Loading...
Logo TinLit
Read Story - Ikhlas Berbuah Cinta
MENU
About Us  

"Ra, kenapa hidupku harus seperti ini? Kenapa harus kurasakan betapa pahitnya hidup ini? Kenapa mereka sekejam itu?" tanyaku sambil menangis.

Aku terus melontarkan pertanyaan walaupun sahabat terbaikku tidak menjawab. Zahra langsung mendekapku yang masih berlinang air mata. Dia mengusap punggungku untuk memberikan ketenangan. Aku bersyukur bahwa pada saat terpuruk seperti ini, Zahra selalu ada. Tidak terbayangkan jika harus kehilangan Zahra juga.

"Tenangkan dirimu, Dhi. Ada aku disini," hibur Zahra menenangkanku.

"Kamu gak akan ninggalin aku juga, kan?" tanyaku sambil menatap wajahnya. 

"Sudahlah, Dhi. Kamu harus tenang dulu," pintanya. Sayangnya, jawabannya membuatku tidak puas.

"Kalau kamu ninggalin aku, siapa lagi yang kumiliki sekarang?" tanyaku putus asa. 

Zahra belum bicara lagi, masih terus memeluk sambil memberi ketenangan. 

"Aku yakin semua cobaan yang kamu alami karena kamu adalah wanita tangguh dan hebat, Dhi. Sejak dulu aku selalu kagum padamu. Dan jangan pernah merasa sendirian. Ada aku yang selalu menemanimu dalam segala kondisi. Kamu sudah kami anggap bagian dari keluargaku. Jadi, jangan pernah merasa sendirian, ya," tuturnya sangat menentramkan.

Aku kembali menitikkan air mata. 

"Udah, jangan sedih lagi, ya. Ayok makan. Sudah hampir seminggu kamu makan gak teratur, Dhi. Mama sama yang lain sudah nunggu di meja makan, lho," bujuknya lagi. 

Tentunya, dengan kondisiku seperti ini membuatku enggan keluar dan bertemu dengan yang lain. Saat ini aku sedang pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu orang lain, dan Zahra sangat memahami.

"Ya udah kalau gitu aku bawakan aja makananya ke sini, ya!" tawar Zahra yang malah membuatku makin tidak enak.

"Jangan, Ra. Aku gak enak hati. Kalian terlalu memanjakanku. Lebih baik aku ikut makan bersama aja," jawabku langsung berubah pikiran. 

"Kalau gitu, ayok!" ujarnya dengan senang hati. 

Aku bergegas bangkit dan membetulkan jilbabku, siap menuju ruang makan bersama keluarga yang sangat memedulikanku. 

** * 

Tiga hari lalu, Zahra datang ke rumah menjemputku. Firasatnya tentangku sangat kuat. Saat itu, kondisiku sedang sangat tidak baik. Untuk mengetahui keadaanku, dia nekat sampai naik dari jendela kamar ketika aku tidak membuka pintu. 

Kemudian, tanpa kuminta, Zahra sigap mengemasi barang-barang dan semua keperluanku. Bahkan, aku belum sempat pamit. Dia juga mungkin enggan untuk berbicara kepada semua orang di rumah. 

Setelah tinggal bersama Zahra dan keluarganya, aku baik-baik saja. Semoga dengan Zahra akan mengobati luka hati yang tercabik-cabik akibat ulah Mawar yang didukung oleh Emak, kak Nisa dan Bang Munar. 

***

"Kamu gak apa, Dhi?" Tanya kak Renata saat aku tiba di toko. Semua pasang mata menatapku, aku yakin mereka sudah tahu apa yang terjadi, entah siapa yang mengetahui duluan, aku sama sekali tidak peduli.

"Aku baik-baik saja, kak," jawabku mencoba memaksakan senyum.

"Kalau memang kurang enak badan, gak apa nambah libur, loh. Dari pada makin sakit nanti," ujar yang lain.

Aku menatap mereka satu per satu, terkadang dalam kondisi terpuruk, melihat orang yang peduli sudah membuatku merasa terhibur.

"Aku baik-baik saja. Ya sudah, ayok kita kembali kerja."

Bukannya mengiyakan ajakanku mereka malah menarik tanganku agar duduk di bangku dan mereka semua menatapku, bermaksud mengintrogasi. Aku tidak punya pilihan lain, bersiap dengan segala pertanyaan.

"Jujur sama kita, kamu tidak baik-baik saja, Dhi?" kata Lastri, walaupun dia terkenal bar-bar namun sangat perhatian.

Sekarang aku tidak bisa memaksakan senyum lagi, langsung mengangguk dan mencoba menahan air mata agar tidak jatuh.

"Serius, aku benar-benar tidak menyangka kalau bang Adnan sejahat itu, apalagi sejak dulu aku sangat kagum padanya," ujar kak Lala. Dulu sempat beredar kabar kalau mereka dekat bukan sekedar rekan kerja.

"Ini bukan salahnya, kok. Mungkin belum berjodoh," imbuhku tidak ingin menyalahkan siapa pun.

"Lagian nih, ya. Aku greget banget sama adikmu, aku bisa melihat perjuanganmu yang mengorbankan apa saja demi kuliahnya, sekarang dia malah makin menginjak kamu, benar-benar tidak tau terima kasih," rutuk kak Lala, diantara semua karyawan hanya kak Lala yang benar-benar paham kondisiku, sejak dulu dia yang tulus mendengar ceritaku.

Tidak ingin memperpanjang pembahasan, aku izin pamit ke taman untuk menenangkan diri sejenak. Duduk di tengah kesendirian membuatku ingin kembali menangis, rasanya belum sembuh sakit saat mendengar Mawar menghinaku saat wisudanya, ditambah lagi Bang Adnan yang berpaling padanya hingga ucapan bang Munar dan Emak yang menyakitkan hati membuatku menjadi sosok yang begitu lemah tidak berdaya. Aku sadar diri sangat berbeda sekali dengan Mawar, dari segala segi apa pun aku selalu kalah dengannya. 

Aku kembali mengusap air mata, tidak menghiraukan lagi jika mataku harus bengkak, aku hanya ingin bebanku sedikit berkurang jika selesai menangis.

"Tante, kenapa menangis?" Aku terperanjat ketika mendengar suara anak kecil, aku menoleh padanya, dia adalah cucunya pak Rafli, pemilik The Hans bakery.

"Eh, Mala. Tante gak nangis, cuma kelilipan, kok," balasku membela diri.

"Kata Mama, gak boleh sering menangis. Om ku juga bilang jangan terbiasa mengeluarkan air mata, Tante." Aku menatapnya yang sekarang sudah duduk di sampingku, tampak memegang kresek hitam.

"Kenapa gitu?" Tanyaku penasaran.

"Mama bilang kalau sering nangis nanti kota ini banjir. Soalnya saat kami di Jakarta setiap aku menangis selalu banjir, makanya Mama marah kalau aku nangis," ujarnya polos. Aku tertawa mendengar ucapan Mala. Sedikit terhibur dengan kedatangan anak menggemaskan itu.

"Mala tinggal di Jakarta?"

Yang ditanya langsung mengangguk.

"Iya Tante. Kami datang ke sini karena kakek yang nyuruh. Katanya ada kue yang enak di toko makanya Mala mau datang. Eh beneran ada kue enak, Mala makin senang datang ke sini.” Mala mengambil sesuatu dari kreseknya. Itu adalah kue buatanku kemarin.

"Mala suka kue itu?" 

Mala langsung mengangguk-angguk cepat. 

"Suka banget Tante. Ini Tante yang buat, kan?" 

Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.

"Nanti kalau besar, Mala pengen kayak Tante bisa buat kue."

"Mala mau Tante ajarin?"

Pertanyaanku disambut mata berbinar dan tersenyum lebar.

"Mau banget Tante."

"Yaudah, ayok!"

Kami bangkit bersamaan. Aku mengandeng tangan mungilnya menuju dapur. Semua karyawan tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Aku menyuruhnya agar duduk saat aku mempersiapkan bahan-bahan membuat kue. Setelah kami berkutat dengan adonan, mengaduk-aduknya dengan riang. Sesekali Mala iseng mengoleskan sisa tepung di wajahku. Melihat wajahku yang penuh tepung, Mala tertawa geli. Tidak tinggal diam, aku juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Aku mengoleskan tepung di wajahnya. Jadilah aksi kami saling lempar tepung.

Mala terlihat begitu riang, aku dapat menghilangkan kesedihan yang selama ini kurasakan. Dia anak yang ceria dan periang, siapa saja yang dekat dengannya pasti akan mendapatkan aura positifnya, bahkan jika dia datang ke toko selalu menjadi rebutan karyawan karena anak itu memang menggemaskan.

"Tunggu ya, dek. Tante masukkan ke oven dulu."

"Iya, Tante. Mala gak sabar pengen makannya"

"Tentu, Sayang."

Setelah memasukkan kue ke oven, aku kembali mendekati Mala yang sibuk dengan bejana di hadapannya. Dia meminta agar mengaduk adonan walau hanya sekedar mainan.

"Nanti kalau Mala udah besar, Mala pengen jadi kiko."

Aku mencerna ucapannya seperti ada yang mengganjal, lantas aku tertawa menyadari satu hal.

"Koki, Dek," koreksiku sambil menahan tawa. Dia hanya cengengesan membuat pipi tembemnya makin mengembang. Rasanya ingin kuuyel-uyel.

"Nah, itu maksud Mala."

"Astaghfirullah." kami yang tadinya sibuk mengobrol dikejutkan dengan kedatangan seseorang menuju dapur. Orang itu tampak kaget melihat kondisi kami, lebih tepatnya kondisi Mala yang sangat berantakan bahkan wajahnya juga sudah sangat putih dipenuhi tepung.

"Om!" Teriakan Mala menyadarkanku bahwa yang datang itu adalah anaknya pak Rafli, Om nya Mala.

"Kalian kenapa?" Masih dengan raut terkejut, perlahan mendekati Mala.

"Mala lagi buat kue sama Tante," ujarnya polos masih tampak asyik mengaduk.

"Kenapa berantakan begini?" 

"Gak apa-apa, Om. Mala senang."

"Mama nyariin, katanya mau jalan-jalan," ujar pria itu.  Namun Mala tidak berekasi apa pun, dia semakin heboh dengan adonan ditangannya.

Bang Randi itulah yang kutahu nama beliau, Anak pertama pak Rafli. Tatapannya dingin. Sejak awal melihatnya, aku sudah menduga kalau dia adalah tipe orang cuek dan datar, bahkan tidak pernah tersenyum. Dulu aku salah mengira kalau dia adalah ayahnya Mala, ternyata putra pertama pak Rafli, kak Renata adalah mamanya Mala atau adiknya bang Randi.

Tidak ingin situasi bertambah kacau, aku segera mengajak Mala untuk mencuci tangan. Bang Rendi memang tidak berbicara, namun aku peka dengan maksudnya.

"Dek, buat kuenya kapan-kapan lagi, ya. Ayok cuci tangan!"

"Tapi Mala masih mau buat kue Tante" tolak Mala enggan beranjak.

"Kapan-kapan saja kita bisa buat, Dek. Tuh Mama ngajak jalan-jalan," bujukku kemudian.

"Mala mau makan kue, Tante."

"Habis cuci tangan kita makan kuenya," akhirnya dia mau juga setelah dibujuk. Aku membawanya ke kamar mandi, mencuci tangan dan wajahnya, sekaligus pakaiannya kurapikan.

"Nah, ayok, Dek. Mau makan kue, kan?" Dia mengangguk dengan semangat. Aku mengandeng tangannya keluar dari kamar mandi. Menuju oven. sementara Mala mendekati Om nya yang masih duduk di tempat tadi.

"Nah, ini kuenya. Silahkan dimakan." Aku menyodorkan kue yang kubuat tadi ke depan Mala, dia segera mengambil lalu melahapnya. Saat aku hendak menawarkan pada bang Randi, sudah terlebih dahulu Mala menyuapi Om nya.

"Enak, kan, om?" Bang Randi yang masih mengunyah hanya mengangguk. Pria berbadan kekar itu memang jarang bersuara.

Aku kembali sibuk bekerja, membiarkan Mala bersama Omnya. Mungkin harus pergi juga setelag makan kue.

"Tante kerja dulu. Kuenya dihabiskan, ya, Cantik!"

"Iya, Tante. Kapan-kapan kita buat kue lagi, ya."

Aku hanya tersenyum sambil menuju kasir, ada beberapa pelanggan yang hendak membayar.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Happy Death Day
1024      659     81     
Inspirational
"When your birthday becomes a curse you can't blow away" Meski menjadi musisi adalah impian terbesar Sebastian, bergabung dalam The Lost Seventeen, sebuah band yang pada puncak popularitasnya tiba-tiba diterpa kasus perundungan, tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Namun, takdir tetap membawa Sebastian ke mikrofon yang sama, panggung yang sama, dan ulang tahun yang sama ... dengan perayaan h...
Sendiri diantara kita
6614      2548     5     
Inspirational
Sendiri di Antara Kita Arien tak pernah benar-benar pergi. Tapi suatu hari, ia bangun dan tak lagi mengingat siapa yang pernah memanggilnya sahabat. Sebelum itu, mereka berlima adalah lingkaran kecil yang sempurna atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Di antara canda, luka kecil disimpan. Di balik tawa, ada satu yang mulai merasa sendiri. Lalu satu kejadian mengubah segalanya. Seke...
Jalan Menuju Braga
1819      1205     4     
Romance
Berly rasa, kehidupannya baik-baik saja saat itu. Tentunya itu sebelum ia harus merasakan pahitnya kehilangan dan membuat hidupnya berubah. Hal-hal yang selalu ia dapatkan, tak bisa lagi ia genggam. Hal-hal yang sejalan dengannya, bahkan menyakitinya tanpa ragu. Segala hal yang terjadi dalam hidupnya, membuat Berly menutup mata akan perasaannya, termasuk pada Jhagad Braga Utama--Kakak kelasnya...
Ada Apa Esok Hari
413      311     0     
Romance
Tarissa tak pernah benar-benar tahu ke mana hidup akan membawanya. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali tak ramah, ia hanya punya satu pegangan: harapan yang tak pernah ia lepaskan, meski pelan-pelan mulai retak. Di balik wajah yang tampak kuat, bersembunyi luka yang belum sembuh, rindu yang tak sempat disampaikan, dan cinta yang tumbuh diam-diamtenang, tapi menggema dalam diam. Ada Apa E...
My First love Is Dad Dead
168      153     0     
True Story
My First love Is Dad Dead Ketika anak perempuan memasuki usia remaja sekitar usia 13-15 tahun, biasanya orang tua mulai mengkhawatirkan anak-anak mereka yang mulai beranjak dewasa. Terutama anak perempuan, biasanya ayahnya akan lebih khawatir kepada anak perempuan. Dari mulai pergaulan, pertemanan, dan mulai mengenal cinta-cintaan di masa sekolah. Seorang ayah akan lebih protektif menjaga putr...
Bittersweet Memories
212      196     1     
Mystery
Sejak kecil, Aksa selalu berbagi segalanya dengan Arka. Tawa, rahasia, bahkan bisikan di benaknya. Hanya Aksa yang bisa melihat dan merasakan kehadirannya yang begitu nyata. Arka adalah kembarannya yang tak kasatmata, sahabat sekaligus bayangan yang selalu mengikuti. Namun, realitas Aksa mulai retak. Ingatan-ingatan kabur, tindakan-tindakan di luar kendali, dan mimpi-mimpi aneh yang terasa lebih...
Metafora Dunia Djemima
376      325     2     
Inspirational
Kata orang, menjadi Djemima adalah sebuah anugerah karena terlahir dari keluarga cemara yang terpandang, berkecukupan, berpendidikan, dan penuh kasih sayang. Namun, bagaimana jadinya jika cerita orang lain tersebut hanyalah sebuah sampul kehidupan yang sudah habis dimakan usia?
Aku Ibu Bipolar
100      92     1     
True Story
Indah Larasati, 30 tahun. Seorang penulis, ibu, istri, dan penyintas gangguan bipolar. Di balik namanya yang indah, tersimpan pergulatan batin yang penuh luka dan air mata. Hari-harinya dipenuhi amarah yang meledak tiba-tiba, lalu berubah menjadi tangis dan penyesalan yang mengguncang. Depresi menjadi teman akrab, sementara fase mania menjerumuskannya dalam euforia semu yang melelahkan. Namun...
Sweet Seventeen
6150      3423     4     
Romance
Karianna Grizelle, mantan artis cilik yang jadi selebgram dengan followers jutaan di usia 17 tahun. Karianna harus menyeimbangkan antara sekolah dan karier. Di satu sisi, Anna ingin melewati masa remaja seperti remaja normal lainnya, tapi sang ibu sekaligus manajernya terus menyuruhnya bekerja agar bisa menjadi aktris ternama. Untung ada Ansel, sahabat sejak kecil yang selalu menemani dan membuat...
Surat yang Tak Kunjung Usai
3115      2097     2     
Mystery
Maura kehilangan separuh jiwanya saat Maureen saudara kembarnya ditemukan tewas di kamar tidur mereka. Semua orang menyebutnya bunuh diri. Semua orang ingin segera melupakan. Namun, Maura tidak bisa. Saat menemukan sebuah jurnal milik Maureen yang tersembunyi di rak perpustakaan sekolah, hidup Maura berubah. Setiap catatan yang tergores di dalamnya, setiap kalimat yang terpotong, seperti mengu...