Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dear N
MENU
About Us  

  Gadis itu terbangun di sebuah ruangan bernuansa pink yang pada dinding-dindingnya terpasang poster dan foto idol kesukaannya. Memang benar ini adalah kamarnya namun kali ini ada hal yang membedakan kamar itu dari biasanya, yaitu terdapat selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya. Adira terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.

  "Mama." Panggilnya pada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa.

  Mendengar itu Sinta segera menghampiri putrinya, "Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?."

  "Mama kenapa aku di sini?." Tanya Adira. "Harusnya aku masih ada di tempat camping kan"

  Sinta terlihat menghela napas, "Jangan keras kepala Adira. Dari awal mama udah bilang kan kalo tubuh kamu ngga sekuat kak Daniel, tubuh kamu itu lemah, di tambah kamu juga ngga tahan sama hawa dingin." Adira terdiam. "Kamu tau seberapa paniknya mama waktu tau kamu hilang di hutan dan hampir aja mati. Apa lagi orang-orang di sana gak ada yang paham sama sekali tentang kondisi kamu."

  "Maaf, karena aku udah bikin mama khawatir." Kata Adira pelan.

  Sinta mengusap rambut Adira lembut, "Tolong jangan di ulangi lagi ya, kamu sendiri yang bilang kalo cuma kamu yang tau tentang tubuhmu, jadi harusnya kamu tau kan kemampuan tubuhmu? Jangan terlalu di paksa ya."

  Adira tersenyum tipis, "Iya ma."

  Mama Adira balik tersenyum, "Istirahat ya, mama mau hubungi dokter dulu." Katanya. Setelah itu Sinta terlihat berjalan keluar dari kamar Adira.

  Sepergian mamanya dari sana, Adira menatap kosong ke arah luar jendela, kemudian terdengar helaan napas dari gadis itu. Sejak kecil ia selalu di larang  melakukan hal yang dia inginkan. Bukan tanpa sebab orang tuanya melakukan itu. Karena tubuh Adira yang lemah lantaran ia memiliki gangguan pada paru-parunya membuat kedua orang tuanya ekstra protectif padanya. Padahal sedari kecil gadis itu sangat ingin hidup seperti anak lainnya yang bisa melakukan apapun yang mereka mau tanpa memikirkan resiko-resiko yang mungkin akan terjadi. Sejujurnya Adira lelah, namun ia tidak ingin mati. Karena masih banyak mimpi yang harus ia gapai. Selain itu, ia selalu percaya bahwa suatu hari nanti akan ada sebuah bintang yang akan membawanya terbang untuk melihat indahnya dunia.

  "Ra." Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Adira.

  Gadis itu menoleh pada sang empu, "Kak Daniel?." Ujarnya. Daniel terlihat mengukir senyum.

  "Kak Daniel udah pulang?." Tanya Adira.

  "Iya, Udah dari tadi." Jawab Daniel.

  "Oh gitu."

  "Gimana kondisi lo?." Tanya Daniel.

  "Seperti yang kakak lihat." Jawab Adira seadanya.

  "Ya udah banyakin istirahat." Kata Daniel

  Adira diam sejenak, "Kak Daniel, Maaf ya." Katanya.

  Daniel mengernyit, "Maaf buat apa?."

  "Karena aku ikut Camping. Harusnya dari awal aku ngga maksa ikut, Kak Daniel sama yang lain jadi kesusahan gara-gara aku." Ujar Adira.

  "Kata siapa kita kesusahan gara-gara lo?." Tanya Daniel.

  "Engga ada, cuman setelah aku pikir-pikir pasti aku nyusahin kalian."

  Daniel berdecak, "Dalam keadaan gini lo masih bisa mikirin orang lain?."

  Adira terdiam.

  "Bukan salah lo, itu kecelakaan. Lo sendiri pasti juga gak mau kan itu terjadi, jadi jangan salahin diri lo sendiri. Justru mereka semua itu khawatir sama lo karena mereka sayang lo ra. So, lebih baik lo istirahat dan berhenti mikirin yang aneh-aneh." Kata laki-laki itu panjang lebar. Adira sempat tertegun karena untuk pertama kalinya ia melihat Daniel mengatakan hal sebijak itu.

  "Tapi kak Daniel, mereka tau kalo aku sakit?"

  "Engga, ngga ada yang tau kalo lo sakit. Mereka ngiranya lo cuma hipotermia." Sahut Daniel.

  Adira menghela napas, "Syukur deh."

  Daniel tersenyum sembari mengusap rambut Adira, "Papa ngirim hadiah buat lo, jadi lo harus sembuh." Katanya.

  "Hadiah? Hadiah apa?." Gadis itu mencoba untuk bangun.

  "Eh?." Daniel terlihat terkejut, lalu ia membantu adiknya untuk duduk.

  "Hadiah apa kak?." Tanya Adira penasaran.

  "Nanti lo tau sendiri." Sahut Daniel

  "Papa bakal pulang ya?." Adira bertanya dengan excited.

  Daniel terdiam sejenak, kemudian ia menggeleng. "Bukan, papa ngirim hadiah buat kado ulang tahun lo."

  Terlihat raut wajah kecewa dari gadis itu. Adira menggenggam tangan kakaknya erat, "Kak Daniel boleh ngga minta papa pulang sebentar aja." Pintanya.

  "Papa kan kerja, Ra." Jawab Daniel

  "Aku tau, tapi–"

  "Kita bukan anak kecil lagi, Ra. Jadi lo harus ngerti kalo papa kerja juga buat kita." Jelas Daniel.

  "Tapi tahun lalu papa juga ngga pulang kak." Balas Adira. "Padahal papa udah janji mau rayain ulang tahun bareng-bareng. Sampai kadang aku ngerasa papa itu ada tapi figurnya ngga pernah ada."

  "Udah, jangan mikir aneh-aneh. Lo masih sakit jadi pikirannya ngelantur. Lagian gue lihat tahun lalu lo kelihatannya seneng-seneng aja ngerayain tanpa papa. Lo kan dapet kado kamera dari papa." Ujar Daniel

  "Bahkan tanpa papa kasih kado kamerapun asalkan ada figur papa di sini, itu lebih dari cukup." Tutur Adira pelan.

  Daniel menghela napas, "Iya, gue tau apa yang lo maksud. Tapi kita juga gak tau kan apa yang papa rasain. Mungkin aja dia lebih menderita karena jauh dari kita, anak-anaknya."

  Adira diam sejenak, "Iya, kak Daniel bener."

  "Nah kan, makanya lo harus minum obat biar cepet sembuh. Gue yakin papa juga bakal sedih kalo lihat lo sakit terus." Ujar Daniel sembari menyodorkan tiga butir obat.

  Adira menatap obat-obat itu dalam diam, "Kak Daniel, kapan ya aku berhenti minum obat-obat ini?."

  "Kalo lo udah sembuh." Jawab Daniel seadanya.

  "Kak Daniel, aku cape" Aku Adira. Daniel tertegun, untuk pertama kalinya Adira mengakui apa yang ia rasakan. Karena selama  ini, yang Daniel tau gadis itu hanya selalu menurut dan menunjukkan senyum seperti tidak terjadi apa-apa.

  "Tapi papa dan mama pasti lebih cape." Lanjut Adira.

  "Omongan lo makin ngelantur." Sahut Daniel.

  "Tapi kenyataannya gitu kan kak."

  "Lebih baik lo minum obat dan setelah itu istirahat." Suruh Daniel. Adira diam.

  "Gue punya sesuatu buat lo." Lanjutnya.

  "Apa?." Tanya Adira.

  "Ada."

  "Ih kak Daniel, apa?"

  "Rahasia."

  "Dih?."

  "Makanya lo minum obat dulu, baru nanti gue kasih tau."

  "Engga mau, harus kasih tau dulu."

  "Tapi janji setelah itu minum obat."

  Adira mengangguk cepat, "Janji." Ujarnya sembari menautkan jari kelingkingnya dengan Daniel.

  Laki-laki itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Nih." Katanya sembari menyodorkan sebuah coklat pada Adira.

  "Oh wow? Tumben kak Daniel beli sesuatu buat aku." Ujar Adira tidak percaya.

  "Bukan gue yang beli."

  "Lalu?."

  "Dari Naufal."

  "Hah?!." Adira tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya. "Dari kak Naufal?."

  Daniel mengangguk, "Iya, tapi bisa biasa aja ngga? Jangan banyak gerak, gue ngeri lihat selang-selang di tubuh lo."

  Adira terkekeh, "Tenang aja, ngga akan lepas kok."

  "Ya tetep aja gue ngeri."

  "Tapi kak Daniel ngga bohong kan?." Tanya Adira.

  "Apa untungnya gue bohong sama lo?." Daniel balik bertanya.

  "Ya siapa tau kan."

  "Engga Adira."

  "Tapi kak Naufal ada bilang sesuatu ngga?." Adira terlihat berharap.

  Daniel menggeleng, "Dia cuma ngasih coklat itu dan ngga ada bilang apa-apa."

  Gadis itu menunjukkan raut wajah kecewa. "Bahkan ucapan cepet sembuh gitu ngga?."

  "Engga."

  "Emm gitu ya."

  "Udah sih, bukanya dengan Naufal ngasih hadiah ke lo itu udah bagus? Setidaknya proges lo ada kemajuan kan?" Ucap Daniel.

  "Iya sih."

  "Nah ya udah. Sekarang sesuai janji lo, lo harus minum obatnya." Ujar Daniel sembari menyodorkan kembali tiga butir obat pada Adira, dan dengan terpaksa akhirnya di minum oleh gadis itu.

  "Kak Daniel, besok aku udah boleh berangkat sekolah?." Tanya Adira tiba-tiba.

  "Ngga usah ngaco, lo belum sembuh." Daniel tidak habis pikir.

  "Udah sembuh kak Daniel."

  "Belum Adira, sekarang mending lo istirahat." Pinta Daniel.

  "Tapi–"

  "Istirahat." Perintah laki-laki itu.

  "Iya iya." Sahut Adira pasrah.

  Daniel tersenyum sembari mengusap rambut Adira, "Good girl, gue mau tanya mama dulu dokternya kapan datangnya."

  "Hm."

  "Lo harus sembuh." Setelah mengatakan itu Daniel keluar dari kamar Adira.

  Sepergian laki-laki itu dari kamarnya, Adira tidak henti-hentinya menatap coklat yang diberikan Daniel sembari mengukir senyum. "Kak Naufal." Gumamnya pelan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Depaysement (Sudah Terbit / Open PO)
6210      3236     2     
Mystery
Aniara Indramayu adalah pemuda biasa; baru lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaan sebagai ilustrator 'freelance' yang pendapatannya tidak stabil. Jalan hidupnya terjungkir balik ketika sahabatnya mengajaknya pergi ke sebuah pameran lukisan. Entah kenapa, setelah melihat salah satu lukisan yang dipamerkan, pikiran Aniara dirundung adegan-adegan misterius yang tidak berasal dari memorinya. Tid...
ASA
7153      3062     0     
Romance
Ketika Rachel membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati kenyataan di hadapannya berubah drastis. Kerinduannya hanya satu, yaitu bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun, Rachel hanya diberi kesempatan selama 40 hari untuk memilih. Rachel harus bisa memilih antara Cinta atau Kebencian. Ini keputusan sulit yang harus dipilihnya. Mampukah Rachel memilih salah satunya sebelum waktunya ha...
Romance is the Hook
6540      2655     1     
Romance
Tidak ada hal lain yang ia butuhkan dalam hidupnya selain kebebasan dan balas dendam. Almira Garcia Pradnyani memulai pekerjaannya sebagai editor di Gautama Books dengan satu tujuan besar untuk membuktikan kemampuannya sendiri pada keluarga ibunya. Namun jalan menuju keberhasilan tidaklah mudah. Berawal dari satu kotak cinnamon rolls dan keisengan Reynaldo Pramana membuat Almira menambah satu ...
Kanvas Putih
190      168     1     
Humor
Namaku adalah Hasywa Engkak, yang berarti pengisi kehampaan dan burung hitam kecil. Nama yang memang sangat cocok untuk kehidupanku, hampa dan kecil. Kehidupanku sangat hampa, kosong seperti tidak ada isinya. Meskipun masa depanku terlihat sangat tertata, aku tidak merasakannya. Aku tidak bahagia. Wajahku tersenyum, tetapi hatiku tidak. Aku hidup dalam kebohongan. Berbohong untuk bertahan...
One-Week Lover
2786      1682     0     
Romance
Walter Hoffman, mahasiswa yang kebosanan saat liburan kuliahnya, mendapati dirinya mengasuh seorang gadis yang entah dari mana saja muncul dan menduduki dirinya. Yang ia tak tahu, adalah fakta bahwa gadis itu bukan manusia, melainkan iblis yang terlempar dari dunia lain setelah bertarung sengit melawan pahlawan dunia lain. Morrigan, gadis bertinggi badan anak SD dengan gigi taring yang lucu, meng...
Bimbang (Segera Terbit / Open PO)
7905      2901     1     
Romance
Namanya Elisa saat ini ia sedang menempuh pendidikan S1 Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Bandung Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara dalam keluarganya Tetapi walaupun dia anak terakhir dia bukan tipe anak yang manja trust me Dia cukup mandiri dalam mengurus dirinya dan kehidupannya sendiri mungkin karena sudah terbiasa jauh dari orang tua dan keluarganya sejak kecil juga ja...
The Skylarked Fate
10223      3863     0     
Fantasy
Gilbert tidak pernah menerima takdir yang diberikan Eros padanya. Bagaimanapun usaha Patricia, Gilbert tidak pernah bisa membalas perasaannya. Seperti itu terus pada reinkarnasi ketujuh. Namun, sebuah fakta meluluhlantakkan perasaan Gilbert. Pada akhirnya, ia diberi kesempatan baru untuk berusaha memperbaiki hubungannya dengan Patricia.
Through This Letter (Sudah Terbit / Open PO)
7984      3140     1     
Romance
Dia—pacarku—memang seperti itu. Terkadang menyebalkan, jail, sampai-sampai buatku marah. Dan, coba tebak apa yang selalu dia lakukan untuk mengembalikan suasana hatiku? Dia, akan mengirimkanku sebuah surat. Benar-benar berbentuk surat. Di tengah-tengah zaman yang sudah secanggih ini, dia justru lebih memilih menulis sendiri di atas secarik kertas putih, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah a...
ALMOND
2072      1433     1     
Fan Fiction
"Kamu tahu kenapa aku suka almond?" Anara Azalea menikmati potongan kacang almond ditangannya. "Almond itu bagian penting dalam tubuh kita. Bukan kacang almondnya, tapi bagian di otak kita yang berbentuk mirip almond." lanjut Nara. "itu amygdala, Ra." Ucap Cio. "Aku lebih suka panggilnya Almond." Nara tersenyum. "Biar aku bisa inget kalau Almond adalah rasa yang paling aku suka di dunia." Nara ...
KELANA [Kenzie - Elea - Naresh]
7184      2692     0     
Fan Fiction
Kenzie, Elea, Naresh, tiga sahabat yang ditakdirkan menjadi seorang bintang. Elea begitu mengagumi Naresh secara diam-diam, hingga dia amat sangat peduli terhadap Naresh. Naresh yang belakangan ini sering masuk lambe turah karena dicap sebagai playboy. Bukan tanpa sebab Naresh begitu, laki-laki itu memiliki alasan dibalik kelakuannya. Dibantu dengan Kenzie, Elea berusaha sekuat tenaga menyadarka...