“Mas Rayyan ... ,” desis Aina lirih.
Tidak disangka sang Pengantin pria yang tak lain Rayyan Toriq itu melihat ke arah Aina. Wajahnya seketika berubah dingin dan langsung memalingkan muka menghindari tatapan Aina. Kini Rayyan tampak tersenyum menyambut pengantin wanita nan cantik di depannya.
Mereka bahkan meneruskan prosesi demi prosesi tanpa mengetahui hancur leburnya perasaan Aina. Aina terdiam di tempatnya dan mundur pelan dengan teratur. Hatinya hancur, sakit dan berdarah. Namun, dia juga tidak mau mempermalukan dirinya di depan umum. Aina memilih pergi menghindar dari tempat itu dan menangis dengan tersedu di sudut masjid.
Aina tahu kalau dari dulu Rayyan tidak pernah mencintainya. Dia yang selalu memaksa, dia yang selalu agresif dan dia dengan semua sikap arogannya membuat Rayyan terpaksa menuruti semua kemauannya. Aina tidak menyangka Rayyan tega melakukan ini padanya.
“NIH!! Hapus air matamu dan pergi dari sini!!” Sebuah suara yang sangat dikenal Aina tiba-tiba terdengar di depannya.
Aina mendongak dan melihat Rayyan nan tampan dengan baju beskap putih datang menghampiri. Pria itu kini sedang mengulurkan tisu padanya. Tatapan matanya sangat dingin dan senyum manis yang Aina lihat di dalam tadi tidak ada di sana.
Aina menundukkan kepala dan tidak mau menerima tisu pemberian Rayyan. Rayyan berdecak dan menyimpan tisunya kembali.
“Aku sudah mengirim surat cerai ke rumah. Kamu tinggal menandatanganinya saja. Jangan khawatir soal harta gono gini. Biar pengacaraku yang mengurusnya.” Rayyan kembali bersuara dan sama dinginnya seperti tadi.
Aina kembali tercengang mendengar ucapan Rayyan. Dia tidak menyangka Rayyan akan menceraikannya setelah sekian lama berumah tangga. Pelan Aina mengangkat kepala dan melihat ke pria tampan di depannya ini. Tidak tampak sedikit pun binar penuh cinta di matanya, hanya kebencian yang membabi buta di mata Rayyan.
Aina menghela napas panjang sambil menguatkan hatinya. Dia tidak mau menangis dan terlihat lemah di depan pria yang sudah menyakitinya ini. Untung saja tempat ini sepi dari tamu dan kerabat sehingga tidak ada yang curiga dengan interaksi mereka.
“Boleh aku tahu ... apa alasanmu menceraikanku, Mas?” Suara Aina terdengar bergetar saat ini. Dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya, tapi ternyata sangat sulit.
Rayyan tersenyum menyeringai sambil menatap Aina dengan dingin. Mata yang selalu dingin dan tidak pernah hangat melihatnya itu semakin menusuk hati Aina.
“Kamu ingin tahu? Seharusnya kamu tanyakan alasannya ke papamu, Aina. Karena dia penyebab semua ini.”
Aina terdiam. Benaknya mencoba berpikir. Apa mungkin karena Tuan Farid meminta Rayyan membalas budi dan membayar semua biaya yang dikeluarkan untuknya? Aina tidak tahu.
“Sekarang pulanglah dan jangan permalukan dirimu di sini.”
Aina menghela napas panjang sambil menatap Rayyan penuh kebencian. Rayyan tidak menghiraukan tatapannya.
“Asal kamu tahu, kamu wanita mandul, Aina. Kita sudah menikah selama lima tahun dan kamu sama sekali belum memberiku keturunan. Itu salah satu alasan aku menikah lagi dan selebihnya karena aku membencimu.”
Aina hanya diam. Baru kali ini Rayyan berbicara sedikit panjang dengannya. Biasanya suami gunung esnya itu bicara sepatah dua patah dengan nada dingin.
“Aku tahu kamu membenciku, Mas. Namun, setidaknya kamu memberi alasan untuk apa kamu menjaminkan rumah kita ke bank. Tadi ada deb collector mencarimu.”
Rayyan tersenyum sinis ke arah Aina.
“Akh ... iya. Aku lupa. Aku baru saja membelikan rumah dan mobil mewah untuk Katrina sebagai mahar pernikahan. Tentunya aku tidak bisa menggunakan uang perusahaan tanpa persetujuanmu, jadi aku gadaikan saja rumah kita. Toh, kamu tidak memerlukannya lagi.”
Aina tampak terkejut. Ia tidak mengira Rayyan akan setega itu padanya. Ternyata ada niat terselubung yang disembunyikan Rayyan selama ini darinya.
“Mas Rayyan ... .” Sebuah suara merdu nan lembut terdengar memanggil Rayyan.
Rayyan menoleh dan memberikan senyum manisnya ke arah wanita cantik yang mengenakan baju pengantin di belakangnya.
“Iya, Sayang. Sebentar Mas ke sana.”
Aina kembali menekan dalam perasaannya. Bahkan ia tidak pernah mendengar Rayyan berbicara selembut itu padanya. Ternyata cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan dan dia yang terlalu memaksa agar pria di depannya ini menerima perasaannya.
“Aku harus pergi dan jangan menemuiku lagi, Aina.”
Rayyan langsung membalikkan badan dan meninggalkan aura dingin yang menusuk dada Aina. Ini lebih menyakitkan daripada sakit di tubuhnya selama ini. Aina kembali menangis dan ambruk ke lantai masjid saat Rayyan berlalu pergi. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menahan semua sakit ini.
Dengan terseok dan gontai, Aina berjalan menuju parkiran. Ia tidak mau membiarkan dirinya berlarut di sini menyaksikan pernikahan suaminya. Mungkin ini sudah nasibnya. Mungkin ini juga akibat sikap arogansinya, sikap egoisnya selama ini. Rayyan tidak pernah mencintainya dan dia yang terus memaksakan diri.
Tinggal beberapa meter Aina sampai di mobilnya, tapi pandangannya sudah kabur. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing lalu ada rasa sakit yang menyerang perutnya secara beruntun. Aina tidak sanggup menahan berat tubuhnya dan tiba-tiba ambruk di parkiran.
“Anda sudah siuman, Nyonya?” tanya seorang suster.
Aina terdiam sambil berulang mengerjapkan mata. Dia ingat terakhir kali berjalan dengan kesakitan menuju mobilnya di parkiran usai pembicaraan dengan Rayyan. Perlahan Aina menganggukkan kepala kemudian melihat ke arah suster di sampingnya.
“Sus, kalau boleh tahu siapa yang membawa saya ke sini?” Aina penasaran. Siapa tahu Rayyan masih peduli padanya dan membawa dia ke rumah sakit ini.
“Setahu saya ada satpam masjid yang menelepon lalu kami mengirimkan ambulan ke sana. Anda pingsan cukup lama, Nyonya.”
Aina terdiam, berulang menelan saliva sambil merasakan sakit beruntun di dada. Ternyata dia salah. Bukan Rayyan yang membawanya ke sini, melainkan seorang satpam. Mungkin kalau tidak ada satpam yang melihatnya pingsan di parkiran. Dia masih berada di sana.
“Nyonya sudah pingsan selama lima hari di sini. Saya lihat tidak ada satu pun kerabat yang menjenguk. Apa tidak ada yang tahu keberadaan Anda, Nyonya? Kami sudah mencoba menelepon suami Anda, tapi ponselnya tidak aktif.”
Aina terdiam. Mungkin pihak rumah sakit menghubungi Rayyan karena mereka sudah mempunyai data Aina di rumah sakit ini.
“Eng ... saya sudah bercerai, Sus. Saya juga sudah tidak punya keluarga, ayah dan ibu saya sudah meninggal. Saya hanya sebatang kara di sini.”
Suster itu tertegun saat mendengar penjelasan Aina. Namun, Aina berusaha sebisa mungkin bersikap tenang. Dia tidak mau dikasihani orang. Dia hanya ingin merasakan kesedihannya sendiri. Mungkin ini hukum karma untuknya. Sikapnya yang sombong, arogan dan selalu memaksa semua orang menurut membuatnya menerima kesialan ini.
“Kalau begitu biar saya panggil dokter dulu, Nyonya. Ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan.”
Aina mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Tak lama seorang dokter bertubuh tambun masuk ke ruangan tersebut. Aina tersenyum menyambutnya begitu juga sang Dokter. Terlihat ada keharuan yang diperlihatkan oleh dokter tersebut.
“Saya yakin ini bukan yang pertama bagi Anda, Nyonya?” ujar sang Dokter.
Aina tersenyum dan mengangguk. Dia memang sudah sering mengeluh sakit akhir-akhir ini. Hanya saja Aina tidak pernah mengatakannya ke Rayyan. Rayyan terlalu sibuk dan Aina tidak mau mengganggu kesibukannya.
“Saya sudah pernah bilang kalau penyakit Anda tidak boleh dianggap remeh, Nyonya. Kenapa Anda menghentikan pengobatan tempo hari?”
Aina diam, tidak menjawab. Dia bosan minum obat dan melakukan pengobatan yang tiada henti. Bahkan gara-gara itu, rambutnya rontok dan tubuhnya semakin kurus. Mungkin karena perubahan penampilannya ini juga yang membuat Rayyan memutuskan menikah lagi. Dia sudah tidak menarik di mata Rayyan.
“Kini kanker itu bergerak terlalu cepat, Nyonya. Anda sudah masuk stadium tiga dan saya mohon kali ini Anda harus bekerja sama dengan saya. Anda ingin sembuh, bukan?”
Aina terdiam. Benaknya kembali melayang ke acara pernikahan Rayyan tempo hari. Suaminya itu sangat bahagia dengan pernikahan keduanya. Bahkan Aina baru kali ini melihat senyum yang sangat manis di wajah Rayyan. Rasanya tidak mungkin kalau Rayyan akan kembali padanya. Jadi untuk apa juga dia sembuh dari sakitnya.
Aina menarik napas panjang sambil menatap sendu ke arah dokter sambil bersuara.
“Saya mau pulang, Dok!”