Loading...
Logo TinLit
Read Story - Merayakan Apa Adanya
MENU
About Us  

"Jangan sungkan, ruangan ini memang jarang saya sewakan. Tapi berhubung kamu sendirian, dan penyewa terakhir masih satu jam lagi, mending pakai ini aja, kan?" 

Raya masih bertanya-tanya, apa memang seramah itu pemilik studio ini? Dia melihat ruangan itu tidak berbeda jauh dengan studio lain. Hanya saja di sana ada piano klasik yang harganya kelihatan mahal banget. 

"Kamu bisa pakai alat musik di sini, kecuali piano itu. Paham?" 

Raya mengangguk. Dia memang bisa main piano dan tertarik memainkan piano klasik itu. Pasti mengasyikkan sekali, tapi dia segera tersadar. Dia baru pertama kali datang ke sini, tak etis kalau dia menyalahi apa yang diminta oleh pihak studio. Meskipun studio ini kecil tapi suasananya membuat siapa pun betah berlama-lama. Sengaja Raya mencari yang tidak begitu ramai. Lokasi ini lebih aman untuk tetap merahasiakan hobi dan bakatnya.

Adit meninggalkan Raya dan kembali ke depan. Hari itu sebenarnya ada beberapa informasi tambahan yang dia dapat. Tapi sebelum dilaporkan ke Rudi, sangat penting untuk memastikan lagi. Kesalahan yang dulu pernah dilakukan, jangan sampai terulang lagi.

Saat Adit memeriksa semua pemasukan dan administrasi studio, Adit tertarik dengan profil Raya. Melihat alamat di kartu pelajarnya, sama dengan lokasi yang dia temukan beberapa hari lalu. Asal sekolah juga sesuai. Mungkinkah Raya ini orang yang dicari anak bosnya selama ini? Adit perlu beberapa waktu lagi untuk memastikan.

"Pak Adit, untuk penyewa ruang pribadi Bapak, sepuluh menit lagi batas waktunya. Apa perlu saya datangi sekarang?"

"Jangan sekarang. Biar saya saja. Sekalian memastikan dia benar-benar menepati janji atau tidak." Saat melihat piano klasik miliknya, Raya tampak sangat tertarik memainkan.

"Baik, Pak!" Pegawai itu segera melayani penyewa berikutnya.

Adit tidak langsung membuka pintu. Dia melihat dari kaca yang terpasang di bagian tengah pintu. Raya tampak sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Tidak jelas dia menyanyikan lagu apa, karena ruangan itu kedap suara. Tapi terlihat sekali dia sangat menikmati permainannya. Bahasa tubuh mengatakan seakan berada di dunianya sendiri. Terlalu asyik sampai tidak sadar waktu dua jam akan segera berakhir.

Tepat dua menit sebelum berakhir masa sewa, Adit mengetuk lalu membuka pintu. Sontak Raya menoleh. Dia langsung melihat jam di pergelangan tangannya. Tak lama ponsel di saku outer-nya bergetar.

"Sudah dua jam, ya," gumam Raya sambil mematikan getar alarm dari ponselnya.

"Kamu mau main bareng satu lagu dengan saya?" tanya Adit tiba-tiba. "Saya akan memainkan piano, kamu bernyanyi. Gimana?"

Tawaran yang menggiurkan. Tanpa berpikir dia langsung mengangguk. Adit memainkan intro sebuah lagu yang dipopulerkan Phill Collins dan dinyanyikan ulang oleh penyanyi muda, Niki. Adit cukup terkesan dengan suara bening gadis di depannya.

Denting piano begitu pas beradu dengan suara unik milik Raya. Permainan mereka membuat orang yang mendengar langsung melihat pertunjukkan gratis kayaknya konser. Bagaimana bisa terdengar sampai luar, Adit tidak menutup pintu kembali. Tentu saja untuk menjaga kesopanan.

Tepuk tangan riuh membahana begitu lagu selesai. Raya sontak menoleh ke arah pintu. Beberapa orang bahkan sudah ada yang memasuki ruangan demi mendengarkan suara indah dipadu permainan piano yang harmonis.

"Luar biasa. Nyanyikan satu lagu lagi, dong."

"Iya, keren banget suaranya." Permintaan itu disetujui yang lain. 

Tetapi rasa tidak nyaman mulai mengurung Raya. Dia tidak biasa ditonton orang banyak seperti ini. "Maaf, saya sudah harus pulang. Terima kasih, ehm ...."

"Panggil saja Om Adit."

"Aah, iya. Makasih, Om Adit. Saya pamit."

Dengung menyayangkan mengiringi penolakan Raya. Dan gadis itu menanggapi dengan senyum canggung sambil beberapa kali minta maaf. 

Sampai di depan rumah, waktu sudah hampir gelap. Tio sudah di ruang tamu. 
"Hei, kamu baik-baik aja, kan?" Tio langsung berdiri menghampiri adiknya.

"Baik, Kak. Memangnya kenapa?" Raya melihat Tio tampak cemas. "Aku sudah pamit mau ke toko buku, kan?" tanya Raya.

"Iya. Kakak cuma khawatir aja, kamu rahasiain sesuatu dari Kakak." 

Raya tertegun. Segitu pekanya Tio tentang dirinya. "Aku baik-baik aja, Kak. Kak Tio fokus aja sama skripsinya. Oiya, apa ada ... nggak jadi." Raya mengurungkan niatnya bertanya tentang papanya. 

Sudah hampir enam bulan belum ada kabar. Raya cemas dan sangat merindukan hangatnya pelukan dari beliau. Banyak hal dan keluh kesah yang hanya bisa dia ceritakan pada papanya. Bahkan mamanya pun tidak Raya percaya bisa menanggapi sesabar papa.

"Kamu mau tanya soal Papa?" Tio menghela napas. Dia duduk lagi di sofa. "Belum ada kabar, Dek. Kakak juga nunggu dan cari tahu, tapi tetap belum ada."

Raya tahu hal ini mungkin saja terjadi. Dulu saat dia masih SD hal ini juga terjadi. Dia menangis hampir tiap hari karena tidak bisa bertemu papanya begitu lama. Saat seperti itu Nina terkadang tidak bisa sabar menghadapi tantrumnya Raya. Dan hal itu tersimpan dalam hatinya hingga besar. Sehingga saat terjadi buly dan hinaan, Raya memilih menyimpannya sendiri. 

Beban Raya sedikit berkurang meskipun belum semua hilang. Melampiaskan penat dan takut dengan bermain musik, lumayan bekerja. Paling tidak malam nanti dia bisa fokus belajar dan tidur nyenyak.

***

Jam istirahat baru saja berbunyi. Hari ini ada hal yang membuat Raya hanya ingin cepat pulang. Semalam papanya mengabari akan pulang dan mungkin akan stay agak lama di rumah. Beliau mengatakan kalau akan memulai usaha bersama temannya. Ada perusahaan yang akan ikut menanam saham juga. Jadi modalnya cukup.

"Jadi, Papa nggak akan ikut berlayar lagi?" tanya Raya penuh antusias. 

"Betul. Sudah waktunya Papa nemenin princess-nya Papa. Jadi, tunggu Papa, ya. Oiya, ada hadiah buat kamu sama Kak Tio. Sekarang cepat tidur, karena Papa mungkin baru sampai besok sore."

Obrolan semalam terus terngiang di telinga Raya. Saking bahagianya sampai-sampai fokus belajarnya terganggu. Untungnya tidak ada guru yang menyadari dia kurang memperhatikan materi. Dalam hati Raya berjanji hanya untuk hari ini saja, dia ingin menikmati excited-nya menunggu seseorang yang paling berharga bagi hidup kita.

Rasya ikut bahagia melihat binar yang jarang sekali terlihat di mata Raya. Hari ini Raya berbeda, bahkan dia tersenyum padanya tadi pagi. Mungkin dia tidak sadar melakukan itu. Entah apa yang membuat Raya jadi lebih bersinar. Dia ikut senang.

"Raya." Kali ini Rasya tidak datang tiba-tiba. Dia mengetuk pintu kelas, dan memastikan Raya melihatnya lebih dulu sebelum dia menghampiri.

"Kali ini gue nggak ngagetin lagi, kan?" Rasya melihat Donna langsung keluar begitu Rasya menghampiri bangku mereka.

Raya menggeleng. Dia menyuap makan siangnya dengan lahap. Tidak peduli porsi yang diberikan Nina lebih banyak dari biasanya. 

"Kalo makan lo kayak gini terus, gue jamin lo bakal .... oh, em ... akan makin sehat maksudku." Rasya tidak jadi mengatakan maksud sebenarnya. Dia menduga kalau alasan Raya selalu memakai jaket atau outer untuk menutupi kondisi tubuhnya.

Bagi Rasya badan Raya tidak sekurus yang dirasa gadis itu. Entah, cerita apa yang membuat dia jadi merasa berbeda. 

"Gue tahu lo mau ngomong apa. Makasih sudah nahan nggak bilang. Gue hargai itu." Raya melanjutkan makan hingga habis tak bersisa.

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Pisah Temu
1212      674     1     
Romance
Jangan biarkan masalah membawa mu pergi.. Pulanglah.. Temu
CELOTEH KUTU KATA
42884      7645     16     
Fantasy
Kita adalah sekumpulan kutu yang banyak menghabiskan kata tanpa peduli ada atau tidaknya makna. Sebagai kutu kadang kita lupa bahwa hidup bukan sekedar berkata-kata, tapi lebih dari itu, kita harus berkarya. Berkaryalah walau hanya sepatah kata sebelum jiwa dan ragamu jadi mangsa kutu penghuni tanah.
Selaras Yang Bertepi
3176      1320     0     
Romance
"Kita sengaja dipisahkan oleh waktu, tapi aku takut bilang rindu" Selaras yang bertepi, bermula pada persahabatan Rendra dan Elin. Masa remaja yang berlalu dengan tawa bersembunyi dibalik rasa, saling memperhatikan satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka mulai jatuh cinta, Rendra berhasil menyembunyikan perasaan ini diam-diam. Sedangkan Elin jatuh cinta sama orang lain, mengagumi dalam ...
Help Me Help You
5461      2676     56     
Inspirational
Dua rival akademik di sebuah sekolah menengah atas bergengsi, Aditya dan Vania, berebut beasiswa kampus ternama yang sama. Pasalnya, sekolah hanya dapat memberikan surat rekomendasi kepada satu siswa unggul saja. Kepala Sekolah pun memberikan proyek mustahil bagi Aditya dan Vania: barangsiapa dapat memastikan Bari lulus ujian nasional, dialah yang akan direkomendasikan. Siapa sangka proyek mus...
Konfigurasi Hati
1522      880     4     
Inspirational
Islamia hidup dalam dunia deret angka—rapi, logis, dan selalu peringkat satu. Namun kehadiran Zaryn, siswa pindahan santai yang justru menyalip semua prestasinya membuat dunia Islamia jungkir balik. Di antara tekanan, cemburu, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan, Islamia belajar bahwa hidup tak bisa diselesaikan hanya dengan logika—karena hati pun punya rumusnya sendiri.
F I R D A U S
868      590     0     
Fantasy
Telat Peka
1429      684     3     
Humor
"Mungkin butuh gue pergi dulu, baru lo bisa PEKA!" . . . * * * . Bukan salahnya mencintai seseorang yang terlambat menerima kode dan berakhir dengan pukulan bertubi pada tulang kering orang tersebut. . Ada cara menyayangi yang sederhana . Namun, ada juga cara menyakiti yang amat lebih sederhana . Bagi Kara, Azkar adalah Buminya. Seseorang yang ingin dia jaga dan berikan keha...
Lantas?
121      117     0     
Romance
"Lah sejak kapan lo hilang ingatan?" "Kemarin." "Kok lo inget cara bernapas, berak, kencing, makan, minum, bicara?! Tipu kan lo?! Hayo ngaku." "Gue amnesia bukan mati, Kunyuk!" Karandoman mereka, Amanda dan Rendi berakhir seiring ingatan Rendi yang memudar tentang cewek itu dikarenakan sebuah kecelakaan. Amanda tetap bersikeras mendapatkan ingatan Rendi meski harus mengorbankan nyawan...
The Unbreakable Love
167      154     0     
Inspirational
Ribuan purnama sudah terlewati dengan banyak perasaan yang lebih berwarna gelap. Dunia berwarna sangat kontras dengan pemandangan di balik kacamataku. Aneh. Satu kalimat yang lebih sering terdengar di telinga ini. Pada akhirnya seringkali lebih sering mengecat jiwa dengan warna berbeda sesuai dengan 'besok akan bertemu siapa'. Di titik tidak lagi tahu warna asli diri, apakah warna hijau atau ...
Solita Residen
5451      2197     11     
Mystery
Kalau kamu bisa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa... bukan berarti kau harus menunjukkannya pada semua orang. Dunia ini belum tentu siap untuk itu. Rembulan tidak memilih untuk menjadi berbeda. Sejak kecil, ia bisa melihat yang tak kasatmata, mendengar yang tak bersuara, dan memahami sunyi lebih dari siapa pun. Dunia menolaknya, menertawakannya, menyebutnya aneh. Tapi semua berubah seja...