Ketika Marrinette baru pulang dari pasar, ia tersentak karena tangannya ditarik paksa oleh seseorang dan menyeretnya ketempat yang sepi. Marrinette nyaris saja berteriak andai dia tidak tau kalau orang itu adalah Dilon.
“Marrinette, kenapa kau tidak juga menemuiku semalam sambil membawa pria itu. Aku sudah lelah menunggu tapi kau tak juga muncul,” ujar Dilon kesal.
“Maaf, aku tertidur.”
Jawaban Marrinette membuat Dilon tambah kesal. “Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tau dan tidak ingat sama sekali.”
“Hh dasar payah!” Dilon duduk jongkok membelakangi Marrinette “Bagaimana bisa kita membebaskan Evelyn kalau kamu seperti ini. Kita tak punya banyak waktu Mar-” celotehnya seraya menoleh dan ucapannya terputus karena Marrinette sudah menghilang. “Marrinette, Marrinette! Kemana tuh orang? Hh! Dasar makhluk berekor. Eh tapi kan aku juga berekor. Ah! Tapi setidaknya aku tidak sebodoh dia.”
●●●
“Bagaimana Tuan?” tanya Adi saat melihat Fadli menuruni tangga.
“Apanya?” Fadli balik bertanya karena kebingungan.
“Apa Tuan muda sudah melihat wujud asli Marrinette?”
Fadli menepuk jidat. “Aah iya, aku lupa. Semalam aku ketiduran di meja makan bersama Marrinette.”
“Bagaimana bisa?” Adi mengerjitkan dahi.
“Aku juga tidak tau. Yang jelas semalam aku habis minum, tiba-tiba kantukku menyerang. Dan aku sudah tak ingat apa-apa lagi.”
"Kalau begini, kapan Tuan akan membuka identitas Marrinette?"
"Ah sudahlah. Jangan terlalu terburu-buru. Masih banyak waktu untuk melakukan itu semua. Lagipula Marrinette masih bekerja di sini."
"Seandainya Marrinette sesuai dengan dugaan kita, apa yang akan Tuan lakukan?"
"Saya akan menyeretnya ke hadapan Papa."
"Apa Tuan muda yakin?" tanya Adi meragukan. Ia tau bagaimana kedekatan mereka berdua.
Belum sempat Fadli menjawab, ia mendengar handel pintu dibuka dan muncullah Marrinette. Fadli langsung berbisik pada Adi.
"Sebaiknya kita bahas lain kali." Fadli langsung menghampiri Marrinette dengan senyuman lebarnya. "Hai Marrinette, kau sepertinya kerepotan. Sini kubantu bawa barang belanjaanmu."
Marrinette menyerahkan separo barang belanjaan dan mengekor dibelakang Fadli yang menuju dapur.
Melihat itu Adi hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin seorang Fadli tega melakukan hal itu pada Marrinette. Sedangkan ia terlihat berusaha mendapatkan perhatian gadis itu. Adi bahkan mulai meragukan Fadli. Ucapan tegasnya tak sesuai tindakannya.
***
Alex dan Rian sedang berjalan-jalan sore. Tak ada suara yang keluar diantara mereka. Hanya sibuk pada pikiran masing-masing. Mereka berbelok di sebuah jalan setapak yang sepi, di kanan jalan ada pagar tembok yang tinggi, yang merupakan batas antara jalan itu dan sebuah bangunan.
Baru beberapa langkah berjalan, mereka menyaksikan pria paruh baya yang sedang memaki panjang pendek pada dua orang dihadapannya yang terlihat ketakutan. Alex bersandar didinding, menyalakan rokoknya. Menghembuskan asap rokok yang terbang dan bercampur dengan udara. Sedangkan telinganya menangkap umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut pria itu.
Tamparan keras mendarat dipipi seseorang. Membuat sang empunya meringgis seraya memegangi pipinya yang serasa terbakar. Teman disampingnya juga mendapatkan hal yang sama. Tak cukup sampai disitu, suara sumpah serapah tepat berada di depan mukanya.
"Membunuh Darlius saja kalian tak becus! Percuma kalian kubayar mahal tapi tak bisa menjalan tugas!"
"Maaf Pak, kami hampir saja membunuh Darlius tapi-"
Ucapannya terputus karena si bos tak sabar untuk memotong.
"Tapi apa! Tapi apa!"
"Dia punya bodyguard yang lebih kuat dari kami," sahut teman disampingnya.
"Hh! Bedebah! Kalian tidak tau kalau istriku Agnes tidak bisa dicegah untuk berhenti jadi asisten Darlius itu. Di belakangku dia selingkuh. Dan sampai sekarang Agnes tidak mau pulang. Hanya ada satu cara untuk memisahkan mereka. Yaitu dengan membunuh Darlius! Tapi ternyata kalian gagal. Dasar bodoh!" makinya.
"Membunuh Darlius tidak segampang menyentil kecoak, Pak."
Pria paruh baya itu menoleh pada Alex, yang menyentik abu rokoknya.
"Apa kau juga mengenal Darlius?"
Alex menyeringai. "Tidak hanya mengenalnya. Bahkan juga pernah masuk ke dalam kehidupannya. Dan juga mengetahui bagaimana pengaruhnya."
Kening pria itu berkerut. Berusaha memahami kata demi kata yang Alex keluarkan.
"Jadi?"
Alex Membuang puntung rokoknya, menghampiri pria itu, menyentuh bahunya, dan berbisik. "Aku tau cara membunuhnya. Tapi kita tak bisa membicarakannya disini." Alex memberikan kartu nama yang sudah berisikan nomor telepon. "Cari tempat yang benar-benar rahasia dan hubungi aku. Kita bicarakan disana nanti."
Alex menepuk pundak pria itu dan mengajak Rian pergi.
Pria paruh baya yang bernama Patrick itu hanya mengangkat alisnya sebelah, menyimpan kartu nama pemberian Alex di saku bajunya.
Dimarkas rahasia
"Membunuh Darlius tidak mudah. Karena dia selalu ditemani oleh pengawal-pengawal bau tanah," kata Alex memulai pembicaraan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku sudah tak sabar menyaksikan kematian pria bangsat itu." Patrick mengepalkan tangan. Seakan siap menghancurkan apapun yang dia genggam.
Alex menyeringai. "Kita bunuh terlebih dahulu anaknya. Hanya itu satu-satunya cara untuk menundukkan Darlius."
"Kalau begitu tunggu apalagi ayo kita lakukan. Kalau kamu kekurangan pasukan, akan kucarikan lebih banyak dari ini."
Alex menyeringai. Misinya untuk membunuh Fadli tinggal menghitung hari. Kebenciannya pada Fadli sudah tak dapat dibendung. Persetan dengan urusan orang ini dengan Darlius, ia justru lebih menginginkan kematian Fadli terlebih dahulu. Dengan begitu ia akan mudah menguasai daerah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Fadli, memerintah preman-preman yang sebelumnya tergabung dalam geng Fadli. Dan ia sudah tak sabar menantikan momen itu.
***
"Marrinette, apa kau sangat sibuk?" tanya Fadli yang menghampiri Marrinette di dapur.
"Tidak begitu amat. Ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan siang ini. Pekerjaanmu biar Pak Adi yang menggantikan. Lagipula Papaku terlihat semakin sibuk, dan ia lebih sering makan diluar."
Fadli menarik tangan Marrinette. Keluar dari rumah.
Di depan pagar mereka berhenti.
"Biasanya kamu membawa kendaraan, sekarang kenapa tidak? Apa kita jalan kaki lagi?" tanya Marrinette.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke apartement kakekku, ingin mengenalkanmu padanya. Tapi aku lebih suka jika kita pergi naik bus," sahut Fadli.
"Ooh, kamu punya kakek ternyata."
Mereka berjalan ke arah halte yang tidak begitu jauh. Kemudian menunggu beberapa saat. Sebuah minibus berhenti dan mereka menaikinya.
Bus melaju meninggalkan halte yang semakin lama semakin menjauh. Tepat di halte depan supermarket bus itu berhenti. Marrinette dan Fadli turun.
"Kamu mau beli baju tidak?" tanya Fadli.
"Terserah kamu saja."
Fadli menggandeng tangan Marrinette, masuk ke dalam supermarket. Membiarkan Marrinette memilih baju yang disukainya. Sedangkan Fadli hanya menunggu sampai dia menemukan baju yang cocok dan memakainya, Fadli yang membayar.
Mereka keluar dari supermarket itu dan melangkah ria.
"Makasi ya," ucap Marrinette tersenyum senang.
Fadli ikut tersenyum. "Kakekku pasti senang melihatmu."
Marrinette berpikir, ia sebut apa hubungan mereka saat ini, kekasih, HTS, atau TTM? Ah sudahlah, lebih baik menikmati saja. Hubungan tanpa status jauh lebih menyenangkan.
"Marrinette."
"Hmm."
"Kamu lapar?"
"Iya."
"Kita makan di kafe dekat sini saja. Disana ada kafe yang sepertinya baru buka."
Mereka berjalan menuju kafe kecil yang jaraknya tidak beberapa langkah itu.
Di depan kafe itu berdiri spanduk besar yang bertuliskan GRAND OPENING. Diskon 50% khusus hari ini!
"Heran. Grand opening harusnya ramai. Kenapa malah sepi?" tanya Marrinette merasa janggal.
"Hmm. Mungkin karena kafe ini kecil jadi orang-orang tidak begitu tertarik. Lagipula disini terdapat banyak kafe," sahut Fadli.
Marrinette membaca menu-menu yang tertera di spanduk yang tidak seberapa itu.
"Tidak ada ice cream," keluhnya kecewa.
"Sudahlah. Namanya juga baru buka. Kita pesan yang lain saja," ujar Fadli.
Marrinette memutar badannya. "Nggak mau."
"Begini. Kita pesan breakfast aja disini. Nanti setelah sampai di apartement kakekku, aku akan pesan makanan secara online buat kita makan bersama."
"Hmm."
"Ya sudah kalau gitu ayo kita masuk."
"Sebentar. Ada ice cream disana. Aku mau beli. Kamu masuk dulu ya," kata Marrinette karena melihat ada outlet ice cream diseberang jalan.
"Baiklah. Aku duluan. Hati-hati ya." Setelah berkata demikian Fadli membuka pintu kafe yang terbuat dari kaca itu.
Ketika hendak menyebrang, samar-samar Marrinette mendengar ucapan salah seorang penjaga depan kafe.
"Kiriman gula sudah masuk kafe."
Mengetahui Marrinette menoleh pada mereka, dua penjaga terutama yang sedang memegang handphone buru-buru tersenyum lebar. Tapi bagi Marrinette senyuman itu justru terasa aneh dan terkesan dipaksakan. Ia menepis anggapan buruknya, pergi menyebrang jalan dan membeli es krim.
Di dalam kafe itu Fadli menangkap gelagat aneh dari pelayan-pelayan. Sejak awal ia masuk mereka seakan memperhatikannya, bahkan sorot mata dua orang barista tak pernah lepas dari Fadli. Fadli duduk dengan canggung. Saat mata mereka beradu pelayan-pelayan itu kembali menjalankan aktifitasnya. Ada yang menyapu lantai, mengelap meja, bahkan membersihkan kaca. Yang membuatnya heran kenapa meja itu terus menerus dilap seakan-akan sehabis di lap meja itu kotor lagi. Fadli hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Ia baru sadar bahwa tidak ada pelayan wanita di kafe itu, semuanya laki-laki berotot, diperhatikannya tangan mereka satu persatu, semuanya bertato. Tiba-tiba saja ia merasa tak nyaman.