Loading...
Logo TinLit
Read Story - Lingkaran Bodoh dan Sikap Apatis Tanpa Titik
MENU
About Us  

Bab 1

Arti Kesuksesan

 

Ketika turun dari pesawat terbang; selalu berpikir inilah masa keemasan itu. Aroma di dalam pesawat terbang tidak hanya soal kemewahan, ekslusif maupun orang-orang dengan parfum mahal semata. Aroma itu tentang ‘orang-orang kaya’ saja. Di mana kau tahu sendiri, tiket pesawat tak pernah dijual dengan harga 1 ons kacang rebus!

Orang-orang sukses itu ada di dalam pesawat; meskipun hal ini sangat kontradiksi dengan apa yang kau pahami kemudian. Orang sukses itu dinilai dengan perut buncit atau badan melebar. Padahal, tidak semua orang di dalam pesawat terbang itu demikian. Di seat sebelah kiri atau kanan, bisa saja kau temui pria six-pack yang membuka MacBook dan iPhone seri terbaru. Jari putihnya sibuk mengetik laporan keuangan yang mengenai hajat hidup banyak orang.

Di sisi lain, kau bisa temui penumpang yang ‘hanya’ tertidur sepanjang perjalanan. Entah karena lelah; atau memang dia seorang pengangguran.

Sekali lagi, pandangan orang awam dan kampung dengan nasi lauk kangkung; orang-orang di dalam pesawat itu adalah orang sukses. Sanggup beli tiket pesawat yang mahal bukannya disebut sukses?

Ada bagian yang mana kau tahu pemikiran ini serupa. Bayangkan, jika besok kau memiliki sebuah penerbangan. Malamnya, kau akan sibuk packing sampai check-in online untuk memilih kursi. Apa kata orang lain saat kau update status Facebook atau WhatsApp?

Kau hebat!

Kau jalan-jalan terus pasti banyak uang!

Sudah jadi orang sukses kau rupanya!

Artinya, orang-orang di dalam pesawat itu tetap disebut orang-orang sukses.

‘Saya’ adalah golongan orang sukses itu. Definisi sukses yang jamak dilakukan oleh banyak orang. Karena apa? Saya pernah naik pesawat terbang. Saya beberapa kali naik pesawat terbang. Saya pernah ke luar negeri dengan pesawat terbang. Yang mana di dalam pesawat terbang mendapatkan perlakukan istmewa dari pramugari.

Padahal, begitu turun dari pesawat terbang, saya kembali ke kebiasaan semula. Jadi guru bukan pegawai negeri yang dianggap ‘sampah’ oleh lingkungan saya sendiri. Entah apa yang harus saya mulai dan mengapa saya ingin melanjutkan perjuangan ini.

Orang-orang tetap menganggap saya sukses karena sudah pernah naik pesawat terbang. Tak ada lagi armada di dunia ini yang lebih hebat selain pesawat terbang. Belum lagi berbicara naik pesawat terbang dengan cuma-cuma yang semestinya hanya ada di alam bayangan. Saat saya foto selfie di dalam pesawat terbang lalu upload ke Instagram; maka saya disebut telah sukses.

Apa yang membuat orang lain berpikir bahwa saya telah sukses sedangkan saya sendiri tidak?

Orang lain belum tentu bisa naik pesawat terbang; dengan gratis.

Orang lain ‘cuma’ memiliki pola pikir bahwa dompet orang-orang yang ada di dalam pesawat itu selalu tebal; beli tiket pesawat saja sanggup. Kembali lagi, orang-orang yang sanggup beli tiket pesawat itu adalah orang sukses, terutama secara ekonomi.

Di dunia ini. Kata sukses itu selalu ditujukan kepada orang-orang yang telah mapan secara ekonomi. Toh, tidak mungkin kau bangun rumah meskipun sepetak tanah hanya dengan tanah liat. Kilas balik sukses itu tak pernah dilihat lagi karena rumah sudah megah, kendaraan telah roda empat, maupun baju selalu terlihat mahal.

Kenapa kau sanggup beli semua itu? Karena kau sukses.

Di dunia ini. Tak pernah kita dengar orang-orang sukses tinggal di sebuah gubuk dengan alas tanah kering. Orang-orang ini akan disebut kaum terpinggirkan atau bahkan orang miskin. Tak ada yang dapat dilihat dari kesuksesan dari orang ini. Mungkin makan sehari sekali. Bisa saja tidak sama sekali.

Sukses selalu didefinisikan dengan uang. Kilas balik kesuksesan itu dikaburkan dengan hidup bergelimang harta. Albert Einstein bukan sekali percobaan langsung bisa membuat bom atom dan lahir teori relativitas. Thomas Alfa Edison melakukan hal serupa berulangkali sebelum berhasil menemukan bola lampu. Nabi Muhammad saw. butuh waktu 23 tahun dalam memperjuangkan agama Islam; yang pengaruhnya sampai sekarang ini masih ditakuti.

Sebagian orang memandang arti kesuksesan itu manakala telah meraih gelar doktor sampai profesor. Golongan demikian bukan tidak ada, malah banyak dengan mengotak-kotakkan orang lain. Mereka cuma mau berteman dan menganggap orang lain sukses dengan satu syarat. Selevel dengannya.

Kau jangan pernah coba mendekati orang-orang yang demikian karena akan masuk ke dalam level terendah. Kecuali, kau mau dihina dan terus direndahkan karena mereka cuma tahu titel yang dibeli atau diraih sekuat tenaga adalah sesuatu untuk dibanggakan.

Golongan ini sudah pasti berulangkali naik pesawat terbang; apakah saat mengejar gelar di kampus-kampus dalam negeri maupun luar negeri. Mereka akan terus memandang kesuksesan dengan makin tinggi gelar. Kampus ternama atau bukan tidak pernah menjamin golongan tinggi hati demikian.

Kau akan terus mendapatkan mereka di mana-mana. Apakah orang yang pernah dekat dengan kita. Atasan yang selalu pamer kehebatan. Atau malah tetangga yang kerapkali memandang sinis perjalanan hidup kita.

Golongan mereka sangat berbeda dengan kita. Mereka percaya dengan gelar akan mendapatkan arti kesuksesan. Lantas, mengapa kita tidak mengubah pemikiran demikian, tanpa gelar bisa meraih kesuksesan?

Satu catatan kesuksesan itu saat kau berada bersama orang-orang sukses; bukan lingkaran bodoh yang melakukan hal serupa tiap waktu!

 

Lingkaran Bodoh

Saat memposisikan diri sebagai seorang blogger, mungkin saya bisa disebut orang sukses. Kehidupan lebih baik sudah didapat. Balik ke posisi sebagai guru honorer; saya berada di lingkaran bodoh yang sulit sekali untuk bangkit.

Saya bahkan sangat mencemaskan masa depan kelak; lebih tepatnya hari tua. Lingkaran yang melilit sekujur tubuh saya adalah semacam black hole. Lubang ini mudah membawa arus. Label yang diberikan oleh masyarakat sesuai strata juga berlaku untuk lingkaran bodoh ini. Mau tidak mau, saya ikut masuk ke dalam black hole yang berdasarkan teori akan menelan semua dan sulit kembali. Teori black hole yang berdasar pada teori relativitas umum Einstein memang memakan semua yang ada di sekitarnya. Daya tarik black hole ini dideskripsikan begitu kuat yang juga dikaitkan dengan akhir dunia.

Lingkaran bodoh ini bukanlah berusia balita. Jauh sebelum saya terikat kuat, lingkaran ini telah membentuk diri sebagai ikatan terkuat. Orang-orang yang di dalamnya seolah-olah tidak mampu untuk bangkit, bahkan melihat dunia lebih cerah dengan sudut pandang berbeda. Mereka cukup memiliki satu sudut pandang saja; di mana suatu saat akan jadi pegawai negeri.

Fakta bahwa orang-orang yang diangkat jadi pegawai negeri itu hanya sebatas keberuntungan semata. Di lingkaran bodoh ini, selalu ada ungkapan bahwa suatu waktu, mungkin nanti, bisa saja, belum rezeki, tunggu ganti pemimpin; semua bualan yang penuh halusinasi.

Kehidupan yang dibuat manja dengan kapan-kapan itu, enggan untuk bangkit padahal tenaga terus terkuras. Pagi ke siang. Siang ke sore. Waktu dibunuh perlahan untuk menunggu masa-masa ‘sukses’ dengan bergelimangan harta; gaji bulanan dan mudah ambil kredit bank.

Lingkaran bodoh ini hanya mengajarkan satu hal saja. Siapa yang sabar, ia akan membuahkan hasil. Di catatan-catatan penting, terkuat ataupun tidak, cukup banyak sekali derita dari mereka di lingkaran ini, sampai tua bahkan pensiun belum jadi pegawai negeri.

Kata-kata pemanis masa depan terus didengungkan. Nanti akan diangkat. Ini soal masa depan. Siapa yang ‘diangkat’ atau tidak tiada yang tahu misteri ini. Saya beruntung, orang lain bisa jadi tidak, demikian sebaliknya.

Masa depan yang bagaimana? Jika di usia 40 tahun masih menjadi guru honorer, masa depan bagaimana lagi yang akan dicari? Waktu yang tersisa menjadi guru honorer itu tak akan pernah diganti dengan rekapitulasi gaji.

Misal, kau diangkat jadi pegawai negeri di usia 52 tahun. Empat tahun lagi kau akan pensiun. Gaji dan tunjangan yang diterima cuma selama 4 tahun aktif kerja itu, bukanlah 20 atau lebih tahun sebelumnya. Kau pensiun, gaji pensiun pun tak dapat karena masa kerja tidak cukup menjadi pegawai negeri yaitu belum melebihi 5 tahun kerja.

Bukankah kita berada di lingkaran bodoh? Kecuali, kerja karena ikhlas.

Lingkaran bodoh dihuni oleh orang-orang yang ikhlas bekerja saja. Pagi pakai pakaian rapi dan tubuh wangi. Datang ke sekolah untuk mengajar meskipun murid tak menghargai karena status guru honorer.

Hinaan dari murid diterima dengan lapang dada. Beban kerja banyak dilakukan dengan sabar. Akhir bulan cuma bisa gigit jari. Pemandangan biasa yang terus dianggap “Ah, salah kau sendiri jadi guru honorer!”

Paradigma yang menghajar habis-habisan tentang kelayakan hidup terus berlaku untuk guru honorer. Lingkaran bodoh yang mereka bangun bukanlah sebuah lingkaran yang mudah berkembang. Mereka yang lama, pola pikirnya ‘telah’ terhenti. Mereka yang baru masuk, perlahan-lahan ikut memikirkan pola pikir yang sama; nanti akan diangkat.

Nanti. Saya begitu sulit menjabarkan kata “Nanti?” ini karena di lingkaran bodoh, kita benar-benar diajarkan tentang kebodohan. Lama waktu mengajar selayaknya dianggap profesional. Pengetahuan maupun daya tarik di depan murid, sebenarnya menjadi bekal.

Tetapi, karena kau berada di dalam lingkaran bodoh itu, semua yang disebut survive hanya tinggal kenangan. Kau seorang diri mencoba bangkit, belum setapak langsung jatuh kembali karena orang baru jadi pegawai sedangkan kau belum.

Kembali lagi ke lingkaran bodoh. Larut dalam ikatan kuat. Kau bangun namun kembali jatuh. Berkali-kali ingatan hanya tertuju pada ­“kapan?” namun tak berujar “bagaimana?” yang sebenarnya berujung kepada proses.

Semua yang kau lakukan itu adalah proses. Benar. Kau berada dalam proses namun bukan proses menuju kebangkitan tetapi proses menanti. Sebuah penantian itu layak diakhiri. Manis atau tidak. Bahagia atau malah sengsara.

Sederhana saja. Saat lingkaran bodoh mengcengkram leher, sulit sekali kembali ke jalan yang benar. Di mana, kau harus menyusun kembali potongan puzzle untuk menyatukan niat, keinginan-keinginan, bahkan kehidupan lebih baik dalam takaran definisi sukses yang telah saya sebutkan.

Nyatanya, berproses pada apa yang telah terjadi dan tahu arahnya ke mana, adalah membuang waktu percuma. Ada guna tetapi kau tetap sengsara. Selain, kau menganggap definisi sukses itu adalah hanya sebuah senyum.

Apakah hidup ini cukup dengan senyuman?

Ternyata tidak. Proses hidup harus berlanjut. Sebuah ambisi harus ditulis dengan huruf kapital. Coret yang tidak perlu. Ubah perilaku. Mainkan peran bahwa lingkaran bodoh seperti ini benar-benar menyengsarakan.

Hidup bukanlah hari ini. Esok bisa jadi kau terlena, namun bukan berarti kau tidak berhak bahagia. Semua berawal dari bawah. Ibarat seorang idola, berjuang mati-matian agar bisa debut namun begitu mendapat hasil bisa ‘kaya raya’ dan terkenal.

Idola tidaklah berada dalam lingkaran bodoh itu. Mereka bermetamorfosis sewajarnya. Ada aturan main. Ada kontrak yang tidak boleh dilanggar. Sebaliknya, lingkaran bodoh kita ini tak ada ‘ikatan’ apa-apa. Begitu tidak berhasil ‘debut’ menjadi pegawai negeri, nasib sama sekali kembali ke titik terendah.

Mau makan apa?

Pertanyaan bodoh yang kerap saya cemas menjawabnya dengan profesi sebagai guru honorer. Perut harus terus terisi sedangkan diskusi untuk mendapatkan uang jajan di lingkaran bodoh ini tidak ada. Jikalau, sekolah memberi honor seadanya, maka tak akan cukup untuk membeli sabun cuci.

Bagaimana dengan menunjang gaya hidup? Ingin pakai smartphone mahal, beli paket bulanan saja sering tidak bisa. Di status Facebook selalu galau bahkan menghujat hidup yang tidak memihak. Kau sendiri malah duduk di depan televisi dengan sinetron tak mendidik, pulang mengajar bahkan sebelum mengajar.

Fenomena grup chatting yang merebak cuma diisi perenungan nasib. Tak ada niat untuk membela diri bahwa lingkaran bodoh itu bisa sebaliknya. Kapan, kapan, kapan. Mengapa, mengapa, mengapa.

Mungkin kita telah dibodohi tetapi kita lupa bahwa ada langkah di mana rezeki bisa dipungut kembali. “Oh, dia enak buka usaha ada gaji bulanan,”

Bagaimana jika kau meminjam uang untuk membuka usaha? Contoh yang simpel saja demikian. Ambil modal usaha lalu jualan. Sah-sah saja jika mau. Kejadian yang ada hanyalah berdebat soal nasib. Tidak dapat gaji. Tidak dikasih jam mengajar.

Salah orang selalu ada. Salah sendiri malah semena-mena dilupa. Makin kau tergerus dalam lingkaran bodoh ini, makin bergeser pola pikir. 

Jangan kau marah saya sebut lingkaran bodoh. Mungkin, kita memang berada di dalam lingkaran bodoh itu!

 

Sikap Apatis

Ya sudahlah! Kita sering sekali mendengar kalimat ‘ya sudahlah’ dengan nada merintih. Atau kalimat lain yang senada, ‘sudah suratan takdir’. Kita kemudian melupakan proses dan tidak mau lagi berusaha karena telah apatis.

Kecewa yang berkepanjangan, bertubi-tubi atau tidak dihargai oleh orang lain inilah yang memunculkan sikap apatis. Guru honorer adalah mereka yang masuk golongan apatis, karena lingkaran bodoh tadi. Mungkin memang tidak semua apatis karena mengajar dengan ikhlas, lillahi ta’ala, akan ada balasan di kemudian hari; tetapi jangan lupa bahwa kehidupan kita butuh ‘makan’?

Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap, bersabar, menanti, kepastian; yang mungkin datang dan tidak. Mereka memang tetap bersekolah dengan harapan dikenang jasanya. Pulang ke rumah, mereka akan berujar lagi, memang segini rezeki kita.

Lingkaran bodoh membentuk sikap apatis seperti air mengalir. Saat tidak ada satu orang pun bersikap positif terhadap rasa kecewa, saat itu pula semua orang ikut frustasi. Seolah-olah, hidup ini harus menjadi pengusaha yang dimodali, bekerja total di perusahaan dengan gaji tetap; dengan melupakan kreativitas.

Orang-orang apatis biasanya telah menanggalkan ide-ide kreatif. Mereka mengurung diri di dalam kamar karena lamaran kerja ditolak, tulisan tidak pernah dimuat media, naskah buku dikembalikan penerbit, lagu tidak dirilis produser, atau perkara lain yang tak pernah berujung.

Orang-orang apatis di zaman teknologi tinggi ini tak lain mereka yang duduk di depan televisi maupun menonton YouTube. Konsumsi media sosial berlebihan dengan ikut memberi komentar pedas meskipun tidak paham permasalahannya. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini pula dengan mudah menjadi buzzer karena butuh makan atau sudah malas berkreasi dalam hidup karena tinggal membalas komentar sesuai rilis yang dikirim, lalu dapat uang banyak.  

Orang-orang apatis terus menyaksikan kesuksesan orang lain dengan pertanyaan mengapa bisa, enaknya hidup mereka. Sudut pandang apatis tidak pernah berpikir bahwa dibalik kesuksesan ada jungkir balik. Flashback ke masa-masa sebelum orang lain sukses justru bukan motivasi karena yang terlihat di layar adalah kemewahan.

Darah daging apatis mengajarkan kemalasan. Apapun yang akan dilakukan – nanti – akan kecewa. Semua yang dikerjakan tidak ada hasil. Tak ada lagi pemikiran penuh semangat yang mampu melucutkan kekecewaan itu. Ditambah lagi dengan lingkaran bodoh yang mendikte kemunduran berpikir, maka selamanya sikap apatis ini tumbuh seiring bobot badan yang terus naik.

Orang-orang apatis sibuk dengan dunia sendiri. Lingkungan luar bagi mereka hanyalah pembuat kecewa. Di rumah hanya memainkan smartphone, menonton televisi; yang sebenarnya selalu menampilkan keindahan-keindahan ‘orang lain’ semata. Tayangan gosip di televisi menjadi makanan yang empuk dan begitu lezat. Lalu, ditambah bumbu dapur sedikit dari dirinya yang menonon maka makin sedap rasanya. Dari satu stasiun televisi berpindah ke stasiun televisi lain.

Gosip berganti sinetron.

Sinetron berganti gosip.

Ribuan episode.

Mata terbelalak.

Cerita tak masuk logika.

Semua menjadi makanan empuk lalu mengubah kembali pola pikir orang-orang apatis karena itulah kehidupan, atau memang itu hidup mereka. Kemudian, kenapa kita menonton atau mengapa kita tidak mengubah tontonan yang lebih bermanfaat; misalnya tutorial masak, lalu bikin kue yang mirip dan dijual.  

Interaksi dengan dunia maya yang kian murah dan mudah tidaklah sama dengan kau duduk bersama teman. Teman mendengar dengan baik. Media sosial akan mengubah pola pikir sehat menjadi viral yang bisa membuat kau terkenal atau malah dihujat.

Orang-orang apatis dengan dunia sendiri ini cenderung keras kepala dan egois. Di benak mereka cuma ada kegagalan. Interaksi yang terjadi dengan pemikirannya sendiri tidak mudah menerima sikap terbuka. Didukung dengan lingkaran bodoh dengan pemikiran yang serupa maka makin egois dalam mempertahankan pendapat.

Kau memiliki harapan besar terhadap hidup, selalu, tetapi tidak pernah berhasil diraih. Kau mengutuk usaha. Kau menyalahkan orang lain yang hadir sebagai juri. Kau hancurkan proses. Kau tidak mau berbenah karena adrenalin menyisakan sudut pandang tidak berhasil.

Lingkaran bodoh dengan orang-orang apatis karena mereka belum memaknai arti kesuksesan. Sudahlah. Memang ini takdir.

Takdir seseorang tidak berubah jika tidak diubah. Nasib kau yang pegang. Kau mau kaya maka bekerjalah. Kau mau bahagia juga bekerjalah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d ayat 11).

Metode ini kemudian diadopsi oleh orang-orang barat dengan kesuksesan mereka. Kita sendiri yang memaknai lebih ayat tersebut malah ‘tertidur’ padahal salat tiap waktu. Kita enggan beranjak karena apatis telah di depan mata. Kita menyepelekan usaha karena nggak akan ada hasil.

Jatuh bangun proses membangun Facebook yang sekarang kau gunakan jangan pernah dilupakan. Mark Zuckerberg adalah orang ‘gagal’ dengan meninggalkan bangku kuliah di perguruan tinggi bergensi, Universitas Hardvard. Ia yakin dengan keluar dari kuliah akan berhasil membangun media sosial meskipun saat itu kita tahu bahwa pengguna smartphone masih minim sekali.

Ada usaha ada hasil. Kedigdayaan Facebook tak sanggup lagi disaingi saat ini. Akuisisi terhadap WhatsApp kemudian Instagram makin melambungkan perusahaan ini. Kuncinya kembali ke hidup itu kita sendiri yang ubah. Zuckerberg mengubah jalan hidup dengan tidak mengambil jalan pintas; kuliah yang benar, cari kerja dan bahagia!

Zuckerberg sekarang malah mengubah hidup orang lain menjadi lebih baik dari sebelumnya. Berapa orang yang lulus dari perguruan tinggi terbaik bekerja di Facebook? Padahal Zuckerberg tidaklah lulus kuliah – meskipun mendapat ijazah setelah nama Facebook tenar. Belum lagi kalau kita bicara gaji karyawan di Facebook yang masuk top 10 dunia.

Apakah ini main-main? Atau kita saja yang main-main dengan hidup yang apatis?

Orang-orang sukses berada di lingkungan tidur pendek. Siang malam bekerja. Siang malam mengasah ide. Siang malam melahirkan kreativitas. Padahal, mobilitas orang-orang sukses ini sama dengan orang-orang di lingkaran bodoh.

Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama ‘cuma’ tidur selama 6 jam sehari yaitu mulai pukul 01.00 dini hari sampai dengan 07.00 waktu Amerika. Aktivitas Obama dengan kita sangat jauhlah berbeda. Obama tidak sedang berada dalam posisi santai selesai, sedangkan kita benar-benar santai selesai sudah. Kita rela bergadang cuma untuk menonton pertandingan sepakbola. Kita mau menonton sinetron dalam dini hari padahal di saat itu orang-orang produktif bahkan orang di balik layar sinetron itu sedang bekerja!

Orang-orang sukses tahu apa yang mesti dikerjakan, orang-orang di lingkaran bodoh sebaliknya. Orang-orang sukses berposes untuk mendapatkan hasil. Orang-orang di lingkaran bodoh hanya menanti hasil tanpa proses.

 

Tanpa Titik; Selalu Berpikir Telah Gagal

Hidup bergelimangan kegagalan. Itu yang kau pikirkan. Orang lain tidak. Kendaran sejatinya memiliki rem untuk berhenti. Sebuah kalimat membutuhkan tanda titik untuk menarik napas sebelum lanjut ke kalimat berikutnya. Sebuah lagu memiliki nada rendah dan tinggi agar penyanyi bisa menarik napas.

Lingkaran bodoh dengan orang-orang apatis selalu berpikir telah gagal. Tidak ada titik dalam pemikiran mereka. Seharusnya, ada titik, agar otak bisa berhenti sejenak. Kendaraan yang kehabisan bensin, berhenti, isi bensin lalu jalan lagi. Bisa kau bedakan sesaat sebelum habis bensin dengan setelah isi bensin.

Kendaraan tersendat-sendat karena kurang tenaga. Itu sebelum bensin diisi. Kendaraan langsung melaju kencang setelah diisi bensin. Ada jeda antara sebelum dan sesudah. Sama halnya dengan sekali titik di pemikiran kita. Titik akan mendaur ulang pola pikir sehingga tidak selalu apatis.

Bayangkan pulang kerja sangat lelah. Emosi meledak. Ucapan salah sasaran. Anak minta uang untuk beli kerupuk, kau langsung marah-marah. Beda jauh saat bangun pagi. Emosi cenderung stabil. Ucapan tertatih sesuai takaran. Tak perlu diminta, kau sudah bisa berpikir jernih semua kebutuhan rumah tangga.

Satu titik saja sangat memengaruhi pola pikir ke depan. Saya telah gagal, saya telah gagal, saya telah gagal; bayangkan jika kalimat serupa tak pernah ada titik.

Hukum yang berlaku justru tolak-menolak bukan tarik-menarik. Di satu sisi, hatinya menolak karena ingin sukses. Di sisi lain tidak mau kecewa dan enggan keluar dari zona nyaman karena khawatir.

Bagaimana jika berhenti dari guru honorer? Apakah akan mendapatkan kerja lagi di usia yang ‘tidak’ produktif?

Titik mana yang semestinya diraih?

Seorang produser film, berlari ke sana-sini untuk mempromosikan film mereka. Satu film sukses, film berikutnya belum tentu. Meskipun nama besar mereka telah dikenang. Satu film gagal, uang bagai hangus terbakar. Film berikutnya adalah ‘balas dendam’ untuk meraup keuntungan.

Tidak ada ‘titik’ dalam karir membuat film. Untung rugi sudah biasa. Inti dari tanpa titik itu tak lain, bagaimana berproses untuk mencapai puncak meskipun jangan berhenti di titik itu.

Alasan-alasan soal oh sudahlah nasib begini milik lingkaran bodoh yang cacat memaknai jati diri. Kau seharusnya paham potensi diri. Meskipun saat ini sebagai guru honorer sisi lain dari dalam diri justru harus dibakar untuk berkembang.

Malas bergerak. Berhenti di oh sudah begini. Mengapa ada alasan yang demikian karena potensi diri tidak digali. Sudahlah jadi guru honorer, ya sudahlah – juga profesi lain yang membuat kau tidak berkembang!

Penutup hidup bukanlah berserah atau terserah. Jalan hidup tidak berhenti di satu titik semata. Titik itu adalah start untuk mencapai finish meskipun kau tak seharusnya mengakhiri perjuangan. Saat memulai ‘sesuatu’ jangan pernah berpikir; cukup, saya berhenti, sudah puas. Tabiat manusia yang tidak pernah merasa puas harus ada di dalam jiwa kita.

Usia terus ditinggal menjadi tua. Kau tak akan dikenang sebagai guru honorer. Kau buat seolah-olah dikenang dengan cara berbeda. Atau, buatlah diri kau dikenang sepanjang masa karena prestasi.

Gaji boleh tak sepadan dari sekolah. Dunia tak berhenti saat akhir bulan kau tak ada uang. Orang-orang gila di tengah kesibukan kerja terus berbenah, apa yang harus dilakukan. Mereka berpikir. Bukan titik ini untuk mengakhiri karir. Titik itu baru sebuah permulaan. Titik itu sebagai batu loncatan.

Bangtan Boys atau lebih dikenal BTS adalah boy band Korea Selatan yang memulai karir dari titik terendah. Pelantun lagu DNA itu ‘hanya’ dipupuk oleh BigHit Entertaiment, sebuah agensi kecil.

Lihatlah BTS sekarang! Bisa disebut satu-satunya boy band negeri ginseng yang mencuri perhatian dunia sampai diundang ke beberapa stasiun televisi Amerika; Good Morning America sampai ke sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Anak-anak muda yang berusaha menjadi trainee bertahun-tahun sampai akhirnya usaha mereka membuahkan hasil.  

Apa yang anak muda ini lakukan sebelum memuncaki tangga lagu dunia Billboard? Tidak ada titik sebagai pemberhentian sementara. Putus asa mungkin diganti dengan kerja keras. Debut sebentar lagi tiba meskipun ketakutan mereka tetap ada; di antaranya melawan EXO dari agensi besar – SM Entertaiment – yang sudah terlebih dahulu sukses.  

Dunia tanpa titik bagaikan air yang tak pernah berhenti mengalir. Kau bayangkan sendiri; bagaimana air di seluruh dunia ini bertemu satu sama lain. Tiap tetes air bertemu di satu punca. Tak pernah putus.

Bilamana, air itu terputus maka mata rantai di dunia akan habis. Berakhir dalam dahaga. Kiamat atau paceklik sama-sama membuat yang hidup di dunia kering keronta.

Kita tidak boleh berhenti. Sekali kau berhenti. Selamanya tak ada ampun untuk bangkit kembali.

 

Jatuh Bangun; Bangkit Tak Sesulit yang Dibayangkan

Maaf. Saya telah gagal. Itu yang ingin kau katakan saat usia tua tiba? Kau benar-benar tak pernah bersyukur telah ditiupkan ruh di dalam jiwa. Apa fungsi otak? Jangan kau sebut dalam definisi pelajaran Biologi semata. Jangan pula kau mengeja, otak adalah....

Sah. Kau adalah bagian terpenting dari lingkaran bodoh itu. Kisah sukses seorang pejuang karena bertarung walaupun dengan tangan kosong. Permisi. Saya tidak bisa tak pernah ada dalam catatan sejarah.

Orang-orang pilihan adalah mereka yang ketika jatuh tahu cara untuk bangkit kembali. Orang-orang jatuh bangun tahu risiko yang diambil. Ke kiri mereka bisa gagal. Ke kanan bisa lebih gagal. Mereka cuma punya ambisi untuk menaklukkan kegagalan.

Menu hidangan yang kau cicipi di sebuah restoran bintang lima tidak lantas lahir begitu saja. Seorang chef bisa tidak tidur malam sebelum adonan berhasil dibuat. Demikian pula dengan pramusaji yang tak semalam diajarkan untuk mengantarkan menu. Sebelah tangan mereka bisa mengangkat beberapa piring berkat latihan terus-menerus.

Jatuh. Bangun lagi. Tidak sekali langsung jadi. Tidak penting menyebut jatuh bangun hanya milik mereka yang sukses. Sukses tidak bisa diakali sebagaimana kau mencoba untuk lempar batu sembunyi tangan.

Bayangkan. Kau berada di sebuah restoran dengan pramusaji di mana-mana. Seorang chef memasak menu di ruang terbuka. Tiap meja telah diisi penuh, tinggal menanti makanan disajikan. Chef sangat ulet dalam membuat pesanan. Apakah akan sama rasa maupun tekstur menu serupa dari satu meja dengan meja lain?

Setidaknya, 99% tidak akan pernah sama. Chef akan sangat teliti. Pelajaran penting saat membuat menu serupa adalah saat-saat jatuh; asin, asam, manis atau pahit. Takaran yang sudah dihapal di luar kepala juga akan silap suatu waktu. Chef itu tak berhenti. Keningnya bisa berpikir keras, hanya beberapa menit saja harus membuat menu serupa. Harus sempurna.

Pramusaji yang kau lihat bahkan kau panggil – kadang-kadang, begitu gesit. Kau panggil, sebutkan minuman. Dipanggil meja lain, pesanan berbeda juga diingat. Kau pasti mengira, pramusaji ini pasti akan tertukar meletakkan susu dengan kopi. Tetapi jangan salah, silap sekali mungkin saja, berkali-kali tidak akan mungkin.

Kopi diletakkan di meja kau dan teman-teman yang selalu tertawa, susu diletakkan di meja pemesan lain. Begitu seterusnya. Dipanggil lagi oleh orang lain, bertubi-tubi, jarang salah dalam menempatkan makanan; meskipun kau cuma meminta tambahan air putih saja.

Bangkit dari kegagalan tak sesulit yang dibayangkan. Kau cuma butuh pelatuk. Lanjutkan atau berhenti. Menyerah atau berjuang kembali. Orang-orang gagal paham letak kegagalan mereka. Orang yang tidak pernah mencoba tak akan pernah tahu bolu itu manis atau hambar.

Sederhana saja. Kau cuma perlu menyingkirkan tabiat buruk di dalam lingkaran bodoh. Orang-orang yang ‘malas’ tinggalkan di satu tempat. Kau berjuang sendiri karena memang harus. Kau sukses tak perlu membagi royalti untuk penonton.

Orang-orang sukses karena mereka mau. Itu saja kuncinya. Selama mimpi masih menjadi sebuah keberkahan, selama itu pula kau layak mengubahnya menjadi kenyataan. Kau pernah jatuh, tahu pula untuk bangkit kembali. Kau tak pernah jatuh, mungkin keberuntungan, mungkin juga tak ada waktu untuk kembali meraih sukses.

Bill Gates atau Steve Jobs tak lain dua sosok yang sama-sama jatuh bangun mengembangkan perangkat lunak komputer. Bill Gates sukses dengan Microsoft, Steve Jobs membangun Apple. Dalam dunia modern, nama keduanya adalah keabsahan orang-orang sukses. Siapa sangka jika Gates bukanlah sekali dalam meracik ‘menu-menu’ sehingga menjadi operasi Windows yang mengagumkan. Jobs memasang strategi dalam bisnis hemat pangkal kaya yang menjadikan perusahaan Apple memiliki nilai jual tinggi sampai saat ini. Jangan pernah lupakan kembali, ambisi Zuckerberg, memiliki sisi kegagalan, dan sukses yang dipadu menjadi satu.

Orang-orang sukses adalah mereka yang jatuh bangun dalam berkarir. Adakah pola pikir ini dalam lingkaran bodoh itu?

Nasib tak bisa diubah dengan memelas, minta diperhatikan, minta dianggap atau minta diangkat – ke level yang barangkali bukan rezeki kita di sana. Memaksa kehendak tanpa berpikir jalan yang kita lalui bukanlah milik kita.

Tidak diberi bisa jadi beban itu tidak sanggup kita pikul. Adakah jalan lain? Ada. Kau dibuat jatuh agar bersyukur. Kau kemudian tahu jalan mana yang harus ditempuh.

Hidup tak perlu begini-begini saja. Keluarga, teman-teman, semua berubah dan berbenah. Jika tak mau begini maka kau harus bangkit. Lupakan soal ah sudahlah, nasib guru honorer memang begini. Bukan itu. Kunci lain harus kau cari. Di mana. Mengapa. Bagaimana. Cuma kau saja yang bisa menjawabnya.

Kembali ke lingkaran bodoh; hidup kau ya begini saja!

 

Pentingkah Kau Lanjutkan Baca Buku Ini?

Kau putuskan sajalah; buku ini tidak bermanfaat! Seperti saat kau menyebut bahwa ah sudahlah. Kecurangan hidup itu kau sendiri yang menciptakannya. Bagaimana kau mengubah kecurangan itu dengan cara berlaku adil terhadap sikap apatis dan keluar dari lingkaran bodoh.

Pikiran sempit karena potensi diri tidak digali. Kau cuma mengerti keakuan dengan tanda titik besar. Hidup kita diwarnai hal-hal menyenangkan bahkan memalukan sampai membuat terpeleset hingga jatuh.

Saya tidak menganjurkan kau minum soju seperti budaya drama Korea Selatan. Kau cuma perlu duduk dan merenung, mau dibawa ke mana, raga dan jiwa. Lelucon hidup itu ada di puncak kau sendiri. Kau bebas tertawa. Kau tidak dilarang menangis. Kau dianjurkan untuk berusaha.

Saya seperti memotivasi diri sendiri. Jatuh sekali, berkali-kali bangkit meskipun gagal juga. Pelajaran di sekolah seperti kabar bohong yang tidak berguna saat dewasa. Saya ‘bekerja’ sebagai guru honorer yang dipandang rendah, tetapi saya ingin bangkit dari keterpurukan ini.

Malam saya sama dengan kau alami. Siang bahkan tak jauh beda. Saya mencoba mengintervensi kelut dalam hati, ayo ke mana kita?, agar bisa membenahi rak-rak buku yang berdebu, mulai menulis dan mengantisipasi; saat tidak jadi apa-apa dari perjuangan sebagai guru honerer!

Buku ini lahir dari rasa sakit berkepanjangan, kesenjangan hidup yang nyata, juga cucuran air mata, mengapa saya tidak sukses. Saya tidak bermaksud mengajari kau tentang ‘sesuatu’ di dalam buku ini. Semua tentang kita dan keinginan-keinginan agar bisa lebih bahagia.

Kau cukup membaca. Kau lipat bagian penting, atau lupakan jika tidak bisa mengubah sudut pandang. Saya ingin memastikan, kita sama-sama keluar dari lingkaran bodoh dan berhenti bersikap apatis terhadap hidup! 

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Niscala
499      369     14     
Short Story
Namanya Hasita. Bayi yang mirna lahirkan Bulan Mei lalu. Hasita artinya tertawa, Mirna ingin ia tumbuh menjadi anak yang bahagia meskipun tidak memiliki orang tua yang lengkap. Terima kasih, bu! Sudah memberi kekuatan mirna untuk menjadi seorang ibu. Dan maaf, karena belum bisa menjadi siswa dan anak kebanggaan ibu.
Kau dan Aku Tahu Itu
1839      982     5     
Short Story
Sungguh kau tidak akan pernah mengerti sampai kamu membaca cerita ini lengkap. Saya tidak bermaksud menyinggung agama mana pun, saya hanya membagi kisah ini atas nama persahabatan. Dan dari narasumber yang bersedia membagikan kisahnya.
Ritual Buang Mantan
477      323     2     
Short Story
Belum move on dari mantan? Mungkin saatnya kamu melakukan ritual ini....
Wait! This's Fifty-Fifty, but...
185      168     0     
Romance
Is he coming? Of course, I'm a good girl and a perfect woman. No, all possibilities have the same opportunity.
Dunia Saga
7196      2177     0     
True Story
There is nothing like the innocence of first love. This work dedicated for people who likes pure, sweet, innocent, true love story.
Broken Wings
1522      955     0     
Inspirational
Hidup dengan serba kecukupan dan juga kemewahan itu sudah biasa bagiku. Jelas saja, kedua orang tuaku termasuk pengusaha furniture ternama dieranya. Mereka juga memberiku kehidupan yang orang lain mungkin tidak mampu membayangkannya. Namun, kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan adanya kekayaan. Mereka berhasil jika harus memberiku kebahagian berupa kemewahan, namun tidak untuk kebahagiaan s...
Hello Aruna
24      23     0     
Short Story
Ketika hati diciptakan untuk terus merasakan patah hati.
"Mereka" adalah Sebelah Sayap
553      405     2     
Short Story
Cinta adalah bahasan yang sangat luas dan kompleks, apakah itu pula yang menyebabkan sangat sulit untuk menemukanmu ? Tidak kah sekali saja kau berpihak kepadaku ?
Metanoia
3748      1562     2     
True Story
âťťYou, the one who always have a special place in my heart.âťž
Hidup Lurus dengan Tulus
264      235     4     
Non Fiction
Kisah epik tentang penaklukan Gunung Everest, tertinggi di dunia, menjadi latar belakang untuk mengeksplorasi makna kepemimpinan yang tulus dan pengorbanan. Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, dalam ekspedisi tahun 1953, berhasil mencapai puncak setelah banyak kegagalan sebelumnya. Meskipun Hillary mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang mencapai puncak, peran Tenzing sebagai pemandu dan pe...