“RAYYAN!! Apa yang terjadi?” seru Nyonya Amanda.
Wanita tua itu langsung terkejut saat melihat Rayyan pulang dengan keadaan babak belur. Usai mengantar Aina ke tempat les, Pak Sukri memang langsung mengantar Rayyan pulang. Namun, akhirnya Rayyan juga yang kebingungan saat Nyonya Amanda melihatnya seperti ini.
“Eng ... gak papa, Nek. Aku jatuh tadi.” Rayyan sengaja bohong.
Mata pria tampan itu sudah melirik ke arah Pak Sukri seakan meminta Pak Sukri merahasiakan tentang ini. Nyonya Amanda tidak percaya dengan ucapan Rayyan. Wanita tua itu berjalan mendekat dan melihat luka di tubuh Rayyan.
“Ini tidak seperti luka habis jatuh, Rayyan. Ini seperti luka pukulan. Apa ada yang memukulmu? Siapa?”
Rayyan tersenyum meringis dan menggelengkan kepala dengan cepat.
“Enggak ada, Nek. Aku beneran jatuh, kalau tidak percaya tanya Pak Sukri saja.” Rayyan melirik ke Pak Sukri. Ia memberi isyarat mata agar pria paruh baya itu mau berbohong untuk menolongnya.
“Iya, benar, Nyonya. Tadi Tuan Rayyan terjatuh dan saya menolongnya.” Akhirnya pria paruh baya itu sudah mau bekerja sama dengan Rayyan.
“Astaga, Rayyan. Lain kali hati-hati. Apa lukanya sudah kamu obati, Sukri?” Kini Nyonya Amanda bertanya ke Pak Sukri.
“Sudah, Nyonya. Tadi ada kotak P3K di mobil.”
“Ya sudah, nanti aku akan melihatnya lagi. Sekarang kamu istirahat saja, Rayyan.”
Rayyan mengangguk kemudian sudah berpamitan masuk ke dalam kamar. Sementara Pak Sukri kembali keluar rumah untuk menjemput Aina.
Pukul setengah tujuh malam saat Aina baru saja keluar dari tempat lesnya. Ia sangat lelah dan mengantuk. Baru hari pertama sekolah, jadwalnya sudah sepadat ini. Namun, di kehidupan sebelumnya Aina juga mengalami hal yang sama.
“Non ... nanti kalau Nyonya besar tanya mengenai Tuan Rayyan, tolong bilang kalau Tuan Rayyan jatuh. Bukan dipukul, ya?” Tiba-tiba Pak Sukri berkata seperti itu di perjalanan pulang.
Aina yang tadinya mengantuk dan menyandarkan punggungnya di kursi belakang tiba-tiba terkejut. Ia sudah duduk tegak sambil melihat Pak Sukri melalui kaca spion.
“Apa Rayyan yang memintanya, Pak?” tebak Aina.
Pak Sukri tersenyum kemudian menganggukkan kepala sambil melihat ke arah Aina melalui kaca spion. Aina berdecak sambil menghela napas panjang. Kenapa juga Rayyan tidak mau jujur kalau habis dipukul? Bukankah dengan demikian ayahnya akan segera bertindak tegas menghukum pelakunya. Aina tahu, Tuan Farid seorang yang keras. Dia tidak akan segan menindak orang yang mengganggu keluarganya.
Hal seperti ini pasti sangat mudah diatasi Tuan Farid. Namun, mengapa Rayyan malah menutupinya? Atau jangan-jangan dia memang yang salah sehingga pantas mendapat perlakuan seperti itu.
Aina hanya manggut-manggut mendengarnya. “Oke, aku akan tutup mulut.”
Pukul tujuh malam saat Aina tiba di rumah. Ia sangat lelah dan gegas menuju kamarnya untuk beristirahat. Bahkan Aina sudah meminta pelayan di rumah untuk mengantar makan malam ke kamarnya.
Aina tidak melihat nenek dan ayahnya menyambut saat datang tadi. Ini memudahkan Aina sehingga dia tidak perlu berbohong jika mereka bertanya tentang Rayyan. Aina langsung mandi begitu masuk. Selang beberapa saat dia langsung menghabiskan makan malam yang baru diantar pelayan ke kamarnya.
Aina menguap lebar dan siap untuk tidur, tapi dia melihat langit yang cerah dengan taburan bintang dari jendela kamarnya. Rasanya sayang jika keindahan malam ini dilewatkan begitu saja. Aina urung naik ke kasur malah berjalan menuju balkon dan membuka lebar pintu balkon. Ia langsung keluar sambil mendongakkan kepala ke atas.
“Astaga!! Bintangnya banyak sekali,” seru Aina kesenangan.
Sejak dulu Aina memang pecinta bintang. Rayyan tahu tentang kesukaan Aina. Bahkan Rayyan sering mengajak Aina menikmati keindahan bintang dengan berkemah di alam terbuka. Dalam kehidupan yang berbeda, meski Aina sempat mendapat perlakuan buruk. Namun, di awal pernikahan, Rayyan selalu menuruti keinginannya. Termasuk melihat bintang di alam terbuka.
Aina memangku tangannya di atas pagar balkon. Kepalanya terus mendongak dengan mata yang berbinar menatap bintang. Semua terasa tenang dan tentram. Aina sangat suka situasi seperti ini. Hingga tiba-tiba dia mendengar dehemen seseorang. Aina menoleh ke arah suara dan melihat ke balkon sebelah. Ia hampir lupa kalau ada Rayyan tinggal di sebelah kamarnya.
Pria tampan itu duduk diam di sudut balkon sambil menatap tajam ke arah Aina. Mata pekatnya berkilatan ditimpa cahaya bintang dan terlihat menyeramkan penuh dendam. Perlahan Rayyan bangkit kemudian berdiri hingga ke sudut pagar balkon kamarnya. Aina hanya diam memperhatikan. Dia sedang menunggu apa yang akan dikatakan pria ini.
“Berapa kamu membayar orang untuk memukuliku tadi?” Rayyan tiba-tiba bersuara.
Aina tampak terkejut dengan pertanyaan Rayyan. Apa Rayyan berpikir kalau dia yang menyuruh teman-temannya memukul Rayyan?
“Lain kali jangan anak SMA yang kamu suruh, sekalian bodyguard atau pengawal profesional. Memangnya kamu pikir aku takut menghadapi mereka.” Rayyan kembali menambahkan.
Aina hanya diam, menarik napas sambil melihat Rayyan dengan sudut matanya.
“Aku tidak tahu yang kamu bicarakan. Aku rasa kamu salah orang.”
Rayyan berdecak dan menggelengkan kepala. “Memangnya aku tidak bisa melihat. Kamu yang paling senang melihatku seperti ini, bukan?”
Aina berdecak lagi kemudian berjalan mendekat ke arah Rayyan. Mereka sudah berhadapan di sudut pagar balkon masing-masing.
“Denger ya!! Aku gak kurang kerjaan untuk nyuruh orang mukulin kamu. Kalau aku mau, kamu gak aku pukuli, tapi sekalian aku bikin mati. Itu lebih setimpal.”
Seketika mata Rayyan terbelalak saat Aina berkata seperti itu. Dia tidak menyangka kalau Aina begitu membencinya bahkan berniat ingin membunuhnya.
“Sebaiknya cepat obati lukamu agar sembuh. Kamu tidak ingin semua gadis di sekolah kita mengkhawatirkan kamu besok, bukan?”
Rayyan kembali terkejut dan mengerjapkan mata. Seharian tadi saja, dia sudah sibuk menghindar kejaran para gadis. Apalagi besok kalau dia masuk sekolah dalam keadaan seperti ini.
“Mungkin kalau aku jadi kamu akan melaporkan ke guru BK tentang hal ini. Asal kamu tahu, ulah Teguh dan kawanannya itu sudah sering terjadi di sekolah. Mereka selalu menindas murid baru.”
Memang Aina tahu siapa gerombolan yang memukuli Rayyan tadi. Dia adalah Teguh Prasetyo, salah satu preman di sekolah mereka. Semua takut kepada Teguh, tapi Teguh sama sekali tidak berani kepada Aina. Ayah Teguh adalah salah satu karyawan Tuan Farid. Jika Teguh macam-macam dengan Aina, tentu Aina akan mengadu ke ayahnya dan otomatis ayah Teguh akan dipecat begitu saja. Itu sebabnya di kehidupan yang dulu, Rayyan tidak pernah mengalami hal ini. Aina mengakui Rayyan sebagai pacarnya kala itu.
“Jadi kamu mengenalnya?”
Aina tersenyum miring sambil melipat tangan melihat dengan dingin ke arah Rayyan.
“Aku penghuni lama sekolah itu, tentu saja aku mengenalnya. Apa kamu berpikir aku yang menyuruh Teguh memukulimu?”
Rayyan tidak menjawab hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya. Aina mengulum senyum kemudian berdiri di depannya. Ia terdiam menatap Rayyan tanpa kedip, Rayyan membalas tatapannya dengan dingin.
“Lain kali kamu harus melindungi wajahmu kalau berantem. Itu salah satu asetmu. Sayang banget kalau wajah setampan ini harus babak belur. Itu modalmu untuk memanfaatkan gadis, bukan?”