Loading...
Logo TinLit
Read Story - Batas Sunyi
MENU
About Us  

Sabda

Tepat setelah behel metal dengan karet warna hitam yang kupilih terpasang, aku sama sekali tidak merasakan sakit. Hanya agak susah makan saja. Namun menuju malam, sakit bukan kepalang. Seluruh gusiku berdenyut. Kata dokter gigi, tiga hari pertama adalah masa adaptasi terberat. Sisa harinya adalah siksaan yang lebih terorganisir. Aku tertawa kecut sendiri membayangkan kalimat itu.

Rasanya seperti gigi-gigiku ingin merontokkan diri mereka masing-masing. 

Aku mengabarkan informasi ini kepada Aya melalui WhatsApp, aku juga mengirimkan foto-ku tadi saat selesai pemasangan. Komentarnya pendek sekali: ngapain? 

Ya tentu saja supaya gigiku yang gingsul jadi rapi. Aku jadi tidak mood makan apapun. Padahal hari ini Karel bawa pulang sup iga ke kontrakan. Porsinya cukup besar, katanya pemberian sang pacar. Ibu pacarnya Karel pemilik catering yang cukup terkenal itu dan biasanya dipesan oleh orang-orang elit.

Aku tidak bisa makan iganya sama sekali, gigi saling bertemu saja sakitnya bukan main. Alhasil aku yang penasaran ini hanya bisa mencicipi kuahnya saja. Enak sekali, pasti di makan pakai nasi panas lebih enak lagi.

Terdengar pintu depan diketuk. Saat aku buka pintu, betapa terkejutnya aku melihat Aya ada di sebaliknya. Membawa rantang warna hijau matcha dan mengulurkan tiga tingkat rantang itu padaku.

“Nih, bubur ayam. Ayamnya aku blender tadi jadi kamu bisa tinggal telan.”

Aya menyerahkan rantang kecil berwarna hijau matcha itu padaju. Aku nyaris nggak percaya. Belum sejam yang lalu aku mengeluh di grup chat keluarga kalau nggak bisa makan apa-apa sejak pasang behel. Ternyata di bawah atap yang lain Aya langsung masak.

Di belakang Aya, Nikel masih duduk santai di atas motor Aerox-nya yang tampak sedikit berbeda karena sudah dimodif. Ia mengenakan jaket kulit warna cokelat dan helm setengah terbuka. Di punggungnya tersampir tas astronot besar. Aku tahu itu pasti isinya Kiko. 

Nikel mengangkat tangan melambai. Sambil tersenyum, ia memiringkan sedikit tas astronotnya agar aku bisa melihat Kiko yang mengintip dari dalam.

Aku melambai juga, kali ini khusus untuk Kiko. “Hai, Kiko gendut.” kataku pelan dengan gestur seperti ingin menggosok-gosok kepalanya.

"Ya Allah, Aya. Aku nangis nih."
Aku menerima rantang itu. Tanganku refleks menyentuh bagian bawahnya. Masih hangat. Tidak... lebih tepatnya masih lumayan panas. Aya pasti baru saja selesai masak dan langsung mewadahinya untukku.

“Dimakan, ya.”
Suaranya lembut, tapi tegas. Seperti ibu-ibu yang khawatir anaknya belum makan. Ibu dari anak-anakku? Ceilah.

“Pasti aku habisin, Aya.”

Aya menunjuk rantang itu, menjelaskan rinciannya seperti sedang memberi resep rahasia.

“Itu yang atas buburnya, yang bawah cuma kuah kaldu ayam sama kerupuk. Kerupuknya bisa diemut. Jadi nggak nyangkut di behel kamu.”

“Iya, Aya. Sumpah, sakit banget.”

Aya melipat tangan di depan dada, wajahnya menahan senyum. “Lagian kamu random banget. Tiba-tiba behelan.”

“Nggak tiba-tiba. Udah dari lama aku pengen. Cuma baru berani sekarang. Gigiku ada yang gingsul, Ay. Aku sering sariawan.”

“Padahal pakai behel juga besok-besok bakal sering sariawan,” katanya, dengan ekspresi yakin karena yang dia bilang memang benar.

Aku tertawa kecil, lalu meringis karena tawa itu membuat gusiku nyut-nyutan. Tapi di antara sakit itu, ada sesuatu yang hangat. Lebih hangat dari bubur ayam buatan Aya. Perhatiannya. Caranya datang di malam hari hanya untuk membawakan makanan yang bisa kutelan tanpa susah payah.

Aku bukan siapa-siapa. Bukan pacarnya. Bahkan, entah kami bisa dibilang dekat atau tidak. Tapi dia datang. Tanpa kuminta.

Beberapa menit kemudian, Aya pamit. “Aku ke dokter hewan dulu. Appointment-nya malam ini karena tadi dokternya sibuk banget seharian.”

Aya melambai rendah sekali lagi sebelum naik ke motor. Nikel menoleh padaku sebentar, mengangguk, lalu starter motornya. Tak lama, suara motor mereka menjauh.

Aku melepas mereka sesekali menahan marah pada diri sendiri karena ini sakit sekali. Kena lidah sendiri saja sakit bukan main. Sepertinya aku harus pakai sendok plastik sisa kondangan puterinya ibu kontrakan yang kini tinggal di Jepang sama suaminya.

Setelah mereka lenyap dari pandangan, barulah aku masuk.

"Kayak dengar suara Aya barusan?" tanya Bian penuh selidik, matanya menyipit, seolah sedang menyusun potongan-potongan puzzle dari kejadian yang ia lewatkan beberapa detik tadi.

"Iya," jawabku cepat. "Langsung pergi mau meriksain meong."

“Oh.” Tatapan Bian belum lepas dariku. Tapi kali ini, pandangannya berpindah ke rantang di tanganku. Rantang hijau matcha yang khas dengan stiker kecil bergambar kucing calico. Pemberian Aya.

"Karel dikasih makan ceweknya, barusan kau juga dikasih makan Aya?" Nada suaranya mulai berubah. Bukan marah. Tapi ada sejenis nada menggoda yang nyaris selalu muncul tiap kali dia merasa ingin tahu lebih dari yang kuberikan. Ada juga sedikit rasa iri yang terselip samar di sana—aku mengenal Bian terlalu lama untuk tidak menyadarinya.

"Kenapa? Mau juga?" tanyaku, menantangnya balik.

"Udah makan sih aku," sahutnya, seraya mengusap perutnya yang tidak tampak lapar. "Tapi kalau kau paksa, ya aku nggak nolak." Dia tertawa. "Memang dikasih apa sama Aya?"

"Bubur ayam," jawabku santai. "Ayamnya di-blender."

"Bahhhh!" Dia langsung membuat ekspresi jijik bercampur geli. "Nggak lah. Kau makanlah sendiri. Selamat makan!" katanya sambil menepuk pundakku keras-keras. Kebiasaannya sejak zaman ospek, kalau dia geli atau ogah, tangannya refleks cari pundak orang buat dipukul dengan keras.

Aku tertawa, menahan tawa lebih tepatnya, karena ekspresi jijiknya benar-benar jujur. Tapi perhatianku bergeser. Dari balik helm half-face yang baru saja dipakainya, aku melihat rambutnya disisir rapi. Jaketnya baru. Sepatunya bersih. Harum sekali sampai menusuk paru-paruku. Sudah bisa kutebak arah tujuannya.

“Rapi kali kau. Pacaran ya?”

Bian pura-pura cuek, memasang klik helmnya. “Nggak lah. Mau ke warung,” jawabnya sambil menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang sudah telanjur muncul.

“Hati-hati, pulang bawa oleh-oleh!” seruku menggoda, setengah berteriak karena suara knalpot motornya mulai meraung.

Bian membelokkan motornya, menoleh sedikit, lalu memutar bola mata. “Oleh-oleh,” katanya, mengulang dua kata terakhirku dengan nada sebal.

Aku tertawa lebih keras, dan kali ini benar-benar melambaikan tangan, meski aku tahu dia nggak bakal peduli aku lambaikan tangan atau tidak. Tapi tetap kulakukan. Karena begitulah aku dan Bian selalu menggoda satu sama lain, tapi tetap saling mendukung diam-diam.

Aku duduk di ruang tengah, menjejerkan rantang yang lebih mirip kotak bekal bertingkat itu di atas meja. Wanginya enak. Aku langsung melahapnya dengan segera. Sudah agak dingin sehingga ini suhu yang sangat enak untuk tinggal telan.

"Enak banget..." aku terkagum-kagum dan mempercepat makanku. Rasanya memang lapar sekali, tadi siang aku cumam makan roma kelapa kucocol susu supaya tidak perlu mengunyah. Wajar saja saat ini aku sangat kelaparan. Aku tidak menyangka Aya akan datang bak ibu peri yang memberikanku makan siap telan.

Tahan Sabda, kalau sudah seminggu pasti bisa lebih nyaman dengan behel sialan ini. 

 

Elaine
Sudah lama sekali aku tidak buka Instagram, kecuali jika ada yang memintaku untuk follow back akun mereka. Entah mengapa melihat update kawan-kawan lamaku hingga kawan yang sekarang, sering membuatku merasa tidak nyaman. Kenapa, ya? Rasanya agak berat melihat mereka kelihatan bahagia dengan hidup mereka sementara aku bangun setiap pagi terasa berat dijalani. 

Aku melihat bagian direct message, aku mendapatkan banyak pesan dari Sabda. Aku sudah tahu saat kubuka, isinya didominasi reels. Mulai dari reels kucing, reels hal yang dia anggap lucu, quotes, atau rekomendasi tempat kulineran enak di Jogja. Dia itu termasuk aktif ya di Instagram.

Kubuka profil Instagram-nya. Dia masih menyematkan foto dengan baju timnas volinya dan membawa piala berwarna emas. Dia tampak begitu bahagia. Seperti apa rasanya ya punya penggemar sangat banyak hampir satu Indonesia tahu siapa dia - kecuali aku dulu saat awal berjumpa.

Usai memperhatikan foto demi foto Sabda hingga foto jadulnya, aku menyadari sesuatu: Sabda orang yang konsisten dan pekerja keras. Dia sudah sangat mencintai voli bahkan sejak masih SMP oh bahkan sejak SD. Foto saat dia kecil masih ada di profilnya. Kelihatan sekali bocah tengilnya, tertawa lepas sambil memegang bola bertuliskan Mikasa.

Sedari tadi otakku menyuruh untuk mengetikkan username yang sangat kuhafal dan dulu sering bertengger di search bar teratas. Instagram Setha. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya dengan sang pacar. Aku berharap mereka baik-baik saja dan aku akan segera menemukan milikku sendiri.

Aku buka profil Setha. Dia masih seganteng biasanya. Aku tidak bisa berbohong dengan bilang dia jelek. Dulu dia sering jerawatan setiap kali stres ujian, sekarang dia jadi cowok super bersih dan kinclong bak brand ambassador perawatan wajah.

Mereka kelihatan sangat bahagia. Kalau diperhatikan baik-baik, wajah mereka ada kemiripan. Sama-sama cakep dan hidung mereka juga sama-sama tinggi. Katanya jodoh itu mirip, kan? Pasti mereka memang berjodoh. 

Aku baru lihat beberapa foto yang sebelumnya tidak pernah kulihat (saking jarang main Instagram) di halaman profil Setha. Satu persatu aku like postingannya. Sampai aku sadar, begitu bodohnya aku karena like sekitar 7 konten dalam sekali waktu. Aku sama sekali tidak kepikiran sampai ke sana. Kalau mau aku unlike malah bakal aneh nggak sih? 

Aku baru sadar sudah lebih dari setengah jam aku scroll profil Setha dan pacarnya. Telunjukku berhenti di layar, mataku masih terpaku pada sebuah foto mereka yang sedang tertawa di sebuah coffee shop. Mereka tampak serasi, seperti potongan puzzle yang saling melengkapi tanpa dipaksakan. Apa yang sebenarnya aku cari? Kebahagiaan mereka? Kebenaran bahwa mereka masih bersama? Atau sisa-sisa alasan untuk tetap menyesali sesuatu yang sudah lama lewat?

Aku mengembuskan napas pelan. Menutup Instagram. Lalu rebahan, memeluk bantal yang mulai dingin karena AC terus menyala sejak sore. Di atas lemari, suara Kiko terdengar pelan. Mengeong satu kali. Seperti mengingatkanku untuk kembali ke dunia nyata. Seolah dia tahu aku sedang terjebak di ruang sunyi yang kuciptakan sendiri.

Mataku mengarah ke langit-langit kamar. Diam. Terasa sesak. Tapi bukan karena udara yang pengap atau suhu yang tak bersahabat. Ini lebih seperti ruang di dadaku yang makin penuh. Ada sesuatu yang menggantung. Sebuah pertanyaan yang tak tahu harus kutujukan ke siapa. Kenapa aku belum benar-benar move on?

Aku mengingat kembali hari-hari saat aku masih menyukai Setha. Rasanya seperti berjalan di atas awan tipis—selalu ada harapan, tapi juga selalu ada rasa takut terjatuh. Mungkin karena dulu aku tidak pernah benar-benar punya momen perpisahan dengan perasaan itu. Tidak ada kata pamit. Tidak ada hari di mana aku memutuskan, "hari ini, aku akan berhenti menyukainya." Semuanya menggantung. Aku menaruh harapan diam-diam, lalu kenyataan menamparku diam-diam juga. Aku tidak diberi ruang untuk kecewa secara wajar, karena dari awal pun, aku menyukai dalam diam.

Dan Sabda… dia seperti bab baru yang tidak pernah kutulis di naskah hidupku. Dia datang sebagai kejutan. Sebuah kalimat baru di tengah paragraf yang seharusnya sudah berakhir. Dia tidak tahu aku pernah menyukai Setha. Dia datang sebagai versi lain dari kehidupan kampusku yang tidak punya kaitan dengan masa lalu. Kehadirannya tidak menuntut penjelasan, tidak juga membawa beban sejarah. Sabda itu seperti... pelarian yang tidak pernah kurencanakan. Tapi pelarian yang membuatku merasa sedikit lebih hidup.

Saat dia mengirimkan reels lucu, atau bertanya hal-hal sepele seperti “kamu lebih suka bubur diaduk atau nggak?”, hatiku terasa ringan. Bukan karena aku menyukainya—aku belum tahu soal itu. Tapi karena dia membuatku lupa sejenak bahwa aku pernah terluka.

Tapi, bukankah begitu cara luka bekerja? Dia tidak benar-benar hilang, hanya tertutup oleh hal-hal kecil yang manis. Dan kadang, luka itu membuka sendiri, seperti malam ini, saat aku tanpa sadar mengunjungi masa lalu, berharap menemukan sesuatu yang entah apa.

Mungkin, aku hanya butuh memaafkan diriku sendiri. Atas semua harapan yang pernah kutanam, meski tidak tumbuh. Atas semua perasaan yang pernah kuberi, meski tak kembali. Mungkin, aku hanya perlu waktu. Dan keberanian untuk mengaku: aku masih belajar melepaskan.

Dan jujur saja, pertanyaan Sabda tempo hari mengusik pikiranku belakangan ini. Dia datang ke hidupku bukan sebagai bayangan siapa-siapa. Dia bukan sisa dari kenangan, bukan juga tambal sulam dari yang retak. Sabda adalah Sabda. Versi hangat dari pertemanan yang datang tanpa kutunggu, tapi tetap bertahan meski aku seringkali terlalu sibuk dengan masa lalu.

Aku nggak mau menjadikan dia sekadar pelarian. Dia layak dicintai dengan utuh, bukan sebagai obat dari luka yang belum sembuh. Dia berhak menerima perasaan yang tidak setengah-setengah. Dan saat ini, aku belum bisa memberi itu. Menerimanya sekarang hanya akan jadi awal dari kebohongan yang pelan-pelan menyakitkan. Dan itu bukan jenis hubungan yang ingin aku miliki, apalagi dengan seseorang seperti dia.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
FaraDigma
6543      2564     1     
Romance
Digma, atlet taekwondo terbaik di sekolah, siap menghadapi segala risiko untuk membalas dendam sahabatnya. Dia rela menjadi korban bully Gery dan gengnya-dicaci maki, dihina, bahkan dipukuli di depan umum-semata-mata untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka. Namun, misi Digma berubah total saat Fara, gadis pemalu yang juga Ketua Patroli Keamanan Sekolah, tiba-tiba membela dia. Kekacauan tak terh...
Train to Heaven
2231      1138     2     
Fantasy
Bagaimana jika kereta yang kamu naiki mengalami kecelakaan dan kamu terlempar di kereta misterius yang berbeda dari sebelumnya? Kasih pulang ke daerah asalnya setelah lulus menjadi Sarjana di Bandung. Di perjalanan, ternyata kereta yang dia naiki mengalami kecelakaan dan dia di gerbong 1 mengalami dampak yang parah. Saat bangun, ia mendapati dirinya berpindah tempat di kereta yang tidak ia ken...
Katanya Buku Baru, tapi kok???
672      499     0     
Short Story
KESEMPATAN PERTAMA
634      442     4     
Short Story
Dan, hari ini berakhir dengan air mata. Namun, semua belum terlambat. Masih ada hari esok...
Mawar Putih
1521      841     4     
Short Story
Dia seseorang yang ku kenal. Yang membuatku mengerti arti cinta. Dia yang membuat detak jantung ini terus berdebar ketika bersama dia. Dia adalah pangeran masa kecil ku.
Dari Sahabat Menjadi...
618      444     4     
Short Story
Sebuah cerita persahabatan dua orang yang akhirnya menjadi cinta❤
My Andrean
12186      2531     2     
Romance
Andita si perempuan jutek harus berpacaran dengan Andrean, si lelaki dingin yang cuek. Mereka berdua terjebak dalam cinta yang bermula karena persahabatan. Sifat mereka berdua yang unik mengantarkan pada jalan percintaan yang tidak mudah. Banyak sekali rintangan dalam perjalanan cinta keduanya, hingga Andita harus dihadapkan oleh permasalahan antara memilih untuk putus atau tidak. Bagaimana kisah...
Yurie (The Truth of Her Death)
90      60     2     
Horror
Dua tahun yang lalu, Yurie dikabarkan jatuh dari gedung sekolah. Sejak saat itu arwahnya gentayangan di lorong di mana ia jatuh. Namun yang paling merasakan kehadirannya ialah mereka, teman-teman yang mengenal 'dekat' dengannya. Malam ini, ketujuh teman 'dekat' Yurie berkumpul di sekolah, demi menguak kebenaran akan kematian Yurie. Apa ada pelaku di antara mereka?
To the Bone S2
3658      2207     1     
Romance
Jangan lupa baca S1 nya yah.. Udah aku upload juga .... To the Bone (untuk yang penah menjadi segalanya) > Kita tidak salah, Chris. Kita hanya salah waktu. Salah takdir. Tapi cintamu, bukan sesuatu yang ingin aku lupakan. Aku hanya ingin menyimpannya. Di tempat yang tidak mengganggu langkahku ke depan. Christian menatap mata Nafa, yang dulu selalu membuatnya merasa pulang. > Kau ...
Soulless...
5766      1472     7     
Romance
Apa cintamu datang di saat yang tepat? Pada orang yang tepat? Aku masih sangat, sangat muda waktu aku mengenal yang namanya cinta. Aku masih lembaran kertas putih, Seragamku masih putih abu-abu, dan perlahan, hatiku yang mulanya berwarna putih itu kini juga berubah menjadi abu-abu. Penuh ketidakpastian, penuh pertanyaan tanpa jawaban, keraguan, membuatku berundi pada permainan jetcoaster, ...