Loading...
Logo TinLit
Read Story - Waktu Mati : Bukan tentang kematian, tapi tentang hari-hari yang tak terasa hidup
MENU
About Us  

Ada palu yang akan diketuk. Tapi sebelum itu, ada luka yang akan dibuka. Hari ini bukan soal siapa yang salah. Tapi siapa yang cukup kuat untuk berdiri, bahkan ketika kebenaran tak berpihak. Apa pun yang terjadi, hidup terus berjalan. Mungkin tak semua bisa diselamatkan, tapi selalu ada ruang untuk menebus, untuk berubah, dan untuk tidak menyerah.

**

Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya—bukan karena hujan, tapi karena sesuatu yang menggantung di udara, tak kasat mata. Matahari memang sudah tinggi, sinarnya menembus tirai jendela, tapi tak cukup kuat untuk mengusir hawa dingin yang diam-diam bersarang di ruang perawatan Bara.

Kami duduk bertiga: aku, Mama, dan Papa. Tak banyak bicara. Hanya suara mesin infus dan detak jam dinding yang terdengar jelas. Bara bersandar lemah di tempat tidurnya, wajahnya pucat, selimut ditarik rapat hingga ke dadanya. Matanya menatap langit-langit, tapi tak benar-benar melihat. Seolah ia sedang jauh dari tempat ini, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Lalu terdengar ketukan di pintu. Seorang suster masuk lebih dulu, lalu memberi kode halus. Dua pria menyusul di belakangnya. Pakaian mereka rapi. Salah satunya membawa map, yang satunya lagi membawa sebuah tas kecil berisi peralatan rekam.

“Selamat pagi. Kami dari unit kecelakaan lalu lintas Polres. Kami di sini untuk mengambil keterangan awal dari saudara Bara Wicaksana terkait insiden yang terjadi hari Jumat lalu.” Kata salah satu dari mereka, nada bicaranya tenang, netral.

Mama menegang. Papa berdiri, mencoba tetap sopan. Bara hanya mengangguk kecil.

“Saya bisa lanjut bicara di sini, atau saudara Bara minta sedikit privasi,” tanya petugas itu pelan.

“Biar saya di sini, keluarga saya boleh dengar” jawab Bara cepat.

Mereka duduk. Mikrofon kecil diletakkan di atas meja dekat tempat tidur. Lalu satu pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan—tenang, prosedural, tapi menusuk.

Jam berapa kamu berkendara? Apa kamu sempat mengantuk? Sudah berapa jam kamu tidak tidur? Apakah kamu dalam tekanan atau pengaruh obat tertentu?

Bara menjawab semuanya dengan jujur. Tidak mencoba membela diri. Tidak membelokan fakta. Hanya menunduk dan menjawab.

Aku bisa melihat matanya mulai memerah, tapi dia tidak menangis. Dia menjawab seperti seseorang yang siap menerima apa pun yang datang setelah ini.

Setelah hampir tiga puluh menit, sesi itu selesai. Salah satu petugas menutup mapnya dan berkata, “Untuk sementara, Saudara Bara akan diminta wajib lapor setelah kondisi medis memungkinkan. Kami juga akan melanjutkan proses sesuai hasil penyelidikan. Akan ada pemberitahuan resmi dalam beberapa hari ke depan.”

“Apakah... apakah dia akan ditahan?” tanya Mama, nyaris berbisik.

Petugas menatapnya lama, lalu menjawab hati-hati, “Kami tidak bisa memastikan sekarang, Bu. Tapi kami akan mengikuti prosedur yang ada.”

Mereka pamit. Ruangan kembali sepi. Bara menunduk, lama. Lalu dia berkata, pelan sekali, “Ra... aku beneran ngebunuh orang?.”

Aku memegang tangannya erat. “Belum tentu Bang, semuanya masih dalam tahap pemeriksaan. Gak usah terlalu merasa bersalan, kamu masih punya waktu buat bertanggung jawab.., dengan cara yang benar.”

Bara hanya diam, tapi dalam diamnya, aku tahu. Ini akan jadi perjalanan panjang yang sulit untuk dilewati.

Sehari hari setelah pemeriksaan awal itu, Bara diperbolehkan untuk pulang. Tapi.. di hari yang sama pula nama Bara mulai muncul di berita lokal. “Mahasiswa Tabrak Kendaraan Lain, Satu Meninggal Dunia.” Ada foto mobilnya yang ringsek. Ada nama lengkapnya. Dan ada komentar-komentar yang menusuk hati.

“Anak pejabat mana lagi yang mau lolos dari tanggung jawab?; Kalau nggak sanggup nyetir, jangan maksa; Berapa nyawa lagi harus melayang karena anak-anak yang cuma tahu kuliah di kertas?” Aku membaca semuanya diam-diam, di pojok ruang keluarga, dengan layar ponsel yang kuturunkan tiap kali Mama lewat.

Papa mulai jarang bicara. Sejak kejadian itu, ia lebih sering duduk diam di teras belakang, memandangi langit yang tak menjawab apa-apa. Tatapannya kosong, seperti mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu bentuknya. Mama sibuk dengan telepon, menjawab pertanyaan keluarga jauh yang mendadak merasa dekat. Pesan-pesan dari tetangga pun berdatangan. Katanya prihatin, tapi nadanya seperti menusuk, penuh rasa ingin tahu yang dibungkus empati setengah matang.

Sementara Bara.., dia hanya bisa mengurung diri di dalam kamar. Pintunya tertutup rapat, seolah memisahkan segalanya—dunia luar, kami, dan dirinya sendiri. Setiap kali Mama mengetuk dan mengingatkan untuk makan, tak pernah ada jawaban. Setiap kali aku lewat di depannya, tak ada suara, hanya bayangan lampu yang menyala dari celah bawah pintu.

Malam itu, dari balik pintu kamar, kudengar suara tangis Mama. Pelan, teredam, tapi cukup untuk membuat dadaku ikut nyeri. Papa mematikan televisi tepat saat berita malam mulai menayangkan cuplikan tentang “kasus kecelakaan mahasiswa tingkat akhir.” Dan aku… duduk sendiri di meja makan, hanya ditemani detik jam dinding dan denting sendokku sendiri. Rumah kami memang tak pernah benar-benar ramai, tapi malam itu… sunyinya terasa lain. Sunyi yang menggantung di udara. Sunyi yang memantulkan semua hal yang tak sanggup kami ucapkan.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari teman sekolah: “Ra, itu Abangmu ya yang kecelakaan? Di berita rame banget.”

Aku menatap pesan itu lama. Jemariku ragu ingin membalas, tapi rasanya tak ada kata yang tepat. Bukan karena aku malu, melainkan karena aku sendiri tak tahu harus berkata apa. Kudengar langkah kaki pelan dari ruang tamu. Mama muncul, matanya sembab. Dia duduk di sebelahku tanpa berkata-kata. Hanya menatap piring kosong di depanku.

“Ra, mungkin lebih baik kita tidak keluar dulu untuk sementara. Mungkin sebaiknya kamu izin sekolah dulu sampai keadaan tenang” katanya pelan.

“Jadi sekarang, kita kayak mengurung diri Ma?” tanyaku lirih.

“Iya.. Biar nggak makin ramai. Wartawan makin banyak. Papa juga udah ditanya kantor soal ini.”

Aku menunduk. Rasanya dunia kami yang dulu sederhana dan aman perlahan diacak-acak. Tidak ada ruang lagi untuk bernapas bebas tanpa pandangan, bisik-bisik, atau berita baru yang terus bermunculan.

“Mereka nggak tahu Bara kayak apa sebenarnya,” kataku akhirnya.

Mama mengangguk, pelan. “Iya, mereka cuma tahu yang ditulis orang. Tapi sekarang, kita gak bisa apa-apa selain menghindar dulu Ra.”

Kami diam lagi. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Setelah makan malam yang sunyi, tiba-tiba Papa berdiri dari kursinya. Tangannya menggenggam ponsel erat, jemarinya tampak menegang. Tak ada banyak kata. Tak ada penjelasan. Hanya satu kalimat lirih yang menjatuhkan sunyi lebih dalam daripada sebelumnya:

“Besok pagi, Bara harus ke kantor polisi. Pemeriksaan pertama.”

Setelah kalimat itu Papa ucapkan, suasana seperti membeku. Aku menahan napas, menatap wajah Mama yang tiba-tiba pucat, matanya berkilat seperti berusaha menahan air mata. Dan Bara, masih diam di dalam kamarnya, tenggelam bersama pikiran dan rasa bersalah.

Mama akhirnya angkat suara, pelan tapi penuh getar, “Kenapa harus begini Pa? Apa tidak ada cara lain?”

Papa menggeleng, wajahnya berat, “Ini harus dilalui. Supaya semuanya jelas.”

Aku hanya bisa duduk terpaku, mencoba merangkum semua rasa yang bergejolak dalam dada. Tak tahu harus berkata apa, selain berharap Bara kuat menghadapi semuanya.

**

Pagi itu datang tanpa senyum. Udara terasa berat, seolah setiap hembusan angin membawa bisikan ketakutan yang tak bisa kujelaskan. Cahaya matahari menyelinap pelan lewat jendela, tapi tidak mampu mengusir gelap yang menyesak di dada. Di jalan yang lurus dan mulai menyempit, mobil kami melaju menyusuri jalan-jalan sunyi yang seolah berbisik tentang kisah ini. Kami tiba di gedung kantor dengan cat tembok yang mulai pudar, dan papan nama yang berdiri tegak, mengingatkan bahwa semua ini benar-benar nyata: ‘POLRES METRO - UNIT LAKA LANTAS’.

Kami masuk. Petugas menyambut dengan senyum yang dipaksakan sopan. Bara dipersilakan duduk sendiri di ruangan kaca. Aku melihat dari luar. Tak bisa mendengar apa pun, tapi bisa menebak setiap pertanyaan yang dilontarkan.., dan beban di baliknya.

Seorang penyidik muda keluar, menghampiri Papa dan Mama. “Kami akan melakukan pemeriksaan bertahap, Pak. Izin penyitaan SIM dan dokumen kendaraan sudah kami proses. Kami juga sedang menunggu hasil visum dan laporan lengkap dari pihak rumah sakit.”

Papa mengangguk kaku. “Apa Bara akan... ditahan?”

“Untuk saat ini belum, Pak. Tapi jika nanti statusnya berubah menjadi tersangka resmi, itu bisa terjadi.”

Mama menggenggam tanganku. Kuat. Jarinya yang biasanya lembut kini mencengkeram penuh kecemasan, seolah mencoba menahan badai yang mengamuk di dalam hatinya. Wajahnya pucat, matanya memerah menahan air mata yang hampir tumpah, bibirnya bergetar tanpa suara. Ada ketakutan yang dalam terpancar dari sorot matanya—takut kehilangan, takut menghadapi kenyataan yang menggantung di depan kami, dan sedih yang begitu pekat hingga membuat ruang itu terasa sesak.

Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam. Saat Bara keluar, wajahnya pucat. Tapi dia memaksakan senyum.

“Nggak separah yang aku kira,” katanya pelan padaku. “Tapi... aku tahu ini baru mulai.”

Tapi setelah kata-kata itu, tak ada lagi tawa. Tak ada lagi canda. Yang ada hanyalah hari-hari panjang yang dipenuhi panggilan, sidang, dan tanya jawab tanpa henti. Setiap langkah Bara menuju ruang pemeriksaan terasa semakin berat, seolah ada beban yang terus ditambah di pundaknya, tanpa ada yang menawarkan bantuan.

Sidang pertama dimulai dua minggu setelah pemeriksaan. Kami duduk di ruang pengadilan yang penuh, namun terasa sangat sunyi. Suara ketukan palu hakim menghentikan keheningan, dan aku merasa detak jantungku ikut berdegup keras.

Bara duduk di sebelah pengacara, matanya redup, seolah tak sanggup menatap siapa pun. Mama, Papa, dan aku berdiri di belakangnya. Kami terdiam. Dan setengah mati berusaha tenang setiap kali hakim bertanya dan Bara hanya menjawab dengan pelan, seperti suara yang hilang di antara kerumunan.

Setelah sidang pertama, ketegangan mulai terasa seperti belenggu yang semakin mengikat. Wartawan terus datang ke pengadilan, mengerubungi kami seperti burung pemangsa. Tanya jawab yang selalu sama. Judul berita yang terus berulang. “Mahasiswa Tabrak Lari, Keluarga Terperosok dalam Krisis.”

Di rumah, suasana berubah menjadi sunyi yang berat, setiap langkah terasa dipantau oleh bayang-bayang ketakutan dan rasa bersalah yang tak terucapkan. Bara sudah ditahan di Polres Metro, tak ada bagian darinya yang tertinggal di rumah ini, selain sisa-sisa kehadirannya yang menggantung di udara: bau sabun batang kesukaannya di kamar mandi, sandal jepit yang belum sempat disingkirkan dari dekat pintu, dan jaket hitamnya yang dibiarakan begitu saja di atas ranjang kamarnya.

Kemudian, minggu keempat, sidang terakhir itu tiba. Sidang ini bukan lagi tentang penyelidikan, bukan tentang mencari kebenaran. Ini tentang keputusan. Tentang apakah Bara akan menanggung semua akibat dari kecelakaan itu, meski dia tidak sengaja, meski tidak ada niat jahat dalam dirinya.

Di ruang sidang itu, Bara akhirnya dihadapkan pada fakta yang tak bisa dipungkiri, bahwa ia adalah penyebab dari kematian seorang pengemudi. Dan meski tekanan medis dan kecelakaan yang ia alami jadi pertimbangan, keputusan hakim akhirnya membuat semuanya terasa membeku.

“Terdakwa Bara Wicaksana,” suara hakim bergema, “dinyatakan bersalah atas kelalaian yang mengakibatkan kematian. Karena faktor-faktor yang meringankan, hukuman penjara dijatuhkan selama lima tahun dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah dua tahun.”

Aku tidak tahu harus merasa lega atau justru lebih hancur. Bara terduduk lemas. Dia tidak menangis, hanya menatap kosong ke depan. Mungkin sudah tidak ada air mata yang tersisa lagi dalam dirinya.

Di wajahnya, tergambar jelas tentang Mama, Papa, aku dan skripsi yang hampir selesai, bab terakhir yang hampir siap dia kumpulkan. Seharusnya itu menjadi pencapaian besar dalam hidupnya, titik balik menuju masa depan yang lebih baik, menuju gelar yang selama ini dia impikan. Tapi sekarang, semua itu terasa begitu jauh. Harapan tentang kuliah, yang dulunya memberi arah, kini sirna begitu saja. Semua yang telah dia capai seolah tenggelam dalam bayang-bayang kesalahan yang tak bisa dia elakkan.

Kami semua diam. Tidak ada yang bisa mengucapkan apa pun setelah itu.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (13)
  • sabitah

    ga ada typo, bahasanya puitis tapi ringan, setiap bab yang di baca dengan mudah membawa masuk ke cerita. ceritannya juga unik, jarang banget orang mengedukasi tentang KESEHATAN MENTAL berbalut romance. dari bab awal sampe bab yang udah di unggah banyak kejutannya (tadinya nebak gini taunya gini). ini cerita bagus. penulisnya pintar. pintar bawa masuk pembaca ke suasananya. pintar ngemas cerita dengan sebaik mungkin. pintar memilih kata dan majas. kayaknya ini bukan penulis yang penuh pengalaman...

    Comment on chapter PROLOG
  • romdiyah

    Ga sabaarrrrr selanjutnya gimana?? Mendebarkan banget ceritanya. Aaa bagus bangett ,😭😍😍😍😍😍

  • limbooo

    Baru di prolog udah menarik banget cerita ini 😍

    Comment on chapter PROLOG
Similar Tags
Sebab Pria Tidak Berduka
377      302     1     
Inspirational
Semua orang mengatakan jika seorang pria tidak boleh menunjukkan air mata. Sebab itu adalah simbol dari sebuah kelemahan. Kakinya harus tetap menapak ke tanah yang dipijak walau seluruh dunianya runtuh. Bahunya harus tetap kokoh walau badai kehidupan menamparnya dengan keras. Hanya karena dia seorang pria. Mungkin semuanya lupa jika pria juga manusia. Mereka bisa berduka manakala seluruh isi s...
Taruhan
145      128     0     
Humor
Sasha tahu dia malas. Tapi siapa sangka, sebuah taruhan konyol membuatnya ingin menembus PTN impianβ€”sesuatu yang bahkan tak pernah masuk daftar mimpinya. Riko terbiasa hidup dalam kekacauan. Label β€œbad boy madesu” melekat padanya. Tapi saat cewek malas penuh tekad itu menantangnya, Riko justru tergoda untuk berubahβ€”bukan demi siapa-siapa, tapi demi membuktikan bahwa hidupnya belum tama...
The Final Promise
1466      351     0     
Romance
The Final Promise menceritakan kisah Ardan dan Raya, pasangan yang berjuang menghadapi kenyataan hidup yang pahit. Raya, yang tengah berjuang dengan penyakit terminal, harus menerima kenyataan bahwa waktunya bersama Ardan sangat terbatas. Meski begitu, mereka berdua berusaha menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan, berjuang bersama di tengah keterbatasan waktu. Namun, takdir membawa Ardan ...
Langkah Pulang
2169      1389     7     
Inspirational
Karina terbiasa menyenangkan semua orangkecuali dirinya sendiri. Terkurung dalam ambisi keluarga dan bayang-bayang masa lalu, ia terjatuh dalam cinta yang salah dan kehilangan arah. Saat semuanya runtuh, ia memilih pergi bukan untuk lari, tapi untuk mencari. Di kota yang asing, dengan hati yang rapuh, Karina menemukan cahaya. Bukan dari orang lain, tapi dari dalam dirinya sendiri. Dan dari Tuh...
7Β°49β€²S 112Β°0β€²E: Titik Nol dari Sebuah Awal yang Besar
1733      1269     1     
Inspirational
Di masa depan ketika umat manusia menjelajah waktu dan ruang, seorang pemuda terbangun di dalam sebuah kapsul ruang-waktu yang terdampar di koordinat 7Β°49β€²S 112Β°0β€²E, sebuah titik di Bumi yang tampaknya berasal dari Kota Kediri, Indonesia. Tanpa ingatan tentang siapa dirinya, tapi dengan suara dalam sistem kapal bernama "ORIGIN" yang terus membisikkan satu misi: "Temukan alasan kamu dikirim ...
Unexpectedly Survived
760      641     0     
Inspirational
Namaku Echa, kependekan dari Namira Eccanthya. Kurang lebih 14 tahun lalu, aku divonis mengidap mental illness, tapi masih samar, karena dulu usiaku masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, baru saja dinyatakan lulus SD dan sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karenanya, psikiater pun ngga menyarankan ortu untuk ngasih tau semuanya ke aku secara gamblang. ...
Paint of Pain
6950      4327     38     
Inspirational
Vincia ingin fokus menyelesaikan lukisan untuk tugas akhir. Namun, seorang lelaki misterius muncul dan membuat dunianya terjungkir. Ikuti perjalanan Vincia menemukan dirinya sendiri dalam rahasia yang terpendam dalam takdir.
Tok! Tok! Magazine!
243      216     1     
Fantasy
"Let the magic flow into your veins." β€’β€’β€’ Marie tidak pernah menyangka ia akan bisa menjadi siswa sekolah sihir di usianya yang ke-8. Bermodal rasa senang dan penasaran, Marie mulai menjalani harinya sebagai siswa di dua dimensi berbeda. Seiring bertambah usia, Marie mulai menguasai banyak pengetahuan khususnya tentang ramuan sihir. Ia juga mampu melakukan telepati dengan benda mat...
Bisikan yang Hilang
156      139     3     
Romance
Di sebuah sudut Malioboro yang ramai tapi hangat, Bentala Niyala penulis yang lebih suka bersembunyi di balik nama pena tak sengaja bertemu lagi dengan Radinka, sosok asing yang belakangan justru terasa akrab. Dari obrolan ringan yang berlanjut ke diskusi tentang trauma, buku, dan teknologi, muncul benang-benang halus yang mulai menyulam hubungan di antara mereka. Ditemani Arka, teman Radinka yan...
Di Punggungmu, Aku Tahu Kau Berubah
13293      5806     3     
Romance
"Aku hanya sebuah tas hitam di punggung seorang remaja bernama Aditya. Tapi dari sinilah aku melihat segalanya: kesepian yang ia sembunyikan, pencarian jati diri yang tak pernah selesai, dan keberanian kecil yang akhirnya mengubah segalanya." Sebuah cerita remaja tentang tumbuh, bertahan, dan belajar mengenal diri sendiri diceritakan dari sudut pandang paling tak terduga: tas ransel.