Loading...
Logo TinLit
Read Story - Imajinasi si Anak Tengah
MENU
About Us  

Hari-hari berjalan seperti biasanya. Hanya saja, ada yang berubah. Ada sebuah perasaan baru yang tertanam, teman baru, dan kisah baru bersama lelaki yang kini disebut Tara sebagai kekasihnya. Ia tetap berangkat bekerja seperti biasa; kadang menaiki angkot, kadang dijemput Awan. Begitu pula saat pulang. Meski hubungan mereka masih tersembunyi, karena Tara belum siap jika rekan-rekan kantornya mengetahuinya, mereka tetap bekerja seperti biasa, tanpa bumbu kebucinan atau hal-hal yang bisa mencuri perhatian.

Hari itu, Tara sibuk menyusun laporan penjualan dan merangkum summary akhir. Ia mengerjakannya dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Namun di tengah-tengah kesibukannya, gejolak itu kembali hadir. Menakutkan, tak diundang, dan tak bisa dicegah. Dunianya mendadak oleng, warna-warna di sekelilingnya memudar menjadi abu-abu. Jantungnya berdetak tak menentu, tubuhnya melemas, pandangannya kabur, dan kepalanya terasa berputar tanpa arah.

Tara memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri. Psikosomatis itu datang lagi, menyergap bagian tubuh yang rapuh. Ia meringis, menunduk, menahan semuanya sendiri. Tak ia sadari, Awan dari kejauhan sesekali melirik, memperhatikan gerak-geriknya. Tapi demi menjaga rahasia mereka, Awan memilih diam dan mengetik sesuatu di ponselnya.

Sebuah notifikasi muncul di layar Tara.

| "Ra, kamu nggak apa-apa? Sakit?"

Tara mengangkat wajah, menatap Awan sejenak. Pandangannya sedih, namun ia mencoba tegar. Lelaki itu belum tahu, bahwa ada kekurangan dalam diri Tara, badai yang sulit dijelaskan kepada siapa pun. Badai yang hanya Tara sendiri yang tahu betapa mengerikannya.

Tara tersenyum tipis dan membalas pesan itu.

| "Nggak apa-apa kok."

| "Serius???"

| "Iya."

Awan tak membalas lagi, mungkin karena Tara berusaha terlihat baik-baik saja. Ia kembali menatap layar laptopnya, berpura-pura fokus pada pekerjaan. Padahal, di bawah meja, kakinya sudah gemetaran dan tak bisa diam.

Tapi gelombang itu makin menggila. Bukan memberi jeda, ia justru makin menyiksa. Tara tak sanggup lagi menahan, ia bangkit dan berlari ke kamar mandi. Pintu ditutup cepat-cepat, lalu ia berjongkok di sana, menangis dalam diam. Membiarkan kepanikan itu menguasai tubuh dan pikirannya.

Ketika merasa tak sanggup lagi, Tara menyerah. Ia mengetik pesan kepada Nura. Nura adalah satu-satunya orang di kantor yang tahu soal kecemasan dan kepanikan yang sering menyerangnya.

Tak lama, pintu toilet diketuk. Nura datang, membawa segelas air putih.

"Ra, jangan jongkok di sini," ucap Nura pelan, lalu membantu Tara yang sudah setengah lemas menuju kursi di dekat toilet. "Nih, minum dulu."

Tara menerima air itu perlahan, mencoba menata napasnya yang tercekat. Diteguknya air itu sedikit demi sedikit, seolah air itulah satu-satunya harapan untuk kembali waras.

"Udah baikan?" tanya Nura, memastikan.

Tara mengangguk lemas. "Makasih ya, Nura."

Di saat yang bersamaan, Awan keluar dari ruangannya dan melihat Tara yang terduduk lemah bersama Nura. Pandangannya tertuju pada kekasihnya yang tampak rapuh, tapi ia tetap bersikap biasa. Diam-diam, ia memperhatikan, khawatir Nura menyadari.

Tara yang tadi sempat berkata bahwa ia baik-baik saja, kini merasa bersalah. Seolah ia telah membohongi Awan. Dalam hatinya, ia berharap semoga Awan bisa memahami, meski tak pernah benar-benar mengerti.

 

                                     ***

 

Sore itu, Tara pulang bersama Awan seperti biasa. Ia menunggu di halte depan kantor, menanti lelaki itu datang menjemputnya. Tak seperti biasanya, Tara yang selalu diantar pulang tanpa perantara apa-apa. Tapi kali ini, motor Awan berhenti di depan sebuah kafe rooftop delapan lantai di Jakarta.

Tara terperangah. Di hadapannya, city light mulai menyala seiring langit yang meredup. Mereka duduk di sudut kafe, posisi terbaik untuk menyaksikan pemandangan kota. Tak lama, segelas matcha dan kopi tersaji di hadapan mereka. Tara menyeruput matcha favoritnya perlahan.

"Ra, tadi kamu kenapa?" tanya Awan tiba-tiba.

Tara tak menyangka, bahwa alasan mereka ke sini adalah untuk membicarakan siang tadi. Ia sempat kikuk, tapi ketika tangan Awan menyentuh punggung tangannya dengan lembut, ada keberanian yang muncul begitu saja.

"Aku punya anxiety disorder, Mas."

"Anxiety disorder? Cemas maksudnya?" Awan bertanya, bingung.

Tara mengangguk. "Kurang lebih begitu. Anxiety itu sebenarnya cuma rasa cemas biasa, tapi dia sulit diusir. Lama-lama dia menumpuk, jadi panik. Rasanya kayak meledak dari dalam."

Awan diam. Mencerna.

"Tadi itu, kamu panik?"

Tara kembali mengangguk. "Panik karena anxiety tuh beda, Mas. Bikin kita takut akan hal-hal yang nggak pasti. Takut gila, takut hilang kendali, bahkan... takut mati."

"Sejak kapan kamu ngerasain itu?"

"Mungkin udah setahun, atau lebih. Aku nggak ingat persisnya," jawab Tara sambil menunduk.

"Dan tahu nggak?" lanjutnya lirih, "Pertama kali diserang panik, aku sampai masuk IGD. Satu keluarga panik."

Awan mendengarkan. Diam, namun tak acuh. Tara terus bercerita tentang bagaimana semuanya bermula, bagaimana rasanya hidup dengan kecemasan, dan bagaimana ia perlahan-lahan belajar untuk menghadapinya. Tak ada penghakiman. Hanya anggukan dan tatapan yang mencoba memahami.

"Maaf ya, tadi aku nggak tahu... Maaf karena nggak peka."

Hati Tara hampir meleleh. Lelaki ini tak salah apa-apa, tapi ia meminta maaf seolah ikut merasa bersalah atas luka yang tak ia ciptakan.

Tara menggeleng. "Kenapa harus minta maaf?"

Awan menatap langit malam yang mulai kelam. Di sana, tak ada bintang, hanya awan tebal yang menutupi purnama.

"Aku nggak tahu apa itu anxiety disorder, atau panic attack. Tapi setelah denger cerita kamu, aku percaya... semua yang kamu rasain itu nyata. Kamu nggak ngarang. Dan mulai sekarang, kalau kamu butuh seseorang... kamu boleh cari aku."

 

                                     ***

 

Tara menatap lelaki itu, seakan ingin memastikan kalau yang baru saja ia dengar bukan hanya ucapan pelipur lara. Tapi Awan tak berpaling, justru menatapnya dengan keyakinan yang baru, seperti seseorang yang tengah mencoba memahami lautan yang tak pernah ia selami sebelumnya.

Ada jeda. Bukan karena hening, tapi karena hati Tara pelan-pelan meleleh dalam diam. Ucapan Awan tadi terasa lebih hangat dari segelas matcha, lebih dalam dari city light yang kini berkelap-kelip di bawah sana.

"Ra..." ucap Awan lagi, kali ini suaranya lebih lirih, lebih jujur. "Kamu gak sendirian ya. Aku tahu aku bukan penyembuh, bukan obat, tapi aku mau jadi seseorang yang kamu tahu bisa kamu andalkan... kapan pun kamu ngerasa dunia kamu runtuh."

Tara menggigit bibirnya pelan. Bukan karena sedih, tapi karena matanya mulai terasa berat oleh air yang sebentar lagi jatuh.

"Terima kasih, Mas," bisiknya.

Malam itu, langit tampak biasa saja. Tak ada bintang, tak ada pertanda apa pun. Tapi bagi Tara, malam itu adalah langit paling istimewa. Di bawahnya, ia menemukan seseorang yang tak lari saat tahu dirinya retak. Seseorang yang memilih tetap tinggal, meski tak mengerti seluruh isi labirin yang ada dalam dirinya.

 

                                     ***

 

Hari-hari setelahnya berjalan seperti biasanya. Masih dengan tumpukan laporan, deadline, dan kopi matcha saset yang setia menemaninya. Tapi ada yang sedikit berbeda: kini Tara tak merasa sendirian. Setidaknya, ia tahu ada seseorang yang bisa ia tuju ketika perasaan-perasaan aneh itu kembali mengetuk tanpa permisi.

Ada masa ketika panik itu kembali menyerang, namun Awan akan langsung mengirim pesan seperti,

| "Kamu lagi apa? Tarik napas, pelan-pelan. Aku di sini."

Kadang, tak perlu kehadiran secara fisik. Cukup satu pesan, cukup satu suara, cukup satu keyakinan bahwa ada yang peduli, itu sudah membuat Tara merasa lebih kuat.

Ia memang masih berjuang, dan mungkin akan terus begitu. Tapi kini, ia tahu, perjuangan itu tak harus dilalui sendirian.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • yuliaa07

    real anak tengah sering terabaikan tanpa ortunya sadarii

    Comment on chapter Bagian 4: Sebuah Kabar Baik
  • pradiftaaw

    part damai tapi terjleb ke hati

    Comment on chapter Bagian 18: Teman yang Bernama Cemas
  • langitkelabu

    tidak terang tapi juga tidak redup:)

    Comment on chapter PROLOG
  • jinggadaraa

    gak cuman diceritain capeknya anak tengah ya, tapi juga ada selip2an anak sulung dan bungsunya:) the best cerita ini adil

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rolandoadrijaya

    makasih Tara sudah kuat, makasih juga aku

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rolandoadrijaya

    gimana gak ngalamin trauma digunjang gempa sendirian:('(

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rayanaaa

    seruu banget

    Comment on chapter EPILOG
  • rayanaaa

    Oke, jadi Tara itu nulis kisahnya sendiri ya huhuu

    Comment on chapter EPILOG
  • auroramine

    ENDING YANG SANGAT MEMUASKAN DAN KEREN

    Comment on chapter EPILOG
  • jisungaa0

    nangis banget scene inii

    Comment on chapter Bagian 30: Renungan
Similar Tags
Dark Fantasia
5795      1970     2     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
LATE
608      398     1     
Short Story
Mark found out that being late maybe is not that bad
JURANG
1091      565     5     
Short Story
Adikku memang orang yang aneh. Adikku selalu beri pertanda aneh untuk kehidupanku. Hidupku untuk siapa? Untuk adikku atau calon suamiku tercinta?
About Us
2988      1258     2     
Romance
Cinta segitiga diantara mereka...
Gerhana di Atas Istana
29355      8465     2     
Romance
Surya memaksa untuk menumpahkan secara semenamena ragam sajak di atas kertas yang akan dikumpulkannya sebagai janji untuk bulan yang ingin ditepatinya kado untuk siapa pun yang bertambah umur pada tahun ini
Salju di Kampung Bulan
2292      1102     2     
Inspirational
Itu namanya salju, Oja, ia putih dan suci. Sebagaimana kau ini Itu cerita lama, aku bahkan sudah lupa usiaku kala itu. Seperti Salju. Putih dan suci. Cih, aku mual. Mengingatnya membuatku tertawa. Usia beliaku yang berangan menjadi seperti salju. Tidak, walau seperti apapun aku berusaha. aku tidak akan bisa. ***
The War Galaxy
14454      3439     4     
Fan Fiction
Kisah sebuah Planet yang dikuasai oleh kerajaan Mozarky dengan penguasa yang bernama Czar Hedeon Karoleky. Penguasa kerajaan ini sungguh kejam, bahkan ia akan merencanakan untuk menguasai seluruh Galaxy tak terkecuali Bumi. Hanya para keturunan raja Lev dan klan Ksatrialah yang mampu menghentikannya, dari 12 Ksatria 3 diantaranya berkhianat dan 9 Ksatria telah mati bersama raja Lev. Siapakah y...
Gunay and His Broken Life
11342      4162     0     
Romance
Hidup Gunay adalah kakaknya. Kakaknya adalah hidup Gunay. Pemuda malang ini telah ditinggal ibunya sejak kecil yang membuatnya secara naluri menganggap kakaknya adalah pengganti sosok ibu baginya. Hidupnya begitu bergantung pada gadis itu. Mulai dari ia bangun tidur, hingga kembali lagi ke tempat tidur yang keluar dari mulutnya hanyalah "kakak, kakak, dan kakak" Sampai memberi makan ikan...
One-Week Lover
2386      1318     0     
Romance
Walter Hoffman, mahasiswa yang kebosanan saat liburan kuliahnya, mendapati dirinya mengasuh seorang gadis yang entah dari mana saja muncul dan menduduki dirinya. Yang ia tak tahu, adalah fakta bahwa gadis itu bukan manusia, melainkan iblis yang terlempar dari dunia lain setelah bertarung sengit melawan pahlawan dunia lain. Morrigan, gadis bertinggi badan anak SD dengan gigi taring yang lucu, meng...
ZAHIRSYAH
7542      2333     5     
Romance
Pesawat yang membawa Zahirsyah dan Sandrina terbang ke Australia jatuh di tengah laut. Walau kemudia mereka berdua selamat dan berhasil naik kedaratan, namun rintangan demi rintangan yang mereka harus hadapi untuk bisa pulang ke Jakarta tidaklah mudah.