•REWIND•
©Elsy Jessy
Setelah pemulihan kesehatan dan beberapa luka dan memarnya, Dina pindah ke sekolahku. Dan beberapa hari belakangan dia menempel terus padaku walaupun kami memang tak sekelas. Aku agak kesal, karena kami lagi-lagi dibandingkan. Padahal dia sudah punya banyak teman.
Aku sebenarnya agak keberatan waktu ayah memutuskan untuk memindahkan Dina ke sekolahku. Tapi untuk apa aku berpendapat kalau pada akhirnya tak ditanggapi serius.
Bukan. Tak ada rasa iri pada Dina sama sekali. Hanya saja, aku sedikit tidak nyaman terus dibanding-bandingkan dengan Dina. Aku memang tak semodis dan pintar bergaul seperti Dina. Buktinya belum genap sebulan kepindahannya, Dina sudah sepopuler sekarang.
Dari mulai kakak kelas sampai guru-guru bahkan sudah mengenalnya seolah dia sudah sedari awal kelas sepuluh ada di sekolah ini. Dan mereka bahkan tak tahu ada aku saudara kembarnya. Menyebalkan.
Hatiku sedikit tercubit ketika aku tak sengaja melihat Dina berbincang dengan Ryan di kantin sekolah. Dia bahkan terlihat cepat akrab dengan kakak kelasku itu. Ah, aku tak boleh cemburu. Lagi pula aku bukan siapa-siapa untuknya.
Aku menyeruput jus mangga dengan terburu-buru sampai tersedak.
"Pelan-pelan minumnya, Ta," tegur Melda tanpa melirik. Merasa tak ditanggapi, Melda berkomentar,"Lo kenapa, sih?"
Aku hanya mengaduk-aduk jus dengan sedotan tanpa menjawab.
"Oh, gara-gara itu?" Dagunya menunjuk kebersamaan Ryan dan Dina. "Katanya lo udah move on. Kok masih cemberut aja."
"Gue nggak cemburu, kok."
Melda tergelak lalu berkata, "Gue bilang cemberut bukan cemburu. Kayaknya galau bikin budeg, ya."
Aku hanya mengerucutkan bibir. Tiba-tiba Riska datang dengan hebohnya.
"Hai-hai semua." Dia melirikku. "Kok manyun, Ta? Kenapa? Cerita sama gue."
"Nggak apa-apa, kok." Aku mencoba menyunggingkan senyuman walaupun agak terpaksa.
Riska memandang Melda, menanyakan sebab aku murung hari ini. Melda tak menjawab, dia kembali fokus pada novel yang sedang dibacanya.
"Hm. Gue pesen dulu, deh. Lo mau titip apa?"
Aku menggeleng. "Nggak. Gue udah kenyang."
"Kalo lo, Mel?"
"Gue titip batagor, deh."
"Oke." Riska berlalu.
Tak berselang lama, Riska kembali dengan wajah kagetnya. "Ta, Dina kenal juga sama kak Ryan?"
"Mungkin." Aku meliriknya sekilas lalu kembali fokus mengaduk-aduk minumanku.
"Waduh. Gue udah ngalah sama lo malah diembat sama Dina," celotehnya.
"Lo sih nggak buru-buru. Kak Ryan itu suka sama lo. Terus lo ngejauhin dia. Mentang-mentang kalian kembar terus Kak Ryan jadi deketin Dina juga. Keliannya mereka akrab banget lagi."
Melda berkomentar, "Udah makan aja, nih dari pada galau." Dia menyuapkan batagor ke mulutku dan Riska.
***
"Cil." Terdengar suara yang tak asing buatku.
Aku mencoba mengatur ekspresi agar terlihat biasa lalu membalikkan badan. "Iya."
Ryan tersenyum menampakan lesung pipinya. Ah, sudah lama sekali aku tak melihat senyuman itu.
"Lo mau kemana?" tanyanya.
Sudah jelas aku membawa tumpukan tugas. Artinya aku akan ke ruang guru. Pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
Aku hanya menunjukkan kertas-kertas yang di tanganku sebagai respon basa basinya.
"Mau gue bantu?" tawarnya.
Belum sempat aku menjawab, dia sudah mengambil bawaanku. Dan berjalan meninggalkanku. Aku mengejar dan menyamakan derap langkahnya.
"Lo ngapain, sih? Gue bisa sendiri, kok." Aku berusaha merebut kumpulan kertas itu. Tapi dia malah meninggikan tangan hingga aku tak bisa menggapainya.
Dia terkekeh. "Udah, deh. Ke ruang guru, kan? Di meja bu Ratna? Nggak apa-apa. Lagian gue juga mau ke sana." ucapnya santai.
Aku mendengus. Aku tahu dia berbohong. Dia sebenarnya tak punya kepentingan ke ruang guru. Dia sengaja mengantarku ke sana.Menyebalkan, kenapa Ryan selalu saja menggangguku. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya. Akhir-akhir ini bahkan dia sering terlihat bersama Dina. Apa dia mencoba mendekati Dina atau sedang mencari tahu tentang aku. Ah, apa yang sedang kupikirkan. Tidak mungkin Ryan punya perasaan padaku. Dia hanya ingin bermain-main denganku saja.
Setelah mengantarku menemui bu Ratna, dia menarik tanganku menepi di depan ruang UKS tak jauh dari ruang guru.
"Cil, pulang sekolah jalan, yuk," ajaknya.
"Ng—nggak bisa. Gue mau ada les," jawabku sekenanya.
"Gue anterin, deh."
"Nggak usah. Gue nanti dijemput mami, kok."
"Oh. Oke. Kalo besok sabtu gimana? Ada film yang bagus, lho. Nonton, yuk."
Aku bingung harus berkata apa. Alasan apa lagi yang harus aku katakan padanya. Aku sebenarnya tak enak hati terus menerus menolaknya. Tapi aku juga tak mau terjerumus ke dalam permainannya. Aku tak ingin jadi boneka yang dia tertawakan dengan teman-temannya. Tapi akhirnya aku setuju saja karena dia terus mendesak.
_____________Bersambung____________