“Saya mau pulang, Dok!” pinta Aina.
Dokter bertubuh tambun itu terkejut mendengar ucapan Aina. Matanya menatap tajam ke arah Aina dengan alis yang mengernyit.
“Nyonya ... tapi Anda membutuhkan perawatan intensif di sini. Bagaimana jika ---“
“Anda bukan Tuhan ‘kan, Dok?” potong Aina. Dokter bertubuh tambun itu langsung terdiam dan mengatupkan bibirnya.
“Jadi biarkan saya pulang. Kalau memang saya butuh minum obat, berikan saja obatnya. Saya akan meminumnya dengan teratur.” Aina menambahkan.
Dokter bertubuh tambun itu hanya menghela napas panjang kemudian menganggukkan kepala dengan lesu.
“Baik. Jika itu yang Anda minta, Nyonya. Saya akan siapkan semuanya. Saya harap Anda tidak lupa kontrol satu minggu dari sekarang.”
Aina hanya mengangguk untuk menyenangkan dokter tersebut. Padahal dia sama sekali tidak berniat untuk kembali ke sini. Dia hanya ingin pulang dan menikmati kesendiriannya di rumah. Selang beberapa saat Aina sudah berada di dalam taxi. Kali ini dia tidak langsung pulang melainkan ke masjid tempat Rayyan melakukan pernikahannya tempo hari. Aina ingat mobilnya masih tertinggal di sana.
“Jadi Ibu pemilik mobil ini? Saya pikir tidak ada yang punya. Rencana saya kalau sampai seminggu tidak ada yang datang akan saya laporkan ke polisi,” ujar satpam masjid tersebut.
Aina hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Saya yang punya, Pak. Tempo hari saya ke sini lalu pingsan dan hari ini saya baru keluar dari rumah sakit.”
“Oh ... jadi Ibu yang tempo hari pingsan. Iya, saya memang yang menemukan Ibu. Saya yang menelepon ambulan.”
Aina kembali tersenyum. “Terima kasih ya, Pak. Kalau tidak ada Bapak mungkin saya masih di sini.”
“Iya, gak papa, Bu. Sesama manusia memang harus saling tolong menolong. Oh ya, apa Ibu salah satu tamu undangan di pernikahan kemarin?”
Aina terdiam. Ia tahu pasti yang dimaksud adalah pernikahan suaminya. Aina gegas menggelegkan kepala.
“Bukan, Pak. Saya hanya sekedar singgah saja kemarin.” Aina terpaksa berbohong. Ia ingin melupakan kesedihannya termasuk melupakan semua hal tentang Rayyan.
“Oh ... saya pikir Ibu salah satu tamu undangannya.”
Aina kembali menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Pak Rayyan yang menikah kemarin. Beliau memang sering datang kemari. Orangnya soleh, baik, dermawan pantas saja jika bersanding dengan Bu Katrina. Bu Katrina itu putri pengurus masjid di sini, Bu.”
Aina hanya diam dan sama sekali tidak berniat menanggapi obrolan satpam tersebut.
“Katanya Pak Rayyan duda. Istrinya meninggal karena sakit kanker makanya beliau memutuskan menikah lagi.”
Aina membisu, dadanya kembali terasa sesak. Jadi selama ini Rayyan menganggapnya sudah meninggal. Apa dia begitu jahat memperlakukan Rayyan sehingga Rayyan menganggapnya mati? Apa mungkin semua perlakuannya dan juga papanya membuat Rayyan menyimpan banyak kebencian padanya. Aina hanya terdiam sambil berulang menghela napas panjang.
“Maaf, Pak. Saya permisi dulu, sudah siang.”
“Gak sekalian salat dhuhur di sini, Bu. Biasanya jam segini Pak Rayyan datang. Beliau juga sering mengimami salat.”
Aina kembali menarik napas panjang. Kenapa juga dia harus menunggu Rayyan? Bukankah dia ingin menghindar dan menjauh dari mantan suaminya itu.
“Maaf, Pak. Saya sedang tidak salat.” Aina terpaksa berbohong dan gegas berlalu pergi. Dia tidak mau membuat hatinya semakin hancur jika sampai bertemu Rayyan kembali.
Aina gegas berjalan menuju mobilnya kemudian mulai menstater bersiap pergi. Namun, tanpa diminta ia melihat Rayyan baru saja keluar dari mobil bersama istri barunya. Senyumnya terkembang manis di wajah tampannya. Lalu Katrina, istri barunya itu terlihat bergelayut manja di lengannya. Mereka saling lempar senyum satu sama lain.
Aina terdiam, menggigit bibirnya dalam-dalam sambil menahan buliran bening di sudut matanya. Dia tidak pernah mengalami hal itu saat bersama Rayyan. Dia yang hanya tersenyum kesenangan sambil bergelayut manja di lengan Rayyan. Sementara Rayyan selalu menunjukkan wajah dingin padanya. Harusnya dia tahu kalau hanya dia yang mencinta sementara Rayyan tidak.
Aina mendonggakkan kepala sambil menarik napas dalam-dalam. Untung saja kaca mobilnya gelap sehingga Rayyan tidak melihatnya saat melintas tadi. Entah kalau dia memang hapal nomor mobil Aina. Dengan hati luluh lantak, Aina melajukan mobilnya meninggalkan pelataran masjid. Ia harus melupakan Rayyan, hanya itu keinginannya.
Sementara itu, Rayyan yang baru melintas menoleh ke arah mobil Aina. Ia tahu dan mengenali kalau itu mobil mantan istrinya hanya saja dia pura-pura tidak melihat tadi.
“Apa yang Aina lakukan di sini?” gumam Rayyan dalam hati. Bagaimanapun Aina sempat menemaninya selama beberapa waktu lamanya. Bahkan pertemuan pertamanya dengan Aina dulu saat dia masih usia belasan tahun.
Rayyan ingat wajah cantik Aina yang menatapnya penuh kagum dan mata berbinar. Awalnya Rayyan menganggapnya biasa. Namun, lama kelamaan Aina menuntutnya terlalu banyak dan dia merasa tercekik setiap saat bersamanya. Bukan cinta yang ia rasakan hanya kebencian dan keterpaksaan. Mungkin itu juga alasan Rayyan meninggalkan Aina.
Aina menghentikan mobil di depan rumah mewahnya. Namun, dia sangat terkejut begitu tahu pagar rumahnya tertutup rapat bahkan digembok dari luar. Kemudian ada tulisan rumah dan bangunan ini disita. Aina menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala.
“Jadi dia memang sengaja tidak membayar hutangnya agar aku kehilangan rumah ini,” gumam Aina.
Aina menarik napas panjang dan sudah memutar kemudi. Ia sudah mengganti tujuannya. Sepertinya Rayyan mengingkari janjinya tentang harta gono gini. Bahkan suaminya itu sudah merelakan rumah milik keluarganya disita bank. Dengan sisa uang yang ia punya, Aina menyewa salah satu kamar kost-kostan di daerah pinggir kota. Dia tidak membawa baju dan juga banyak barang. Semua miliknya di dalam rumah dan ikut disita.
Aina menghempaskan tubuhnya di kasur busa yang tipis. Dia sangat lelah kali ini dan ingin segera memejamkan mata. Banyak kesedihan yang beruntun menimpanya. Andai saja dia menuruti ucapan ayah dan neneknya kala itu, mungkin nasibnya tidak seperti ini. Andai saja ia tidak memaksa Rayyan mencintainya pasti juga tidak seperti ini.
Banyak pengandaian di otak Aina yang kini berterbangan. Namun, sayangnya dia tidak bisa mengubahnya. Aina melirik kalender yang menggantung di dinding kamar ini. Aina tersenyum saat tahu kalau ini adalah hari ulang tahunnya.
Setahun yang lalu, ia merayakan hari ulang tahunnya bersama Rayyan. Aina tidak tahu Rayyan melakukan semua yang ia minta dengan tulus atau terpaksa. Yang pasti Rayyan selalu membuatkan pesta untuknya meski dia selalu menunjukkan wajah dingin dan datar padanya.
Aina memejamkan mata dan tersenyum saat mengingat kejadian setahun yang lalu. Rayyan dengan wajah datarnya datang menghampiri sambil membawa kue ulang tahun. Kemudian dia mengucapkan selamat ulang tahun sambil mengecup pipinya. Segitu saja Aina sangat senang, tapi setelah itu Rayyan menghilang dari pesta dengan alasan ada pekerjaan mendesak. Bisa jadi Rayyan sudah bersama dengan Katrina saat itu hanya saja Aina tidak tahu.
“Akh ... “
Aina menghela napas panjang sambil menyeka air mata yang tiba-tiba bergulir membasahi pipinya. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk bersila di kasur busanya. Aina memejamkan mata sambil menautkan kedua tangannya. Kemudian bibirnya yang pucat bertutur dengan lirih.
“Andai aku bisa meminta ... aku ingin mengulang hari di mana aku bertemu Rayyan, Tuhan. Aku ingin mengubah semuanya dan menghilangkan perasaan cintaku pada Rayyan. Pria itu tidak pantas aku cintai.”
Usai mengatakan hal itu tampak bibir Aina komat kamit mengucapkan doa. Anggap saja ini permintaan terakhirnya di hari ulang tahun yang ke-30. Cukup lama Aina berdoa hingga akhirnya dia terlelap. Tidur meringkuk di kasur busa yang tipis dan dingin dengan uraian air mata membasahi pipinya.
Aina tidak tahu berapa lama ia terlelap. Yang pasti suara alarm sudah membuatnya terjaga saat ini. Aina mengucek mata sambil bangkit dari tidurnya. Namun, dia sangat terkejut saat mendapati dirinya terbangun di kamar dalam rumahnya.
Aina memperhatikan sekitar sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Kasur empuk dengan selimut tebal menjadi alas tidurnya. Belum lagi aroma vanilla ciri khas kamarnya menyeruak masuk ke hidung Aina. Tidak hanya itu, hiasan dinding, lemari, meja rias semua yang berada di sini ada di kamar Aina.
“Bukannya aku tadi malam tidur di kamar kost yang kecil. Kenapa sekarang pindah ke rumah?” gumam Aina.
Pelan Aina turun dari kasur kemudian berdiri di depan cermin. Ia terbelalak kaget sambil menatap pantulan bayangnya di dalam cermin. Spontan Aina berseru. “TIDAK!!! TIDAK MUNGKIN!!!”