Read More >>"> Toko Kelontong di Sudut Desa (Page 373-3) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Toko Kelontong di Sudut Desa
MENU
About Us  

Bagian Ketiga

"Halo, Afufu!" 

Terlihat seorang remaja lelaki menggunakan pakaian bebas, kaus oblong dan celana pendek selutut. Afuya membulatkan matanya. Pikirnya tadi Winter tidos masuk sekolah karena kurang sehat atau lagi sedikit depresi saja. Saat ini yang dilihatnya jauh dari apa yang telah diekspektasikannya. Terlihat segar dan sehat-sehat saja. Bahkan wajahnya itu begitu ceria. 

"Ngapain ke sini?" tanya Afuya dengan ketus.

"Main, lah," timpal Winter dengan santainya. 

Afuya menyela tanpa memberikan jeda. "Main... main. Kalau Bunda tahu nanti dimarahin lagi." 

Winter menurunkan kedua pangkal alisnya. "Kalau gitu ngajarin Kamu matematika." 

"Kan, bisa aku ke rumah tante Eryn." 

"Lebih seru di sini. Sambil bercanda sama kekekmu." 

Afuya masuk langsung menutup pintu toko kelontong rapat-rapat. Ia duduk di bawah menghadap Winter secara langsung. Saat duduk di lantai, dari luar memang tidak kelihatan. Oleh sebab itu Afuya sedikit tenang menyembunyikan Winter di toko kelontong milik kakeknya. Afuya diam sejenak sembari berdiri kemudian celingak-celinguk memastikan keadaan. Dirasa cukup aman, Afuya kembali duduk tepat menghadap pemuda itu dan lebih dekat. 

Menyaksikan gadis di depannya, Winter tersenyum. Seakan hatinya dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Afuya begitu menggemaskan baginya. Bahkan bunga indah sekalipun tidak bisa menandingi kegemasan Winter terhadap Afuya. Gadis itu mendekatkan diri. Terdengar samar-samar seperti berbisik, Afuya memulai sesi obrolan untuk mengintrogasi Winter. 

"Kau tadi kenapa nggak masuk?" Afuya menelisik dengan sorot matanya yang tajam.

Bukannya menjawab atas pertanyaan gadis di depannya, Winter malah tersenyum sembari menyipitkan matanya. Sungguh membuat Afuya kesal. Andai saja jika ada sepeda butut milik kakeknya, pasti sudah mendarat di wajah Winter. Afuya menarik kembali tubuhnya yang tadi sempat berjarak dekat dengan pemuda itu. Ia ikut menyipitkan mata tetapi tidak ada sentuhan senyum di wajahnya. Hanya datar saja. 

Afuya berdecih. "Ditanya malah nyengir." 

"Hehe...." Winter menyahuti. "Di sini suasananya enak," lanjut pemuda itu. 

"Sama saja dengan rumah tante Eryn," timpal Afuya. 

"Lebih enak di sini. Kakekmu baik sekali padaku." 

"Enak di sana. Tante Eryn juga baik padaku, nggak seperti bunda." 

Percakapan mereka terhenti ketika ada sebungkus mie instan jatuh ke lantai membentur keramik. Pandangan mereka yang sebelumnya saling menatap, teralihkan menjadi menoleh ke arah tumpukan mie instan. Winter masih bersila, Afuya tergerak untuk berdiri guna mengembalikan mie instan yang jatuh itu ke tempat asalnya. Jemari Afuya memungut barang tersebut lalu meneliti sejenak dengan pandangannya. 

Mie instan itu ternyata tinggal sebiji saja jenisnya. Tidak ada yang sama dengan lain. kotaknya juga begitu longgar, bahkan bisa diisi dua puluh lima bungkus mie instan. Anehnya, mengapa sebungkus itu tiba-tiba jatuh. Jika dipikir secara logika, yang berpotensi untuk jatuh adalah mie instan yang berdesakan isinya. Afuya tidak ingin ambil pusing. Ia meletakkan sebungkus yang dipegangnya itu di kotak kosong. 

Winter masih tak memalingkan tatapannya pada Afuya. Di usianya yang masih satu setengah dasawarsa, Winter bisa dikatakan pemuda normal pada umumnya. Mereka sudah mengenal yang namanya cinta dan rasa suka, tetapi kedua hal itu terkadang tidak benar-benar mereka mengerti. Selain tergolong anak yang cerdas dan periang, Winter juga anak yang pengertian. 

Saat Afuya akan membuang muka dari tumpukan mie instan. Tanpa sengaja, tatapan dari ujung matanya itu menyaksikan sebuah kotak kecil bewarna cokelat tua berbahan kayu mahoni. Jelas saja, gadis itu langsung mengurungkan niatnya untuk kembali dan memilih mendekati kotak tersebut. Saat dipegangnya, terktur kotak masih terasa seperti kulit kayu. Sedikit mengkilap dan begitu antik. 

Kotak apa ini? Bagus. Kalau dijual pasti mahal. 

Afuya mengambil kotak tersebut lalu membawanya kembali ke arah Winter. Ia duduk bersila juga, mengimbangi lawan bicara. Melihat Afuya membawa sebuah kotak kecil bewarna cokelat tua itu, Winter mengerutkan kening. Merasa penasaran. Ia menggeser posisi duduknya, mendekati Afuya yang fokus untuk segera membuka pengait engsel kunci di bagian luaran kotak. 

"Apaan itu?" tanya Winter.

Mulut Afuya diam. Tanpa mengeluarkan kata-kata, gadis itu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Meskipun tidak membalas pertanyaan winter dengan kalimat, gerak-gerik Afuya telah menjelaskan jawabannya. Bahwa dirinya juga baru pertama kali melihat dan tidak tahu apa isi di dalam kota tersebut. Selama ini ia bolak-balik ke toko kelontong milik kakeknya, tetapi tidak pernah menemukan kotak itu. Bahkan kakeknya juga tidak pernah memberitahukan tentang benda tersebut. 

Ketika engsel penguncinya terlah terbuka, Afuya maupun Winter dibuat terkejut dengan isi di dalam kotak. Pasalnya buka terkejut karena kagum, melainkan karena dilanda banyak pertanyaan yang seketika muncul di kepala mereka berdua. Dilihatnya sebuah besi yang dilapisi kuningan berbentuk seperti sebuah kunci pintu zaman abad delapan belas. Namun, bentuknya tidak utuh. Terbelah menjadi dua dengan bagian sisi yang sama.

"Aih, setengahnya di mana?" Winter mulai duluan. 

Afuya diam sejenak. Setengah kunci yang tidak asing menurutnya. Seperti pernah melihat, tetapi di mana. Afuya bak dilanda déjà vu. Manik pikirannya dengan cepat kembali. Ia sekejap teringat. Afuya mengeluarkan kalung yang dikenakan. Benar saja, ketika gadis itu telah menyandingkan kalungnya dengan kunci di dalam kotak. Ternyata liontin kalun yang ia pakai itu adalah belahan sisi satunya dari kunci tersebut. Winter spontan mengambil bagian kunci di dalam kotak lalu menggabungkannya pada liontin kalung milik Afuya.

"Pas...," ucap Winter. 

"Kakek nggak pernah bilang tentang ini padaku." 

Winter menatap Afuya serius. "Berarti ada yang disembunyikan kakekmu padamu." 

Afuya mencoba menelaah kalimat dari remaja lelaki di depannya. "Kalau begitu, nanti aku tanya langsung ke kakek aja," cetusnya membuat Winter melotot.

"Jangan!" Winter mengurungkan niat Afuya yang sedang mengembalikan potongan sebelah kunci itu. Pemuda tersebut memegang erat pergelangan tangan Afuya. 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Havana
708      338     2     
Romance
Christine Reine hidup bersama Ayah kandung dan Ibu tirinya di New York. Hari-hari yang dilalui gadis itu sangat sulit. Dia merasa hidupnya tidak berguna. Sampai suatu ketika ia menyelinap kamar kakaknya dan menemukan foto kota Havana. Chris ingin tinggal di sana. New York dan Indonesia mengecewakan dirinya.
One Step Closer
2125      875     4     
Romance
Allenia Mesriana, seorang playgirl yang baru saja ditimpa musibah saat masuk kelas XI. Bagaimana tidak? Allen harus sekelas dengan ketiga mantannya, dan yang lebih parahnya lagi, ketiga mantan itu selalu menghalangi setiap langkah Allen untuk lebih dekat dengan Nirgi---target barunya, sekelas juga. Apakah Allen bisa mendapatkan Nirgi? Apakah Allen bisa melewati keusilan para mantannya?
Ketika Sang Mentari Terbenam di Penghujung Samudera
155      132     2     
Short Story
Tentang hubungan seorang ayah dan putranya yang telah lama terpisah jauh
Mr.Cool I Love You
102      87     0     
Romance
Andita harus terjebak bersama lelaki dingin yang sangat cuek. Sumpah serapah untuk tidak mencintai Andrean telah berbalik merubah dirinya. Andita harus mencintai lelaki bernama Andrean dan terjebak dalam cinta persahabatan. Namun, Andita harus tersiksa dengan Andrean karena lelaki dingin tersebut berbeda dari lelaki kebanyakan. Akankah Andita bisa menaklukan hati Andrean?
Sebelas Desember
3618      1141     3     
Inspirational
Launa, gadis remaja yang selalu berada di bawah bayang-bayang saudari kembarnya, Laura, harus berjuang agar saudari kembarnya itu tidak mengikuti jejak teman-temannya setelah kecelakaan tragis di tanggal sebelas desember; pergi satu persatu.
The Legend of the Primrose Maiden
773      413     1     
Fantasy
Cinta dan kasih sayang, dua hal yang diinginkan makhluk hidup. Takdir memiliki jalannya masing-masing sehingga semua orang belum tentu bisa merasakannya. Ailenn Graciousxard, salah satu gadis yang tidak beruntung. Ia memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan perhatian keluarganya, tetapi selalu gagal dan berakhir menyedihkan. Semua orang mengatakan ia tidak pantas menjadi Putri dari Duke Gra...
Dunia Alen
3800      1255     1     
Romance
Alena Marissa baru berusia 17 belas tahun, tapi otaknya mampu memproduksi cerita-cerita menarik yang sering membuatnya tenggelam dan berbicara sendiri. Semua orang yakin Alen gila, tapi gadis itu merasa sangat sehat secara mental. Suatu hari ia bertemu dengan Galen, pemuda misterius yang sedikit demi sedikit mengubah hidupnya. Banyak hal yang menjadi lebih baik bersama Galen, namun perlahan ba...
Begitulah Cinta?
16038      2327     5     
Romance
Majid Syahputra adalah seorang pelajar SMA yang baru berkenalan dengan sebuah kata, yakni CINTA. Dia baru akan menjabat betapa hangatnya, betapa merdu suaranya dan betapa panasnya api cemburu. Namun, waktu yang singkat itu mengenalkan pula betapa rapuhnya CINTA ketika PATAH HATI menderu. Seakan-akan dunia hanya tanah gersang tanpa ada pohon yang meneduhkan. Bagaimana dia menempuh hari-harinya dar...
Unknown
212      174     0     
Romance
Demi apapun, Zigga menyesal menceritakan itu. Sekarang jadinya harus ada manusia menyebalkan yang mengetahui rahasianya itu selain dia dan Tuhan. Bahkan Zigga malas sekali menyebutkan namanya. Dia, Maga!
SORRY
16270      2961     11     
Romance
Masa SMA adalah masa yang harus dipergunakan Aluna agar waktunya tidak terbuang sia-sia. Dan mempunyai 3 (tiga) sahabat cowok yang super duper ganteng, baik, humoris nyatanya belum untuk terbilang cukup aman. Buktinya dia malah baper sama Kale, salah satu cowok di antara mereka. Hatinya tidak benar-benar aman. Sayangnya, Kale itu lagi bucin-bucinnya sama cewek yang bernama Venya, musuh bebuyutan...