Loading...
Logo TinLit
Read Story - Merayakan Apa Adanya
MENU
About Us  

Raya menyelesaikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Pelajaran Matematika yang sejak SD jadi hantu pertama baginya, perlahan berubah. Tidak semenakutkan dulu. Dia belum sepenuhnya bisa, tapi paling tidak ketakutannya berkurang. Sehingga dalam berpikir dan menentukan langkah solusi soal, Raya lebih tenang dan fokus.

"Raya!" tiba-tiba saja Rasya sudah di depan pintu kelasnya. 

Situasi sudah sepi karena Raya memilih belakangan keluar kelas. Dia tidak suka harus berjalan cepat-cepat di antara siswa yang bersamaan menuju pintu gerbang sekolah atau tempat parkir untuk mengambil motor. Situasi ini dimanfaatkan Rasya untuk mendekati Raya, sepertinya.

"Gue ikut seneng lo lebih baik hari ini." Rasya menyusul langkah Raya.

"Maksudnya apa, sih? Lo tuh, nggak jelas." Raya terus berjalan sambil menanggapi cowok menyebalkan di sebelahnya.

Begitu sampai di depan, Tio sudah menunggu. Hari ini giliran dia jemput adiknya. Kalau bukan Tio, Nina atau kalau tidak ada yang bisa, ada ojek langganan yang tinggal di dekat rumah Raya.

"Gue duluan." Raya merapatkan jaketnya lalu menaiki motor. 

Rasya tidak menghalangi langkah Raya, karena memang tujuannya bukan itu. Rasya tertarik dengan Raya karena satu hal. Cewek itu mengingatkan dia pada seseorang di Jakarta. Sosok yang membuat dirinya jadi seperti sekarang. Kebetulan sekali Raya pernah tinggal di kota metropolitan itu. Makin penasaran lah, dia.

Tio sempat memperhatikan ada cowok yang mengikuti adiknya. Tadinya mau turun dan menegur, karena melihat adiknya yang terlihat tidak nyaman. Tapi sepertinya  dia tidak berusaha mengganggu, bahkan menganggukkan kepala menyapa. Tentu saja Tio membalas sapaan itu dengan mengangguk juga. 

"Tadi siapa, Dek?"

"Cuma temen." Lana menjawab singkat. Kelihatan sekali dia malas membahas yang katanya teman itu.

"Ooh, kirain pacar atau crush kamu." Tio tidak mendapat jawaban lagi. "Kamu ngantuk, Dek?" lanjutnya.

"Enggak, Kak! Aku cuma pengen cepet balik." 

Tio tersenyum. Padahal kalau memang adiknya itu suka juga tidak masalah. Asal bisa membuatnya bisa jadi lebih ceria dan terbuka dengan keluarganya sendiri.

Sepeninggal Raya, Rasya menuju mobilnya lalu meninggalkan sekolah yang makin sepi. Belum jauh meninggalkan gerbang sekolah, ada telepon masuk di ponselnya. Rasya memutar kemudi ke arah kiri, sebuah lapangan rumput yang cukup luas jadi tempatnya menghentikan mobil sejenak.

"Halo. Gimana hasilnya?" Seseorang di seberang menjawab kalau orang yang dicari ternyata satu sekolah dengannya. Informasi detail lainnya belum dapat lagi.

"Ok, makasih banyak, Om." Rasya menyandarkan kepalanya. Dia sadar sepenuhnya mencari orang dengan ciri-ciri yang kurang detail, pasti banyak kendala. Apalagi kejadian itu sudah empat tahun berlalu.

***

Hari ini pelajaran olahraga entah ke berapa. Awalnya Raya melewatkan jadwal dengan alasan sakit perut karena datang bulan. Kalo ini Raya tidak mungkin melakukan itu lagi. Guru olahraga sekolah ini seorang pria juga. Tetapi usianya paruh baya, sudah berkeluarga dan anaknya juga seusia dirinya. Itu hal yang beliau katakan waktu perkenalan di awal pertemuan.

Meskipun otaknya terus berusaha mensugesti kalau sosok ini berbeda. Dia bisa membatasi dirinya sendiri saat harus berinteraksi langsung. Hari ini senam lantai menjadi tema yang harus dipelajari. Beliau mempraktekkan cara roll depan dan roll belakang, yang aman dan benar. Beberapa matras sudah disiapkan di aula, semua siswa juga sudah melepas sepatu masing-masing.

Saat giliran siswa mempraktekkan sendiri, Raya mengira kalau guru tersebut akan ikut membantu. Benar beliau membantu tapi tidak selalu kontak fisik. Raya benar-benar memperhatikan dengan detail. Satu persatu teman perempuannya melakukan dengan aman. Tidak ada perlakuan yang berlebihan.

"Baik, Raya silakan giliran kamu!" Pak Guru menepi setelah matras diluruskan ke posisi semula.

Ragu datang, tiba-tiba saja bayangan sosok guru amoral di masa lalunya mengganggu. Raya memejamkan mata, mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia tidak mau bertindak aneh karena ingatan buruknya muncul.

Raya, ini tempat lain, gurunya juga lain. Beliau tidak sama dengan orang di masa lalu. Tenang dan fokus. Lakukan sesuai yang diajarkan pasti bisa. Lakukan dan selesai.

Apa pun yang dilakukan Raya, perhatian sudah terpusat padanya. Bisik-bisik mulai berdenging di telinganya. Sebisa mungkin dia tak menggubris reaksi di sekitarnya. Semakin lama dia berdiam, makin lama juga dia jadi pusat perhatian. Raya melakukan tugasnya dengan cepat. Tetapi saat roll depan Raya tidak sampai selesai. Kepalanya nyaris terkena lantai karena posisi badannya agak miring.

Raya sudah siap merasa sakit, tapi sebuah tangan lebih dulu menahan kepalanya. 

"Cara kamu salah, Raya. Seharusnya dagu menyentuh ke dada, jadi waktu kamu mulai, posisi kepala masuk ke dalam. Cara itu mencegah terjdinya cedera yang berbahaya." 

Raya langsung bangkit begitu mendengar suara dari gurunya. Wajahnya tertunduk, dia mundur perlahan. Keringat dingin mengucur di seluruh bagian tubuhnya.

"Raya, kamu nggak apa-apa? Saya nggak marah sama kamu." Pak Guru melihat Raya ketakutan karena tubuhnya gemetar dan terus menjauh darinya. Ekspresinya juga terlihat takut dan sangat tidak nyaman.

"Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma ingin ke toilet sebentar." Raya langsung pergi bahkan tanpa memakai sepatunya lebih dulu.

"Saya ijin menyusul, Pak. Mau kasih sepatunya." Rasya juga menyusul pergi dengan menenteng sepatu milik Raya.

Tidak ada yang peduli lagi dengan kejadian tadi. Mereka memang sempat membicarakan reaksi Raya yang terlalu berlebihan. Padahal guru bicara dengan nada biasa. Tidak membentak atau memarahi. Bukan cuma dengan Raya, jelas-jelas siswa yang sebelumnya salah juga dapat teguran. Tapi mereka sudah tahu Raya memang aneh. Makanya dengungan itu tidak berlangsung lama.

Di depan toilet perempuan, Rasya menunggu dengan sabar. Dia mendengar semua ocehan Raya dari luar. Ocehan kesal dan marah pada diri sendiri yang makin membuatnya penasaran.

"Lo kenapa sih, Ray? Guru itu bukan dia. Lo sudah hebat bisa lewati hari demi hari di sini. Jangan sampai semua usaha lo sia-sia karena orang biadab di masa lalu. Come on, Raya. You can do it."

Raya mencuci muka, mengambil napas dalam supaya lebih tenang. Tak lama dia membuka pintu toilet dan menemukan cowok menyebalkan di sana. Raya makin sebal karena hanya Rasya yang peka dengan membawakan sepatunya.

Lo berharap apa sih, Ray? Lo memang nggak punya teman, kan. Bukannya bersyukur, ya ada Rasya yang begini peka sama kondisi Lo?  

"Makasih."

"Apa?" Rasya bukan sengaja, tapi memang kurang jelas mendengar ucapan Raya yang cuma menggumam.

Raya berdecak. "Makasih." Kali ini suaranya lebih kencang.

Rasya tersenyum. "Sama-sama, Raya."

Begitu ada suara siswa lain terdengar, senyumnya pun menghilang. "Gue pergi dulu."

"Eh, Rasya, lo ada apa sama cewek aneh itu? Sampe bela-belain bawa sepatunya." Tiga cewek, teman sekelas Raya, yang kepo sama kakaknya Raya, ternyata juga tidak senang lihat Raya didekati Rasya. 

Secara, Rasya adalah salah satu cowok cool dan tampan, idaman cewek-cewek di sekolah. Mereka dikenal karena orangtuanya kaya dan jadi donatur di sekolah. Padahal donatur itu tidak hanya dari orangtua mereka bertiga. Beberapa donatur lain memilih tidak gembar-gembor, dan biasa saja. Mereka bertiga saja yang membanggakan hal itu secara berlebihan.

"Gue males jelasin!" Tanpa banyak bicara lagi, Rasya langsung meninggalkan ketiganya tanpa menoleh lagi.

Rasya sudah tahu sepak terjang cewek-cewek minus itu. Hampir semuanya minus, plus-nya mungkin hanya di muka cantiknya.

Raya mendengar obrolan sepihak tadi. Dia tahu kalau tidak keluar sekarang, bisa habis dia dicecar ketiga cewek itu di toilet. Entah, apa yang bisa mereka lakukan. Inilah hal kedua yang ingin dia hindari. Lebih tepatnya Raya malas kalau harus ada interaksi detail sama teman sekelasnya itu. Dari sikapnya saja, bisa diduga tidak bisa dipercaya.

"Heh! Cewek aneh!"

Raya berhenti sejenak, tapi langsung melanjutkan langkahnya lagi tanpa menggubris panggilan itu. Apalagi namanya kan, bukan 'heh'.

Selesai pelajaran olahraga, ada wali kelas masuk bersama seorang siswa cewek. Banyak kasak-kusuk yang bilang dia murid baru dari Jakarta. 

"Bukannya cewek aneh itu juga dari Jakarta?"

"Tapi dia ndak nyebut dari sekolah mana?" timpal yang lain dengan logat lokalnya.

Sekolah Raya memang sekolah swasta yang muridnya banyak berasal dari luar kota. Tidak mendominasi, tapi karena  hal itu bahasa gaul dari luar Jawa bukan jadi sesuatu yang aneh.

Raya memasuki kelas tepat saat wali kelasnya memperkenalkan sang murid baru.

"Teman baru kalian ini berasal dari Jakarta. Asal sekolah dari SMA Terang Pelita, Jakarta. Informasi yang lain silakan perkenalkan diri."

Raya mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. Dia berjalan ke bangkunya tanpa melihat si murid baru. Belum juga sampai di bangkunya, wali kelas memanggilnya.

"Raya!" panggil wali kelas.

Raya menoleh dan tatapannya bertemu dengan sang murid baru. Keduanya sama-sama terhenyak. Sontak Raya mengalihkan pandangannya. Sorot mata teman lamanya masih membawa pengaruh begitu besar baginya. Padahal sudah bertahun-tahun Raya tidak bertemu.

"Donna, dia di sini," gumam Raya tanpa sadar.

Tak berbeda dengan Donna, dia juga terkejut bisa bertemu lagi dengan teman lama. Ah, mungkin lebih tepat musuh lama. 

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Senja di Balik Jendela Berembun
109      92     0     
Inspirational
Senja di Balik Jendela Berembun Mentari merayap perlahan di balik awan kelabu, meninggalkan jejak jingga yang memudar di cakrawala. Hujan turun rintik-rintik sejak sore, membasahi kaca jendela kamar yang berembun. Di baliknya, Arya duduk termangu, secangkir teh chamomile di tangannya yang mulai mendingin. Usianya baru dua puluh lima, namun beban di pundaknya terasa seperti telah ...
FaraDigma
7695      2877     1     
Romance
Digma, atlet taekwondo terbaik di sekolah, siap menghadapi segala risiko untuk membalas dendam sahabatnya. Dia rela menjadi korban bully Gery dan gengnya-dicaci maki, dihina, bahkan dipukuli di depan umum-semata-mata untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka. Namun, misi Digma berubah total saat Fara, gadis pemalu yang juga Ketua Patroli Keamanan Sekolah, tiba-tiba membela dia. Kekacauan tak terh...
Behind Friendship
5216      1629     9     
Romance
Lo harus siap kalau rasa sahabat ini bermetamorfosis jadi cinta. "Kalau gue cinta sama lo? Gue salah? Mencintai seseorang itu kan hak masing masing orang. Termasuk gue yang sekarang cinta sama lo," Tiga cowok most wanted dan dua cewek receh yang tergabung dalam sebuah squad bernama Squad Delight. Sudah menjadi hal biasa jika kakak kelas atau teman seangkatannya meminta nomor pon...
F I R D A U S
889      610     0     
Fantasy
Perjalanan Tanpa Peta
213      191     1     
Inspirational
Abayomi, aktif di sosial media dengan kata-kata mutiaranya dan memiliki cukup banyak penggemar. Setelah lulus sekolah, Abayomi tak mampu menentukan pilihan hidupnya, dia kehilangan arah. Hingga sebuah event menggiurkan, berlalu lalang di sosial medianya. Abayomi tertarik dan pergi ke luar kota untuk mengikutinya. Akan tetapi, ekspektasinya tak mampu menampung realita. Ada berbagai macam k...
Secret’s
4757      1726     6     
Romance
Aku sangat senang ketika naskah drama yang aku buat telah memenangkan lomba di sekolah. Dan naskah itu telah ditunjuk sebagai naskah yang akan digunakan pada acara kelulusan tahun ini, di depan wali murid dan anak-anak lainnya. Aku sering menulis diary pribadi, cerpen dan novel yang bersambung lalu memamerkannya di blog pribadiku. Anehnya, tulisan-tulisan yang aku kembangkan setelah itu justru...
Warisan Tak Ternilai
1510      842     0     
Humor
Seorang wanita masih perawan, berusia seperempat abad yang selalu merasa aneh dengan tangan dan kakinya karena kerap kali memecahkan piring dan gelas di rumah. Saat dia merenung, tiba-tiba teringat bahwa di dalam lingkungan kerja anggota tubuhnya bisa berbuat bijak. Apakah ini sebuah kutukan?
Melody untuk Galang
561      360     5     
Romance
Sebagai penyanyi muda yang baru mau naik daun, sebuah gosip negatif justru akan merugikan Galang. Bentuk-bentuk kerja sama bisa terancam batal dan agensi Galang terancam ganti rugi. Belum apa-apa sudah merugi, kan gawat! Suatu hari, Galang punya jadwal syuting di Gili Trawangan yang kemudian mempertemukannya dengan Melody Fajar. Tidak seperti perempuan lain yang meleleh dengan lirikan mata Gal...
FLOW in YOU (Just Play the Song...!)
4076      1453     2     
Romance
Allexa Haruna memutuskan untuk tidak mengikuti kompetisi piano tahun ini. Alasan utamanya adalah, ia tak lagi memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti kompetisi. Selain itu ia tak ingin Mama dan kakaknya selalu khawatir karenanya. Keputusan itu justru membuatnya dipertemukan dengan banyak orang. Okka bersama band-nya, Four, yang terdiri dari Misca, Okka, dan Reza. Saat Misca, sahabat dekat A...
Trust
2118      953     7     
Romance
Kunci dari sebuah hubungan adalah kepercayaan.