulu.
-oOo-
Esoknya, Suci mendatangi kantor RumahWaktu untuk mengajukan cuti sekitar sebulan, demi menemani Fabian yang tengah berduka. Ia datang sendiri, tidak membawa laptop atau menenteng apa pun kecuali tas kecil dan wajah lelah. Ia mengetuk pintu ruangan General Manager RumahWaktu, Arman.
“Suci? Tumben ke sini, ada yang penting?” Arman menyambutnya heran.
“Maaf, Pak. Saya mau menyampaikan, Fabian pulang ke Belanda hari ini. Omanya wafat tadi pagi,” Suci menginformasikan.
Pria paruh baya itu sejenak diam, wajahnya murung. “Saya ikut berduka. Fabian sudah banyak membantu saya,”
“Iya, Pak. Saya juga mau izin cuti sebulan, kalau boleh, mau menyusul dia ke Belanda. Saya khawatir dengan Fabian,” Suci berkata jujur. “Meski saya nggak tahu perlu berapa hari mengurus visa di Jakarta.”
Arman menatapnya penuh simpati. Tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi lebih dalam. “Saya dengar soal apa yang kamu alami di acara kemarin. Saya minta maaf, Suci. Kami kecolongan.”
Arman sedikit menunduk dan menghela napas gusar, “Dan saya juga tahu kakakmu, Surya, bahkan datang langsung ke kantor Sentani Jaya. Harusnya perusahaan RumahWaktu ikut serta menindaklanjuti ini sebagai bentuk tanggung jawab. Sebagai GM, saya malu telat mengetahuinya.”
“Saya nggak bermaksud memperbesar masalah, Pak. Itu kakak saya yang ambil sikap sendiri,” Suci berkata pelan.
“Kamu nggak salah apa-apa, kamu korban. Perusahaan ini utang budi kepadamu. Apa yang bisa saya bantu, Ci?” terdengar ketulusan dari ucapan GM itu. “Kamu mau menyusul Fabian ke Belanda? Saya bisa urus surat pengantar dari korporat untuk mendapatkan visa kamu. Kamu bisa kerja dari sana, kan?”
Suci menatap General Manajer itu dengan penuh harap. “Bisa, Pak!”
“Dengan surat ini proses bisa dipercepat. Anggap aja ini penugasan remote jangka pendek,” Arman berdiri, menggapai dokumen. “Saya akan tandatangani sendiri. Ini bentuk tanggung jawab kami. Kamu pantas mendapatkan rasa aman.”
“Terima kasih, Pak,” Suci terharu. Semesta seakan membantunya menyusul kepergian Fabian ke Belanda.
-oOo-
Kediaman keluarga Meijer, setelah pemakaman Oma
Setelah pemakaman, kediaman keluarga Meijer terasa lengang. Suci datang memberi salam duka. Mama Fabian, wanita elegan berusia 50-an, memeluknya ramah. Papa Fabian, pria tinggi dengan perawakan akademisi, ikut menjabat tangan Suci dengan hangat.
“Saya Suci, teman Fabian. Datang untuk menyampaikan belasungkawa mewakili perusahaan RumahWaktu,” katanya dengan bahasa Inggris.
“Terima kasih sudah jauh-jauh datang dari Indonesia,” ujar sang mama terharu.
“Kamu mengindap di mana? Kami punya kamar kosong. Kalau tidak keberatan, tinggal di sini saja,” tambah Papa Fabian.
Fabian yang baru turun dari tangga terbelalak, mug-nya hampir terjatuh. “Tunggu! Kalian menawarkan Suci tinggal di sini?”
“Ia datang sendirian, Fabian,” jelas mamanya. “Dia butuh tempat aman.”
Suci melirik Fabian dengan senyum malu. “Jadi, aku boleh tinggal di sini?”
Fabian menghela napas. “Iya, boleh.”
Ketika Suci kembali ke hotel untuk mengambil barang, Fabian dipanggil orang tuanya ke ruang tengah. Ia duduk di sofa sambil menyipitkan mata heran.
Papa menatapnya serius, “Apa hubunganmu dengan gadis itu?”
“Rekan kerja,” jawab Fabian cepat.
Mama menyipit. “Rekan kerja rela menempuh delapan belas jam penerbangan untuk datang ke pemakaman Oma-mu?”
Fabian terdiam. “Kami… cukup dekat.”
Papa dan mama saling pandang, lalu tersenyum.
“Lihat, Pa! Dia sudah menemukan pengganti Akasia. Gadis tadi benar-benar imut, kulitnya kecokelatan, mirip-mirip Akasia,” mama berkata riang.
“Mama, jangan bandingkan dia dengan Akasia. Mereka berbeda,” Fabian menyela.
“Iya maaf,” mamanya merasa bersalah. “Intinya kamu cukup dekat dengan dia, kan?”
“Sepertinya dia gadis baik-baik. Jangan pernah sakiti dia Fabian! Pengorbanannya untukmu besar,” papa memperingatkan putranya itu dengan tegas.
“Nggak akan,” Fabian ciut nyalinya.
“Mama punya teman lagi, deh! Calon menantu,” mama tersenyum lebar.
“Belum tentu, Ma,” Fabian mematahkan asumsi Mamanya yang terlalu antusias. Ia menutup wajahnya pasrah.
-oOo-
Mentari bergulir ke ufuk barat, mewarnai langit dengan nuansa jingga keemasan. Daun-daun tua berguguran ditiup angin musim semi, sementara sepasang burung kecil bertengger di dahan. Fabian dan Suci duduk di bangku kayu yang menghadap ke danau kecil. Di taman Vondelpark itu mereka berbagi obrolan.
Fabian sengaja menutup kepalanya dengan hoodie jaketnya dalam-dalam. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu mungil Suci.
“Sekarang pinjam bahumu dulu ya, Ci. Gantian,” Fabian meminta izin singkat. Ia menyerongkan tubuhnya yang lelah secara emosional.
Suci tersentak, “Gantian? Memang kapan aku”
“Dulu waktu kamu tidur di mobil, perjalanan pulang ke Bogor,” Fabian menjawab sebelum Suci selesai bertanya.
Wajah Suci memerah, malu. Lalu ia menyadari bulir hangat yang berjatuhan dari wajah Fabian, itu air mata. Pemuda itu menangis diam-diam.
“Nggak apa-apa, nangis aja sampai puas. Take your time,” Suci berbisik maklum. Memberinya waktu untuk melepas kesedihannya yang baru saja ditinggal pergi Oma.
Langit Amsterdam terbentang biru lembut, dihiasi awan-awan tipis seperti sapuan kuas cat air. Daun-daun pohon mapel dan ek menari perlahan tertiup angin, menyaring sinar mentari menjadi pola cahaya yang menari-nari di tanah berumput. Aroma segar rumput yang baru dipotong memasuki penciuman Suci, bercampur harum bunga liar yang bermekaran di tepi danau. Suasana alami ini menenangkan jiwa.
Suci melihat di kejauhan, anak-anak bersepeda melintasi jalur berkelok, para pejalan kaki berbincang pelan, dan sepasang angsa putih meluncur tenang di permukaan air. Sesekali gemericik air terdengar ketika seekor bebek menyelam mencari makan, atau ketika angin menyapu riak danau, menciptakan ilusi permukaan kaca yang retak-retak indah.
“Taman ini benar-benar indah ya,” Suci bergumam mengisi keheningan.
“Waktu kecil, Oma sering ajak aku ke taman ini, duduk di bangku ini,” Fabian bercerita di sela isaknya. “Oma bilang, ‘Lihat orang-orang yang lewat, Fabian. Setiap langkah mereka adalah cerita. Nanti kamu akan menuliskan ceritamu sendiri.’”
“Dan sekarang kamu sedang menulisnya, dengan tinta keberanian di lembaran hari-hari hidupmu,” ucapan Suci membuat Fabian mengangkat wajahnya, menatap Suci lebih dalam. Hening menggantung di antara mereka, hening yang menentramkan hati, hangat, dan penuh pemahaman.
“Kamu tahu cara muncul di waktu yang tepat,” Fabian berkomentar.
“Aku cuma merasa kamu nggak boleh sendirian menghadapi semua ini,” ungkap Suci jujur. “Oma sepertinya baik sekali, pasti beliau orang yang menyenangkan. Dari cerita-ceritamu, dari senyummu waktu mengenang beliau,” ia menebak-nebak. “Padahal aku mau ketemu, tapi belum sempat.”
“Aku juga belum sempat bawa Oma ke tanah kelahirannya, negaramu. Aku kira aku masih punya waktu,” Fabian menyayangkan, masih terisak. “Oma selalu percaya aku bisa jadi sesuatu, bahkan saat aku sendiri ragu,” suaranya terdengar sengau.
“Oma masih akan selalu ada. Dia melihat kita, cuma beda alam aja,” Suci menyandarkan lagi kepala Fabian ke bahunya, lalu mengelus-elus kepala di balik hoodie itu. Fabian sempat terkejut, tapi kemudian mengguratkan senyum terhibur.
“Maaf ya, aku pasti kelihatan payah dan cengeng banget sekarang. Menyedihkan,” Fabian berasumsi.
“Nggak apa-apa. Kamu nangis juga masih ganteng kok,” seloroh Suci.
Fabian mengulum tawanya. “Kamu ya, masih aja bisa bikin aku ketawa.”
Ia menegakkan duduknya lagi, menatap Suci seakan makhluk ajaib. “Aku masih nggak percaya kamu ada di sini.”
“Jangankan kamu, aku aja nggak percaya,” Suci terkekeh. “Modal nekat aja… dan sepertinya semesta mendukung kedatanganku ke sini,” ia menatap langit luas, membiarkan angin membelai rambutnya lembut.
“Kamu… tahu alamat rumahku dari mana? Kok tahu tempat Oma dimakamkan?” Fabian bertanya-tanya, baru terpikirkan.
Suci mendadak gugup, “Ah itu ya… dari semesta,” ia berusaha menjawab seambigu mungkin. Tentu ia tidak ingin ketahuan menyadap ponsel pria Amsterdam itu diam-diam sejak di Indonesia.
Fabian tersenyum maklum, “Iya ya, kamu selalu punya rahasia.”
“Dari kantor kok.” Suci menepis kecurigaan Fabian. “Sekarang aku lapar, kamu punya rekomendasi tempat makan yang enak?” ia mengalihkan topik.
Fabian tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. “Ayo ikut!”
Kedua insan itu makan siang bersama di sebuah restoran dengan penuh canda, berbincang riang. Seolah kehadiran gadis itu cukup untuk membuat Fabian lupa akan lukanya.
-oOo-
Suci terperangah saat terbangun pagi hari di rumah keluarga Meijer, masih belum bisa percaya pengalamannya ini.
Ini bukan mimpi ya? Aku di Belanda? berkali-kali ia harus meyakinkan dirinya.
Ia menyapu pandangan ke sekeliling kamar itu, baru sadar betapa berbedanya kamar ini dengan kontrakannya.
Apa ini kamar yang dulu ditempati Akasia? rasa penasaran mulai menggelitik pikirannya. Sejujurnya ia iri dan cemburu dengan wanita itu.
Ia mengamati seluruh sudut ruangan dengan detail, memeriksa sisa kehadiran Akasia. Tangannya menjamah seluruh isi laci meja dan lemari, sesaat kemudian ia tersadar dengan kegilaannya.
Apa yang sedang aku lakukan sih? ia menepuk pipinya sendiri. Lantas ia memutuskan untuk mandi, demi membuat kesan baik selama berada di rumah keluarga Fabian.
Setelah Oma tiada, Fabian merasa rumah menjadi jauh lebih lengang, namun sejak gadis itu datang, rumah kembali semarak. Kehadiran Suci meramaikan rumah dengan keceriaannya. Bahkan keluarganya bisa sejenak lupa dengan duka mereka. Saat di kamar, Fabian masih sering termenung sendiri, teringat kenangan tentang Oma. Dadanya kembali sesak dan ingin menangis. Tetapi gadis itu selalu ribut mengajaknya keluar kamar. Suci kerap memaksanya untuk menemaninya memanfaatkan waktunya selama berada di Amsterdam. Seperti juga suara bel sepeda yang terdengar nyaring pagi ini, itu pasti ulah Suci lagi.
“Fabian, main yuuk! Kita jalan-jalan, naik sepeda. Lumutan loh kalau di dalam kamar terus!” seru gadis itu mengajaknya dari luar rumah. Orang tua Fabian yang mulai terbiasa hanya mengulum senyum menyaksikan tingkah gadis itu yang periang dan berisik, mirip Oma mereka.
Padahal baru kemarin Fabian membawa Suci ke taman Vondelpark, meski ia malah menangis di hadapannya. Bagaimana tidak. Ini bulan Agustus, pemandangan musim panas Amsterdam yang semarak sangat kontras dengan suasana hatinya. Saat matahari akhirnya muncul, suasana kota langsung berubah. Orang-orang berjalan keluar, duduk di taman atau di kafe luar ruangan, membawa keluarganya menikmati mentari yang jarang sekali hadir menghangatkan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Semua bahagia, namun tidak dengan Fabian; Oma yang periang dan bersinar secerah mentari itu sudah pergi untuk selamanya.
Suci menekan pipi Fabian dengan telunjuknya. Seketika Fabian tersadar dari lamunannya.
“Lagi mikirin apa? Pemandangan di luar bagus banget, lho!” tegur Suci. Mereka duduk berhadapan di kafe dengan pemandangan kanal.
“Iya, sayangnya Oma udah nggak di sini. Padahal Oma suka banget musim panas,” Fabian menyayangkan. Ia melemparkan pandangannya pada bunga hortensia yang tumbuh di pot tanaman di dekat sana. “Oma pernah bilang, bunga yang mekar paling lama adalah yang paling sabar menghadapi musim.”
Suci tersenyum tenang, “Dan kayaknya Oma tahu kamu akan tumbuh menjadi orang yang sabar.”
Fabian menarik napas, “Aku lagi mencoba. Tapi hari-hari tanpa Oma rasanya janggal, aku kehilangan arah, seperti Amsterdam tanpa kanal.”
“Kanal bisa surut, tapi jalannya, rumahnya, kan tetap ada. Kadang kita cuma perlu seseorang yang menemani untuk mengingatkan kita arah pulang,” balas Suci, suaranya lembut.
Pemuda Amsterdam itu berbalik menatapnya, “Kamu lagi promosiin diri sendiri, ya?”
Suci terkekeh, “Sedikit.”
Tatapan Fabian berubah, berat tapi hangat, “Kenapa kamu nekat ke sini, Suci? Sendirian, jauh, meninggalkan semuanya.”
Suci menatapnya balik dengan tenang, “Aku takut kamu kalut sendirian. Aku tahu rasanya kehilangan orang yang berharga, tanpa sempat bilang betapa kita menyayanginya.”
Pemuda itu terenyuh, “Jadi kamu datang… untuk memastikan aku nggak sendiri?” suaranya nyaris berbisik.
Suci tersenyum, “Dan untuk memastikan kamu nggak lupa, bahwa hidupmu tetap punya arah, meski orang yang dicintai telah pergi.”
Fabian memejamkan mata sejenak. Angin menyapu rambutnya pelan. Lalu dengan perlahan ia meraih tangan Suci. Genggamannya tenang, seperti seorang pelaut yang akhirnya menemukan mercusuar di kejauhan. “Terima kasih karena kamu datang.”
Suci cemberut, “Aku nggak mau ucapan terima kasih. Aku cuma mau kamu tahu, aku ada di sini untuk kamu.”
Dan di kafe yang hangat itu kedua hati pun menghangat. Di tengah aroma bunga dan duka, dua hati berlabuh dalam diam. Dengan kehadiran yang lebih dalam dari apa pun.
serenarara 












Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.
Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji