Loading...
Logo TinLit
Read Story - Ikhlas Berbuah Cinta
MENU
About Us  

Aku sesenggukan dalam pelukan Zahra. Dia dengan sabar terus mengusap punggungku, memberikan ketenangan. Aku belum bercerita apa-apa dan Zahra juga mengerti. Dia paling mengerti keadaan meski aku belum bercerita. Kalau sudah seperti ini, pasti aku sedang tidak baik-baik saja. 

Setelah sedikit tenang, aku mulai bercerita tanpa ada yang dikurangi atau ditambah sedikitpun. Aku cerita apa adanya. Mendengar itu, Zahra menjadi lebih geram.

"Ih, kok aku geram banget kalau dengar nama Mawar, ya. Kok bisa dia selicik itu," kata Zahra sambil mengatupkan rahang. 

Kali ini aku tidak sependapat dengan Zahra tentang Mawar. 

"Mungkin bukan jodohku aja, makanya jadi seperti ini, " jawabku putus asa.

"Dhira! Kamu tuh terlalu pasrah dengan apapun. Walau bukan salahnya Mawar, apalagi ini soal jodoh. Namun, aku tidak setuju kalau kamu masih membelanya dalam kondisi seperti ini. Jelas-jelas dia yang selama ini ganjen sama Bang Adnan," ujar Zahra jengkel. 

"Anehnya, Bang Adnan juga plin-plan sekali. Dia yang menjanjikan menikahimu. Eh, pas jumpa orang tua, malah menyebut nama Mawar. Sudah kuduga. Pasti mereka sering komunikasi atau bertemu sebelumnya," ujar Zahra panjang lebar di sertai emosi yang meluap-luap. 

Aku tidak berkomentar lagi.

"Tapi kamu gak boleh bersedih, Dhi. Mungkin Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik untukmu atau hikmahnya karena kamu belum ada niat untuk menikah," tutur Zahra mencoba menanggapi dengan bijak. 

"Lagian nih, ya, seandainya kamu jadi menikah dengan Bang Adnan, aku yang gak yakin kamu sanggup menghadapi mamanya atau tidak," kata Zahra seolah bersyukur aku tidak jadi menikah dengan Bang Adnan. 

Kali ini aku setuju dengan pendapat sahabatku. Aku ingat malam itu. Sewaktu pertama kali melihat mamanya Bang Adnan, dari tatapan matanya saja sudah terlihat kalau beliau meremehkanku. Walaupun begitu, hati kecilku masih kecewa dengan semuanya. Selama ini aku terlalu berharap dan terlalu memaksakan kepada Allah untuk meminta agar berjodoh dengannya. 

Mungkin Allah cemburu karena aku terlalu lama memperbincangkan nama Bang Adnan hingga lupa akan bagaimana rasanya kecewa jika tidak terkabul. Ternyata inilah jawaban dari isti’harahku.

"Nih, minum dulu. Air matamu sudah terlalu banyak yang tumpah," pinta Zahra sambil menyodorkan minuman kepadaku. 

Air di gelas itu hanya kuteguk sedikit, karena benar-benar tidak berselera walaupun kerongkongan terasa sudah kering.

Untuk sementara aku berencana akan menginap di rumah Zahra. Tentu saja, keluarganya tidak keberatan, bahkan Zahra sangat senang. Anehnya aku ini. Meskipun telah dikecewakan, dalam kondisi seperti ini aku masih berharap Bang Adnan menghubungiku. Aku kembali kecewa karena bukan dia yang menelpon. Di layar ponsel tertera nama Kak Aisyah dan langsung saja kuangkat. Ternyata kakak iparku melakukan video call.

Bisa kulihat di layar ponsel wajah cantiknya Kak Aisyah dan Bang Rasyid.

"Assalamualaikum, Dek. Kamu kenapa? Bagaimana kabarnya?"

Kak Aisyah melontarkan pertanyaan beruntun. Dia sungguh peka dengan kondisiku yang tidak baik-baik saja. Aku belum bersuara hingga Zahra yang mengobrol bersama Kak Aisyah dan Bang Rasyid juga bersamanya. Walaupun aku menyembunyikan wajah dengan lipatan tangan, aku masih mendengarkan obrolan mereka.

"Ya Allah, semoga Dhira sabar ya, Dek. Semoga ada balasan dari Allah. Kakak bisa minta tolong peluk Dhira, karena saat ini dia sangat rapuh," pinta Kak Aisyah kepada Zahra. 

Aku kembali meneteskan air mata saat mendengar permintaan Kak Aisyah dan Zahra kembali memelukku. Aku juga mendengar Kak Aisyah menangis. Turut merasakan kesedihan yang kualami. 

"Kalau Adek mau liburan, datang aja ke sini. Soal ongkos atau yang lain jangan khawatirkan, Abang yang tanggung," ujar Bang Rasyid menawarkan liburan kepadaku. 

Aku menggeleng, meski kenyataannya ingin kabur atau menghilang dari dunia ini, aku tidak bisa menghindar. 

"Tidak apa, Bang. Insya Allah, Dhira kuat," jawabku singkat.

"Tapi keadaanmu sangat memprihatinkan, Dek," desak Bang Rasyid lagi.

 "Demi kebaikanmu, Dek" seolah memaksa agar aku liburan ke kota mereka.

"Ada Zahra, Bang. Jangan khawatir, saya akan jagain Dhira," janji Zahra agar Bang Rasyid tidak khawatir. 

Obrolan terputus karena mereka tampak sibuk. Aku kembali diam dan merenung. Dengan tatapan kosong dan tanpa memikirkan apa-apa. Zahra membujuk dengan segala daya upaya. 

"Makan dulu, Dhi. Nanti kamu sakit, lho," bujuk Zahra entah sudah yang ke sekian kalinya. Namun, aku tetap menggeleng.

Hingga Tante Mia yang datang dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk-pauknya. Aku sedang tidak berselera makan, tapi mustahil juga ditolak. Aku tidak ingin terlihat manja di depan Emaknya Zahra.

"Ayo, makan dulu, Nak," pinta Beliau. Akhirnya aku menyantap sarapan yang Beliau bawa, lalu Beliau pamit karena harus pergi bekerja.

"Dihh, tadi waktu aku yang nawarin gak mau. Pas Mama, malah kegirangan. Beuhh lahapnya," sungut Zahra dan aku pun terkekeh.

"Dhi," panggilnya, aku langsung menatapnya.

Zahra memegang kedua pundakku.

"Jangan bersedih lagi, cukup dua hari dua malam kamu menangis kayak gini. Setelah hari ini, aku harap kamu jangan murung lagi, ya. Sayangi dirimu dan kamu harus buktikan kalau kamu bisa bangkit lebih kuat," ujarnya menyemangati. 

Aku mengangguk dan berkata, "Semoga bisa."

"Ya udah makan lah, habis itu siap-siap. Kita mau pergi," kata Zahra. 

"Kemana?" tanyaku penasaran, karena sebelumnya tidak ada pembahasan tentang hal itu.

"Makanya cepat makan dan siap-siap," pinta Zahra tanpa menjawab pertanyaanku. 

***

"Ra, kok gak bilang, sih kalau kita mau ke pantai," ujarku takjub dengan pilihannya untuk menghiburku. 

Tanpa menunggunya, aku bersorak heboh dan berlari mendekat bibir pantai. Zahra mengekor dari belakang sambil tersenyum.

"Gimana? Suka kan, Dhi?" tanyanya antusias. 

Aku mengangguk cepat dan menjawab, "Suka banget." 

Aku melihat sekeliling, suasana pantai sedikit ramai karena sedang weekend. Aku ingin melupakan semua beban pikiran dan kesedihan. Berlarian bebas seperti anak kecil. Sampai rela membiarkan gamis yang kupakai basah karena berkejaran dengan ombak. 

"Berdiri di sana biar aku fotoin," pinta Zahra kepadaku. 

Walaupun sebenarnya aku tidak suka berpose, aku tetap mengiyakan sebagai kenang-kenangan. Lalu Zahra meminta bantuan kepada seorang anak gadis untuk memotret kami berdua.

Masya Allah, aku sangat bahagia kali ini sampai dapat melupakan masalah yang menimpaku. Aku tidak memikirkan apapun sekarang. Hanya ingin menikmati liburan berdua bersama Zahra. 

"Kuy, berteduh, Kita akan di sini sambil menunggu sunset. Nanti akan lebih bagus lagi," kata Zahra mengiming-imingi.

Kami berjalan mendekati sebuah pondok dan di sana sudah tersedia berbagai camilan. Ternyata, Tante Mia sudah mempersiapkan semuanya. 

"Ini semua Tante yang masak?" tanyaku merasa heran. 

"Gak semua, yang ini dibeli," kata Zahra sambil menunjuk sebuah kue bolu.

"Padahal aku bisa masak kue, harusnya gak usah dibeli," sesalku.

"Sudahlah, kita nikmati dulu liburannya. Jangan pikirin apapun, oke," ujarnya dengan suara yang sangat ceria. 

Aku mengangguk cepat, lalu menyantap dengan lahap segala makanan yang terhidang.

"Dhi, jangan pergi, ya," pinta Zahra tiba-tiba. 

Saking kagetnya, aku sampai tersedak mendengar ucapan Zahra. 

"Maksudnya apa, Ra? Aku gak akan kemana-mana loh, Ra."

"Iya makanya jangan pergi. Nanti kalau kamu pergi ke Kalimantan, aku gak punya teman lagi," ujar Zahra tampak sedih. 

Mendengar penuturan Zahra itu membuatku tertawa.

"Aku gak bakalan pergi, Ra. Walau bagaimanapun, aku akan tetap di sini," jawabku meyakinkan.

"Beneran nih? Takutnya Kamu iyakan ajakan Kak Aisyah," tanya Zahra lagi. 

"Gak bakalan, Ra. Aku akan tetap di sini bersamamu," ucapku lagi mencoba meyakinkannya. 

"Kalau gitu, makasih banyak ya, Dhi," ujarnya sambil memelukku erat. 

"Yaelah lebay kamu, Ra," jawabku sambil menertawakannya. 

"Pokoknya jangan pergi kemana-mana, ya!" pintanya lagi seakan memaksa. 

Aku mengangguk sebagai jawaban.

"Sekarang jangan pikirkan apapun, ya. Kita nikmati liburan ini," pinta Zahra yang kini sudah lega dengan keputusanku.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Batas Sunyi
4285      2505     108     
Romance
"Hargai setiap momen bersama orang yang kita sayangi karena mati itu pasti dan kita gak tahu kapan tepatnya. Soalnya menyesal karena terlambat menyadari sesuatu berharga saat sudah enggak ada itu sangat menyakitkan." - Sabda Raka Handoko. "Tidak apa-apa kalau tidak sehebat orang lain dan menjadi manusia biasa-biasa saja. Masih hidup saja sudah sebuah achievement yang perlu dirayakan setiap har...
Loveless
28967      12655     616     
Inspirational
Menjadi anak pertama bukanlah pilihan. Namun, menjadi tulang punggung keluarga merupakan sebuah keharusan. Itulah yang terjadi pada Reinanda Wisnu Dhananjaya. Dia harus bertanggung jawab atas ibu dan adiknya setelah sang ayah tiada. Wisnu tidak hanya dituntut untuk menjadi laki-laki dewasa, tetapi anak yang selalu mengalah, dan kakak yang wajib mengikuti semua keinginan adiknya. Pada awalnya, ...
Let me be cruel
22233      9799     545     
Inspirational
Menjadi people pleaser itu melelahkan terutama saat kau adalah anak sulung. Terbiasa memendam, terbiasa mengalah, dan terlalu sering bilang iya meski hati sebenarnya ingin menolak. Lara Serina Pratama tahu rasanya. Dikenal sebagai anak baik, tapi tak pernah ditanya apakah ia bahagia menjalaninya. Semua sibuk menerima senyumnya, tak ada yang sadar kalau ia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Interaksi
1352      1030     1     
Romance
Aku adalah paradoks. Tak kumengerti dengan benar. Tak dapat kujelaskan dengan singkat. Tak dapat kujabarkan perasaan benci dalam diri sendiri. Tak dapat kukatakan bahwa aku sungguh menyukai diri sendiri dengan perasaan jujur didalamnya. Kesepian tak memiliki seorang teman menggerogoti hatiku hingga menciptakan lubang menganga di dada. Sekalipun ada seorang yang bersedia menyebutnya sebagai ...
TANPA KATA
187      172     0     
True Story
"Tidak mudah bukan berarti tidak bisa bukan?" ucapnya saat itu, yang hingga kini masih terngiang di telingaku. Sulit sekali rasanya melupakan senyum terakhir yang kulihat di ujung peron stasiun kala itu ditahun 2018. Perpisahan yang sudah kita sepakati bersama tanpa tapi. Perpisahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang memaksaku kembali menjadi "aku" sebelum mengenalmu.
H : HATI SEMUA MAKHLUK MILIK ALLAH
113      101     0     
Romance
Rasa suka dan cinta adalah fitrah setiap manusia.Perasaan itu tidak salah.namun,ia akan salah jika kau biarkan rasa itu tumbuh sesukanya dan memetiknya sebelum kuncupnya mekar. Jadi,pesanku adalah kubur saja rasa itu dalam-dalam.Biarkan hanya Kau dan Allah yang tau.Maka,Kau akan temukan betapa indah skenario Allah.Perasaan yang Kau simpan itu bisa jadi telah merekah indah saat sabarmu Kau luaska...
BestfriEND
244      215     1     
True Story
Di tengah hedonisme kampus yang terasa asing, Iara Deanara memilih teguh pada kesederhanaannya. Berbekal mental kuat sejak sekolah. Dia tak gentar menghadapi perundungan dari teman kampusnya, Frada. Iara yakin, tanpa polesan makeup dan penampilan mewah. Dia akan menemukan orang tulus yang menerima hatinya. Keyakinannya bersemi saat bersahabat dengan Dea dan menjalin kasih dengan Emil, cowok b...
Kursus Kilat Jadi Orang Dewasa!
955      522     11     
Humor
Didaftarkan paksa ke Kursus Kilat Jadi Orang Dewasa oleh ayahnya, Kaur Majalengka--si OCD berjiwa sedikit feminim, harus rela digembleng dengan segala keanehan bin ajaib di asrama Kursus Kilat selama 30 hari! Catat, tiga.puluh.hari! Bertemu puding hidup peliharaan Inspektur Kejam, dan Wilona Kaliyara--si gadis berponi sepanjang dagu dengan boneka bermuka jelek sebagai temannya, Kaur menjalani ...
Kamu Tidak Harus Kuat Setiap Hari
10318      5770     0     
Inspirational
Judul ini bukan hanya sekadar kalimat, tapi pelukan hangat yang kamu butuhkan di hari-hari paling berat. "Kamu Tidak Harus Kuat Setiap Hari" adalah pengingat lembut bahwa menjadi manusia tidak berarti harus selalu tersenyum, selalu tegar, atau selalu punya jawaban atas segalanya. Ada hari-hari ketika kamu ingin diam saja di sudut kamar, menangis sebentar, atau sekadar mengeluh karena semua teras...
Fidelia
4184      2202     1     
Fantasy
Bukan meditasi, bukan pula puasa tujuh hari tujuh malam. Diperlukan sesuatu yang sederhana tapi langka untuk bisa melihat mereka, yaitu: sebentuk kecil kejujuran. Mereka bertiga adalah seorang bocah botak tanpa mata, sesosok peri yang memegang buku bersampul bulu di tangannya, dan seorang pria dengan terompet. Awalnya Ashira tak tahu mengapa dia harus bertemu dengan mereka. Banyak kesialan menimp...