Sekitar jam 12 malam, Marrinette pergi keruangan dimana Evelyn ditempatkan. Ia membuka kunci pintu itu pelan-pelan, berharap tak ada satupun yang melihat dan mendengarnya. Ketika menarik handel pintu, ia terkejut.
Ada yang menepuk pundaknya. Ia membalikkan badannya perlahan, menghadap Agnes yang menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya masih dengan tatapan yang sama.
"A-aku, oo, ini. Hanya ingin melihat duyung itu. Tadi siang belum begitu puas menyaksikannya. Sekarang aku ingin melihatnya lagi dalam keadaan tidur. I-itu saja. Tak lebih," sahut Marrinette gugup.
"Apa kamu tidak bisa baca?" kata Agnes, menunjuk tulisan yang ditempel di pintu.
Marrinette menoleh. Membaca tulisan yang terpampang: DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN!
"Kamu bukan orang penting di sini. Jadi sebaiknya jangan coba-coba masuk sembarangan, paham!"
"Ma-maaf."
Marrinette berlalu dari hadapan Agnes. Sejenak menoleh pada Agnes yang masih menatapnya tajam. Huh, gagal! Keluh batinnya.
◇◇◇
"Fadli," panggilan Darlius menghentikan langkah Fadli yang hendak ke dapur menemui Marrinette.
Fadli menoleh. Dengan isyarat tangannya ia menyuruh Fadli menghampirinya. Fadli mendekati Darlius yang sedang bersama Pak Adi yang sepertinya mereka habis mengobrol.
"Ada apa, Pa?"
Darlius tak langsung menjawab. Tapi mengajak Fadli keruangan kerjanya. Hanya mereka berdua.
"Akhir-akhir ini Papa sering mendapatkan laporan kalau Marrinette sering bertingkah mencurigakan."
"Mencurigakan bagaimana maksud Papa?" tanya Fadli tak mengerti.
"Dia sering terciduk memata-matai ruang penelitian bahkan menguping pembicaraan Papa dengan Agnes. Coba kamu selidiki perempuan itu bisa jadi dia ada hubungan dengan duyung ini."
Fadli diam dan mengerjitkan dahi.
"Fadli, tidak ada gunanya melindungi duyung. Mereka hanyalah musuh bagi manusia. Waktu Papa pergi liburan ke sebuah pulau, kapal yang Papa tumpangi nyaris tenggelam oleh pasukan duyung. Mereka datang ke dunia manusia pasti mempunyai misi, yaitu menghancurkan manusia," ucap Darlius. Mengelabui Fadli dengan kebohongannya.
Seketika Fadli teringat percakapannya dengan Marrinette yang telah berlalu.
"Aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu jatuh cinta. Aku datang kerumah ini hanya karena suatu misi- "
"Misi apa"?
"Maaf, salah ngomong. Lupakan."
Fadli langsung geram. Aku sudah salah mengenalmu Marrinette, ternyata kau mempunyai niat terselubung.
"Kalau begitu, aku akan menyelidikinya Pa."
"Bagus," sahut Darlius.
Diam-diam Darlius tersenyum sinis. Sepertinya Fadli telah termakan ucapannya..
☆☆☆
"Menurut Pak Adi, apakah orang sepolos Marrinette itu jahat? Bahkan saya hampir tidak mempercayainya," tanya Fadli.
"Bisa jadi. Justru orang kelihatan polos lebih berbahaya daripada orang jahat. Mungkin saja dia tidak terlihat jahat, tapi sebenarnya adalah pembunuh berdarah dingin," sahut Pak Adi.
"Kalau begitu, awasi perempuan itu!" perintah Fadli.
"Siap Tuan!"
Fadli benar-benar geram. Ingin sekali dia menyeret Marrinette ke hadapan Papanya. Namun ketika sudah berjumpa dengan Marrinette pun, ia malah mengurungkan niatnya dan berubah menjadi kasihan. Tatapan lembut Marrinette melemahkannya.
Batin dan pikirannya bergejolak, antara percaya dan tidak percaya. Benarkah Marrinette jahat? Tapi kenapa sebagian hatinya mengatakan tidak.? Kalau begitu, dia harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.
Sebaliknya, Marrinette sudah membaca isi pikiran Fadli, ia tau kalau Fadli telah terpedaya dengan omongan Darlius. Itu artinya, ia sudah tidak bisa mempercayai Fadli 100%. Dia harus berhati-hati. Dan tidak boleh gegabah. Salah langkah sedikit saja akan membuat semuanya gagal total.
☆☆☆
Suatu ketika Fadli diam-diam masuk ke dapur sambil membawa pemukul bola kasti. Terlihat Marrinette yang masih sibuk dengan kerjaannya dan tidak menyadari kehadirannya. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk membawa Marrinette ke hadapan Papanya. Langkahnya dibuat sepelan mungkin. Ketika dirasa sudah dekat, ia mengangkat pemukul bola kasti tinggi-tinggi. Tetapi sontak dia gagalkan dan menyembunyikan pemukul itu di balik punggungnya. Buru-buru tersenyum agar Marrinette tak curiga.
"Fadli," kata Marrinette seraya memperlihatkan senyum manisnya.
"Hehe," sahut Fadli nyengir.
"Oh ya. Aku membuatkan kopi kesukaanmu." Marrinette mengambil secangkir kopi yang sudah diseduhnya sebelum kedatangan Fadli. Fadli menerimanya, meminumnya.
"Bagaimana? Apakah terlalu pahit?"
"Pas," jawab Fadli.
Marrinette lantas tersenyum senang dan menggenggam tangan Fadli. Seketika Fadli merasakan kehangatan tangan Marrinette yang membuatnya merasa bersalah dan ingin mengurungkan niatnya untuk menyakiti Marrinette.
Tidak-tidak. Marrinette tidak jahat. Tapi mengapa Papa mengatakan Marrinette seakan-akan ada hubungan dengan duyung itu? Bagaimana cara membuktikan benar tidaknya? Ah, memukulinya adalah tindakan tak manusiawi. Sepertinya harus main halus.
"Fadli," lirih Marrinette.
Fadli menoleh. Setiap kali ia memandang Marrinette cintanya semakin dalam. Dan semakin dirinya tak tega untuk menyakitinya. Tapi disatu sisi ia dilema antara harus mempercayai ucapan Papanya atau tidak. Ia berusaha untuk mengendalikan hatinya agar tak dibutakan oleh cinta. Namun pesona Marrinette yang begitu kuat tak dapat terelakkan.
"Es krim yang kamu beli waktu itu sangat enak. Bolehkah aku memintanya sekali lagi?" Marrinette mengatakannya dengan wajah memohon yang membuatnya gemas.
"Baiklah." Fadli memenuhi permintaannya.
Marrinette langsung tersenyum girang.
Mereka pergi ke tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya. Marrinette disuruh menunggu di tepi jalan dan Fadli yang membelinya sendiri biar Marrinette tak harus berdesak-desakan dengan pembeli lain.
Saat tengah menunggu, tiba-tiba ada kerikil kecil yang mengenai bahunya. Membuatnya sedikit terkejut. Marrinette menoleh pada si pelempar. Ternyata Dilon yang sedang bersembunyi dibalik tembok. Marrinette menghampirinya.
"Ada apa?" Bisiknya.
Dilon mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah botol kecil yang berisi cairan dan memberikannya pada Marrinette.
Marrinette menerimanya dengan kebingungan.
"Apa ini?"
"Ramuan yang bisa membuat orang yang meminumnya tertidur. Masukkan ke dalam minuman pada malam nanti, dan berikan pada pria itu. Setelah dia tertidur, temui aku di belakang rumah tempatmu bekerja itu. Kita akan membawanya pada suatu tempat. Dan memaksanya untuk membebaskan Evelyn. Aku tunggu kau malam nanti, jangan sampai gagal."
Marrinette mengangguk, kemudian kembali pada tempat dimana ia menunggu Fadli sebelumnya.
▪︎▪︎▪︎
"Tuan muda."
Panggilan Pak Adi mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya.
"Kemana saja Tuan muda? Sedari tadi saya cari tapi tak ditemukan."
"Keluar sebentar," sahut Fadli. "Ada apa?"
Pak Adi mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Memberikannya pada Fadli.
"Maksudnya?" tanya Fadli kebingungan.
"Untuk membuktikan Marrinette duyung atau tidaknya, sebaiknya Tuan muda berikan obat tidur ini pada minuman Marrinette. Begitu ia meminumnya, ia akan merasakan kantuk yang luar biasa kemudian tertidur pulas. Nah saat itulah Tuan muda siram tubuhnya pakai air. Jika benar ia duyung, maka saat itu juga Tuan muda akan melihatnya."
Usulan yang bagus. Fadli menerima obat itu dengan senyuman mengembang.
Malamnya, Fadli membuat segelas susu hangat yang nanti akan diberikan pada Marrinette. Ia mengeluarkan obat yang diberikan Pak Adi tadi, memasukkannya ke dalam minuman itu. Hari ini ia sedang berada di atas rooftop. Dengan berdalih melakukan syukuran, ia mengadakan perayaan kecil-kecilan. Hanya ada dia dan Marrinette. Fadli duduk di kursi menunggu kedatangan Marrinette, sambil memandangi tempat yang sudah dihias indah. Ini lebih tepatnya disebut dengan kencan. Fadli tersenyum, mengingat bahwa ia pernah kencan dengan Marrinette.
Ah tidak. Fokus pada misi. Ia menepis bayangan indah itu. Malam ini ia meminta Marrinette tidak memasak makan malam untuknya, tapi dia yang membeli makanan untuk Marrinette.
“Marrinette," sapanya ketika Marrinette sudah datang.
“Hai Fadli. Aku membuatkan kopi untukmu,” kata Marrinette tersenyum. Marrinette meletakkan minuman itu kemudian duduk dikursi dihadapan Fadli.
"Ah, kau membuatkan minuman untukku? Aku juga membuat minuman untukmu," sahut Fadli.
"Benarkah? Kenapa tiba-tiba kamu kepikiran untuk membuat minuman untukku?" tanya Marrinette dengan tatapan lekat.
Fadli tergelak menutupi kegugupannya. "Namanya juga perayaan, apa salahnya jika aku melakukannya untukmu?” Fadli memberikan susu hangat itu padanya.
Marrinette tersenyum tipis.
"Kalau begitu, mari bersulang."
Fadli mengangkat gelasnya yang diikuti oleh Marrinette. Gelas beradu, dan kemudian mereka minum. Saat minum Fadli terus memperhatikan Marrinette, memastikan bahwa minuman itu benar-benar diminum Marrinette sampai habis. Sebaliknya, Marrinette juga memperhatikan Fadli, memikirkan hal yang sama. Keduanya tersenyum canggung.
"Bagaimana menurutmu dekorasi tempat ini?" tanya Fadli berpura-pura memancing obrolan.
"Sangat cantik," sahut Marrinette.
"Aku sengaja menyiapkan ini untukmu."
"Untukku?"
Fadli tersenyum.
Tiba-tiba Marrinette merasakan kantuk yang luar biasa. Ia menguap berkali-kali.
Bagus. Obat itu mulai bereaksi. Ia melihat mata Marrinette mulai sayu pertanda dia akan tertidur. Fadli tersenyum. Tapi dia juga heran mengapa merasakan kantuk yang sama. Berusaha menahan sekuat mungkin namun kantuk itu tetap menyerangnya. Hingga matanya menyerah dan tertidur pula, dimeja itu bersama Marrinette.
Sedangkan Dilon menunggu dibawah sambil berkacak pinggang. Sekian lama menunggu, Marrinette tak juga menampakkan batang hidungnya. Bosan melanda, apa Marrinette tidak ingat dengan tugasnya? Hari semakin dingin pertanda malam semakin larut. Karena kesal Dilon meninggalkan tempat itu.
***