Loading...
Logo TinLit
Read Story - Si 'Pemain' Basket
MENU
About Us  

Sejak hari itu, Marvin terus mengantar Dira pulang dan bermain dengan kedua adik perempuan itu. Dira tidak bisa mengelak dan mengikuti apa yang Marvin inginkan bahkan pria itu sampai menunggunya di depan kelas hanya untuk pulang bersama.

"Yuk, pulang," ajak Marvin setelah mencegat Dira di depan kelasnya. Pria itu menggenggam tangan Dira dengan erat dan membawa perempuan itu pergi. Tarikannya cukup kuat sehingga Dira merasa seperti diseret apalagi langkah kaki Marvin cukup panjang dan Dira susah untuk mengimbanginya.

"Kak, saya nggak bisa pulang sekarang!" balas Dira yang membuat Marvin menghentikan langkahnya.

"Kenapa?"

"Saya ada jadwal rapat sama teman-teman PMR," jelas Dira singkat.

Marvin terdiam sejenak sembari berpikir, dilepasnya tangan Dira. Namun, perempuan itu tidak kabur dan menunggu Marvin selesai berpikir.

"Ya udah, gue temenin," ucap Marvin dengan santai sembari kembali menarik tangan Dira.

"Hah, tapi, Kak ... ."

"Nggak ada tapi-tapi-an, gue temenin sampe selesai terus kita balik bareng."

Layaknya perintah yang tak terelakkan, Dira hanya pasrah mendengar apa yang Marvin ucapkan.

Sesampai di ruang ekskul PMR, mereka menjadi pusat perhatian karena sudah cukup banyak siswa yang berkumpul. Dira mengambil tempat paling belakang dan Marvin ikut duduk di sisinya.

Sepanjang penjelasan, Marvin terus menguap karena kelelahan. Dira yang merasa kasihan kemudian menggeser tas yang sebelumnya dia pangku. "Tidur aja, Kak. Kalau capek," bisik Dira yang langsung membuat Marvin tidur di pangkuannya.

Sebenarnya, Dira merasa tidak enak pada Marvin. Namun, pria itu terus memaksa untuk ikut padahal mereka belum tau akan selesai jam berapa rapat kali ini.

Untungnya, tubuh Marvin yang tengah tiduran tertutup oleh meja di hadapan Dira sehingga tidak menjadi pusat perhatian. Dira sedikit takut dengan pikiran orang-orang yang melihat mereka nantinya.

"Jadi, acara penerimaan anggota baru hari sabtu ya sepulang sekolah sampai minggu sore. Kita nginap di sekolahan dan ada beberapa acara penting yang perlu kalian ikuti," jelas Bagas yang ternyata adalah ketua ekskul PMR tahun ini.

Pria berlesung pipi itu beberapa kali menatap Dira sehingga membuat perempuan itu salah tingkah.

"Ada pertanyaan tentang acara kita nanti?" tanya Bagas sembari memperhatikan seluruh siswa yang hadir. Sayangnya, tak satupun mengangkat tangan termasuk Dira. Dia tidak memiliki pertanyaan untuk disampaikan sehingga memutuskan untuk diam saja.

"Oke, nggak ada pertanyaan ya. Saya akhiri pertemuan kita hari ini. Terima kasih."

Setelah penutupan, para siswa yang hadir langsung berhamburan. Ada yang masih tetap tinggal karena asyik berbincang. Ada juga yang sudah hilang entah kemana. Dira yang masih memangku Marvin kemudian membangunkan pria itu karena rasa ketam tiba-tiba menjalar di kakinya.

"Kak. Ayo bangun. Kaki aku kram," bisik Dira sembari menepuk bahu Marvin.

Perlahan, pria itu bangun dari tidurnya dan membuat Dira merasa lega apalagi setelah kepala Marvin tak lagi berada di pahanya.

Mata Marvin mulai membiasakan cahaya yang masuk dan Dira yang berada di sisinya hanya memperhatikan pria itu sampai dia benar-benar sadar.

Dari kejauhan, mereka ternyata diperhatikan oleh Bagas. Tanpa ekspresi wajah yang jelas, pria itu menatap tajam ke arah Marvin. Seperti ada dendam. Namun, entah apa.

"Ayuk, balik," ajak Marvin setelah bangun dari duduknya. Dira ikut melakukan hal yang sama dan keduanya bergegas pergi dari ruang ekskul PMR.

Seperti sebelumnya, Marvin datang ke rumah Dira dan bermain dengan kedua adik perempuan itu. Mereka semakin dekat dan membuat Dira merasa asing di antara mereka.

Membiarkan Marvin dan kedua adiknya bermain. Dira sibuk dengan ponselnya. Ada beberapa pesan yang belum dia balas dan harus segera dia balas. Ditengah kegiatannya itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenali.

+62 856-333-****

Sore, ini Adira Benita kan? Saya Bagas Aksa, ketua ekskul PMR. Apa besok siang saat istirahat kamu ada kesibukan?

Sore kak, iya saya Adira Benita. Besok siang ya, nggak kok, Kak. Ada apa ya?


Syukurlah, saya mau nyampaikan sesuatu mengenai kegiatan ekskul PMR akhir pekan nanti. Apa kita bisa ketemu?

Bisa Kok, Kak. Dimana, Kak?


Di ruang ekskul PMR. Saya tunggu besok siang ya.

Baik, Kak.

 

Setelah percakapan singkat dengan Bagas, Dira meninggalkan ponselnya dan kembali sibuk dengan kedua adik juga kakak kelasnya. Entah apa yang tengah mereka bincangkan sehingga tertawa tanpa beban.

 

"Ngomongin apa sih?" tanya Dira yang membuat mereka serempak terdiam.

 

"Ih, kakak kepo deh," ucap Yoga yang membuat Dira kesal.

 

"Ya udah, kakak nggak mau main sama kalian."

 

Dira beranjak dari duduknya. Meninggalkan ketiga pria itu yang terus memperhatikannya hingga tak dapat mereka lihat lagi.

 

"Nah loh, Kak Dira ngambek," ucap Yogi menyalahkan Yoga karena Dira pada mereka.

 

"Ih, kok aku sih," balas Yoga menampik apa yang Yogi tuduhkan padanya.

 

"Udah, udah. Bukan salah kalian kok. Dira kayanya lagi nggak mood deh, jadinya begitu."

 

Niat hati membuat Yoga dan Yogi tenang, malah perasaan Marvin yang kini campur aduk karena sikap Dira. Semarah apapun perempuan itu pada mereka, Dira tidak akan meninggalkan mereka seperti sekarang.

 

Di tengah kegundahannya, tiba-tiba ponsel Marvin berbunyi dan pria itu langsung menatap Yoga-Yogi secara bergantian. "Kakak angkat telepon dulu ya."

 

Setelah kedua adik kembar Dira menganggukkan kepalanya, Marvin langsung keluar dari rumah mereka. Pria itu harus mengangkat telepon yang ternyata dari bawahan ayahnya tersebut.

 

"Halo, Om. Ada apa?" tanya Marvin dengan malas. Namun, dia cukup penasaran dengan alasan bawahan ayahnya itu menelepon.

 

"Halo, Vin. Kamu dimana?"

 

"Lagi di rumah temen nih, Om. Kenapa?" tanya Marvin lagi karena merasa bawahan ayahnya itu tidak menjawab pertanyaannya.

 

"Temen atau temen?"

 

Marvin menghela napas setelah mendengar pertanyaan dari Bima, bawahan ayahnya. Marvin tau bahwa Bima ingin dekat dengannya, tetapi Marvin enggan karena tau Bima ada maksud tertentu.

 

"Sudah lah, Om. Mau aku di rumah temen kek, di rumah pacar kek, dimana kek. Itu bukan urusan, Om!"

 

Terdengar suara Bima tertawa kecil menanggapi amarah Marvin. Pria itu beranggapan bahwa Marvin tengah bercanda padahal tidak.

 

"Okay-okay. Sorry. Om cuman mau ingetin kamu, kalau akhir pekan nanti ada acara keluarga dan kamu harus datang."

 

"Om sudah ingetin aku berapa kali tentang hal itu. Iya, aku inget, Om!"

 

"Syukurlah, kalau kamu inget. Nanti mau dijemput?"

 

"Nggak usah, Om. Aku bisa naik motor sendiri," tolak Marvin karena tau akan lebih susah kabur jika harus pergi bersama bawahan ayahnya itu. "Itu aja kan, Om? Aku matiin ya."

 

Tanpa menunggu jawaban Bima, Marvin mematikan panggilan tersebut. Ditatapnya layar ponsel yang perlahan menghitam itu. Meninggalkan kekesalannya pada bawahan ayahnya itu, Marvin kembali masuk ke dalam rumah Dira.

 

Wajahnya tidak tertekuk seperti sebelumnya karena takut akan membawa suasana yang kurang baik pada kedua adik Dira. Marvin dan kedua adik perempuan itu kembali asyik bermain juga berbincang hingga malam tiba.

 

***

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • aiana

    seru ni, menatikan playboy kena karma. wkakakka

    ada yang tulisannya Dio dan Deo,
    mau berteman dan saling support denganku?

    Comment on chapter Chapter 1
Similar Tags
I'il Find You, LOVE
6808      2109     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.
Once Upon A Time
527      373     4     
Short Story
Jessa menemukan benda cantik sore itu, tetapi ia tak pernah berpikir panjang tentang apa yang dipungutnya.
Perverter FRIGID [Girls Knight #3]
1915      926     1     
Romance
Perverter FIRGID Seri ke tiga Girls Knight Series #3 Keira Sashenka || Logan Hywell "Everything can changed. Everything can be change. I, you, us, even the impossible destiny." Keira Sashenka; Cantik, pintar dan multitalenta. Besar dengan keluarga yang memegang kontrol akan dirinya, Keira sulit melakukan hal yang dia suka sampai di titik dia mulai jenuh. Hidupnya baik-baik saj...
Wannable's Dream
45663      7834     42     
Fan Fiction
Steffania Chriestina Riccy atau biasa dipanggil Cicy, seorang gadis beruntung yang sangat menyukai K-Pop dan segala hal tentang Wanna One. Dia mencintai 2 orang pria sekaligus selama hidup nya. Yang satu adalah cinta masa depan nya sedangkan yang satunya adalah cinta masa lalu yang menjadi kenangan sampai saat ini. Chanu (Macan Unyu) adalah panggilan untuk Cinta masa lalu nya, seorang laki-laki b...
Cinta dibalik Kebohongan
897      636     2     
Short Story
Ketika waktu itu akan datang, saat itu kita akan tau bahwa perpisahan terjadi karena adanya sebuah pertemuan. Masa lalu bagian dari kita ,awal dari sebuah kisah, awal sebuah impian. Kisahku dan dirinya dimulai karena takdir ataukah kebohongan? Semua bermula di hari itu.
the invisible prince
1724      971     7     
Short Story
menjadi manusia memang hal yang paling didambakan bagi setiap makhluk . Itupun yang aku rasakan, sama seperti manusia serigala yang dapat berevolusi menjadi warewolf, vampir yang tiba-tiba bisa hidup dengan manusia, dan baru-baru ini masih hangat dibicarakan adalah manusia harimau .Lalu apa lagi ? adakah makhluk lain selain mereka ? Lantas aku ini disebut apa ?
Bloody Autumn: Genocide in Thames
10728      2903     54     
Mystery
London, sebuah kota yang indah dan dikagumi banyak orang. Tempat persembunyian para pembunuh yang suci. Pertemuan seorang pemuda asal Korea dengan Pelindung Big Ben seakan takdir yang menyeret keduanya pada pertempuran. Nyawa jutaan pendosa terancam dan tragedi yang mengerikan akan terjadi.
Kebaikan Hati Naura
679      397     9     
Romance
Naura benar-benar tidak bisa terima ini. Ini benar-benar keterlaluan, pikirnya. Tapi, walaupun mengeluh, mengadu panjang lebar. Paman dan Bibi Jhon tidak akan mempercayai perkataan Naura. Hampir delapan belas tahun ia tinggal di rumah yang membuat ia tidak betah. Lantaran memang sudah sejak dilahirikan tinggal di situ.
Rain, Maple, dan Senja
1111      701     3     
Short Story
Takdir mempertemukan Dean dengan Rain di bawah pohon maple dan indahnya langit senja. Takdir pula yang memisahkan mereka. Atau mungkin tidak?
My Doctor My Soulmate
197      178     1     
Romance
Fazillah Humaira seorang perawat yang bekerja disalah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Fazillah atau akrab disapa Zilla merupakan seorang anak dari Kyai di Pondok Pesantren yang ada di Purwakarta. Zilla bertugas diruang operasi dan mengharuskan dirinya bertemu oleh salah satu dokter tampan yang ia kagumi. Sayangnya dokter tersebut sudah memiliki calon. Berhasilkan Fazillah menaklukkan...